(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "ebook69"

Kiam Kok-san (Gunung Berlembah Pedang) merupakan sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan
Kun Lun San yang tak pernah dikunjungi manusia seperti puncak-puncak lain dari Kun Lun-san. Bukan
karena Kim Kok-san kurang indah pemandangannya. Sama sekali bukan. Bahkan tamasya alam yang
tampak dari puncak gunung ini amatlah indahnya. Batu kapur yang mengeras dan mengkilap menjulang
tinggi seperti menara besi menembus awan tak tampak ujungnya seolah-olah bersambung dengan langit.
Pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa puncak batu perawan itu merupakan tempat kediaman
dewa penjaga gunung. Awan putih yang berarak seperti domba-domba kapas, tak pernah berhenti
dihembus angin langit, menjadi jinak setelah bertemu dengan Kiam Kok-san, berkumpul di sekeliling
puncak seperti sehelai bulu domba yang hangat. Dari puncak ini memandang ke bawah tampak awan
putih mengambang di bawah kaki, menyusupi lembah-lembah bukit yang amat curam. Indah, sukar
dilukiskan dengan kata-kata keindahan tamasya alam yang dapat dinikmati dari puncak Kiam Kok-san.
Bagaimana taman surga terbentang luas di bawah kaki, suram-suram terselimut tirai halimun menciptakan
sifat yang ajaib penuh rahasia.
Bukan karena kurang indah, melainkan kesukaranlah yang membuat tempat itu tidak pernah dikunjungi
manusia. Sesuai dengan namanya, puncak ini terdiri dari lembah-lembah penuh batu gunung yang
merupakan karang-karang meruncing dan tajam seperti pedang. Tidak terdapat jalan tertentu mendaki
puncak, tidak ada pula jalan setapak bekas kaki manusia. Semuanya liar, lebat dan bahaya maut
mengintai setiap saat bagi manusia yang berani mendatangi tempat itu. Jurang-jurang yang curam, belukar
tempat persembunyian binatang-binatang buas, rumput-rumput hijau yang menopengi muara-muara
dalam penuh lumpur dan ular berbisa, dan bahaya tersesat jalan. Jangankan orang biasa, bahkan mereka
yang memiliki ilmu kepandaian seperti para pertapa dan para pendekar masih akan berpikir
masak-masak lebih dahulu untuk mendaki puncak berbahaya seperti Kiam-kok-san.
Pagi hari itu amatlah cerah. Halimun tidak setebal biasanya dan karenanya sinar matahari pagi dapat
mengusir halimun menerobos di antara celah-celah daun pohon dan batu pedang, menerangi tanah
puncak yang penuh lumut dan rumput hijau. Tak terkira indahnya puncak Kiam-kok-san yang bermandi
cahaya keemasan matahari pagi itu, sunyi dan hening, aman tentram. Seperti itulah agaknya sorga sering
kali disebut-sebut oleh para pendeta yang dijanjikan sebagai anugerah tempat tinggal bagi para manusia
yang dalam hidupnya menjauhkan diri daripada segala kemaksiatan dan kejahatan.
Ketika sinar matahari mencapai kaki batu hitam mengkilap yang ujungnya berselimut awan langit,
tampaklah seorang kakek tua renta duduk bersila di atas batu halus. Kakek ini sudah amat tua, terbukti
dari kulit wajahnya yang penuh keriput, dagingnya yang sudah tipis sehingga tulang-tulangnya menonjol di
balik kulit, rambutnya yang putih semua terurai panjang sampai ke punggung dan sebagian menutupi
kedua pundaknya. Kalau ditaksir, kakek ini tentu tidak kurang dari seratus tahun usianya. Pakaiannya
yang sederhana hanya merupakan kain putih yang sudah agak menguning dibalut-balutkan ke tubuhnya,
kakinya telanjang seperti kepalanya. Dia duduk bersila di bawah batu pedang yang tinggi itu dengan
kedua kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua mata dipejamkan.
Dilihat dari jauh, dia seperti telah membatu, lebih menyerupai sebuah arca batu daripada seorang manusia
hidup. Namun sesungguhnya dia bukanlah arca, karena kalau diperhatikan, tampak betapa dada di balik
kain putih itu bergerak perlahan seirama dengan pernapasannya yang halus dan panjang. Di atas tanah,
depan kaki yang bersilang dengan bentuk teratai (kedua telapak kaki terlentang di atas paha), terdapat
sebatang pedang telanjang yang mengeluarkan sinar kehijauan setelah tertimpa cahaya matahari.
Sebatang pedang yang indah bentuknya, namun amat aneh karena berbeda daripada pedang-pedang
umumnya yang terbuat dari baja-baja pilihan, pedang yang terletak di depan kakek itu adalah sebatang
pedang kayu!
Perlahan-lahan sekali, sedikit demi sedikit, sinar matahari memandikan wajah tua keriputan itu. Di bawah
sinar keemasan sang surya, wajah itu tampak amat elok dan tak dapat diragukan pula bahwa kakek ini
dahulu tentu seorang pria yang amat tampan. Bentuk dan raut wajahnya masih jelas membayangkan
ketampanan seorang pria.
Kehangatan sinar matahari yang sedap nyaman itu menyadarkannya dari samadhi. Dia membuka kedua
matanya dan orang akan heran kalau melihat sinar matanya. Orangnya jelas sudah amat tua, namun
sepasang matanya bening seperti mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya! Bagi seorang ahli
kesaktian, hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa kakek ini telah mencapai tingkat ilmu yang amat tinggi,
karena hanya orang yang memiliki sinkang (hawa sakti) amat kuat saja yang dapat mempunyai sepasang
mata seperti itu. Dengan pandang mata penuh kagum kakek itu memandang ke depan, lalu ke kanan kiri
dengan sinar matanya seolah-olah dia minum dan menikmati segala keindahan yang dicipta oleh sinar
keemasan sang surya itu. Kemudian dia menggeleng kepalanya, dan bibirnya bergerak-gerak,
mengeluarkan kata-kata lirih.
"Ya Tuhan Yang Maha Kasih! Sampai sedemikian besarkah kasihMu kepada seorang penuh dosa
seperti aku? Berhakkah aku menikmati semua ini? Aaaahhh, tak mungkin! Thian (Tuhan) hanya
melimpahkan ganjaran kepada orang yang telah berjasa di dalam hidupnya. Guruku dahulu mengatakan
dalam pesannya bahwa aku harus berbuat jasa terhadap manusia dan dunia. Apakah jasaku selama aku
hidup? Tidak ada! Hanya malapetaka yang menjadi akibat dari semua perbuatanku! Dan semua itu
karena aku pandai ilmu silat, karena...karena Siang-bhok-kiam (pedang Kayu Harum) ini!
Aaahhh,Tuhanku! Aku tidak akan mengelak daripada kenyataan. Aku rela dan siap sedia menerima
hukuman-hukumannya. Tak mungkin aku membebaskan diri daripada belenggu karma. Aku tidak berhak
menikmati kemurahan dan kasihMu, ya Tuhan....!"
Kata-kata terakhir kakek itu bercampur isak tertahan dan dia lalu memejamkan kembali kedua matanya
seolah-olah dia tidak mengijinkan matanya memandangi segala keindahan yang terbentang luas di
depannya. Keadaan menjadi sunyi kembali. Sunyi sama sekali? Tidak! Terdengar kicau burung pagi, riak
air di belakang batu pedang, dan desau angin menghembus lewat mempermaikan daun-daun pohon.
Paduan suara ini seolah-olah mengejek kakek itu, seolah-olah menertawakan kebodohan dan kebutaan
manusia. Tuhan Maha Kasih, tidak membeda-bedakan. Siapa pun dia yang bersedia, akan menerima
uluran kasihNya, seperti cahaya matahari pagi yang tidak memilih-milih siapa yang akan disinarinya.
Kasih sayang Tuhan merata, tanpa perbedaan, tidak dikotori dosa manusia, besar kecilnya kasih yang
dilimpahkan tergantung daripada rasa penerimaan si manusia sendiri!
Tiba-tiba terjadi perubahan pada paduan suara itu. Kicau burung yang tadinya merdu, kini berubah
cecowetan penuh kejut dan takut, tanda bahwa terjadi sesuatu yang tidak wajar di tempat itu. Kemudian
muncullah bayangan orang-orang berkelebat cepat. Gerakan mereka tangkas seperti burung-burung
raksasa dan dalam sekejap mata saja sembilan orang telah membentuk lingkaran kipas di depan kakek
yang bersamadhi dalam jarak kurang lebih sepuluh meter. Kenyataan bahwa sembilan orang ini dapat
mendaki puncak, ditambah dengan gerakan mereka tadi, tentu saja mereka ini bukanlah orang-orang
biasa, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ketika mereka berlompatan di depan
kakek itu, kaki mereka tidak menimbulkan suara seperti kaki burung hinggap di atas dahan. Mereka
berdiri tak bergerak, namun dalam keadaan siap-siaga, memasang kuda-kuda dengan gaya
masing-masing, seluruh urat saraf menegang, pandang mata ditujukan ke arah kakek dan pedang yang
terletak didepannya. Pandang mata yang menyapu wajah kakek itu mengandung benci yang mendalam,
adapun ketika pandang mata menyapu pedang, kebencian berubah menjadi rasa kepingin yang tak
disembunyikan.
Biarpun kedatangan sembilan orang sakti itu hanya ditandai perubahan pada kicau burung, ternyata telah
diketahui oleh kakek tua renta yang sedang duduk bersamadhi. Dia membuka kedua matanya dan
menyapu dengan pandang matanya ke arah sembilan orang yang berdiri mengurungnya dalam bentuk
lingkaran kipas. Mulutnya tersenyum, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa heran seolah-olah

kedatangan mereka itu memang telah diduganya. Adapun sembilan orang itu ketika bertemu pandang
sedetik dengan sapuan matanya, menjadi terkejut dan bergidik. Mereka temukan pandang mata itu saja
cukup memperingatkan mereka bahwa kakek yang mereka kunjungi ini makin tua makin ampuh
kesaktiannya.
"Sie Cun Hong...! Aku datang untuk menerima pedangmu sebagai pengganti nyawamu yang semestinya
kukirim ke neraka agar dendam hatiku terhadpmu lunas!"
Kakek itu menoleh ke kanan karena yang bicara ini adalah orang yang berdiri paling kanan dalam
lingkaran kipas itu. Bibirnya tersenyum lebar memperlihatkan mulut ompong tak bergigi lagi, seperti
senyum seorang bayi yang belum bergigi. Wanita yang menyebut namanya yang sudah bertahun-tahun tak
pernah didengarnya itu adalah seorang nenek yang usianya paling sedikit sudah tujuh puluh tahun.
Rambutnya sudah hampir putih semuanya, digelung kecil ke atas dengan tusuk konde perak. Wajahnya
masih belum kehilangan raut dan bentuk yang manis, hanya mulut yang dahulunya amat indah manis itu
kini agak "nyamprut" karena tidak bergigi lagi. Tubuhnya yang dahulunya tinggi semampai itu kini agak
membongkok dan kurus. Pakaiannya sederhana dan berwarna hijau. Dari depan, tampak gagang pedang
tersembul di balik pundak kanannya.
"Heiii, bukankah engkau Lu Sian Cu? Ah, tubuhmu mungkin sudah menjadi tua, namun semangatmu
benar masih muda, Sian Cu! Engkau mendendam kepadaku dan menghendaki pedang Siang-bhok-kiam
sebagai pengganti nyawaku? Eh, dalam hal apakah engkau mendendam kepadaku?"
"Keparat tua bangka! Jangan kaukira akan dapat mendesakku dengan pertanyaan untuk membikin aku
malu. Aku sudah tua, dan semua yang hadir itu adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, tidak perlu
malu aku mengaku! Puluhan tahun yang lalu engkau telah mempergunakan kepandaianmu menggaggahi
dan memperkosaku. Dendamku kepadamu setinggi langit!"
Kakek itu tertawa, lalu mengangguk-angguk. "Benar, alangkah cepatnya sang waktu meluncur. Ketika
itu engkau baru berusia kurang dari tiga puluh tahun, dan engkau terkenal sebagai seorang pendekar
wanita yang selain lihai juga cantik dan terutama sekali angkuh sehingga engkau menolak semua pinangan
pria, membuatmu masih perawan dalam usia hampir tiga puluh. Akupun ketika itu masih muda belum lima
puluh tahun. Aku tergila-gila kepadamu, menggunakan kepandaian memasuki kamarmu dan
memperkosamu. Akan tetapi , heh Lu Sian Cu! Lupakah engkau betapa engkau kemudian menerimaku
dengan penuh kehangatan betapa engkau menangis dan merengek-rengek ketika hendak kutinggalkan?
Lupakah engkau betapa engaku sama sekali tidak menaruh dendam atas perbuatanku yang juga
menyenangkan hatimu itu? Mengapa kini engkau membalik dan memutar lidah?"
"Cih, laki-laki tak berjantung! Setelah perbuatan kejimu itu, bagaimana aku dapat menerima pria lain?
Aku telah menyerahkan raga dan jiwa, akan tetapi engkau menolak dan meninggalkanku pergi! Engkau
telah mempermainkan cintaku. Seharusnya engkau menjadi suamiku, akan tetapi engkau mengejek dan
minggat. Keparat, dendamku sedalam lautan setinggi langit!"
"Ha-ha-ha, engkau mau menang sendiri, Sian Cu. Dahulu pun kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang
yang selalu ingin bebas, bebas dari golongan, bebas dari segala ikatan termasuk ikatan rumah tangga!
Memang aku telah berbuat jahat, memperkosamu, namun kita bersama, engkau dan aku, telah
menikmatinya bersama dan hal yang menyenangkan orang lain mana bisa kausebut sebagai hal yang
menyakitkan hati orang itu?"
"Sie Cun Hong! Tak perlu banyak cakap lagi. Serahkan pedangmu itu atau serahkan nyawamu!" Sambil
berseru begini, nenek itu lalu mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan. Senjata ini berupa cambuk
berwarna hitam, akan tetapi bukan sembarang cambuk karena pada ujungnya terpecah menjadi sembilan
.
dan setiap ujung diberi baja pengait seperti mata kail. Inilah senjata cambuk sembilan ekor yang telah
membuat nama nenek ini tersohor di dunia kang-ouw, karena jarang ada lawan yang dapat bertahan
menghadapi senjatanya yang istimewa itu. Dan senjata itu pula yang mebuat nenek ini dijuluki Kiu-bwe
Toa-nio (Nyonya Besar Berekor Sembilan), sebuah nama besar yang ditakuti para penjahat, seorang
pendekar wanita tua yang ganas dan keras hati terhadap penjahat. Telah puluhan tahun lamanya ia
dikenal sebagai Kiu-bwe Toanio dan baru sekarang tokoh-tokoh lain yang hadir disitu mendengar
disebutnya namanya oleh kakek itu, yaitu Lu Sian Cu!
"Tar-tar-tar...!" Cambuk hitam itu melecut-lecut di udara dan mengeluarkan suara meledak-ledak. "Sie
Cun Hong! Apakah engkau masih membandel dan tidak mau menyerahkan pedangmu?"
"Ha-ha-ha, engkau masih bersemangat dan galak. Tubuhku sudah tua, semangatku pun sudah
melempem, kalau kau hendak menolongku bebas dari tubuh tua dan dunia ini, nah, lakukanlah, Lu Sian
Cu!"
Nenek itu mengeluarkan suara teriakan melengking panjang, lengking yang memekakkan telinga, yang
mengandung rasa duka, kecewa, menyesal dan benci karena cinta ditolak. Cambuknya menyambar ke
depan dan tiga buah diantara sembilan ekor itu sudah meluncur ke arah sepasang mata dan ubun-ubun
kepala. kakek itu masih duduk bersila, kini tangan kirinya diangkat, jari-jari tangannya bergerak
menyentil tiga kali.
"Tring-tring-tring....!"
"Aiiihhh.....!" Kiu-bwe Toania menjerit dan hampir saja ia melepaskan cambuknya karena tiga buah ekor
cambuk yang terkena sentilan kuku jari tangan kakek itu secara tiba-tiba membalik dan menerjangnya di
tiga buah tempat, yaitu ke arah buah dada dan pusar. Selain ini, juga senjata itu keras sekali, membuat
telapak tangannya yang memegang gagang cambuk terasa panas dan pedas. Dengan loncatan ke
belakang sambil memutar cambuknya, nenek ini berhasil menyelamatkan diri. Wajahnya menjadi merah
sekali dan ia memaki sambil menudingkan cambuknya.
"Sie Cun Hong, dasar engkau tua-tua keladi makin tua makin...cabul!"
Kakek itu hanya tertawa-tawa, akan tetapi ketawanya berhenti ketika dari sebelah kiri terdengar suara
yang menggetar penuh tenaga. "Omitohud....!" Ketika melihat bahwa yang maju kini adalah dua orang
hwesio gundul yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kakek itu memandang dengan sikap tenang
tetapi penuh pertanyaan karena sesungguhnya dia tidak mengenal dua orang pendeta ini.
"Locianpwe benar-benar telah membuktikan betapa julukan Sin-jiu Kiam-ong(Raja Pedang Tangan
Sakti) adalah tepat karena tangan Locinpwe benar sakti!" kata seorang di antara dua orang pendeta yang
alisnya putih dan tubuhnya kecil kurus. Hwesio ke dua yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar
hanya merangkap kedua tangan didepan dada sambil berulang-ulang memuji, "Omitohud...!
Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong masih duduk bersila dan kini dia pun merangkap kedua telapak tangan
di depan dada, sebagai pemberian hormat. Menghadapi dua orang pendeta yang begitu lemah lembut,
yang bersikap merendahkan diri sehingga menyebutnya locianpwe sebagai sebutan terhadap golongan tua
tingkat atas, dia menjadi waspada dan hati-hati. Orang yang sombong takabur tak perlu dikhawatirkan
atau ditakuti, akan tetapi terhadap orang-orang yang lemah-lembut dan sikapnya halus, haruslah hati-hati
karena orang-orang yang kelihatannya lemah sesungguhnya merupakan lawan yang berat.
"Ah, berat sekali menerima pujian jiwi (tuan berdua) yang sesungguhnya kosong penuh angin. Aku yang
tua menjadi sadar akan usiaku yang sudah terlalu tua, karena biasanya kedatangan para hwesio seperti
.
ji-wi adalah untuk menyembahyangi orang yang sudah mau mati atau orang yang sudah mati agar
nyawanya dapat diterima di tempat yang baik. Siapakah gerangan ji-wi dan apa artinya kehadiran ji-wi
ini di Kiam-kok-san?"
"Omitohud...! Kami berdua adalah hwesio-hwesio kecil tak berarti yang menjadi utusan Siauw-lim-pai
untuk menemui Locianpwe."
"Ah, kiranya dari perguruan tinggi Siauw-lim-pai...! Sungguh merupakan kehormatan besar sekali!"
Kakek itu berkata tercengang.
"Pinceng Thian Ti Hwesio dan ini adalah Sute(adik seperguruan) Thian Kek Hwesio, mewakili suhu yang
menjadi ketua Siauw-lim-pai untuk mohon kepada Locianpwe agar suka menyerahkan Siang-bhok-kiam
kepada kami. Suhu mohon agar Locianpwe ingat betapa Siauw-lim-pai telah bersikap sabar dan tidak
menuntut ketika Locianpwe pada tiga puluh tahun yang lalu mencuri kitab-kitab Seng-to-ci-keng (Kitab
Perjalanan Bintang) dan I-kiong-hoan-hiat (Kitab Pelajaran Memindahkan Jalan Darah). Mengingat akan
itu suhu pecaya bahwa Locianpwe kini dalam saat terakhir akan membalas kebaikan Siauw-lim-pai dan
menyerahkan Siang-bhok-kiam agar semua ilmu yang tersimpan di dalamnya tidak akan terjatuh ke
tangan yang sesat dan dipergunakan untuk mengacau dunia!"
"Aha, kiranya ji-wi adalah murid-murid Tiong Pek Hosiang? Kalau begitu ji-wi adalah tokoh-tokoh
tingkat dua dari Siauw-lim-pai! Kehormatan besar sekali bagiku. Guru ji-wi memang sejak dahulu halus
dan sopan santun, namun cerdik sekali. Memang aku telah mengambil dua buah kitab yang ji-wi
maksudkan, hal itu kulakukan karena Tiong Pek Hosiang terlalu pelit untuk meminjamkannya kepadaku.
Siauw-lim-pai agaknya lupa bahwa ketika mendiang Tat Mo Couwsu yang bijaksana menyalin dan
memperbaiki kitab-kitab dari barat, adalah dengan niat agar kitab-kitab itu dapat dipelajari semua
manusia sehingga umat manusia dapat menjadi kuat lahir batinnya. Akan tetapi oleh Siauw-lim-pai
ilmu-ilmu itu dipendam, disembunyikan dan hanya diturunkan kepada murid-murid sebagian daripada
ilmu-ilmu yang dimiliki oleh guru. Dengan demikian, bukankah ilmu-ilmu yang itu makin lama makin
berkurang dan menjadi rendah nilainya? Biarpun dua buah kitabnya kuambil, namun Siauw-lim-pai telah
memiliki ilmunya. Kitabnya hanya merupakan catatan saja, dan dengan pindahnya kitab ketanganku,
sesungguhnya Siauw-lim-pai tidak kehilangan apa-apa. Ilmu kepandaian dapat dibagi-bagikan sampai
kepada selaksa orang manusia tanpa mengurangi sumbernya. Mengapa begitu pelit dan ji-wi menuntut
tentang dua buah kitab pelajaran? Tidak, aku tidak dapat memberikan Siang-bhok-kiam, kecuali kepada
dia yang berjodoh.”
"Omitohud!" Hwesio tinggi besar hitam Thian kek Hwesio, melangkah maju dan membentak keras. Kini
hwesio itu membelalakkan matanya memandang Sin-jiu Kiam-ong, dan ternyata sepasang matanya lebar
sekali, wajahnya membayangkan kekasaran dan kejujuran seperti wajah Thio Hwie, tokoh pahlawan
dalam cerita Sam Kok. "Locianpwe agaknya menghendaki kami menggunakan cara Locianpwe sendiri.
Meminjam kitab-kitab tidak boleh lalu menggunakan kepandaian mendapatkan kitab-kitab itu. Kini kami
minta baik-baik tidak Locinpwe berikan, apakah berarti bahwa kami harus menggunakan kepandaian
untuk mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam itu?"
Sin-jiu Kiam-ong memandang hwesio itu sambil tersenyum, pandang matanya bersinar gembira. Orang
yang keras dan jujur selalu mendapatkan rasa suka di hatinya, karena orang yang demikian itu lebih
mudah dihadapi. Ia mengangguk dan menjawab.
"Kalau seperti itu wawasanmu, maka benarlah demikian agaknya."
"Hemmm, bagus! Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebagai ahli pedang ahli lweekang namun pinceng
sedikit-sedikit juga telah berlatih selama puluhan tahun!" Setelah berkata demikian, Thian kek Hwesio
.
membalikkan tubuhnya dan dengan gerakan kokoh kuat, lengan kanannya yang besar itu mendorong
dengan pukulan ke depan, ke arah sebatang pohon yang jaraknya ada tiga meter dari tempat dia berdiri.
Sambaran angin pukulan yang dahsyat membuat batang pohon tergetar, daun-daunnya seperti dilanda
angin topan, dan berhamburanlah daun-daun yang rontok ke atas tanah seperti hujan! Andaikata manusia
diserang dengan pukulan jarak jauh seperti ini, pasti akan remuk tulang-tulangnya, dan rontok isi
dadanya!
Namun Sin-jiu Kiam-ong tersenyum lebar menyambut demonstrasi tenaga sinkang yang mencapai
tingkat tinggi itu. "Ha-ha-ha! Membangun itu amat sukar, merusak amatlah mudahnya. Manusia adalah
perusak terbesar diantara segala mahluk! Thian Kek Hwesio, untuk merusak dan merobohkan pohon itu
sampai ke akar-akarnya adalah hal yang dapat dilakukan semua orang, akan tetapi dapatkah engkau
membuat sehelai daun saja? Hemmm, biarlah kucoba mengembalikan daun-daun itu ke tempatnya,
sungguhpun tak mungkin dapat kembali seperti asalnya karena kekuasaan itu hanya dimiliki Thian!"
Sin-jiu Kiam-ong yang masih duduk bersila itu menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah
daun-daun yang jatuh berhamburan ke atas tanah tadi dan...bagaikan ada angin puyuh, secara tiba-tiba
semua daun itu bergerak, berputar-putar dan terbang naik ke atas pohon menempel sejadinya pada
cabang-cabang dan ranting-ranting, ada yang gagangnya menancap, ada yang melekat pada batang
pohon, akan tetapi tidak ada yang rontok lagi ke bawah! Melihat ini, Thian Kek Hwesio, menjadi agak
pucat wajahnya dan maklumlah dia bahwa tingkat kekuatan sinkang kakek tua renta itu jauh lebih tinggi
daripadanya. Ia melangkah mundur sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada dan menggumam,
"Omitohud...!"
"Maaf, suteku dan pinceng melupakan kebodohan sendiri!" kata Thian Ti Hwesio dan si hwesio kurus ini
sekarang menggerakkan kedua tangan ke depan, ke arah pedang kayu yang terletak di depan kaki
Sin-jiu Kiam-ong dan...pedang itu tiba-tiba melayang naik seperti tersedot besi sembrani lalu terbang ke
arah kedua tangan tokoh Siauw-lim-pai itu.
Semua tokoh yang berada di situ tahu belaka bahwa kekuatan sinkang hwesio alis putih ini jauh lebih
tinggi daripada kekuatan sutenya. Sin-jiu Kiam-ong mengeluarkan suara memuji, "Bagus!
Siang-bhok-kiam, sebelum kuijinkan, kamu tidak boleh berganti majikan. Kembalilah!" Ia menggapaikan
tangan kirinya dan... pedang kayu yang sudah terbang ke arah kedua tangan Thian Ti Hwesio itu tiba-tiba
berputaran lalu membalik, melayang ke arah Sin-jiu Kiam-ong! Thian Ti Hwe-sio menjadi penasaran
sekali. Ia manambah kekuatan pada kedua lengannya, bahkan tubuhnya agak merendah ketika dia
menggerakkan kedua tangan ke arah pedang. Siang-bhok-kiam kembali berputaran di udara seolah-olah
bimbang hendak terbang kemana, akan tetapi akhirnya terbang kembali ke Sin-jiu Kiam-ong dan jatuh
ke depan kakek itu ditempatnya yang tadi. Thian Ti Hwesio mengusap peluh di keningnya, lalu menjura
dan merangkap kedua tangan di depan dada.
"Sin-jiu Kiam-ong makin tua makin gagah, tepat seperti apa yang telah diperingatkan suhu kami.
Siancai....siancai....!"
"Thian Ti Hwesio terlalu memuji," kata Sin-jiu Kiam-ong.
"Orang she Sie! Kalau lain orang menghormatimu, aku Sin-to Gi-hiap tidak! Aku sudah mengenal isi
perutmu! Aku seorang dari golongan pendekar, termasuk kaum benar dan bersih, bagaimana aku dapat
berdiri sederajat dengan engkau seorang tokoh sesat dan kotor? Aku bilang bukan untuk minta-minta
diberi Siang-bhok-kiam, melainkan untuk memenggal kepalamu dan merampas pedangmu!"
Sin-jiu Kiam-ong memandang orang yang bicara dengan suara keras itu. Dia adalah seorang kakek
berusia tujuh puluh tahun lebih, namun tubuhnya masih berdiri tegak dan tegap, wajahnya membayangkan
kegagahan dan ketampanan, sebatang golok telanjang berada di tangan kanan mengeluarkan cahaya
.
berkeredepan, pakaiannya ringkas dan sederhana, berwarna kuning bersih.
"Eh, kiranya Sin-to Gi-hiap (Pendekar Budiman Bergolok Sakti) yang datang? Bagiku, tidak ada
permusuhan dengan seorang pendekar budiman seperti engkau. Mengapa engkau datang-datang memaki
orang?"
"Lidah ular! Isteriku telah meninggal dunia, namun dendamnya dan dendamku kepadamu takkan lenyap
sebelum golokku berhasil memenggal lehermu! Biarlah disaksikan oleh para orang gagah disini
mendengarkan pengakuanku, karena aku bukan seorang pengecut. Lima puluh tahun yang lalu, dengan
kepandaianmu merayu engkau telah mengganggu isteriku, memaksanya melakukan hubungan perjinaan
denganmu. Lima puluh tahun yang lalu aku kalah terhadapmu, akan tetapi coba-coba kita buktikan
sekarang! Bangkitlah dan lawan golokku!"
Sin-jiu Kiam-ong menudingkan telunjuknya ke arah hidung pendekar yang kini sudah tua itu. "Sin-to
Gi-hiap, sebelum memaki orang mengapa tidak meraba hidungmu lebih dahulu? Aku memang melakukan
hubungan cinta gelap dengan isterimu, akan tetapi apa salahnya itu kalau dia sendiri menghendakinya?
Dan ketahuilah, aku sampai hati melakukan hal itu karena mengingat betapa engkau mendapatkan
isterimu yang cantik jelita itu dengan jalan merampas dan memaksa!”
“Engkau mendapatkan dengan membunuh suaminya si perampok tunggal di Taibu, kemudian merampas
isterinya yang cantik. Apakah kaukira aku tidak tahu bahwa engkau membunuh perampok itu bukan
sekali-kali terdorong jiwa pendekarmu, melainkan terdorong nafsu birahimu melihat isterinya yang cantik?
Engkau merampas wanita dengan kekerasan, aku merampas cintanya dengan cara halus. Apa bedanya?
Setidaknya, aku lebih berhasil mendapatkan cintanya!"
"Keparat? Penjahat cabul engkau, jai-hwa-cat (Pemetik bunga) yang tak tahu malu. Sebentar lagi
engkau tentu mampus disini dan biarlah kubuatkan arca seorang jai-hwa-cat untuk ditaruh diatas
makammu agar setiap orang dapat meludahinya!" Setelah berkata demikian, Sin-to Gi-hiap lalu meloncat
ke arah sebuah batu gunung sebesar manusia, goloknya mendahuluinya merupakan sinar putih cemerlang,
berkelebatan dan menggulung-gulung di sekitar batu itu dan terdengar suara keras dan bunga api
berpijar-pijar menyilaukan mata. Setelah gulungan sinar berkilauan lenyap dan semua orang memandang
ke arah batu diantara debu itu, kini tampaklah bahwa batu itu telah menjadi arca yang menggambarkan
kepala Sin-jiu Kiam-ong! Biarpun kasar akan tetapi jelas tampak bahwa itu adalah arca si kakek tua
renta yang kini duduk bersila sambil memandang arca itu dan tersenyum!
"Wah, makin hebat saja kepandaianmu, Si Golok Sakti! Akan tetapi bukan ilmu goloknya yang
kumaksudkan, melainkan ilmu ukirannya! Sayang begitu kasar! Tidak dapatkah diperhalus lagi? Biar
kubantu engkau." Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong mengambil Siang-bhok-kiam yang masih
menggeletak di depan kakinya, dan sekali dia memutar pedang kayu itu terdengar suara bercuit nyaring.
Segulung sinar hijau menyambar ke depan, ke arah patung terus sinar itu mengelilingi arca batu kemudian
terbang kembali ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Semua orang memandang dan.... arca batu yang tadinya
kasar , kini telah menjadi halus seperti digosok pisau tajam dan agak mengkilap indah!
"Kiam-sut (ilmu pedang) yang hebat, akan tetapi siapa takut? Lihat golok!" Sin-to Gi-hiap yang sudah
marah sekali menerjang maju dengan goloknya. Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan menggerakkan
Siang-bhok-kiam, membuat gerakan berputar mengelilingi golok lawan. Yang berputaran hanya sinar
pedangnya, karena kakek itu sendiri hanya duduk bersila dan jarak antara mereka masih jauh. Namun si
Golok Sakti berteriak kaget dan cepat melompat mundur memandang ujung lengan bajunya yang sudah
buntung!
.
"Kiam-ong masih pantas menjadi Kiam-ong (Raja Pedang)!" Terdengar suara memuji dan kini dua
orang kakek yang berpakaian seperti petani, bersikap sabar tenang dan gagah, telah maju. "Namun
sayang Kiam-ong hanya memajukan lahir tanpa mengingat kemajuan batin, sehingga kulitnya indah isinya
busuk! Sin-jiu Kiam-ong, kami Hoa-san Siang-sin-kiam(Sepasang Pedang Sakti Hoa-san) menjadi
utusan Hoa-san-pai untuk minta pertanggungan jawabmu terhadap dosa-dosamu. Engkau pernah
mencuri seorang murid perempuan Hoa-san-pai, mencuri pedang pusaka, dan mencuri ramuan obat yang
dibuat oleh Sucouw kami. Ketua kami akan berpikir untuk bersikap bijaksana melupakan dosa-dosamu
terhadap kami apabila engkau suka menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam kepada kami!"
Kakek tua renta itu mengerutkan keningnya, akan tetapi senyumnya masih ramah ketika dia menjawab.
"Bermacam-macam alasan yang dikemukakan bermacam-macam pula yang dipergunakan, namun
sesungguhnya mengandung maksud yang sama. Wahai Hoa-san Siang-sin-kiam, aku tidak menyangkal
semua tuduhan Hoa-san-pai, memang aku telah mencuri murid perempuan, pedang pusaka dan ramuan
obat. Akan tetapi semua tokoh Hoa-san-pai tahu belaka bahwa murid perempuan Hoa-san-pai,
mendiang Cui Bi yang cantik manis, telah pergi mengikuti aku secara sukarela dan berdasarkan cinta
kasih, bukan karena kupaksa! Adapun pedang pusaka Hoa-san-pai, sampai sekarang pun masih
kusimpan dengan koleksiku yang lain, karena memang aku penyayang barang-barang pusaka. Tentang
ramuan obat yang dibuat mendiang Sucouw kalian, ha-ha-ha telah membuka rahasia sucouw kalian
karena ternyata obat itu adalah obat perangsang bagi pria tua agar dapat kembali bersemangat seperti
seekor kuda jantan yang muda. Ha-ha-ha!"
Dua orang pendekar itu sejenak saling pandang dan wajah mereka menjadi merah. Ucapan Sin-jiu
Kiam-ong itu merupakan penghinaan bagi Hoa-san-pai, apalagi yang terakhir. Setelah memberi isyarat
dengan pandang mata, kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu menggerakkan tangan dan "singgg!" tampak
dua sinar berkelebat ketika mereka mencabut pedang mereka.
"Sin-jiu Kiam-ong, ucapanmu yang menghina telah menambah dosamu terhadap kami. Biarpun engkau
memakai sebutan Raja Pedang, jangan kira bahwa kami berdua saudara Coa jerih terhadapmu.
Hadapilah sepasang pedang sakti dari Hoa-san!" tantang Coa Kiu sambil melintangkan pedang,
sedangkan adiknya, Coa Bu juga sudah siap dengan pedangnya. Mereka ini masing-masing hanya
berpedang tunggal, akan tetapi karena mereka ini kalau bermain pedang bersama merupakan pasangan
yang amat kompak dan hebat, maka kedua orang ini mendapat julukan Sepasang Pedang Sakti!
"Hemmm, aku selamanya tidak suka berbohong, dan ucapanku tadi hanya ucapan terus terang dan apa
adanya, sama sekali tidak menghina siapa-siapa. Kalau kalian hendak memperlihatkan Siang-sin-kiam
untuk menundukkan aku, kalian melamun yang bukan-bukan karena aku tidak mudah ditundukkan oleh
siapapun juga, termasuk kalian orang-orang Hoa-san-pai!" Ucapan ini dikeluarkan dengan halus dan
lunak, namun mengandung kekerasan melebihi baja.
Coa Kiu dan Coa Bu mengeluarkan seruan keras, pedang mereka berkelebat dan tahu-tahu telah
menjadi satu gulungan sinar tebal dan panjang, mengeluarkan suara bercuitan dan bayangan tubuh
mereka lenyap tergulung sinar pedang yang menjadi satu. Tiba-tiba dengan suara mencicit nyaring,
gulungan sinar pedang ini melayang ke arah sebatang pohon pecah menjadi dua dan bagaikan mata
gunting dua gulungan sinar ini menggunting batang pohon. Tidak terdengar sesuatu dan tidak terjadi
sesuatu, namun begitu gulungan sinar pedang itu melayang kembali ke tempatnya dan sinar pedang
berubah dua orang kakek Hoa-san-pai yang sudah berdiri berdampingan , tiba-tiba saja batang pohon
itu tumbang dan tampak bekas pedang yang halus membuat batang pohon itu seolah-olah baru saja
digergaji!
"Ha..ha..ha, kalian inipun bukan lain hanyalah kanak-kanak tukang merusak tanaman!" Sin-jiu Kiam-ong
mentertawakan. Kakek Coa Kiu dan Coa Bu marah sekali.
.
"Sin-jiu Kiam-ong, beranikah kau mengahadapi pedang kami?"
"Mengapa tidak?"
"Lihat pedang!" Dua orang kakek itu kembali menggerakkan pedang dan seperti tadi, dua gulungan sinar
terang menjadi satu, menjadi gulungan yang amat kuat dan tiba-tiba terdengar suara mencicit keras ketika
sinar pedang itu menyambar ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Kakek itu tertawa, menyambar pedang kayu di
depan kakinya, lalu menggerakkan pedang kayu menusuk ke arah sinar pedang yang menyambarnya
seperti kilat itu.
"Cing..cing..trang......!”
Gulungan sinar pedang yang berkelebat itu menjadi kacau gerakannya, berkali-kali mengitari tubuh
Sin-jiu Kiam-ong, berusaha membabat tubuh kakek itu namun selalu terhalang sinar hijau dari pedang
kayu, bahkan kemudian terdengar suara keras dan ....sinar pedang yang tebal itu tiba-tiba pecah menjadi
dua, yang satu terpental ke kanan yang lain ke kiri. Sinar pedang lenyap dan kedua orang kakek itu
sudah berdiri dengan muka pucat. Ujung pedang mereka somplak sedikit.
Mereka saling pandang, lalu menghela napas panjang. Sebagai dua orang sakti mereka tidaklah nekat
dan cukup maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh di bawah tingkat kakek sakti itu. Mereka
tahu diri, lalu kembali ke tempat tadi, memandang dengan mata penuh penasaran sambil menyimpan
pedang masing-masing.
Sin-jiu Kiam-ong yang sudah menundukkan enam orang lawannya, kini menoleh kepada tiga orang yang
masih belum bergerak, dan belum mengeluarkan kata-kata sampai saat itu hanya menonton saja. Dia
melihat seorang tosu tua yang tidak dikenalnya, dan seperti tadi ketika menghadapi dua orang hwe-sio
Siauw-lim-pai, dia tidak berani memandang rendah. Adapun yang dua orang lain adalah sepasang suami
isteri tua yang dia tahu dahulu pernah dia jumpai, namun lupa lagi kapan dan dimana. Karena dia
menganggap tosu itu lebih penting, maka dia segera menghadapinya sambil bersila dan berkata.
"Maaf, kalau aku tidak ingat lagi siapa gerangan Toyu ini, akan tetapi karena Toyu sudah membuang
waktu dan datang ke sini, tentu membawa keperluan yang amat penting."
"Siancai...., Sin-jiu Kiam-ong yang sudah tua kiranya masih berwatak seperti orang muda, segan
mengalah dan tidak menyesali dosa-dosa yang dilakukan di waktu mudanya sungguh patut disayangkan!"
"Ha..ha..ha, Toyu mengeluarkan pernyataan yang amat lucu! Kalau benar dosa sudah dilakukan, apa
gunanya hanya disesali? Lebih baik menyadarinya dan siap menerima hukumannya karena berdosa atau
bukan tergantung kepada penilainya, sedangkan penilainya sendiri penuh dosa bergelimpang nafsu
mementingkan diri pribadi! Eh, Toyu yang baik, aku seorang yang mengutamakan kejujuran, lebih
menjunjung tinggi orang yang melakukan kesalahan namun berani mengakuinya daripada orang yang
pura-pura suci namun di dalam hatinya amat kotor, tidak sama dengan yang keluar dari mulutnya.
Karenanya, aku merasa senang sekali dengan ujar-ujar dalam agamamu, seperti ini:
"Langit tiada perikemanusiaan segala benda dianggap sebagai korban. Orang suci tiada
perikemanusiaan semua orang dianggap sebagai korban. Ruang antara Langit dan Bumi tiada
ubahnya seperti hembusan! Kosong namun tak pernah berkurang makin besar gerakan makin
besar tiupan! Banyak bicara sering kali penghamburan tenaga lebih baik menjaga kejujuran!"
"Sin-jiu Kiam-ong, selain kekanak-kanakan engkau pun masih memiliki kesombongan! Menggunakan
.
ayat suci kitab To-tik-kheng untuk menghantam seorang tosu seperti pinto (aku)! Sungguh menyebalkan.
Kiam-ong, ketahuilah bahwa pinto adalah Kok Cin Cu, utusan dari Kong-thong-pai. Jangan engkau
pura-pura lupa betapa dahulu engkau pernah membunuh lima orang anak murid Kong-thong-pai.
Kedatangan pinto ini mewakili lima orang tua Kong-thong-pai untuk menagih hutang. Kami bukan
orang-orang yang haus darah, akan tetapi sudah cukup adil kiranya kalau engkau menyerahkan pedang
Siang-bhok-kiam untuk menebus dosamu terhadap kami."
Sin-jiu Kiam-ong mengangguk-angguk. "Ah, jadi Toyu ini seorang diantara Kong-thong Ngo-lojin (Lima
Kakek kong-thong-pai) yang tersohor hebat sekali ilmu kepandaiannya, yang puluhan tahun lamanya
melatih diri dan kini kabarnya mencapai tingkat yang sukar dicari bandingnya? Bagus, bagus! Kabarnya
Thian-te Sam-lo-mo (Tiga Iblis Tua Langit Bumi) yang menjadi tiga datuk sesat terbesar diseluruh dunia,
juga merasa jerih untuk mengganggu Kong-thong-pai karena ada kalian lima kakek sakti! Dan kini
seorang diantara mereka memberi kehormatan kepadaku? Ha..ha...ha, Kok Cin Cu toyu, engkau ini
kakek yang ke berapakah?"
"Yang empat lain adalah para suhengku (kakak seperguruan)".
"Ah, jadi yang termuda? Yang tua-tua agaknya masih enggan merendahkan diri, akan tetapi aku percaya
yang termuda sekalipun tentu memiliki kesaktian luar biasa. Namun sayang, Toyu, aku tidak dapat
menyerahkan pedang ini kepadamu."
"Kalau begitu, perhitungan lama harus diselesaikan dengan mengadu ilmu!" "Begitukah wawasanmu
Toyu? Agaknya Toyu masih belum tahu ataukah pura-pura tidak tahu mengapa dahulu lima orang anak
murid Kong-thong-pai tewas di tanganku? Kami telah bentrok di tempat judi! Aku yang sudah terkenal
sebagai seorang pengejar kesenangan di waktu muda, tak usah disebut-sebut lagi mengapa aku berada di
tempat judi, akan tetapi lima orang tosu muda Kong-thong-pai, main-main di tempat judi yang dilayani
para pelacur? Apakah mereka itu berada di sana untuk berceramah tentang kebatinan?”
“Ah, betapa banyaknya orang-orang yang pada lahirnya berpura-pura menjadi orang suci namun
batinnya kotor melebihi orang-orang yang mereka anggap sesat dan jahat. Karena pernyataan dan
teguranku, mereka marah dan kami berkelahi. Di dalam perkelahian ada yang menang dan ada yang
kalah, yang menang hidup yang kalah luka atau mati, apakah yang aneh dalam hal itu? Kalau Toyu
menganggapnya suatu penasaran dan kini hendak mengulang kesalahan mereka, menantangku terserah."
Wajah tosu itu menjadi merah, kemudian menjawab, suaranya keren, "Sebagai tokoh Kong-thong-pai,
tak mungkin pinto mendengarkan keterangan satu fihak saja. Untuk minta keterangan anak murid kami
yang tewas, tak mungkin. Yang jelas, anak murid Kong-thong-pai selalu menjunjung kebenaran, adapun
nama Sin-jiu Kiam-ong, siapakah tidak mengenalnya dan mengetahui orang macam apa? Kami
Kong-thong Ngo-lojin berkewajiban membela nama Kong-thong-pai. Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah dan
mari kita mulai!"
"Engkau yang berniat mengadu ilmu, engkaulah pula yang mulai, Toyu. Aku siap melayanimu!"
Tosu ini melangkah maju. Ia bertangan kosong dan dia menjura ke arah Sin-jiu Kiam-ong sambil
berkata, "Pinto menghormat usiamu yang lebih tua. Karena dahulu engkau membunuh lima orang murid
Kong-thong-pai dengan tangan kosong, sudah semestinya kalau kini pinto juga menghadapimu dengan
tangan kosong. Kalau pinto kalah, biar lain kali kami dari Kong-thong-pai kembali lagi, kalau engkau
yang kalah, pinto akan membawa pergi Siang-bhok-kiam sebagai tebusan dosa!"
“Ha..ha..ha, selalu tersembunyi pamrih dalam setiap perbuatan, di mana-mana manusia sama, menjadi
hamba nafsu pribadi. Silakan."
.
Tosu itu mengangkat kedua lengannya ke atas kepala, lalu kedua tangan yang dibuka jari-jarinya itu
mengeluarkan suara berkerotokan, tergetar hebat dan kedua tangan itu kini bentuknya seperti cakar naga
dan kulit tangan itu berubah menjadi kemerahan! Inilah Ilmu Ang-liong-jiauw-kang (Ilmu Cakar Naga
Merah) dari Kong-thong-pai yang sudah amat terkenal kedahsyatannya! Kabarnya, ilmu ini kalau sudah
mencapai tingkat tinggi, menjadi amat hebat sehingga tangan berubah seperti baja panas. Tidak saja kuat
untuk melawan senjata tajam lawan, juga kalau mengenai tubuh lawan menimbulkan luka-luka terbakar
yang tak terobati lagi! Dengan beberapa langkah, tosu tua itu sudah berada di depan Sin-jiu Kiam-ong,
kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka digerakkan ke depan, mengarah kepala dan dada
kakek yang duduk bersila dengan tenangnya itu.
"Bergeraklah! Lawanlah! Pinto bukan seorang pengecut yang menyerang orang yang tak mau melawan!"
Kok Cin Cu berkata, suaranya nyaring dan kedua tangannya sudah menggetar-getar amat hebatnya.
Sin-jiu Kiam-ong tersenyum. "Kiranya Kong-thong Ngo-lo-jin masih ingat akan watak pendekar.
Sungguh menyenangkan sekali. Akan tetapi, sayang masih dikotori rasa tamak. Biarlah kusambut
Ang-liong-jiauw-kang, karena inilah nama ilmumu, bukan?" Sambil berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong
segera mengulur kedua lengannya dan sebelum tosu tua itu sempat bergerak, dia telah menempelkan
kedua telapak tangan tosu yang kemerahan itu.
"Wesssss....!" Sungguh luar biasa sekali. Begitu kedua telapak itu bertemu, terdengar suara seperti api
membara bertemu benda basah dan tampak asap mengepul dari kedua pasang telapak tangan yang saling
bertemu. Tosu tua itu merendahkan tubuh dan mengerahkan tenaga sinkang untuk memperkuat daya
serang Ang-liong-jiauw-kang, namun sia-sia belaka karena kedua telapak tangannya yang tadinya panas
itu makin lama menjadi makin dingin, bahkan rasa dingin seperti salju mulai menerobos masuk melalui
kedua telapak tangannya, menjalar dari telapak tangan ke atas! Wajah tosu itu mulai berpeluh, matanya
merah mulutnya terbuka karena nafasnya menjadi terengah-engah. Di lain pihak, Sin-jiu Kiam-ong masih
tersenyum saja dan sama sekali tidak kelihatan lelah. Tahulah Kok Cin Cu bahwa kalau dilanjutkan adu
tenaga sinkang ini, dia akan roboh binasa. Terpaksa tosu tua ini lalu menarik kembali kedua tangannya
dan pada saat yang bersamaan, Sin-jiu Kiam-ong yang tidak ingin membunuh orang juga menarik kedua
tangannya. Kok Cin Cu melangkah mundur di tempat semula, tubuhnya menggigil dan sampai lama
barulah dia dapat memulihkan keadaannya, lalu menjura dan membungkuk dan berkata dengan suara
lemah.
"Sungguh hebat kepandaian Sin-jiu Kiam-ong, terpaksa pinto mengaku kalah dan lain kali pinto akan
datang kembali bersama para suheng."
Melihat kekalahan tosu tua Kong-thong-pai, kini suami istri tua yang sejak tadi hanya menonton,
melangkah maju. Mereka itu berusia tujuh puluh tahunan, dan si suami segera menudingkan telujuknya.
"Sin-jiu Kiam-ong, masih ingatkah engkau kepada kami suami isteri yang pernah mengalami penghinaan
darimu?"
Kakek itu memandang kepada mereka, terutama kepada wanita tua yang berdiri tegak disamping
suaminya, kemudian menjawab, "Pernah aku berjumpa dengan kalian, akan tetapi aku lupa lagi entah
dimana. Yang sudah pasti, aku tidak pernah menganggu wanita itu, karena kalau hal itu terjadi, sampai
kini pun aku tentu akan ingat dan mengenalnya."
Merah wajah wanita itu dan kini ia mendamprat, "Tua bangka berhati cabul!" Akan tetapi suaminya
cepat menyambung, "Sin-jiu Kiam-ong, dahulu kami mempunyai perusahaan pengawal barang kiriman.
Lupakah engkau kepada Hek-houw-piauwkiok (Perusahaan Pengawal Macan Hitam)?"
.
"Aha, sekarang aku ingat! Bukankah engkau orang she Tan yang menjadi kepala piauwkiok itu? Dan
isterimu yang dahulu amat galak dan amat pandai menggunakan am-gi (senjata rahasia)? Hemmm, aku
pernah merampas beberapa benda perhiasan indah yang kau kawal, perhiasan kiriman milik menteri
keuangan kerajaan, bukan? Malah puterinya, ah masih ingat benar aku akan puteri menteri yang amat
cantik manis itu, ia berkenan menemaniku di dalam hutan sampai dua hari dua malam! Aha, pengalaman
yang takkan terlupakan olehku! Puteri yang cantik manis, dan dia memberikan tusuk konde dan tanda
mata kepadaku. Tusuk konde dan perhiasan-perhiasan yang kurampas itu masih berada dalam kumpulan
simpananku. Eh, Tan-piauwsu, kini engkau dan isterimu datang mau apakah?"
"Sin-jiu Kiam-ong, di waktu muda, engkau melakukan segala macam kejahatan. Merampok barang
milik pembesar tinggi, malah menodai puterinya, mencelakakan kami yang mengawal barang dan puteri.
Masih hendak tanya mengapa kami datang? Rasakan pembalasan kami!" Piauwsu (pengawal barang) tua
ini bersama isterinya menutup kata-katanya dengan gerakan tangan. Cepat sekali gerakan tangan mereka
dan tampaklah benda-benda kecil menyambar ke depan dan tahu-tahu suami -isteri itu menyerang Sin-jiu
Kiam-ong dengan senjata-senjata rahasia mereka. Piauwsu itu menggunakan dua macam senjata rahasia,
yaitu piauw (pisau sambit) dan Toat-beng-cui (Bor Pencabut Nyawa), adapun isterinya mempergunakan
Ngo-tok-ciam (Jarum Lima Racun) yang jauh lebih cepat dan lebih berbahaya daripada kedua macam
am-gi (senjata gelap) suaminya. Belasan buah senjata rahasia itu menyambar ke bagian tubuh yang lemah,
bahkan jarum-jarum halus itu mengarah jalan-jalan darah yang mematikan!
Namun kakek tua renta itu sama sekali tidak menjadi gugup, hanya mengangkat kedua tangannya dan
sepuluh batang jari tangannya bergerak-gerak seperti sepuluh ekor ular hidup, namun kuku-kuku jari
tangan itu merupakan perisai yang tidak hanya menangkis semua senjata rahasia, bahkan dengan sentilan
aneh dapat mengirim kembali senjata-senjata kecil itu ke arah penyerang-penyerangnya! Terjadilah hujan
senjata rahasia dari kedua fihak, yang menyerang dan yang mengembalikan!
"Sahabat-sahabat yang sealiran! Kalau hari ini kita tidak melenyapkan seorang oknum busuk, mau
tunggu sampai kapan lagi? Mari kita basmi dia bersama-sama!" teriak Tan Kai Sek, piauw tua itu sambil
terus menyerang dengan senjata rahasianya.
Tujuh orang gagah yang lain setuju dengan ajakan ini. Mereka semua menaruh dendam kepada Sin-jiu
Kiam-ong dan sudah jelas ternyata tadi bahwa kalau mereka hanya mengandalkan kepandaian sendiri,
tidak akan mungkin dapat mengalahkan kakek sakti itu. Sambil menyatakan setuju mereka semua
mencabut senjata dan menerjang maju! Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan kakek itu berkelebat ke
atas dan ketika mereka memandang, kakek sakti itu bersama Siang-bhok-kiam telah lenyap. Kiranya
kakek itu meloncat ke atas dan dengan amat cepatnya merayap naik ke atas batu pedang dan telah
lenyap ke dalam awan atau halimun tebal yang menutup bagian atas batu pedang. Dari atas terdengar
suaranya tertawa tergelak, seolah-olah suara ini datangnya dari langit karena tidak tampak orangnya yang
tertutup oleh halimun tebal.
"Ha..ha..ha, sembilan orang gagah yang berada di bawah! kalau aku tadi menghendaki, apa susahnya
membunuh kalian dengan Siang-bhok-kiam? Dan kalau aku menyerahkan nyawa, alangkah mudahnya
bagi kalian untuk membunuhku. Akan tetapi aku belum mau mati, karena dalam hari-hari terakhir ini aku
masih ingin menikmati tamasya alam yang amat indahnya di Kiam-kok-san! Aku tidak mau membunuh
kalian karena aku tidak ingin mengotori tempat seindah ini dengan darah kalian, dan aku belum mau mati
karena aku masih ingin menikmati keindahan alam disini. Kalau kalian masih belum terima dan merasa
penasaran, hayo siapa yang berani boleh naik!"
Sembilan orang itu saling pandang dan tak seorang pun berani naik. Bagi mereka yang berilmu tinggi,
kiranya tidaklah amat sukar untuk mendaki batu pedang itu ke atas, akan tetapi batu pedang itu tidak
.
dapat didaki oleh mereka bersama-sama, harus seorang demi seorang. Dan kalau mereka mendaki
seorang demi seorang, sama saja dengan menyerahkan nyawa kepada kakek itu!
Kembali terdengar suara ketawa dari atas. "Ha..ha..ha! Jangan kira aku amat pelit untuk menyerahkan
nyawa dalam tubuh tua ini dan menyerahkan Siang-bhok-kiam. Kuminta waktu sebulan lamanya untuk
menikmati tempat ini. Setelah sebulan, kalau kalian masih menghendaki nyawaku, datanglah ke kaki
gunung, sebelah selatan, di dalam hutan mawar, disana aku menanti kalian bersama Siang-bhok-kiam!"
Setelah terdengar suara ini, keadaan menjadi sunyi. Mereka menanti-nanti namun tidak ada suara lagi.
Karena merasa tidak akan ada gunanya menanti, apalagi mencoba untuk mengejar kakek sakti itu ke
atas puncak batu pedang yang ujungnya lenyap di balik halimun tebal, akhirnya sembilan orang gagah itu
meninggalkan Kiam-kok-san dan berjanji dalam hati untuk mencari hutan mawar yang dimaksudkan si
kakek sakti sebulan kemudian. ***
Pada masa itu, kerajaan Beng (1368-1644) mengalami perpecahan dan perang saudara. Kerajaan Beng
didirikan oleh Ciu Goan Ciang, yang berhasil mengusir pemerintah penjajah Goan (Mongol) dan
kemudian menjadi Kaisar Kerajaan Beng pertama dengan julukan Kaisar Thai Cu (1368-1398). Peking
(ibu kota utara) yang tadinya menjadi kota raja Kerajaan Mongol, oleh Kaisar Kerajaan Beng ini tidak
dijadikan pusat kerajaan. Sebagai ibu kota dipilihnya Nan-king (ibu kota selatan) yang letaknya di
lembah Sungai Yang-ce-kiang, di daerah yang lebih subur tanahnya. Namun Peking yang merupakan
daerah pergolakan dan pangkalan penting untuk mempertahankan ancaman serangan balasan bangsa
Mongol di utara yang telah diusir dari pedalaman, tetap dipertahankan dan di bekas kota raja Mongol ini
diperkuat oleh bala tentara besar dan dipimpin oleh putera Kaisar Thai Cu sendiri, yaitu Yung Lo yang
terkenal gagah perkasa dan pandai berperang.
Perpecahan dalam kerajaan Beng yang baru ini terjadi setelah kaisar pertamanya meninggal. Kaisar Thai
Cu meninggal dalam tahun 1398 dan karena putera sulung kaisar ini sudah meninggal dunia, maka
sebelum meninggal Kaisar Thai Cu telah menunjuk keturunan dari putera sulungnya, jadi cucunya yang
amat dikasihinya, untuk menggantikannya dan naik tahtah pada tahun berikutnya. Cucu ini yang
merupakan kaisar ke dua dari kerajaan Beng bernama Hui Ti. Peristiwa inilah yang mengakibatkan
perang saudara. Pangeran Yung Lo atau lebih tepat Raja Muda Yung Lo yang menguasai daerah
pertahanan di Peking, tidak mau menerima pengangkatan keponakannya menjadi kaisar pengganti
ayahnya. Dia merasa lebih berhak dan lebih berjasa. Oleh karena itu, Yung Lo membawa bala tentara
dan menyerbu ke selatan, ke Nan-king. Terjadilah perang saudara. Perang saudara selalu mengerikan,
dimana terjadi bunuh-membunuh antara saudara sendiri, antara bangsa sendiri. Rakyat pun
terpecah-pecah dan saling hantam. Semua ini terjadi hanya karena ulah tingkah atasan yang
memperebutkan kedudukan. Untuk mencapai cita-cita pribadi, rakyat dijadikan umpan, kedok, perisai
dan senjata. Padahal kalau cita-cita sudah tercapai dan pribadinya dimabuk kemuliaan, kemewahan dan
kesenangan, biasanya rakyat dilupakan begitu saja!
Di bagian manapun di dunia ini, setiap kali terjadi perang, rakyat jelatalah yang menderita paling hebat.
Di dalam masa yang keruh ini, bermunculan oknum-oknum yang mempergunakan kesempatan
melampiaskan nafsu-nafsu jahatnya. Perampokan-perampokan, penculikan dan fitnah yang diakhiri
pelaksanaan hukum rimba bermunculan dimana-mana.
Sudah lazim bahwa dalam setiap menghadapi sebuah peristiwa, bermacam-macamlah pendapat orang.
Karena setiap buah kepala orang mengandung pendapat berlainan, bahkan celakanya berlawanan, maka
inilah yang menjadi sebab timbulnya pertentangan yang mengakibatkan perpecahan dan keributan. Juga
di dunia persilatan terjadi perpecahan sebagai akibat daripada pendapat yang berlawanan terhadap
perang saudara yang timbul di kerajaan Beng yang baru itu. Ada yang pro utara (Raja Muda Yung Lo),
ada pula yang pro selatan (Kaisar Hui To) maka diantara mereka terjadilah perang sendiri.
.
Akan tetapi banyak pula golongan tokoh persilatan yang mengundurkan diri, tidak mau mencampuri
segala pertentangan dan peperangan itu. Di antara mereka ini adalah Kun-lun-pai yang dipimpin oleh
tosu-tosu yang insyaf akan buruknya pertentangan dan peperangan antara saudara sebangsa. Thian Seng
Cinjin, tosu tua berusia seratus tahun yang pada waktu ini menjadi ketua Kun-lun-pai, mengeluarkan
larangan keras bagi semua anak murid Kun-lun-pai untuk melibatkan diri dalam perang saudara itu.
Bahkan ketua ini memanggil semua tokoh-tokoh Kun-lun-pai untuk diajak berkumpul di puncak Kun-lun
yang menjadi pusat dari perkumpulan ini dan bersama-sama melakukan samadhi sebagai latihan dan
sebagai keprihatinan, dan di samping ini, sang ketua memperdalam pengetahuan mereka tentang
pelajaran dalam Agama To (Taoism).
"Murid-murid Kun-lun-pai yang baik," demikian antara lain Thian Seng Cinjin berkata sambil
memandang murid-muridnya yang duduk bersila di sekeliling depannya. "Dalam keadaan seperti
sekarang ini, camkanlah pelajaran ke lima puluh tujuh." Kemudian kakek ini bersenandung membaca isi
pelajaran yang mengandung makna dalam sekali.
"Dengan keadilan negara dapat diatur dengan siasat peperangan dapat dilakukan, namun hanya dengan
mengekang diri (tak bertindak) dunia dapat dimenangkan.
Bagaimana kami tahu yang sedemikian itu?
Karena ini:
Makin banyak larangan orang makin menderita, makin banyak dipergunakan senjata, makin banyak
timbul kekacauan, makin banyak kepintaran, makin banyak perbuatan yang aneh-aneh, makin banyak
hukum diundangkan, makin banyak terjadi pelanggaran.
Maka Orang Bijaksana berkata: Kami mengekang diri (tak bertindak), rakyat berubah ke arah
kebaikan, kami suka akan ketenangan, rakyat tenteram dan damai. Kami tidak bertindak, rakyat hidup
makmur, kami tidak berkehendak, rakyat pun bersahaja dan jujur.
Selanjutnya dengan suara penuh kesabaran, Thian Seng Cinjin memberi wejangan kepada murid-murid
Kun-lun-pai, menegaskan bahwa sebagai penganut To dan murid Kun-lun-pai yang gagah perkasa dan
bijaksana mereka harus menyerahkan segala peristiwa kepada kekuasaan alam berdasarkan kewajaran.
Hanya bergerak untuk menghadapi dan menanggulangi keadaan sebagai akibat. Jangan sekali-kali
menjadi sebab timbulnya sesuatu ketegangan. Hal ini hanya mudah dicapai dengan sikap diam dan tidak
mencampuri urusan yang tidak menyangkut diri pribadi. Karena pendirian inilah maka Thian Seng Cinjin
melarang murid-muridnya terlibat dalam perang saudara, karena sekali mereka turun tangan, mereka
akan makin mengeruhkan suasana dan memperbesar penyembelihan antara saudara sebangsa.
Semua wejangan dan percakapan yang terjadi di ruangan belajar yang luas itu didengarkan penuh
perhatian oleh seorang anak laki-laki yang sedang bekerja membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu
dengan kain kuning. Anak laki-laki ini berusia kurang lebih dua belas tahun, berwajah tampan dan
berpakaian sederhana, dari kain kasar. Yang menarik pada anak ini adalah sepasang matanya, karena
pandang matanya amat tajam, dengan biji mata yang terang jarang bergerak, membayangkan pikiran
yang dalam, pandangan luas dan penuh pengertian.
Bocah yang menjadi kacung (pelayan) di kuil besar Kun-lun-pai ini adalah Cia Keng Hong, dan sudah
dua tahun dia berada di kuil itu. Dia adalah seorang anak yatim piatu, karena keluarganya,
ayah-bundanya dan saudara-saudaranya, semua telah tewas ketika perang saudara mulai pecah.
Mendiang ayahnya adalah seorang thungcu (lurah) di dusun Kwi-bun dan keluarga Cia ini terbasmi habis
.
ketika gerombolan perampok yang muncul di waktu perang saudara ini menyerbu dan merampok serta
membasmi seluruh penduduk Kwi-bun. Karena lurah dusun ini melakukan perlawanan, maka semua
keluarganya terbasmi habis. Keng Hong yang kebetulan pada saat itu ikut menggembala kerbau bersama
seorang pelayan di luar dusun, selamat terbebas daripada bencana maut. Dalam keributan ini muncullah
Kiang Tojin, tosu yang menjadi murid kepala Thian Seng Cinjin. Tosu ini sedang melakukan perjalanan
merantau dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendekar dan penyebar Agama To. Melihat
perbuatan keji para perampok di dusun Kwi-bun, dia cepat menggunakan kepandaiannya menolong
penduduk dan berhasil mengusir para perampok. Kemudian oleh Kiang Tojin yang amat tertarik melihat
Keng Hong, anak itu diajak ke Kun-lun-san dan disitu Keng Hong bekerja sebagai seorang kacung.
Sebetulnya, Keng Hong hendak dijadikan murid Kun-lun-pai, akan tetapi bocah ini tidak mau menjadi
tokong (calon tosu). Pada waktu itu, murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon yang memegang keras
peraturan, yaitu setiap orang murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon tosu.
Karena penolakannya ini, Keng Hong yang sudah tidak mempunyai keluarga itu bekerja sebagai seorang
kacung. Dia rajin sekali, semua pekerjaan dia pegang, apa saja yang diperlukan, tanpa diperintah dia
kerjakan. Mengisi tempat air, membersihkan kuil, menyapu lantai dan kebun, merawat bunga, bahkan
menggembala kerbau milik kuil yang dipergunakn untuk meluku sawah, semua dia kerjakan dengan tekun
dan rajin. Di malam hari, karena para tosu yang sayang kepadanya membolehkannya, dia memasuki
kamar perpustakaan dan membaca kitab-kitab. Semenjak kecil, di rumah ayahnya dahulu, Keng Hong
telah mempelajari ilmu kesusasteraan sesuai dengan kehendak ayahnya yang ingin melihat dia kelak
menjadi seorang terpelajar agar dapat memperoleh kedudukan tinggi. Kitab-kitab tentang filsafat
kebatinan, pelajaran-pelajaran Tao, juga kitab-kitab pelajaran dasar ilmu silat Kun-lun, semua dia baca.
Tentu saja karena tidak ada gurunya, dia hanya bisa membaca tanpa dapat menangkap jelas inti sarinya.
Kerajinannya dan sifatnya yang pendiam membuat para tosu suka kepadanya. Bahkan Thian Seng Cinjin
sendiri yang melihat sifat-sifat baik anak ini, memujinya dan diam-diam merasa kecewa mengapa anak
yang berbakat baik ini tidak suka menjadi calon tosu. Di lain fihak, Keng Hong paling segan dan takut
melihat Thian Seng Cinjin. Ia melihat sesuatu yang aneh dan penuh wibawa pada diri tosu tua ini, baik
gerak-geriknya, dari suaranya dan terutama sekali dari pandang matanya yang tenang penuh kesabaran
dan seolah-olah dapat menjenguk isi hatinya itu.
Dia sedang membersihkan daun-daun pintu dan jendela yang terkena debu ketika Thian Seng Cinjin dan
anak muridnya berkumpul di ruangan belajar. Karena dia tidak diusir dan memang dia bekerja tanpa
mengeluarkan suara, maka Keng Hong dapat melihat dan mendengar semua. Suasana di ruangan belajar
itu amat hening dan para murid mendengarkan wejangan guru mereka dengan penuh hormat dan
kesungguhan, membuat Keng Hong makin hati-hati agar tidak mengganggu, namun dia kadang-kadang
sampai lupa akan pekerjaannya karena mendengar hal-hal yang amat menarik hatinya. Ia mendengarkan
terus.
"Suhu, di puncak Kiam-kok-san telah terjadi keributan," demikian Kiang Tojin, penolongnya dan
merupakan tosu yang paling dihormati dan dicintai Keng Hong, berkata melapor. "Agaknya Sin-jiu
Kiam-ong sudah kumat lagi watak mudanya yang suka akan keributan. Menurut pelaporan para murid
Suhu, ada sembilan orang tokoh kang-ouw, termasuk dua orang hwesio Siauw-lim-pai, dua orang tokoh
Hoa-san-pai dan seorang tosu Kong-thong-pai, mendatanginya untuk minta pedang Siang-bhok-kiam.
Mereka dilayani oleh Sin-jiu Kiam-ong yang berjanji sebulan lagi akan menanti mereka di hutan mawar
sebelah selatan di kaki gunung. Mohon keputusan Suhu karena keributan ini terjadi di wilayah kita."
"Siancai..., siancai....! Sie-taihiap (pendekar besar she sie) semenjak dahulu selalu mengejar kesenangan
dan ketegangan. Namun harus diakui bahwa di balik kebiasaannya yang buruk itu tersembunyi watak
pendekar yang patut dipuji. Kita orang-orang Kun-lun-pai bukan merupakan golongan yang tak kenal
budi. Sie-taihiap pernah menanam budi kepada kita maka kita membolehkan dia bertapa di
.
Kiam-kok-san yang merupakan tempat suci bagi kita karena dahulu sucouw(Kakek guru) kita memilih
tempat itu sebagai tempat bertapa sampai musnah dari dunia. Kini Sie-taihiap mengundang keributan,
biarlah kita tidak mencampurinya. Pinto melarang seorang pun murid Kun-lun-pai untuk ikut campur
tangan dan biarlah Sie-taihiap menyelesaikan urusannya sebagaimana yag dia kehendaki."
Mendengar percakapan mereka tentang Sin-jiu Kiam-ong yang berwatak aneh, Keng Hong menjadi
tertarik sekali. Sudah banyak dia membaca tentang keanehan para pendekar. biarpun Kun-lun-pai
merupakan pusat pendekar-pendekar sakti dan dia pun maklum bahwa Kiang Tojin penolongnya adalah
seorang berilmu tinggi, apalagi guru penolongnya itu tentu seorang yang sakti, namun mereka tak
memperlihatkan kepandaian mereka dan hidup sebagai pertapa-pertapa dan petani-petani biasa. Maka
kini mendengar akan Sin-jiu Kiam-ong yang hendak menghadapi lawan-lawan sakti di kaki gunung
sebelah selatan, di dalam hutan mawar, dia menjadi ingin sekali menonton.
Demikianlah, pada hari yang ditentukan sebulan sesudah pertemuan di puncak yang disebut puncak
Lembah Pedang, Keng Hong menggembala kerbaunya di luar hutan mawar. Biasanya kalau dia
menggembala kerbau yang enam ekor banyaknya itu. Akan tetapi sekali ini dia sengaja menggiring
kerbaunya turun ke selatan dan membiarkan kerbaunya itu makan rumput hijau gemuk di luar hutan
mawar. Agar tidak kelihatan bahwa dia sengaja datang ke tempat itu untuk menonton pertemuan
orang-orang sakti seperti yang dia ketahui dari percakapan ketua Kun-lun-pai dan murid-muridnya, dia
berbaring menelungkup di atas punggung kerbau yang terbesar sambil meniup-niup suling bambu yang
dibawanya. Keng-Hong memiliki kepandaian istimewa dalam meniup suling, bahkan sejak kecil dia
bermain suling, pandai meniup suling menirukan suara ayam dan burung-burung. Juga dengan tiupan
sulingnya dia dapat merangkai suara-suara indah dan menciptakan lagu-lagu yang sungguhpun dirangkai
sejadinya namun amat sedap didengar.
Sementara semenjak pagi Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong telah duduk bersila di antara sekelompok
bunga mawar, dan seperti ketika dia bersila di bawah batu pedang, kini pedang Siang-bhok-kiam juga
terletak di depan kedua lututnya. Ia duduk bersila tak bergerak, dengan kedua mata dipejamkan, hening
tenggelam ke dalam samadhi.
Tiba-tiba daun telinga kiri kakek ini bergerak dan perlahan-lahan dia mengejapkan matanya. Ia
mengerutkan keningnya ketika mencurahkan perhatian dengan pendengarannya. Kakek ini mempunyai
kebiasaan yang aneh, yaitu apabila mendengar sesuatu yang mengesankan, daun telinga kirinya dapat
bergerak seperti telinga kelinci! Kalau dia sedang samadhi,biarpun ada suara halilintar menyambar diatas
kepalanya, dia tidak akan terkejut atau mempedulikan, akan tetap tenang dalam siulannya. Akan tetapi
sekali ini, dia sadar dari siulannya (samadhi) karena mendengar tiupan suling yang amat merdu! Suara
yang mengandung getaran mengharukan, yang amat halus seolah-olah hembusan angin padda ujung
daun-daun bambu. Karena Sin-jiu Kiam-ong memang amat suka mendengar suara suling, maka suara
suling penuh getaraan halus ini lebih kuat pengaruhnya daripada ledakan halilintar, menggugahnya dari
samadhi dan membuat kakek ini ingin sekali mengetahui siapa gerangan yang dapat meniup suling seindah
itu! Jantungnya berdebar. Kalau peniup suling ini seorang di antara lawan yang hari ini akan
mendatanginya, berarti dia akan berhadapan dengan seorang yang amat sakti. Hanya orang sakti yang
sudah tinggi tingkat kebatinannya saja yang akan mampu meniup seindah dan sebersih itu, dengan
getaran-getaran aseli dari watak yang belum dikotori segala macam nafsu duniawi. Saking tertaraiknya,
kakek ini bangkit berdiri, menyambar pedang kayunya lalu seringan burung terbang tubuhnya melayang
ke arah luar hutan dari mana tiupan suling datang.
Ketika tiba di luar hutan dan melihat bahwa yang meniup suling adalah seorang bocah yang duduk diatas
punggung seekor kerbau besar, begitu penuh kedamaian dan ketenangan, sejenak Sin-jiu Kiam-ong
tercengang kagum. Kemudian dia menghela napas panjang dan berbisik.
.
"Engkau telah menjadi pikun, terlalu tua! Dimana bisa terdapat orang begitu bersih hatinya sehingga
tercermin pada tiupan sulingnya? Hanya seorang bocah yang akan sanggup meniup suling seperti itu. Di
dunia ini mana terdapat orang yang hatinya bersih melebihi hati seorang bocah?" Ia lalu melangkah masuk
ke dalam hutan mawar kembali sambil menggeleng-geleng kepala dan mencela kebodohan sendiri. Tak
lama kemudian dia sudah susuk bersila lagi, akan tetapi sekali ini dia tidak bersamadhi, melainkan
memasang pendengarannya menikmati alunan lagu yang terhembus keluar dari lubang-lubang suling.
Kakek ini tahu bahwa berturut-turut telah datang sembilan orang sakti yang sebulan yang lalu telah
mengunjunginya di Kiam-kok-san, akan tetapi dia tidak perduli, bahakan pura-pura tidak tahu dan masih
menikmati alunan suara suling yang terdengar sayup sampai. Ia seperti orang terpesona dan tenggelam
dalam hikmat suara itu, yang membawanya melayang-layang kemblai kepada masa mudanya dan
diam-diam dia menyesali diri sendiri. Sungguh dia harus merasa malu bahwa diambang kematiannya,
karena memang dia telah mangambil keputusan untk menyerahkan nyawanya tanpa melawan kepada
sembilan orang ini, belum pernah dia melakukan jasa sedikit pun selama hidupnya. Bahkan sebaliknya,
dia selalu hidup mengejar kesenangan, bergelimang dalam cinta kasihnya dengan banyak waita yang
dibalasnya hanya karena dorongan nafsu berahi. Belum pernah selama hidupnya dia menjatuhkan hati,
mencinta seorang wanita dengan murni. Betapa dia hidup secara berandalan, tidak mau membedakan
antara baik dan buruk, ugal-ugalan, merampas kitab-kitab dan benda-benda pusaka, mendatangi
jagaoan-jagoan hanya untuk memuaskan nafsunya ingin menang, menyerbu partai-partai persilatan untuk
mengalahkan ketua-ketuanya. Sungguhpun dia semenjak dahulu selalu tidak mempunyai niat menjahati
orang lain, anamun wataknya yang ugal-ugalan tanpa dia sadari telah menyakitkan hati banyak orang.
Kini datanglah penyesalan dan makin dia perhatikan suara suling yang mengalun merdu itu makin
terharulah haitnya. Perlahan-lahan suara suling itu makin melemah, kemudian terhenti seolah-olah
peniupnya sudah merasa bosan dan lelah, seperti dia yang merasa bosan untuk hidup lebih lama lagi,
sudah lelah untuk berurusan dengan dunia yang lebih banyak deritanya daripada senangnya.
Setelah suara suling terhenti, Sin-jiu Kiam-ong mengangkat mukanya. Pandang matanya menyapu para
pengunjung yang sudah berdiri berjajar di depannya dalam keadaan siap siaga, dengan senjata di tangan
masing-masing karena mereka itu kini datang untuk bertindak, bukan untuk bicara lagi. Semua mata
sembilan orang itu ditujukan ke arah Siang-bhok-kiam yang menjadi pusat perhatian dan yang
sesungguhnya merupakan sebab utama kunjungan mereka.
"Ahhh, kalian sudah datang? Nah, aku pun sudah siap. Sekarang aku tidak akan melawan san kalau
hendak bunuh aku, lakukanlah cepat-cepat. Akan tetapi, karena yang membunuhku berhak memiliki
Siang-bhok-kiam maka lebih dahulu hendak kujelaskan kegunaan pedang ini." Kakek itu mengambil
pedang kayu dari depannya. Pedang ini terbuat dari kayu yang jarang terdapat di dunia ini, karena kayu
itu adalah kayu harum yang terdapat di dekat Puncak Pegunungan Himalaya di dunia barat. Dalam
perantauannya, Sin-jiu Kiam-ong mandapatkan pedang itu sebagai anugerah dari seorang pertapa India
yang sudah mendekati saat terakhir. Kayu dari sebatang pohon yang mungkin hanya ada beberapa
batang saja di seluruh puncak Himalaya. Kayu yang amat harum baunya, dan keras laksana baja. Akan
tetapi selain harum juga kayu ini merupakan obat penlak segala pengaruh racun. Barang beracun apa saja
apabila tersentuh kayu ini seolah-olah terhisap racunnya dan tidak berbahaya lagi.
"Siang-bhok-kiam ini adalah sahabatku selama puluhan tahun," ia berkata sambil menarik napas panjang
dan mencium pedang itu dengan ujung hidungnya. "Bukan hanya merupakan pedang wasiat yang amat
keramat, juga pemilik pedang ini akan dapat membuka rahasia tempat penyimpanan seluruh milikku, dari
kitab-kitab pusaka berisi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi sampai simpanan perhiasan-perhiasan berharga
dan senjata-senjata mustika. Betapapun juga hanya dia yang berjodoh saja agaknya yang akan dapat
memiliki semua itu melalui pedang ini. Akan tetapi kalian harus ingat baik-baik, karena kalian semua
menghendaki pedang ini, maka kurasa siapapun di antara kalian tidak akan mudah membunuhku
sungguhpun aku berjanji takkan melawan dengan sebuah jari tanganku. Nah, aku sudah siap, siapa mau
.
turun tangan merampas pedang, lakukanlah, aku tidak akan menghalangi!" Setelah berkata demikian,
Sin-jiu Kiam-ong menaruh pedang itu kembali ke depan kakinya diatas tanah lalu bersedekap dan
memejamkan matanya. Mulutnya tersenyum iklas, sama iklasnya dengan hatinya yang telah bulat
menyambut datangnya maut.
"Sie Cun Hong, aku maafkan dosamu asal kau memberikan pedang itu kepadaku!" terdengar teriakan
Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu yang disusul bunyi "tar-tar-tar!" nyaring sekali. Sinar-sinar hitam manyambar
karena sembilan ujung cambuk yang mempunyai kaitan-kaitan itu telah menyambar ke arah peddang
kayu di depan Sin-jiu Kiam-ong.
"Trang-trang-trang....!" Bunga api berpijar dan kesembilan "ekor" cambuk terpental.
"Kalian mau apa?" bentak Kiu-bwe Toanio marah dan mukanya menjadi merah, matanya mendelik
memandang ke arah delapan orang lain yang telah maju menangkis cambuknya.
"Hemmm, bukan engkau saja yang membutuhkan pedang Siang-bhok-kiam, KIu-bwe Toanio, kami pun
memerlukannya!" Ucapan ini keluar dari mulut Coa Kiu kakek tokoh Hoa-san-pai dan secepat kilat Coa
Kiu dan Coa Bu, kedua Hoa-san Siang-sin-kiam telah menggerakkan pedang mereka menjadi sebuah
sinar panjang dan kuat menuju ke arah Siang-bhok-kiam dengan maksud mendahului dan merampas
pedang kayu itu sebelum yang lain sempat bergerak.
"Trang-trang...!!" Kembali sinar pedang yang kuat ini terpental karena ditankis oleh banyak senjata.
"Ho-ho-ho, Hoa-san Siang-sin-kiam, jangan tergesa-gesa! Pinceng juga butuh.........!" Thian Kek
Hwesio tokoh Siauw-lim-pai yang berkulit hitam itu mengejek.
Senyum di bibir Sin-jiu Kiam-ong melebar dan kini sembilan orang yang saling pandang itu mengerutkan
kening. Baru mereka ketahui apa artinya ucapan Sin-jiu Kiam-ong tadi yang mengatakan bahwa
siapapun di antara mereka takkan mudah membunuh kakek itu biarpun si kakek tidak melawannya.
Kiranya kakek itu sudah dapar menduga lebih dulu bahwa di antara sembilan orang ini tentu akan terjadi
perebutan!
Sementara itu, di balik sebatang pohon besar bersembunyi Keng Hong. Bocah ini tadinya meniup suling
diatas punggung kerbau dan memasuki hutan sambil melanjutkan meniup sulingnya perlahan-lahan.
Setelah tiba di tengah hutan, dia terpaksa menghentikan tiupan sulingnya yang tadi dilakukan hanya untuk
menentramkan hatinya yang berdebar-debar dan dia menyelinap di antara pohon-pohon ketika melihat
banyak orang berdiri di lapangan terbuka di hutan mawar itu. Sambil menahan nafas dia menonton dan
mendengarkan seluruh percakapan. Diam-diam timbul rasa suka dan kasihan di hatinya terhadap kakek
aneh yang duduk bersila, apalagi setelah dia mendengar ucapan kakek itu seolah-olah telah menyerahkan
nyawanya kepada sembilan orang yang sikapnya mengancam itu. Dan pada saat yang sama timbul rasa
tidak suka kepada mereka. Dia sudah banyak membaca tentang watak orang-orang budiman, bijaksana
dan gagah perkasa, watak para pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kegagahan.
Akan tetapi sembilan orang itu hendak mengeroyok seorang kakek tua renta yang sama sekali tidak mau
melakukan perlawanan. Alangkah picik dan hina!
Sembilan orang itu kini saling berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Tak seorangpun di
antara mereka mengeluarkan kata-kata, namun pandang mata mereka sudah menyatakan perasaan
mereka dengan jelas dan seluruh urat syaraf di tubuh sudah menegang, siap menggempur lawan untuk
memperebutkan pedang pusaka yang amat mereka inginkan itu.
Akhirnya Kok Cin Cu, orang termuda dari Kong-thong Ngo-lojin, menghela napas panjang dan
.
berkata, suaranya seperti biasa halus namun penuh wibawa.
"Mencapai cita-cita tinggi tidaklah mudah, mendapatkan Siang-bhok-kiam benda pusaka tentu saja amat
sukar. Memang patut ditempuh dengan mempertaruhkan nyawa. Baiklah, mari kita semua membuktikan,
siapa di antara kita yang paling tepat dan berjodoh memiliki Siang-bhok-kiam." Setelah berkata
demikian, Kok Cin Cu meraba pinggangnya dan "singgg!" terdengar suara nyaring ketika tosu tua ini
melolos sabuknya yang ternyata merupakan sabuk baja yang tipis dan halus. Kiranya sabuk ini
merupakan senjata istimewa tosu itu, dimainkan seperti orang memegang sebuah pecut yang tajam.
Sabuk ini mengeluarkan suara berdesing dan tampak sinarnya berkelebatan menyilaukan. Sambil
memutar sabuk itu diatas kepala, lengan kiri tosu lihai ini mengeluarkan bunyi berkerotokan, terisi oleh
Ilmu Ang-liong-jiauw-kang yang agaknya lebih mengerikan dan lihai daripada sabuk baja itu sendiri!
"Omitohud! Terpaksa kita melanggar pantangan membunuh, Sute!" kata Thian Ti Hwesio yang beralis
putih kepada sutenya sambil memutar tongkat yang dibawanya. Bukan tongkat sembarangan tongkat,
karena tongkat itu adalah sebatang tongkat senjata yang disebut Liong-cu-pang (Tongkat Mustika
Naga), tongkat yang ujungnya besar bulat seperti bola baja, dan beratnya tidak akan kurang dari dua
ratus kati! Sutenya, si tinggi besar berkulit hitam Thian Kek Hweiso sudah mengeluarkan suara gerengan
dan begitu dia menggerakkan tangan kanan terdengar suara "Wuuuuttt....!" dan angin keras menyambar.
Kiranya dia telah melolos jubah yang dipakainya tadi dan kini jubah itu telah dia pegang ujungnya. Jangan
dianggap ringan senjata jubah ini, karena berada di tangan hwesio tinggi besar itu, jubah ini bisa berubah
menjadi senjata yang kerasnya melebihi baja, lemasnya melebihi sutera dan tajamnya menandingi pedang!
Keng Hong memandang dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Ia melihat betapa kakek tua renta
yang duduk bersila itu sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata akan tetapi senyum di
mulutnya jelas mengandung ejekan, seolah-olah kakek itu menahan rasa geli dan memaksa diri tidak
tertawa bergelak. Dia sendiri pun merasa geli dan ingin tertawa menyaksikan tingkah laku sembilan orang
itu yang dianggapnya seperti badut-badut tak tahu malu atau seperti segerombolan anjing hendak
memperebutkan tulang. Dari tempat dia sembunyi, pedang di depan kakek tua itu memang seperti
sepotong tulang saja. Akan tetapi mana mungkin dia bisa tertawa menyaksikan sembilan orang itu kini
telah mengeluarkan senjata semua?
Di lain saat, pandang Keng Hong menjadi silau dan kabur, telinganya seperti tuli ketika terdengar suara
desing senjata yang hiruk pikuk, matanya melihat sinar-sinar berkelebatan. Dia ternganga keheranan dan
hampir tak dapat mempercayai ddan hampir tak dapat mempercayai pandang matanya sendiri sembilan
orang-orang tua itu telah lenyap tubuhnya dan yang tampak kini hanya bayangan-bayangan berkelebatan
dibungkus sinar bermacam-macam, ada merah, putih, hijau dan kuning. Suaranya juga bising sekali, ada
suara meledak-ledak seperti halilintar, suara mendesis seperti ular marah, suara bersuitan seperti angin
badai, berkerosokan seperti angin mengamuk dan berdentangan, seperti disitu terdapat banyak pandai
besi bekerja! Di tengah-tengah semua hiruk pikuk dan sinar berkelebatan itu, jelas tampak kakek tua
renta masih duduk bersila dengan mulut tersenyum lebar. Pedang kayu itu masih menggeletak mati di
depan kakinya.
Pertempuran yang kacau-balau itu amat serunya dan terutama sekali perhatian masing-masing ditujukan
untuk mencegah lain orang merampas pedang maka sampai lama tidak ada korban yang jatuh, apalagi
karena mereka itu terdiri dari orang-orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat. Tanpa
mereka sadari , mereka itu saling bantu dalam pertempuran kacau-balau itu.
Biarpun kedua matanya dipejamkan, telinga Sin-jiu Kiam-ong dapat menangkap jalannya pertandingan
dan hatinya terpingkal-pingkal, akan tetapi juga mata hatinya terbuka lebar. Beginilah watak manusia di
seluruh jagat, pikirnya. Pertempuran antara tokoh besar ini mencerminkan keadaan di dunia,
mencerminkan watak manusia yang amat bodoh dan lucu, seolah-olah manusia di dunia ini memainkan
.
peran badut yang menggelikan! Manusia di dunia ini selalu saling hantam, saling memperebutkan demi
pemuasan nafsu pribadi yang mereka sebut cita-cita. Padahal, hakekatnya mereka itu hanya
memperebutkan kedudukan, atau nama, atau harta, atau pemuasan nafsu. Untuk mencapai "cita-cita" ini,
mereka tidak segan-segan untuk saling menjatuhkan fitnah, saling mengejek, saling menyalahkan, saling
menipu, saling merugikan dan kalau perlu saling membunuh! Yang besar melahap yang kecil, yang kecil
mencaplok yang lebih kecil lagi sedangkan yang besar dilalap yang lebih besar lagi! Kedudukan,
kemuliaan, nama besar, harta benda, benda-benda indah, wanita cantik diperebutkan secara tak kenal
malu seolah-olah kesemuanya itu akan mendatangkan bahagia dalam hidup masing-masing. Padahal, dan
ini sudah dialami oleh Sin-jiu Kiam-ong selama petualangannya puluhan tahun, kesemuanya itu kosong
belaka. Kesemuanya itu akan musnah kenikmatannya setelah didapatkannya, bukan kebahagiaan yang
didapat, melainkan terlalu sering sekali mendatangkan kepahitan malah. Karena yang menang akan
mabuk dan diintai mata dan hati si kala yang penuh iri dan dendam, yang kala akan mabuk oleh dendam
dan penasaran sehingga mencari segala daya upaya untuk menjatuhkan kembali yang menang! Kakek ini
seolah-olah dapat melihat betapa yang akhirnya mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam selalu akan
dirundung malang, selalu dimusuhi, dikejar-kejar. Ingin dia tertawa kalau memikirkan hal ini!
Tiba-tiba terdengar suara ketawa tergelak-gelak. Suara ketawa yang memekakkan telinga, yang
membuat Keng Hong tiba-tiba roboh berlutut karena kedua kakinya menggigil. Tampak berkelebat tiga
bayangan hitam dan pertandingan yang tadinya kacau balau itu tiba-tiba berhenti karena sembilan orang
itu terpelanting ke kanan kiri. Kini mereka bersembilan berdiri siap siaga dengan wajah penuh peluh,
mata liar mengganas memandang ke arah tiga orang yang tiba-tiba muncul dan yang sekaligus membuat
mereka yang sembilan orang itu tokoh-tokoh kenamaan yang berilmu tinggi, terpelanting ke kanan kiri.
Keng Hong kini dapat berdiri kembali dan dia pun mengintai, memandang ke arah tiga orang itu.
Jantungnya berdebar keras dan mulutnya melongo, matanya terbelalak hatinya diliputi kengerian. Tentu
bukan manusia yang muncul ini, melainkan tiga iblis penghuni hutan. Belum pernah Keng Hong melihat
orang-orang yang memiliki wajah dan tubuh demikian mengerikan. Orang pertama adalah seorang nenek
yang rambutnya kemerahan, rambut gimbal yang kasar dan riap-riapan menutupi sebagian mukanya.
Muka itu sendiri seperti udang direbus, mulutnya menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar dan
panjang-panjang sehingga bibirnya tidak dapat tertutup dan selalu menyeringai. Pakaiannya dari sutera
hitam berkembang merah dengan potongan ketat sehingga melekat di kulit tubuhnya, mencetak tubuhnya
seperti telanjang bulat dan tampak betapa sepasang buah dadanya besar-besar seperti buah semangka.
Nenek ini tidak memegang senjata, akan tetapi sepuluh buah kuku jari tangannya panjang-panjang dan
meruncing seperti sepuluh batang pisau yang hitam kemerahan, amat mengerikan!
Orang ke dua adalah seorang kakek yang usianya sebaya dengan nenek itu, kurang lebih delapan puluh
tahun. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, sedikitnya tentu ada dua meter, besar dan kulitnya hitam
arang penuh bulu. Kalau tidak pakai pakaian dia tentu lebih patut disebut orang hutan. Pakaiannya juga
dari sutera berwarna berkembang. Karena kulit mukanya juga hitam seperti arang, maka tampaklah biji
matanya putih lebar menyeramkan. Kedua telinganya seperti telinga gajah, lebar. Yang mengerikan
adalah sepasang tengkorak kecil, agaknya tengkorak anak-anak, yang tergantung di kedua rantai baja,
dua buah tengkorak yang sudah menghitam dan agaknya mengeras seperti besi karena kedua tengkorak
itu telah direndam racun sampai puluhan tahun lamanya.
Adapun orang ke tiga, sungguhpun tidak tinggi besar menyeramkan, namun cukup mengerikan karena
bentuknya yang tidak lumrah. Tubuhnya kecil kate, akan tetapi kepalanya besar sekali berbentuk lonjong
seperti buah labu, mukanya sempit dengan sepasang mata yang hanya merupakan dua buah garis kecil,
sikapnya pendiam dan alim. Tangan kanannya memegang sebatang hudtim (kebutan dewa) yang
gagangnya hitam namun bulu kebutannya putih. Kedua lengannya bersedakap dan bibirnya selalu
bergerak-gerak seperti orang membaca doa!
.
Yang tertawa-tawa adalah nenek dan kakek tinggi besar itu. Kini pun kakek tinggi besar masih tertawa
sehingga dua buah tengkorak kecil yang tergantung di pinggangnya bergerak-gerak dan saling beradu
menimbulkan suara seolah-olah dua buah tengkorak itu ikut pula tertawa. Sembilan oran tokoh
kang-ouw, yang tadinya terpelanting ke kanan kiri, setelah dapat memandang tiga orang ini, tampak
kaget sekali, tercengang dan gentar. Tiga orang manusia iblis ini memang jarang muncul di dunia ramai,
namun mereka sebagai tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan tentu saja mengenal siapa adanya tiga datuk
persilatan, raja-raja dari golongan sesat ini. Nenek itu bukan lain adalah Ang-bin Kwi-bo (Nenek Iblis
Muka Merah) yang seolah-olah merajai kaum sesat di sepanjang pantai laut timur. Kakek tinggi besar
berkulit hitam dengan senjata dua buah tengkorak itu adalah Pak-san Kwi-ong (Raja Setan Gunung
Utara) yang merajai kaum sesat di sepanjang tembok besar di utara, bahkan terkenal sekali dan ditakuti
oleh bangsa-bangsa Mongol, Mancu dan lain-lain. Orang ketiga yang kate dan bersikap seperti dewa itu
dikenal dengan nama julukan Pat-jiu Sian-ong (Raja Dewa Lengan Delapan), karena Pat-jiu Sian-ong ini
selalu merantau ke barat dan tidak pernah ada tokoh yang dapat menandinginya. Inilah tiga orang di
antara empat datuk kaum sesat yang pada masaitu merupakan tokoh-tokoh tertinggi ilmunya dan yang
tersebar merajai empat penjuru.
"Ha-ha-ha!” Pak-san Kwi-ong tertawa mengejek dan menyapu sembilan orang itu dengan pandang
mata. Biji matanya yang putih itu bergerak-gerak lliar ke kanan kiri, amat menyeramkan. "Kiranya
tikus-tikus ini pun kepingin mendapatkan Siang-bhok-kiam! Ha-ha-ha! Memang benar sekali, sebelum
berhak mendapatkan pedang pusaka, harus menjadi pemenang lebih dulu. Kalian ini tikus-tikus pelbagai
golongan, setelah kami bertiga datang, tidak lekas menggelinding pergi, apakah ingin kami turun tangan
menjadikan kalian sebagai setan-setan tanpa kepala?"
"Kwi-ong, usir saja anjing-anjing itu. Kalau dibunuh, teman-temannya akan mengonggong, kelak akan
membikin repot saja!" kata Ang-bin Kwi-bo sambil menyeringai.
Sembilan orang itu adalah tokoh-tokoh dunia kang-ouw golongan bersih. Sungguhpun pada saat itu
mereka saling bertentangan dalam memperebutkan Siang-bhok-kiam, namun mereka tetap merasa diri
mereka bersih. Kini menghadapi tiga orang tokoh yang menjadi datuk kaum sesat, tentu saja mereka
merasa bertemu dengan lawan dan otomatis mereka itu melupakan pertentangan sendiri, di dalam hati
telah bersatu untuk menghadapi tiga lawan yang mereka tahu memiliki kesaktian hebat itu. Namun
sebagai tokoh-tokoh besar dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar.
"Bagus! kalau kami tidak salah kira kalian bertiga ini tentulah tiga orang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat
Iblis Tanpa Tanding)! Memang, siapa yang paling kuat di antara kami berhak memiliki Siang-bhok-kiam,
akan tetapi kalian ini iblis-iblis berwajah manusia tidak masuk hitungan, dan sudah menjadi kewajiban
kami semua pendekar golongan bersih untuk membasmi iblis-iblis kaum sesat macam kalian bertiga!"
Terdengar suara kekeh ketawa melengking tinggi dan Ang-bin Kwi-bo sudah menerjang maju
menyerang Sin-to Gihiap yang bicara tadi. Pendekar ahli golok yang sudah berusia delapan puluh tahun,
sudah banyak pengalamannya bertanding dan pada masa itu sukar dicari tandingannya dalam permainan
golok, menjadi kaget bukan main karena nenek itu menyerangnya dengan senjata yang amat luar biasa,
yaitu.....rambutnya! Rambut yang gimbal kasar panjang ini bagaikan ratusan ekor ular menerjangnya,
mengeluarkan suara seperti anak panah menyambar dan didahului bau amis seperti ular beracun. Cepat
Sin-to Gi-hiap memutar goloknya untuk menjaga diri, namun sebagian daripada rambut itu mengulung
goloknya dan sebagian lagi terus menyambar ke arah lehernya!
Pada saat itu terdengar seruan keras, "Omitohud!" dan kedua orang Siauw-lim-pai yaitu Thian Ti
Hwesio dan Thian Kek Hwesio telah menerjang secara berbarengan. Thian Ti Hwesio menggunakan
Liong-cu-pang menghantam kepala nenek itu, sedangkan Thian Kek Hwesio menggerakkan jubahnya
menangkis ke arah rambut yang mengancam nyawa Sin-to Gi-hiap! Sambil terkekeh aneh Ang-bin
.
Kwi-bo menarik kembali rambutnya dan melangkah mundur kemudian ia mengulur kedua lengan, lengan
kiri menyampok Liong-cu-pang sehingga hampir saja terlepas dari pegangan Thian Ti Hwesio,
sedangkan lengan kanannya melingkar di depan dada.
Kini sepuluh buah kuku jari tangan nenek itu sudah berubah makin menghitam dan jari-jari tangan itu
bergerak-gerak aneh, amat mengerikan. Betapapun juga, dua orang tokoh Siauw-lim-pai bersama Sin-to
Gi-hiap tidak menjadi gentar dan siap-siap mengurungnya.
Pendekar-pendekar tua yang lain tidak tinggal diam. Sungguhpun tidak ada yang memimpin dan tidak
ada komando, mereka sudah menerjang maju. Kiu-bwe Toa-nio bersama dua orang tokoh Hoa-san-pai
sudah maju mengurung Pak-san Kwi-ong. Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuk berekor
sembilan yang mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil, sedangkan kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu
sudah menyatukan pedang mereka.
Adapun sepasang suami istri piauw-su, yaitu Hek-houw Tan Kai Sek dan isterinya, bersama Kok Cin
Cu tokoh lihai Kong-thong-pai, telah mengurung Pat-jiu Sian-ong yang tampak tenang-tenang saja. Si
kate kepala besar ini hanya mengebut-ngebutkan hudtim di tangannya seperti orang mengusir lalat, namun
hudtim yang dikebut-kebutkan perlahan-lahan itu mengeluarkan suara bersiuatan seolah-olah datagn
angin topan yang dahsyat! Suara ini diimbangi oleh suara menderu yang keluar dari rantai yang ujungnya
ada sepasang tengkoraknya, yaitu senjata yang kini diayun-ayun oleh Pak-san Kwi-ong.
Keng Hong menonton dengan jantung berdebar-debar. Sungguh keadaan telah berubah amat
mengherankan. Sembilan orang yang tadinya saling bertanding dan lenyap bayangannya terganti oleh
sinar-sinar berkelebatan, kini bersatu padu menghadapi tiga orang manusia iblis yang mengerikan.
Biarpun mereka itu belum saling serang, namun keadaan sudah amat menegangkan. Ketika Keng Hong
melirik ke arah kakek tua renta yang duduk bersila, dia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong masih duduk
diam tak bergerak, namun senyum mengejek di bibirnya kini tidak tampak lagi dan kedua mata yang
tadinya dipejamkan kini terbuka. Keng Hong terkejut karena sepasang mata kakek tua renta itu
mengeluarkan sinar yang berkilat!
Akan tetapi perhatian Keng Hong segera tertarik oleh pertandingan yang sudah dimulai. Begitu dia
mengalihkan pandang matanya, dia menjadi pening. Pertandingan sekali ini ternyata lebih hebat dan cepat
daripada tadi. Bayangan-bayangan manusia berkelebatan, sukar dia kenal bayangan siapa, berkelebatan
cepat di antara sinar-sinar terang dan gulungan-gulunga uap hitam, dan terdengar suara
bermacam-macam yang menusuk-nusuk telinga, selain itu tercium bau yang amis dan keras memuakkan.
Namun, pertandingan itu berjalan sebentar saja. Terdengar kekeh tawa Ang-bin Kwi-bo diseling gelak
tawa Pak-san Kwi-ong, disusul suara senjata-senjata patah dan tubuh sembilan orang pengeroyok itu
terpelanting lagi ke kanan kiri, namun sekali ini agak keras, bahkan terbanting ke tanah.
Ketika sinar-sinar itu lenyap, Keng Hong melihat betapa sembilan orang itu ada yang terbanting roboh,
ada yang terhuyung-huyung ke belakang. Mereka ini menyeringai kesakitan dan bangkit bangun lagi
dengan wajah pucat.
Pecut sembilan ekor di tangan Kiu-bwe Toanio kini tinggal lima ekornya, Liong-cu-pang di tangan Thian
Ti Hwesio semplak bagian ujung yang bulat, jubah di tangan Thian Kek Hwesio robek, pundak Sin-to
Gi-hiap berdarah.
Napas kedua Hoa-san Siang-sin-kiam terengah-engah dan tangan mereka yang memegang pedang
menggigil, juga Kok Cin Cu berdiri sambil memejamkan mata dan mengatur pernafasan untuk
memulihkan tenaga dan mengobati luka di sebelah dalam tubuhnya, sepasang suami-isteri piauwsu itu pun
memandang pedang mereka yang tinggal sepotong, sedangkan kantong-kantong senjata rahasia mereka
.
sudah kosong karena isinya hanya habis dihamburkan dengan sia-sia.
"Hi-hi-hik! Kalian berani menentang Bu-tek Sam-kwi (Tiga Iblis Tanpa Tanding)?" kata Ang-bin
Kwi-bo.
"Kelancangan kalian harus ditebus dengan nyawa!" kata Pak-san Kwi-ong sambil tertawa.
"Bersembahyanglah lebih dahulu sebelum menemui Giam-lo-ong (Raja Maut)!"
Kini untuk pertama kalinya terdengar suara Pat-jiu Sian-ong, dan ternyata suara halus dan seperti suara
orang yang penuh kasih sayang!
Sembilan orang itu sudah siap-siap. Mereka itu kesemuanya telah menderita luka, dan yang tidak terluka
telah mengorbankan senjatanya menjadi rusak.
Namun karena maklum bahwa nyawa mereka terancam maut, mereka siap-siaga untuk melawan sampai
detik terakhir.
Keng Hong biarpun tidak tahu akan ilmu silat, apalagi ilmu silat tinggi yang dimainkan mereka, dari
percakapan itu maklum pula bahwa tiga orang manusia iblis itu siap untuk membunuh sembilan orang
tokoh pendekar itu, maka dia membelalakan mata sambil memandang penuh ketegangan. Suling bambu
di tangannya dia pegang erat-erat, seolah-olah dia pun bersiap-siap menerima terjangan maut.
Setelah tertawa lagi, tiga orang manusia iblis itu bergerak. Berbarengan dengan gerakan mereka,
masing-masing mengarah tiga orang lawan terdekat. Rambut kepala Ang-bin Kwi-bo menyambar ke
depan, berlumba cepat dengan rantai tengkorak dan hudtim di tangan kedua orang kawannya. Sembilan
orang yang sudah lemah itu maklum bahwa kali ini nyawa mereka tidak berdaya menghadapi kehebatan
tiga orang lawan ini, apalagi sekarang setelah mereka terluka dan lemah. Betapapun juga mereka terluka
dan lemah. Betapapun juga mereka menggerakkan tangan untuk mempertahankan diri.
Tiba-tiba terdengar suara mencicit keras dan nyaring sekali, berbarengan berkelebat sinar hijau yang
panjang dan tebal, disusul bunyi "Cring-cring-tranggg....!" dan tiga orang manusia iblis itu mencelat
mundur sambil mengeluarkan seruan kaget. Tangkisan sinar hijau tadi membuat sebagian rambut kepala
Ang-bin Kwi-ong rontok, kedua tengkorak Pak-san Kwi-ong berputaran dan kebutan hudtim di tangan
Pat-jiu Sian-ong bodol tiga helai! Peristiwa ini bagi tiga orang manusia iblis merupakan hal yang amat
hebatnya, karena tak pernah mereka mengira ada orang yang mampu sekali tangkis menolak mundur
mereka. Karena kaget dan heran mereka mencelat mundur dan kini mereka memandang denga mata
terbelalak penuh dengan kemarahan. Kiranya di depan mereka telah berdiri Sin-jiu Kiam-ong yang
tersenyum-senyum dan pedang Siang-bhok-kiam yang diperebutkan itu berada di tangan
kanannya.Kakek ini tenang-tenang saja menoleh ke belakang dan berkata kepada sembilan orang tokoh
kang-ouw yang memandang dengan mata terbelalak kagum.
"Harap Kiu-wi (kalian sembilan orang) suka mundur. Biarlah aku menghadapi mereka karena tiga iblis
ini adalah tandinganku!"
Biarpun angkuh dan menjunjung kegagahan, sembilan orang ini pun merupakan orang-orang yang
mengenal keadaan. Maka sambil menghela napas panjang mereka lalu melangkah mundur dan hanya
menonton dari pinggiran.
"Sin-jiu Kiam-ong!" Kini Pak-san Kwi-ong membentak dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka
kakek tua renta itu. "Kabarnya engkau telah mengundurkan diri dan tidak mau mencampuri urusan dunia
.
ramai. Bahkan tadi kami mendengar bahwa engkau telah menyerahkan nyawa, tidak hendak melakukan
perlawanan. Mengapa sekarang engkau menentang kami? Apakah engkau sudah melupakan
kegagahanmu dan hendak melakukan perlawanan. Mengapa sekarang engkau menentang kami? Apakah
engkau sudah melupakan kegagahanmu dan hendak mampus sebagai seorang pengecut rendah yang
menarik kembali ucapannya yang masih terdengar gemanya?"
Sin-jiu Kiam-ong tertawa, kemudian menjawab, "Hemmm, kalian Bu-tek Sam-kwi dengarlah baik-baik!
Aku sama sekali tidak pernah berjanji kepada kalian bertiga! Aku berjanji kepada sembilan orang yang
mewakili partai-partai yang pernah ku ganggu. Aku berhutang kepada mereka, maka kini aku bersedia
membayar dengan nyawaku. Pedang Siang-bhok-kiam ini sama harganya dengan nyawaku, maka kalau
kalian bertiga datang hendak memperoleh Siang-bhok-kiam, harus lebih dulu dapat merampas
nyawaku!"
"Bagus! Sin-jiu Kiam-ong manusia sombong yang sudah hampir mampus! Kami masih suka bicara
denganmu karena mengingat bahwa engkau setingkat dengan kami. Jangan sekali-kali mengira bahwa
kami takut kepadamu!" bentak Ang-bin Kwi-bo marah.
"Heh-heh-heh, Kwi-bo, dahulu, setengah abad yang lalu, engkau cantik jelita dan memiliki kesukaan
yang sama dengan aku, yaitu berenang dalam lautan asmara. Akan tetapi sekarang, heh-heh-heh, engkau
buruk sekali.......!"
"Gila....!" Ang-bin Kwi-bo menerjang dengan kedua tangannya dan sepuluh buah kuku runcing
mengandung racun dahsyat itu sudah mencakar ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Kakek ini menggoyang
pergelangan tangannya, sinar hijau berkelebat dan si nenek memekik keras dan cepat menarik kembali
kedua tangannya yang dari kedudukan menyerang berbalik terancam dibabat buntung oleh
Siang-bhok-kiam! Dua orang kawannya tidak tinggal diam. Mereka sudah menerjang maju dan terjadilah
pertempuran yang lebih dahsyat lagi daripadatadi. Sembilan orang sakti yang menonton, hampir
berbarengan mengeluarkan seruan-seruan kagum. Mereka adalah orang-orang sakti maka dengan
pandang mata mereka yang terlatih , mereka dapat menikmati dan mengagumi permainan pedang Sin-jiu
Kiam-ong yang benar-benar belum pernah mereka saksikan keduanya di dunia ini. Juga mereka merasa
ngeri karena setelah kini mereka dapat mengikuti sepak terjang tiga orang iblis itu yang benar-benar luar
biasa dan amat berbahaya.
Bagi Keng Hong, tentu saja penglihatan pada saat itu lain lagi. Ia tidak melihat lagi Sin-jiu Kiam-ong dan
tiga orang iblis. Bayangan mereka sudah lenyap. Yang tampak olehnya hanyalah segulung sinar hijau
se3perti seekor naga bermain-main diantar mega-mega yang beraneka warna, ada mega hitam, ada yang
putih dan ada yang kemerahan. Pandang matanya berkunang dan kepalanya menjadi pening sehingga
Keng Hong terpaksa harus memejamkan matanya. Kalau dia membuka matanya, dia menjadi silau dan
berkunang lagi. Terpaksa dia meramkan terus matanya, dan hanya mendengarkan dengan telinganya.
Yang terdengar hanya lengking dan suara bercuitan, tidak tahu dia bagaimana jalannya pertandingan itu,
siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Jangankan bagi mata Keng Hong yang tidak terlatih, bahkan sembilan orang sakti yang sudah tinggi
tingkat kepandaiannya itu pun menjadi silau dan pening. Makin lama gerakan Sin-jiu Kiam-ong dan tiga
orang lawannya, terutama sekali gerakan Raja Dewa Lengan Delapan, makin cepat sehingga sukar diikuti
pandangan mata lagi. Sinar pedang Siang-bhok-kiam yang hijau itu mendadak menjadi lebar sekali ketika
terdengar Sin-jiu Kiam-ong membentak, dan tampaklah sinar hijau mencuat ke tiga jurusan seperti
bercabang, disusul pekik kesakitan tiga orang iblis. Namun tampak jelas oleh sembilan orang itu betapa
ujung pedang Siang-bhok-kiam berhasil melukai dada ketiga orang iblis, dan sebaliknya, pipi kanan
Sin-jiu Kiam-ong terkena guratan kuku tangna Ang-bin Kwi-bo dan punggungnya terkena gebukan
sebuah tengkorak yang terbang membalik dan seolah-olah mencium punggung kakek itu. Sin-jiu
.
Kiam-ong terhuyung ke belakang, akan tetapi tiga orang lawannya juga mencelat sampai tiga tombak
jauhnya.
Mereka kini berdiri saling pandang, tak bergerak. Tiga orang iblis itu terengah-engah, pandang mata
mereka beringas, mulut menyeringai. Tiga orang iblis ini diam-diam merasa girang sekali. Sin-jiu
Kiam-ong telah terkena luka beracun. Racun-racun di kuku Ang-bin Kwi-bo amat hebatnya, dan racun
di tengkorak Pak-san Kwi-ong juga tak kalah ampuhnya. Kalau mereka bertanding lagi, amatlah sukar
mengalahkan kakek itu yang benar-benar patut berjuluk Raja Pedang karena permainan pedangnya
memang hebat di samping pedang itu sendiri amat ampuh. Akan tetapi kalau mereka mengadu sinkang
pengerahan tenaga sakti akan membuat racun itu menjalar hebat dan akan membunuh Sin-jiu Kiam-ong!
Dada mereka terkena tusukan ujung pedang Siang-bhok-kiam, namun karena tubuh mereka kebal dan
luka itu tidak terlalu dalam, juga tidak mengandung racun, mereka tidak khawatir untuk mengerahkan
seluruh sinkang di tubuh mereka.
"Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah untuk mampus!" bentak Pak-san Kwi-ong, yang sudah menekuk kedua
lututnya, berdiri setengah jongkok,kemudian setelah dia melibatkan senjata rantai di pinggangnya raksasa
hitam ini mendorongkan kedua lengan sambil mengerahkan tenaga sinkang. Itulah pukulan jarak jauh
yang mengandalkan Iweekang yang sudah sempurna, dikendalikan oleh sinkang(hawa sakti) untuk
memukul lawan dari jarak jauh. Pada saat yang bersamaan, Ang-bin Kwi-bo yang tadi memutar-mutar
kedua lengannya hingga terdengar suara berkerotokan, kedua lengannya menggigil kini mendorong lengan
kanan ke depan sedangkan lengan kirinya diangkat lurus ke atas dengan telapak tangan menghadap ke
atas. Pat-jiu Sian-ong sudah menancapkan hudtimnya di pinggang, kemudian kedua tangannya
bergerak-gerak mendorong ke depan. Berbeda dengan kedua kawannya yang mendorong dan
mengerahkan sinkang tanpa menggerakkan lengan, kakek kate ini terus-menerus menggerak-gerakkan
kedua lengan dengan telapak tangan menghadap ke arah Sin-jiu Kiam-ong dan melakukan
gerakan-gerakan memukul dengan telapak tangan. Terdengar bunyi "wut-wut-wut" dari kedua telapak
tangan itu.
Sin-jiu Kiam-ong masih tersenyum. Ia maklum bahwa lawan-lawannya hendak mengadu sinkang. Dia
berjuluk Sin-jiu(Tangan Sakti) di samping Kiam-ong(Raja Pedang). Ia maklum bahwa lukanya yang
mengandung racun itu merugikannya dalam mengadu sinkang , namun karena tiga orang lawannya sudah
siap menantang, dia sebagai seorang yang berjuluk Sin-jiu, bagaimana mungkin akan menolak?
Penolakan mengadu singkang berarti memperlihatkan rasa jerih, maka sambil tersenyum dia pun lalu
duduk bersila dan begitu tiga orang lawan itu menggerakkan lengan, dia pun lalu mendorong ke depan
dengan kedua lengannya, menghadapi lawan. Segera terasa olehnya tenaga gabungan lawan
menyerangnya. Ia mengerahkan sinkang, disalurkan ke dalam kedua lengannya, berkumpul di kedua
telapak tangannya dan ketika dia mendorong, serangkum tenaga dahsyat menerjang ke depan dan
menahan angin pukulan tiga orang lawannya.
Kalau sembilan orang tokoh kang-ouw itu memandang dengan hati penuh ketegangan, Keng Hong
memandang dengan melongo dan hati penuh keheranan. Apakah yang mereka lakukan, pikirnya.
Sungguh lucu. Mengapa mereka itu diam tak bergerak seperti patung dengan lengan diluruskan ke arah
lawan, hanya kakek kate itu saja yang menggerak-gerakkan kedua lengan, mendorong-dorong angin
kosong? Apakah mereka itu sedang bermain-main? Ataukah mereka sudi sedemikian tuanya sehingga
menjadi pikun atau kehabisan tenaga setelah pertandingan yang serba cepat tadi?
Tiba-tiba terdengar suara "trik-trik-trik!" terus-menerus, makin lama makin nyaring. Kiranya suara itu
keluar dari kuku-kuku jari tangan Ang-bin Kwi-bo yang sengaja sambil mendorong menyentil-nyentil
antara kuku-kukunya sendiri. Sehingga mengeluarkan bunyi seperti itu. Beberapa detik kemudian suara
itu disusul oleh suara menggereng keras yang keluar dari kerongkongan mulut Pat-san Kwi-ong yang
terbuka. Suara gerengan yang rendah, namun tiada hentinya, sambung-menyambung dan mengandung
.
getaran hebat. Segera dua suara ini disusul pula dengan suara duk-creng-duk-creng seperti tambur dan
gembreng. Kiranya suara ini keluar dari sebuah tambur kecil yang pinggirannya dipasangi kelenengan.
Dengan tangan kirinya Pat-jiu Sian-ong memegang tambur ini, sedangkan tangan kanan masih
didorong-dorongkan ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Tambur itu oleh kakek pendek ini dipukul-pukulkan
kepada paha dan lututnya, sekali pukul pada kulit tambur kemudian pada lingkaran sehingga
menimbulkan suara duk-creng-duk-creng nyaring sekali.
Sembilan orang itu tiba-tiba duduk bersila ddan memejamkan mata. Keng-Hong menjadi heran sekali
dan lebih kagetlah dia ketika tiba-tiba kedua kakinya gemetar dan dia pun jatuh terduduk. Jantungnya
berdebar aneh dan telinganya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong menjadi
pucat wajahnya, tubuhnya menggigil, dahinya penuh keringat dan tubuh kakek yang bersila itu pun mulai
gemetar, kedua lengan yang dilonjorkan ke depan bergoyang-goyang! Dia tidak mengerti dan sama
sekali tidak tahu bahwa suara-suara yang dikeluarkan oleh tiga orang manusia iblis itu adalah suara
mujijat yang mengandung tenaga getaran hebat yang dapat melumpuhkan, bahkan membinasakan lawan!
Untung bahwa Keng Hong belum pernah mempelajari Iweekang karena kalau dia sudah mempelajarinya
dan mengerti akan pengaruh suara ini, tentu dia sudah roboh binasa. Memang suara-suara mujijat
tidaklah begitu hebat pengaruhnya terhadap mereka yang tidak mengerti sama sekali, hanya menimbulkan
suara tidak enak yang menusuk-nusuk telinga, dan getaran itu hanya membuat kaki menggigil dan lemas.
"Dasar manusia-manusia iblis!" Keng Hong menjadi marah karena rasa tidak enak pada telinganya
hampir tak tertahankan olehnya. Ia teringat akan sulingnya maka dengna gemas dan marah dia lalu
meniup sulingnya. Suara-suara itu begitu bising dan tak enak didengar, pikirnya. Lebih baik aku
memperdengarkan suara suling yang merdu untuk mengusir suara tidak enak! Pendapat secara ngawur ini
segera dilaksanakan dan tak lama kemudian, suara-suara bising tidak enak itu bercampur dengan suara
tiupan sulingnya.
Bocah ini memang seorang ahli meniup suling yang berbakat. Karena tidak ada yang membimbing, maka
dia merupakan peniup murid alam! Ia dapat menirukan suara-suara yang didengarnya. Kalau hatinya
senagn, tiupannya mengandung suara yagn gembira ria dan tentu terasa oleh siapapun juga yang
mendengarnya. Kalau dia berduka atau marah, suara sulingnya tentu membawa getaran perasaannyaini
tanpa disadarinya. Kini dia sedang marah, maka suara sulingnya juga penuh kemarahan, bergelora dan
membubung tinggi, melengking-lengking seperti bocah rewel menangis. Akan tetapi karena terpengaruh
oleh suara lain, kepandaiannya yang timbul dari bakatnya membuat dia meniru suara-suara itu sehingga
terdengarlah suara suling yang amat aneh. Kadang-kadang meniru suara berkeritik kuku-kuku Ang-bin
Kui-bo kadang-kadang seperti menggerengnya tenggorokan Pak-san Kwi-ong dan sering kali mengarah
suara tambur di tangan Pat-jiu Sian-ong! Hiruk-pikuk tidak karuan, namun justru kekacauan inilah yang
mengacau pula daya tekun dan daya serang rangkaian tiga suara yang dikeluarkan oleh Bu-tek Sam-kwi!
Setelah meniup sulingnya untuk menyatakan kemarahannya terhadap suara-suara bising yang tak sedap
didengar itu Keng Hong merasa kekuatannya pulih kembali. Ia mengangkat muka memandang dan
melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu kini tidak lagi menggigil sungguhpun wajahnya
masih pucat. Sepasang mata kakek itu ditujukan kepadanya, hanya sekilas pandang, namun Keng Hong
dapat merasa betapa pandang mata kepadanya itu penuh kagum, rasa syukur dan gembira! Hal ini
menimbulkan kegembiraan di dalam hatinya. Keng Hong bukan seorang anak bodoh. Tidak, sebaliknya
malah. Dia amat cerdik dan biarpun dia tidak mengerti mengapa demikian, namun dia dapat menduga
bahwa suara sulingnya telah membantu kakek ini! Kegembiraannya membuat dia bertekad untuk
mengacau terus suara-suara bising yang keluar dari tiga orang manusia iblis itu. Setelah meniup sulingnya
makin keras dan makin kacau dia menghentikan tiupan sulingnya untuk diganti dengan suara nyanyiannya
yang nyaring. Bocah ini memang memiliki suara yang nyaring dan cukup merdu. Akan tetapi karena dia
ingin mangejek orang-orang yang mengganggu kakek tua itu, dia teringat akan bunyi ujar-ujar dalam
kitab-kitab kuno yang dibacanya, yang dia lupa lagi entah dari kitab mana, kemudian dia menyanyikan
.
ujar-ujar itu dengan lagu yang dikarangnya sendiri sejadi-jadinya:
"Mengerti akan orang lain adalah bijaksana pikirannya, mengerti akan diri pribadi adalah
waspada batinnya!
Menaklukkan orang lain adalah perkasa tubuhnya, Menaklukkan diri pribadi adalah kokoh
kuat batinnya!
Merasa puas dengan keadaannya berarti kaya raya, memaksakan kehendak kepada orang
lain berarti nekat!
Tahan tanpa derita berarti terus berlangsung, mati tapi tidak musnah berarti panjang usia!"
Karena banyak membaca kitab-kitab kuno tanpa mengerti betul maknanya, bocah ini lupa bahwa yang
dinyanyikannya adalah ujar-ujar dalam kitab Totik-khing yang menjadi pegangan penganut Agama To
dan tidak tahu bahwa ujar-ujar itu mengandung makna yang amat dalam. Akan tetapi sebagian daripada
kata-kata itu kena betul dan mengejek mereka semua yang berada di situ, tidak hanya tiga orang manusia
iblis, bahkan juga sembilan orang sakti yang kini sudah tidak lagi terpengaruh suara-suara tiga iblis yang
dikacau oleh Keng Hong dan yang mendengarkan dengan mata terbelalak.
Mereka ini, sembilan orang gagah tokoh kang-ouw, mengerti bahwa Sin-jiu Kiam-ong tertolong
nyawanya. Tadinya, setelah tiga orang iblis itu menambah penyerangan mereka dengan suara-suara
menekan, kakek itu sudah terdesak hebat sekali dan sewaktu-waktu pasti akan roboh binasa. Kini,
karena suara itu diganggu, Sin-jiu Kiam-ong kembali dapat menekan mereka tiga orang lawannya.
Tiga orang iblis itu marah sekali. Mereka menghentikan suara mereka dan sambil berseru marah mereka
itu lalu meloncat ke depan, menubruk Sin-jiu Kiam-ong. Kakek ini dalam keadaan masih bersila, juga
mengeluarkan seruan panjang, tubuhnya mencelat ke atas menyambut terjangan ke orang lawan.
Pertemuan hebat terjadi di udara dan terdengar suara nyaring bertemunya senjata disusul jeritan
kesakitan tiga orang manusia iblis itu yang terpelanting ke kanan kiri. Kakek itu pun melayang turun lagi
dan berdiri tegak dengna pedang Siang-bhok-kiam di tangan. Tiga orang manusia iblis itu pucat
wajahnya, kulit leher mereka bertiga lecet dan terluka oleh guratan Siang-bhok-kiam. Setelah
memandang sejenak, mereka itu membalikkan tubuh dan dengan hanya beberapa kali loncatan saja
ketiganya sudah lenyap dari tempat itu. Kiranya mereka kini menjadi jerih jarena maklum bahwa mereka
bertiga tidak akan dapat menenangkan Sin-jiu Kiam-ong sungguhpun selisihnya hanya sedikit saja.
Mereka menyesal mengapa tidak mengundang Lam-hai Sin-ni (Wanita Sakti Laut Selatan) yang menjadi
orang keempat dari Bu-tek Su-kwi!
Setelah tiga orang manusia iblis itu lenyap dari tempat itu, Sin-jiu Kiam-ong menarik nafas panjang dan
tiba-tiba dia terhuyung-huyung lalu roboh! Dengan gerakan lemah kakek ini lalu bangkit dan duduk
bersila, wajahnya pucat, nafasnya terengah-engah dan tiba-tiba dari mulutnya menetes-netes darah segar!
Sembilan orang tokoh sakti yang melihat keadaan kakek ini, maklum bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah
terluka parah dan mereka melihat kesempatan yang amat baik untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam
yang masih berada di dalam genggaman Sin-jiu Kiam-ong. Agaknya mereka itu sudah dapat menerka isi
hati masing-masing, karena seperti mendapat komando, sembilan orang itu lalu bergerak maju
menghampiri Sin-jiu Kiam-ong. Terdengar kakek itu tertawa di balik batu, lalu berkata.
"Ha-ha-ha..., kalian hendak mengambil Siang-bhok-kiam? Sudah kukatakan, aku tidak akan melawan,
apalagi dalam keadaan seperti ini...uh-huh...Bu-tek Sam-kwi benar-benar tangguh...nah, ambillah siapa
yang berjodoh...! Ia menancapkan pedang kayu itu di depannya di atas tanah.
.
Sembilan orang itu tidak ada yang berani bergerak. Mereka percaya bahwa kakek itu tidak akan
melarang kalau mereka mengambil pedang, juga maklum bahwa kakek itu sudah lemah sekali. Akan
tetapi mereka tidak ada yang berani bergerak karena tahu pula bahwa jika ada yang berani mengambil
pedang, tentu akan dihalangi oleh yang lain! Hal ini yang membuat mereka menjadi ragu-ragu.
"Tahan...! Tahan....kalian orang-orang tua yang tak mengenal malu!" Tiba-tiba terdengar teriakan marah
dan Keng Hong yang sudah keluar dari tempat sembunyinya itu kini menghampiri Sin-jiu Kiam-ong dan
memeluk leher kakek itu dari belakang sambil memandang sembilan orang itu dengan pandang mata
penuh kemarahan.
Sembilan orang yang mengenal anak ini sebagai bocah yang tadi telah meniup suling mangacau Bu-tek
Sam-kwi, memandang heran. Tadi mereka seperti lupa kepada bocah yang amat berani itu karena
mereka terlalu bernafsu untuk mendapatkan pedang. Kini baru mereka teringat dan mereka
menduga-duga apakah hubungan anak ini dengan Sin-jiu Kiam-ong.
"Heh, bocah lancang! Saipakah engkau dan mau apa?" bentak kiu-bwe Toanio dengan pandang mata
marah.
Namun Keng Hong tidak mempedulikan nenek itu, melainkan bertanya kepada Sin-jiu Kiam-ong,
"Kong-kong (kakek), engkau terluka? Ah, mereka ini orang-orang yang tak mengenal budi!"
Sin-jiu Kiam-ong membuka matanya dan memandang bocah itu dengan pandang mata penuh
kekaguman dan keharuan. Anehnya, ada dua butir air mata menitik turun dari kedua mata kakek itu!
Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebgai seorang petualang di dunia persilatan yang selalu hidup gembira, tak
pernah berduka, apalagi menangis! Bahkan ratusan kali menghadapi ancaman maut sekalipun tak pernah
memperlihatkan kedukaan. Akan tetapi sekarang dia menitikkan air mata! Setelah menarik nafas
panjang, Sin-jiu Kiam-ong kembali memejamkan matanya.
Keng Hong melepaskan rangkulannya pada kakek itu, meloncat di depan Sin-jiu Kiam-ong seolah-olah
hendak melindunginya, lalu berkata kepada sembilan orang itu.
"Kalian ini orang-orang gagah macam apa. Tidak mengenal budi, berhati kejam! Siapa tidak tahu bahwa
kalau tidak ada kakek ini, kalian sudah mati semua di tangan tiga iblis tadi? Kakek ini yang menolong
kalian mengusir tiga iblis dna mengorbankan diri sampai terluka, dan kini kalian tanpa malu-malu hendak
membunuhnya! Sungguh pengecut, curang dan kalian ini lebih jahat daripada si tiga iblis! Mereka iut
sudah terang orang-orang jahat dan menggunakan nama iblis, mereka sedikitnya lebih jujur daripada
kalian. Sebaiknya kalian, tadi kudengar menggunakan nama sebagai golongan bersih, sebagai
pendekar-pendekar perkasa namun kenyataannya kalian ini orang-orang munafik yang hanya pada
lahirnya saja bersih namun di sebelah dalam lebih busuk daripada yang busuk! Aku Cia Keng Hong
walaupun tidak ada hubungan dengan kakek ini, namun aku sebagai manusia tidak rela menyaksikan
kejahatan yang melewati batas. Kalau kalian hendak membunuh penolong kalian ini yang terluka parah,
jangan melakukan kekejaman kepalang tanggung, bunuhlah aku terlebih dahulu!"
Wajah kesembilan orang itu menjadi merah sekali. Ucapan yang keluar dari mulut anak kecil ini tajam
dan runcing melebihi pedang yang langsung menghujam ke ulu hati mereka. Akan tetapi urusan yang
mereka hadapi jauh lebih besar. Apa artinya maki-makian seorang anak kecil penggembala kerbau? Tadi
ketika memasuki hutan, mereka sudah melihat Keng Hong menyuling di atas kerbaunya. Di balik
perbuatan mereka terhadap Sin-jiu Kiam-ong yang keliahatan kejam, tersembunyi persoalan-persoalan
dendam yang besar dan kiranya tidak perlu diperdebatkan dengan seorang bocah! Tak mungkin kalau
hanya karena maki-makian bocah ini mereka harus membatalkan niat yang sudah dikandung di hati,
.
dibela dengan perjalanan jauh, bahkan yang hampir saja membuat mereka binasa di tangan Bu-tek
Sam-kwi.
“Bocah bermulut lancang, kau tahu apa? Hayo minggat dari sini!” Hek-how Tan Kai Sek piauwsu tua itu
melangkah maju hendak menyeret dan mendorong pergi Keng Hong, akan tetapi tiba-tiba dia terhuyung
mundur karena ada tenaga hebat mendorongnya. Kiranya Sin-jiu Kiam-ong kini sudah bangkit dan
berdiri di dekat Keng Hong. Wajah kakek ini masih pucat, akan tetapi sinar matanya berseri dan
mulutnya yang masih merah karena darah tersenyum.
“Tak seorangpun boleh mengganggu Cia Keng Hong! Dia ini muridku, dan dialah ahli warisku.
Perkenalkan, hei, para pendekar! Pandanglah baik-baik. Inilah dia muridku, orang yang akan mewarisi
semua milikku termasuk pedang Siang-bhok-kiam. Ha-ha-ha!”
Sembilan orang itu tercengang! Mereka bersusah payah, mengandalkan dendam mereka untuk berusaha
mendapatkan pedang pusaka dan warisan kitab-kitab dan ilmu si raja pedang, kini begitu saja si raja
pedang mengangkat murid dan hendak mewariskan Siang-bhok-kiam kepada seorang bocah
penggembala kerbau!
"Omitohud...! Kehendak Tuhan terjadi penuh mujisat!" Thian Ti Hwesio mengeluh panjang.
"Sin-jiu Kiam-ong! Engkau melanggar janji...!" bentak Sin-to Gi-hiap. Sin-jiu Kiam-ong tertawa,
"Siapa melanggar janji? Bukankah kukatakan bahwa aku tidak akan melawan kalau kalian hendak
membunuhku di sin? Bukankah akupun tidak pernah melawan kalian tadi dan tidak menghalangi kalau
kalian hendak merampas pedang Siang-bhok-kiam? Bukankah kukatakan sebulan yang lalu bahwa yang
berhak memiliki Siang-bhok-kiam adalah orang yang berjodoh dengannya? Nah, bocah inilah yang
berjodoh dengan aku dan dengan pedang ini. Dan ketahuilah, setelah aku mengangkat murid, tentu saja
aku tidak mau mati sekarang. Aku ingin hidup lebih lama lagi untuk mendidiknya, sesuai dengan tugas
kewajiban seorang guru! Pergilah kalian, pergilah....!”
Sembilan orang itu ragu-ragu dan mereka kecewa serta menyesal sekali. Biarpun Sin-jiu Kiam-ong telah
terluka, namun ilmu kepandaiannya yang hebat amat sukar dilawan. Selain itu, mereka sendiripun telah
terluka dan kehilangan senjata. Mereka ini adalah orang-orang cerdik. Mereka tahu bahwa Sin-jiu
Kiam-ong sudah amat tua, apalagi menderita luka hebat. Kiranya takkan lama lagi usianya. Dan bocah itu
jelas belum mengenal ilmu silat sama sekali. Digembleng bagaimana hebatpun, hanya dalam beberapa
tahun apa artinya? Akhirnya mereka tentu akan dapat merampas pedang dan kitab-kitab itu, bukan dari
tangan Sin-jiu Kiam-ong, melainkan dari tangan ahli warisnya ini!
Pada saat itu, bersilir angin halus dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang tosu yang berwajah gagah
penuh wibawa. Dia ini bukan lain adalah Kiang Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang berilmu tinggi itu. Ketika
semua orang yang memandang, ternyata bukan hanya Kiang Tojin yang datang, melainkan banyak sekali
tosu-tosu Kun-lun-pai, sedikitnya ada tiga puluh orang, semuanya memegang pedang seperti Kiang
Tojin, dan gerakan mereka begitu rapi, tangkas dan ringan sehingga tahu-tahu tempat itu telah dikepung!
Kiang Tojin sejenak memandang kepada Keng Hong dengan heran, kemudian dia menjura penuh
hormat kepada Sian-jiu Kiam-ong dan berkata, "Mohon maaf kepada Sie-taihiap (pendekar besar she
Sie) kalau pinto dan saudara-saudara mengganggu. Akan tetapi, kehadiran banyak sahabat Kang-ouw di
Kun-lun-pai masih dapat kami biarkan mengingat bahwa mereka itu adalah tamu-tamu Taihiap, hanya
kehadiran tiga Bu-tek Sam-kwi benar-benar tak dapat kami biarkan saja. Tokoh-tokoh datuk hitam
macam mereka tidak berhak mengotorkan bumi Kun-lun! Harap Taihiap maklum dan maafkan pinto
yang hanya memenuhi perintah suhu."
.
Sin-jiu Kiam-ong tertawa, dan menarik napas panjang. "Thian Seng Cinjin bersikap amat sabar, sungguh
patut dipuji." Kemudian dia menoleh ke arah sembilan orang tokoh yang mengganggunya dan berkata,
"Kalau kalian sembilan orang masih tidak hendak lekas pergi, aku tidak akan menganggap kalian sebagai
tamu lagi dan terserah kepada pihak Kun-lun-pai akan menganggap kalian bagaimana."
Kiang Tojin memutar tubuhnya memandang sembilan orang itu, keningnya dikerutkan dan dia berkata,
suaranya penuh wibawa dan keren. "Di antara cu-wi (tuan sekalian) terdapat tokoh-tokoh partai
persilatan besar, tentu cukup tahu akan kedaulatan tuan rumah. Cu-wi datang tanpa memberi tahu
Kun-lun-pai, hal ini berarti pelanggaran kedaulatan dan tidak memandang mata kepada kami. Sungguh
kami tidak dapat dikatakan keterlaluan kalau terpaksa mengusir cu-wi.”
Sikap Kiang Tojin amat keren dan sembilan orang itu cukup mengenal siapa tosu ini, maklum bahwa
selain tingkat ilmu kepandaiannya amat tinggi, juga saudara-saudara Kiang Tojin yang berjumlah tiga
puluh orang dan mengurung tempat itu merupakan kekuatan yang tak mungkin dilawan mereka yang
sudah terluka. Belum lagi diperhitungkan kalau Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai sendiri yang datang!
maka dengan menjura dan menggumamkan kata-kata maaf, lalu membalikkan tubuh dan pergi
meninggalkan tempat itu. Karena mereka adalah orang-orang pandai, gerakan-gerakan mereka amat
cepat sehingga dalam sekejap mata saja tempat itu menjadi sunyi dan bayangan mereka tak tampak lagi.
Sin-jiu Kiam-ong lalu berkata kepada Kiang Tojin yang sudah menyimpan kembali pedangnya ditiru
oleh saudara-saudaranya yang tetap berdiri menjauh karena mereka itu kesemuanya merupakan
tokoh-tokoh yang menghormati si raja pedang yang pernah melepas budi kepada Kun-lun-pai. Hal itu
terjadi belasan tahun yang lalu ketika Kun-lun-pai diserbu oleh kaum sesat yang dipimpin oleh seorang
datuk kaum sesat yang berilmu tinggi, sehingga Kun-lun-pai mengalami bencana hebat dan terancam
kedudukannya.
Semua tokoh Kun-lun-pai, termasuk Thian Seng Cinjin, terdesak dan hanya setelah Sin-jiu Kiam-ong
yang secara kebetulan mendengar akan serbuan ini lalu datang membantu, maka pihak musuh dapat
dihalau dan si datuk sesat tewas di tangan Sin-jiu Kiam-ong dan Thian Seng Cinjin. Sin-jiu Kiam-ong lalu
dianggap sebagai penolong dan diperbolehkan menggunakan Kiam-kok-san, tempat yang tadinya
dianggap keramat oleh golongan Kun-lun-pai karena dahulu menjadi tempat bertapa sucouw mereka.
"Kiang-toyu, harap sampaikan kepada Thian seng Cinjin guru kalian bahwa aku minta perkenannya
untuk memperpanjang penggunaan Kiam-kok-san sampai beberapa tahun lagi, atau lebih jelas sampai
matiku karena aku ingin menggunakan sisa usiaku untuk menggembleng muridku ini." Sin-jiu Kiam-ong
meraba kepala Keng Hong yang sudah berlutut ketika melihat Kiang Tojin dan saudara-saudaranya
muncul tadi.
Kiang Tojin dan saudara-saudaranya tercengang dan terdengar seruan-seruan kaget dan heran.
"Siancai....sungguh luar biasa sekali nasib anak ini.....! Akan tetapi, Taihiap, menyesal bahwa hal itu tidak
mungkin dapat dilakukan karena..... karena anak ini adalah orang Kun-lun-pai....!”
Sin-jiu Kiam-ong mengerutkan alisnya dan pandang matanya berubah kecewa. Selama hidupnya dia
selalu membawa kehendak sendiri dan tidak mempedulikan peraturan orang lain, akan tetapi terhadap
Kun-lun-pai dia merasa sungkan dan dia tahu benar bahwa kalau memang anak ini seorang murid
Kun-lun-pai, amat tidak baik kalau dia memaksa dan mengambilnya sebagai murid, betapapun sukanya
dia terhadap anak ini. Ia lalu menunduk dan bertanya kepada Keng Hong.
"Hong-ji (anak Hong), benarkah engkau seorang anak murid Kun-lun-pai?” Keng Hong tadinya
.
terheran, bingung dan juga diam-diam merasa tegang ketika secara tiba-tiba dia diangkat murid Sin-jiu
Kiam-ong, dijadikan ahli waris kakek yang luar biasa itu. Namun, perasaan yang aneh sekali membuat
hatinya menjadi besar dan bahagia dan timbul tekad di hatinya bahwa dia harus menjadi murid kakek ini,
harus menjadi seorang pandai untuk menghadapi manusia-manusia jahat, terutama sekali
manusia-manusia munafik yang banyak terdapat memenuhi jagat ini. Kini mendengar prcakapan antara
tosu penolongnya dan Sin-jiu Kiam-ong, dia cepat berkata.
"Bukan! aku bukan murid Kun-lun-pai! memang aku bekerja menjadi kacung di Kun-lun-pai, akan
tetapi aku sama sekali bukan anak muridnya dan sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu silat di
Kun-lun-pai!”
"Kiang Tojin! apa artinya keterangan yang bertentangan ini?" Sin-jiu Kiam-ong menoleh kepada tosu itu
dengan pandang mata penuh teguran.
"Maaf, harap Taihiap suka mendengarkan penjelasan pinto. Tadi pinto sama sekali tidak mengatakan
bahwa Keng Hong adalah anak murid Kun-lun-pai hanya mengatakan bahwa dia adalah orang
Kun-lun-pai. Hendaknya Taihiap ketahui bahwa anak ini berasal dari sebuah dusun yang dilanda bencana
perampokan, seluruh keluarganya musnah dan secara kebetulan pinto dapat menyelamatkannya dan
membawanya ke Kun-lun-pai. Semula kami hendak menjadikannya murid Kun-lun-pai, akan tetapi kami
terbentur oleh peraturan baru. Belum lama ini suhu membuat peraturan baru bahwa setiap orang anak
murid dari Kun-lun-pai haruslah seorang penganut agama To. Karena Keng Hong tidak mau menjadi
calon tosu, maka sampai kini dia berada di Kun-lun-pai selama dua tahun dan bekerja sebagai
pembantu. Namun, kami telah menganggapnya sebagai orang sendiri.”
"Hemmm, begitukah? kalau begitu, dia bukan anak murid Kun-lun-pai, hanya kacung! tiada halangan
bagiku untuk mengambilnya sebagai murid. Eh, Kiang-toyu, apakah engkau berkeberatan kalau dia
kuambil murid?”
"Mana pinto berani, Taihiap? Hanya saja, hal ini tergantung kepada si bocah sendiri. Keng Hong, pinto
telah menyelamatkanmu daripada bencana. Apakah sekarang kau begitu tak ingat budi dan hendak
meninggalkan pinto? Apakah benar-benar engkau suka menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong?”
Keng Hong bangkit berdiri, setelah dia menyaksikan sepak terjang tiga orang manusia iblis dan sembilan
orang yang mengaku sebagai tokoh-tokoh kang-ouw, hatinya menjadi dingin terhadap Kun-lun-pai yang
tadinya dia junjung tinggi sebagai pusat orang-orang sakti yang budiman. Ia memandang tajam kepada
Kiang Tojin lalu berkata.
"Totiang, sampai matipun saya tidak akan menyangkal bahwa Totiang telah menolong nyawa saya dan
sampai matipun saya akan selalu ingat dan akan berusaha membalas budi Totiang itu. Akan tetapi,
apakah budi yang totiang lepas itu mengandung pamrih agar selama hidup saya harus ikut dan menurut
segala kehendak Totiang? Apakah totiang hendak merampas kebebasan saya? Totiang, pernah saya
membaca ujar-ujar dalam kitab kuno bahwa budi disertai pamrih bukanlah pelepasan budi namanya,
melainkan pemberian hutang yang harus di bayar kembali beserta bunga-bunganya! Apakah Totiang
menghutangkan budi kepada saya!?”
"Ha-ha-ha-ha-ha....!" Sin-jiu Kiam-ong tertawa terpingkal-pingkal dan dia mengelus-elus kepala anak
itu. "Bocah, engkau penuh dengan semangat menggelora! Eh, Kiang-toyu, maafkan saya, ya. Agaknya
bocah ini sudah ketularan watakku! Sekarang engkau hendak bilang apa lagi, Toyu?”
Wajah Kiang Tojin menjadi merah, ia menjadi gemas kepada anak itu karena sesungguhnya tidak ada
sedikit pun pamrih di hatinya minta dibalas budi oleh anak itu. Dia tadi berusaha memisahkan Keng Hong
.
dari Sin-jiu Kiam-ong karena sesungguhnya di dalam hatinya dia tidak rela dan tidak suka melihat Keng
Hong menjadi murid kakek luar biasa ini. Perasaan ini semata-mata tinmbul karena rasa sayang kepada
Keng Hong. Dia mengenal orang macam apa adanya Sin-jiu Kiam-ong, seorang yang semenjak mudanya
hanya mengandalkan kepandaian malang melintang, seorang petualang yang tidak segan-segan
melakukan segala macam kemaksiatan, pengejar kesenangan pemuas nafsu. Ia ingin melihat Keng Hong
menjadi seorang yang baik dan dia mengerti bahwa kalau anak ini menjadi murid si raja pedang, tentu
akan mewarisi pula wataknya yang liar dan jiwa petualangnya. Ia menghela nafas dan berkata,
"Siancai....hanya Tuhan yang mengetahui isi hati manusia! Taihiap, tidak sekali-kali saya ingin
mempengaruhi Keng Hong dan terserahlah kalau memang dia sendiri suka menjadi murid Taihiap. Hanya
ada satu hal yang hendaknya diketahui baik oleh Taihiap dan terutama oleh Keng Hong sendiri. Karena
dia bukan anak murid Kun-lun-pai, dan tidak ada sangkut pautnya dengan Kun-lun-pai, maka di kelak
kemudian hari segala sepak terjangnya tidak ada hubungannya dengan Kun-lun-pai. Taihiap
dipersilahkan menempati Kiam-kok-san karena Taihiap merupakan seorang penolong Kun-lun-pai, akan
tetapi kelak, kalau Taihiap tidak lagi berada di Kiam-kok-san, tentu saja kami akan melarang Keng
Hong berada di wilayah kami. Nah, selamat berpisah, Taihiap, semoga Thian selalu melindungi dan
melimpahkan berkahNya.” Tosu itu memberi isyarat kepada saudara-saudaranya dan setelah menjura ke
arah Sin-jiu Kiam-ong lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke puncak dan memberi laporan
kepada Thian seng Cinjin.
Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan memegang tangan Keng Hong diajak mendaki puncak Kiam-kok-san
sambil berkata, "Jangan menganggap semua omongan tosu itu, Hong-ji. Mereka itu adalah orang-orang
yang terikat, terbelenggu kaki tangannya oleh agamanya, kasihan....! Segala peraturan yang dibuat
manusia merupakan belenggu-belenggu yang akan mengikat kaki tangannya sendiri. Eh, namamu
memakai huruf Hong, sama dengan namaku. Memang kita berjodoh....auggghhh....!" Kakek itu
memegangi dadanya dan kakinya terhuyung.
"Eh...kenapa? Suhu..... Suhu terluka...?"
Wajah yang menyeringai menahan nyeri itu berseri kembali. "Ah, tidak seberapa hebat. Tahukah engkau
bahwa ketika engkau menyebut Kong-kong kepadaku, aku merasa seolah-olah engkau ini cucuku
sendiri? Ha-ha-ha! Alangkah lucunya, kawin pun belum pernah, bagaimana bisa punya cucu? Kau lebih
tepat menjadi muridku. Hemmm...., akan kuberikan seluruh milikku kepadamu, muridku.
Mudah-mudahan saja tidak terlambat. Mari kita naik ke Kiam-kok-san dan engkau harus rajin belajar
karena waktunya tidak banyak. Aku...setan laknat tiga iblis itu.... aku terluka, kalau hanya racun saja
sudah di punahkan Siang-bhok-kiam, akan tetapi...ah, pukulan mereka merusak isi dadaku yang sudah
kurang kuat...! Mudah-mudahan tidak terlambat...."
Keng Hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan suhunya, namun dengan patuh dia lalu mengikuti
suhunya mendaki puncak. Ketika mereka tiba di bawah batu pedang, Sin-jiu Kiam-ong mengempitnya
dan merayap ke atas. Keng Hong merasa ngeri, akan tetapi dia menguatkan hatinya dan sedikit pun tidak
menyatakan rasa ngerinya! Ketika mereka memasuki halimun tebal yang menutup bagian puncak batu
pedang, Keng Hong hampir menjadi kaku oleh rasa dingin. Seluruh tubuhnya menggigil, sampai gigi atas
beradu dengan gigi bawah namun dia tetap bertahan, tidak mau mengeluh sama sekali. Ketika suhunya
melepaskannya dan Keng Hong memandang sekelilingnya, dia melihat bahwa kini dia berada di puncak
batu pedang, dan bahwa puncaknya tidak meruncing seperti tampaknya dari bawah dan halimun tebal itu
pun tidak mencapai puncak, melainkan mengambang di bawah. Puncak itu sendiri tersinar cahaya
matahari yang amat indah dan puncak itu lebar berbentuk segi empat seolah-olah tadinya puncak itu
meruncing kemudian patah. Lebarnya lebih dari lima puluh meter dan di situ terdapat sebuah pondok
kecil, dan tanah atau batu di situ ditumbuhi rumput dan lumut hijau muda.
.
Sekeliling puncak itu hanya tampak halimun belaka, seolah-olah tempat itu bukan bagian dunia lagi,
melainkan di dunia lain, di tengah-tengah langit antara awan-awan putih! Akan tetapi Keng Hong tidak
kuat lagi karena tiba-tiba perutnya menjadi kejang-kejang saking dinginnya dan dia roboh pingsan di
dekat kaki gurunnya!
Keng Hong sadar di dekat api unggun, ketika dia bangkit dan duduk, dia melihat gurunya bersila di
dekatnya dan guru ini menempelkan telapak tangan pada punggungnya.
"Duduklah bersila, Keng Hong, dan atur napas perlahan-lahan. Dengan bantuan api yang panas,
tekankan dalam hati dan pikiranmu bahwa hawa sama sekali tidak dingin, bahkan agak panas. Jangan
ragu-ragu, kubantu engkau.”
Betapa mungkin, bantah hati anak itu. Hawa amat dinginnya, bahkan panasnya api tidak terasa sama
sekali olehnya. Kalau tidak ada telapak tangan gurunya menempel di punggungnya, telapak tangannya
yang seolah-olah memasukkan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya, tentu dia takkan kuat
menahan. Akan tetapi dia mematuhi perintah suhunya, duduk bersila dan bernapas dalam-dalam,
panjang-panjang, sambil menekankan keyakinan bahwa hawa sesungguhnya tidaklah sedingin yang
dianggapnya semula. Memang tadinya agak sukar, akan tetapi makin hening dia memusatkan perhatian,
makin terasa bahwa memang dia keliru menduga. Memang hawa tidaklah amat dingin. Makin lama makin
panas sampai mulailah keluar peluh di lehernya!
"Tubuh kita hanya merupakan alat, muridku. Kalau kuat batin kita, kita akan dapat menguasai alat yang
akan melakukan segala perintah otak dan kemauan kita. Engkau harus berlatih seperti ini, memperkuat
kemauan sehingga seluruh anggota tubuhmu tunduk dan taat kepadamu. Kalau hatimu bilang panas, kalau
menyatakan dingin, tubuhmu harus merasa dingin pula.” Demikian kakek itu memberi pelajaran pertama.
Guru dan murid itu amat tekunnya. Sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tekun, si guru
yang mengajar ataukah si murid yang belajar. Keng Hong belajar ilmu dan berlatih tanpa mengenal
waktu. Tidak ada perbedaan antara siang atau malam baginya, baik puncak batu pedang itu sedang
terang ataukah sedang gelap. Baginya kini tidak ada bedanya karena dia dapat melihat di dalam gelap
saking hebatnya gemblengan yang diberikan gurunya. Ia mengaso kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi,
hanya tidur kalau matanya sudah tidak kuat menahan kantuk, hanya makan kalau perutnya sudah tidak
dapat menahan lapar dan minum kalau kerongkongannya sudah tidak dapat menahan haus. Dalam
beberapa bulan saja dia sudah dapat turun dari batu pedang untuk mencari bahan makanan menggantikan
pekerjaan gurunya.
Sin-jiu Kiam-ong menggembleng muridnya dengan cara yang luar biasa, segala pengertian dasar ilmu
silat dia berikan dengan cara kilat. Latihan lweekang dan ginkang dia berikan dan tekankan agar dilatih
terus-menerus oleh muridnya. Latihan samadhi dan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan sinkang
(hawa sakti) di dalam tubuh, sambil sedikit demi sedikit "memindahkan" sinkangnya sendiri melalui
telapak tangan yang dia tempelkan di punggung muridnya.
Luar biasa sekali kemajuan yang diperoleh Keng Hong. Cepat dan memang anak ini amat cerdik, setiap
pelajaran yang diberikan selalu menempel di dalam ingatannya. Akan tetapi sebaliknya, kalau Keng Hong
memperoleh kemajuan yang hebat dan cepat, adalah Sin-jiu Kiam-ong makin lama makin lemah dan
pucat. Makin sering kakek ini terbatuk-batuk, kadang-kadang batuknya mengeluarkan darah. Kakek ini
menderita luka di sebelah dalam tubuhnya akibat pertandingan melawan Bu-tek Sam-kwi dahulu dan kini
karena terlampau rajin dan memaksa tenaga, dia menjadi berpenyakitan dan lemah. Namun hal ini tidak
mengurangi semangatnya dan terus melatih muridnya secara teliti dan tekun karena dia merasa yakin
bahwa hal ini merupakan kewajiban terakhir dalam hidupnya yang tidak berapa lama lagi itu.
.
Sang waktu lewat dengan amat cepatnya. Memang tidak keliru kalau dikatakan oleh penyair kuno
bahwa kecepatan waktu melebihi kilat, namun lambatnya mengalahkan kelambatan seekor keong.
Setahun terasa seperti sehari kalau diperhatikan, sebaliknya kalau diperhatikan dan ditunggu, sehari
terasa setahun! Demikian cepatnya sang waktu berputar sehingga tak tampak dan tak terasa lagi,
seolah-olah berhenti, padahal segala sesuatu terseret dan hanyut dalam perputarannya, dilahap dan
ditelan habis, untuk kemudian dilahirkan dan dilenyapkan lagi.
Tanpa terasa, apalagi bagi yang mengalaminya sendiri, telah lima tahun lamanya Keng hong hidup berdua
dengan gurunya di puncak batu pedang. Dari seorang bocah berusia dua belas tahun, kini berusia tujuh
belas tahun! Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dengan kulit yang segar dan putih kemerahan
membayangkan kesehatan sempurna dan kekuatan muzijat tersembunyi di dalam tubuhnya. Pakaiannya
sederhana, hanya kain polos berwarna kuning yang kasar, dibuat pakaian secara kasar pula. Warna
kuning adalah warna kesukaannya.
Akan tetapi, selama lima tahun itu, kalau muridnya menjadi makin sehat dan kuat, adalah si guru makin
lemah dan tua. Kalau orang yang lima tahun lalu bertemu dengan Sin-jiu Kiam-ong kini melihatnya tentu
akan menjadi kaget. Kakek ini sudah kelihatan tua sekali, tubuhnya kurus kering dan hanya sepasang
matanya saja yang kadang-kadang tampak berseri penuh semangat, itupun hanya kalau dia sedang
melatih muridnya.
Pada hari itu, sinar matahari telah menembus awan tipis menerangi permukaan puncak batu pedang.
Seperti biasa, Keng Hong bersila dan berlatih, memusatkan panca indera menerima sinar matahari pagi
yang mengandung daya kekuatan muzijat untuk meningkatkan tenaga sinkang di tubuhnya. Seperti biasa
pula, gurunya duduk bersila tak jauh dari tempat dia duduk.
"Keng Hong.....!"
Suara gurunya merupakan satu-satunya suara yang akan menyadarkan Keng Hong setiap saat, karena
selama lima tahun ini hanya suara gurunya inilah yang menjadi pusat perhatiannya. Ia cepat sadar dari
latihannya dan membuka mata, memandang gurunya. Hati pemuda remaja ini berdebar. Wajah gurunya
tampak berbeda dari biasanya, sungguhpun wajah itu masih membayangkan seri dan gembira, namun ada
sesuatu yang menonjol, sesuatu pada wajah pucat dan kurus itu yang membuat jantungnya berdebar,
wajah gurunya hari ini seperti matahari tertutup awan tebal, suram-muram kehilangan cahayanya.
"Suhu memanggil teecu? Ada perintah apakah, Suhu?"
Sin-jiu Kiam-ong tersenyum dan mengangkat lengannya yang kiri, gerakannya lemah ketika dia
menggapai, "Mendekatlah, Keng Hong dan bersilalah di depanku sini, aku ingin bicara denganmu.”
Keng Hong menjadi makin heran. Sikap gurunya inipun tidak seperti biasanya. Tentu ada sesuatu yang
amat penting. Ia cepat bangkit dan menghampiri suhunya, lalu duduk bersila di depan suhunya. Karena
baru sekali ini selama lima tahun dia berdekatan dengan gurunya dalam keadaan tidak sedang berlatih,
maka dia mendapat kesempatan untuk memandang penuh perhatian dan kini ternyatalah olehnya betapa
suhunya amat kurus, tinggal kulit membungkus tulang dan bahwa hanya oleh daya tahan yang luar biasa
saja suhunya dapat bertahan selama ini. Ia kini sudah mengerti bahwa suhunya menderita luka-luka parah
di sebelah dalam tubuh yang akan merenggut nyawa setiap orang dalam waktu beberapa bulan saja.
Namun suhunya dapat bertahan sampai lima tahun!
"Keng Hong, tahukah engkau sudah berapa lama kau berada di tempat ini?"
"Teecu tidak terlalu memperhatikan, akan tetapi melihat banyaknya perubahan musim, tentu kurang lebih
.
lima tahun.”
"Benar, memang sudah lima tahun, muridku. Dan sudah banyak kau belajar dariku. Sayang waktunya
amat tergesa-gesa sehingga terpaksa aku hanya memperbanyak latihan ginkang dan Iweekang
kepadamu. Mengenai gerak cepatmu dan tenaga dalam, kurasa sudah cukup sebagai landasan dan aku
tidak khawatir kau akan mudah terkalahkan orang lain. Akan tetapi ilmu silatmu..... ah, tidak ada waktu
bagi kita sehingga hanya dasar-dasarnya saja kaukuasai. Padahal ilmu silat di dunia ini amatlah
banyaknya Keng Hong. Dan selain dasar-dasar ilmu silat tinggi, engkau baru menguasai ilmu silat dengan
tangan kosong yang sederhana dan juga ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut belum kau kuasai seluruhnya.
Hal inilah yang memberatkan hatiku, karena kalau engkau bertemu dengan orang-orang sakti seperti
sembilan orang tokoh yang pada lima tahun yang lalu menyerbu ke sini, apalagi bertemu dengan Bu-tek
su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), kepandaianmu masih belum dapat diandalkan.”
Keng Hong mengerutkan alisnya yang hitam panjang dan tebal. "Akan tetapi, Suhu, apa hubungannya
kesaktian mereka dengan teecu? Suhu sudah tahu pendirian teecu, yaitu belajar ilmu kepada suhu untuk
memperkuat diri lahir bathin, ilmu dipelajari untuk menjaga diri daripada serangan dari luar, baik serangan
lahir maupun bathin. Teecu tidak ingin mencari musuh!”
"Ha-ha-ha, muridku, engkau masih hijau dan tidak mengenal watak manusia, juga belum mengenal
watak dan dirimu pribadi. Tidak ada makhluk seserakah manusia. Kalau engkau sudah turun ke dunia
ramai, akan kautemui semua sepak terjang manusia yang membabi buta karena dorongan nafsu mereka
sendiri. Kau tidak mencari musuh, namun engkau akan dimusuhi! Dan mau tidak mau engkau akan
terseret dan terlibat ke dalam rantai yang tak kunjung putus, rantai pergulatan dan permusuhan antara
manusia demi untuk memenangkan dan memuaskan hawa nafsu yang menguasai diri pribadi. Aku pun
dahulu menjadi seorang di antara mereka yang menjadi abdi nafsuku sendiri, Keng Hong. Aku tidak
pernah memusuhi orang, tidak pernah mengandung maksud hati melakukan kejahatan terhadap diri orang
lain. Namun, pengejaran ke arah pemuasan nafsuku membuat aku bentrok dengan lain orang, dan
membuat aku di cap sebagai seorang tokoh sesat. Baru sekarang aku menyesal, namun apa gunanya
sesal yang terlambat? Biarlah, akan kutanggung segala akibat dan hukuman. Dan aku minta kepadamu
agar engkau pun kelak akan berani mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu! Jangan menjadi
seorang manusia yang munafik, yang pura-pura alim. Kalau memang bersih, usahakan agar bersih luar
dalam. Kalau engkau tak kuasa menahan hasrat melakukan sesuatu, lakukanlah dengan dasar tidak
merugikan orang lain dan berani mempertanggungjawabkan segala akibat kelakuanmu itu. Hal ini berarti
melakukan sesuatu dengan mata dan hati terbuka.”
"Teecu mengerti, suhu.”
"Nah, kuulangi lagi. Kepandaianmu masih jauh daripada cukup untuk menghadapi lawan-lawan tangguh.
Akan tetapi tiada waktu bagiku.” Ia menghela napas panjang. "Bu-tek su-kwi benar-benar hebat.
Sampai sekarang masih ada bekas tangan mereka. Rambut dan kuku Ang-bin kwi-bo amat berbahaya,
juga senjata tegkorak Pak-san Kwi-ong. Hudtim dan ilmu silat tangan kosong Pat-jiu Kiam-ong sukar
dilawan. Apalagi kalau bertemu dengan Lam-hai Sin-ni..... wah, sukar dikatakan atau diukur sampai di
mana sekarang tingkat kepandaian wanita iblis itu! Kiranya engkau baru akan dapat menandingi mereka
kalau engkau sudah mempelajari semua kitab peninggalanku yang rahasia tempat persembunyiannya
berada di dalam Siang-bhok-kiam ini, muridku.”
Keng Hong memandang ke arah pedang di tangan suhunya itu dengan penuh keheranan. mengertilah dia
sekarang mengapa tokoh-tokoh sakti itu memperebutkan pedang kayu ini, kiranya merupakan kunci
pembuka rahasia kitab-kitab pelajaran silat tinggi yang di kumpulkan oleh suhunya. Sudah sering kali dia
diperbolehkan menggunakan Siang-bhok-kiam untuk berlatih ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang
sengaja diciptakan gurunya untuk dia, akan tetapi tidak pernah dia melihat sesuatu yang aneh pada
.
pedang itu, kecuali huruf-huruf kecil yang terukir di dekat gagang pedang yang isinya merupakan
ujar-ujar kuno.
"Apakah suhu menyuruh teecu untuk mempelajari kitab-kitab itu?" tanyanya untuk menyembunyikan
ketegangan hatinya.
"Barang yang mudah didapat tidak akan dihargai, yang sukar didapat barulah berharga, Hong-ji.
Kitab-kitab dan benda-benda yang terkumpul di dalam tempat rahasiaku itu juga baru akan berharga
bagimu kalau kau mendapatkannya dengan sukar. Akan tetapi tidak hanya kesukaran menjadi syarat,
namun terutama sekali jodoh! Kalau memang engkau berjodoh dengan peninggalanku tentu kelak akan
bisa kaudapatkan. Boleh kaucari sendiri melalui Siang-bhok-kiam ini. Nah, kauterimalah
Siang-bhok-kiam, kuberikan kepadamu, muridku...."
Keng Hong terkejut dan memandang wajah gurunya dengan mata terbelalak. Ia belum menerima pedang
yang diangsurkan kepadanya, dan bertanya meragu, "Akan tetapi... Suhu pernah bilang bahwa
Siang-bhok-kiam seperti nyawa bagi suhu.... bagaimana dapat diberikan kapada teecu...?"
"Ha-ha-ha, pedang ini milik siapa dan nyawa ini milik siapa? terimalah sebagai tanda patuh kepada
guru.”
Keng Hong tak berani membantah lalu menerima pedang Siang-bhok-kiam yang telanjang itu.
"Keng Hong, biarpun pusaka warisanku harus kau cari dengan dasar jodoh dan kesukaran, namun ada
sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu selain Siang-bhok-kiam, dan mudah-mudahan pemberianku ini
akan dapat menjadi perisai bagimu menghadapi lawan-lawan tangguh. Selipkan Siang-bhok-kiam di
pinggang dan mendekatlah.”
Keng Hong menyelipkan pedang kayu di ikat pinggangnya kemudian menggeser duduknya mendekati
suhunya. Sin-jiu Kiam-ong mengangkat kedua tangannya, yang kiri dia taruh di atas ubun-ubun kepala
Keng hong, yang kanan diletakkan di punggung pemuda itu dan dia berkata lirih.
"Pusatkan segala dan buka semua, Keng Hong, pergunakan sinkangmu untuk membuka semua jalan
darah, jangan menentang sedikit pun juga, dan bantu dengan daya penyedot..."
"Suhu.... suhu hendak..." Keng Hong gelisah karena dia sudah beberapa kali menerima bantuan hawa
Sinkang yang disalurkan suhunya ke dalam tubuhnya dan yang selalu mengakibatkan kelemahan tubuh
suhunya sehingga akhirnya dia minta-minta agar suhunya tidak mengulangi hal itu. Kini suhunya hendak
melakukannya lagi!
"Apakah dalam saat terakhir ini muridku hendak membantah perintah gurunya?" suara ini halus namun
penuh wibawa dan sekaligus memusnahkan niat hati Keng Hong hendak menentang. Ia terpaksa lalu
bersila dan memusatkan perhatiannya, membuka semua jalan darah dan mengosongkan hawa di
pusarnya untuk menerima saluran hawa sinkang gurunya.
Sebentar saja sudah terasa oleh Keng hong betapa hawa yang amat kuat menerobos masuk melalui
kepala dan punggungnya, hawa yang sebentar hangat, lalu panas dan perlahan-lahan berubah dingin lalu
panas kembali. Terasa juga olehnya betapa dari dirinya sendiri timbul semacam tenaga menyedot yang
membuat aliran hawa sinkang itu makin lancar menerobos, berputaran di dalam pusarnya lalu buyar dan
menyusup-nyusup ke seluruh bagian tubuhnya. Hebat bukan main sinkang dari suhunya dan hampir dia
tidak kuat menerimanya. Kadang-kadang hawa yang memasuki tubuhnya sedemikian panasnya hampir
tak tertahankan, akan tetapi karena dia pun sudah bertahun-tahun berlatih, dia dapat melawannya dengan
.
menyesuaikan diri melalui kekuatan kemauannya sehingga yang panas itu terasa hangat-hangat saja.
Entah berapa lamanya guru dan murid ini duduk tak bergerak. Keng hong sendiri tidak tahu karena dia
telah memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam tubuh. Ia seolah-olah berada dalam keadaan mimpi
atau pingsan. Baru dia sadar ketika merasa betapa hawa yang terasa seolah-olah air mancur memasuki
tubuhnya melalui kepala dan punggung itu telah berhenti, dan betapa ubun-ubun dan punggungnya terasa
dingin. Keng Hong membuka mata, melihat suhunya masih bersila dan memejamkan mata, bibirnya
tersenyum. Akan tetapi ada sesuatu yang membuat Keng Hong cepat memegang kedua lengan suhunya
yang tadinya terletak di atas ubun-ubun dan punggungnya, terkulai lemas dan dingin. Suhunya telah
menghembuskan napas terakhir, entah sudah berapa lamanya.
"Suhu....!!" Keng hong meloncat bangun. Melihat tubuh yang bersila itu kini kehilangan sandaran dan
akan roboh, cepat dia menyangganya dan merebahkannya di atas permukaan batu. Sekali lagi dia
memeriksa detak jantung dan napas. Tak terasa lagi, suhunya telah meninggal dunia karena dia! Karena
"mengoper" sinkang sampai kehabisan segala-galanya. Tiba-tiba Keng Hong meraung, meloncat berdiri
dengan muka merah sambil memandang kedua tangannya. Ia merasa seakan-akan dialah yang
membunuh suhunya! Mengapa dia tadi begitu bodoh dan mau saja padahal ini akan membahayakan
kesehatan suhunya? Rasa duka, menyesal dan marah kepada diri sendiri membuat wajah pemuda itu
menjadi merah dan beringas. Tiba-tiba dia memekik lagi dan tubuhnya melesat ke arah permukaan
puncak batu pedang yang menonjol setinggi orang, tangannya menghantam.
"Pyarrr.....!" Batu gunung yang keras itu hancur berantakan menjadi kepingan-kepingan kecil yang
beterbangan ke sana sini! Keng Hong berdiri dan ternganga heran. Memang dia telah memiliki kekuatan
sinkang yang tidak lemah, namun biasanya kalau dia memukul batu, tentu hanya akan memecahkan
bagian ujung saja. Akan tetapi sekali ini, dari tangannya keluar kekuatan yang sedemikian hebatnya
sehingga batu menonjol setinggi orang itu hancur sama sekali sedangkan tangannya tidak merasakan nyeri
sedikit pun juga! Rasa girang, tercengang, kaget dan duka bercampur menjadi satu, membuat dia terharu
sekali. Sinkang yang disalurkan ke tubuhnya tadi oleh gurunya ternyata membuat dia memiliki tenaga yang
hebat, bahkan loncatannya juga sepuluh kali lebih cepat daripada biasa. Ginkang dan lweekang di
tubuhnya sekaligus mendapat kemajuan yang amat luar biasa. Ia melesat lagi ke dekat suhunya dan
menangis sambil memeluk mayat Sin-jiu Kiam-ong. Sesuai dengan pesan Sin-jiu Kiam-ong yang pernah
dinyatakan kepadanya, Keng Hong mengangkat jenasah gurunya itu dan meletakannya ke dalam gubuk
kecil tempat gurunya beristirahat.
Kemudian, setelah menangisi mayat itu dan bersembahyang tanpa upacara karena tiada alat, memohon
kepada Thian agar dosa-dosa gurunya diperingan hukumannya dan arwah gurunya mendapatkan tempat
yang baik, Keng Hong lalu membakar gubuk itu. Dengan hati penuh keharuan dia menjaga dan
memandang api yang berkobar membakar gubuk berikut jenasah Sin-jiu Kiam-ong. Karena dia harus
selalu menambah bahan bakar, pembakaran jenasah ini memakan waktu setengah hari lamanya.
Kemudian, sesuai pula dengan pesan suhunya, dia mengumpulkan abu jenasah dan pada malam hari itu,
disaksikan laksaan bintang yang menghias langit biru, Keng Hong menabur-naburkan abu itu dari puncak
batu pedang. Angin bertiup dan membawa abu itu bertebaran ke segenap jurusan, seolah-olah Sin-jiu
Kiam-ong benar-benar kini bersatu dengan alam di sekeliling tempat yang dicintanya itu.
Semalam suntuk Keng Hong duduk melamun, selain terkenang kepada suhunya juga memikirkan
keadaan dirinya sendiri. Tadinya dia tidak pernah memikirkan keadaan dirinya karena setiap hari seluruh
perhatiannya dia curahkan untuk belajar dan berlatih, dan selain itu ada gurunya di sampingnya yang
membuat dia tidak merasa kesepian. Akan tetapi sekarang, setelah Sin-jiu Kiam-ong tidak ada lagi,
bahkan tidak ada lagi bekas-bekasnya, dia mulai merasa dan melihat kenyataan bahwa dia sesungguhnya
hanya seorang diri saja di dunia ini! Setelah gurunya tidak ada, apa yang akan dilakukan? Kemana dia
akan pergi? Apa tujuan hidupnya selanjutnya? Kembali ke kampung halaman? Dia masih ingat akan
.
kampung halamannya, dusun Kwi-bun di mana dia terlahir dan bermain-main sampai usia sepuluh tahun.
Akan tetapi, mau apa dia kembali ke Kwi-bun? Keluarganya sudah terbasmi habis, rumah tidak ada, dan
kembalinya ke sana hanya akan membongkar kenangan-kenangan lama yang amat tidak menyenangkan
hati. Ke kuil Kun-lun-pai? Di sana banyak orang-orang yang baik hati, tosu-tosu yang selain baik dan
ramah terhadapnya, seperti pernah dia alami sampai dua tahun lamanya. Akan tetapi dia teringat akan
pesan Kiang Lojin kepada Sin-jiu Kiam-ong bahwa karena dia bukan "orang Kun-lun-pai", dia tidak
boleh tinggal di Kun-lun-pai, bahkan tidak diperkenankan tinggal di batu pedang yang berada di
Kiam-kok-san kalau suhunya tidak ada!
Habis ke mana? Tetap tinggal di situ? Tidak mungkin! Dia bukan seorang yang nekat dan tak tahu malu.
Dia maklum bahwa gurunya dan dia adalah orang-orang yang "mondok" karena Kiam-kok-san
merupakan wilayah Kun-lun-pai. Dan kalau tuan rumah tidak memperbolehkan tinggal disitu, dia pun
tidak sudi memaksa. akan tetapi kalau pergi, kemanakah?
Dalam bingungnya, Keng Hong teringat kepada suhunya. Andaikata dia menjadi suhunya, apa yang akan
dilakukannya? Suhunya seorang yang selalu hidup gembira ria, jangankan berduka, bingung dan takut
pun tak pernah di kenalnya. Teringat dia akan semua cerita suhunya tentang diri suhunya di waktu muda.
Masih terngiang di telinganya ucapan yang keluar dari bibir tua yang masih tersenyum, wajah cerah dan
mata berseri itu.
"Hidup satu kali di dunia, apa gunanya berkeluh kesah dan berhati susah? Kegembiraan dan kesenangan
dapat dinikmati, tinggal meraih saja! Semua berkah yang sudah dilimpahkan kepada Dia untuk kita,
mengapa mesti disia-siakan? Nikmatilah berkah itu!”
Keng Hong mulai berseri wajahnya. Sambil menengadah memandang bintang-bintang di langit, dia
mengenang semua cerita suhunya dan mengenang kembali semua ucapan-ucapannya.
"Aku paling suka akan keindahan. Tamasya alam yang indah, makanan lezat, bunyi-bunyian merdu
ganda yang harum, wanita-wanita cantik! Kita sudah dianugerahi mata, hidung, telinga, mulut.
Pergunakanlah sebaik-baiknya untuk menikmati berkah-berkah yang memenuhi dunia. Pergunakan
matamu untuk segala keindahan dan menikmatinya. Lihat tamasya alam yang amat indahnya, lihat
bunga-bunga yang cantik, lihat wanita-wanita yang jelita! Pergunakan telingamu untuk menikmati segala
bunyi-bunyian yang merdu, burung-burung berkicau, margasatwa berdendang, alat tetabuhan dan
nyanyian merdu. Mulut? Nikmati segala makanan yang lezat karena memang itu hak kita. Rasakanlah
segala rasa di dunia ini. Manis, asin, gurih, masam dan pahit! Hidung? Pakailah untuk menikmati hidup,
untuk mencium ganda yang harum, sedap dan wangi! Pendeknya, selama seratus tahun aku hidup cukup
penuh kenikmatan dan sekarang menghadapi mati aku tidak penasaran dan menyesal lagi, Keng Hong.”
Keng Hong tersenyum pahit mengenang ucapan suhunya ini. Biarpun pada lahirnya dia tidak berani
membantah, namun di dalam hatinya dia kurang menyetujui pendapat tentang hidup seperti yang
dikemukakan suhunya. Mungkin sudah terlampau banyak dia dipengaruhi kitab-kitab kuno yang
mengajarkan tentang filsafat hidup, tentang kesusilaan peradaban dan kebudayaan. Gurunya tidak
mempedulikan semua itu. Gurunya pengejar kesenangan duniawi. Namun, sungguhpun dia tidak
menyetujui pendapat suhunya yang dalam hal ilmu bun (sastra) tidaklah amat mendalam pengetahuannya,
dia dapat menemukan kesederhanaan dan kejujuran yang tak dibuat-buat, dan tahu pula bahwa di balik
cara hidup ugal-ugalan seperti suhunya itu tersembunyi dasar watak yang baik dan gagah perkasa.
"Entah berapa ratus orang wanita cantik yang menjadi kekasihku, Keng Hong.” Demikian suhunya
pernah bercerita. "Aku tidak pernah menolak cinta kasih seorang wanita! Wanita bagiku adalah bunga
yang membutuhkan belaian dan kasih sayang. Karena itu tak pernah aku menolaknya, tidak peduli dia itu
cantik jelita, manis, buruk, muda ataupun tua! Tentu saja terutama sekali yang cantik molek! tidak peduli
.
dia itu gadis, janda, atau sudah bersuami, sudah beranak atau bercucu! Aku menerima kedatangan
mereka dengan hati dan kedua lengan terbuka! Hanya satu yang merupakan pantangan bagiku, yaitu
bahwa aku tidak sudi mendekati wanita yang tidak suka menerima kedatanganku. Aku tidak sudi
menggagahi wanita yang tidak menghendaki aku. Aku tidak sudi cinta sepihak saja!"
Teringat akan ini, Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. Suhunya benar-benar seorang mata
keranjang! Pelahap wanita! Tentu saja dia tidak mau seperti suhunya, akan tetapi dia terharu kalau
teringat akan pendirian terakhir suhunya yang tidak sudi menggagahi wanita yang tidak cinta kepadanya.
Tentu saja merupakan hal yang amat buruk kalau suhunya berzina dengan wanita yang bersuami, akan
tetapi kalau si wanita itu sendiri suka..., sungguh dia tidak tidak tahu harus menilai bagaimana.
"Hanya satu pesanku, Keng Hong engkau boleh mencinta seribu wanita, akan tetapi jangan sekali-kali
membiarkan kakimu terikat oleh pernikahan! Sekali engkau terikat, akan lenyaplah kebebasanmu dan tak
mungkin pula hidup seperti aku dapat dipertahankan!"
Keng Hong makin bingung. Soal-soal tentang cinta dan pernikahan masih belum menarik perhatian.
Betapapun juga suhunya bukanlah golongan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita). Dan suhunya
tidak pernah dengan sengaja melakukan kejahatan kepada orang lain. Kalau dia sampai dimusuhi adalah
sebagai akibat dari sikapnya yang ugal-ugalan, melayani cinta kasih wanita-wanita isteri orang lain,
kemudian kalau menghendaki setiap benda, terus diambilnya begitu saja dengan dasar bahwa yang
kehilangan benda itu tidak akan menderita! Maka terjadilah perampokan benda-benda berharga milik
pembesar-pembesar tinggi yang kaya raya, pencurian kitab-kitab dari partai-partai persilatan besar,
permainan zinah dengan isteri-isteri cantik, dan sebagainya sehingga di dunia ini dia mempunyai banyak
sekali musuh!
Keng hong bergidik ngeri. Ia tahu bahwa banyak sekali orang sakti menginginkan pusaka warisan
suhunya yang kuncinya terdapat dalam Siang-bhok-kiam. Bagaimana kalau dia turun gunung lalu
dikejar-kejar mereka itu yang hendak merampas Siang-bhok-kiam? Gurunya selama ini dapat
mempertahankan pedangnya, akan tetapi bagaimana dengan dia? Musuh terlalu banyak, dan di antara
mereka banyak yang sakti. Betapa mungkin dia dapat menandingi mereka dan mempertahankan
Siang-bhok-kiam?
"Kiranya engkau baru akan dapat menandingi kesaktian mereka itu kalau engkau sudah mempelajari
semua kitab-kitab peninggalanku...." Demikian antara lain gurunya meninggalkan pesan sebelum menutup
mata. Dan rahasianya berada di Siang-bhok-kiam! Mengapa turun gunung sebelum dia mendapat bekal
kesaktian yang akan cukup kuat di pakai mempertahankan Siang-bhok-kiam? Lebih baik dia mencari
dan memperlajari kitab-kitab itu!
Pada keesokan harinya, Keng Hong mulai memeriksa dan meneliti pedang Siang-bhok-kiam. Pedang itu
tidak bersarung, pedang telanjang yang terbuat daripada bahan kayu yang berbau sedap harum.
Warnanya kehijauan dan kerasnya melebihi baja! Keng Hong meraba-raba pedang Siang-bhok-kiam
dan meneliti ukiran huruf-huruf kecil yang pernah dilihat dan dibacanya. Kini dia memeriksa dan
membacanya kembali:
"Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan Tukang saluran mengalirkan
airnya kemana dia suka!"
Keng Hong mengerutkan keningnya. Sepanjang pengetahuannya, Sin-jiu Kiam-ong gurunya itu adalah
orang yang paling memandang rendah para pendeta yang dia anggap orang-orang munafik yang
pura-pura suci. Karena itu, pengetahuan suhunya tentang kitab-kitab suci hanya sepotong-sepotong dan
ngawur saja. Akan tetapi mengapa pedang itu diukir dengan bait-bait yang terdiri dari kata-kata yang
.
hanya dipergunakan dalam kitab-kitab suci? Sudah jelas bahwa gurunya yang membuat huruf-huruf ini.
Dia mengenal huruf tulisan suhunya yang bengkak-bengkok tidak dapat dikatakan indah. Namun orang
yang sudah dapat menuliskan huruf-huruf kecil pada tubuh Siang-bhok-kiam, kiranya di dunia ini hanya
dapat dihitung dengan jari tangan! Apakah artinya huruf-huruf itu? Apakah artinya sajak yang bukan
sajak, ujar-ujar yang setengah matang itu? Keng Hong merasa seperti sering membaca kalimat-kalimat
ini, akan tetapi setelah dia ingat-ingat, dia tahu betul bahwa tidak ada ujar-ujar seperti itu bunyinya dalam
kitab yang manapun juga! Sehari semalam lamanya dia merenungi arti tiga baris tulisan ini, namun tetap
saja dia tidak dapat mengerti. akhirnya dia berpendapat bahwa mungkin rahasianya bukan terletak dalam
baris-baris sajak yang tidak karuan ini, melainkan pada pedang itu sendiri. Diperiksanya pedang itu, di
tekan sana-sini, dicarinya kalau-kalau ada bagian yang mengandung rahasia. Namun tak berhasil
menemukan sesuatu yang aneh di pedang itu kecuali huruf-huruf tadi.
Keng Hong telah berlatih ketekunan selama lima tahun di tempat itu, maka kini pun dia tidak mudah
putus asa. Dengan tekun dia lalu mencari-cari di seluruh permukaan puncak batu pedang memeriksa
kalau-kalau ada gua rahasia atau ada lubang-lubang yang cocok dengan ukuran pedang untuk dicongkel,
kalau-kalau di situ terdapat pintu rahasia tempat penyimpanan pusaka suhunya. Namun, sampai sebulan
sejak suhunya meninggal dunia, dia tidak berhasil menemukan pusaka itu di permukaan puncak batu
pedang. Sementara itu, persediaan buah-buahan telah habis. Maka diambilnya keputusan untuk
meninggalkan tempat itu, sesuai dengan pesan Kiang Tojin karena dia merasa tidak berhak tinggal di situ
lebih lama lagi.
Untuk penghabisan kali ini dia berlutut dan bersembahyang ke empat penjuru sambil menyebut nama
suhunya, kemudian menyelipkan Siang-bhok-kiam di sebelah dalam bajunya. Ketika menyelipkan
Siang-bhok-kiam ini, dia tersenyum dan menoleh ke sebuah sudut di atas permukaan puncak batu
pedang. Ia merasa girang bahwa akhirnya timbul keberaniannya untuk turun dan menghadapi apa saja
dengan dada lapang. Dia sudah lupa akan watak ayah bundanya, namun dia masih ingat benar akan
watak gurunya. Gurunya seorang periang, mengapa dia sebagai muridnya tidak mencontoh watak guru?
Dia harus menghadapi segala rintangan yang mungkin timbul dengan hati riang dan penuh kepercayaan
kepada diri sendiri? Dia kini bebas lepas seperti seekor burung terbang di udara. Mengapa tidak
gembira? Dengan wajah berseri pemuda remaja yang tampan ini lalu, menuruni puncak ini. Setelah
mengoper sinkang suhunya sebulan yang lalu, dia merasa tubuhnya demikian penuh hawa yang amat kuat,
yang membuat dia dapat meringankan tubuhnya, dan menuruni tebing yang curam itu dapat dia lakukan
dengan amat mudahnya, jauh lebih mudah daripada yang sudah-sudah kalau dia turun mencari persediaan
makan untuk suhunya dan dia. ***
"Aiiihh....! Tolongggg....! lepaskan aku....!!"
Jerit melengking ini jelas keluar dari mulut seorang wanita. Keng Hong yang tadinya mengira bahwa
turunnya tentu akan dihadang musuh, mendapat kenyataan bahwa Kiam-kok-san (Puncak Lembah
Pedang) di bawah batu pedang sunyi saja. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar lengking yang mengerikan
itu, yang membuat bulu tengkuknya berdiri! Apalagi karena sebagai seorang yang tergembleng hebat, dia
mendapat perasaan seolah-olah banyak pasang mata yang selalu mengikuti gerak-geriknya.
Keng Hong tidak mempedulikan perasaan ini karena dia sudah melesat ke kiri, berlari ke arah suara
yang menjerit tadi. Apapun yang terjadi, sudah pasti bahwa di sana ada seorang wanita yang minta
tolong, yang membutuhkan bantuan karena terancam keselamatannya. "Jangan menolak setiap uluran
tangan yang minta tolong", demikian pesan gurunya, "Namun waspadalah terhadap tangan yang berniat
menolongmu.” Bukan karena teringat akan pesan suhunya, melainkan terutama sekali karena dorongan
hati sendiri. Keng Hong melesat cepat untuk menolong wanita yang terancam bahaya, timbul dari
dorongan welas asih yang memang sudah ada pada tiap hati manusia.
.
Tak lama kemudian tibalah dia di sebuah lapangan terbuka dan dia tercengang. Di situ telah berkumpul
puluhan orang tosu Kun-lun-pai dan di depan sendiri tampak penolongnya, Kiang Tojin berdiri dengan
sikap angker, tangan kirinya mencengkeram pundak seorang wanita cantik yang meronta-ronta dan
merintih-rintih. Dan selain tokoh-tokoh Kun-lun-pai, tampak pula Thian seng cinjin sendiri berdiri dengan
bersandar pada tongkatnya! Ketua Kun-lun-pai ini tampak sudah tua sekali dan sikap mereka semua
yang kini memandang Keng Hong membayangkan bahwa mereka itu memang sedang menantinya!
Keng Hong menghentikan larinya dan otomatis dia menoleh. Benar saja seperti dugaannya tadi, di
sebelah belakangnya kini muncul belasan orang tosu Kun-lun-pai dan dia berdiri terkurung di tengah,
berhadapan dengan Kiang Tojin yang menangkap wanita cantik itu dan ketua Kun-lun-pai yang berdiri
dengan sikapnya yang agung dan ramah! Keng Hong merasa seolah-olah menjadi seekor kelinci yang
dikurung oleh puluhan ekor harimau kelaparan! Akan tetapi, dia adalah seorang yang sejak kecil sudah
belajar kesopanan. Melihat Kiang Tojin yang menjadi penolongnya dan para tosu Kun-lun-pai yang
pernah melepas budi selama dua tahun kepadanya, dia cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut di
depan Thian seng Cinjin dan Kiang Tojin sambil berkata.
"Boanpwe (saya yang rendah) bekas kacung Cia Keng Hong datang menghadap para locianpwe
(orang-orang tua gagah), mohon di maafkan segala kesalahan boanpwe!"
Thian seng cinjin tersenyum lebar dan Kiang tojin berseri wajahnya lalu menggerakkan tangannya yang
mencengkeram pundak wanita itu sambil berkata kepada anak muridnya, "Belenggu wanita jahat ini!"
Dua orang tosu lalu datang dan mengikat kaki tangan wanita itu pada sebatang pohon. Keng Hong
melirik dengan ujung matanya, melihat betapa wanita yang usianya sekitar dua puluhan tahun dan amat
cantik jelita itu menangis perlahan sehingga hatinya merasa kasihan sekali. Akan tetapi dia segera
mengalihkan perhatiannya ketika Kiang Tojin berkata.
"Baik sekali, Keng Hong. Bangun dan berdirilah karena engkau bukan anak murid kami, juga bukan
kacung kami lagi. Sudah sebulan lamanya kami menunggu. Apakah yang menyebabkan engkau terlambat
sampai sebulan baru turun dari Kiam-kok-san?"
Keng Hong terkejut. Kiranya para tosu Kun-lun-pai ini sudah tahu bahwa suhunya telah meninggal
sebulan yang lalu dan diam-diam telah menjaga dan menanti dia turun dari puncak batu pedang. Yang
menjaga dan memata-matai di Kiam-kok-san hanyalah murid-murid Kun-lun-pai, agaknya ketua
Kun-lun-pai dan Kiang Tojin masih belum berani melanggar pantangan untuk mengotori Kiam-kok-san!
Kemudian dia teringat betapa dia telah membakar jenasah suhunya di dalam pondok. Agaknya
pembakaran itulah yang memberitahukan para tosu. Sebelum dia menjawab, karena melihat dia meragu
dan bingung, Kiang Tojin sudah berkata lagi.
"Kami melihat betapa asap mengebul dari puncak Kiam-kok-san. Kami tidak suka mengganggu seorang
murid yang berkabung atas kematian gurunya, maka kami hanya menunggu. Akan tetapi, alangkah
banyaknya orang yang telah menanti-nantimu, Keng Hong. Wanita jahat ini adalah orang terakhir dari
kaum sesat yang menunggumu turun gunung dan yang sudah siap menurunkan tangan jahat kepadamu.”
“Bohong! Tosu bau tak pernah mandi! Siapa yang hendak turun tangan jahat terhadap pemuda itu? Aku
hanya ingin menonton keramaian, kemudian tersesat di sini dan kalian menggunakan pengeroyokan
menangkap aku! Cih, tak tahu malu! Segerombolan kakek tua bangka mengeroyok seorang gadis!
Kaukira aku tidak tahu? Kalian hanya berpura-pura menjadi pendeta, padahal menggunakan kesempatan
untuk meraba-raba dan membelai-belai tubuhku dengan alasan hendak menangkap seorang penjahat!"
Hebat sekali penghinaan ini. Banyak di antara para tosu Kun-lun-pai menjadi merah sekali mukanya,
entah merah karena malu ataukah karena marah. Akan tetapi yang jelas, banyak di antara mereka yang
.
melotot marah dan memandang wanita cantik itu penuh kebencian. Namun Kiang Tojin dan Thian Seng
Cinjin hanya tersenyum, sedikitpun tidak terpengaruh oleh ucapan-ucapan menghina itu. Kiang Tojin
hanya membalikkan tubuhnya dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke depan dengan jari telunjuk
menuding ke arah wanita yang terikat di pohon itu. Jarak di antara mereka ada tiga meter, akan tetapi
terdengar angin bercuit dan.... tubuh wanita itu menjadi lemas dan ia tak dapat mengeluarkan suara lagi
karena ia telah terkena totokan yang dilakukan dari jarak jauh! Hanya matanya saja yang memandang
dengan mendelik penuh kemarahan.
Diam-diam Keng Hong terkejut dan kagum sekali. Juga merasa betapa ketekunannya selama lima tahun
ini sesungguhnya tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian tosu yang menjadi
penolongnya ini. Sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu silatnya masih kalah jauh sekali oleh Kiang
Tojin, dan agaknya kalau harus melawan tosu ini, belum tentu dia sanggup bertahan sampai lima jurus!
"Keng Hong, ketahuilah bahwa kaum sesat dan orang-orang gagah yang menaruh dendam kepada
gurumu selalu mengincarmu untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam dan rahasia penyimpanan
kitab-kitab gurumu. Kami para tosu Kun-lun-pai sama sekali bukanlah orang-orang serakah dan tidak
menghendaki apa-apa, baik dari Sin-jiu Kiam-ong atau dirimu. Akan tetapi, mengingat bahwa engkau
datang ke Kun-lun-pai tidak membawa apa-apa, maka kepergianmu dari sini pun tidak boleh membawa
apa-apa! Kalau Siang-bhok-kiam berada bersamamu, harus kau tinggalkan pedang itu kepada pinto.
Demikian pula, segala benda lain yang kaubawa, kitab-kitab atau apa saja, harus ditinggalkan. Hal ini
bukan sekali-kali karena pinto ingin memilikinya, melainkan pertama, benda-benda itu hanya akan
mendatangkan malapetaka padamu, dan daripada jatuh ke tangan kaum sesat sehingga mereka menjadi
lebih lihai, lebih baik kami simpan atau kami hancurkan di Kun-lun-san!"
Keng Hong mengerutkan keningnya, "Akan tetapi, pedang yang saya bawa ini adalah pemberian suhu,
bukan hasil mencuri milik Kun-lun-pai!"
Kiang Tojin tersenyum dan mengangguk-ngangguk, "Betul, akan tetapi Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal
dunia di Kiam-kok-san, karena itu semua peninggalannya harus ditinggalkan di Kiam-kok-san pula.
Biarpun engkau muridnya, tak boleh engkau membawanya pergi dari Kun-lun-san.”
"Kalau saya menolak?"
Kiang Tojin mengerutkan alisnya dan mengangkat mukanya. "Keng Hong, tak tahukah engkau bahwa
peraturan kami ini demi keselamatanmu sendiri? kalau engkau menolak, berarti engkau lupa akan budi
dan pinto terpaksa menggunakan kekerasan!"
Keng Hong dapat menyelami maksud hati Kiang Tojin dan dia makin kagum dan tunduk kepada tosu
Kun-lun-pai yang bijaksana dan cerdik ini. Akan tetapi untuk mengalah begitu saja dia merasa enggan.
Apalagi tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada berlatih melawan Kiang Tojin yang tidak
mempunyai niat buruk terhadap dirinya. Biarpun dia berlatih dengan penolongnya yang berilmu tinggi ini.
"Maafkan saya, Totiang. Sebelum menyerahkan pedang ingin sekali saya menerima petunjuk Totiang
dalam hal ilmu silat.”
Kiang Tojin tertawa, "Ha-ha-ha, memang sejak dahulu engkau keras hati. Baiklah, Keng Hong. Kau
boleh menyerangku, pinto juga ingin melihat sampai di mana hasilmu berguru kepada mendiang Sin-jiu
Kiam-ong! Mulailah!"
Biarpun belum pernah mempergunakan kepandaian yang dipelajarainya selama lima tahun itu untuk
bertanding dalam pertempuran sungguh-sungguh, namun Keng Hong sudah menguasai dasar-dasar ilmu
.
silat tinggi. Juga dia selalu ingat akan semua nasihat dan petunjuk suhunya. Ia ingat akan nasehat gurunya
bahwa bagi seorang yang sudah tinggi ilmu silatnya, lebih baik di serang lebih dahulu daripada menyerang,
karena lawan yang menyerang itu otomatis akan membuka bagian yang kosong sehingga mudah
"dimasuki" dalam serangan balasan yang dilakukan otomatis pula. Karena dia tahu bahwa Kiang Tojin
adalah lawan yang amat berat, maka setelah berseru keras dia maju memukul dengan gerakan perlahan
dan hati-hati, hanya menggunakan seperempat bagian perhatiannya saja untuk menyerang, yang tiga
perempatnya bagian dia cadangkan untuk penjagaan diri agar begitu lawannya membalas, dia dapat
menghindar dengan elakan atau tangkisan.
"Wuuuttt!" Pukulan tangan kanannya menyambar, mendatangkan angin yang kuat.
"Bagus.....!" Kiang Tojin berseru, kagum melihat kenyataan betapa kuat pukulan Keng Hong sehingga
tidak mengecewakan menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong karena dia sendiri tidak akan sanggup melatih
seorang murid selama lima tahun sudah memiliki sinkang yang sedemikian kuatnya. Namun diam-diam dia
kecewa menyaksikan gerakan-gerakan itu yang amat sederhana, padahal dia tadinya mengira bahwa ilmu
silat yang diturunkan kakek raja pedang itu kepada muridnya tentu hebat.
Melihat pukulannya hanya dielakkan Kiang Tojin dan ternyata tosu itu sama sekali tidak membalasnya,
bahkan jelas menanti serangan selanjutnya, tahulah Keng Hong bahwa tosu penolongnya ini benar-benar
hanya ingin mengujinya. Pujian yang keluar dari mulut Kiang Tojin itu membuat telinganya merah. Sudah
jelas bahwa dia memukul dengan gerakan sederhana saja, bahkan dengan tenaga yang hanya
seperempatnya, bagaimana bisa di sebut bagus? Apakah tosu penolongnya ini mengejeknya?
Biarlah, kalau aku kalah biar kalah, roboh di tangan tosu yang menjadi tokoh kedua Kun-lun-pai ini,
apalagi yang menjadi penolongnya, tidaklah amat memalukan. Maka dia berkata.
"Totiang, maafkan kelancanganku!"
Seruan ini dia tutup dengan gerakan menyerang. Kini Keng Hong tidak mau diejek untuk kedua kalinya.
Ia mengerahkan sinkang dari pusarnya. Hawa panas meluncur cepat ke arah kedua lengannya dan dia
mempergunakan ginkangnya. Tubuhnya melesat bagaikan kilat menyambar ke arah Kiang Tojin dan
sekaligus dia memukulkan kedua tangannya dalam serangan berantai.
Harus diketahui bahwa dalam silat tangan kosong, Keng Hong belum dapat dikatakan lihai. Ia hanya
digembleng dengan pengertian dan gerakan dasar-dasar ilmu silat saja. Setiap gerakan tangan dan
geseran kaki memang dapat dia lakukan dengan mahir, namun rangkaian ilmu silat belum banyak dia
pelajari karena waktunya tidak mengijinkan. Dari suhunya dia hanya baru dapat memetik ilmu silat tangan
kosong yang oleh gurunya dinamai San-in-kun-hoat (ilmu silat awan gunung) yang diambil dari keadaan
di puncak Kiam-kok-san. Ilmu silat ini merupakan gerakan-gerakan inti ilmu silat tinggi, namun diatur
amat sederhana sehingga hanya terdiri dari delapan buah jurus serangan saja! Dalam serangan ke dua ini
Keng Hong yang tidak mau diejek itu telah mempergunakan jurus yang disebut Siang-in-twi-an
(Sepasang Awan Mendorong Gunung). Kedua kakinya masih di udara ketika dia melompat, namun siap
melakukan tendangan susulan sebagai perkembangan jurus ini, sedangkan kedua lengannya didorongkan
ke depan secara bergantian sambil mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya.
"Siuuuuttt....!"
"Siancai...!" Kiang Tojin terkejut bukan kepalang. Melihat tenaga pada serangan pertama tadi, dia sudah
kagum, akan tetapi serangan kedua ini benar-benar membuat dia kaget karena serangan ini bukan
merupakan serangan main-main dari seorang pemuda yang baru lima tahun belajar ilmu silat!
.
Serangan ini lebih pantas kalau dilakukan seorang tokoh persilatan yang sudah melatih diri selama
puluhan tahun! Tenaga pukulan itu dapat dia ukur dari angin yang menyambar dan biarpun Kiang Tojin
sendiri tidak berani menerima pukulan sehebat itu. Cepat tosu itu meloncat ke samping dan memutar
tubuh sambil mengangkat tangan karena melihat kedudukan tubuh Keng Hong di udara itu dia maklum
bahwa pemuda ini akan melanjutkan jurus itu dengan tendangan. Dugaannya memang tepat dan baik
dorongan tangan maupun tendangan Keng Hong banyak mengenai angin belaka, dan hanya berhasil
membuat pakaian tosu itu berkibar.
Ketika serangan kedua ini gagal, Keng Hong yang khawatir kalau-kalau menerima serangan balasan, lalu
menggunakan ginkangnya dan di udara tubuhnya sudah berjungkir balik di barengi seruannya yang keras
sekali. Tubuhnya berputaran di udara dan membalik, lalu meluncur turun dan langsung menyerang untuk
ketiga kalinya ke arah Kiang Tojin yang masih berdiri terbelalak. Gaya serangan tadi saja sudah
membayangkan ilmu silat yang luar biasa, apalagi tenaganya yang membuat kulit tubuhnya terasa pedas
dan dingin sekali, kini menyaksikan ginkang sehebat itu tosu ini melongo. Namun pada detik berikutnya,
tubuh pemuda ini sudah meluncur dan menyerangnya dari atas seperti seekor burung garuda menyambar.
Sekali ini Keng Hong menggunakan jurus ke delapan atau jurus terakhir dari ilmu silat San-in-kun-hoat,
yaitu jurus yang disebut In-keng-hong-i (Awan Menggetarkan Angin dan Hujan). Jurus inilah yang paling
sukar dimainkan, karena keempat kaki tangan melakukan serangan dari atas secara bertubi-tubi. Keng
Hong yang ingin memperlihatkan apa yang telah dia pelajari dari suhunya agar tidak dipandang rendah,
telah menggerakkan kedua kakinya susul-menyusul menendang ke arah dada dan perut, disusul dengan
hantaman tangan kiri yang terkepal ke arah leher dan akhirnya dengan jari terbuka ke arah ubun-ubun
kepala lawannya! Benar-benar serangan yang amat hebat, cepat dan mengandung tenaga mijizat karena
pada saat itu dia mempergunakan seluruh hawa sinkang di tubuhnya yang dia lancarkan melalui kedua
tangan dan kakinya! Dengan pukulan seperti inilah ketika dia marah-marah kepada diri sendiri di puncak
batu pedang, dia telah menggempur batu menonjol sehingga batu setinggi orang itu telah hancur lebur.
"Hayaaaa....!" Kiang Tojin benar-benar kaget sekali sekarang. Ia maklum bahwa sedikit pun dia tidak
boleh memandang ringan serangan ini dan dia pun maklum bahwa serangan ini terlalu dahsyat dan
berbahaya. Maka dia mengerahkan perhatian dan tenaganya. Tendangan kedua kaki mengarah perut dan
dadanya dia hindarkan dengan elakan cepat, demikian pula pukulan ke arah lehernya. Akan tetapi
tamparan ke ubun-ubunnya sedemikian cepat dan hebatnya sehingga amat berbahaya kalau dielakkan
karena terkena sedikit saja bagian kepalanya tentu akan mendatangkan bencana hebat, maka dia
mengerahkan tenaganya, miringkan kepala dan tubuh kemudian secepat kilat dia menangkis tamparan itu
sambil terus menangkap tangan Keng Hong yang terbuka.
Kiang Tojin adalah seorang tokoh besar yang telah memiliki tingkat kepandaian amat tinggi, juga
memiliki tenaga sinkang yang sukar di cari bandingnya. Maka amatlah mengherankan kalau kini
menghadapi seorang muda yang baru belajar selama lima tahun dia terpaksa harus berhati-hati dan
mengerahkan tenaganya.
"Plakk....! Aihhhh.....!" Kiang Tojin berseru kaget sekali. Ketika dia menangkis tamparan Keng Hong
dengan Telapak tangannya, dia merasa seolah-olah lengannya tertindih tenaga yang amat kuat dan
beratnta hampir tak kuat dia menahannya, yang membuat seluruh lengan sampai setengah dada terasa
ngilu! Sebagai seorang yang sakti, tentu saja dia terkejut namun tidak kehilangan akal. Cepat dia
memutar telapak tangannya bergerak, tubuh Keng Hong terbanting ke bawah. Namun karena pemuda itu
memiliki ginkang yang luar biasa, dia terbanting dalam keadaan berdiri sungguhpun bantingan itu membuat
dia berdiri setengah berlutut dengan tangan masih menempel dengan tangan Kiang Tojin yang
menangkapnya. "Heeeiiiitttt....!" Kembali Kiang Tojin memekik kaget dan megerahkan tenaga sinkang
untuk melepaskan pegangannya.
.
Namun sungguh aneh sekali, dia tidak dapat melepaskan pegangannya pada tangan Keng Hong! Dapat
dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika dia merasa betapa makin dia mengerahkan sinkang,
maka hawa sakti itu seolah-olah air dituangkan ke dalam laut, amblas dan hanyut tanpa bekas, bahkan
kini tak dapat lagi dia menahan sinkangnya yang terus mengalir keluar melalui lengannya dan tersedot
masuk ke dalam tubuh Keng Hong melalui tangan!
"Iiiiihhhh...., ehhhh....!" Kiang Tojin menjadi pucat, matanya terbelalak dan dia meronta-ronta hendak
melepaskan pegangannya. Sia-sia belaka, karena seperti ada tenaga mijizat yang membuat tangannya
lekat dan diapun tak dapat menahan sinkangnya yang menerobos keluar!
Tentu saja Kiang Tojin tidak mengerti bahwa kalau tadi dia hampir kalah kuat oleh Keng Hong, adalah
karena pemuda itu telah menerima pengoperan sinkang dari Sin-jiu Kiam-ong dalam saat terakhir
sehingga dapat dikatakan bahwa yang dia lawan bukan sinkang asli Keng Hong, melainkan sama dengan
melawan Sin-jiu Kiam-ong! Dan kini, baik dia sendiri maupun Keng Hong tidak mengerti betapa ada
tenaga "menyedot" luar biasa pada diri Keng Hong sehingga hawa sakti dari tubuh tosu itu mengalir
keluar dan pindah ke dalam tubuh pemuda itu!
Ketika Keng Hong merasa betapa hawa panas mengalir dari tangan tosu itu dan menerobos memasuki
tubuhnya melalui tangannya tanpa dapat dicegah lagi, dia tahu apa yang telah terjadi dan dia menjadi
terkejut sekali. Mula-mula dia mengira bahwa seperti apa yang telah dilakukan mendiang suhunya, tosu
penolongnya inipun hendak mengoperkan sinkang kepadanya, akan tetapi ketika melihat wajah tosu itu
menjadi pucat, sikapnya yang gugup dan betapa tosu itu dengan sia-sia hendak melepaskan pegangan,
dia menjadi kaget bukan main. Tanpa dia ketahui sendiri, dalam dirinya telah timbul semacam "penyakit"
yang dia sendiri tidak mampu obati, yaitu telah timbul semacam daya sedot yang hebat dan yang tak
dikuasainya. Hal ini terjadi diluar di luar kehendaknya dan dia tidak tahu bahwa ketika Sin-jiu Kiam-ong
memaksakan sinkangnya berpindah ke tubuh muridnya, paksaan yang tidak wajar ini telah mengacau
hawa sakti di tubuh Keng Hong dan telah merusak susunannya sehingga menimbulkan kekuatan daya
sedot yang amat luar biasa ini. Dalam bingungnya, Keng Hong juga membetot-betot tangannya dan
mulutnya berkata gagap "Totiang.....lepaskan......, lepaskan tanganku.....!"
Selagi mereka berkutetan, masing-masing ingin melepaskan tangan yang saling melekat, beberapa orang
tosu yang menjadi sute dari Kiang Tojin, menjadi marah. Mereka ini juga merupakan orang-orang yang
berilmu tinggi. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, akan tetapi melihat betapa suheng (kakak
seperguruan) mereka menjadi makin pucat dan tampak gugup dan bingung, mereka itu sebanyak empat
orang telah melangkah maju menghampiri Keng Hong. Seorang di antara mereka berseru marah.
"Bocah jahat, lepaskan!"
Empat buah lengan yang kuat dan mengandung penuh tenaga lweekang menyentuh tubuh Keng Hong.
Dua orang memegang tangannya, dua orang lagi memegang kedua pundaknya. Keng Hong tidak
melawan dan dia masih dalam keadaan setengah berlutut. Namun begitu empat buah tangan itu
menyentuh Keng Hong, terdengar seruan-seruan kaget, bukan hanya empat orang tosu itu yang berseru
kaget, bahkan Keng Hong juga mengeluh dan berteriak, "Lepaskan......!" Ternyata bahwa kini empat
orang tosu itu tak dapat melepaskan lagi tangan mereka yang menempel tubuh Keng Hong dan seperti
tempat air bocor, sinkang di tubuh mereka juga mengalir dan disedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu!
"Bocah berilmu iblis!" Seorang di antara tosu itu memaki dan dia memukul dengan tangan lain ke
punggung Keng Hong. Akan tetapi hanya terdengar suara “plakkk!" dan kini tangannya yang sebelah lagi
itu pun melekat dan makin hebatlah tosu ini tersedot tenaganya sehingga dia menjadi pucat dan lemas
seketika! Keliru kalau mengira bahwa Keng Hong merasa senang menerima terobosan hawa sakti yang
berkelimpahan memasuki tubuhnya ini. Tubuhnya menjadi makin panas, tidak karuan rasanya,
.
seolah-olah sebuah bola karet yang terisi angin, tubuhnya terasa seperti akan meledak, dadanya penuh
hawa, pusarnya penuh hawa yang menekan-nekan dan memberontak hendak keluar, kepalanya pening
sekali dan mukanya menjadi merah seperti udang rebus! Ia merasa tersiksa sekali, apalagi karena dia
maklum bahwa lima orang tosu itu bisa tewas kalau mereka tidak lekas-lekas dapat melepaskan tangan
mereka dari tubuhnya. Namun dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya agar dapat terlepas dari mereka!
Kalau tadinya dia masih dapat berteriak-teriak minta mereka melepaskan tangan sambil meronta-ronta,
kini dia hanya dapat mengeluarkan suara "ah-ah-uh-uh" seperti orang gagu.
Keadaan Kiang Tojin dan empat orang tosu itu lebih menderita lagi. Mereka merasa betapa tenaga
sinkang mereka makin lama makin menipis, tersedot secara ajaib tanpa mereka dapat mencegahnya.
Tubuh mereka menjadi lemas, kepala menjadi pening dan pikiran tak dapat dipergunakan dengan baik
lagi, membuat mereka menjadi bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
"Siancai.... siancai....!" Seruan ini keluar dari mulut Thian Seng Cinjin, seruan yang halus dan tahu-tahu
tubuh kakek ini sudah melayang dekat, kemudian dia menggerakkan kedua tangan setelah menancapkan
tongkat di atas tanah. Dengan kedua tangannya dia memegang kedua pangkal lengan Keng Hong, lalu
merenggut dan menghentak keras. Keng Hong merasa betapa sebuah tenaga raksasa menariknya dan
tenaga ini yang jauh lebih kuat daripada tenaga kelima tosu yang membocor ke dalam tubuhnya, telah
menghentikan hubungan atau aliran hawa sakti itu, melepaskan kedua lengannya dan tahu-tahu tubuhnya
terlempar sampai sepuluh meter lebih jauh sampai bergulingan.
Keng Hong meloncat bangun, loncatannya amat ringannya dan dia berteriak kaget karena tubuhnya itu
mencelat jauh lebih tinggi daripada yang dikehendakinya. Tubuhnya terasa seperti penuh dengan hawa
yang membuatnya ringan sekali, akan tetapi juga berat di sebelah dalam. Hawa yang memenuhi tubuhnya
minta keluar, membuat mulutnya menghembuskan suara mendesis seperti orang yang mulutnya
kepedasan!
"Aaahhhh... minggir..... aaahhhhh.... minggir semua.....!" pekiknya dengan suara menggereng seperti
seekor harimau, kemudian tubuhnya sudah melesat ke depan, menuju ke arah pohon-pohon besar. Para
tosu yang menyaksikan keadaannya ini menjadi kaget, heran dan juga gentar sehingga otomatis mereka
itu minggir dan menjauhkan diri. Keng Hong yang hanya merasa bahwa dia harus menyalurkan semua
hawa sakti yang memenuhi tubuhnya, harus mengeluarkan tenaga yang membuat dadanya dan kepalanya
seperti akan meledak, terus saja menggunakan kedua kaki tangannya untuk menghajar pohon-pohon
yang tumbuh di depannya. Ia memukul, menendang dan mendorong. Dengan ngawur saja dia lalu
mainkan keseluruhan delapan jurus dari ilmu silat San-in-kun-hoat dan setelah selesai, dan terdengar
suara-suara hebat "dessss, kraaak-kraaaaak.... bruuuuk!" berkali-kali maka dia telah merobohkan
delapan belas batang pohon besar yang menjadi tumbang, batangnya remuk dan kini malang melintang
seperti diamuk topan! Setelah menjadi tumbang, batangnya remuk dan kini malang melintang seperti
diamuk topan! Setelah mengeluarkan sebagian hawa sinkang yang mendesak-desak di tubuhnya itu
melalui pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang merobohkan belasan batang pohon, barulah
Keng Hong merasa tubuhnya tidak tersiksa lagi, dadanya dan kepalanya tidak seperti mau meledak,
napasnya tidak sesak dan dia seperti baru timbul dari keadaan seorang yang hampir tenggelam ke dalam
air yang amat dalam tanpa dapat berenang!
Ia kini menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa kepeningan lalu memandang ke depan. Ia melihat
betapa Kiang Tojin dan empat orang sutenya telah duduk bersila mengatur pernapasan dan
mengumpulkan tenaga dengan wajah pucat. Teringatlah dia akan semua peristiwa akibat gara-garanya,
maka cepat dia menghampiri Kiang Tojin dan menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan
kepala penuh penyesalan.
"Saya mohon ampun dari Totiang sekalian...!" Suaranya pilu dan tak terasa lagi pemuda ini menangis
.
sesenggukan!
"Siancai...., engkau bocah telah mewarisi ilmu iblis Sin-jiu Kiam-ong, masih baik tidak mewarisi
wataknya yang ugal-ugalan. Hatimu masih bersih....!" Thian Seng Cinjin memuji sambil mengelus
jenggotnya yang putih. Tosu tua ini maklum bahwa kalau hati anak muda itu mengandung kekejaman, dia
akan kehilangan beberapa orang murid. Tentu malapetaka besar akan timbul kalau saja pemuda itu
menyalurkan hawa sinkang yang hebat itu bukan kepada pohon-pohon, melainkan kepada manusia.
Kiang Tojin membuka matanya, mulutnya tersenyum sabar namun pandang matanya penuh kengerian
dan juga kekaguman. "Keng hong, engkau telah mewarisi ilmu yang hebat dan mengerikan...."
"Totiang, saya bersumpah bahwa semua itu terjadi di luar kehendak saya. Kini saya mohon kepada
Totiang sudilah Totiang melenyapkan daya sedot yang mencelakakan orang tanpa saya kehendaki ini.
Tolonglah, Totiang...!" Pemuda ini merasa tersiksa sekali batinnya dan dia menganggap ilmu kepandaian
aneh yang berada di dalam dirinya, daya sedot yang ajaib itu, tak lain hanya sebagai sebuah penyakit
hebat yang menyeramkan dan menjijikkan!
"Keng Hong, tingkat kepandaianku masih belum sampai ke situ, tidak mungkin aku melenyapkan ilmu
iblis itu. Entah kalau suhu, barangkali bisa kalau engkau suka memohon kepada suhu.”
Keng Hong sudah menoleh dan hendak mohon kepada ketua Kun-lun-pai, akan tetapi Thian Seng
Cinjin sudah mengangkat tangannya dan berkata, suaranya halus namun penuh wibawa.
"Ada semacam ilmu hitam yang disebut Thi-khi-i-beng (Mencuri Hawa Pindahkan Nyawa) yang cara
kerjanya jugamenyedot kekuatan tubuh lawan. Namun pinto rasa untuk masa kini tidak ada lagi yang
memiliki ilmu yang mujizat itu. Kini secara aneh ilmu itu dimiliki olehmu, Keng Hong. Entah Sin-jiu
Kiam-ong sengaja atau tidak menurunkan ilmu itu kepadamu. Melihat betapa kau sendiri tidak sadar
akan ilmu itu, agaknya dia pun tidak menurunkannya kepadamu dan telah terjadi keanehan yang amat
ajaib. Engkau bukan anak murid Kun-lun-pai, tidak berhak bagi Kun-lun-pai untuk melenyapkan ilmu itu
dari tubuhmu. Pula, melenyapkan ilmu itu dari tubuhmu berarti membahayakan nyawamu dan nyawa dia
yang mengusahakannya. Ilmu tetap ilmu, baik buruknya atau putih hitamnya tergantung dia yang
mempergunakannya. Biarpun Thi-ki-i-beng kelihatannya ganas dan keji, namun kalau engkau dapat
menguasainya dan mempergunakan untuk kebaikan, perlu apa dilenyapkan?" setelah berkata demikian,
kakek ini merenung dan memejamkan mata, mulutnya berkomat-kamit seperti orang membaca doa.
"Bagaimana, Kiang-Totiang....!?" Keng Hong kini menujukan pertanyaannya kepada penolongnya.
Kiang Tojin tersenyum dan menghela nafas. "Tepat seprti yang dikatakan suhu, engkau bukan murid
Kun-lun-pai dan kami tidak berhak mencampuri urusan ilmu silatmu. Sekarang, kau pun terpaksa harus
meninggalkan pula pedangmu kepada kami.”
Keng Hong menarik nafas panjang. Tosu-tosu ini terlalu angkuh, pikirnya. Kalau ketuanya tahu akan
cara melenyapkan "penyakit" yang berada dalam tubuhnya, mengapa tidak mau menolongnya? Anak ini
memiliki keangkuhan dan tidak sudi merengek-rengek merendahkan diri. Ia lalu mencabut pedang kayu
dari pinggangnya, meletakkannya di depan kaki Kiang Tojin sambil berkata.
"Saya tidak mempunyai niat buruk, mengapa membawa-bawa pedang? Kalau Kun-lun-pai merasa
bahwa pedang itu hak mereka, biarlah saya tinggalkan. Selain Pedang ini, saya hanya mempunyai pakaian
yang saya pakai ini. Apakah ini pun harus ditinggalkan pula?"
Kiang Tojin memandang dengan sinar mata sedih, lalu menggeleng-geleng kepala. "Sungguh sayang,
.
Keng Hong. Saat ini hatimu dipenuhi oleh kemarahan dan dendam. engkau masih belum mengerti akan
maksud baik kami. Akan tetapi biarlah. Kelak engkau akan mengerti sendiri mengapa kami minta kau
meninggalkan Siang-bhok-kiam kepada kami.”
“Eh, bocah tolol! Namamu Keng Hong tadi, ya? Kenapa kau begitu tolol menyerahkan
Siang-bhok-kiam kepada para tosu bau itu? Jangan berikan! Kau ditipu, mereka itu menginginkan
pedang pusaka itu. Ambil lagi dan lekas pergi! Dengan kepandaianmu yang mujizat seperti Iblis mereka
takkan dapat memaksamu!" Teriakan ini adalah teriakan wanita cantik yang diikat pada pohon. Kiranya
totokan Kiang Tojin yang dilakukan dari jarak jauh tadi tidak lama membuatnya gagu. Hal ini saja
membuktikan bahwa wanita itu bukanlah orang sembarangan pula, melainkan sudah memiliki ilmu
kepandaian yang cukup tinggi.
"Cukup kiranya, Keng Hong. Kami menerima pedang Siang-bhok-kiam dan akan menyimpannya
baik-baik. Engkau boleh pergi dengan hati lapang dan ingatlah, engkau tidak boleh datang ke wilayah
kami ini tanpa seijin kami. Kalau ada keperluan yang memaksamu datang ke wilayah ini, engkau harus
datang lebih dahulu ke Kun-lun-pai dan menghadap suhu untuk minta ijin.”
Keng Hong mengangguk-angguk. Di dalam hatinya dia menjawab bahwa dia tidak sudi datang ke situ
dan tidak akan mengganggu Kun-lun-pai selamanya. Akan tetapi dia melirik ke arah wanita itu dan
berkata.
"Maaf, Totiang. Sebelum saya pergi, ada sebuah permintaan saya, harap Totiang sudi mengabulkannya.”
"Permintaan apa? sekiranya patut dan dapat pinto lakukan tentu akan pinto kabulkan permintaanmu."
"Saya mohon kepada Totiang sekalian sudilah kiranya membebaskan wanita itu!"
Terdengar seruan-seruan kaget dari mulut para tosu, dan hanya Kiang Tojin yang tampak tenag,
sedangkan Thian Seng Cinjin tidak peduli, masih berdiri seperti orang termenung dengan kedua mata
dipejamkan.
"Keng Hong ada hubungan apakah engkau dengan wanita itu maka minta supaya dia dibebaskan?"
"Tanpa alasan apa-apa, Totiang dan hanya dilandasi perasaan yang sama seperti perasaan mendiang
suhu ketika menolong Kun-lun-pai yang diserbu oleh kaum sesat!"
"Apa? Apa maksudmu?" Kiang Tojin memandang heran.
"Totiang, menurut cerita suhu, suhu menolong Kun-lun-pai juga hanya dilandasi perasaan kasihan melihat
pihak yang ditindas dan diancam. Suhu pun tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Kun-lun-pai,
namun suhu tetap menolongnya. saya pun tidak mempunyai hubungan dengan wanita ini, akan tetapi
melihat dia terancam bahaya di sini, perasaan saya yang mendorong saya untuk menolongnya.”
"Ah, akan tetapi hal itu jauh sekali bedanya, Keng Hong. Gurumu membantu kami melawan golongan
hitam, kaum sesat dan orang jahat. sebaliknya, harus kauketahui bahwa wanita itu bukan orang
baik-baik, bahkan kedatangannya mempunyai niat buruk terhadapmu, untuk merampas
Siang-bhok-kiam..."
"Bohong! Tosu tua bangka bau! Bohong....!" wanita itu memaki.
Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. "Agaknya Totiang tidak dapat mengenal watak suhu. Saya
.
percaya bahwa suhu bukan mendasarkan pertolongannya atas baik dan buruk, karena menurut wejangan
suhu, bagi suhu dan saya, baik dan buruk itu tidak ada, yang ada hanyalah pendapat orang yang selalu
tidak adil karena menurutkan kepentingan diri pribadi.”
"Eh, apa maksudmu?"
"Pandangan baik dan buruk oleh pendapat manusia adalah miring dan berat sebelah, Totiang dipengaruhi
oleh nafsu pribadi demi kepentingan diri sendiri. Kalau seseorang melihat orang lain menguntungkan dia,
bersikap manusia, menyenangkan hatinya, maka serta-merta dia akan menganggap orang itu baik!
Sebaliknya kalau dia melihat orang lain merugikannya, memusuhinya dan tidak menyenangkan hatinya,
maka tanpa ragu-ragu lagi akan dianggapnya orang itu jahat! Karena itu, saya seperti suhu tidak percaya
akan pandangan orang tentang baik dan jahat dan saya menolong wanita ini hanya terdorong perasaan
ingin menolong, kasihan melihat dia terancam bencana di sini. Bagaimana, Totiang? Saya telah memenuhi
permintaan Kun-lun-pai untuk meninggalkan pedang, apakah Kun-lun-pai demikian pelit untuk menolak
permintaanku yang sama sekali terdorong keinginan menguntungkan diri sendiri ini?" Dengan kalimat
terakhir ini terkandung ejekan bahwa Kun-lun-pai minta pedangnya dengan dasar ingin untung sendiri!
Kiang Tojin tercengang. "Pendapat keliru...., wawasan yang menyeleweng...."
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian Seng Cinjin yang halus, "Bocah ini kelak lebih menggegerkan
daripada Sin-jiu Kiam-ong. Bebaskanlah wanita itu dan lekas suruh anak ini pergi, lebih cepat lebih
baik!"
Kiang Tojin memberi tanda dan dua orang tosu menghampiri wanita itu hendak melepaskan ikatannya,
akan tetapi sekali bergerak, wanita itu ternyata telah meloloskan tangan kakinya dari ikatan tanpa
mematahkan ikatan itu. Dia meloncat dan memandang ke arah Keng Hong dengan senyum mengejek.
"Bocah Tolol! Cih, tolol dan goblok, dasar anak dusun!" Setelah berkata demikian, wanita itu
membanting-banting kaki kanannya lalu berkelebat cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Keng Hong tidak peduli, lalu berlutut menghaturkan terima kasih kepada para tokoh Kun-lun-pai,
kemudian berdiri dan pergi meninggalkan pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah berseri. Dia setengah
memaksa diri untuk bergembira, berjanji dalam hatinya untuk menempuh hidup dengan cara gurunya,
yaitu tetap bergembira, tidak memusingkan masa depan. Dia akan hidup seperti gurunya, yaitu
menghadapi bayangan masa depan yang bagaimanapun selalu gembira dan dengan tekad: Bagaimana
nanti sajalah! ***
"Heii, tolol! berhenti dulu!"
Keng Hong menghentikan langkahnya. Ia telah jauh meninggalkan Kun-lun-san dan kini berada di
sebuah hutan yang tidak lagi menjadi daerah Kun-lun-san. Tanpa menoleh dia sudah mengenal suara itu,
suara yang nyaring merdu dan galak, suara wanita cantik jelita yang telah dibebaskan oleh para tosu
Kun-lun-pai.
"Kau mau apakah?" tanyanya sambil berdiri tegak tanpa menoleh.
"Waduh sombongnya! Orang tolol masih bisa bersikap sombong ya?"
"Aku tidak merasa sombong, sungguh pun mungkin kau benar bahwa aku tolol,” jawabnya sabar sambil
tersenyum. Gembira! Harus menghadapi segala sesuatu dengan gembira, betapa pun pahitnya dan
menyakitkan hati maki-makian itu.
.
"Walah-walah, malah senyum-senyum! Kau bicara tanpa melihat aku, bukan kah itu sikap sombong,
sikap orang berkepala angin, memandang orang lain seperti rumput saja? kalau tidak sombong, lihat lah
kesini. Benci aku melihat orang diajak bicara kok menengok pun tidak!"
Keng Hong tertawa. Betapa pun galaknya, ucapan orang itu dia anggap jenaka dan lucu, juga segar
menyenangkan hatinya. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan melihat penegurnya itu duduk di atas rumput
hijau di bawah sebatang pohon sambil makan daging paha besar seekor ayam hutan. Daging itu masih
mengepul panas, juga api unggun untuk membakar daging itu masih menyala.
"Nah, aku sudah memandangmu sekarang. Kau mau bicara apakah?"
"Wah, memang sombong dan angkuh! Apakah karena engkau telah minta tosu-tosu bau itu
membebaskan aku lalu engkau boleh bersikap angkuh seperti ini?"
"Eh....., adik yang baik....."
"Cih! aku bukan adikmu!"
"Cici yang baik...."
"Siapa sudi menjadi kakak perempuanmu?"
Keng Hong merasa bohwat (kehabisan akal). "Habis, harus kusebut apa?"
"Panggil aku nona!"
"Wah, nona.....?"
"Habis, aku masih gadis, kalau tidak disebut nona, masa engkau hendak menyebut aku nyonya besar?"
Gadis itu merengut, bibirnya yang merah itu berlepotan minyak gajih paha ayam, mukanya coreng moreng
terkena hangus, kelihatan makin cantik dan lucu sehingga kembali Keng Hong tertawa.
"Baiklah, Nona. Engkau memaki aku sombong dan angkuh berkali-kali, karena aku tidak mau
menengok. Setelah aku menengok, kau masih memaki aku angkuh. Habis aku kausuruh bagaimana
supaya tidak kaumaki angkuh?"
"Aku mau bicara denganmu, duduklah disini dan jangan berdiri pringas-pringis seperti monyet mencium
ikan asin!"
Keng Hong mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal. selamanya baru sekali ini dia bicara dengan
gadis, apalagi gadis yang begini lincah. Ia tertarik sekali, akan tetapi juga merasa canggung. Kemudian
teringat dia akan watak suhunya, maka dia lalu tersenyum lebar dan melangkah menghampiri gadis itu,
menjatuhkan diri duduk di atas rumput di hadapan gadis itu. Dalam beberapa detik, pandang matanya
yang tajam sudah meneliti gadis yang duduk makan paha ayam panggang di hadapannya itu. Wajah yang
berkulit halus kemerahan, cantik jelita dengan bentuk tubuh bulat telur. Rambut hitam gemuk yang kacau
tak tersisir, menutup sebagian pipi kirinya karena kepala itu agak dimiringkan ke kanan. Alis yang
panjang kecil dan hitam. Sepasang mata yang jeli, lebar dan jernih sekali, dengan kerling yang amat
tajam, mata yang aneh karena dia seperti dapat melihat bayangan gembira, berani, menantang dan
merenung di dalamnya. Hidung kecil mancung di atas sepasang bibir yang dianggapnya merupakan bibir
terindah yang pernah dilihatnya. Penuh dan berkulit halus seolah-olah sepasang bibir itu dapat mudah
pecah, warnanya kemerahan dan basah berminyak. Dagunya kecil agak meruncing menambah
.
kemanisan. Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan mewah, namun potongannya ketat sehingga
membayangkan dada yang penuh menonjol, pinggang kecil dan pinggul yang lebar. Kulit yang mengintai
dari balik leher baju, dari lengan, tampak halus dan putih sekali. Beginikah wanita cantik yang suka
disebut-sebut suhunya dan diumpamakan setangkai bunga yang harum? Dia kini dapat merasakan
persamaannya. Memang seperti bunga sehingga membuat hati ini kepingin menyentuh, kepingin mencium,
kepingin memandang dan menikmati keindahannya.
"Mungkin aku seperti monyet, akan tetapi saat ini aku tidak mencium bau ikan asin, melainkan mencium
bau sedap gurih daging panggang!"
"Kau kepingin?" Gadis itu menghentikan gigitannya dan mulutnya yang penuh dengan daging itu
mengunyah perlahan, matanya mengerling Keng Hong. Pemuda remaja ini memandang mulut yang
mengunyah itu, dan tak terasa lagi dia menelan ludah dan perutnya mendadak berkeruyuk. Dia
mengangguk dan kembali menelan ludah.
"Kalau kepingin, ambillah. Tunggu apalagi? Jangan malu-malu kucing, kalau kepingin mengapa tidak
ambil dan makan sejak tadi?"
"Ah, tapi daging itu punyamu...."
"Siapa bilang punyaku? Ayam itu berkeliaran di hutan, entah punya siapa!"
"Tapi kau yang menangkap dan memanggangnya...."
"Sudahlah! cerewet bener sih engkau ini! ambil saja dan ganyang, habis perkara. Bicara saja mana bisa
kenyang?"
Biarpun ditegur, Keng Hong menjadi geli dan tertawa. Gadis ini benar-benar menimbulkan rasa gembira
di hatinya. Cocok benar dengan watak suhunya. Bagaimana kalau suhunya yang bertemu dengan gadis
seperti ini? Ia lalu menyambar daging ayam panggang, merobek bagian dada lalu mulai makan daging itu.
Benar lezat sekali, gurih dan manis, lagi hangat dan perutnya memang amat lapar. Setelah habis semua
makan, gadis itu mengeluarkan seguci air dingin dan minum dengan cara menggelogoknya dari mulut guci.
air memasuki mulut yang kecil itu, ada yang tumpah membasahi pipi dan tercecer memasuki celah-celah
bajunya di leher. Setelah itu, dia menurunkan guci dan menyerahkannya kepada Keng Hong.
Pemuda yang mulai mengenal watak polos dan terbuka gadis itu, menerima guci akan tetapi dia merasa
ragu-ragu juga untuk menggelogok air itu begitu saja. Bibir guci itu masih berlepotan minyak gajih, tentu
ketika bibir guci tadi bertemu dengan bibir si gadis.
"Mana cawannya? Kupinjam sebentar untuk minum!"
"Tidak punya cawan!"
"Habis bagaimana minumnya?"
"Tuang saja, seperti aku "
“Tapi... tapi... bekasmu...."
Gadis itu meloncat bangun, lalu bertolak pinggang dan membungkuk memandang Keng Hong dengan
mata terbelalak.
.
"Kau.... kau menghina aku, ya? Tolol kurang ajar!"
Keng Hong juga membelalakkan matanya, bukan karena marah melainkan karena heran. Ia benar-benar
merasa tolol berhadapan dengan nona ini. "Menghina...? Aku.... aku tidak.... eh, apa sih maksudmu?"
"Kau jijik ya minum secara menggelogok seperti aku? Kau tidak sudi ya karena bibir guci itu berbekas
mulutku? Kaukira aku ini penderita sakit paru-paru atau batuk kering? kau jijik?"
"Wah-wah-wah, harap jangan salah paham dan mengamuk tidak karuan. Bukan....bukan begitu,
hanya....aku tadi khawatir kau tidak suka...."
"Tidak suka apa? kau benar-benar laki-laki cerewet. Sudah tolol, cerewet lagi! Sialan bertemu laki-laki
sepertimu!"
Keng Hong tidak mempedulikannya lagi. Celaka, pikirnya. Kalau dilayani wanita ini, bisa habis dia di
maki-maki. Ia lalu tidak mau mendengarkan lebih jauh melainkan menuangkan air ke dalam mulutnya,
tidak peduli bibirnya bertemu dengan bekas bibir wanita itu. Air yang jernih dan sejuk.
"Terima Kasih,” katanya sambil mengembalikan guci air.
"Kenapa sedikit amat minumnya? Apakah kau takut minuman ini kucampuri racun?" Sambil berkata
demikian, gadis itu kembali minum dengan cara menempelkan bibirnya pada bibir guci tanpa
memilih-milih lagi. Heran sekali hati Keng Hong, mengapa menyaksikan bibir wanita itu menjepit bibir
guci yang tadi diminumnya, hatinya berdebar dan mukanya terasa panas. Namun dia merasa mendongkol
juga mendengar ucapan itu. Benar-benar wanita yang wataknya mau menang sendiri saja. Masa apa yang
dia kerjakan selalu disalahkan? Tidak mau minum salah, sekarang sudah minum masih di sangka yang
bukan-bukan. Ia menjadi gemas dan andaikata wanita ini adik perempuannya, tentu sudah dia jewer
telinganya!
"Aku tidak takut kauberi racun,” jawabnya jengkel, dan dia lalu membuang muka sambil melanjutkan,
"Sebetulnya, kau menghentikan perjalananku ada urusan apakah?"
Sampai lama gadis itu tidak berkata-kata, melainkan memandang wajah Keng Hong penuh perhatian.
Pemuda itu tahu akan hal ini karena dia mengerling dari sudut matanya. Melihat gadis itu
memperhatikannya, kembali dia mengalihkan pandang matanya. Kemudian terdengar gadis itu bertanya.
"Namamu siapa tadi? Dan berapa usiamu?"
"Cia Keng Hong.... Kalau tidak salah usiaku tujuh belas tahun.”
"Hemmm..., dan engkau murid Sin-jiu Kiam-ong? Heran benar aku....."
"Mengapa heran?"
"Seorang tokoh sakti seperti Sin-jiu Kiam-ong mengapa mempunyai seorang murid tolol seperti
engkau?"
Makin panas rasa perut Keng Hong. Terlalu benara perempuan ini, pikirnya. "Kalau sudah tahu aku
tolol, kenapa engkau menghentikan aku?"
.
Sampai lama wanita itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar dia tertawa merdu, cekikikan. "Eh, kau
marah?"
Hemmm, benar-benar tukang menggelitik hati orang, pikir Keng Hong. Gemas dia. Kalau tidak ingat
bahwa dia itu wanita tentu sudah ditamparnya. Ia tidak menjawab, hanya menggeleng kepalanya.
"Ah, kau marah. Bilang saja kau marah. Ingin aku melihat bagaimana kalau kau marah!"
Digoda terus-menerus, Keng Hong menjadi merah mukanya dan dia memandang dengan niat untuk
balas memaki. akan tetapi melihat mata yang bening indah itu, mulut yang manis tersenyum, dia menjadi
tidak tega untuk memaki, maka dia menundukkan muka lagi.
"Kau memang tolol. Kalau tidak tolol, tentu tidak kau berikan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau
itu.”
"Itu hak mereka dan aku tidak mau membantah permintaan mereka. Mereka adalah tosu-tosu yang
bijaksana dan baik, patut dipatuhi permintaan mereka. Pula, menggunakan kekerasan menentang, tak
mungkin. Mereka amat lihai, terutama sekali Kiang Tojin dan ketua Kun-lun-pai.”
"Kau penakut dan bodoh! Heran aku mengapa Sin-jiu Kiam-ong mempunyai murid seperti engkau!
Padahal menurut pendengaranku Sin-jiu Kiam-ong gagah perkasa tidak mengenal takut terhadap
siapapun juga dan amat cerdik.”
Keng Hong menarik nafas panjang. Gurunya memang seorang yang selalu gembira dan tidak pernah
mengenal takut. “Terserah wawasanmu. Aku tidak takut terhadap siapapun juga, dan tentang
kebodohan..... hemmmm, tentu saja aku tidak secerdik suhu.”
Sunyi yang agak lama. Keng Hong menunduk karena teringat akan suhunya dan mulailah hilang
kegembiraannya. Dalam hari-hari pertama semenjak dia sendirian di dunia ini, sudah terjadi hal-hal yang
tidak menyenangkan hatinya. Kalau begini terus nasibnya, bertemu seseorang wanita saja selalu
mengejek dan memakinya, mana mungkin dia dapat meniru watak suhunya yang menghadapi segala
sesuatu dengan gembira. Betapa mungkin dapat bergembira rasa hati ini kalau seorang wanita cantik jelita
mencemoohkan dan memaki-makinya?
"Keng Hong...."
Pemuda itu terkejut. Benarkah wanita itu memanggilnya? Suaranya begitu halus dan dipanggil secara
tiba-tiba setelah lama berdiam diri, dia terkejut juga.
"Hemmmm.....?" Ia menengok dan makin gugup melihat betapa sepasang mata itu memandangnya
tajam-tajam dan mulut itu tersenyum manis akan tetapi hanya sebentar saja karena segera bibir yang
merah itu cemberut lagi. "Kau memanggilku?"
"Kau laki-laki canggung benar...."
"Sudahlah, Nona. Kalau engkau menghentikan aku hanya untuk mencela, untuk apa....."
"Engkau marah?"
"Tidak"
.
"Engkau memang canggung, tidak seperti gurumu yang khabarnya..... ah, apakah kau tidak ingin tahu
siapa aku, siapa namaku dan mengapa aku datang ke Kun-lun-pai?"
Baru Keng Hong teringat dan dia merasa bahwa dia memang kurang perhatian, "Siapakah nama Nona?"
Gadis itu menahan kekehnya. Sikap Keng Hong benar-benar canggung dan gugup sehingga kelihatan
lucu. "Namaku Bhe Cui Im. Bagus tidak namaku?"
"Bagus.... bagus...." jawab Keng Hong cepat-cepat dengan pandang mata mendesak agar nona itu terus
bercerita.
"Hi-hi-hik, kau ternyata pandai juga memuji...."
"Eh...., aku..... ah, teruskanlah, Nona.”
"Aku mendengar akan keramaian yang khabarnya akan terjadi di puncak Kun-lun-san yang disebut
Kiam-kok-san, bahwa kabarnya tokoh-tokoh besar hitam dan putih hendak menjemput turunnya murid
Sin-jiu Kiam-ong yang mewarisi Siang-bhok-kiam yang amat diinginkan seluruh tokoh Kang-ouw.”
"Termasuk engkau sendiri, nona.”
"Tentu saja! Apa kaukira aku ini anak kecil yang suka menonton keramaian begitu saja? Dan aku malah
berhasil sekali, lebih berhasil daripada mereka yang menggunakan kekerasan. Mereka itu semua terusir
oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, belasan orang gagah di dunia Kang-ouw, sama sekali tidak berhasil,
melihatnya pun tidak! aku sengaja membiarkan diriku tertangkap oleh tosu-tosu bau itu. Memang harus
diakui bahwa kalau aku melawan, tidak akan mampu mengalahkan tosu-tosu yang demikian banyak,
apalagi tosu she Kiang dan gurunya itu amat lihai. aku sengaja menjadi tawanan dan akalku berhasil
memancing kau datang karena jeritan-jeritanku. akan tetapi siapa kira, karena ketololanmu, kauserahkan
pedang itu begitu saja!"
Mulai lagi maki-makian! Kini mengertilah Keng Hong mengapa gadis ini telah dapat meloloskan diri dari
ikatan kaki tangannya sebelum dilepaskan. Kiranya gadis itu memang sengaja membiarkan dirinya
ditawan. Benar-benar seorang gadis yang cerdik sekali, dan juga penuh keberanian.
"Untuk apakah engkau menginginkan pedang Siang-bhok-kiam, nona?"
"Eh-eh-eh, masih bertanya untuk apa lagi? Tentu saja untuk mendapatkan rahasianya. Keng Hong,
katakanlah terus terang, apakah engkau sudah mendapatkan pula rahasia penyimpanan kitab-kitab
pusaka yang terdapat di pedang itu?" Pandang mata itu penuh gairah, agaknya bernafsu sekali gadis ini
untuk mendapatkan kitab-kitab pusaka simpanan Sin-jiu Kiam-ong.
Keng Hong menggeleng kepalanya. "Belum dan agaknya tidak akan dapat kutemukan. Aku pun tidak
ingin kembali ke Kun-lun-san. Nona, mengapakah mereka itu semua memperebutkan rahasia itu?
Sampai mati-matian dan saling bermusuhan?"
Gadis itu menggerakkan alisnya dan memandang pemuda ini dengan heran. "Engkau benar-benar masih
hijau! Sudahlah, yang penting sekali ini ceritakan kepadaku ilmu apa saja yang kaupelajari dari Sin-jiu
Kiam-ong? Tadi kulihat engkau menggunakan ilmu yang mijizat, kau pandai menyedot sinkang orang lain,
bahkan Kiang Tojin yang begitu lihai hampir mampus ditanganmu. Ilmu apakah itu? Sukarkah kau
menceritakannya kepadaku?" Tiba-tiba saja sikap gadis ini manis sekali, wajahnya berseri matanya
bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum.
.
Keng Hong hanya bisa menggeleng kepalanya, kemudian melihat wajah cantik itu menjadi murung dia
cepat berkata, "Sungguh mati, aku sendiri tidak mengerti. Aku sendiri membenci penyakit yang ada pada
tubuhku ini. Aku tidak mempelajari apa-apa kecuali dasar-dasar ilmu silat dan beberapa pukulan dan
permainan pedang. Kalau dibandingkan dengan orang lain, tentu tidak ada artinya .”
"Hemmm, engkau pandai merendahkan diri dan bersikap sungkan, alangkah jauh bedanya dengan
gambaran tentang gurumu!" Akan tetapi kegalakkan ini segera berubah lagi, kini gadis itu tersenyum
manis, dan membuka tutup guci hendak diminumnya. Akan tetapi dia mengerutkan kening dan berkata
seorang diri, "Ah, air ini kurang sedap!" Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya dan
ketika dibuka, ternyata berisi daun-daun dan kembang-kembang kering. Dituangkannya sebungkus daun
dan kembang kering ini ke dalam guci airnya, lalu dikocoknya guci itu sambil memandang Keng Hong.
Ditatap sepasang mata seperti itu, Keng Hong menjadi tak enak hati kalau berdiam diri saja maka dia
bertanya.
"Apakah yang kau masukkan dalam air minum itu?"
"Daun wangi dan kembang harum, pengganti teh yang amat lezat dan sedap!" jawab gadis itu sambil
menggelogok air dari guci seperti tadi. Tercium bau yang harum keluar dari mulut guci. Gadis itu selesai
minum lalu menyerahkan gucinya kepada Keng Hong sambil berkata, "Kau minumlah.”
Keng Hong menggeleng kepala. "Aku tidak haus.”
"Eh, biarpun tidak haus, air ini sekarang menjadi minuman enak. Coba cium, tidak harumkah?"
Gadis itu mendekatkan mukanya dan membuka mulutnya, menghembuskan nafas ke arah muka Keng
Hong. Pemuda itu terkejut dan mukanya terasa panas sekali, jantungnya berdebar tegang. Ia merasa
canggung dan juga jengah.
"Apakah kau takut kalau air ini kucampuri racun?"
Untuk mencegah gadis itu melakukan hal-hal aneh yang lebih hebat lagi, tanpa banyak cakap Keng
Hong lalu menerima guci air dan menggelogoknya. Memang harum dan terasa agak manis, akan tetapi
mulut dan lidahnya yang terlatih tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak asing baginya. Racun! Racun
yang amat kuat dan jahat! Namun dia cepat dapat menekan perasaannya, tidak memperlihatkan sesuatu
pada mukanya, bahkan lalu terus menuangkan air beracun itu sampai habis pindah ke dalam perutnya!
Ketika dia menurunkan guci kosong dan berkata, "Lezat sekali!" gadis itu memandangnya dengan
sepasang mata bersinar-sinar.
Sambil tersenyum-senyum gadis itu kini mengambil sesuatu dan karena yang diambilnya itu agaknya
berada di saku dalam dari bajunya, ia lalu membuka dua kancing baju bagian atas. Cara ia membuka
kancing secara terang-terangan begitu saja di depan Keng Hong, dengan gaya memikat dan manis sekali.
Keng Hong terbelalak, lebih heran daripada kaget dan jengah, melihat betapa bagian atas baju itu
terbuka memperlihatkan pakaian dalam yang berwarna merah muda dan sebagian dada yang memanjat.
Gadis itu merogoh ke balik baju yang menutup dada dan mengeluarkan sebuah bungkusan merah. Ketika
dibuka, ternyata bungkusan itu berisi belasan butir pil merah. Ia mengambil dua butir dan segera
menelannya. Ia lalu mengembalikan bungkusan itu ke balik bajunya, kemudian seperti terlupa dan tidak
mengancingkan kembali baju bagian atasnya terbuka itu. Keng Hong terpaksa menundukkan muka agar
jangan melihat tonjolan dada yang berkulit putih halus itu.
"Keng Hong, lihatlah kepadaku!"
.
Terpaksa pemuda itu mengangkat mukanya memandang, mengusir ketegangan dan kebingungan hatinya.
Gadis ini jelas berusaha hendak meracunnya. Apakah maksudnya? Mengapa hendak membunuhnya? Ia
tahu bahwa racun itu dapat membunuh seorang lawan yang betapapun kuatnya.
"Lihatlah baik-baik, Keng Hong. Tidak indahkah rambutku? Tidak cantikkah wajahku? Cantik sekali,
bukan?" Gadis itu tersenyum-senyum dan mengerlingkan matanya, bergaya dan menggerak-gerakkan
mukanya agar dapat terpandang oleh pemuda itu dari depan, kiri dan kanan.
"Hemmmm, begitulah...." jawab Keng Hong yang masih mencari-cari sebab perbuatan gadis itu. Ia kini
dapat menduga bahwa pil merah tadi adalah obat pemunah racun karena si gadis tadi pun minum air
beracun.
"Lihat baik-baik, pandanglah...... tidak halus dan putih bersihkah kulitku, Keng Hong?" Suaranya kini
amat halus merdu, penuh nada merayu dan tangannya sengaja menyingkap baju atasnya agar belahan
dada tampak makin nyata.
Keng Hong menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang dan cepat dia menekan dengan kekuatan
batinnya. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami hal seperti ini, dalam mimpi pun belum!
Gadis yang bernama Bhe Cui Im itu kini bangkit berdiri, gerakannya lemah gemulai, leher, pinggang dan
lututnya melenggak-lenggok mengingatkan Keng Hong akan gerakan tubuh seekor ular.
"Pandanglah baik-baik, orang muda remaja! Tidak indahkah bentuk tubuhku? Lihat dadaku,
pinggangku, pinggulku...."
"Hemmmm, begitulah....!" hanya demikian Keng Hong dapat berkata karena kerongkongannya tiba-tiba
seperti menjadi kering kembali, seperti orang kehausan.
"Aku masih muda, cantik jelita, bertubuh menggiurkan! aku seorang gadis yang amat menarik hati,
bukan?"
"Hemmm, begitulah!"
Tiba-tiba Cui Im menghentikan gayanya dan dengan kasar dia duduk di depan Keng Hong. Senyum
manis kerling mata tajam kini lenyap dan gadis itu mengerutkan keningnya dengan bayangan hati kesal.
"Begitulah! Begitulah! Begitulah! Tidak bisa berkata lainkah, hai orang dungu? Sin-jiu Kiam-ong
kabarnya merupakan pria tukang merayu wanita nomor satu di dunia, ahli merayu dan mencumbu wanita.
Apakah gurumu yang....terkutuk itu tidak mengajarkan kepandaian merayu wanita kepadamu, heh,
bocah tolol?"
Keng Hong tersenyum. Kini dia mulai mengenal wanita ini. Wanita yang cantik jelita, namun wanita yang
amat berbahaya, seperti seekor ular berbisa. Timbul pula kegembiraannya karena terhadap seorang
wanita seperti ini, dia tidak perlu bersikap canggung, malu-malu atau takut-takut. Ia menggelengkan
kepala dan tersenyum mengejek.
"Kau sudah mau mampus, tahukah? Kau calon bangkai makanan cacing! Hendak kaulihat ke mana
perginya wajahmu yang tampan itu kalau sudah digerogoti cacing nanti. Kau tahu bahwa engkau telah
minum racun? di dalam air tadi, tolol, terdapat racun yang mematikan. Racun bunga Siang-tok-hwa
(Bunga Racun Wangi) yang kini telah memasuki perutmu, yang akan menghancurkan ususmu, membuat
.
isi perutmu menjadi busuk. Tahukah engkau? Dan obat pemunahnya hanya berada padaku, obat
pemunah pil merah seperti yang kutelan tadi. Kalau kau tidak kutolong, nyawamu pasti akan melayang
dalam waktu dua puluh empat jam! Nyawamu berada di tanganku sekarang, mengerti?"
Keng Hong mengangguk-angguk. Mengertilah dia sekarang, teringatlah dia bahwa racun yang tidak
asing baginya itu adalah Siang-tok-hwa. Tentu saja dia mengenalnya baik-baik, dan tadi dia terlupa
karena terpesona oleh sikap dan gaya gadis luar biasa ini.
"Cui Im, apakah kehendakmu? Apakah maksudnya semua ini? Mengapa kau meracuniku?"
"Karena tolol engkau menjadi menyebalkan. Segala apa tidak mengerti. Otakmu tumpul benar perlu
dicuci! Tentu saja nyawamu kucengkeram untuk ditukar dengan rahasia barang pusaka gurumu yang....
terkutuk!"
"Diam dan jangan memaki mendiang suhu atau.... aku takkan sudi melayanimu bicara lagi!"
Terbelalak mata gadis itu mendengar bentakan yang tak disangka-sangkanya akan dapat dikeluarkan
oleh mulut pemuda tolol itu. Akan tetapi hanya sebentar karena ia mengira bahwa hal itu timbul karena
kebaktian bocah ini terhadap mendiang gurunya.
"Engkau telah menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau Kun-lun-pai. Akan tetapi pedang
itu bagiku tidak ada artinya. Belum tentu bisa menangkan pedangku ini!" Gadis itu meraba pinggangnya
dan.... "Swingggg...." tangannya sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan.
Kiranya pedang itu amat tipis, terbuat daripada baja lemas sehingga dapat dipergunakan sebagai sabuk!
Kini gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke depan dada Keng Hong.
"Aku tidak butuh Siang-bhok-kiam! Yang kubutuhkan kitab-kitab pusaka dan barang-barang mustika
peninggalan suhumu. Engkau turun dari Kiam-kok-san hanya membawa pedang, berarti bahwa
pusaka-pusaka warisan itu masih belum kau bawa turun. Kauantar aku kesana, berikan semua itu
kepadaku, tunjukkan rahasianya, dan mungkin nyawamu akan kubebaskan, dan selain itu.... hemmm,
kalau kau tidak terlalu tolol, kita dapat menjadi sahabat baik!"
Keng Hong bukan seorang bodoh sungguhpun kelihatannya dia ketolol-tololan. Ia telah di racun, akan
tetapi racun yang ada obat pemunahnya pada gadis itu. Berarti bahwa dia tidak akan dibunuh. Gadis ini
menghendaki barang-barang pusaka gurunya, tentu saja tidak akan membunuhnya, melainkan hendak
memaksanya dengan jalan meracuninya. Benar-benar seorang gadis yang berhati kejam! Mengapa ada
seorang gadis cantik jelita seperti ini berhati sekejam itu? Ia merasa penasaran sekali dan perasaan inilah
yang mendorongnya untuk menyaksikan lebih lanjut sampai di mana kekejaman gadis ini dan apa yang
akan dilakukan atas dirinya.
"Aku tidak menerima warisan pusaka-pusaka yang kaumaksudkan, dan aku pun tidak tahu rahasianya.”
"Kau masih berani menyangkal dan menolak permintaanku? Kau murid tunggalnya, tak mungkin kau
tidak mewarisi pusaka-pusaka itu, apalagi Siang-bhok-kiam diberikan kepadamu. Ingat, nyaawamu
berada di tanganku, tahu? Andaikata engkau memberontak, engkau pun tidak akan mampu menandingi
pedangku. Andaikata kau mempergunakan ilmu mujizatmu dan berhasil melarikan diri, dalam waktu
sehari semalam ususmu sudah hancur berantakan dan nyawamu pun takkan tertolong. Jangan bodoh,
Keng Hong. Lebih baik engkau menuruti permintaanku agar engkau tetap hidup dan menikmati
kesenangan bersama aku.”
"Cui Im, engkaulah yang bodoh dan mengecewakan hati. Mengapa engkau menurutkan nafsu buruk
.
hendak menginginkan barang orang lain? Kalau engkau suka menurut nasehatku, insyaflah dan sadarlah
bahwa engkau terseret oleh nafsumu menuju ke jurang kesesatan. Urungkan niatmu yang buruk itu
karena sesungguhnya aku benar-benar tidak pernah melihat di mana adanya pusaka-pusaka peninggalan
suhu. Aku tidak berhasil mencarinya dan aku tidak berbohong.”
"Kalau begitu, biar aku melihat engkau mampus dengan isi perut berantakan!" bentak Cui Im dengan
suara marah dan kecewa sekali.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras "Tidak boleh dibunuh begitu saja, Tok-sian-li (Dewi
Beracun)!" Dan tampak bayangan orang berkelebat.
"Benar sekali, tidak boleh dibunuh sebelum menyerahkan pusaka peninggalan Kiam-ong kepadaku!"
berkelebat pula bayangan lain.
Kiranya yang muncul ini adalah dua orang tua yang pernah dilihat Keng Hong pada lima tahun yang lalu.
Mereka berdua itu adalah dua di antara sembilan orang sakti yang pernah menyerbu Sin-jiu Kiam-ong.
Yang pertama adalah nenek tua renta yang dia ingat bernama Lu Sian Cu dan berjuluk Kiu-bwe Toanio.
Gurunya pernah bercerita kepadanya tentang nenek ini. Menurut cerita itu, Kiu-bwe Toanio dahulunya
adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, namun yang jatuh cinta kepada gurunya yang
tampan dan gagah. akan tetapi ternyata wanita ini di kecewakan oleh Sin-jiu Kiam-ong. Kiam-ong tidak
pernah membiarkan hatinya jatuh cinta dan perhubungannya dengan Lu Sian Cu hanya dianggapnya
sebagai permainan cinta petualangan biasa saja. sebaliknya, cinta kasih wanita itu mendalam sehingga
hatinya menjadi hancur dan patah ketika Kiam-ong meninggalkannya. Adapun orang ke dua adalah si
kakek tua Sin-to Gi-hiap. Pendekar Budiman bergolok sakti yang juga menaruh dendam sakit hati
terhadap Kiam-ong untuk urusan pribadi. Isterinya yang sesungguhnya adalah hasil rampasan dari
seorang kepala rampok, isteri yang cantik jelita dan amat dicintanya, telah "dicuri" oleh Kiam-ong yang
terkenal pandai merayu wanita sehingga di antara isterinya dan Kiam-ong terjadi perhubungan rahasia.
Melihat dua orang tua yang datang ini, Bhe Cui Im tersenyum mengejek, lalu membalikkan tubuh
menghadapi mereka sambil memandang tajam dan melintangkan pedang merah itu di depan dadanya,
sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.
"Hemmm, Kiu-bwe Toanio dan Sinto Gi-hiap, bukan? Kalian sudah lari terkencing-kencing diusir oleh
tosu-tosu bau Kun-lun-pai, sekarang muncul lagi di depanku dengan niat apakah?"
Keng Hong memandang dengan heran. Makin tidak mengertilah dia akan keadaan Cui Im. Gadis cantik
jelita yang amat menarik hati ini, yang tadinya amat galak dan kadang-kadang juga amat halus memikat,
kemudian terbukti berhati palsu dan keji, kini menghadapi dua orang tokoh kang-ouw yang tua seperti
menghadapi dua orang biasa saja! Tokoh macam apakah gadis ini di dalam dunia persilatan?
Sampai-sampai dua orang locianpwe (orang tua tingkat tinggi) tidak dipandang mata olehnya, dan yang
lebih mengherankan lagi, dua orang tua itu pun agaknya tidak menganggapnya sebagai gadis muda.
"Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Racun Berpedang Merah), lekas keluarkan pil pemunah racun. Orang
muda ini tidak boleh dibunuh," kata sin-to Gi-hiap.
"Benar sekali, Tok-sian-li. Siang-bhok-kiam sudah terampas Kun-lun-pai, kalau pemuda ini dibunuh,
sungguh sayang sekali. Kasihan murid Sin-jiu Kiam-ong yang tidak bersalah apa-apa...." sambung
Kiu-bwe Toanio.
Tiba-tiba Cui Im tertawa bergelak, tanpa menutupi mulutnya, sikapnya kasar sekali. Keng Hong makin
terheran-heran. Kiranya Bhe Cui Kim mempunyai julukan yang demikian menyeramkan. Ang-kiam
.
Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Merah)! Tentu seorang tokoh besar dari golongan sesat! Pantas
saja Kiang Tojin menyatakan bahwa gadis cantik itu dari dunia hitam, seorang tokoh kaum sesat. Akan
tetapi masih begitu muda! Masa memiliki tingkat kedudukan yang sejajar dengan Kiu-bwe Toanio dan
Sin-to Gi-hiap?
"Hi-hi-hik! Kiu-bwe Toanio, alangkah lucunya melihat lagakmu. Engkau terkenal sebagai pendekar
wanita sejak muda, akan tetapi kiranya engkau pun hanya seorang yang pada lahirnya saja pendekar
padahal sebenarnya di dalam hatimu mengandung maksud-maksud yang tidak lebih bersih daripada
maksud hatiku. Kau pura-pura merasa kasihan dan ingin menolong pemuda ini, padahal yang kauinginkan
adalah benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Aku pun menghendaki benda-benda itu dan
aku berterus terang, tidak pura-pura seperti engkau!"
"Hemmmm, Tok-sian-li. Hanya karena mengingat akan nama gurumu maka aku seorang tua masih
berlaku hormat kepadamu. Jangan engkau membuka mulut sembarangan saja! Memang aku
menghendaki barang-barang pusaka Sin-jiu Kiam-ong, akan tetapi hal itu adalah karena dosa-dosa
Kiam-ong kepadaku yang harus dia bayar lunas dengan benda-benda pusaka peninggalannya! Tidak
seperti engkau yang hendak merampok begitu saja dengan menekan muridnya.”
"Hi-hi-hik, nenek tua yang tak tahu malu! Engkau sendiri yang dahulu tergila-gila kepada Kiam-ong,
engkau sendiri yang mengejar-ngejarnya, ingin selalu berada dalam pelukannya, menikmati cumbu rayu
dan belaiannya! Kiam-ong tidak sudi menjadi suamimu, kenapa kau katakan hal ini dosa? Hi-hi-hik,
sungguh menjemukan!"
"Tok-sian-li, biar engkau menggunakan nama besar gurumu, penghinaanmu harus dibayar dengan
nyawa!” Kiu-bwe Toanio marah sekali dan ia menggerakkan pecutnya yang berekor sembilan itu di
udara sehingga terdengar suara ledakan-ledakan "Tar-tar-tar....!!"
"Huh, pecutmu itu hanya dapat untuk menakut-nakuti anjing dan anak-anak kecil!" Cui Im mengejek dan
tiba-tiba tangan kirinya bergerak. Sinar-sinar merah yang kecil-kecil menyambar ke arah nenek itu
dengan kecepatan laksana kilat menyambar. Itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang amat
berbahaya, sekali sambit secara beruntun ada dua puluh satu buah jarum halus menyambar lawan. Setiap
batang jarum merupakan tangan maut karena racun yang dikandungnya cukup untuk merenggut nyawa
orang. Kini dua puluh satu buah jarum menyambar dan mengarah jalan-jalan darah yang penting, dapat
dibayangkan betapa hebatnya!
"Perempuan keji!" Kiu-bwe Toanio memaki, akan tetapi dia sibuk juga memutar senjata cambuknya
untuk melindungi tubuh. Hanya dengan memutar cambuk itu cepat-cepat maka ia dapat menghindarkan
jarum-jarum yang tak berani ia anggap ringan itu.
"Nenek tua mampuslah!" Cui Im telah melesat ke depan dan pedangnya berubah menjadi sinar merah
yang bergulung-gulung ketika ia menerjang lawannya sebagai serangan lanjutan daripada jarum-jarumnya.
Gadis ini ternyata selain pandai melepas jarum, juga amat cerdik. Ia maklum bahwa Kiu-bwe Toanio tak
mungkin dapat mudah dirobohkan dengan jarum-jarumnya, maka serangan jarumnya tadi hanyalah untuk
mengacau lawan, dan kini selagi lawannya memutar cambuk menghindarkan diri daripada ancaman
jarum-jarum, ia telah menerjang dengan pedangnya yang gerakannya amat cepat dan kuat. Keng Hong
yang melihat gerakan gadis ini diam-diam kagum dan juga terkejut sekali. Dilihat gerakannya, ilmu
pedang gadis itu benar-benar lihai bukan main dan agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat
kesembilan orang sakti yang pernah menyerbu suhunya.
"Tar-tar-tar.... wuuuuutttttt..... trang-trang....!"
.
Sembilan ekor ujung cambuk itu dimainkan di tangan Kiu-bwe Toanio seolah-olah menjadi sembilan
ekor ular yang bergerak hidup, sebagian lagi membalas dengan totokan-totokan kilat yang disusul dengan
gerakan mengait! Betapapun hebat gerakan pedang di tangan Cui Im, namun dihadapi sembilan ujung
cambuk yang menangkis dan balas menyerang itu dia terkejut sekali. Pedangnya diputar dan ia
mengeluarkan pekik nyaring, disusul jerit kaget Kiu-bwe Toanio. Sejenak kedua orang ini lenyap menjadi
bayangan yang berputaran di antara sinar merah dan sinar hitam cambuk itu, kemudian keduanya
mencelat ke belakang didahului Cui Im yang terpaksa melompat jauh untuk menghindarkan serangan
enam buah kaitan. Ia turun dan melintangkan pedangnya dengan wajah agak berubah karena ia kini
maklum betapa lihai nenek itu dan yang ternyata merupakan lawan yang berat juga. Di lain pihak, nenek
itu mengeluarkan suara gerengan marah karena tiga buah kaitan berikut tiga ujung cambuknya telah
buntung oleh pedang yang amat lihai di tangan Cui Im.
Pada saat itu, Sin-to Gi-hiap yang melihat kesempatan baik, sudah meloncat mendekati Keng Hong dan
berkata, "Orang muda, kau harus ikut bersamaku sebagai wakil suhumu!"
Kakek itu dengan golok telanjang di tangan kanan menyambar Keng Hong dengan tangan kirinya,
hendak mencengkram pundak pemuda itu. Sebelum Keng Hong sempat mengelak, sinar merah
berkelebat dan kakek itu cepat menarik kembali tangannya karena kalau dilanjutkan, tentu akan buntung
terbabat pedang yang dibacokan Cu Im.
"Kakek tua bangka, jangan sentuh pemuda ini!"
Sin-to Gi-hiap menghela napas panjang. "Nona, mengingat gurumu, biarlah kami orang tua mengalah.
Marilah kita berunding baik-baik. Benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong amatlah
banyaknya, kalau kita bertiga membagi rata, masih amat banyak bagian kita masing-masing. Kurasa
Kiu-bwe Toanio juga tidak keberatan."
Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuknya. Ia maklum bahwa gadis itu amat lihai ilmu
pedangnya, apalagi kalau ia mengingat guru gadis itu, benar-benar tak boleh dijadikan lawan dan jauh
lebih baik dijadikan kawan. Maka ia mengangguk dan menggumam, "Asal orang muda tidak kurang ajar
terhadap orang tua, aku pun bukan seorang serakah yang ingin memiliki seluruh pusaka."
Cu Im melangkah maju mendekati Keng Hong lalu memegang tangan pemuda itu dengan tangan
kanannya yang menyembunyikan pedang di balik lengan. "Uh, kalian mau enaknya saja! Siapa yang lebih
dulu mendapatkan murid Sin-jiu Kiam-ong ini? Aku! Kalau kalian semua lari terbirit-birit diusir tosu-tosu
Kun-lun-pai, aku malah membiarkan diriku dijadikan seorang tawanan! Setelah aku berhasil
mendapatkan pemuda ini, kalian masing-masing mau minta bagian! Benar-benar tak tahu malu!" Tiba-tiba
gadis itu menggerakan tangan kiri, membanting sesuatu di depan dua orang lawan itu dan terdengarlah
ledakan keras diikuti asap hitam mengebul. Dua orang tua itu adalah orang-orang sakti yang sudah
berpengalaman. Cepat mereka melompat mundur menjauhkan diri, maklum betapa berbahaya asap hitam
yang timbul dari ledakan itu. Dan memang tepat sekali dugaan mereka karena kalau keduanya tidak
menjauhkan diri dan sampai menghisap asap hitam itu, nyawa mereka terancam maut yang disebar oleh
asap hitam yang amat beracun itu! Ketika mereka meloncat dengan jalan memutari asap itu, ternyata Cui
Im dan Keng Hong sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.
"Kurang ajar! Mari kita kejar!" Kiu-bwe Toanio berseru dan menggerak-gerakan cambuknya yang
tinggal berekor enam itu. "Tar-tar-tar!" Dua orang tokoh lihai ini lalu melesat dan melakukan pengejaran
akan tetapi karena mereka berdua tidak melihat ke jurusan mana larinya Cui Im, mereka mengejar secara
ngawur dan ternyata mereka menuju ke jurusan yang berlawanan. Kalau Cui Im yang mengempit tubuh
Keng Hong lari ke selatan, mereka mengejar ke barat! ***
.
"Keng Hong, kita beristirahat dan bermalam di sini!" Kata Cui Im sambil melempar tubuh Keng Hong di
atas rumput hijau dalam sebuah hutan. Senja telah berlalu dan keadaan cuaca di dalam hutan sudah
remang-remang. Cui Im lalu menyalakan api dan membuat api unggun sehingga di situ selain hangat dan
tidak diganggu nyamuk, juga agak terang. Kemudian gadis cantik itu duduk mendekati Keng Hong yang
bersandar pada batang pohon.
"Keng Hong, waktumu sudah terlewat sehari, tinggal malam ini. Kalau kau tidak kuberi obat penawar,
besok pagi engkau mampus."
Keng Hong menarik napas panjang memperlihatkan muka duka padahal di dalam hatinya dia menjadi
geli. "Mampus ya biarlah, malah tidak repot menjadi rebutan seperti sekarang ini!"
"Eh, eh, eh! engkau masih muda remaja, baru tujuh belas tahun usiamu, belum mengecap kenikmatan
hidup, mengapa ingin mati?"
"Ingin mati sih tidak, akan tetapi kalau engkau meracuniku sampai mati, aku bisa berbuat apakah?"
"Engkau tidak ngeri? Tidak takut mati?"
"Mengapa takut? Apakah engkau takut mati, Cui Im?"
Gadis itu mengangguk, memandang wajah tampan itu dengan heran dan kagum.
"Hemmm, alangkah anehnya kalau ada orang takut mati. Mati itu apa sih? Siapa yang pernah
mengalaminya? Siapa yang mengetahuinya bagaimana kalau sudah mati? Apakah menakutkan? Kalau
belum tahu, perlu apa takut? Aku tidak takut mati karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana,
seperti juga dahulu aku tidak takut lahir karena ketika itupun aku tidak tahu bagaimana itu yang disebut
hidup!"
"Wah, engkau ini selain tolol dan bandel, juga aneh!"
"Engkau lebih aneh lagi. Ketika berada di Kun-lun-san, engkau membiarkan dirimu menjadi tawanan,
berpura-pura seperti orang yang tidak memiliki kepandaian, padahal tadi ketika menghadapi Kiu-bwe
Toanio, engkau lihai sekali."
Cui Im tertawa, giginya berkilauan disentuh sinar api unggun. "Kalau tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai itu
mengetahui bahwa aku adalah aku, tentu mereka tidak akan mudah melepaskan aku pergi, biarpun
engkau yang memintanya."
"Engkau siapa sih? Aku dengar tadi mereka menyebutmu Ang-kiam Tok-sian-li. Julukan yang bagus dan
juga mengerikan! Ang-kiam (Pedang Merah) dan Sian-li (Bidadari) memang bagus, akan tetapi terselip
kata-kata Tok (Racun), sayang sekali. Dan buktinya engkau memang tukang meracuni orang! Mengapa
seorang gadis muda jelita macam engkau begini ganas, sungguh sukar dimengerti."
Cui Im tertawa lagi dan memegang lengan pemuda itu dengan sikap mesra.
"Kau bilang aku jelita? Benarkah?"
"Kalau aku tidak bilang kau jelita, berarti aku membohongi diri sendiri. Engkau memang jelita, Cui Im."
Gadis itu makin girang hatinya. "Aduh, kalau kau selalu bersikap manis kepadaku, aku menjadi tidak
.
tega membunuhmu, Keng Hong. Kau tampan sekali, dan banyak gadis akan kehilangan hatinya kelak
kalau berhadapan denganmu."
Jantung Keng Hong berdebar, dia selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita muda dan cantik,
belum pernah dipuji dan di rayu. Cepat dia menekan perasaannya dan mengalihkan percakapan.
"Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap adalah dua orang locianpwe yang berilmu tinggi, akan tetapi
terhadapmu seperti orang jerih, dan selalu menyebut-nyebut gurumu. Siapa sih gurumu yang agaknya
amat mereka takuti itu, Cui Im?"
"Guruku adalah orang yang terpandai di kolong langit ini! Agaknya hanya Sin-jiu Kiam-ong saja yang
dapat menandinginya, akan tetapi setelah Kiam-ong meninggal, guruku menjadi jago nomer satu di dunia!
Dia adalah orang pertama dari Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding) yang menguasai daerah
selatan dan berjuluk Lam-hai Sin-ni (Dewi Laut Selatan). Akan tetapi..... ah, Keng Hong, marilah bawa
aku ketempat rahasia penyimpanan kitab-kitab rahasia suhumu, kita mempelajari bersama dan..... kita
berdua akan menjadi sepasang jago nomer satu di dunia. Guruku sendiri takan mampu melawan kita.
Marilah, kekasih.....!" Cui Im merangkul leher Keng Hong. Tercium keharuman yang amat sedap dari
muka dan rambut gadis itu, membuat Keng Hong menjadi makin berdebar jantungnya dan terpaksa dia
memejamkan matanya
"Bagaimana, Keng Hong? kuberi obat pemunah, ya? Kemudian.... kemudian kita bersenang-senang
malam ini besok kita pergi ke Kun-lun-san, ke Kiam-kok-san dan mengambil semua pusaka peninggalan
suhumu.... ya??"
Keng Hong sudah memejamkan mata dan sudah mengumpulkan seluruh panca indra untuk menekan
batinnya yang bagaikan air yang tenang mulai diguncang nafsu. Ia menggeleng kepala dan berbisik, "Aku
tidak tahu di mana tempatnya itu."
Cui Im melepaskan rangkulanya dan lenyap pula kemesraanya. Ia mendengus dan menjauhkan diri,
duduk merenung di depan api unggun. Keng Hong membuka matanya dan memandang punggung gadis
itu yang menggunakan sepuluh jari tanganya menekuk-nekuk batang rumput, berkali-kali menarik napas
panjang dan kelihatanya jengkel sekali. Keng Hong terheran mengapa ada seorang gadis secantik itu,
sehalus itu, berhati kejam dan jahat, mengejar kepandaian secara membuta. Ia merasa sayang sekali.
Kalua dia terbayang akan belaian dan bujuk rayu tadi, kakinya menggigil. Apa yang akan diperbuat
gurunya, andaikata Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi dia? Dia tidak takut akan racun yang memasuki
perutnya tadi. Selama dia berguru kepada Sin-jiu Kiam-ong, gurunya itu setiap hari memberinya minum
segala macam racun, sedikit demi sedikit!
"Kaki tangan seorang lawan dapat kauhadapi dengan kaki tangan pula, muridku," demikian gurunya
memberi keterangan, "akan tetapi lawan yang licik suka mempergunakan racun yang dicampur dalam
makanan atau minuman. Banyak terdapat racun yang jahat sekali dan yang tidak berbau apa-apa, tidak
terasa apa-apa. Namun dengan kebiasaan minum sedikit racun setiap hari, lidahmu akan menjadi biasa
dan dapat mengenal setiap racun yang dicampur makanan atau minuman. Juga, dengan cara sedikit demi
sedikit, makin lama makin tambah takarannya masukan racun-racun itu ke perut, engkau akan menjadi
kebal terhadap segala macam racun."
Demikianlah, ketika dia minum air yang dicampur racun, dia segera mengenal racun itu, akan tetapi
mengandalkan kekebalan perutnya dia tidak khawatir dan minum terus sampai habis. Dengan sinkang
yang disalurkan ke perut, dia tadi telah mengumpulkan racun di perutnya dan dalam perjalanan tadi
ketika dia dipanggul Cui Im, diam-diam dia telah memuntahkan kembali racun itu sehingga kini perutnya
bersih daripada racun.
.
Kembali Keng Hong memperhatikan Cui Im. Kini gadis itu agak miring duduknya sehingga tampak dari
samping wajah yang cantik itu. Wajah yang disinari api merah, sedikit tertutup juntaian rambut hitam,
benar-benar amat mempesonakan. Ketika tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya, seolah-olah terasa
pandang matanya, Keng Hong cepat meramkan matanya. Dia memang lelah dan mengantuk, maka kini
dia mengambil ketetapan hati untuk meram terus dan tidur, tidak lagi mempedulikan gadis itu.
"Keng Hong....!"
Pemuda itu membuka matanya dan memandang gadis yang bersimpuh di depannya. "Enak saja kau
tidur!"
"Habis mau apa lagi? Mengapa kau mengganggu orang tidur?"
Gadis itu makin gemas. Orang ini sudah terkena racun, sudah menghadapi kematian, namun masih
enak-enak saja. Biarpun seorang di antara tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw macam mereka yang
disebut locianpwe, kiranya akan menjadi gelisah dan akan berdaya sedapat mungkin untuk
menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi pemuda ini enak-enak saja tidur. Selain heran dan penasaran,
juga dia menjadi kagum dan makin tertarik karena sukarlah mencari seorang pemuda setenang ini.
Ataukah memang karena tololnya? Dia tidak menghendaki kematian Keng Hong, karena kematian
pemuda ini tidak saja akan membuyarkan cita-citanya mendapatkan kitab-kitab simpanan Kiam-ong,
juga gurunya akan menjadi marah sekali kepadanya. Apa yang ia harus lakukan untuk dapat membujuk
pemuda ini?
"Keng Hong, apakah kau tidak merasa sakit?"
Keng Hong menggeleng kepala.
"Perutmu tidak mulas? Racun itu tentu telah mulai bekerja."
Kembali pemuda itu hanya menggeleng.
"Kau memang aneh. Karena umurmu tinggal malam ini, biarlah kuhadiahi engkau arak wangi yang
kubawa. Jarang ada orang kuberi arak ini, kalau bukan orang yang kusenangi."
"Hemmm, engkau senang kepadaku?"
Cui Im memandang dan melempar kerling memikat, senyumnya kini manis sekali. "Ah, betapa bodohnya
engkau Keng Hong. Aku senang kepadamu, aku cinta kepadamu, masih butakah matamu? Aku tidak
ingin melihat engkau mati besok."
"Engkau ingin memaksa aku mencari pusaka suhu, bukan tidak ingin melihat aku mati."
"Betul juga, akan tetapi aku cinta padamu. Kau seorang pemuda yang jantan, tabah dan luar biasa. Mari,
kuhadiahi engkau arak wangi." Cui Im mengeluarkan sebuah guci arak kecil dari balik bajunya, membuka
tutupnya dan terciumlah bau yang amat wangi, seperti puluhan macam bunga wangi dikumpulkan dalam
guci arak itu. Keng Hong tidak banyak cakap lagi, namun dia haus dan bau arak itu amat sedap. Ia
menerima guci itu dan menodongkan ke mulutnya.
"Racun atau obat penawar?" tanyanya sebelum minum.
.
Cui Im makin kagum. Di dunia ini tak mungkin menjumpai orang seperti pemuda ini, yang begitu tenang
dan dingin menghadapi ancaman racun, padahal pemuda itu sudah mengenal namanya sebagai Tok-sianli
(Dewi Beracun)! Hebat bukan main!
"Kalau arak ini beracun, bagaimana?" Ia bertanya, memancing.
"Racun pun boleh, asal enak diminum. Aku sudah diracuni, ditambah lagi sedikit atau banyak apa
bedanya?" Jawab Keng Hong lalu meminum arak itu dari guci. Lidahnya segera dapat merasa bahwa di
dalam arak ada racunnya, akan tetapi racun ini berbeda dengan racun tadi. Racun yang berada di dalam
arak ini racun yang amat halus, bahkan bukan racun cair karena begitu diminum, racun itu menjadi
segumpal hawa yang harum. Dia tidak tahu racun apa ini, akan tetapi dia mengerahkan sinkangnya
menerima racun itu dan membiarkan gumpalan hawa wangi itu berkumpul di dalam dadanya. Setelah guci
kecil itu kosong, baru dia mengembalikannya kepada Cui Im, dan mengusap mulut dengan ujung lengan
bajunya.
Cui Im memandang dengan mata terbelalak, kemudian dia tersenyum-senyum ketika melihat pemuda itu
menyandarkan diri di batang pohon dan meramkan mata seperti orang mengantuk. Ia percaya penuh
akan kemanjuran racun araknya dan mengharapkan hasil sekali ini. Arak yang dicampur racun itu amatlah
kuatnya dan merupakan arak buatan gurunya yang ampuh sekali. Bukan racun untuk membunuh,
melainkan racun untuk pembangkit berahi, racun perangsang yang dibuat dari beberapa macam lalat dan
semut dicampur sari bunga-bunga wangi. Penduduk kepulauan di selatan mempergunakan sebagian kecil
saja dengan cara pembuatan sederhana untuk meracuni kuda yang hendak dikawinkan. Tanpa racun ini,
sukar mengawinkan kuda betina. Kini, yang diminumkan oleh Cui Im kepada Keng Hong merupakan
sarinya, kerasnya bukan main dan kiranya cukup untuk pembangkit nafsu berahi dua puluh ekor kuda!
Keng Hong yang meramkan mata itu sesungguhnya tidak tidur. Dia mendengarkan gerak-gerik Cui Im
yang menurut pendengaranya seperti orang gelisah. Akan tetapi dia tidak perduli dan meramkan mata,
mengheningkan cipta dan mengerahkan sinkang untuk menahan gumpalan hawa beracun yang aneh itu. Ia
tahu bahwa racun ini amat berbahaya, sungguhpun dia tidak tahu bagaimana bahayanya. Tubuhnya
menjadi panas, padahal racun itu masih tertahan olehnya. Ia menanti saat baik untuk menghembuskan
keluar racun itu di luar tahu Cui Im, karena dia pun hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan gadis itu
selanjutnya.
Akan tetapi, apa yang akan dihadapinya sungguh di luar dugaannya sama sekali. Lewat tengah malam,
Keng Hong yang mengantuk itu tiba-tiba mendengar panggilan yang mesra dan halus, dibisikan dekat
telinganya.
"Keng Hong....., ah, Keng Hong.....!"
Ia membuka matanya. Api unggun masih menyala dan di antara sinar merah api itu, dia melihat Cui Im
merangkul dan membelainya, lengan yang telanjang membelit lehernya seperti ular, dada yang tak ditutupi
apa-apa membusung dan menekan dadanya sendiri. Gadis itu memeluk dan membelainya dalam keadaan
telanjang bulat. Keng Hong membelalakan matanya, mulutnya ternganga dan dapat dibayangkan betapa
gagetnya ketika pada saat itu Cui Im mencium mulutnya yang sedang ternganga itu sehingga mulut mereka
bertemu seperti guci arak dengan sumbatnya. Karena kaget, Keng Hong mengeluarkan suara "ahhh!"
dari dadanya dan.... segumpal hawa racun wangi yang dia kumpulkan dan tahan dengan kekuatan
sinkang telah terhembus keluar, memasuki mulut Cui Im yang terbuka dan langsung ke dalam dada gadis
itu.
"Aiiihhhh.....!" Cui Im menjerit dan terjengkang ke belakang. Ia terbatuk-batuk, memegangi leher yang
serasa tercekik, tubuhnya mengeliat-geliat seperti seekor ular terkena api. Keng Hong memandang
.
dengan mata terbelalak, setengah kasihan, setengah geli bahwa tanpa disengaja racun itu meracuni Cui Im
sendiri, juga setengah kagum menyaksikan betapa tubuh yang indah itu mengeliat-geliat seperti itu. Harus
dia akui bahwa selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan keindahan tubuh seperti tubuh Cui Im.
Dalam mimpi pun tak pernah.Kini barulah dia mengerti mengapa mendiang Sin-jiu Kiam-ong, suhunya,
dikatakan mata keranjang dan tukang memikat wanita. Kiranya tubuh indah dan wajah cantik seperti
yang dimiliki Cui Im inilah yang membuat suhunya seperti itu. Hati pria mana takkan tertarik? Bukankah
keindahan wanita memang khusus diciptakan untuk menarik hati pria? Kerbau, kuda, burung dan segala
macam binatang tentu akan tertarik akan keindahan wajah dan tubuh seorang wanita!
"Tamasya alam yang indah memang minta kita pandang dan kagumi. Bunga-bunga cantik wangi memang
minta kita pandang dan ciumi. Wanita-wanita cantik jelita memang minta kita cinta dengan kasih mesra.
Engkau bahagia dalam hidupmu kalau tidak terjerat cinta kasih yang mendalam, muridku. Sekali terjerat,
engkau akan menikah, dan sekali kau menikah, berarti engkau memberikan kaki tanganmu untuk diikat
selama-lamanya dengan kewajiban-kewajiban! Karena itu jauhkan diri daripada ikatan cinta kasih yang
mendalam, sungguhpun engkau telah berhubungan dengan banyak wanita. Kalau memang engkau suka,
jangan menolak cinta wanita, hanya jangan berikan hatimu, jangan berikan cinta kasihmu, cukup kau
berikan tubuhmu." Demikianlah pernah dia mendengar wejangan gurunya yang terkenal sebagai seorang
pemikat wanita! Tadinya, wejangan seperti itu hanya lewat saja di hatinya karena belum terpikirkan
olehnya bahwa dia akan menghadapi hal-hal seperti itu, tidak terpikirkan olehnya bahwa dia akan
bertemu dengan wanita-wanita sehingga timbul persoalan cinta kasih. Akan tetapi sekarang, baru saja dia
turun dari Kiam-kok-san, dia telah bertemu dengan hal yang dikatakan suhunya itu!
Kini Cui Im tidak menggeliat-geliat lagi seperti cacing kepanasan. Gadis itu masih terengah-engah dan
memegangi lehernya, kemudian mengangkat mukanya memandang Keng Hong. Rambutnya yang terurai
itu sebagian menutupi mukanya. Mukanya merah sekali, bibir dan rongga mulutnya yang agak terbuka
lebih merah lagi, matanya memandang penuh gairah, hidungnya berkembang-kempis seakan-akan terlalu
sempit liangnya untuk jalan keluar pernapasan.
"Keng Hong..... Ah-hah..... Keng Hong........" Cui Im yang tadinya berlutut itu kini merangkak maju
menghampiri Keng Hong, kemudian menubruk pemuda itu, merangkul dan menciumi sambil membisikan
kata-kata yang tidak ada artinya, kemudian tangannya meraba-raba ke arah kancing pakaian Keng
Hong.
Keng Hong Menjadi geli hatinya dan di luar kesadaranya sendiri, dia membiarkan semua perbuatan Cui
Im. Ia teringat akan gurunya, teringat akan nasihat gurunya, dan timbul watak petualang yang memang
terdapat dalam sudut hati setiapa orang manusia, yang membuat dia ingin mengalami segala macam hal.
Keng Hong tidak menolak segala keinginan Cui Im, dan membiarkan diri sendiri menjadi murid yang
melayani segala kehendak Cui Im yang sedang diamuk nafsu berahi yang dirangsang oleh hawa racunnya
sendiri. Cui Im sama sekali tidak mengira bahwa akan menjadi begini urusannya. Bukan hanya dia sendiri
menjadi korban racunnya, bahkan tanpa diketahui olehnya atau oleh Keng Hong sendiri, di dalam
hubungan mereka itu pun timbul pula daya sedot mujijat dalam tubuh Keng Hong sehingga setelah lewat
malam itu, Cui Im terkulai seperti orang kehabisan tenaga, setengah pingsan di atas rumput. Adapun
Keng Hong yang sudah membereskan pakaiannya sendiri, enak-enak saja nongkrong di bawah pohon
dan membesarkan api unggun. Hanya wajahnya yang tampak kemerahan dan segar, pandang matanya
berbeda dari kemarin karena ini pandang matanya menjadi "masak". Keng Hong mulai lewat tengah
malam tadi telah berubah dari kanak-kanak menjadi seorang laki-laki dewasa. Agaknya benar seperti
diramalkan Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai bahwa bocah ini akan lebih hebat dari Sin-jiu
Kiam-ong!
"Keng Hong....!" Suara itu terdengar lemah namun penuh rayuan, penuh cinta kasih, keluar dari mulut
Cui Im yang menggeliat seperti seekor kucing kekenyangan. Kemudian dia bergidik, merasa betapa
.
dinginnya hawa pagi dan agaknya baru disadarinya bahwa ia bertelanjang. Dengan malas Cui Im
menyambar pakaiannya, mengenakan sejadinya, kemudian tiba-tiba ia meloncat dengan pakaian kusut
dan rambut masih terurai lepas, meloncat ke dekat Keng Hong yang masih enak-enak membesarkan api
unggun.
"Keng Hong! Kau..... kau..... ah, lekas, kau telan pil pemunah racun itu.....! Ah, sudah pagi... celaka,
terlambat sudah.... aduh, Keng Hong, Keng Hong kekasihku.....!" Cui Im menangis tersedu-sedu dan
merangkul leher Keng Hong.
"Kau ini kenapa sih?" Keng Hong bertanya tak acuh.
"Kenapa? Kau masih enak-enakan saja? Racun itu..... engkau berada di ambang maut dan obat
pemunah tidak ada gunanya lagi. Kau akan mati, Keng Hong!"
Pemuda itu menoleh dan tampak olehnya betapa wajah itu tidaklah sejelita malam tadi! Ia tidak tertarik
oleh kecantikan Cui Im, bahkan merasa tidak senang. Padahal wajah itu masih sama, dan mengertilah dia
akan keterangan suhunya tentang perbedaan antara cinta sejati dan cinta nafsu. Cinta sejati tidak
mengenal cantik atau tidak, tidak mengenal bosan karena cintanya mendalam dan ada kontak serta
getaran antara jiwa dan batin kedua fihak. Sebaliknya, cinta nafsu hanyalah cinta yang timbul karena
dorongan nafsu, karena kecantikan yang amat dangkal, hanya sedalam kulit sehingga cinta nafsu ini sekali
terpuaskan akan menjadi bosan.
"Aku tidak akan mati."
"Apa? Dan racun itu.....? Racun ganas sekali!"
"Sudah kutumpahkan kembali. Aku tidak akan mati oleh racunmu, Cui Im."
Gadis itu terbelalak dan tidak senang melihat sikap Keng Hong yang begitu dingin, seolah-olah lenyap
cinta kasihnya kepadanya, padahal baru saja, setengah malam penuh, mereka bercinta kasih tak
mengenal batas. Ia menggelung rambutnya, memandang dengan kagum. Pemuda ini hebat! Hebat
segala-galanya, pikirnya. Diracuni tidak mati, dan dari pengalamannya semalam harus ia akui bahwa
belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang pria seperti Keng Hong ini. Ia segera menghampiri
dan merangkul pundak Keng Hong.
"Syukurlah kalau begitu, kekasihku. Keng Hong, kita telah.... telah menjadi suami isteri yang tidak syah!
Engkau patut menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong. Aaahhhhh, kekasihku, kita saling mencintai, hidup berdua
mati bersama, bukan? Mari kita pergi mencari peninggalan suhumu yang sakti....."
"Tidak! Kau pergilah, Cui Im.Sudah cukup agaknya aku mengalah terus dan menuruti semua
perintahmu. Aku itdak menyesal karena terus terang saja, aku senang padamu. Akan tetapi jangan harap
untuk dapat membujuk atau memaksa aku mencari pusaka guruku karena selain aku tidak tahu
tempatnya, juga aku tidak mau. Pergilah!"
"Ihhhh....! keparat!" Cui Im meloncat tinggi melepaskan pelukannya dan dia jatuh berdebuk di atas
tanah. "Heeeee.....? Ke.... kenapa....?" Gadis itu terbelalak matanya dan terheran-heran, juga menjadi
gelisah sekali. Mengapa dia seolah-olah kehilangan tenaga sinkangnya? Meloncat begitu saja ia terbanting
roboh! Akan tetap kemarahannya membuat ia melupakan keadaan yang aneh ini dan ia sudah bangkit
berdiri, lalu memaki.
"Kau laki-laki tak berbudi! Kau laki-laki pemikat! Setelah menikmati tubuhku, kau mengusir aku pergi
.
begitu saja!"
"Ingat, bukan aku yang memikat, melainkan kau sendiri. Pergilah!"
"Jahanam.....!" Cui Im melompat maju dan mengirim pukulan ke arah punggung Keng Hong.
"Bukkk! Aiiihhh....!" Keng Hong masih duduk enak-enak, nongkrong di depan api unggun, sebaliknya
tubuh Cui Im terlempar ke belakang dan gadis itu mengelus-elus tangan kanannya yang dipakai memukul
tadi, matanya terbelalak. Ia tadi merasa dalam pukulannya betapa tangannya mendadak lemah sekali,
sebaliknya punggung pemuda itu seperit dilindungi hawa yang amat kuat.
"Aku.... aku.... kenapa....?" Kembali Cui Im berseru heran dan penuh kengerian. "Keng Hong....
kauapakan aku.....?"
Keng Hong bangkit berdiri dan membalikan tubuh menghadapi gadis itu. "Cui Im, kau tahu aku tidak
melakukan apa-apa. Semenjak kemarin, adalah engkau yang selalu menggangguku."
"Aku.... tenaga sinkangku..... kosong dan kering.... tenagaku amat lemah....."
Keng Hong juga tidak mengerti mengapa, dan dia tidak peduli karena bukan dia yang menyebabkan
gadis itu demikian. Keng Hong tidak tahu, seperti dahulu di Kun-lun-san dia juga tidak sadar bahwa dia
telah menyedot tenaga Kiang Tojin dan para tosu lain, semalam pun tanpa disadarinya, sebagian besar
sinkang ditubuh Cui Im telah berpindah ke dalam dirinya. Keanehan yang terjadi dalam tubuh Keng Hong
adalah bahwa setiap kali dia menghadapi serangan sinkang yang kuat, secara otomatis tenaga sedotan itu
bekerja tanpa disengaja dan tanpa dapat dia dicegah. Karena sinkang dari Cui Im tidaklah sekuat
sinkang-sinkang Tojin dan tosu-tosu lainnya, maka Keng Hong tidak terlalu merasakan perbedaannya,
tidak seperti ketika berada di Kun-lun-san itu. Kini dia hanya merasa tubuhnya segar dan sehat, sama
sekali tidak merasa lelah.
Sementara itu, Cui Im juga sudah menekan keguncangan hatinya. Ia menghilangkan kebingungannya
dengan anggapan bahwa sinkangnya sebagian besar lenyap karena pengaruh hawa beracun, yaitu racun
perangsang yang entah bagaimana telah berpindah ke dalam dadanya ketika ia mencium mulut Keng
Hong semalam. Ia kni menjadi tenang kembali dan tidak menggunakan sinkang, tidak mengerahkan hawa
dari pusar, melainkan mencabut pedang merahnya lalu menodong dan mengancam.
"Keng Hong, sungguhpun racun itu tidak dapat membunuhmu, pedangku ini masih dapat mengirim
nyawamu ke neraka kalau kau menolak permintaanku!"
Keng Hong memandang ujung pedang yang menodong dadanya, lalu menghela napas panjang. "Sayang
sekali, Cui Im. Engkau seorang gadis cantik jelita dan berkepandaian tinggi, namun semua itu tidak ada
artinya kalau hatimu sekotor ini. Kulihat sinkangmu sudah lemah, kalau aku mempergunakan tenaga mana
mungkin pedangmu dapat mengusikku? Akan tetapi aku tidak akan menggunakan tenaga, dan biarlah
kujadikan engkau sebagai penguji karena selama turun gunung aku belum pernah menggunakan kiam-sut
yang kupelajari dari suhu."
Cui Im membuat gerakan menusukan pedangnya, akan tetapi dengan tangan miring, jari-jari tangan
Keng Hong yang disaluri tenaga sakti yang hebat itu dapat menangkis dan mengibas sehingga pedang
merah itu hampir terlepas dari pegangan tangan Cui Im. Keng Hong lalu membungkuk dan memunggut
sebuah ranting kayu, sisa yang dijadikan umpan api unggun tadi, kemudian dia sudah siap dengan ranting
ini di tangannya, memasang kuda-kuda Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut. Tentu saja ilmu pedang ini
baru sempurna kalau dimainkan dengan pedang Siang-bhok-kiam, akan tetapi karena pedang itu tidak
.
ada, ranting ini pun cukup baik, lebih baik daripada dia menggunakan pedang logam karena sifat kayi ini
dan ringannya agak cocok dengan Pedang Kayu Harum.
"Nah, mari kita berlatih ilmu pedang," katanya, ranting dilonjorkan lurus ke atas seperti menuding langit,
kemudian perlahan-lahan turun ke bawah melingkari lehernya sendiri terus turun ditudingkan ke atas
tanah. Inilah kuda-kuda atau gerakan pembukaan Siang-bhok Kiam-sut, dengan kedua kakinya tegak di
kanan kiri, tangan kirinya mengikuti gerakan pedang membentuk lingkaran di depan dada yang berhenti
di depan hulu hati dalam keadaan miring seperti orang menyembah dengan satu tangan.
Cui Im maklum akan kelihaiannya dalam tenaga sinkang yang dapat menyedot tenaga lawan. Dia sendiri
telah menyaksikan betapa Keng Hong merobohkan Kiang Tojin yang lihai bersama beberapa orang tosu
Kun-lun-pai yang lain, merasa ngeri dan jerih untuk beradu kekuatan sinkang. Akan tetapi ia pun telah
melihat gerak-gerik Keng Hong yang masih kaku dalam ilmu silat, maka ia pikir bahwa kalau bermain
pedang, apalagi pemuda itu hanya bersenjata ranting, pasti ia akan menang. Ia sudah menggunakan
racun, sudah pula menggunakan rayuan bahkan menyerahkan raganya, namun semua itu tidak berhasil
menundukan hati Keng Hong. Jalan satu-satunya hanya membunuhnya!
Berpikir demikian, Cui Im lalu berteriak keras dan menerjang maju dengan dahsyat sekalli, mengirim
jurus serangan mematikan. Harus diakui bahwa tingkat ilmu kepandaian Cui Im sudah amat tinggi, apalagi
ilmu pedangnya, karena merupakan murid terkasih dari Lam-hai Sin-ni, datuk nomer satu dalam si empat
besar Bu-tek Su-kwi. Selain memiliki ginkang yang amat cepat, sungguhpun sekarang tidak dapat
dipergunakan karena sinkangnya sebagian besar telah "pindah" ke tubuh Keng Hong, ia juga memilliki
ilmu pedang yang amat ganas.
Keng Hong bersikap berhati-hati sekali. Tadi ia sudah menyaksikan kelihaian gadis ini bermain pedang
ketika melawan Kiu-bwe Toanio, maka kini ia cepat menggerakan rantingnya, digetarkan ujungnya dan
menangkis dengan jurus-jurus ilmu silat pedang Siang-bhok Kiam-sut.
"Ayaaaa.....!" Cui Im terkejut sekali karena begitu pedangnya bertemu dengan ujung ranting yang
menggetar, pedangnya ikut tergetar dan getaran itu terus menjalar ke tangan dan lengannya, membuat
lengannya kesemutan dan hampir saja ia melepaskan pedangnya kalau tidak cepat-cepat ia memutar
pergelangan tangannya dan melangkah mundur.
Keng Hong tidak mengejar atau mendesak lawannya, hanya berdiri siap menghadapi serangan gadis itu.
Sikapnya tenang dan timbul kepercayaan pada diri sendiri. Mungkin dalam hal ilmu silat dia kalah pandai,
akan tetapi ilmu pedangnya Siang-bhok-kiam adalah ciptaan gurunya, dan dalam kekuatan sinkang dia
menang jauh. Asal dia dapat menjaga diri jangan sampai termakan pedang, dia tidak akan kalah.
"Kau.... kau laki-laki keji!" Cui Im berteriak gemas lalu tubuhnya menerjang maju lagi mengirim tusukan
dan bacokan bertubi-tubi. Hebat sekali gerakan pedang gadis ini, amat sukar diduga perubahannya
sehingga pandang mata Keng Hong berkunang-kunang dan silau dibuatnya. Sinar pedang merah itu
bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran panjang dan luas seperti seekor naga hendak
membelit tubuhnya. Terpaksa Keng Hong menyalurkan sinkang pada rantingnya dan memutar ranting itu
melindungi tubuhnya. Hawa sinkang yang disalurkan itu hebat sekali sehingga pedang yang ujungnya
berubah menjadi puluhan banyak saking cepat dan tak terduga gerakannya itu selalu tertumbuk dan
mental kembali, kalau tidak tertangkis ranting tentu membalik oleh hawa pukulan yang amat dahsyat.
Namun, biarpun serangan Cui Im gagal semua, Keng Hong sama sekali tidak ada kesempatan untuk
membalasnya. Hal ini adalah karena latihannya belum sempurna sama sekali, gerakannya masih kaku dan
pedang Siang-bhok Kiam tidak berada ditangannya. Kalau ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut sudah
dilatih baik dan pada saat itu dia memegang pedang pusaka itu, kirannya dalam beberapa jurus saja Cui
Im yang lihai itu tentu tidak mampu bertahan terhadapnya!
.
Cui Im makin lama makin marah. Dari mulut gadis ini keluar lengking panjang yang amat nyaring dan
dengan nekat ia memutar pedang lebih cepat lagi.Namun, makin cepat ia mengerakan pedang, makin
banyak ia menambah tenaga, makin lelah dia dan pedangnya juga setiap kali terbentur ranting membalik
dan seperti akan menyerang tubuhnya sendiri. Hal ini membuat Cui Im penasaran dan gemas sekali. Dia
memekik keras, mencabut keluar sehelai saputangan merah dan menggunakan saputangan itu menyeling
serangan pedangnya, mengebutkannya ke arah Keng Hong.
Keng Hong maklum akan bahayanya saputangan merah yang berbau harum ini. Teringat ia akan hawa
racun yang tercampur pada arak. Menghadapi minuman, dia masih dapat bertahan karena lima tahun dia
setiap hari diberi minuman racun. Akan tetapi terhadap racun yang berupa asap atau uap benar-benar
amat berbahaya. Melihat berkelebatnya saputangan merah yang wangi. Keng Hong cepat menghindarkan
diri dengan menggeser kaki ke kiri dan memukulkan rantingnya pada saputangan itu. Ia berhasil merobek
saputangan dengan ujung rantingnya, akan tetapi dia tidak tahu bahwa serangan saputangan itu hanya
pancingan belaka karena pada detik berikutnya, Cui Im sudah membanting sebuah benda seperti bola
yang tadi disembunyikan dibalik saputangan. Bola itu mengeluarkan suara ledakan dan asap hitam
mengelilingi Keng Hong. Pemuda itu terkejut sekali dan melompat, namun terlambat. Ia telah menghisap
asap hitam yang berbau hamis, kepalanya pening, pandang matanya berkunang. Ia terhuyung-huyung dan
di dalam kegelapan asap itu pedang Cui Im menyambar, menusuk lambungnya. Keng Hong masih
sempat menangkis sambil mengerahkan tenaga. Tranggg.....!" Pedang merah terlepas dari tangan Cui Im,
akan tetapi pada saat itu Keng Hong terguling karena sebuah tendangan gadis itu tepat mengenai lutut
kananya. Keng Hong terguling roboh, pandang matanya gelap, napasnya terengah-engah sehingga makin
banyak asap hitam tersedot olehnya!
Cui Im menjadi girang sekali dan ia sudah menubruk ke depan setelah menyambar pedang merahnya,
disabetkan ke arah leher pemuda yang sudah tak berdaya lagi itu.
"Singgggg..... tranggg....!" Cui Im menahan jeritnya ketika pedangnya yang sudah meluncur itu tiba-tiba
tertahan di tengah udara, hanya beberapa senti meter lagi dari leher Keng Hong, dan terlepas dari
tangannya kemudian terbang ke atas, terampas oleh segulung sinar putih yang datang menyambar secepat
kilat.
"Suci (kakak perempuan seperguruan) apa yang hendak kau lakukan itu?" Terdengar teguran halus dan
ternyata di situ telah berdiri seorang gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun, berpakaian
sutra putih dengan garis-garis pinggir biru, memegang sehelai sabuk sutra putih panjang yang tadi
dipergunakan secara luar biasa untuk merampas pedang di tangan Cui Im.
"Sumoi (adik perempuan seperguruan).....! Engkau.....??" teriak Cui Im dengan suara kaget dan jerih.
Memang aneh kelihatanya. Mengapa Cui Im seorang kakak seperguruan takut terhadap adik
seperguruannya? Namun kenyataannya begitulah.
"Nih, kukembalikan pedangmu, Suci!" Kata pula gadis baju putih itu dan sekali menggerakan
pergelangan tangan yang memegang sabuk sutera putih, pedang merah itu meluncur ke arah Cui Im yang
cepat menyambutnya dan menyimpannya. Gadis baju putih itu lalu menggerakan sabuknya yang
menyambar ke arah Keng Hong bagaikan seekor ular hidup, melibat-libat tubuh pemuda yang masih
pening dan mabuk itu dan sekali betot, tubuh Keng Hong melayang ke dekat gadis itu! Cui Im
memandang dengan muka berubah merah penasaran ketika sumoinya mengeluarkan segulung sutera
hitam dan mengikat kedua pergelangan tangan Keng Hong yang masih rebah terlentang kebingungan.
Setelah mengikat kedua tangan pemuda itu secara hali, gadis baju putih ini lalu memakai kembali
sabuknya, dilibat-libatkan di pinggangnya yang ramping.
.
"Sumoi kenapa kautawan dia? Dia itu....., punyaku! Aku yang menangkap dia, dan aku yang berhak
atas dirinya. Dia itu kekasihku!" teriak Cui Im dengan nada penasaran dan marah, namun ia tetap tidak
berani mengeluarkan ucapan kasar terhadap sumoinya ini.
"Hemmm, kulihat kau tadi hendak membunuhnya," kata si gadis baju putih dengan suara halus dan
tenang.
"Karena dia punyaku, aku berhak melakukan apa saja terhadapnya. Aku hendak membunuhnya karena
dia tidak memenuhi permintaanku untuk mencari pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong."
"Aku tahu semua itu, Suci. Hanya aku tak senang melihat engkau hendak membunuhnya. Ibu sendiri
yang menyuruh aku menyusulmu dan mengawasi gerak-gerikmu. Dan harus kukatakan bahwa apa yang
kulihat semalam tadi dan sekarang ini, sungguh mengecewakan. Kau terlalu menurutkan nafsu, nafsu
berahi dan nafsu kemarahanmu. Yang dicari belum didapat mengapa hendak membunuh dia? Ibu yang
menyuruh aku menangkapnya dan membawanya kepada ibu."
"Aaahhhh....!" Cui Im mengeluh dengan nada kecewa sekali. "Dahulu subo tidak tertarik aka peninggalan
Sin-jiu Kiam-ong.... dan membiarkan aku pergi untuk merampasnya, untukku sendiri....."
"Sudahlah, Suci. Mari kita pergi menghadap ibu dan kau boleh bicara sendiri kepada ibu."
"Tapi subo (ibu guru)....."
"Sudahlah!" Gadis baju putih itu membentak dan sucinya terdiam. Kemudian gadis baju putih itu
mengerakan bibir diruncingkan dan terdengarlah suara suitan melengking yang amat nyaring. Tak lama
kemudian terdengar suara roda gerobak yang dilarikan kuda cepat sekali menuju ke tempat itu. Ternyata
kemudian bahwa gerobak itu ditarik oleh empat ekor kuda besar, dikusiri seorang wanita muda yang
cantik dan di belakang gerobak itu masih ada tiga orang wanita setengah tua yang cantik-cantik dan
bersikap garang. Keempat wanita yang datang ini kesemuanya memakaian pakaian kuning dan di
punggung mereka tampak gagang pedang.
"Masuklah dia ke dalam kereta, aku sendiri yang akan menjaganya bersama suci," kata gadis itu
memberi perintahnya kepada tiga orang wanita setengah tua yang sudah melompat turun dari kuda.
Tanpa bicara sesuatu, mereka lalu mengangkat tubuh Keng Hong dan memasukannya ke dalam kereta,
didudukan di atas bangku menghadap ke belakang. Keng Hong masih pening kepalanya, menyadarkan
diri dan meramkan mata, mulai mengumpulkan hawa sakti untuk mengusir hawa beracun yang
mengotorkan dada dan kepalanya.
"Kalian berempat berangkatlah lebih dulu memberi laporan kepada ibu bahwa orang yang dikehendaki
sudah tertawan. Biar suci yang menggantikan menjadi kusir dan aku yang mengawal orang ini.
Berangkatlah!"
Empat orang itu mengangguk, wanita muda yang tadi menjadi kusir diboncengkan oleh seorang di antara
mereka dan tiga ekor kuda itu lalu membalap ke sebelah depan. Cui Im menghela napas panjang penuh
kekecewaan, akan tetapi ia tidak banyak membantah lalu pindah duduk di depan, menjadi kusir. Adapun
gadis baju putih itu kini duduk berhadapa dengan Keng Hong. Dengan gemas Cui Im mencambuk empat
ekor kuda itu yang membedal sambil mengeluarkan suara meringkik keras. Roda-roda kereta menderu di
atas jalan yang berbatu, dan guncanga-guncanga ini membuat Keng Hong cepat sadar kembali.
Keng Hong semenjak tadi tidaklah pingsan, hanya pening dan pandangan matanya berkunang. Namun
dia masih dapat mengikuti dengan jelas apa yang telah terjadi, dapat mengerti bahwa nyawanya tertolong
.
oleh gadis baju putih yang membelenggunya dan kini duduk di depannya. Kalau tidak ada gadis ini, tentu
lehernya telah putus dan nyawanya melayang oleh pedang merah Cui Im. Ia merasa heran sekali mengapa
sumoi dari Cui Im ini kelihatannya jauh lebih lihai daripada Cui Im sendiri dan amat ditaati sucinya. Akan
tetapi dia mengetahui semua itu sebagian besar hanya dari ketajaman pendengarannya saja karena tadi
matanya berkunang dan kabur pandangannya. Sekarang, setelah dia mengusir sisa hawa beracun, dibantu
guncangan kereta itu membuat pandangan matanya terang kembali, dia membuka mata memandang nona
yang duduk anteng di depannya. Mula-mula yang mempesona Keng Hong adalah sepasang mata itu.
Sepasang mata yang amat luar biasa indahnya, mengingatkan Keng Hong akan bintang-bintang di langit,
dengan cahaya hangat lembut seperti sinar matahari pagi, bening seperti air telaga, tajam melebihi pedang
pusaka, akan tetapi di balik semua keindahan itu bersembunyilah sifat dingin yang menyeramkan! Mata
itu agaknya dapat menangkap kesadaranya, akan tetapi hanya sekilas saja menyapu wajahnya, kemudian
mata itu memandang lagi ke depan, seolah-olah dapat menembus segala yang berada di depannya.
Kemudian pandang mata Keng Hong merayapi wajah itu dan dia makin terpesona. Gadis yang jauh
lebih muda dari Cui Im ini, yang usianya ditaksir tidak akan lebih tua dari dirinya sendiri, memiliki wajah
yang amat cantik jelita. Bentuk wajahnya bulat telur, dengan kulit muka yang halus putih kemerahan tanpa
bedak dan gincu, rambutnya hitam sekali dan amat halus seperti benang sutera, gemuk subur menghias
dahi dan kedua pipi, menyembulkan dua buah telinga yang hanya tampak sedikit dan terhias dua buah
anting-anting bermata merah. Alis itu amat hitam dan kecil memanjang seperti dilukis saja padahal tidak
ada bekas-bekas goresan pensil dan agaknya alis ini dan bulu mata yang panjang melengkung itulah yang
menambah keindahan matanya. Hidungnya kecil mancung dengan ujungnya agak menantang ke atas,
diapit-apit sepasang pipi yang kemerahan dan halus seperti buah tomat meranum. Ketika pandang mata
Keng Hong menurun lagi, pandang matanya seolah-olah menempel dan melekat pada sepasang bibir itu.
Sukar dikatakan mana yang lebih indah antara mata dan bibir itu. Bentuknya seperti gendewa dipentang,
dan warnanya merah membasah, segar dan membuat Keng Hong tanpa disadarinya sendiri menelan
ludah seperti seorang kehausan melihat buah yang segar. Kemudian sinar mata Keng Hong makin liar
memandang ke bawah dan apa yang dilihatnya benar-benar membuat dia terpesona. Gadis ini amat
cantik jelita, sikapnya agung dan pendiam, dan bentuk tubuhnya.... sukar dilukiskan dengan kata-kata
sungguhpun pakaian sutera putih itu membungkusnya. Pendeknya, kalau Cui Im merupakan gadis yang
luar biasa cantiknya dan yang tidak pernah sebelumnya dia temukan atau impikan, kini gadis baju putih ini
merupakan seorang gadis yang tak pernah dia sangka terdapat di dalam dunia!
"Hidung belang, sudah puaskah engkau meneliti dan menaksir diriku?"
Pertanyaan ini halus dan merdu terdengar oleh telinga, namun bagaikan pisau berkarat menggores
jantung! Keng Hong belum tentu akan menjadi semerah itu kedua pipinya kalau dia menerima tamparan
keras.
"Eh.... ohhh.... aku...." Ia menggagap, berusaha mengelak dari pandangan mata yang begitu halus namun
tajam menembus dada.
"Aku tahu, engkau hidung belang seperti gurumu, akan tetapi perlu kau ketahui bahwa aku bukanlah
seorang wanita murah seperti dia itu." Dengan dagunya yang meruncing halus, gadis itu menuding ke arah
depan, ke arah Cui Im yang mengemudikan kereta.
Keng Hong menghela napas panjang dan tak terasa lagi dia mengangkat kedua tangan yang terbelenggu
itu untuk mengosok-gosok hidungnya yang dua kali dikatakan belang! Ketika kedua tangannya
mengosok-gosok hidung ini, seolah-olah baru tampak olehnya bahwa pergelangan kedua tangannya
dibelenggu, terikat oleh sehelai tali sutera hitam yang amat kuat. Ia menaksir-naksir berapa kekuatan
belenggu ini.
.
"Jangan mencoba untuk mematahkan belenggu ," gadis itu seakan dapat membaca pikirannya. "Selain
kau takan berhasil, juga kalau kau banyak tingkah, aku akan menyeretmu di belakang kereta."
Wah-wah, kiranya si jelita ini malah lebih galak daripada Cui Im, pikir Keng Hong. Dia kembali menatap
wajah itu dan melihat betapa gadis itu tenang seperti air telaga, dan matanya merenung jauh ke depan.
Dia dianggap seperti lalat saja, atau bahkan tidak ada. Keng Hong penasaran. Dia bukanlah seorang
yang tidak mengenal budi. Gadis ini telah menyelamatkan nyawanya, tidak mungkin dia yang sudah
diselamatkan nyawanya diama saja seperti seorang yang tidak mengenal budi.
"Nona...." Akan tetapi dia tidak melanjutkan karena gadis itu sama sekali tidak bergerak, sama sekali
tidak memperhatikan tanda-tanda bahwa dia mendengar panggilannya. Keng Hong bergidik. Gadis ini
seperti arca saja. Arca dari batu pualam yang halus dan dingin. Akan tetapi melihat bibirnya yang begitu
merah membasah , melihat kemerahan pada rongga mulutnya ketika tadi bicara, kilaatan giginya yang
kecil rata dan putih, semua ini membayangkan darah muda yang panas. Setelah kini berdiam diri,
sikapnya benar-benar luar biasa dinginnya, sedingin salju di utara!
"Nona.....!" Ia tidak putus asa dan memanggil lagi lebih keras. Namun gadis itu tetap diam, jangankan
bergerak melirik pun tidak.
"Bledak..... dak..... dorrr.....!" kereta melalui jalan yang berbatu, rodanya menumbuk batu-batu yang
besar sehingga kereta itu terguncang hebat, bahkan hampir roboh miring.
"Heiiiii..... eh.....!" Keng Hong mengatur keseimbangan tubuhnya dan kaget sekali, akan tetapi kereta
berjalan terus dan amatlah kagumnya menyaksikan betapa gadis baju putih di depannya itu masih tetap
seperti tadi, tidak bergerak, tidak berguncang, juga tidak kaget. Wah seperti orang mati saja! Keng
Hong tertegun sendiri. Jangan-jangan dia ini sudah mati! Matanya terbuka akan tetapi manik mata itu
sama sekali tidak bergerak, napasnya pun seolah-olah berhenti.
"Nona....!"
Kembali tiada jawaban. Keng Hong mulai khawatir dan mendekatkan kedua tangannya yang
terbelenggu itu ke depan hidung kecil mancung itu, hendak menyatakan apakah napas nona itu masih ada.
Dan tangannya tidak merasakan sesuatu! Gadis ini telah mati. Ia menjadi panik dan menurunkan tangan
hendak menyentuh urat nadi lengan nona itu.
"Plakkk!" Kedua tangannya ditampar dan nona itu membuka mulut, "Kau mau apa? Ingin diseret di
belakang keretakah?"
Keng Hong kaget setengah mati sampai pantatnya terloncat dari tempat duduknya. "Walah.....! Kau
bikin kaget aku saja, Nona. hampir mati aku merasa kaget! Kusangka kau..... kau tidak bernapas
lagi....."
"Begini goblokkah murid Sin-jiu Kiam-ong sehingga tidak tahu orang sedang melakukan latihan
Pi-khi-hoan-hiat (Menutup Hawa Mengatur Jalan Darah)?"
"Ohhh.....!" Keng Hong hanya dapat mengeluarkan suara ah-eh-oh saja karena makin lama makin
kagum dan heran. Ia pernah mendengar dari suhunya akan ilmu Pi-khi-hoan-hiat ini, sebuah ilmu untuk
selalu mengadakan pengontrolan tentang jalan darah dan yang berhubungan dengan sinkang, namun ilmu
yang hanya dapat dilakukan oleh seorang yang telah tinggi tingkat kepandaiannya. Dan nona cilik ini telah
melatihnya di dalam kereta yang berguncang-guncang! Biarpun hanya mengeluarkan suara ah-eh-oh
sejak tadi, namun suara ini jelas membayangkan kekaguman, dan hal ini agaknya terasa oleh gadis itu
.
yang tentu saja sebagai seorang manusia normal, terutama wanita, amat senang hatinya mendapat pujian.
"Kau mau apa sih, panggil-panggil orang terus?"
"Nona, aku she Cia Keng Hong bukanlah orang yang tidak mengenal budi. Aku telah berhutang nyawa
kepadamu....."
"Aku tidak pernah menghutangkan nyawa!"
"Eh, aku..... aku telah Nona selamatkan dari pedang Cui Im...."
"Hemmmm, sudah jauh begitu ya hubunganmu dengan suci sehingga kau menyebut namanya begitu
saja?"
Wajah Keng Hong menjadi merah sekali. Nona ini boleh jadi pendiam, akan tetapi seperti biasanya
orang pendiam, sekali mengeluarkan kata-kata selalu akan menusuk jantung!
"Kumaksudkan.... nona Bhe Cui Im.... aku telah kautolong dan selain pernyataan terima kasihku, aku
pun selamanya tidak akan melupakan budi pertolongan itu. Akan tetapi, setelah menyelamatkan nyawaku
yang tak berharga ini, mengapa Nona menawan aku?"
"Heiii, awas Sumoi! Dia itu laki-laki pandai sekali merayu, melebihi gurunya. Jangan-jangan kau nanti
dirobohkan rayuannya yang manis seperti madu. Hi-hi-hik!" dari depan Cui Im berkata dengan suara
mengejek.
Gadis baju putih itu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya. "Huh! Sejak kapan aku dapat
dirobohkan rayuan orang? Tidak semudah engkau aku dapat dipikat rayuan bocah ini, Suci!"
"Heh-heh-heh, bocah ya? Dia itu bocah? Hi-hi-hik, tunggu saja kau, Sumoi, kalau sudah berada dalam
pelukan dan belaiannya, nanti...."
"Suci, diam!" Gadis itu membentak, alisnya yang hitam panjang itu melengkung indah.
Cui Im tidak bicara lagi, hanya terdengar ia ketawa dan mencambuk empat ekor kuda itu sehingga
jalannya kereta makin kencang. Kembali Keng Hong tergoncang-goncang, akan tetapi dia segera dapat
mengerahkan sinkangnya dan kini dia duduk diam tak bergerak seperti nona di depannya. Mulailah nona
itu memandangnya, dan biarpun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, namun pandang matanya penuh
pengertian bahwa pemuda di depannya ini memiliki sinkang yang hebat.
"Nona, jangan perhatikan omongan Cui.... eh, dia itu. Aku sama sekali tidak membujuk rayu Nona,
melainkan hendak bertanya mengapa setelah Nona menyelamatkan nyawaku, kini menawanku."
"Ibuku yang menyuruh, aku hanya pelaksana," jawabnya sederhana. "Dan jangan mengira aku
menolongmu. Kalau tidak ingin memenuhi perintah ibu biar suci mau membunuh seribu orang macam
engkau, aku tidak akan peduli."
Wahhh, pahit benar ucapan ini, pikir Keng Hong. Akan tetapi tak mungkin dia bisa marah menghadapi
seorang gadis seperti ini. "ibumu? Siapakah dia, Nona?"
"Lam-hai Sin-ni!"
.
"Ohhhh.....!" Tadinya Keng Hong mengira bahwa nona ini sebagai sumoi dari Cui Im tentulah murid ke
dua Lam-hai Sin-ni. Kiranya bukan hanya muridnya, malah puterinya! Pantas saja, biarpun disebut sumoi
oleh Cui Im, akan tetapi memiliki tingkat ilmu kepandaian yang lebih tinggi dan juga disegani oleh sucinya
itu.
"Kau sudah mengenal nama ibuku?"
"Sudah, Nona, Ibumu adalah datuk pertama dari Bu-tek Su-kwi, bukan?"
"Hemmm, kau hanya mendengar saja dari suci tentu."
"Aku sudah pernah bertemu dengan tiga orang dari Bu-tek Su-kwi yang semuanya kalah oleh suhu"
"Hemmm....., sombong! Kalau bertemu ibu, suhumu akan mampus sampai seratus kali"
"Nona, bolehkah aku mengetahui namamu?"
Alis yang indah itu terangkat, mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi dan mulut yang segar itu
membentak, "Kau.....! Selain hidung belang, juga ceriwis sekali!"
"Hi-hi-hik, Sumoi. Tidak benarkah kata-kataku bahwa dia pandai merayu?"
"Suci, berhenti dulu!"
Kereta berhentai secara tiba-tiba dan hal ini saja membuktikan betapa pandainya Cui Im menguasai
empat ekor kuda yg menarik kereta, dan betapa kuat kedua lengan yang kecil itu. Alis nona baju putih itu
masih berdiri ketika ia melolos sabuknya yang putih panjang, lalu tanpa banyak cakap ia mengikat kedua
kaki Keng Hong dengan ujung sabuk dan setelah itu ia melempar tubuh pemuda itu ke belakang kereta!
"Jalan terus, Suci!"
"Hi-hi-hik, agaknya engkau pun tidak tahan terhadap rayuannya, sumoi. Hati-hatilah....., engkau sama
sekali belum berpengalaman."
"Diam, suci!" bentak gadis itu sambil merenggut dan kereta dijalankan cepat oleh Cui Im yang
terkekeh-kekeh. Kini tubuh Keng Hong yang rebah terlentang dibelakang kereta, diseret di atas tanah
berbatu! Kedua tangannya dibelenggu, kedua kakinya diikat ujung sabuk sedangkan sedangkan ujung
sabuk lainya diikatkan pada tiang kereta oleh gadis itu. Sabuk itu cukup panjang sehingga tubuh Keng
Hong terpisah empat meter dari kereta. Pemuda ini cepet-cepat mengerahkan sinkang untuk melindungi
tubuh belakangnya yang terseret. Kalau tidak kuat sinkangnya, tentu kulit tubuh belakangnya akan habis
babak bundas. Biarpun kini hawa sakit di tubuhnya melindungi kulitnya, namun tidak dapat melindungi
pakaiannya sehingga sebentar saja habislah pakaiannya di bagian belakang, compang-camping tidak
karuan. Diam-diam dia mengutuk, "Wah, gadis setan! Benar-benar seperti iblis-iblis betina dua orang
gadis itu, sungguhpun kekejian mereka itu agak berbeda. Cui Im cabul dan pengejar kepuasan hawa
nafsu, sebaliknya sumoinya ini alim dan pendiam, akan tetapi keduanya memiliki kekejaman yang sama.
Bahkan boleh jadi gadis baju putih ini lebih kejam lagi."
Keng Hong yang rebah terlentang dan terseret di belakang kereta kini dapat melihat keadaan di kanan
kiri kereta sampai jauh di depan. Mereka melalui jalan sunyi di pegunungan, jauh dari dusun-dusun.
Diam-diam dia berpikir dan ingin sekali melihat apakah dua orang gadis iblis itu akan tetap menyeretnya
seperti ini kalau melalui dusun dan kota? Apakah mereka akan membiarkan dia terseret dan menjadi
.
tontonan? Tentu penguasa setempat akan turun tangan kalau melihat peristiwa ini, akan tetapi penguasa
manakah yang sanggup melarang dua orang gadis iblis itu?
Tiba-tiba Keng Hong melihat di depan sebelah kiri muncul dua orang penunggang kuda, dua orang
laki-laki tinggi besar berusia lima puluh tahun yang menghadang kereta dengan senjata golok di tangan,
memberi isyarat dengan tangan agar kereta dihentikan. Cui Im menghentikan kereta itu dan memandang
dengan alis berkerut marah.
"Kalian ini mau apakah? Apakah perampok-perampok buta?"
"Hemmm, Ang-kiam Tok-sian-li! Masih berpura-pura tidak mengenal kami Thian-te Siang-to (Sepasang
Golok Bumi Langit)? Kami memenuhi perintah suhu untuk minta tawananmu, murid Sin-jiu Kiam-ong.
Memandang muka suhu kami, harap kau suka mengalah!" Jawaban ini keluar dari mulut kakek yang
sebelah kiri dan setelah kini berhadapan, Cui im baru melihat jelas betapa muka kedua orang kakek itu
serupa benar. Teringatlah ia akan murid kembar dari Pat-jiu Sian-ong, maka ia tertawa mengejek
"Hi-hi-hik, jangan hanya kalian Thian-te Siang-to yang maju meminta tawanan, biarpun gurumu sendiri
yang datang takkan kuberikan. Kalian mau apa?"
"Hah, Ang-kiam Tok-sian-li! kami masih memandang muka gurumu maka masih bicara dengan
baik-baik. akan tetapi engkau sombong. Turunlah dan mari kita lihat siapa yang lebih unggul di antara
kita. Yang unggul berhak membawa pergi murid Sian-jiu Kiam-ong!"
"Bagus, kalian sudah bosan hidup!" Cui Im meloncat turun dari kereta sambil mencabut pedang
merahnya. Akan tetapi begitu meloncat dan menerjang, Cui Im mengeluh karena baru teringat ia akan
keadaanya, akan tenaga sinkang yang sebagian besar telah lenyap semenjak malam tadi ia bermain cinta
dengan Keng Hong. Apalagi sekarang yang dihadapinya adalah dua orang murid Pat-jiu Sian-ong yang
merupakan seorang di antara empat datuk Bu-tek Su-kwi! Kalau dalam keadaan normal sekalipun, tak
mungkin ia dapat menangkan pengeroyokan dua orang ini dan mingkin hanya akan dapat mengalahkan
seorang di antara mereka. Akan tetapi sekarang, dengan sinkangnya habis setengahnya lebih, melawan
seorang di antara mereka sekalipun ia tak menang.
Keng Hong yang kini sudah bangkit duduk karena kereta itu tidak menyeretnya lagi, melihat betapa Cui
Im terdesak hebat oleh dua orang laki-laki bersenjata golok yang berjuluk Sepasang Golok Bumi Langit
itu. Untung bahwa pedang Cui Im benar-benar hebat, kalau tidak, tentu dalam beberapa gebrakan saja ia
akan roboh. Cui Im mainkan pedangnya secepat mungkin, dan biarpun ia sama sekali tidak mampu
melakukan serangan balasan namun ia masih dapat mempertahankan dirinya dengan gerakan pedang dan
juga sambil mengelak ke sana ke mari. Ia terdesak hebat dan menurut taksiran Keng Hong, tidak sampai
sepuluh jurus lagi gadis itu tentu akan roboh.
"Sumoi, tidak lekas membantuku menunggu apa lagi?" Cui Im yang repot itu akhirnya berteriak-teriak.
Keng Hong hanya melihat muili (tirai) kereta itu tersingkap dari dalam, kemudian berkelebat segulung
cahaya putih berturut-turut dua kali. Cahaya ini menyebar ke arah dua orang kakek yang mendesak Cui
Im dan mereka cepat menangkis dengan pedang. Namun mereka berteriak kesakitan dan meloncat ke
belakang. Ternyata pangkal lengan kedua orang kakek itu telah terluka mengeluarkan darah. Yang
melukai mereka adalah dua butir bola putih yang halus permukannya namun mempunyai duri-duri runcing
dan ketika dua bola tadi berhasil ditangkis, bola itu tidak runtuh ke atas tanah melainkan melesat dan
melukai lengan mereka. Ketika dua orang kakek itu melihat wajah ayu yang tersembul keluar dari balik
tirai, mereka terkejut dan cepat menjura ke arah kereta.
.
"Kiranya Song-bun Siu-li (Gadis Cantik Berkabung) juga hadir di sini. Maafkan kelancangan kami!"
setelah berkata demikian, kakek kembar itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi.
"Heiii, kembalilah! Mari kita bertanding sampai seribu jurus! Belum bolong dadamu sudah lari,
pengecut!" Cui Im berteriak-teriak menantang.
"Suci, jalan terus!" terdengar gadis baju putih yang kini dikenal julukannya oleh Keng Hong berkata
halus. Kereta berjalan lagi amat kencangnya, dan terpaksa Keng Hong merebahkan diri telentang lagi,
diseret-seret kereta. Ia bergidik kalau mengingat julukan gadis baju putih itu. Song-bun Siu-li (Gadis
Cantik Berkabung). Mengapa berkabung? Pantas saja pakaiannya serba putih, bahkan senjatanya yang
lihai, sabuk yang kini mengikat kedua kakinya, juga putih dan senjata rahasia yang berbentuk bola itu pun
putih!
“Cepatlah, suci. Setelah murid-murid Pat-jiu Siang-ong muncul, kurasa yang lainya akan muncul pula."
"Untung engkau berada di sini , sumoi, kalau tidak ..... wah berabe juga. Aku..... aku kehilangan
sebagian besar sinkang di tubuhku, karena ..... bocah setan itu!"
"Apa? Mengapa dan bagaimana?" Song-bun Siu-li bertanya heran.
"Benar, aku disedot habis olehnya, keparat! Setelah malam tadi, entah bagaimana aku pun tidak tahu.
Dia memang hebat, aku sampai lupa diri dan aku..... tersedot habis..... uhhh....."
"Suci, diam! kau tahu aku tidak sudi mendengarkan omongan-omonganmu yang cabul!"
Kereta berjalan terus lebih cepat lagi. Keng Hong tertegun mendengar omongan mereka itu. Dia sendiri
pun tidak tahu mengapa Cui Im menjadi lemah. Tersedot olehnya? Ia teringat akan peristiwa di
Kun-lun-san, di mana tanpa dia sadari dia pun telah menyedot sinkang dari Kiang Tojin dan tosu-tosu
lain. Akan tetapi ketika itu dia menghadapi pukulan sinkang yang amat berat. Sedangkan malam tadi
dengan Cui Im...... ah., dia tetap tidak mengerti. Diam-diam dia kagumi Song-bun Siu-li. Betapa lihai
gadis muda itu. Hanya dengan dua butir bola saja dia mampu mengusir murid-murid Pat-jiu Sian-ong
yang dia lihat tadi amat lihai ilmu goloknya.
Lewat tengah hari, ketika matahari mulai condong ke barat, mereka tiba di sebuah hutan dan jauh di
depan menjulang tinggi pegunungan yang rupanya banyak dusun-dusunnya karena dari jauh sudah
tampak genteng-genteng rumah yang kemerahan. Keng Hong yang diseret kereta mulai merasa tersiksa
karena selain haus dan lapar, juga debu yang mengebul dari roda kereta itu seolah-olah dilemparkan
kepadanya semua, membuat rambut dan alisnya menjadi putih, juga mukanya menjadi putih semua.
Bernapas pun sukar di dalam kepulan debu yang tebal ini. tiba-tiba Cui Im berseru nyaring dan tangan
kirinya menyabar dua batang anak panah yang menyambarnya. Hebat kepandaian ini dan diam-diam
Keng Hong yang melihat itu menjadi kagum.
"Jalan terus, suci. Biar aku yang melayani mereka!" berkata Song-bun Siu-li dengan suara dingin. Kini
berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu gadis itu telah berdiri di atap kereta, lalu minta pinjam cambuk
kuda yang tadi dipegang Cui Im. Cambuk ini cukup panjang dan dengan tangan kiri bertolak pinggang,
tangan kananya memegang gagang cambuk, Song-bun Siu-li berdiri dengan gagah tak bergerak, hanya
matanya saja yang memandang tajam ke depan.
Tiba-tiba dari arah kiri menyambar tiga batang anak panah, sebuah ke arah Cui im dan yang ke dua ke
arah Song-bun Siu-li dan anak panah yang datang menyambar sekali ini, biarpun warnanya juga hitam
seperti tadi, namun mengandung kecepatan dan tenaga dahsyat sehingga mengeluarkan bunyi mendesing.
.
Cui im tidak mempedulikan datangnya anak panah yang menyerangnya, melainkan mencurahkan seluruh
perhatian kepada kendali empat ekor kuda yang dipegangnya dan dibalapkanya cepat. Ia sudah percaya
penuh akan penjagaan sumoinya dan kepercayaan ini pun tidak disia-sia. Terdengar bunyi cambuk
meledak-ledak, dan.....tiga batang anak panah itu sudah kena digulung dan dibelit ujung cambuk.
Keng Hong melongo melihat itu dan dia lebih terbelalak lagi ketika nona baju putih itu menggerakan
cambuknya, membuat tiga batang anak panah meluncur ke arah kiri dan..... terdengar jerit-jerit
mengerikan disusul terjungkalnya tubuh tiga orang yang tadi bersembunyi di balik batang pohon. Ternyata
nona baju putih yang lihai sekali itu telah meretour anak panah kepada pemiliknya masing-masing dan
secara kontan keras telah membalas mereka!
Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergema di seluruh hutan itu, seolah-olah suara raksasa yang sakit,
padahal suara itu adalah suara banyak orang yang mengucapkan sebuah kalimat secara berbareng, "Atas
perintah Pak-san Kwi-ong, kami mohon tawanan putera Sin-jiu Kiam-ong ditinggalkan di hutan ini!"
"Suci, berhenti sebentar," kata Song-bun Siu-li dengan suara halus.Kereta berhenti dan kini tampaklah
puluhan orang, sedikitnya ada tiga puluh orang yang mengurung kereta itu dalam jarak lima puluh meter.
Mereka itu tadinya bersembunyi di balik pohon-pohon dan di dalam gerombolan-gerombolan.
Terdengar suara Song-bun Siu-li yang berdiri di atas kereta dengan cambuk di tangan, suaranya masih
tetap halus merdu, namun kini dikerahkan dengan penggunaan tenaga khikang sehingga menjadi nyaring
dan bergema lebih dahsyat daripada suara banyak orang tadi.
"Murid Sin-jiu Kiam-ong menjadi tawanan Lam-hai Sin-ni! Di sini ada Song-bun Siu-li dan Ang-kiam
Tok-sian-li yang melindunginya, siapapun tidak boleh mengganggu tawanan!"
Keng Hong yang kini sudah duduk di atas tanah, diam-diam memandang dengan hati geli. Dia tidak tahu
siapakah adanya banyak orang-orang laki-laki yang tinggi besar dan kelihatan galak-galak itu, akan tetapi
yang dia tahu adalah bahwa dia dijadikan rebutan! Dijadikan rebutan di antara tokoh-tokoh kang-ouw,
bukan tokoh-tokoh kaum bersih seperti ketika gurunya dahulu dikepung di Kiam-kok-san, melainkan
tokoh-tokoh hitam yang amat lihai. Namun, baik tokoh bersih maupun tokoh sesat, semua memiliki
pamerih yang sama yaitu menghendaki Siang-bhok-kiam dan warisan mendiang suhunya. ini timbullah
keinginan hatinya untuk mencari dan mendapatkan pusaka peninggalan suhunya. Kalau semua tokoh
kang-ouw menginginkan pusaka itu, sudah barang tentu amat berharga dan penting.
Kini para pengurung itu ketika mendengar disebutnya nama Song-bun Siu-li, menjadi ragu-ragu dan
mereka terdiam, kemudian muncul empat orang tinggi besar yang usianya sudah empat puluh tahun lebih.
Tangan masing-masing memegang sehelai rantai baja yang digantungi sebuah tengkorak manusia! Melihat
rantai dengan tengkorak itu teringatlah Keng Hong akan kakek tinggi besar berkulit hitam arang yang
matanya putih telinganya seperti telinga gajah dan badannya berbulu, yaitu Pak-san Kwi-ong. Kakek itu
pun senjatanya sehelai rantai besar dengan dua buah tengkorak pada kedua ujungnya. Hanya bedanya,
empat orang laki-laki ini, rantainya bertengkorak satu.
"Kami Pak-san Su-liong (Empat Naga Pegunungan Utara), jauh-jauh datang melakukan perintah suhu.
Mengingat akan sahabat segolongan, biarlah kami menyampaikan salam suhu kepada Ji-wi Siocia (Nona
Berdua) untuk disampaikan kepada Lam-hai Sin-ni dan salam kami sendiri kepada Ji-wi. Kemudian,
mengingat akan persahabatan, harap Ji-wi luluskan kami meminjam sebentar tawanan itu."
"Hi-hi-hik! Enak saja membuka mulut!" Cui Im tertawa mengejek. "Kami yang susah payah menawan,
kalian yang hendak memboyong. Aturan mana ini? Lebih baik kalian pergi dari sini dan sampaikan
.
kepada Pak-san Kwi-ong bahwa kalau dia menghendaki tawanan, biarlah dia mencoba merampasnya
dari tangan guruku!"
"Suci, tidak perlu banyak bicara melayani mereka. Pak-san Su-liong harap tahu diri dan jangan
mengganggu kami. Betapapun juga, kami tidak akan menyerahkan tawanan!" kata gadis baju putih sambil
menudingkan telunjuknya ke arah empat orang tinggi besar itu.
"Hemmm, kalau begitu, terpaksa kami akan menguji kepandaian Ji-wi, apakah cukup patut menjadi
pengawal tawanan penting!"
"Bagus, majulah!" Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li sudah meloncat turun. Cui Im masih belum
normal tenaga sinkangnya, belum pulih seperti biasa, akan tetapi tidaklah selemah tadi karena di
sepanjang jalan gadis ini telah melatih nafas menghimpun tenaganya yang tercecer. Ia masih dapat
mengandalkan ilmu pedangnya yang memang hebat dan pedang merahnya yang ampuh. Adapun gadis
baju putih itu sudah memutar cambuknya sehingga terdengar bunyi ledakan-ledakan nyaring.
Empat orang tinggi besar itu menyambut dua orang nona ini dengan sambaran rantai mereka dan
terdengarlah suara bersiutan, tanda bahwa mereka itu bertenaga besar sekali dan dari mulut
tengkorak-tengkorak itu kadang-kadang mengebul asap putih yang beracun! Pertandingan dua lawan
empat ini berlangsung seru, akan tetapi Keng Hong yang duduk di belakang kereta dapat melihat jelas
betapa sesungguhnya Cui Im hanya melawan seorang saja sedangkan yang tiga orang lawan diborong
oleh Song-bun Siu-li. Makin kagumlah hatinya menyaksikan nona baju putih itu. Tiga rantai tengkorak
yang mengepungnya tak boleh dipandang ringan karena ternyata bahwa naga-naga dari Pak-san itu
benar-benar berkepandaian tinggi, malah kalau dibandingkan dengan Thian-te Siang-to murid Pat-jiu
Sian-ong, agaknya masih lebih berat empat orang ini. Namun pecut di tangan Song-bun Siu-li amat lincah
gerakannya, menyambar-nyambar dengan suara nyaring seperti halilintar mengamuk dan mengancam
kepala tiga orang lawanya.
Asap putih yang mengepul dari mulut empat tengkorak itu adalah hawa beracun, akan tetapi menghadapi
ini, dua orang murid Lam-hai Sin-ni tentu saja memandang rendah karena guru mereka adalah hali racun
nomor satu di dunia ini! baik Song-bun Siu-lu maupun Cui Im sudah mengeluarkan sehelai saputangan
berwarna kuning yang amat harum, menggosok-gosokan saputangan masing-masing dengan keras ke
hidung dan mulut mereka, kemudian menyimpan kembali saputangan itu lalu menghadapi lawan tanpa
mengkhawatirkan asap beracun
Biarpun tenaga sinkangnya belum pulih seluruhnya, namun ilmu pedang Ang-kiam Tok-sian-li memang
hebat, sehingga tidak percuma dia berjuluk si pedang merah, dan kecerdikanya serta kekejamannya
membuat ia patut pula dijuluki Tok-sian-li Si Dewi Beracun! Karena tiga orang lawan diborong sumoinya
dan dia sendiri hanya menghadapi seorang lawan, pedangnya sudah dapat mengimbangi gulungan sinar
rantai, bahkan beberapa kali hampir berhasil melukai lawan, yaitu memapas sebagian ujung bajunya dan
membuat retak rahang tengkorak.
Keng Hong yang menonton pertandingan itu, duduk dengan hati tegang, juga dia menjadi kagum.
Semenjak turun gunung, dia menyaksikan pertandingan-pertandingan yang hebat. Kini mengikuti
pertandingan antara murid-murid orang sakti, murid-murid dua orang datuk dari golongan sesat yang
tinggi ilmunya, matanya kabur. Gulungan sinar pedang di tangan Cui-Im merah dan indah sekali,
membentuk lingkaran-lingkaran yang makin lama makin melebar, mengurung gulungan sinar yang dibuat
oleh rantai tengkorak lawannya. Adapun cambuk di tangan Song-bun Siu-li juga telah lenyap bentuknya,
yang tampak hanya gulungan sinar hitam yang berkelebatan di angkasa dan mengeluarkan bunyi
meledak-meledak keras dan sinar hitam ini dapat menahan rantai tengkorak tiga orang lawannya yang
berusaha keras untuk mengalahkan gadis muda yang nama sudah amat dikenal di dunia Kang-ouw itu.
.
Tiba-tiba Keng Hong mendapat perasaan aneh dan menengok ke belakang. Alangkah kagetnya ketika
dia melihat bahwa dari arah belakang datang puluhan orang, berindap-indap dan jelas sekali mereka
berniat untuk menangkapnya. Mereka adalah anak buah Pak-san Su-liong, datang menghampirinya
dengan sikap mengancam, bagaikan segerombolan serigala yang hendak menyergap seekor kijang. Keng
Hong maklum akan bahayanya kalau terjatuh ke tangan anak buah Pak-san Kwi-ong. Memang tidak
enak juga menjadi tawanan dua orang gadis berhati ganas itu, akan tetap menjadi tawanan orang-orang
kasar ini agaknya akan lebih mengerikan pula. Mengapa dia tidak membebaskan diri saja? Kalau tadinya
dia masih belum membebaskan diri adalah pertama, dia suka melayani permainan asmara Cui Im yang
benar-benar telah dinikmatinya dan ke dua, karena dia tertarik dan berterima kasih kepada Song-bun
Siu-li yang menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi sekarang, melihat dirinya mulai diperebutkan seperti
sebuah benda berharga, Keng Hong menjadi muak dan timbul keinginannya untuk meloloskan diri selagi
ada kesempatan mereka saling gasak itu.
Keng Hong mengerahkan sinkangnya, mendesak pusat tenaga di pusar menyalurkan hawa sakti yang dia
luncurkan ke arah kedua lengannya, kemudian sekuat tenaga dia merenggut. Tali sutra hitam yang
mengikat pergelangan tangannya bukan sembarang tali, kuatnya melebihi kawat baja. Namun masih tidak
dapat menahan sinkang yang tersalur di kedua lengan itu, yang kekuatannya amat luar biasa, seperti
tarikan dua buah belalai gajah. Tali itu mengeluarkan bunyi keras ketika terputus dan bergerak-gerak
seperti tubuh ular terputus dan bergerak-gerak seperti tubuh ular terputus di atas tanah. Keng Hong
hanya merasakan kulit pergelangannya panas. Ia cepat membungkuk dan melepaskan tali sutra putih yang
mengikat kakinya. Ia tidak mau memutuskan tali kakinya yang dia tahu adalah sabuk sutera yang
dijadikan senjata si nona baju putih, maka setelah tangannya bebas dia melepaskan tali kakinya.
Pada saat itu, empat orang tinggi besar telah menubruk dan menangkapnya, ada yang merangkul kaki,
ada yang merangkul pinggangnya, ada yang memegangi tangan dan ada yang memiting leher. Akan tetapi
Keng Hong tidak perduli, dia terus bangun dan berjalan mendekati kereta, menyeret empat orang itu
yang melekat di tubuhnya seperti lintah. Keng Hong menyedal sabuk putih kemudian berseru kepada
Song-bun Siu-li yang sibuk melayani tiga orang musuhnya.
"Song-bun Siu-li! Nih senjatamu, terimalah!" Ia sudah menggulung sabuk itu dan melemparkannya ke
arah gadis baju putih yang mengeluarkan suara heran akan tetapi cepat menyambar senjatanya yang
istimewa ini dan mengganti cambuknya dengan sabuk putih. Hebat bukan main gerakan Song-bun Siu-li
setelah ia kini maikan sabuk sutera putih itu. Tampak sinar putih bergulung, amat tebal menyilaukan mata
seperti pelangi berwarna putih perak dan dalam tiga jurus saja sabuknya sudah melibat rantai seorang di
antara tiga lawannya dan sekali renggut, rantai itu terlepas dari tangan lawan dan ujung sabuk yang
sebelah lagi sudah menotoknya roboh! Dua orang lawan yang lain menjadi marah dan menerjang lebih
dahsyat lagi, namun dilayani oleh gadis baju putih itu dengan sikap tenang. Setelah kini senjatanya
kembali ke tangannya, gadis ini menjadi lebih tenang dan penuh kepercayaannya pada diri sendiri.
Keng Hong masih dikeroyok empat orang tinggi besar yang hedak menawannya, dan sambil
berteriak-teriak belasan orang tinggi besar lain merubungnya, siap membantu teman-teman mereka kalau
kawalahan. Keadaan Keng Hong seperti seekor jengkrik yang dirubung semut. Keng Hong menjadi
marah dan tidak sabar lagi. Ia mengeluarkan seruan keras sambil menggoyang tubuhnya, gerakannya
seperti seekor harimau yang menggoyang tubuhnya sehabis tertimpa air hujan. Terdengar pekik kaget
dan tubuh empat orang yang menempel di tubuhnya tadi mencelat ke empat penjuru sampai lima enam
meter jauhnya, menimpa teman-teman sendiri!
"Tangkap.....!"
"Jangan sampai dia lari!"
.
Orang-orang yang menjadi kaki tangan Pak-san Su-liong itu berteriak-teriak sambil mengepung terus.
Mereka ini hanya merupakan segerombolan orang liar yang mengandalkan tenaga, keberanian dan
pengalaman bertempur karena orang-orang ini datang dari utara, menjadi anak buah Pak-san Su-liong
yang di luar tembok besar sebelah utara terkenal sebagai pemimpin orang-orang liar. Namun tenaga
mereka hanyalah tenaga otot dan tebalnya kulit, tentu saja menghadapi Keng Hong mereka itu tidak
banyak artinya. Keng Hong mulai mengamuk untuk mencari kebebasannya. Ia menggunakan kaki dan
tangannya, menendang dan memukul. Para pengeroyok berteriak-teriak kesakitan karena setiap
pertemuan kaki tangan mereka dengan kaki tangan Keng Hong pasti mengakibatkan tulang patah dan
kulit pecah.
Melihat anak buah mereka kocar-kacir, ditambah lagi seorang di antara mereka sudah tertotok roboh,
tiga orang di antara Pak-san Su-liong menjadi kacau permainannya. Apalagi kini Song-bun Siu-li sudah
memegang senjatanya sendiri yang amat ampuh , maka tiga orang tinggi besar murid-murid Pak-san
Kwi-ong itu tak dapat bertahan lagi. Pedang merah di tangan Cui Im berhasil melukai pundak lawannya,
sedangkan kedua ujung sabuk sutera putih di tangan sumoinya yang amat lihai itu sudah merampas sehelai
rantai dan memecut muka seorang lawan lagi sehingga pipinya terluka dan berdarah.
Melihat lawannya mundur dan para anak buah mereka pun kocar-kacir dan mulai menjauhi Keng Hong,
Song-bun Siu-li cepat berkata dan meloncat mendekati Keng Hong, "Lekas masuk kereta. Kita
melanjutkan perjalanan!"
Keng Hong berdiri memandang gadis itu dan menjawab, "Aku tidak mau! Aku ingin melanjutkan
perjalanan ku sendiri, Nona."
"Kau.... kau hendak melawanku?" Song-bun Siu-li berkata halus, suaranya dingin, sabuknya siap di
tangan.
"Hati-hati, Sumoi. Dia mempunyai tenaga mujijat!" kata Cui Im yang juga sudah melompat dekat, tidak
mempedulikan Pak-san Su-liong yang mulai menolong teman-temannya dan pergi meninggalkan tempat
itu karena maklum bahwa mereka tidak mungkin dapat melanjutkan usaha mereka merampas tawanan.
"Cia Keng Hong, lekas kembali ke kereta. Mereka tentu akan datang kembali, dan kalau yang muncul
guru mereka Pak-san Kwi-ong, atau guru Thian-te Siang-to tadi yaitu Pat-jiu Sian-ong, kami tidak akan
dapat mempertahankan engkau lagi!" kata pula Song-bun Siu-li, suaranya tetap halus akan tetapi bukan
merupakan bujukan, melainkan peringatan.
Keng Hong masih berdiri dengan kedua kaki terpentang, kokoh kuat seperti batu gunung, akan tetapi
pakaian di sebelah belakangnya sudah compang-camping tidak karuan. Ia menggeleng kepala dan
memandang kedua orang nona itu dengan pandang mata tajam.
"Tidak, aku ingin bebas!"
"Sumoi, hajar mampus saja laki-laki tak berbudi ini!" teriak Cui Im yang sudah melangkah maju dan siap
dengan pedang merahnya.
"Tahan, Suci. ibu menghendaki dia hidup-hidup! Eh, Keng Hong. Engkau sendiri tadi mengaku bahwa
aku telah menyelamatkan nyawamu. Apakah ini balasanmu? Hendak melawan aku? beginikah kegagahan
murid Sin-jiu Kiam-ong? Kasihan kakek itu yang tentu gelisah dalam akhirat kalau menyaksikan
muridnya yang tak mengenal budi."
.
Wajah Keng Hong menjadi merah sekali dan dia mengepal tinjunya. "Sudahlah, jangan membawa-bawa
nama suhu. Baik, aku ikut akan tetapi ingat, hanya untuk menuruti perintahmu sebagai pembalas atas
pertolonganmu. Setelah bertemu dengan Lam-hai Sin-ni, kuanggap hutangku padamu telah lunas!"
Setelah berkata demikian Keng Hong lalu berjalan menuju ke kereta.
Cui Im menyenggol lengan sumoinya dengan siku sambil menggerakan muka ke arah Keng Hong yang
tampak oleh mereka dari belakang, sambil terkekeh dan berbisik, "Lihat, Sumoi...., hebat tidak, dia?"
Gadis baju putih itu memandang dan seketika wajahnya yang cantik jelita itu menjadi merah sekali.
Matanya yang jelita terbelalak ketika ia melihat ke arah tubuh belakang Keng Hong. pakaian bagian
belakang yang compang-camping, kulitnya yang penuh debu itu masih tidak dapat menyembunyikan
sebuah punggung yang tegak dengan lengkung kuat di bagian bawah seperti terbuat daripada baja bahu
yang bidang, pinggang yang kecil dan sepasang pinggul yang bulat membayangkan otot-otot yang penuh
tenaga di atas kaki yang kuat. Cepat-cepat dia memejamkan mata, tidak mau memandang lagi dan
mulutnya mencela.
“Suci, engkau selalu mendahulukan nafsu-nafsumu. Kau tahu aku tidak sudi memperhatikan pria!" Gadis
ini membuang muka dan setelah Keng Hong memasuki kereta, barulah ia berkata, "Ambilkan selimut dan
suruh dia menutupi tubuh belakangnya yang pantas!"
Cui Im terkekeh dan berlarian ke kereta, mengambil selimut dan melemparnya ke arah Keng Hong.
"Keng Hong, tutupi badanmu yang sebelah belakang rapat-rapat, kau membikin sumoi menjadi jijik,
hi-hi-hik!" kemudian ia melompat ke atas di sebelah depan dan segera membalapkan empat ekor kuda
setelah sumoinya pun melompat masuk dan duduk menghadapi Keng Hong dengan sikap tidak acuh.
Dari luar terdengar suara seorang di antara Pak-san Su-liong.
“Kalian tunggu saja! Suhu sendiri yang akan merampas tawanan itu!”
Namun dua orang murid Lam-jai Sin-ni tidak mempedulikan teriakan mereka dan terus membalapkan
kereta ke selatan. Kereta berguncang-guncang dan Keng Hong duduk anteng, matanya tak pernah
terlepas dari wajah gadis di depannya. Ia menjadi makin kagum. Gadis ini amat lihai ilmu silatnya, jug
awataknya jauh berbeda dengan watak Cui Im yang cabul dan suka mengumbar nafsunya. Gadis ini
pendiam, bahkan sama sekali tidak pernah memperlihatkan kegembiraan. Betapapun juga dalam hal
kekejaman dan keganasan, gadis baju putih ini mungkin sepuluh kali lebih ganas dari Cui Im, sungguhpun
agaknya tidak berwatak licik dan curang seperti sucinya itu. Diam-diam dia membuat perbandingan.
Yang manakah yang baik di antara kedua orang gadis ini? Cui Im hidup sebagai seorang yang ingin
menikmati hidup sebanyaknya, selalu menuruti nafsunya tanpa mempedulikan sesuatu, hendak meraih
kesenangan dunia sebanyaknya tanpa peduli dia akan dicap gadis cabul atau tidak. Pendeknya segala hal
di dunia ini harus diarahkan demi kesenangan diri pribadi. Gadis seperti itu tentu saja tidak mempunyai
kesetiaan terhadap siapapun kecuali dirinya sendiri. Akan tetapi gadis yang jauh lebih muda dan jauh
lebih cantik juga lebih lihai yang duduk di depannya ini memiliki type tersendiri dan sukar sekali
meraba-raba untuk mempelajari wataknya. Wajah cantik ini seolah-olah memakai kedok dari salju,
begitu dingin dan sukar sekali dijenguk isi hatinya karena apa yang terkandung di dalam hati dan
pikirannya sama sekali tidak mengubah kulit muka yang halus dan tetap dingin itu.
Tiba-tiba saja muka yang jelita ini bergerak dan sepasang mata yang jernih bertemu dengan pandang
matanya. Keng Hong terkejut dan tersipu, cepat mengalihkan pandangan matanya, pura-pura melihat
pohon-pohon di pinggir jalan.
.
"Engkau lapar?" Pertanyaan itu pun tiba-tiba dan halus merdu. Keng Hong mengangguk dan menjawab
perlahan, "Haus....."
"Namaku Biauw Eng, dan kau boleh memanggil aku dengan namaku."
Keng Hong terkejut. Eh, kiranya ada juga sikap manis budi pada diri nona aneh ini. cepat dia
mengangkat muka memandang, mengharapkan ada perubahan muka pada nona itu, perubahan muka
yang wajar, yang tersenyum seperti halusnya ucapan yang dikeluarkan. Namun dia kecelik, wajah itu
tetap dingin dan tenang, sama sekali tidak membayangkan sesuatu kehangantan. Ia menghela napas
panjang dan berkata.
"Memang aku lapar, dan terutama sekali haus, Biauw Eng."
Song-bun Siu-li atau yang mengaku bernama Biauw Eng, dengan tenang mengambil bungkusan dari
sebelah belakangnya, di atas tempat duduk kereta itu, membuka bungkusan dan mengeluarkan sebuah
roti kering yang besar. Ia mematah-matahkan roti itu, membagi menjadi tiga, lalu memberi sebagian
kepada Keng Hong, sebagian lagi ia lemparkan ke arah Cui Im sambil berseru, "Suci, silahkan makan!"
dan dia sendiri lalu memulai makan bagiannya.
Cui Im menggigit roti kering sambil tertawa dan berkata, "Sayang, sumoi. Seguci arak Ai-ang-ciu (Arak
Merah Asmara) telah dihabiskan sekali teguk oleh bocah itu, hi-hi-hik!"
Sepasang alis yang hitam itu berkerut sebentar, namun tidak cukup untuk membayangkan bagaimana
perasaan Biauw Eng, apakah kecewa, ataukah marah, ataukah perasaan lain lagi. Hanya bibirnya yang
tadi tertutup ketika dia mengunyah roti di dalam mulut, kini terbuka sedikit mengeluarkan kata-kata.
"Aku masih ada persediaan air minum, jangan khawatir, suci."
Tangan kiri meraih ke belakang dan gadis ini telah mengeluarkan sebuah guci yang mengkilap, berwarna
putih, terbuat dari pada porselen yang amat indah. Melihat bahwa Keng Hong paling dulu menghabiskan
rotinya, nona ini menyerahkan guci porselen kepadanya sambil berkata.
"Minumlah dulu."
Keng Hong menerima guci itu, memandang kagum lalu bertanya, "Mana cawannya?"
"Hi-hi-hik! Keng Hong, kau selalu bersopan-sopan mencari cawan. Apa kau khawatir diracuni? Ah,
jangan takut, sumoi selamanya tidak sudi main-main dengan racun dan segala macam racun yang
dimasukan ke dalam guci pusaka itu akan lenyap pengaruhnya." Cui Im tertawa-tawa mengejek sehingga
muka Keng Hong menjadi merah sekali. Ia hanya memegangi guci itu dan tidak minum, menanti sampai
nona di depannya menghabiskan rotinya. Biauw Eng juga tidak peduli bahwa pemuda itu belum juga
minum dari guci.
"Kau minumlah dulu, nona Biauw Eng....." katanya memberikan guci itu. Sikap nona ini membuat Keng
Hong tidak berani untuk menyebut namanya begitu saja, melainkan menaruh sebutan nona di depannya.
Nona ini sikapnya seperti seorang puteri istana saja, begitu halus, angkuh namun dingin.
Biauw Eng tidak menjawab, melainkan menerima guci itu, membuka tutupnya dan mengangkat guci ke
atas mukanya yang ditengadahkan, lalu dituangnya air dari guci yang memancur memasuki mulutnya yang
dingangakan. Keng Hong menelan ludah, bukan karena melihat orang minum atau melihat air yang amat
jernih dan segarnya memasuki mulut orang, melainkan melihat mulut yang menggairahkan itu. Mulut yang
.
terbuka, tampak giginya berderet putih, lidah meruncing merah sekali bergerak-gerak ketika kejatuhan
air jernih , melihat rongga mulut yang segar kemerahan, yang membayangkan kesedapan dan kenikmatan.
Keng Hong diam-diam bergidik dan tidak tahu dari mana datangnya perasaan ini yang timbul semenjak
dia jatuh oleh godaan asmara Cui Im.
Setelah gadis itu menyerahkan guci kepadanya, barulah dia sadar dan cepat menerima guci itu. Akan
tetapi belum dia minum air itu, dia teringat kepada Cui Im. Keng Hong selama berada di Kun-lun-pai
mempelajari tata susila, sopan santun dan telah membaca banyak kitab, maka sifat sopan santun
sebenarnya telah meresap di hatinya. Kini teringat bahwa Cui Im belum minum, sungguh pun dia kini
merasa muak kepada gadis itu setelah dia mengenal wataknya yang keji dan bahwa bujuk rayu yang
amat mesra pada malam itu bukan timbul dari hati mencinta melainkan melainkan sebagai alat membujuk
saja, namun dia merasa tidak enak kalau harus mendahului gadis itu minum airnya.
"Kau minumlah dulu," katanya menyerahkan guci.
Cui Im yang duduk di sebelah depan, memutar tubuhnya, memandang Keng Hong dengan mata genit
lalu menerima guci, terus diteguknya seperti yang dilakukan sumoinya tadi. kemudian ia mengembalikan
guci kepada Keng Hong dan ketika pemuda itu menerimanya, sejenak Cui Im membelai tangan pemuda
itu dan mencubit lengannya penuh arti sambil terkekeh. Keng Hong cepat-cepat menarik tangan dan guci
itu sambil melirik ke arah Biauw Eng. Namun gadis ini diam saja tidak bergerak-gerak, seolah-olah tidak
melihat atau memang tidak peduli akan kecentilan sucinya.Keng Hong menghilangkan rasa kikuknya
dengan menenggak iar dari dalam guci dan dia kagum sekali. Roti kering tadi amat enaknya, gurih dan
agak manis, berbau sedap. Akan tetapi air ini lebih lezat lagi. Memang rasanya air biasa, namun
mengandung keharuman buah apel dan amat sejuk dan segar. Tanpa bicara, dia mengambilkan guci
kepada Biauw Eng yang segera menyimpannya kembali dan berkatalah Biauw Eng.
"Kita perlu menghimpun tenaga karena kurasa masih banyak penghalang di depan." Setelah berkata
demikian, nona baju putih itu melempangkan punggungnya, dan meramkan matanya, napasnya menjadi
makin lambat sampai akhirnya seperti tidak bernapas lagi. Tahulah Keng Hong bahwa nona ini kembali
telah melatih dirinya dengan samadhi dan ilmu Pi-khi-hoan-hiat. Ia memandang kagum. Setelah mata itu
terpejam, tampak bulu mata yang merapat dan hitam panjang melentik. Jantung Keng Hong berdebar
dan cepat-cepat dia menekan perasaannya ini. Untuk melawan gelora hatinya menghadapi nona yang luar
biasa cantiknya ini, dia pun lalu memejamkan mata menghimpun tenaga? Untuk apa? Untuk
membebaskan diri kalau kesempatan muncul, pikirnya. Kalau dia sudah mengikuti nona ini sampai
bertemu dengan Lam-hai Sin-ni. Akan tetapi, setelah berhadapan dengan Lam-hai Sin-ni, betapa
mungkin dia dapat membebaskan diri? Sedangkan nona Biauw Eng ini saja sudah demikian lihai dan tak
mungkin dapat mengalahkannya, apalagi ibunya! Keng Hong diam-diam bergidik ngeri, akan tetapi dia
sudah berjanji untuk membalas budi pertolongan nona itu, baru akan membebaskan diri. Hatinya tentram
kembali dan Keng Hong pun segera "pulas" dalam samadhinya walaupun kereta itu melalui jalan yang
tidak rata dan berguncang-guncang keras.
Sampai malam tiba, tidak ada rintangan di jalan. Kereta di hentikan di sebuah gunung yang banyak
terdapat gua-guanya dari batu. Setelah makan daging kelinci yang ditangkap oleh Cui Im dan minum air
gunung, mereka mengaso di luar kereta, di dalam sebuah gua yang agak besar tak jauh dari situ. Cui Im
sudah duduk mendekati Keng Hong, tangannya sudah mulai menggerayangi tubuh Keng Hong dan
mulutnya membisikan kata-kata merayu, kadang-kadang hanya mengeluarkan suara seperti seekor
kucing memancing belaian. Namun Keng Hong tidak memperdulikannya, bahkan menjadi gemas sekali.
Ia merasa canggung dan malu sekali karena gadis ini tanpa malu-malu mengajaknya bermain cinta di
depan Biauw Eng! Adapun gadis baju putih itu duduk bersila dan seolah-olah tidak melihat itu semua,
tidak mendengar suara merintih-rintih dan meminta-minta yang keluar dari mulut sucinya.
.
"Cui Im, mengapa kau tidak bisa diam? Jangan ganggu aku!" akhirnya Keng Hong berkata lirih dan
mengibaskan tangan Cui Im.
"Aihhh, mengapa engkau berubah, Keng Hong? Setelah berada di depan sumoi yang jauh lebih cantik
dariku, engkau pura-pura tidak tahu.... hi-hi-hik, masih ingatkah malam mesra itu? Masih terasa olehku,
Keng Hong..... ahhh....."
"Cui Im, diamlah!" Keng Hong membentak, agak keras karena marah. Ia menyesal sekali sekarang
mengapa malam hari dulu itu dia mau melayani gadis ini, pengalamannya yang pertama dia hanyutkan
begitu saja bersama seorang gadis bermoral bejat seperti ini. Kalau Cui Im benar-benar mencintanya, dia
pun tidak akan menyesal karena dia hanya ingin mengikuti jejak gurunya, melayani cinta kasih seorang
wanita yang disukanya. Dan dia memang suka kepada Cui Im seperti rasa sukanya kepada segala yang
indah. Kalau Cui Im tidak menggunakan daya tariknya sebagai seorang wanita hanya untuk
membujuknya, kalau Cui Im tidak palsu cintanya, tentu dia selamanya akan mengenang pengalamannya
dengan Cui Im sebagai kenangan yang manis. Sekarang, dia hanya akan mengenangnya sebagai sebuah
kenangan yang memalukan dan menjijikan.
"Suci, jangan ribut. Ada musuh-musuh datang.....!" Tiba-tiba Biauw Eng berkata halus dan ke dua orang
itu merasa jengah sendiri mengapa mereka ribut-ribut saja sehingga tidak mendengar datangnya ancaman
musuh. Ketika mereka berdua memandang keluar gua, benar saja, di bawah sinar-sinar bintang-bintang
yang suram, tampak berkelebat bayangan belasan orang yang gesit dan ringan. Bagaikan
bayang-bayangan setan, belasan orang itu menerjang kereta dan terdengarlah suara hiruk pikuk, suara
senjata-senjata dipukulkan pada kereta sampai kereta itu hancur dan roboh, kudanya lari tidak karuan.
Agaknya orang-orang itu menjadi marah karena mendapatkan kereta itu kosong, dan melampiaskan
kemarahan mereka pada kereta kosong!
"Kurang ajar! Mereka merusak kereta!" Cui Im berseru marah.
"Tenang, Suci. Mari kita sambut mereka! Dan kau Keng Hong, jangan mencampuri urusan kami, kau
tinggal saja di sini dan menonton." Biauw Eng sikapnya tenang sekali dan kini dia mengajak sucinya untuk
keluar dari gua menyambut belasan orang yang sudah mendengar seruan Cui Im dan kini menyerbu ke
arah gua.
Keng Hong duduk saja bersila di dalam gua, membuka mata memandang bayangan-bayangan itu dan
telinganya mendengar suara Biauw Eng yang halus merdu dan tenang.
"Siapa di depan? Mau apa kalian dan mengapa merusak kereta? Di sini Song-bun Siu-li dan Ang-kiam
Tok-sian-li!"
Belasan sosok bayangan itu tiba-tiba berhenti bergerak, agaknya tertegun dan kaget mendengar
nama-nama itu, kemudian terdengar suara.
"Kami empat orang anak murid Hoa-san-pai, mewakili suhu-suhu kami Hoa-san Siang-sin-kiam untuk
diminta diserahkannya tawanan yang bernama Cia Keng Hong!” Remang-remang tampak oleh Keng
Hong bahwa empat orang yang berkelompok itu adalah tiga orang muda dan yang seorang gadis,
kesemuanya memegang pedang. Teringatlah dia akan dua orang tokoh Hoa-san, yaitu Hoa-san
Siang-sin-kiam yang bernama Coa Kiu dan Coa Bu, kakak beradik yang hebat ilmu pedangnya itu. Jadi
empat orang ini murid-murid mereka? Tentu lihai ilmu silatnya.
"Pinceng bertiga adalah murid-murid Siauw-lim-pai, mentaati perintah ketua kami untuk menangkap Cia
Keng Hong!" Tiga orang hwesio gundul Siauw-lim-pai itu masing-masing memegang sebatang toya dan
.
tampaknya mereka itu kuat-kuat.
"Kami sembilan orang adalah murid-murid Kong-thong Ngo-lojin, mewakili suhu-suhu kami untuk
membawa Cia Keng Hong ke Kong-thong-pai!" Sembilan orang ini pun masih muda-muda dan kalau
tidak keliru penglihatan Keng Hong dalam gelap itu, terdiri dari enam orang pemuda dan tiga orang
pemudi, dengan senjata bermacam-macam, ada pedang, golok, tombak pendek, ruyung dan cambuk
saja.
Diam-diam Keng Hong menjadi gelisah. Betapapun lihainya Cui Im dan Biauw Eng, mana mungkin
dapat menang menghadapi pengroyokan enam belas orang yang kesemuanya adalah murid-murid tokoh
besar yang sakti?
Namun, baik Cui Im maupun Biauw Eng bersikap tenang-tenang saja, bahkan kini terdengar suara
Biauw Eng yang halus dan dingin, mengandung ejekan dan tantangan.
"Cia Keng Hong adalah tangkapan yang berada di kekuasaan kami sebagai wakil dari Lam-hai Sin-ni.
Tak seorang pun boleh mengganggunya. Kalian ini murid-murid tokoh besar di dunia kang-ouw, sungguh
tak tahu malu telah merusak kereta kami. Kalau memang hendak menggunakan kekerasan, majulah ,
kami berdua tidak gentar menghadapi kalian!"
"Omitohud, kiranya Song-bun Siu-li masih seorang bocah yang mulutnya sombong sekali!" bentak
seorang murid Siauw-lim-pai yang sudah menerjang maju dengan toyanya, diikuti dua orang sutenya.
Yang lain-lain juga segera berseru keras dan menerjang maju, mengeroyok Cui Im dan Biauw Eng. Dua
orang gadis murid Lam-hai Sin-ni mengeluarkan suara melengking tinggi dan tampaklah gulungan sinar
pedang merah dari tangan Cui Im yang amat gemilang, disusul gulungan sinar putih sabuk sutera Biauw
Eng yang lebih gemilang dan lebar lagi. Pertandingan berlangsung dengan seru di malam yang
remang-remang itu.
Tingkat kepandaian dua orang murid Lam-hai Sin-ni sesungguhnya lebih tinggi daripada tingkat
kepandaian murid-murid Siauw-lim-pai, Kong-thong-pai dan Hoa-san-pai itu, apalagi Biauw Eng.
Kiranya kalau hanya menghadapi pengeroyokan lima orang lawan saja, Biauw Eng masih ada harapan
untuk menang. adapun takaran lawan Cui Im kiranya hanya dua atau paling banyak tiga orang lawan saja.
Kalau mereka dikeroyok tujuh atau delapan orang, barulah ramai dan seimbang. Akan tetapi kini yang
mengeroyok mereka adalah enam belas orang! Tentu saja kedua orang murid Lam-hai Sin-ni menjadi
terdesak hebat sehingga terpaksa mereka itu harus saling bela dengan cara berdiri beradu punggung dan
memutar senjata secepat mungkin untuk menangkis hujan senjata yang menimpa mereka.Sekali ini pun
sabuk sutera putih di tangan Biauw Eng berjasa lagi karena sabuk yang panjang itu selain dapat
melindungi tubuhnya sendiri, juga dapat membantu sucinya yang mulai repot. Bahkan beberapa kali Cui
Im mengeluarkan teriakan marah ketika betis kirinya dan pangkal lengan kanannya tercium ujung senjata
lawan sehingga bairpun bukan merupakan luka parah, namun cukup merobek baju dan kulit
mengeluarkan darah.
"Nona berdua sebaiknya menyerah saja. Kami tidak bermusuhan dengan nona berdua, juga tidak ingin
membunuh. Kami hanya ingin menawan Cia Keng Hong karena guru-guru kami mempunyai urusan
dengan dia sebagai wakil gurunya yang sudah berdosa terhadap partai kami," terdengar seorang pemuda
murid Hoa-san-pai berkata nyaring.
"Mulut besar!" bentak Cui Im. "Keng Hong adalah tawanan kami, kalau kalian dapat membunuh kami,
baru boleh bicara tentang menawan Keng Hong!"
"Bagus! Memang kaum sesat selalu nekat dan mau menang sendiri!" teriak seorang murid
.
Kong-thong-pai dan kepungan diperketat, serangan diperdahsyat sehingga dua orang murid Lam-hai
Sin-ni menjadi makin repot melindungi tubuh mereka dari cengkraman maut.
Kini cuaca mulai makin terang karena bulan sepotong yang munculnya sudah malam itu mulai
memuntahkan sinarnya. Keng Hong yang menyaksikan pertandingan itu menjadi gelisah. Ia maklum
bahwa kedua orang nona itu sudah pasti akan roboh, kalau tidak tewas sedikitnya tentu terluka hebat. Ia
sedang mempertimbangkan pendiriannya. Harus berfihak yang mana? Fihak enam belas orang itu
memiliki pamrih yang sama, yaitu menawannya dan memaksanya menunjukan tempat simpanan pusaka
gurunya seperti juga guru-guru mereka dahulu memperebutkan Siang-bhok-kiam adalah untuk mencari
pusaka gurunya itu. Sebaliknya, fihak kedua, dua orang murid lam-hai Sin-ni itu pun sama juga. Jelas
bahwa kedua fihak itu tidak ada yang bermaksud baik terhadap dirinya.dan dia merasa kasihan kepada
dua orang gadis itu yang dianggapnya berada di fihak yang harus dia bantu. Dua melawan enam belas.
Mana adil? Pula, pantaslah kalau dia kini berpeluk tangan saja menyaksikan gadis itu terancam bahaya?
Bagaimana tindakan suhunya kalau suhunya menjadi dia? Pernah suhunya menasehatinya.
"Kalau menolong orang, tolonglah saja berdasarkan perasaan hatimu. Jangan menengok latar
belakangnya, jangan mengingat keadaannya, jangan pula memperhitungkan urusannya. Kalau kau merasa
kasihan dan ingin menolong, tolonglah tanpa ada perasaan pamrih lainnya. kalau tidak ada rasa kasihan
dan ingin menolong seperti itu, lebih baik kau tinggalkan tidur dan tidak perlu melibatkan diri dengan
urusan orang lain."
Keng Hong segera bangkit berdiri. Mingkinkah dia membiarkan saja dua orang gadis itu tewas? Tidak!
Biarpun dia tidak suka kepada Cui Im, merasa sebal menyaksikan tingkah laku gadis itu, namun harus dia
akui bahwa dia telah mengalami kesenangandengan gadis itu dan dia merasa tidak tega kalau melihat Cui
Im tewas di ujung senjata banyak lawan yang mengeroyoknya. Apalagi terhadap Song-bun Siu-li yang
bernama Biauw Eng. Gadis ini pernah membebaskannya dari kematian di ujung pedang Cui Im. Tentu
saja dia tidak tega membiarkannya mati dikeroyok. Keng Hong melompat ke dekat tempat pertempuran,
sebelah tangannya memegang sebatang ranting, dan dia berseru.
"Cia Keng Hong berada di sini! Siapa yang hendak menangkap aku, majulah! Mengeroyok anak-anak
perempuan kecil, apa tidak malu?"
"Keng Hong, tutup mulutmu yang sombong!" Cui Im memaki marah karena dikatakan anak perempuan
kecil, juga ia menjadi gelisah karena sekali. Keng Hong keluar, terbukalah kesempatan bagi para
pengeroyok untuk melarikan pemuda itu.
Benar saja. Mendengar teriakan ini, sebagian besar para pengeroyok meninggalkan dua orang gadis itu
dan mengejar Keng Hong! Kini yang mengeroyok Cui Im dan Biauw Eng hanya tinggal enam orang saja,
yaitu seorang hwesio siauw-lim-pai, dua orang murid Hoa-san-pai, dan tiga orang murid
Kong-thong-pai. Adapun yang sepuluh orang sudah lari dan berebutan menubruk Keng Hong dengan
tangan kosong karena mereka ingin menangkap pemuda itu hidup-hidup seperti yang diperintahkan guru
masing-masing.
Akan tetapi tubrukan mereka itu disambut sinar yang bergulung-gulung dari ranting yang diputar oleh
Keng Hong. Terdengar bunyi plak-plik-pluk ketika ranting di tangan Keng Hong itu menyambet-nyambet
mereka, ada yang terkena pipinya, ada yang terkena lehernya atau lengannya. Mereka berseru kaget dan
meloncat mundur, tidak mereka sangka bahwa sabetan ranting bisa mendatangkan rasa nyeri yang begitu
hebat. Tahulah mereka bahwa murid Sin-jiu Kiam-ong ini tidak boleh dianggap remeh. Mereka kini maju
lagi dan mulai mengirim pukulan, sungguhpun hal ini masih dilakukan dengan tangan kosong karena
mereka ingin menangkapnya hidup-hidup.
.
Melihat datangnya pukulan-pukulan ini, Keng Hong menggerakan rantingnya lagi. Namun dia merasa
kaku sekali untuk mainkan Siang-bhok Kiam-sut dengan ranting itu dalam menghadapi pengeroyokan
begini banyak orang. Hujan pukulan dan cengkraman itu ada yang dapat ditangkisnya, namun ada pula
yang mengenai tubuhnya, bahkan kini selimut penutup tubuh belakangnya sudah terlepas, bajunya yang
kena dicengkram juga mulai robek-robek. Timbulah kemarahan di hati Keng Hong.
"Kalian nekat, ya?" bentaknya dan ketika seorang hwesio Siauw-lim yang memiliki sinkang paling kuat
mencengkram ke arah pundaknya dengan ilmu cengkraman Eng-jiauw-kang (Cengkraman Kuku
Garuda), dia cepat mengulur tangan kanannya memapaki cengkraman itu sehingga kedua telapak tangan
itu bertumbukan di udara.
"Plakkk!!"
Hwesio Siauw-lim-pai itu kaget bukan main, merasa betapa lengannya tergetar dan panas. Cepat dia
berusaha menarik kembali tangannya, akan tetapi sia-sia saja, tangannya sudah melekat dengan tangan
pemuda itu dan alangkah kaget hatinya ketika merasa hawa sinkang dari tubuhnya berserabutan keluar
dari tubuh melalui tangannya itu, disedot oleh telapak tangan Keng Hong! Hwesio itu mengeluarkan
teriakan-teriakan aneh dan teriakan-teriakan ini disusul teriakan-teriakan lain ketika banyak tangan sudah
menempel di tubuh Keng Hong tanpa dapat ditarik kembali! Ada enam orang di antara para pengroyok
yang kini telapak tangannya menempel di tubuh Keng Hong dan sinkang mereka membocor terus disedot
oleh tubuh pemuda yang luar biasa ini. Yang menjadi paling bingung dan juga jengah sekali adalah
seorang murid perempuan Kong-thong-pai dan seorang murid perempuan Hoa-san-pai. Mereka ini
adalah dua orang gadis muda yang cantik dan gagah , kini mereka mebetot-betot kedua tangan mereka
tanpa hasil, padahal mereka tadi yang menyerang dari belakang dan tangannya menempel pada pingul
Keng Hong yang telanjang seadngkan yang seorang lagi tangannya menempel pada leher pemuda itu.
Dilihat begitu saja seolah-olah mereka ini sedang main gila, sedang main raba dan colek terhadap tubuh si
pemuda!
Empat orang gagah yang lain ternganga keheranan, akan tetapi sebagai murid-murid orang sakti mereka
ini dapat menduga bahwa si pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong tentu menggunakan ilmu siluman sehingga
teman-teman mereka melekat seperti itu. Seorang hwesio Siauw-lim-pai segera berkata.
"Kita kumpulkan sinkang, dan berbareng kita membetot!" Ia lalu memegang tangan teman-temannya
yang belum tersedot sinkangnya, kemudian mereka lalu memegang pundak mereka yang tersedot, dan
mengerahkan kekuatan secara berbareng untuk menarik. Agar dapat menarik berbareng, hwesio itu
memberi aba-aba.
"Satu..... dua..... tiga tarik!!"
Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri rasa hati mereka ketika tiba-tiba saja tangan empat orang
yang lain ini pun amblas seperti air dicampurkan ke dalam lautan! Jangankan menarik teman-teman yang
sudah melekat , menarik diri sendiri pun tidak sanggup lagi karena tenaga mereka yang dipergunakan
untuk menarik itu tidak mendapatkan tempat berpijak melainkan molos terus mengalir masuk ke dalam
tubuh yang mereka pegang terus mengoper hawa sinkang ini melalui tubuh Keng Hong! Keng Hong
sendiri pun mulai bingung. Seperti yang pernah dia alami di Kun-lun-pai,sekarang pun dia merasa betapa
tubuhnya kebanjiran hawa sinkang, dadanya serasa hampir meledak-ledak, kepalanya seperti menjadi
sebesar gentong beras, berdenyut-denyut, maranya merah dan hampir terloncat keluar dari pelupuknya,
seluruh tubuh terasa berdenyutan dan gatal-gatal panas. Biarpun sinkang sepuluh orang ini masih belum
menyamai sinkang Kiang Tojin dan beberapa orang sutenya, namun bagi Keng Hong tetap saja
merupakan siksaan yang hebat dan dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk melepaskan mereka. Ia
maklum, bahwa sekali dia mengerahkan tenaga yang mendesak-desak ini untuk mengibaskan mereka,
.
akibatnya tentu hebat seperti yang pernah dia lakukan di Kun-lun-san. Akn tetapi pada waktu itu, yang
dia robohkan hanyalah belasan batang pohon-pohon raksasa.
Sementara itu setelah kini Cui Im dan Biauw Eng hanya dikroyok enam orang lawan, mereka sebentar
saja dapat merobohkan semua lawan itu. Cui Im merobohkan dua orang dengan pedangnya Biauw Eng
membuat empat orang lainya terguling.
Kini dua orang gadis itu berdiri melongo memandang Keng Hong yang digelut oleh sepuluh orang!
Memang amat aneh pemandangan ini. Keng Hong berdiri dengan tubuh menggigil di tengah-tengah,
sedangkan sepuluh orang itu menggeluti tubuhnya, banyak yang diam tak brgerak, ada yang masih
mencoba untuk membetot-betot, namun semuanya tidak berhasil dan terdengarlah keluhan dan rintihan
putus asa keluar dari mulut sepuluh orang itu.
"Itulah, Sumoi. ilmunya yang mujijat, menyedot sinkang orang seperti yang kuceritakan kepadamu.....
heiii! Sekarang tahu aku mengapa sinkangku lenyap sebagian besar! Kiranya malam itu .... dia.... dia
telah menyedot hawa sakti tubuhku, kurang ajar!" Cui Im memaki.
"Heran betul. Benarkah dia bisa memiliki Thi-khi-i-beng? Menurut ibu, di dunia ini tidak ada lagi yang
mengerti ilmu itu. Ibu sendiri hanya mengerti sedikit. Bocah ini hebat, Suci. Kalau didiamkan saja, sepuluh
orang ini tentu mati semua dan ibu tidak akan senang kalau kita menanam bibit permusuhan dengan
partai-partai persilatan besar. Hayo kita lepaskan mereka."
"Mana mungkin, sumoi? Jangan-jangan kau akan ikut tersedot! Hiiihhhh..... ilmu setan yang mengerikan!"
"Aku mengetahui caranya, suci."
"Kau? Kalau begitu subo telah mengajarmu ilmu ini? Ah, mengapa aku tidak diberi tahu sama sekali?"
Cui Im bertanya dengan cara mencela, penuh iri.
"Hanya mengerti cara membebaskannya, sama sekali aku pun tidak tahu akan ilmu ini. Kalau kau
menguasainya, alangkah banyaknya orang-orang yang kausedot habis!" Biauw Eng lalu memunggut
cambuk kuda dari atas tanah di dekat kereta yang sudah hancur. "Kau pergunakan cambuk ini. Jangan
sekali-kali pergunakan tanganmu untuk menyentuh mereka. Kalau kau sudah menotok pergelangan
tangan Keng Hong, kau pergunakan ujung cambuk untuk membetot tangan-tangan yang menempel di
tubuhnya. Mengerti?"
Cui Im mengangguk dan mereka lalu menghampiri sebelas orang yang brgelut tanpa bergerak sambil
berdiri itu. Biauw Eng lalu memutar sabuk sutera putihnya ke atas, terdengar suara berdetak-detak
kemudian kedua ujung sabuk itu menyambar ke depan , tepat menotok pergelangan kedua tangan Keng
Hong. Dan pada saat itu, selagi Keng Hong merasa seolah-olah kedua lengannya lumpuh dan saluran
hawa sakti yang membanjir ke tubuhnya terhenti, Cui Im sudah menggerakan cambuknya melihat
tangan-tangan yang menempel di tubuh Keng Hong lalu membetot sekuatnya. Biauw Eng juga
mengunakan sabuk suteranya melakukan hal sama sehingga dalam beberapa detik saja sepuluh orang itu
telah terjengkang roboh dan sambil mengeluh mereka itu cepat duduk bersila sambil mengatur napas
untuk memulihkan, atau setidaknya mendapatkan sedikit tenaga sehingga mereka tidak roboh pingsan
terus tewas.
Keng Hong yang terlepas daripada kebanjiran hawa sinkang, berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang
seperti orang mabuk. Ia memang persis seperti orang mabuk arak, bahkan ketika dia berjalan
menghampiri Cui Im dan Biauw Eng, dia berjalan dengan kedua kaki diseret, seolah-olah kedua kakinya
menjadi kaku dan kejang, kedua lengannya tergantung kaku pula di kanan kiri, matanya yang
.
memandang dua orang gadis itu dikejap-kejapkan karena dalam pandang matanya yang
berkunag-kunang, dua orang gadis itu kini berubah menjadi empet! Ia mengusahkan diri untuk tersenyum
dan mengucapkan terima kasih, akan tetapi enyumnya berubah menjadi menyeringai menakutkan, dan
pandang matanya menjadi liar sehingga Cui Im dan Biauw Eng yang amat lihai itu pun sampai
mudur-mundur ketakutan!
"Heh-heh-heh, terima kasih..... terima kasih Ji-wi Siocia (Nona Berdua) yang telah membebaskan diriku
dari.... hemmm..... lintah-lintah itu....!"
Biauw Eng memandang tajam dan berkata halus, "Keng Hong, kausimpanlah kembali ilmumu menyedot
sinkang itu."
Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak bisa.... tidak bisa....., disimpan bagaimana? Terlalu
penuh tubuhku.... dadaku sakit, kepalaku mau meledak...., tenaga ini, mendorong-dorongku.....
ahhh.....!" Ia memegangi kepalanya dan meramkan kedua matanya. Ingin dia memukul, menendang, ingin
dia merobohkan apa saja, dan keinginan ini timbul secara serentak, mendesak kepadanya menjadi
seorang liar yang memuaskan nafsu untuk merobohkan dan membunuh, apa saja.
Enam belas orang yang telah terluka semua itu, akan tetapi tidak ada yang tewas karena kedua oang
gadis itu memang tidak bermaksud membunuh mereka agar jangan mendatangkan bibit permusuhan kini
juga memandang ke arah Keng Hong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Keadaan pemuda itu
memang menyeramkan. Tidak saja mukanya menjadi merah seperti udang direbus, dan matanya jelalatan
seperti mata setan, akan tetapi bahkan rambut kepalanya seperti berdiri satu-satu. Tanpa disadari dan
dimengerti oleh Keng Hong sendiri, setelah kini tidak ada sinkang orang lain yang membanjiri tubuhnya,
otomatis daya sedotnya lenyap dan kini sebaliknya berubah menjadi daya serang yang amat luar biasa.
Memang sebetulnya ketika Sin-jiu Kiam-ong mengoper sinkangnya kepada Keng Hong, kakek ini tidak
sempat lagi untuk memberi pelajaran tentang menguasai sinkang yang kelebihan di dalam tubuh muridnya.
Karena paksaan ini, terjadilah salah susunan salah kerja sehingga sinkang yang membanjiri ke dalam
tubuh pemuda itu menjadi liar, ibarat ia ditampung tanpa ada pintu untuk memasukan dan mengeluarkan
air, datangnya membanjiri secara liar. Kalu saja Keng Hong sudah dapat mengusai dirinya sendiri, tentu
dia akan dapat mengatur sehingga hawa yang masuk disesuaikan dengan tempatnya, dan dapat pula
mengatur bagaimana untuk menbuka pntu mengeluarkan sinkang dalam penggunaan sesuai dengan
keperluannya. Kini, setelah secara liar hawa sinkang membanjiri masuk, keadaannya menjadi terbalik.
Pintu masuk tertutup dan pintu keluar sukar dibuka kalau tidak dipaksa dengan pukulan dan tendangan,
tidak dipaksa untuk bertanding! Maka hawa pun mendesak-desak dan membuat tubuhnya seperti
sebuah balon karet yang terlalu penuh diisi hawa, siap untuk meletus setiap saat.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Belasan ekor kuda mendatangi dari depan menuju ke tempat itu.
Binatang-binatang itu adalah binatang tunggangan para murid ketiga partai persilatan itu yang tadi
meninggalkan kuda mereka di dalam hutan sebelah agar mereka dapat mengepung kereta tanpa
mengeluarkan suara. Kini belasan ekor kuda itu berlari-larian karena dikejutkan oleh serangan seekor
harimau, dan dalam keadaan panik belasan ekor kuda itu lari menerjang ke arah orang-orang yang
sedang terheran-heran memandang ke arah Keng Hong dengan mata terbelalak. Biarpun mereka itu
rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun pada waktu itu mereka sedang menderita luka dan
sebagian besar hampir habis tenaga sinkangnya tersedot oleh Keng Hong, maka kini menghadapi
pasukan kuda yang menerobos liar ini mereka tak sempat untuk menghindarkan diri. Dan jangan
dianggap remeh rombongan kuda yang sedang panik dan ketakutan ini. Mereka akan menerjang apa saja
dan akan menginjak-nginjaknya sampai lumat!
Keng Hong dapat melihat keadaan bahaya ini. Biarpun dia sedang tersiksa oleh haw sinkang yang
memenuhi badannya, melihat keadaan bahaya mengancam orang-orang itu, dia lalu cepat meloncat.
.
Tubuhnya bagaikan sebuah bola karet penuh gas, begitu digerakan lalu meluncur cepat sekali
menghadang rombongan kuda. Pemuda ini secara aneh sekali telah menjadi buas dan ingin sekali
menghancurkan atau menbunuh apa yang merintang di depannya. Hal ini adalah disebabkan dorongan
sinkang yang berlebihan itu sehingga dia tersiksa dan ingin melampiaskan rasa marah yang timbul akibat
siksaan ini. Keadaannya itu tiada bedanya dengan seorang yang diserang sakit gigi mnjadi marah-marah
dan ingin mengamuk. Maka kini melihat betapa rombongan kuda itu mengancam keselamatan
orang-orang yang mederita luka akibat dirinya, dia lalu mendorong-dorongkan kedua lengan dan kakinya
sambil mengeluarkan seruan-seruan yang aneh bunyinya karena suara ini digerakan sinkang yang padat,
dikeluarkan untuk mengimbangi gerakan-gerakan pukulan dan tendangan itu. Akibatnya hebat sekali!
Belasan ekor kuda itu seperti diamuk angin taufan, roboh dan terbanting ke kanan kiri, berkelojotan
sambil mengeluarkan suara meringkik-ringkik kesakitan. Di antara suara hiruk-pikuk ini, Keng Hong
sudah menerjang maju terus dan terdengarlah gerakan dahsyat. Dalam waktu beberapa menit saja,
belasan ekor kuda sudah menggeletak tak bernapas lagi, dan paling belakang tampak seekor harimau
besar berkelojotan sekarat!Adapun Keng Hong sendiri berdiri tegak, mukanya penuh peluh, mukanya
masih merah sekali akan tetapi jalan prnapasannya sudah tenang dan kini wajahnya tidak beringas seperti
tadi, melainkan tenang, bahkan kelihatannya lega. Memang kini telah lapang dadanya, sinkang yang
menggelora di dalam tubuhnya telah dia salurkan keluar melalui pukulan dan tendangan yang
mengakibatkan tewasnya enam belas ekor kuda ditambah seekor harimau besar!
Biauw Eng dan Cui Im terbelalak, terpesona dan penuh kekaguman mereka memandang Keng Hong.
Kini mereka berdua maklum bahwa kalau Keng Hong menghendaki, pemuda itu tentu dapat
membebaskan diri dari mereka dan jika mereka menggunakan kekerasan, mereka takan dapat
menangkap pemuda aneh itu. Namun pemuda itu tidak pernah melawan dan menurut saja menjadi orang
tangkapan mereka berdua! Teringat akan ini, Cui Im dan Biauw Eng bergidik. Pada saat itu, terjadilah hal
yang sama dalam hati dua orang murid Lam-hai Sin-ni, yaitu bahwa cinta kasih mereka jatuh terhadap
Keng Hong! Cui Im yang telah berhasil merayu Keng Hong sehingga pemuda yang mewarisi ilmu
kepandaian juga mewarisi pula sifat mendiang Sin-jiu Kiam-ong itu pernah melayani bermain cinta, kini
benar-benar menghedaki pemuda itu menjadi kekasihnya untuk selamanya. Bukan hanya karena Keng
Hong seorang pemuda yang tampan dan gagah, pula seorang yang masih jejaka sebelum bertemu
dengannya, juga terutama sekali karena Keng Hong memiliki ilmu kepandaian mujijat, di samping ini
menjadi pewaris pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Kalau dia dapat memiliki pemuda ini sampai
selamanya, atau setidaknya sampai dia dapat mengoper semua ilmu dan pusaka itu, alangkah akan
senang hatinya!
Adapun perasaan cinta kasih yang mulai bersemi di hati Biauw Eng adalah cinta kasih yang wajar dari
seorang gadis yang selamanya belum pernah jatuh cinta terhadap seorang pemuda yang amat menarik
hatinya. Biauw Eng melihat adanya sifat luar biasa pada diri Keng Hong ini, sifat kegagahan yang aneh
dan sukar dicari keduanya. Hatinya jatuh, akan tetapi sesuai dengan sifatnya yang pendiam dingin dan
keras, tentu saja tidak ada sesuatu pun terbayang pada wajah atau pandang matanya, berbeda dengan
Cui Im yang memandang Keng Hong penuh nafsu menyala yang terbayang pada wajahnya yang menjadi
kemerahan dan sinar matanya yang bersinar-sinar.
Enam belas orang murid-murid partai persilatan besar itu kini merasa putus harapan untuk dapat
merampas murid Sin-jiu Kiam-ong seperti yang mereka harapkan semula, sesuai dengan tugas yang
mereka terima dari guru-guru mereka. Tadinya menghadapi dua orang murid Lam-hai Sin-ni, mereka
masih mempunyai harapan untuk berhasil. Biarpun mereka itu terdiri dari empat orang murid
Hoa-san-pai, tiga oang murid Siauw-lim-pai, dan sembilan orang murid Kong-thong-pai, namun karena
ketiganya dari partai-partai persilatan yang bersahabat, mereka telah bersatu untuk merampas Keng
Hong agar semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong dapat ditemukan dan mereka selain dapat
mengambil benda-benda pusaka yang dulu dicuri atau dirampas Sin-jiu Kiam-ong, juga mendapat bagian
pusaka-pusaka lain sebagai "bunganya". Akan tetapi setelah mereka menyaksikan betapa murid Sin-jiu
.
Kiam-ong yang menjadi tawanan kedua orang murid Lam-hai Sin-ni itu turun tangan dan ternyata
memiliki ilmu yang mengerikan dan amat lihai seperti iblis sendiri, bahwa pemuda aneh itu membantu dua
orang nona yang menjadi penawannya, mereka kehilangan harapan untuk melanjutkan perampasan
dengan kekerasan. Dengan hati penuh kemarahan mereka berpendapat bahwa tentu murid Sin-jiu
Kiam-ong ini berwatak seperti mendiang gurunya dan kini tergila-gila kepada dua orang murid iblis betina
yang cantik itu sehingga malah membantunya.
"Amitohud......, mendiang Sin-jiu Kiam-ong memiliki dua sifat, yaitu sifat pendekar besar yang gagah
perkasa dan sifat kenakalan lain yang amat buruk sehingga beliau mempunyai banyak musuh. Kini
muridnya agaknya tidak mewarisi sifat yang baik itu melainkan mewarisi sifat buruknya!" kata seorang di
antara tiga murid Siauw-lim-pai yang berpakaian pendeta dan berkepala gundul.
Keng Hong tersenyum, akan tetapi hatinya panas. Gurunya adalah seorang yang amat dihormat dan
disayangnya, merupakan orang satu-satunya yang amat baik terhadapnya. Kini gurunya sudah mati
namun masih saja dipercakapkan orang! Ia lalu memandang hwesio itu dan menjawab.
"Losuhu, sudah jamak bahwa manusia itu mempunyai dua sifat, baik dan buruk. Baik dan buruk yang
hanya disebut mulut manusia dan menurutkan penilaian manusia pula disesuaikan dengan sifat ingin enak
sendiri. Yang menguntungkan bagi dirinya disebut baik, yang merugikan disebut buruk. Aku tidak akan
menyangkal, seperti juga suhu, bahkan aku pun tentu memiliki sifat-sifat buruk di samping sifat-sifat baik.
Setidaknya, orang-orang seperti mendiang suhu dan aku masih berterus terang, mengakui kelemahan
sendiri. Sebaliknya, Losuhu dan anak murid Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang tergolong sebagai
pemeluk-pemeluk dan pemimpin agama yang berkewajiban membimbing manusia ke arah kebaikan.
Sekarang Sam-wi Losuhu (Bertiga Bapak Pendeta) bukan membawa-bawa kitab suci untuk meberi
wejangan, sebaliknya membawa-bawa toya untuk menghantam dan membunuh orang! Apakah pakaian
pendeta dan dibuangnya rambut kepala itu hanya untuk kedok belaka?"
"Omitohud.....! Juga mulutnya jahat seperti gurunya!" teriak pendeta Siauw-lim-pai ke dua.
Cui Im tertawa terkekeh-kekeh sambil bertepuk tangan. "Bagus sekali, Keng Hong! Memang mereka
itu monyet-monyet berbulu berkedok ular! Kepalanya gundul akan tetapi hatinya berbulu, hi-hi-hik!"
Wajah Keng Hong menjadi merah. Ucapan dan sikap Cui Im tidak menyenangkan hatinya. Dia tadi
mengeluarkan ucapan dari hatinya untuk membela gurunya, bukan seperti Cui Im yang semata-mata
mengejek. Maka dia lalu menjura kepada tiga orang hwesio itu dan berkata.
"Aku tahu bahwa mendiang suhu mempunyai hutang kitab-kitab Seng-to-cin-keng dan I-kiong-hoan-hiat
kepada Siauw-lim-pai. Aku berjanji, kalau kelak aku berhasil mendapatkan kitab-kitab itu, pada suatu
haru aku akan mengembalikannya kepada Siauw-lim-pai."
Tiga orang hwesio itu hanya mendengus dan seorang di antara mereka berkata, "Pinceng bertiga hanya
memikul tugas, kesemuanya akan pinceng laporkan kepada suhu." Setelah berkata demikian, mereka
membalikan tubuh dan melangkah pergi dengan kepala tunduk.
"Ihhh, kenapa begitu bodoh, Keng Hong? Dari pada kedua kitab penting itu diserahkan kepada
setan-setan gundul itu, lebih baik kauberikan kepadaku!" kata Cui Im pula dengan sikap genit, sama
sekali tidak peduli bahwa di situ masih ada tiga belas orang lain.Dia sama sekali tidak menyembunyikan
sikapnya yang terang-terangan merayu pemuda itu dengan senyum bibir dan kerling mata memikat.
Wanita cantik baju hijau, murid Hoa-san-pai melihat ini lalu mengeluarkan suara mendengus tanda jijik
dan berkata, "Murid Sin-jiu Kiam-ong memang tidak ada bedanya dengan gurunya! Gurunya laki-laki
.
cabul muridnya mana bisa berhati bersih? Kalau dia ini seorang bersih dan gagah, tentu menginsyafi
kebiadaban gurunya terhadap Hoa-san-pai, sedikitnya tentu akan mengembalikan pedang pusaka
Hoa-san-pai yang telah dicurinya. Akan tetapi, dia malah bersahabat dengan murid iblis betina Lam-hai
Sin-ni. Mengharapkan apa lagi? Burung gagak takkan berkawan dengan burung hong, orang jahat tentu
memilih kawan kaum sesat! Lebih baik kita pergi dan melaporkan kepada suhu!"
Kalau saja murid perempuan Hoa-san-pai itu hanya memaki-makinya, Keng Hong tentu tidak akan
mengambil pusing. Akan tetapi gadis itu membawa-bawa nama gurunya, bahkan memaki-maki gurunya.
Keng Hong memandang dengan mata marah, kemudian dia tersenyum sindir dan berkata.
"Nona yang baik, kalau aku tidak salah sangka, bibi atau bibi tuamu yang bernama Cui Bi dan yang lari
dari Hoa-san-pai karena cintanya kepada mendiang suhu, tentu jauh lebih manis dari padamu, baik
mukanya maupun budinya! Kalau tidak begitu, mana suhu mau membalas cintanya? Tentang pedang
Hoa-san-pai, jangan khawatir, kalau aku mendapatkannya, pasti kukirim kembali ke Hoa-san-pai! Aku
bersahabat siapapun juga, adalah hak kebebasanku dan tentang kaum bersih dan kaum sesat, aku tidak
tahu. Yang kutahu bahwa engkau pun kurasa tidak begitu jijik untuk bercinta, buktinya pinggulku yang
tidak tertutup ini masuh terasa panas karena kau pegang-pegang dengan telapak tanganmu yang halus.
Nah, mukamu menjadi merah. Semua orang melihat belaka betapa tadi engkau memegang-megang
pinggulku. Hayo katakan, mau apa kau pegang-pegang pinggul orang?"
"Cih, laki-laki cabul.....!!" Wanita murid Hoa-san-pai itu menjerit lalu membalikan tubuhnya dan lari,
diikuti oleh tiga orang suheng-suhengnya.
"Heh-he-hi-hi-hik, mulutmu benar lihai sekali!" Cui Im kembali bertepuk tangan, bahkan Biauw Eng juga
tersenyum sedikit, akan tetapi alisnya yang hitam melengkung panjang itu berkerut. Terlalu tajam mulut
pemuda ini, pikirnya.
Kini tinggallah sembilan orang anggauta Kong-thong-pai dan mereka itu merasa ragu-ragu untuk
membuka mulut, karena mendapat kenyataan bahwa selain ilmunya tinggi, juga pemuda itu mulutnya lihai
sekali. Melihat keadaan mereka, Keng Hong sudah mendahului dengan ucapan yang serius.
"Cui-wi enghiong adalah orang-orang gagah dari Kong-thong-pai yang tentu saja berpemandangan luas.
Seperti Cui wi tentu telah mendengar penuturan orang-orang tua, urusan yang timbul antara mendiang
suhu dengan Kong-thong-pai adalah karena dahulu suhu pernah menewaskan lima orang anak murid
Kong-thong-pai. Sebab daripada bentrokan itu adalah karena kedua fihak berbantahan dalam sebuah
rumah judi, sehingga urusan itu adalah urusan pribadi yang tidak menyangkut perkumpulan. Apalagi kalau
diingat bahwa suhu telah meninggal dunia, demikian juga lima orang angguta Kong-thong-pai itu. setelah
kedua fihak yang bermusuhan sudah tewas semua, apakah kita yang tidak tahu apa-apa harus terseret ke
dalam permusuhan? Apakah yang kita perebutkan?"
Para murid Kong-thong-pai dapat mengerti alasan ini dan diam-diam mereka ini kagum juga mendengar
ucapan Keng Hong yang membayangkan pendapat yang dalam dan pandangan yang luas.Akan tetapi
karena mereka itu seperti juga yang lain hanya merupakan pelaksana-pelaksana tugas, maka seorang
tosu yang tertua di antara mereka segera berkata.
"Persoalannya tidaklah begitu sederhana, orang muda. Pula, kami hanyalah murid-murid yang
melaksanakan perintah guru...."
"Hemmm, agaknya Kong-thong Ngo-lojin yang menurunkan perintah itu. baiklah, kalau begitu harap
Cu-wi sampaikan kepada Kong-thong Ngo-lojin bahwa kalau mereka itu menginginkan barang-barang
pusaka peninggalan suhu, suruh mereka pergi mencari sendiri karena hal itu merupakan keinginan pribadi
.
mengapa membawa-bawa nama perkumpulan? Betapa banyaknya di dunia ini, manusia-manusia yang
sebetulnya bercita-cita untuk kepentingan pribadi namun mempergunakan kedok demi perkumpulan
mempergunakan anak buah dan para murid untuk berjuang demi perkumpulan , padahal sesungguhnya
yang menjadi pamrih adalah kepentingan dan kesenangan pribadi!"
Sembilan orang anak murid Kong-thong-pai itu marah sekali karena nama baik guru-guru mereka dicela
terang-terangan oleh pemuda yang masih ingusan ini, akan tetapi karena mereka mengerti bahwa
melawan takan ada gunanya, mereka lalu membalikan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu sambil
membantu kawan-kawan yang terluka.
“Bagus-bagus, Keng Hong! Engkau telah memberi tamparan dengan kata-kata kepada orang-orang
yang mengaku sebagai golongan bersih, golongan suci, dan golongan pendekar-pendekar itu, hi-hi-hik!"
Cui Im berkata girang sambil merangkul pundak pemuda itu dengan sikap manja memikat.
"Cukup, Suci! Kita lanjutkan perjalanan!" terdengar Biauw Eng berkata, suaranya dingin dan sikapnya
seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kereta sudah hancur oleh setan-setan itu, semua kuda binasa oleh Keng Hong. Wah, kita harus
melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, padahal masih amat jauh!" kata Cui Im dengan wajah jengkel.
Akan tetapi gadis ini lalu tertawa memandang Keng Hong. "Keng Hong, perjalanan masih jauh dan kita
harus berjalan kaki. Mempergunakan ilmu lari cepat memang tidak kalah dengan berkuda atau berkereta,
akan tetapi amat melelahkan. Bagaimana kalau kita saling gendong? Bergantian, kan enak? kalau sumoi
mau, biarlah aku mengalah dan kau lebih dulu menggendong sumoi...."
"Suci, diam! Bukan waktunya untuk main-main!" bentak Biauw Eng dengan suara dingin dan ketus
sehingga Cui Im tidak berani lagi membuka mulut.
"Nona berdua tidak perlu repot-repot karena perjalanan bersama kita hanya sampai di sini. Aku tidak
dapat menemani kalian lebih lama lagi," kata Keng Hong dengan suara tenang. "Sudah cukup aku
mendatangkan kerepotan dan bahaya bagi kalian, karena aku tahu bahwa selama nona berdua
melakukan perjalanan bersamaku, tentu akan menghadapi bahaya serangan orang-orang kang-ouw yang
kini seolah-olah memperebutkan aku."
"Ahhhh.....!!" Cui Im mengeluarkan suara kecewa dan gadis ini lenyap pula sikapnya yang manis tadi,
bahkan tangan kanannya bergerak mencabut pedangnya.
"Cia Keng Hong, engkau harus ikut bersama kami menghadap ibuku, Lam-hai Sin-ni, mau atau tidak,
hidup atau mati!" Suara Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng terdengar tegas dan mengandung ancaman yang
mengerikan. Berbeda dengan Cui Im yang telah mencabut pedangnya, gadis berpakaian putih ini masih
berdiri tenang, belum mengeluarkan senjata, bahkan sikapnya masih biasa, hanya sepasang matanya yang
mengeluarkan sinar penuh ancaman maut.
Keng Hong menggeleng kepalanya. "Tadinya memang aku berniat untuk menghadap Lam-hai Sin-ni dan
niat itu terdorong oleh rasa terima kasihku kepada Sie-siocia yang telah menyelamatkan nyawaku dari
ancaman pedang Cui Im. Akan tetapi, tadi ketika nona dikeroyok, aku telah membantumu dan berarti
aku telah pula menyelamatkanmu, dengan demikian hutangku telah kubayar lunas. Karena itu, kini aku
telah bebas dan aku tidak berniat untuk ikut bersama Ji-wi menghadap Lam-hai-Sin-ni!"
Setelah berkata demikian, Keng Hong mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat, kemudian
membalikan tubuhnya melangkah pergi meninggalkan dua orang gadis yang tertegun penuh kekecewaan.
.
"Keng Hong, pertama-tama kau mempermainkan aku, kini berani mempermainkan sumoi! kaukira kami
tak mampu menawanmu dengan kekerasan?" terdengar Cui Im membentak dan sinar merah berkelebat
ketika gadis ini menerjang Keng Hong dari belakang. Pengalaman-pengalaman pahit telah membuat
Keng Hong hati-hati sekali menghadapi Cui Im. Mendengar desing senjata yang menyerangnya, Keng
Hong cepat miringkan tubuh sehingga sinar merah meluncur lewat di samping lehernya dan mengangkat
tangannya dikibaskan ke arah pedang dan tangan yang memegang pedang. Hawa pukulan yang amat
kuat mendorong pedang dan tangan Cui Im dari bawah. Gadis itu maklum akan lihainya tangan Keng
Hong, cepat menarik tangannya namun masih saja tangannya terdorong ke samping begitu kerasnya
sehingga tubuhnya ikut terdorong dan hampir dia terpelanting kalau tidak cepat meloncat menjauhi Keng
Hong ke sebelah kiri.
"Kau tahu, aku tidak ingin bermusuhan denganmu, Cui Im," kata Keng Hong. "Harap kalian suka
membiarkan aku pergi."
Akan tetapi dengan muka merah karena marahnya, Cui Im sudah siap menerjang lagi, kini tangan kirinya
mencabut keluar sehelai saputangan merah, saputangan yang mengandung bubuk beracun dan yang
pernah merobohkan Keng Hong. Sambil berteriak keras Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im menerjang
lagi, pedangnya diputar menjadi sinar pedang merah bergulung-gulung seperti seorang penari selendang
sutera merah, kemudian ia menerjang Keng Hong dengan bacokan bertubi-tubi mengikuti perputaran
pedang.
Keng Hong sudah siap dan waspada karena maklum bahwa bahaya besar mengancamnya, bukan dari
pedang itu melainkan terutama sekali dari saputangan merah. Maka dia segera menghindarkan diri dari
terjangan pedang itu dengan meloncat cepat ke kanan. Cui Im sudah menduga akan hal ini, bahkan sudah
siap-siap, begitu tubuh Keng Hong berkelebat ke kanan tangan kirinya bergerak dan tiga batang jarum
menyambar dari dalam saputangannya ke arah sepasang mata dan tenggorokan Keng Hong. Pemuda itu
berilmu tinggi namun belum banyak pengalamannya dalam pertandingan ini terkejut, cepat merendahkan
tubuhnya setengah berjongkok sambil mengibaskan tangan kirinya ke atas sehingga tiga batang jarum itu
terlempar entah ke mana. Akan tetapi pada saat yang memang sengaja diciptakan Cui Im ini sinar merah
dari saputangan sudah menyambar ke arah muka Keng Hong. Didahului asap kemerahan dari bubuk
racun berwarna merah.
Semenjak menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong, Keng Hong setiap hari diberi minuman racun sedikit demi
sedikit oleh Kiam-ong sehingga dari mulut sampai ke perutnya, Keng Hong mengenal segala macam
racun bahkan menjadi kebal. Akan tetapi menghadapi hawa beracun berupa asap atau bubuk yang
tersedot melalui hidung dan menyerang paru-paru, dia tidak kebal. Pengalamannya ketika dia roboh oleh
racun saputangan merah itu membuat dia waspada. Biar saat itu dia baru saja lolos dari cengkraman maut
yang dibawa jarum-jarum itu sedangkan posisi tubuhnya setengah berjongkok sehingga sukar baginya
untuk mengelak, dia masih ingat akan bahaya ini maka dia telah menyedot napas dalam-dalam kemudian
menutup saluran pernapasannya dan begitu gadis itu menubruk sambil mengebutkan saputangan ke arah
mukanya, dia meniup ke arah saputangan itu dengan pengerahan tenaga lweekang. Saputangan itu
tiba-tiba saja membalik ke arah Cui Im sendiri tanpa dapat dicegah lagi oleh gadis ini yang menjadi
terkejut dan menjerit. Tentu saja dia sudah memakai obat penawar dan saputangannya itu tidak akan
meracuninya, akan tetapi karena saputangannya itu tiba-tiba menyerang ke arah mukanya, sejenak dia
tidak dapat melihat apa-apa dan secara tiba-tiba pergelangan tangan kanannya terasa nyeri sekali sampai
menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan. Kiranya pergelangan tangan kanannya telah kena
disentil oleh telunjuk kiri Keng Hong.
Melihat betapa dia berhasil membuat gadis yang ganas itu sementara tidak berdaya, Keng Hong cepat
meloncat untuk lari pergi dari situ. Akan tetapi selagi tubuhnya masih melayang di udara, tiba-tiba kaki
kirinya dilibat sesuatu, kemudian kakinya tertarik ke belakang sehingga tanpa dapat dia cegah lagi
.
tubuhnya terjungkal dan terbanting jatuh ke atas tanah!
Keng Hong cepat meloncat bangun dan seperti yang telah dia duga, Biauw Eng telah berdiri di
hadapannya dengan senjatanya yang aneh, yaitu sabuk sutera putih yang kini ujungnya telah melibat kaki
kirinya seperti ekor ular. Biauw Eng mengerahkan tenaganya menarik lagi untuk membuat Keng Hong
terjungkal, akan tetapi pemuda itu telah mengerahkan tenaga ke kaki kirinya sehingga biarpun gadis yang
lihai itu membetot-betot sedikit pun, tubuhnya tidak bergeming! Biauw Eng menjebikan bibirnya dan
mendengus, sabuk yang melibat kaki itu tiba-tiba terlepas dan sinar putih berkelebat ketika sabuk itu
bagaikan bernyawa telah meluncur ujungnya dengan kecepatan mengagumkan, kini menyerang sepeti ular
mematuk ke arah mata Keng Hong!
Pemuda ini terkejut sekali, cepat dia miringkan kepala dan berusaha untuk mencengkeram sinar putih itu.
Akan tetapi ujung sabuk putih itu amat cepat gerakannya, tahu-tahu telah meluncur ke bawah dan tanpa
dapat dielakan lagi oleh Keng Hong, ujung sabuk itu telah menotok jalan darahnya di tiga bagian secara
bertubi-tubi. Sungguh lihai nona itu, gerakan sabuknya amat cepat sehingga dalam waktu sedetik saja
ujung sabuk telah menotok jalan darah di kedua pundak disusul totokan di atas ulu hati! Kalau hanya
pendekar biasa saja terkena totokan berantai itu yang dilakukan dengan cepat dan keras karena tenaga
lweekang tersalur melalui sabuk membuat ujung sabuk menjadi kaku, tentu roboh lemas tak mampu
berkutik lagi. Untung bagi Keng Hong bahwa biarpun suhunya belum cukup menggemblengnya dengan
ilmu-ilmu silat tinggi, namun pemuda ini memiliki sumber tenaga sinkang yang amat kuat sehingga begitu
tubuhnya disentuh pengaruh dari luar, otomatis sinkangnya bergerak dan pergelangan hawa sakti ini
cepatnya melebihi segala macam gerakan yang dapat dilakukan manusia, maka totokan-totokan itu
sedikit pun tidak mempengaruhi jalan darah di tubuh Keng Hong, bahkan hampir tidak terasa olehnya.
Sebaliknya, tangan Biauw Eng yang memegang sabuknya tergetar hebat karena tenaga totokan-totokan
itu membalik dan menyerang tangannya sendiri!
Namun Biauw Eng yang merasa penasaran itu menerjang terus, kini ia memegang cambuknya di bagian
tengah dan cambuk itu bergerak-gerak sedemikian rupa, kedua ujungnya menyerang cepat sehingga
seolah-olah telah berubah menjadi ratusan banyaknya. Hebatnya, kini ujung cambuk tidak lagi menotok
jalan-jalan darah yang diketahui gadis itu takkan ada hasilnya, melainkan menotok ke arah bagian-bagian
berbahaya seperti kedua mata, telinga, tenggorokan, pusar dan bawah pusar, pergelangan tangan, siku,
dan lutut. Tentu saja Keng Hong menjadi sibuk sekali, selain mengelak ke sana ke mari juga dia
mengibaskan kedua tangannya untuk menghalau sinar putih yang mengeroyoknya secara hebat itu. Selagi
dia terdesak, tampak sinar merah berkelebat dan kiranya Cui Im telah pula membantu sumoinya!
"Cia Keng Hong menyerahlah kalau tidak ingin kami seret ke depan subo sebagai mayat!" bentak Cui
Im yang di dalam hatinya masih merasa sayang kalau seorang pria seperti Keng Hong harus mati.
Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Keng Hong untuk meloncat jauh hendak melarikan diri.
Sesungguhnya, kalau pemuda ini menggunakan ginkangnya, biarpun dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu
dapat bergerak cepat, mereka masih tidak akan mampu mengimbangi gikang yang dimiliki Keng Hong.
Akan tetapi karena mereka itu pandai menggunakan senjata rahasia, mereka mengejar sambil menyerang
Keng Hong dengan senjata rahasia ini. Cui Im menghujankan jarum-jarum beracun, bahkan meledakan
bola-bola peledak yang mengeluarkan asap hitam namun yang kini tidak dapat mempengaruhi Keng
Hong yang sudah menahan napas. Sedangkan Biauw Eng menyerang dari belakang dengan senjata
rahasia tusuk konde perak yang kepalanya berukiran bunga bwee.
Mendengar desir angin senjata-senjata rahasia ini, Keng Hong mengelak dan mengibaskan kedua tangan
sambil membalik sehingga semua senjata rahasia runtuh oleh angin yang menyambar dari kedua
tangannya. Karena itu tentu saja larinya terlambat dan dua orang gadis itu sudah menerjangnya lagi
dengan dahsyat. Keng Hong menjadi repot sekali setelah sinar merah pedang Cui Im
.
menyambar-nyambar di antara sinar putih sabuk Biauw Eng yang berkelebatan membentuk
lingkaran-lingkaran maut. Dalam keadaan terdesak timbul marahnya. Tadinya dia tidak mau membalas
karena dia tidak tega untuk melukai dua orang gadis itu, terutama sekali Biauw Eng yang dalam
pandangannya merupakan seorang gadis remaja yang selain cantik jelita dan tidak genit seperti Cui Im,
namun juga telah menyelamatkan nyawanya.Akan tetapi setelah sekarang didesak hebat, mau tidak mau
dia harus membela diri. Untuk menggunakan sinkangnya yang luar biasa, yaitu menggunakan daya sedot
yang mengalahkan banyak orang pandai, selain tidak tega juga dia tidak mempunyai kesempatan. Dua
orang gadis berilmu tinggi ini agaknya maklum akan ilmunya yang mujijat itu dan mereka tidak pernah
mendekatkan diri, tidak pernah memberi kesempatan unuk ditangkap tangan pemuda yang mempunyai
ilmu mujijat, melainkan menyerang dari jarak jauh mengandalkan panjangnya senjata mereka.
Tiba-tiba lingkaran sinar putih itu berkelebat menyambar ke arah kedua matanya, bukan hanya dengan
satu kali totokan, melainkan secara bertubi-tubi sehingga repotlah Keng Hong harus mengelak ke kanan
kiri dan ke belakang. Pada saat pandang matanya menjadi silau dan kabur, dia mendengar desing pedang
Cui Im mengarah lambungnya. Cepat dia miringkan tubuh, namun pedang itu mengejarnya dan merobek
celana berikut kulit dan sedikit kulit daging pahanya. Darah mengalir dan Keng Hong menjadi marah
sekali. Sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, tangannya meraih ke arah pedang yang tajam. Namun
tangannya berhasil mencengkram pedang dan sekali renggut pedang itu pindah tangan! Kemudian dia
melempar pedang itu jauh-jauh dan kembali tangannya kini mencengkram ke arah sinar putih, berhasil
menangkap sabuk sutera itu dan dia mengerahkan tenaganya merenggut. Akan tetapi, Biauw Eng
mempertahankan sabuknya dan akibatnya tubuh gadis ini terbawa oleh tenaga renggutan yang amat kuat,
tubuhnya terangkat ke udara. Keng Hong terkejut dan melepaskan sabuk itu dan hal ini malah
mengakibatkan seolah-olah tubuh gadis itu dilempar ke atas.
Cui Im berteriak ngeri melihat tubuh sumoinya terlempar ke atas seperti itu. Juga Keng Hong terbelalak
memandang, namun dia bernapas lega dan penuh kagum dia mengikuti gerakan gadis baju putih itu.
Biarpun tubuhnya terlempar dengan cepat sekali, ternyata Biauw Eng tidak kehilangan akal. Di atas
udara, tubuhnya dapat berjungkir balik dan sabuk di tangannya menyambar ke depan, ujungnya mengait
dan menbelit dahan pohon sehingga tubuhnya tergantung dan luncuran itu patah. Kemudian dengan ringan
ia meloncat turun membawa sabuknya, bukan meloncat biasa, melainkan meloncat sambil menyerang
Keng Hong dengan sambaran sabuk putih. Juga Cui Im yang menjadi lega melihat sumoinya selamat,
sudah menyerang lagi, bukan dengan senjata tajam karena pedangnya sudah dilempar entah ke mana,
melainkan dengan cengkeraman-cengkeraman tangan yang menangkap pemuda itu diseling
cengkeraman-cengkeraman ke arah bagian tubuh yang lemah.
Keng Hong menjadi lemas. Dua orang gadis ini benar-benar keras kepala dan sudah nekat sekali.
Setelah dia meloncat mundur dan melihat dua orang gadis itu terus maju menerjangnya, dia mengeluarkan
pekik yang melengking nyaring terbawa oleh sinkang yang terdorong hawa marah, tubuhnya sudah
mencelat ke atas dan dari atas dia menggerakan kaki tangannya yang menyerang yang menyerang ke
depan bertubi-tubi, menimbulkan hawa pukulan amat kuat yang menyerang dua orang gadis itu dari
kanan kiri, atas dan bawah. Inilah jurus yang terakhir atau jurus ke delapan dari ilmu pukulan
San-in-kun-hoat yang hanya terdiri dari delapan jurus itu. Biarpun hanya terdiri dari delapan jurus, namun
ilmu silat yang kelihatannya sederhana ini merupakan gerakan-gerakan inti sari dari ilmu silat tinggi, maka
jurus ini yang disebut jurus In-keng-hong-wi (Awan Menggetarkan Angin Hujan) amatlah hebatnya
sehingga pernah Kiang Tojin tokoh Kun-lun-pai yang amat sakti itu sendiri menjadi gelagapan dan
kelabakan menghadapi jurus ini. Selain juusnya yang amat hebat, yaitu dilakukan dari udara dengan
terjangan dua pasang kaki tangan yang digerakan secara bertubi-tubi, juga terutama sekali karena kedua
tangan dan kedua kaki Keng Hong itu mengandung hawa sakti yang amat kuat.
Dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu merupakan orang-orang yang lihai, terutama sekali Biauw Eng.
Menghadapi serangan yang tiba-tiba dilakukan Keng Hong ini, mereka tidak gentar, akan tetapi juga
.
tidak berani menangkis, melainkan menggunakan kegesitan tubuh mereka mengelak. Akan tetapi
alangkah kaget hati kedua orang gadis itu ketika mereka mengelak, mereka bertemu dengan angin
pukulan dari mana-mana, seolah-olah gerakan serangan Keng Hong ini mendatangkan semacam angin
berpusingan yang datang dari sekitar mereka.
“Aihhhh....!!" Cui Im sudah menjerit dan tubuhnya terpelanting seperti tersedot angin ke arah Keng
Hong, sedangkan Biau Eng berusaha menahan dan terhuyung-huyung, juga mendekati Keng Hong. Kalau
pemuda itu melanjutkan pukulan dan tendangannya, kedua orang gadis yang mendekat itu berada dalam
jarak jangkauannya. Akan tetapi tiba-tiba Keng Hong mendengus dan menarik kembali kaki tangannya,
lalu mengenjot tubuh dan lari menjauh tanpa menoleh lagi.
Akan tetapi Cui Im dan terutama sekali Biauw Eng bukanlah gadis-gadis yang mudah putus asa. Sama
sekali tidak. Sejak kecil mereka dilatih untuk bersikap berani dan pantang mundur, kalau perlu mengejar
cita-cita dengan taruhan nyawa. Kini melihat betapa pemuda yang tadinya sudah menjadi tawanan
mereka itu hendak meloloskan diri, mereka menjadi penasaran dan hanya sebentar saja mereka tadi
tertegun dan terkesima menyaksikan kehebatan jurus yang hebat dari pemuda itu. Setelah Keng Hong
Lari, keduanya lalu mengejar dan kembali mereka menghujankan senjata rahasia mereka.
Keng Hong tidak mengelak, juga tidak menangkis karena pada saat pemuda itu menggerakan tubuhnya,
tiba-tiba pemuda itu merasa tubuhnya kaku tak dapat digerakan, tanda bahwa jalan darahnya tertotok
secara hebat sekali. Hal ini dapat terjadi karena dia hanya memusatkan perhatian di sebelah belakang
karena dia tahu bahwa dua orang gadis nekat itu mengejarnya. Ia tadi hanya melihat bayangan berkelebat
dekat dan tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku tertotok? Andaikata dia tadi tahu akan serangan luar biasa ini
dan mengerahkan sinkang, kiranya takkan mudah dia tertotok. Keanehan yang terjadi pada diri Keng
Hong ini terlihat oleh dua orang gadis pengejarnya itu dalam keadaan lain. Mereka hanya melihat Keng
Hong diam tak bergerak, juga tidak mengelak serangan senjata-senjata rahasia itu sehingga mereka
sendiri menjadi kaget dan mengira bahwa tentu pemuda itu tewas oleh penyerangan senjata-senjata
rahasia mereka yang beracun dan lihai. Akan tetapi tiba-tiba mata mereka terbelalak karena tahu-tahu di
belakan Keng Hong muncul seorang nenek dan semua senjata rahasia itu runtuh oleh kebutan rambut
kepala nenek itu yang digerakan ke depan! Nenek itu tertawa-tawa, seorang nenek yang amat
menyeramkan. Usia nenek ini tentu tidak kurang dari delapan puluh tahun, namun mukanya merah seperti
berlumur darah, giginya besar-besar, rambut kepalanya riap-riap dan panjang. Mukanya yang buruk
menakutkan itu tidak sesuai dengan tubuhnya, bia tubuh seorang nenek-nenek, namun pakaian sutera
hitam itu mencetak bentuk tubuh yang masih padat dengan sepasang buah dada yang besar!
"Bibi Ang-bin Kwi-bo.....!!" Bhe Cui Im berseru kaget dan cepat membungkuk penuh hormat. Di
kalangan kaum sesat , sebutan untuk mereka yang lebih tinggi kedudukannya tidak dipergunakan ucapan
menghormat atau sungkan, maka Cui Im biarpun kelihatan takut-takut dan menghormati nenek ini, tetap
saja ia tidak segan-segan menyebut julukan nenek itu yang tidak sedap, yaitu Ang-bin Kwi-bo (Hantu
Wanita Bermuka Merah).
"Hi-hi-hik! Kalian murid-murid Lam-hai Sin-ni benar-benar tidak memalukan menjadi murid orang
pandai. Karena kulihat kalian berhasil menemukan bocah ini akan tetapi tidak berhasil menguasainya,
maka biarlah kalian serahkan bocah ini kepadaku dan sebagai upah jerih payah kalian yang sudah dapat
menemukannya, biarlah aku tidak membunuh kalian dan kalian boleh pergi dengan aman!"
Ucapan seperti ini bagi telinga Keng Hong merupakan ucapan yang terlalu bocengli dan mau mencari
enak perutnya sendiri. Akan tetapi bagi dua orang gadis itu tidak aneh karena mereka sendiri pun sejak
kecil dididik untuk membawa pendapat sendiri tanpa mempedulikan kesopanan dan keadilan umum,
pendeknya yang benar bagi mereka adalah kalau setiap tindakan ditujukan untuk keuntungan diri pribadi.
Karena itu, ucapan nenek ini pun tidak mereka anggap bocengli, bahkan sudah wajar!
.
Cui Im yang sudah mengenal betapa saktinya Ang-bin Kwi-bo yang merupakan seorang di antara
Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), setingkat dengan gurunya, tidak berani menentang dan
hanya menundukan muka tanpa menyerah. Akan tetapi sikapnya berbeda dengan Biauw Eng. Gadis ini
adalah puteri Lam-hai Sin-ni, dan karena tugas yang dilaksanakan ini adalah perintah ibunya, maka tentu
saja mengandalkan nama besar ibunya yang tidak mau mengalah dan mempertahankan haknya sebagai
orang yang menahan Keng Hong.
"Menyesal sekali bahwa terpaksa saya tidak dapat memenuhi kehendak bibi itu, karena tugas ini
perintah dari ibu sehingga terpaksa saya harus mempertahankan hak saya atas diri murid Sin-jiu
Kiam-ong yang telah kami tawan."
Mendengar ini, Ang-bin Kwi-bo menjadi tercengang dan ia memandang gadis baju putih itu penuh
perhatian. Kemudian ia tertawa terkekeh dan berkata, "Eh, kiranya engkau ini puteri Lam-hai Sin-ni?
Engkaukah yang membuat nama besar dengan julukan Song-bun Siu-li itu?"
"Benar, bibi. sayalah Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng."
"Hi-hi-hik! Engkau berani melawan aku?"
"Saya harus tahu diri dan saya maklum bahwa bibi bukanlah lawan saya. Seharusnya saya takut
melawan bibi, akan tetapi saya lebih takut menghadapi ibu kalau saya melalaikan tugas yang
diperintahkannya."
"Bagus! Kalau begitu, biarlah kita menggunakan hak seorang pemenang dan mari kita lihat siapa di
antara kita yang akan menang dan berhak atas diri bocah ini!" Sambil berkata demikian, Ang-bin Kwi-bo
sudah meloncat ke depan menghadapi Biauw Eng yang sudah siap pula dengan senjatanya. Gadis ini
bersikap hati-hati sekali karena ia cukup maklum bahwa ia menghadapi lawan yang jauh lebih tinggi
tingkatnya. Namun sedikit pun tidak terbayang rasa gentar pada wajahnya yang cantik namun dingin itu.
"Hi-hi-hik lumayan juga engkau! Agaknya sudah cukup matang sehingga maklum bahwa yang diam lebih
kuat daripada yang bergerak, yang diserang lebih untung daripada yang menyerang. Biarlah, kau jaga
seranganku!"
Ucapan Ang-bin kwi-bo ini memang berlaku bagi dua orang lawan yang setingkat kepandaiannya,
karena dalam ilmu silat, yang diam itu lebih waspada sedangkan si penyerang selalu membuka lubang
untuk dirinya sendiri dan penyerangannya membuat kedudukannya agak lemah. Akan tetapi tingkat
kepandaian Ang-bin Kwi-bo jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Sie Biauw Eng. Gadis ini
paling banyak baru dapat mewarisi setengah kepandaian ibunya, sedangkan tingkat kepandaian Lam-hai
Sin-ni yang merupakan orang terpandai di antara empat tokoh datuk sesat, namun tidak banyak
selisihnya.
Biarpun Ang-bin Kwi-bo menyatakan hendak menyerang, namun kedua kakinya tidak bergerak maju,
juga kedua tangannya tidak bergerak. Yang bergerak hanya kepalanya karena ia menggunakan
rambutnya yang riap-riapan itu untuk menyerang! Memang hanya rambut kepala yang menyambar itu,
akan tetapi Biauw Eng yang lihai itu sama sekali tidak berani menangkis, maklum bahwa senjata rambut
ini merupakan senjata keistimewaan Ang-bin Kwi-bo dan bahwa rambut-rambut halus itu kalau
dipergunakan oleh Ang-bin Kwi-bo berubah menjadi rambut-rambut yang kaku kuat melebihi baja!
Biauw Eng mengelak dengan loncatan ringan ke kiri, kemudian sekali pergelangan lengan tangannya
bergerak, sinar putih sabuknya sudah meluncur cepat sekali menotok jalan darah maut di tenggorokan
.
nenek iblis itu! Nenek itu sambil terkekeh menangkis totokan ujung sabuk ini dengan tangan kirinya,
malah berusaha mencengkram ujung sabuk dengan kuku-kukunya yang panjang. Akan tetapi ujung
sabuk sutera itu lemas dan cepat sekali gerakannya, sebelum menyentuh tangan lawan sudah meluncur ke
samping lalu melakukan totokan-totokan bertubi-tubi dari jarak jauh. Biauw Eng amat cerdik. Maklum
bahwa kelihaian nenek itu terletak pada rambut dan kukunya, ia sengaja menjatuhkan diri sehingga tidak
dapat tercapai rambut maupun kuku, sebaliknya ia mengandalkan sabuknya yang panjang untuk
menyerang terus secara bertubi-tubi. Setiap kali nenek itu menangkis dan hendak menyengkeram ujung
sabuk, sabuk itu sudah melejit pergi untuk menotok lain bagian. Dilihat begitu saja, amatlah menarik
pertandingan ini. Ujung sabuk putih itu seolah-olah seekor kupu-kupu putih yang lincah, hinggap di
sana-sini dan selalu luput dari cengkeraman tangan Ang-bin Kwi-bo.
Bukan hanya sampai di situ usaha Biauw Eng untuk mengalahkan lawannya yang lihai. Ia harus
mengerahkan seluruh kepandaianya dan ia memang bersungguh-sungguh dalam usahanya untuk
menangkan perebutan ini betapapun tidak mungkin menurut perhitungan. Selain menghujankan
totokan-totokan dari jarak jauh, kini tangan kirinya kadang-kadang bergerak dalam saat-saat yang tak
terduga lawan dan meluncurlah senjata rahasianya yang ampuh, yaitu bola-bola putih yang berduri dan
kadang-kadang diseling dengan senjata piauw berbentuk tusuk konde putih dengan ukiran bunga bwee.
Karena senjata-senjata rahasia ini dilepas dari jarak dekat dan dilontarkan dengan pengerahan tenaga
lweekang, juga pada saat yang tidak terduga dan memilih selagi kedudukan tubuh lawan lemah, mau
tidak mau Ang-bin Kwi-bo harus mengelak ke sana ke mari sehinga untuk beberapa lama ia seperti
terdesak! Ia terdesak bukan karena ilmu silat, melainkan karena kecerdikan lawan yang masih muda itu.
Hal ini membuat Ang-bin Kwi-bo menjadi penasaran, malu dan marah sekali.
Ketika nenek iblis ini repot mengelak dari hujan senjata rahasia, Biauw Eng tidak menyia-nyiakan
kesempatan, sabuk suteranya mengirim totokan yang amat kuat ke arah ulu hati nenek itu. Dan agaknya
nenek yang sedang sibuk mengelak dari sambaran senjata rahasia ini tidak sempat pula mengelakan
totokan maut ini sehingga Biauw Eng yang masih muda tidak dapat menahan rasa girangnya. Inilah
pantangan bagi seorang yang sedang bertanding. Ibunya sudah menggemblengnya sedemikian rupa
sehingga dia menjadi seorang gadis berdarah dingin berurat syaraf baja, tidak dapat digoyangkan oleh
segala macam perasaan. Akan tetapi karena sekali ini ia menghadapi lawan yang jauh lebih lihai, begitu
melihat betapa ia dapat mendesak, bahkan totokan mautnya hampir mengenai sasaran, Biauw Eng tak
dapat menahan kegembiraan hatinya dan hal ini, biarpun hanya sedikit, tetap saja telah mengurangi
kewaspadaannya. Dalam kegembiraanya ia lupa bahwa nenek itu amat sakti dan keadaan yang
mendesak itu mungkin hanya merupakan siasat yang lihai belaka. Ia sadar setelah terlambat karena ketika
totokan ujung sabuknya sudah dekat dengan dada nenek itu, tiba-tiba rambut nenek itu menyambar ke
depan dan membelit-belit sabuk sutera putihya!
Biauw Eng terkejut dan terpaksa hendak melepaskan sabuknya, namun sebagian dari rambut nenek itu
telah bergerak lagi dan seperti hidup, rambut itu telah menangkap lengan kanannya, membelit bagian
pergelangan sehingga sehingga lengan gadis itu seperti diikat kuat-kuat.
"Hi-hi-hik! Engkau berani melawan aku, ya? sebagai puteri Lam-hai-Sin-ni, aku akan mengampuni
nyawamu, akan tetapi sebagai seoang gadis yang berani melawanku, kau harus dihukum!"
Biauw Eng maklum bahwa dari seorang nenek seperti ini ia tidak dapat mengharapkan maaf, maka ia
pun tidak mau minta maaf , bahkan tiba-tiba ia memukulkan tangan kirinya ke arah lambung nenek itu.
Pukulan ini hebat sekali dan biarpun Ang-bin Kwi-bo seorang tokoh besar dalam dunia sesat, akan tetapi
kalau pukulan tangan kiri Biauw Eng mengenai lambungnya, tentu ia akan celaka, sedikitnya luka hebat.
Akan tetapi pada saat itu, si nenek membuat Biauw Eng tidak berdaya hanya menggunakan rambutnya
saja sedangkan kedua tangannya masih menganggur, tentu saja pukulan tangan kiri Biauw Eng ini tidak
ada artinya baginya. Sekali tangan kanannya yang berkuku panjang itu bergerak, pergelangan tangan kiri
.
Biauw Eng sudah ia tangkap sehingga gadis itu tidak mampu berkutik lagi!
"Hi-hi-hik! Hukuman apa yang harus kauterima? Tanganmu? Kubuntungkan sebelah tanganmu?" Nenek
itu mengancam sambil menyeringai sehingga tampak giginya yang besar-besar.
Sie Biauw Eng yang sudah tak dapat berkutik lagi itu memandang dengan wajah tetap dingin, bahkan
mulutnya yang bagus bentuknya itu membentuk senyum mengejek, seolah-olah ancaman itu sama sekali
tidak membuat hatinya menjadi jerih.
"Wah, kalau hanya lenganmu yang buntung, tentu iblis betina tua bangka Lam-hai Sin-ni masih dapat
menurunkan ilmu untuk sebelah tanganmu lagi. Tdak, lebih baik kakimu yang kubuntungkan sebelah.
Dengan hanya sebelah kaki, berdiripun kau takkan tegak. Benar, kubuntungkan saja kakimu sebatas
paha, hi-hi-hik, dan setiap orang laki-laki akan jijik melihat kakimu yang buntung, heh-heh-heh!"
"Tidak! Tidak boleh kaulakukan itu, bibi Ang-bin Kwi-bo!" Tiba-tiba Bhe Cui Im membentak marah
dan dengan nekat gadis ini sudah menerjang dari belakang tubuh nenek itu untuk menolong sumoinya.
Karena pedangnya sudah hilang ketika tadi dirampas dan dibuang Keng Hong, kini Cui Im menyerang
dengan tangan kosong, akan tetapi biarpun hanya memukul dengan tangan kosong, gadis ini diam-diam
telah melumuri kedua tangannya dengan racun yang selalu dibawa-bawanya, sesuai dengan julukannya
Dewi Racun ! Kini kedua tangannya itu mengeluarkan asap hijau dan racun yang dipakai di kedua
tangannya amat jahat karena jangankan sampai lawan yang terpukul robek kulitnya sehingga racun itu
dapat meracuni darah, bahkan baru tersentuh saja, racun ini dapat meresap melalui lubang-lubang kulit
dan membuat daging menjadi membusuk dalam waktu singkat! Kini gadis ini menerjang nenek itu dari
belakang, mencengkram tengkuk dengan tangan kiri dan menghantam lambung dengan tangan kanan.
Ang-bin Kwi-bo mendengus marah, tangan kirinya bergerak ke belakang dan kakinya diputar sedikit.
Ketika tangan kirinya itu dengan jari-jari terpentang lebar ia dorongkan ke depan, menyambarlah angin
pukulan yang hebat, lima buah kuku jarinya tergetar mengeluarkan suara dan tercium bau yang aneh
sekali, ada bau harum ada yang amis, dan ada pula yang berbau bangkai. Hebatnya, tubuh Bhe Cui Im
terhuyung-huyung mundur seperti terbawa angin badai, terdengar gadis ini memekik dan Cui Im roboh
sambil merintih-rintih dan dengan kedua tangan menggigil dan gadis ini cepat merobek bajunya dan
tampaklah sebagian dadanya berwarna biru! Dengan tangan masih menggigil, Cui Im mencari-cari dalam
saku bajunya, menemukan bungkusan yang dicarinya, membukanya dan dengan jari-jari tetap menggigil
ia segera menelan tiga butir pil berwarna hijau, kuning dan merah!
“Hi-hi-hik! Engkau bocah lihai, dapat menahan sedikit dorongan Ban-tok-sin-ciang (Tangan Sakti
Selaksa Racun). tentu Engkau yang disebut Ang-kiam Tok-sian-li Si Dewi Racun!"
Keadaan Cui Im tidak terlalu menderita lagi. Dia masih lemas, akan tetapi telah dapat bangkit dan duduk
bersila, mengatur napas. Tiga buah pil yang ditelannya itu mempunyai khasiat yang amat manjur, dapat
memunahkan segala macam racun yang bagaimana jahat pun.
Ang-bin Kwi-bo kini kembali menghadapi Biauw Eng yang sejak tadi hanya memandang semua itu
dengan mata tidak peduli. Baginya, majunya Cui Im untuk membantunya sudah sewajarnya, dan
robohnya Cui Im pun bukan hal yang aneh. Dia sendiri tak mampu berkutik, apalagi yang dapat ia
lakukan? Tidak lain hanya menanti datangnya hukuman yang ia tahu pasti amat mengerikan. Akan tetapi
sebagai puteri Lam-hai Sin-ni, terutama sekali sebagai seorang tokoh muda yang berjuluk Song-bun
Siu-li, dia harus menjaga nama dan akan menghadapi semua itu dengan mata tak berkedip.
"Heh-heh-heh, sekarang kau boleh pilih, Song-bun Siu-li! Lebih baik kubuntungkan sebelah lenganmu,
ataukah sebelah kakimu?"
.
"Ang-bin Kwi-bo, aku sudah kalah olehmu, Mau membuntungi lengan, kaki atau leher, terserah! Di sana
masih ada ibuku yang kelak akan mencarimu untuk menagaih hutang berikut bunga-bunganya!"
Ang-bin Kwi-bo menjadi marah sekali. Sudah menjadi kesukaan para tokoh sesat terutama Bu-tek
Su-kwi empat datuk besar kaum sesat untuk melihat calon korban mereka merengek-rengek minta
ampun dan merintih-rintih oleh siksaan, maka kini menyaksikan sikap Biauw Eng yang malah menantang
dan wajah yang cantik itu tetap dingin dan senyumnya mengejek, nenek itu menjadi penasaran sekali dan
merasa terhina. Alangkah akan malunya dan rendah namanya kalau ada yang melihat betapa Ang-bin
Kwi-bo yang terkenal itu kini malah diejek oleh seorang tawanannya, seorang gadis muda! kalau begitu
percuma saja ia menjadi seorang di antara empat iblis yang sepatutnya membuat semua orang yang
mendengar namanya menggigil ketakutan. Bocah ini telah berada di ambang siksaan , akan dibuntungi
kaki tangannya, bukannya takut malah mengejek dan menantang!
"Heh-heh-heh, siapa takut terhadap Lam-hai Sin-ni? Suruh dia datang! Kalau aku sudah dapat memiliki
kitab-kitab Sin-jiu Kiam-ong, biar ada sepuluh Lam-hai Sin-ni, aku tidak takut. Eh, kau tidak gentar
dibuntungi kaki atau tanganmu? Apakah yang paling berharga bagimu? Wajahmu begini cantik.....
hemmm, dahulu aku pun cantik sekali melebihimu, dan ribuan orang laki-laki jatuh bertekuk lutut di
depan kakiku, mengagumi dan mencintaiku! Hi-hi-hik, apakah yang lebih berharga bagi wanita kecuali
kecantikannya? Kata orang, kecantikan jasmani hanya setebal kulit, akan tetapi tanpa adanya kecantikan
jasmani, mana mungkin hati pria dapat bangkit seleranya? Memang setebal kulit karena kalau kulit
mukamu yang cantik ini, yang halus putih kemerahan dan hangat, kubuang, kukupas, apa yang tinggal?
hanya tengkorak dengan daging membusuk! Ihhh, kau menjadi pucat? Bagus, ini tandanya kau mengenal
takut, hi-hi-hik!" Nenek iblis itu terkekeh-kekeh, mulai senang hatinya karena ia mulai dapat menyiksa
hati gadis itu. Biauw Eng mulai berdebar jantungnya karena ngeri. Dia tidak takut disiksa, tidak takut
mati, akan tetapi bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis remaja, seorang gadis muda yang tentu
saja sadar akan kecantikannya dan merasa ngeri mendengar ancaman ini. Namun ia memaksa diri
tersenyum mengejek dan berkata.
"Lakukanlah, Ang-bin- Kwi-bo! kupaslah kulit mukaku sampai menjadi seburuk-buruknya! Akhirnya
toh aku mati dan setelah menjadi mayat, apa bedanya cantik atau tidak?"
Ucapan ini keluar dari hatinya sehingga mengusir bayangan ngeri dari wajahnya. Hal ini membuat nenek
ini mencak-mencak saking marahnya. "Baik, kalau begitu aku tidak akan membuatmu mati! Kalau
dikupas semua kulit mukamu, tentu kau akan mampus. Terlalu enak buatmu! Aaahhhhh, aku pernah
melihat seorang wanita yang menderita sakit kotor sehingga hilang hidungnya dan bibirnya. Hidungnya
hanya merupakan sebuah lubang dan mulutnya juga sebuah lubang melompong. Lalat-lalat keluar masuk
melalui lubang-lubang hidung dan mulut. Dan dia tidak mati! Hi-hi-hik, benar sekali. Kalau kupotong
hidungmu yang kecil mancung ini, dan kukerat habis sepasang bibirmu yang begini penuh, halus
kemerahan membuat hati laki-laki ingin sekali mencium menggigitnya, kau tentu akan menjadi seperti dia !
Kalau hidung dan mulutnya sudah menjadi dua lubang yang dirubung lalat, biarpun bagian tubuhnya yang
lain amat bagusnya, laki-laki mana yang akan tertarik? Mereka akan menjadi jijik sekali, melihat pun
akan muntah! Hi-hi-hik, menangislah, berteriaklah, aku tetap akan melakukan hukuman ini, hi-hi-hik!"
Iblis betina itu berjingkrak-jingkrak sambil terkekeh-kekeh karena kini Baiuw Eng menjadi pucat sekali
dan dari sepasang matanya mengalir air mata! Belum pernah selama hidupnya Biauw Eng menangis
karena ngeri dan takut, dan sekali ini ia benar-benar menjadi ketakutan karena tidak tahan mengingat
ancaman yang amat mengerikan itu.
"Heh-heh-heh! Biar kupandang mukamu sampai puas dulu agar aku nanti ingat betapa cantiknya engkau
sebelumnya. Julukanmu Siu-li (Perawan Jelita), sungguh tepat! Cantik sekali kau! Sekarang, mana yang
.
lebih dulu dipotong? Hidungmu atau bibirmu? Hudungmu saja agar bibirmu dapat menjerit-jerit,
kemudian bibirmu. Wah, kuku tanganku sudah gatal-gatal, kini mendapat makanan empuk, hidung
mancung bibir merah. Hi-hi-hik!" Nenek sudah mendekatkan tangan kirinya ke depan hidung Biauw Eng,
dan gadis ini meramkan matanya, mukanya pucat, napasnya terengah-engah dan dadanya terisak
menangis. Sudah tercium olehnya bau kuku-kuku tangan kiri nenek itu dan ia menahan napas, hampir
pingsan ketika kuku-kuku itu sudah menyentuh cuping hidungnya. Agaknya nenek itu sengaja berlaku
lambat agar lebih banyak ia dapat menikmati siksaan ini. Cui Im yang masih duduk dengan tubuh lemas
memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.
"Iblis kejam.....!!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali dan Keng Hong telah meloncat tinggi dan
dari atas ia mengirim serangan dorongan dengan kedua tangan ke arah punggung nenek itu. Tadi ia
menjadi marah dan khawatir sekali menyaksikan keadaan Biauw Eng. Biarpun dia tadinya tak mampu
bergerak karena totokan yang istimewa dari nenek itu membuat tubuhnya kaku, namun sinkang di
tubuhnya yang hebat luar biasa itu terus mendesak-desak dan akhirnya, dalam saat terakhir bagi
keselamatan Biauw Eng, dia berhasil membebaskan diri dari totokan itu dan serta merta dia meloncat dan
menyerang. Dalam kemarahannya, dia langsung menggunakan jurus Siang-in-twi-san, yaitu jurus ke tiga
dari ilmu silat tangan kosong satu-satunya yang dia kenal, San-in-kun-hoat. Serangannya hebat sekali
karena kedua lengannya penuh dengan hawa sinkang yang amat kuat. Nenek yang sakti itu terkejut
mendengar desir angin serangan yang demikian hebatnya, maka cepat ia menarik kedua tangannya dari
Biauw Eng, tubuhnya membalik dan tangannya menangkis.
"Plak-plakkk.....!!"
"Aiiihhh.....!!" Ang-bin Kwi-bo menjerit kaget ketika tubuhnya tergetar dan ia dipaksa untuk mundur
sampai tiga langkah ke belakang. Apalagi ketika ia melihat betapa pemuda yang menyerangnya itu hanya
terhuyung sedikit oleh tangkisannya, sama sekali tidak terpengaruh oleh tangkisan kedua tangannya,
benar-benar ia tercengang. Akan tetapi hatinya girang sekali karena hal ini hanya membuktikan betapa
hebatnya ilmu kepandaian Sin-jiu Kiam-ong yang dalam waktu beberapa tahun saja dapat melatih
muridnya selihai ini. Ia percaya bahwa kalau ia sampai berhasil menguasai kitab-kitab peninggalan Sin-jiu
Kiam-ong, pasti ia akan menemukan ilmu-ilmu yang hebat.
"Heh-heh-heh, bocah hebat engkau! Bagaimana kau berhasil membebaskan totokanku?" Memang hal ini
saja sudah menimbulkan keheranan dan kekaguman luar biasa bagi Ang-bin Kwi-bo. Jarang di dunia ini
ada tokoh yang dapat membebaskan totokannya, kecuali orang-orang yang setingkat dengan dia seperti
ketiga datuk hitam yang lain.
Akan tetapi Keng Hong tidak memperhatikan nenek itu karena dia melihat betapa tubuh Biauw Eng
menjadi limbung dan hampir roboh. Cepat dia melangkah maju dan berhasil memeluk pundak gadis itu
sehingga Baiuw Eng tidak sampai roboh. Gadis ini merintih perlahan, terhimpit rasa ketegangan yang
amat hebat sehingga setelah ia terbebas daripada ancaman yang lebih hebat daripada maut tadi, ia
menjadi lemas sekali. Ketika ada orang memeluknya, ia merintih dan membuka matanya perlahan.
Melihat bahwa yang memeluknya dan memandangnya penuh rasa iba itu adalah pemuda yang telah
membebaskannya daripada siksaan hebat, ia balas memeluk dan membenamkan mukanya di dada Keng
Hong. Sejenak keduanya berpelukan ketat, dan Keng Hong merasa betapa jantungnya berdebar. Sama
sekali tidak bangkit nafsunya terhadap gadis ini seperti ketika dia memeluk Cui Im, yang ada hanya rasa
kasihan dan sayang.
".... Terima kasih...." Ucapan ini perlahan sekali, merupakan bisikan yang hampir tak bersuara, namun
mendatangkan rasa lega dan puas di hati Keng Hong dan dia tersenyum.
"Hi-hi-hik! Presis Sin-jiu Kiam-ong! Gurunya pemogoran, muridnya hidung belang! Heh-heh-heh, setiap
.
orang wanita tentu akan jatuh hati kepada bocah ini."
Ucapan Ang-bin Kwi-bo menyadarkan Biauw Eng dan sekali rengut ia melepaskan dirinya dari pelukan
Keng Hong, lalu mencelat ke belakang dengan muka pucat dan mata terbelalak. Ia tidak merasa malu,
hanya merasa heran terhadap diri sendiri mengapa ia mempunyai perasaan seperti ini! Padahal selama
hidupnya ia digembleng oleh ibunya agar jangan jatuh hati pada pria manapun. Dan selamanya ia tidak
pernah memikirkan pria. Sekarang, tannpa disadari ia tadi telah memeluk pemuda itu dengan mesra, di
depan mata orang-orang lain pula!
"Ha-ha-ha, Sumoi, betul tidak kataku? Hati-hati terhadap dia, aku akan pulas dalam pelukannya yang
nyaman......!"
"Suci, tutup mulutmu.....!!" Bentakan ini mengandung kemarahan yang membuat Cui Im tak berani
bersuara lagi, akan tetapi mulut wanita ini tersenyum dan pandang matanya terhadap Biauw Eng
mengandung sesuatu yang aneh.
Akan tetapi Ang-bin Kwi-bo kini sudah menghadapi Keng Hong dan sambil tertawa ia berkata, "Bocah,
aku masih ingat kepadamu. Sejak kecil engkau sudah hebat, berani meniup suling mengacaukan
pertandingan kami melawan Sin-jiu Kiam-ong.”
"Ang-bin Kwi-bo, aku pun masih ingat kepadamu ketika engkau dengan iblis-iblis lain secara tiak tahu
malu mengeroyok mendiang suhu. Dan sekarang engkau hendak menyiksa seorang gadis muda.
Benar-benar engkau keji dan jahat seperti iblis sendiri!"
Nenek itu tertawa-tawa dengan hati girang. Maki-makian yang menunjukan betapa kejam dan jahatnya
bagi telinganya merupakan puji-pujian yang membesarkan hati. "Hi-hi-hik, dan aku dapat lebih kejam lagi
kalau kau tidak menurut kepadaku. Kau harus ikut aku dan membawaku ke tempat penyimpanan pusaka
peninggalan gurumu."
"Aku tidak sudi!"
"Aku akan memaksamu, bocah keras kepala!"
"Dipaksa juga aku tetap tidak dapat menunjukan tempat itu!"
"Aku akan menyiksamu, membuat kau mati tidak hidup pun tidak, menjadi tiga perempat mati dan yang
seperempat hanya kubiarkan hidup untuk mengalami derita yang hebat!" Nenek itu mengancam dengan
suara marah.
"Percuma, biar disiksa sampai mati pun tidak ada gunanya karena aku sendiri tidak tahu dimana tempat
yang kau maksudkan itu."
"Bohong.....!"
"Sudahlah! Percaya atau tidak terserah, aku tidak ada waktu lebih lama lagi untuk melayani ocehanmu.
Aku pergi!" Setelah berkata demikian, Keng Hong meloncat dan lari pergi dari situ. Akan tetapi tampak
bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu nenek itu telah berdiri menghadang di depannya. Keng Hong
kaget dan kagum. Ginkang dari nenek ini benar-benar mengejutkan, seperti terbang saja ketika
mendahuluinya dan menghadang.
"Kau mau apa?" tanya Keng Hong.
.
"Kau harus ikut bersamaku!"
Keng Hong teringat akan pesan suhunya. Suhunya pernah menyatakan bahwa di dunia persilatan banyak
sekali orang pandai yang takkan terlawan olehnya, terutama sekali orang-orang seperti Bu-tek Su-kwi
yang berilmu tinggi. Hanya kalau dia sudah mempelajari kitab-kitab peninggalan suhunya, barulah dia
akan cukup kuat untuk menghadapi mereka, demikian pesan suhunya. Dan sekarang dia berhadapan
dengan seorang di antara mereka! Sayang pedang Siang-bhok-kiam tidak berada di tangannya. Kalau
dia bersenjatakan pedang itu, ingin dia mencoba ilmu pedangnya Siang-bhok Kiam-sut melawan nenek
yang lihai bermain silat dengan senjata rambut dan kuku-kukunya ini! Betapun juga, dia harus
melawannya.
"Aku tidak sudi."
"Hi-hi-hik, kaukira aku tidak dapat memaksamu? Kaukira dengan sedikit kepandaianmu itu engkau
akan dapat menentang Ang-bin Kwi-bo? Hi-hi-hik!"
"Aku tidak dapat!" bentak Keng Hong dan pemuda ini sudah menerjang maju, membuat gerakan
melingkar dengan kedua tangan yang diputar dari atas kepala terus ke bawah, cepat sekali sehingga
kedua lengannya merupakan gulungan sinar putih, kemudian dari gumpalan sinar ini menyambarlah kedua
pukulannya bertubi-tubi. Ia telah memainkan jurus ke lima dari ilmu silatnya, yaitu jurus San-in-ci-tian
(Awan Gunung Mengeluarkan Kilat). Angin pukulan kedua tangannya yang mengandung tenaga sinkang
itu sampai mengeluarkan suara menderu dan rambut riap-riapan serta baju nenek itu berkibar-kibar
disambar angin pukulan.
"Pukulan yang aneh dan hebat.....!" Nenek itu berseru gembira sekali karena harus ia akui bahwa
sebanyak itu ia mengenal ilmu silat pelbagai aliran, belum pernah ia menyaksikan jurus pukulan yang
dipergunakan pemuda ini. Sebagai seorang hali, ia segera dapat menilai bahwa jurus ini hebat sekali,
mengandung segi yang rumit dan dahsyat, akan tetapi hanya tenaga pemuda ini saja yang hebat luar biasa,
namun gerakannya belum "matang". Oleh karena itu, dengan mudah ia menghindarkan diri sambil
meloncat ke kanan, kemudian membalik ke kiri cepat sekali dan rambutnya sudah menyambar ke arah
leher Keng Hong!
Kalau diukur tentang ilmu silatnya, tentu saja Keng Hong kalah jauh, maka ketika serangannya itu selain
gagal juga dia dibalas secara kontan, pemuda ini menjadi sibuk menangkis dengan kebutan tangannya.
Hebat memang tenaganya, karena angin tangkisannya dapat membuat rambut nenek itu buyar, kemudian
dia meloncat ke depan dan dari atas dia mengirim pukulan dengan jurun Siang-in-twi-san. Serangan ini
pun hebat sekali dan nenek iblis itu makin gembira. Mula-mula yang akan dipelajarinya adalah jurus-jurus
ini, pikirnya. Kalau dia sudah memahami jurus-jurus seperti ini, kemudian dia yang memainkannya tentu
akan hebat sekali daya serangnya dan sukarlah tokoh-tokoh tandingannya akan mampu menangkisnya!
Kini ia secara tiba-tiba menggulingkan tubuhnya dan selagi tubuh Keng Hong yang menyambar lewat itu
meluncur di atas kepalanya, ia mengulur kedua tangan mencengkram ke arah kaki Keng Hong!
Keng Hong terkejut sekali, lalu mengerahkan sinkangnya dan tubuhnya mencela ke atas. Gerakan ini
bukan main cepatnya, digerakan oleh tenaga ginkang yang tinggi sehingga dia dapat menghindarkan
kedua kakinya dari cengkraman. Akan tetapi begitu dia meloncat turun, kedua tangan nenek itu sudah
menerjangnya dengan pukulan Ban-tok-sin-ciang!
"Rebahlah!" teriak si nenek yang ingin cepat-cepat merobohkan Keng Hong untuk dapat dibawa lari
karena ia khawatir kalau-kalau kedua orang anak murid Lam-hai Sin-ni itu datang membantu, dan lebih
khawatir lagi kalau-kalau ada datang tokoh-tokoh lain yang ia tahu juga berusaha mendapatkan pemuda
.
murid Sin-jiu Kiam-ong ini.
Keng Hong merasa betapa sebuah tenaga raksasa mendorongnya, didahului bau yang harum dan amis.
Cepat dia menahan napasnya, mengerahkan sinkangnya dan menangkis dengan tangan digerakan dari
samping.
"Desssss!!" Sekali ini tubuh Keng Hong yang terhuyung-huyung ke belakang dan nenek itu yang merasa
betapa kedua tangannya tergetar, cepat menggerakan kepalanya dan rambutnya yang riap-riapan itu
terpecah menjadi tujuh buah pecut yang menyambar dan menotok tujuh jalan darah di bagian atas tubuh
Keng Hong!
Pemuda itu terkejut sekali karena tidak mungkin dia menghindarkan diri dari tujuh totokan sekaligus itu,
dia cepat mengerahkan sinkang di tubuhnya dan menutup jalan-jalan darah yang tertotok. Ujung-ujung
rambut itu mengenai sasaran dan membalik bertemu dengan tubuh Keng Hong, akan tetapi pemuda itu
merasa tubuhnya seperti disambar petir dan dia terguling roboh. Baiknya dia terus bergulingan karena
seandainya tidak, tentu dia kena totok oleh Ang-bin Kwi-bo yang sudah menubruknya. Keng Hong
mencelat berdiri dan kepalanya terasa pening, dan biarpun dia tidak terpengaruh oleh totokan-totokan
itu, namun tubuhnya terasa kesemutan dan kepalanya pening. Ia melihat wajah nenek yang tertawa-tawa
itu berubah menjadi dua dalam pandang matanya yang berkunang.
"Keng Hong, pergunakan ilmu tempelmu!" Tiba-tiba Cui Im berteriak. Gadis ini sudah terbebas daripada
pengaruh pukulan beracun tadi, akan tetapi masih lemah. Adapun Biauw Eng sejak tadi hanya
memandang dan wajahnya sudah membayangkan sikapnya yang dingin lagi. Hal ini adalah karena ia
masih merasa terguncang oleh perasaan hatinya sendiri yang tak dapat ia sangkal bahwa ia mencinta
pemuda itu!
Mendengar teriakan Cui Im itu, Keng Hong yang masih pening dan belum dapat menggunakan
pikirannya dengan baik itu segera menubruk maju, melakukan serangan dan kembali ia telah
menggunakan jurus ke tiga, yaitu Sian-in-twi-san. Sekali ini, mendengar seruan Cui Im tadi, Ang-bin
Kwi-bo sengaja memakai kedua tangan Keng Hong yang terbuka dan mendorongnya itu dengan kedua
tangannya sendiri.
"Plakkk......!!" Dua pasang telapak tangan itu bertemu di udara. Hebat bukan main tenaga sinkang
Ang-bin Kwi-bo sehingga tubuh Keng Hong untuk beberapa detik lamanya tersangka di udara oleh
sepasang tangannya. Setelah tubuh Keng Hong makin turun dan akhirnya kedua kakinya menyentuh
tanah, barulah Ang-bin Kwi-bo mengeluarkan seruan keras.
"Kau faham Thi-khi-i-beng....?" Seruan ini adalah seruan terheran-heran, juga seruan girang sekali.
Cepat sekali wanita yang telapak tangannya sudah melekat dengan tangan Keng Hong dan mulai tersedot
hawa sinkangnya itu, menggerakan kepalanya dan rambutnya terpecah menjadi dua bagian melakukan
totokan ke arah kedua pergelangan tangan Keng Hong.
Pemuda itu merasa betapa kedua tangannya tiba-tiba menjadi kesemutan sehingga daya sedotnya
berkurang dan pada saat itulah Ang-bin Kwi-bo merenggut kedua tangannya terlepas, kemudian sekali
lagi rambutnya mengirimkan totokan selagi Keng Hong masih belum siap-siap sehingga pemuda itu
terkena totokan pada kedua pundaknya sehinga tiba-tiba dia menjadi lemas! Pada detik lain tubuhnya
sudah disambar oleh Ang-bin Kwi-ong yang tertawa terkekeh-kekeh girang sekali. Dalam diri pemuda
ini saja sudah terdapat ilmu-ilmu pukulan yang amat hebat ditambah dengan ilmu Thi-khi-i-beng yang
kabarnya sudah lenyap dari dunia persilatan! Kalau dia bisa mendapatkan dua macam ilmu itu saja,
dilatihnya sempurna, ia akan menjadi tokoh nomor satu di antara Empat Datuk!
.
"Ang-bin Kwi-bo, dia tawananku, lepaskan!" Tiba-tiba Biauw Eng berseru nyaring dan gadis ini sudah
menyerang dengan sabuk sutera putihnya. Ujung sabuk meluncur cepat dari atas dan bagaikan seekor
ular panjang, sabuk itu kini "mematuk" ke arah ubun-ubun kepala Ang-bin Kwi-bo. Inilah serangan yang
amat berbahaya, serangan maut! Ang-bin Kwi-bo maklum akan bahayanya serangan ini, maka ia cepat
menggunakan tangan kananya untuk mencengkram ke arah ujung cambuk, sedangkan lengan kirinya
mengempit dan melingkari pinggang Keng Hong. Cengkraman itu luput karena sabuk sudah disendal oleh
Biauw Eng, akan tetapi nenek itu melanjutkan tangan kanannya dengan serangan jarak jauh,
mendorongkan tangannya itu dengan ilmu Ban-tok-sin-ciang ke arah Biauw Eng. Gadis ini yang sudah
mengalami sendiri betapa hebatnya pukulan nenek itu, cepat mengelak ke samping dan kesempatan ini
dipergunakan oleh Ang-bin Kwi-bo untuk meloncat pergi. Murid Sin-jiu Kiam-ong sudah berada
ditangannya, dia tidak mau melayani puteri Lam-hai Sin-ni lebih lama lagi.
Akan tetapi tiba-tiba tampak berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang nenek berpakaian putih
yang bertubuh tinggi kurus telah berdiri di depan Ang-bin Kwi-bo dengan sikap angkuh dan dingin.
Nenek ini usianya sebaya dengan Ang-bin Kwi-bo, namun berbeda dengan Ang-bin Kwi-bo yang
berwajah menyeramkan dan buruk, nenek ini jelas menunjukan bahwa dahulunya tentu mempunyai wajah
yang cantik sekali. Tubuhnya yang tinggi kurus masih membayangkan bentuk tubuh yang ramping, dan
gerak-geriknya halus.
"Kwi-bo, sungguh tidak malu kau menghina orang-orang muda!" Wanita tua ini menegur dengan suara
halus namun nadanya dingin sekali, kemudian nenek itu menggerakan tangan kanan sambil berkata lagi,
"Kau ingin merasa Thi-khi-i-beng? Nah, terimalah ini!" Biarpun gerak-geriknya halus, akan tetapi tangan
nenek itu cepat sekali gerakanya sampai tak dapat diikuti pandangan mata dan tahu-tahu telapak tangan
nenek ini sudah mengancam muka Ang-bin Kwi-bo!
Ang-bin Kwi-bo terkejut dan cepat ia mengangkat tangan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga
Ban-tok-sin-ciang.
"Plakkk!" Kedua tangan bertemu dan akibatnya membuat Ang-bin Kwi-bo menggereng marah karena
tangannya sudah tertempel dan biarpun tenaga sedotnya tidak sehebat tenaga sedot yang keluar dari
tubuh Keng Hong tadi, akan tetapi kini mulai terasa betapa sinkangnya tersedot oleh nenek itu. Ang-bin
Kwi-bo mengerti bahaya. Kalau dia tertempel dan tersedot oleh Keng Hong masih mudah baginya untuk
membebasakan diri, akan tetapi nenek ini amat lihai sehingga dengan hanya sebelah tangan saja akan
sukarlah baginya menyelamatkan diri. Cepat Ang-bin Kwi-bo melepaskan tubuh Keng Hong yang
dikepit lengan kirinya, kemudian ia memutar tubuh dan menggunakan tangan kirinya yang dibuka
jari-jarinya mencengkram ke arah dada lawan. Buka hanya tangan kirinya yang mencengkram, juga
kepalanya sudah bergerak dan bagaikan ular-ular hitam yang banyak sekali, rambutnya meluncur ke
depan dan
Menghadapi serangan yang ganas dan amat banyak ini nenek itu tetap tenang, mengunakan tangan
kanannya untuk diputar membentuk lingkaran yang melindungi tubuh. Putaran tangannya ini
mendatangkan hawa berputar di depan tubuhnya sehingga serangan rambut-rambut kepala Ang-bin
Kwi-bo dapa digagalkan semua karena rambut-rambut itu menjadi buyar bertemu dengan hawa putaran
tangan ini, sedangkan cengkraman itu sendiri dapat disampok oleh tangan kanan si nenek sakti. Akan
tetapi karena sebagian tangannya dikerahkan untuk menghadapi serangan yang ganas itu, tenaga
sedotnya berkurang dan sekali renggut Ang-bin Kwi-bo berhasil membebaskan diri lalu meloncat mundur
dengan muka beringas.
Sementara itu, Keng Hong sudah berhasil membebaskan diri dari totokan dan Cui Im sudah cepat-cepat
menghampirinya, akan tetapi pemuda ini tidak mempedulikan sikap Cui Im yang memikat, karena pada
saat itu perhatiannya ditujukan kepada nenek yang berhadapan dengan Ang-bin Kwi-bo.
.
"Lam-hai Sin-ni! Baru saja akan telah mengampuni puterimu dan tentu dia kini sudah menjadi mayat
kalau tidak melihat hubungan segolongan. Akan tetapi sekarang datang-datang kau menyerangku,
sungguh engkau tidak mengenal persahabatan!" Teriak Ang-bin Kwi-bo dengan nada marah.
"Dia bohong, Subo!" Cui Im berteriak. "Kalau tidak ada Keng Hong murid Sin-jiu Kiam-ong ini yang
membantu, teecu dan sumoi tentu telah dibunuhnya! Dia telah menghina teecu berdua, juga telah
menghina nama subo!"
Nenek tinggi kurus yang ternyata adalah tokoh yang paling lihai dari Bu-tek Su-kwi dan bejuluk Lam-hai
Sin-ni hanya memandang kepada Ang-bin Kwi-bo, kemudian berkata.
"Ang-bin Kwi-bo, engkau di timur, Pak-san Kwi-ong di utara, Pat-jiu Sian-ong di barat dan aku di
selatan, masing-masing tidajk saling mengganggu selama puluhan tahun. Sungguhpun kini timbul urusan
memperebutkan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, seharusnya dilakukan secara terbuka dan
mengandalkan kepandaian. tidak semestinya engkau mengganggu anak-anak kecil. Kalau engkau hendak
memamerkan Ban-tok-sin-ciang, majulah. Aku lawanmu!"
Melihat sikap yang dingin ini, Ang-bin Kwi-bo menjadi gentar. Memang dia telah mengenal siapa adanya
datuk hitam dari selatan ini, yang sejak dahulu amat terkenal kesaktiannya dan ia tidak mempunyai
harapan untuk menang. Apalagi ia melihat betapa di situ terdapat Ang-kiam Tok-sian-li Cui Im, dan
Song-bun Siu-li Biauw Eng yang kalau membantu lawan tentu membuat dia lebih berat menghadapinya,
belum lagi pemuda aneh itu yang memiliki ilmu mujijat dan tentu saja akan membantu kedua orang gadis
cantik itu. Ang-bin Kwi-bo buka seorang bodoh. Dia adalah seorang tokoh besar yang sudah matang
pengalamannya. melihat keadaan tidak menguntungkan ini, ia lalu ketawa mengejek.
"Hi-hi-hik, Lam-hai Sin-ni. Siapa sih takut menghadapimu? Kepandaian kita satu kati delapan tail
(seimbang), dan terbukti tadi aku mampu melawan Thi-khi-i-beng yang kau miliki. Kau tunggu saja, akan
tiba saatnya aku datang menantangmu dalam sebuah pertandingan yang menentukan. Sampai jumpa!!"
Setelah berkata demikian, tubuh Ang-bin Kwi-bo berkelebat dan lenyap dari tempat itu. Dengan ucapan
ini, biarpun ia melarikan diri, namun tidak karena kalah bertanding atau memperlihatkan rasa jerihnya.
Lam-hai-Sin-ni bersikap dingin sekali dan kini mengertilah Keng Hong mengapa Biauw Eng yang cantik
manis itu memiliki sikap dingin seperti es. Kiranya ibunya pun seperti manusia es, sehingga nona itu
mewarisi sikap ibunya. pakaiannya serba putih seperti orang berkabung , sikapnya dingin, wajah tidak
pernah menyinarkan perasaan hati. Benar-benar ibu dan anak ini mengerikan, lebih mengerikan daripada
wajah Ang-bin Kwi-bo yang buruk dan wataknya yang kasar. Kini Lam-hai Sin-ni membalikan tubuhnya
berlahan menghadapi Keng Hong. kalau tadi ketika menghadapi pandang mata penuh kekejaman dari
Ang-bin Kwi-bo pemuda ini tidak merasa gentar, kini berhadapan dengan pandang mata itu, dia merasa
bulu tengkuknya meremang. Pandang mata nenek ini seolah-olah terasa olehnya, merayap bagaikan
seekor laba-laba di seluruh badan, dingin dan meggelikan.
"Engkau murid Sin-jiu Kiam-ong?" Suara Lam-hai Sin-ni halus, namun mengandung tenaga yang
mendorong dan memaksa orang harus menjawab sebenarnya karena pandang mata yang dingin itu penuh
ancaman.
"Benar, Locianpwe," jawab Keng Hong singkat sambil menentang padang mata yang dingin itu.
Dengan sikap tetap dingin, gerakan tangan lemah lembut, dan suara halus nenek itu menggerakan tangan
kanannya seperti orang minta sesuatu, "Berikan kepadaku pedang Siang-bhok-kiam."
.
Keng Hong mengerutkan alisnya. Semua orang minta pedang itu dengan cara dan sikap mereka
masing-masing, ada yang kasar, ada yang buas, ada pula yang halus seperti sikap nenek ini, namun baru
sekarang Keng Hong merasa seram. Sikap nenek ini benar-benar mendatangkan rasa dingin di
tengkuknya.
"Siang-bhok-kiam tidak ada pada saya, Locianpwe."
"Hemmm, di mana....?"
"Pedang itu dirampas oleh para tosu Kun-lun-pai."
"Bohong!" Tiba-tiba nenek itu menggerakan tangan kanan yang terulur tadi, telunjuknya menuding ke
arah Keng Hong dan terdengarlah bunyi bercuitan ketika serangkum tenaga yang luar biasa menuju ke
arah dada Keng Hong seperti sebatang pedang yang menusuk. Keng Hong terkejut sekali, cepat
mengibas dengan tangannya sambil membanting tubuh ke kanan terus bergulingan. Tangannya tadi dapat
menangkis hawa pukulan yang amat kuat seperti pedang akan tetapi tubuhnya terguling-guling dan
akhirnya dia dapat meloncat bangun dengan keringat dingin membasahi lehernya. Bukan main, pikirnya.
Selama hidupnya baru dua kali ini dia menyaksikan ilmu sehebat itu. Pertama-tama dia melihat betapa di
Kun-lun-san, Kiang Tojin pernah melakukan totokan terhadap Cui Im dari jarak jauh, hampir sama
dengan apa yang dilakukan oleh nenek ini terhadap dirinya. Ia menjadi penasaran sekali karena dapat
menduga bahwa serangan itu sesungguhnya adalah sebuah pukulan maut. Kiranya nenek yang halus
bicaranya, halus pula gerak-geriknya, yang berwajah dingin ini tanpa sebab hendak membunuhnya begitu
saja dengan darah dingin pula! Agaknya dalam hal kekejaman Lam-hai Sin-ni tidak mau kalah oleh para
datuk hitam yang lain!
"Hemmm, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong engkau boleh juga, dapat mengelak dari seranganku. Akan
tetapi engkau membohong, dan ini tidak patut karena gurumu itu selama hidup tidak pernah membohong!
Hayo lekas serahkan pedang itu atau jangan harap kau akan dapat mengelak terus!"
Hemmm, pikir Keng Hong. Mungkin dahulu suhu tidak pernah membohong, dan hal itu tentu saja dapat
dilakukan karena suhunya sudah memiliki kepandaian amat tinggi. Bagi dia sendiri, kalau tidak mau
membohong, bagaimana akan dapat menyelamatkan diri? Membohong tidak apa asal jangan menipu,
membohong asal tidak merugikan lain orang, kadang-kadang malah amat perlu!
"Saya tidak membawa pedang itu, Locianpwe, sudah diambil oleh Kiang Tojin dari Kun-lun-pai!"
"Wuuutttt..... Wuuuttt.....!" Kedua tangan nenek itu melakukan gerakan mendorong dua kali ke arah
Keng Hong. pemuda itu cepat mengelak dan mengibaskan tangan. Kembali hawa sinkang di tubuhnya
berhasil menangkis angin pukulan nenek itu yang amat hebat, namun tetap saja dia terjengkang dan
terguling-guling saking hebatnya tenaga dorongan angin pukulan Lam-hai Sin-ni.
"Kau.... kau berani melawan.....?" Nenek itu menjadi marah dan baru sekarang ia melangkah maju,
hendak menyerang dari jarak dekat karena dua kali serangannya dari jauh gagal.
"Ibu! Dia tidak bohong, memang Siang-bhok-kiam telah diambil para tosu Kun-lun-pai!" tiba-tiba Biauw
Eng berkata.
"Ah, kau bocah bodoh mana tahu? Bocah ini adalah murid Sin-jiu Kiam-ong, selain ugal-ugalan juga
tentu amat menyayang pedang itu. Mana mungkin dia berikan kepada orang lain? Sin-jiu Kiam-ong
sendiri, setelah menjadi tua bangka, masih juga tidak rela memberikan pedang itu kepada orang lain.
Jangan ikut-ikut, bocah ini harus memberikan Siang-bhok-kiam kepadaku atau dia mati di tanganku
.
sekarang juga. Heh, bocah keras kepala, masih belum mengaku di mana adanya Siang-bhok-kiam?
Lekas katakan agar aku dapat mengambilnya."
Keng Hong merasa panas perutnya. Nenek berwajah dingin ini benar-benar menjengkelkan sekali. Di
waktu mudanya tentu merupakan seorang wanita cantik yang amat manja dan hendak membawa
kehendak sendiri saja, mau menang sendiri. Ia memandang terbelalak penuh kemarahan dan berkata.
"Sudah saya katakan, pedang itu berada di Kun-lun-pai, kalau Locianpwe menghendaki ambilah dari
tangan mereka. Akan tetapi hati-hati, di sana banyak terdapat orang lihai....."
Keng Hong terpaksa menghentikan kata-katanya karena nenek itu secara tiba-tiba sekali telah
melompat ke depan dan tahu-tahu sudah berada dekat sekali dengannya, tangan kanan nenek ini
menampar ke arah kepalanya! Keng Hong maklum betapa lihainya nenek ini. Mengelak takan keburu,
maka dia berlaku nekat, mengangkat pula tangan kanannya dan menerima tamparan tangan terbuka itu
dengan telapak tangannya sendiri.
"Plakkk!!" Dua buah tangan itu bertemu di udara dan terus melekat karena dalam kemarahannya, Keng
Hong yang menggerakan tenaga sinkang itu tanpa disengaja telah mengeluarkan daya sedotnya yang amat
kuat. Ketika nenek itu merasa betapa tamparannya tertangkis bahkan tenaga sinkangnya tersedot, ia
terkejut sekali dan cepet-cepat ia pun mengerahkan sinkangnya dan menggunakan ilmunya
Thi-khi-i-beng untuk balas menyedot. Dua tenaga sinkang yang amat hebat saling sedot. Tenaga sedot
sinkang Lam-hai Sin-ni adalah berkat latihan ilmu Thi-khi-i-beng yang kabarnya sudah lenyap dari dunia
persilatan, bahkan nenek ini yang sudah berlatih puluhan tahun sekalipun hanya dapat mencapai sebagian
kecil saja. Adapun tenaga sedot dari tangan Keng Hong timbul tanpa dia sengaja, tanpa dilatih dan
tercipta karena dia kebanjiran sinkang yang dioperkan oleh gurunya sehingga merusak susunan di dalam
tubuhnya yang mengakibatkan tenaga sedot mujijat itu. Dan dapat dibayangkan betapa kaget, heran dan
penasaran hati Lam-hai Sin-ni ketika ia merasa betapa berlahan-lahan namun tentu, tenaga sedotnya
terbetot dan kalah kuat sehingga mulailah sinkangnya membocor lagi memasuki tubuh pemuda itu lewat
telapak tangan mereka!
"Aihhhh.....!" Lam-hai Sin-ni berseru keras, tangan kirinya bergerak dan dengan kuku jari tangannya, ia
menyentil ke arah pundak kanan Keng Hong. Seketika tubuh Keng Hong menjadi lemas dan untung
pemuda ini masih ingat untuk cepat menarik tangannya sambil meloncat mundur, kalau tidak, tentu ia
akan dipukul lagi dengan pukulan maut. Nenek itu cerdik luar biasa. Kalau tadi ia memukul begitu saja ke
tubuh Keng Hong, pukulannya tentu akan ambalas pula ke dalam lautan sinkang yang memiliki daya
sedot luar biasa itu. Maka ia menyentil dengan kuku jari, menotok jalan darah sehingga daya sedot itu
tidak dapat menarik sinkangnya karena terhalang oleh kuku jari.
Kini dengan marah Lam-hai Sin-ni sudah melangkah maju, kedua tangannya siap memberi pukulan maut.
Tiba-tiba Cui Im meloncat dan sambil menjatuhkan diri berlutut ia berkata.
"Subo.... subo.... harap tunggu dulu keterangan teecu..... teecu berani bersumpah bahwa pedang
Siang-bhok-kiam memang dirampas oleh tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai seperti diceritakan bocahini.
Teecu sendiri yang melihatnya dengan mata teecu."
Nenek itu mengerutkan kening. "Ceritakan!" katanya kepada muridnya itu dengan jelas Cui Im lalu
bercerita, menceritakan betapa ia menyusup ke Kun-lun-pai dan tertawan, kemudian betapa ia melihat
sendiri Keng Hong menyerahkan pedang kayu Siang-bhok-kiam kepada Kiang Tojin. Setelah
mendengar cerita ini, nenek itu kembali menghadapi Keng Hong yang sudah bangkit duduk. Sejenak ia
memandang tajam, kemudian berkata.
.
"Bocah tidak setia! Baru saja turun dari Kiam-kok-san, sudah memberikan pedang kepada tosu
Kun-lun-pai! Murid macam apa ini! Tanpa Siang-bhok-kiam, kau tidak ada gunanya dan lebih baik
mati!" Setelah berkata demikian, kembali nenek itu menerjang maju hendak menyerang Keng Hong!
"Ibu, tahan....!!" Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Biauw Eng telah berdiri menghadap
di depan ibunya, membelakangi Keng Hong yang sudah siap-siap membela diri sekuatnya.
"Eng-ji, mau apa engkau? Minggir!"
"Tidak, Ibu. Kau tidak boleh membunuh Cia Keng Hong."
"Apa? Dia tiada gunanya, tidak membawa Siang-bhok-kiam, harus kubunuh!"
"Jangan, Ibu. Dia telah menolongku dari kekejian Ang-bin Kwi-bo. Ibu tidak boleh membunuhnya."
Sejenak ibu dan anak berdiri tegak berhadapan, bertentang pandang dan Keng Hong yang melihat ini
merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Alangkah serupa benar orang ini. Hanya yang seorang
nenek-nenek, yang ke dua gadis remaja. Akan tetapi keduanya sama-sama berwajah dingin dan memiliki
pandangan mata yang membayangkan kekerasan hati seperti baja!
"Pernah menolongmu bukan alasan untuk mencegah aku membunuhnya! Dia harus kubunuh karena dia,
manusia tolol murid tidak setia ini, dia agaknya telah menerima pelajaran Thi-khi-i-beng dari Sin-jiu
Kiam-ong setan tidak setia itu! Dia harus kubunuh. Minggirlah!"
Akan tetapi sedikitpun Biauw Eng tidak mau minggir, bahkan ia menegakaan kepala, membusungkan
dada dan memandang ibunya dengan sikap menantang. "Tidak!" Katanya dan untuk pertama kali
terdengar suaranya dipengaruhi nafsu. "Ibu tidak boleh membunuhnya!"
Lam-hai Sin-ni tertegun. Sejak kecil puterinya ini tidak pernah berani membantahnya. Dia yang menjadi
semacam "ratu" di daerah pantai laut selatan, yang ditakuti semua orang, kini terheran-heran menyaksikan
puterinya sendiri hendak membantah dan melawannya! "Apa kaubilang? Mengapa tidak boleh?"
"Karena aku cinta kepada Cia Keng Hong!"
Sunyi sekali setelah ucapan yang nyaring itu diucapkan oleh Biauw Eng. Tiga pasang mata terbelalak,
yaitu mata Keng Hong, Cui Im dan lam-hai Sin-ni sendiri.Keng Hong terbelalak dan jantungnya berdebar
keras sampai tubuhnya menjadi gemetar. Biauw Eng cinta kepadanya? Sungguh hal yang sama sekali tak
pernah dia duga! Kalau Cui Im yang mencintainya, hal itu tidak aneh, dia mengenal watak mata keranjang
murid Lam-hai Sin-ni itu. Akan tetapi Biauw Eng? Sikapnya terhadapnya begitu dingin, begitu galak!
Juga Cui Im terbelalak. Mendengar sumoinya secara terang-terangan mengaku cinta kepada seorang
pemuda, benar-benar membuat ia seperti mimpi di siang hari! Padahal biasanya, sumoinya itu
memandang rendah semua pria, bahkan menjadi marah-marah dan memaki-makinya kalau dia bicara
tentang pria. Sumoinya seorang yang "alim" dan agaknya mempunyai pantangan untuk segala macam
bentuk cinta terhadap pria!
"Kau.... kau gila....? kau.... kau mencita murid Sin-jiu Kiam-ong.....?" Lam-hai Sin-ni berbisik,
seolah-olah tidak percaya kepada telingnya sendiri.
"Kau..... heh-heh-heh.... kau mencinta dia.....?" Baru sekali ini Cui Im mendengar gurunya tertawa dan ia
merinding penuh keseraman. suara ketawa itu lebih pantas disebut isak tangis. "Kau mencinta muridnya?
Dia..... dia tentu mata keranjang, tidak setia seperti..... seperti....."
.
"Seperti ayah, Ibu? Biarlah! Ibu membenci ayah, akan tetapi aku tidak membenci Sin-jiu Kiam-ong. Dan
biarpun ibu pura-pura membenci, aku tahu bahwa ibu amat cinta kepadanya, buktinya ibu memberi she
sie kepadaku, she dari Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, ayahku. Aku cinta kepada Cia Keng Hong dan
ibu tidak boleh membunuhnya!"
Tiba-tiba Lam-hai Sin-ni mengeluarkan pekik mengerikan, kemudian wajahnya yang biasa dingin itu
berubah beringas. "kau gila! Minggir! pengakuanmu ini malah mendorongku untuk membunuh si keparat!
Minggir!"
"Tidak, ibu!" Biauw Eng melolos sabuk suteranya dan berkata kepada Keng Hong dengan suara halus,
"Keng Hong, kau pergilah. Kau pergilah setelah kau mendengar pengakuanku. Pergilah.....!"
Wajah Keng Hong menjadi pucat. Jadi Biauw Eng ini adalah puteri gurunya! Kalau begitu...... antara
gurunya dan Lam-hai Sin-ni pernah menjadi hubungan suami istri! Dan puteri gurunya ini mencintainya! Ia
tidak tahan lagi, merasa kasihan mendengar suara mengetar dari Biauw Eng ketika menyuruh dia pergi.
Sambil menghela napas, dia lalu membalikan tubuhnya dan meloncat pergi dari tempat itu.
"Minggir.....!" Lam-hai Sin-ni berteriak sambil menerjang ke depan, hendak mengejar Keng Hong. Akan
tetapi Biauw Eng juga menerjang maju menyambut ibunya dengan serangan sabuk sutera sambil berkata.
"Ibu hanya dapat mengejarnya melalui mayatku!"
Nenek itu mendorong anaknya supaya jangan menghalanginya, akan tetapi sabuk sutera putih Biauw
Eng bergerak cepat mengirim totokan ke arah kedua lutut ibunya dengan kuat sekali. Lam-hai-Sin-ni
menjadi makin marah karena totokan yang dilakukan puterinya itu kalau mengenai lututnya tentu akan
membuat kedua kakinya tak dapat lari lagi, maka sambil mendengus ia menyambar ujung sabuk sutera itu
dengan kedua tangannya, menrengutnya terlepas dari tangan Biauw Eng dan melemparkannya ke atas
tanah. Hal ini terjadi tanpa dapat dicegah oleh Biauw Eng. Sementara itu bayangan Keng Hong sudah
pergi jauh sekali dan Lam-hai Sin-ni cepar lari mengejar.
Akan tetapi, kembali Biauw Eng menyerangnya. Kini dengan pukulan tangan yang amat dahsyat.
Lam-hai Sin-ni terkejut, terheran-heran dan hampit tidak percaya akan pandang matanya sendiri.
Puterinya sendiri menyerangnya seperti ini? Dengan pukulan maut?? Teringatlah nenek ini akan keadaan
dirinya sendiri dahulu dan terdengar suara terisak dari dalam dadanya. Pukulan puterinya itu ia tangkis
dengan keras sehingga Biauw Eng terpekik dan terbanting ke kiri sampai bergulingan. Gadis ini cepat
menoleh ke arah larinya Keng Hong dan hatinya agak lega melihat bahwa pemuda itu tentu sudah lari
jauh sekali karena tak tampak lagi bayangannya. Ketika ia menengok ke arah ibunya, ia terkejut dan
terheran, kemudian ia bangkit berdiri dan lari menubruk ibunya yang ternyata sudah duduk bersila sambil
meramkan mata, mukanya pucat seperti mayat dan tubuhnya kaku! Ia maklum bahwa ibunya seadng
berduka sekali dan bahwa di dalam dada ibunya sedang terjadi "perang" antara membunuh Keng Hong
dan memenuhi permintaan puterinya. Biauw Eng yang berlutut di depan ibunya, menyentuh kaki ibunya
dan menangis.
Cui Im terbelalak untuk kedua kalinya. Selama menjadi murid Lam-hai Sin-ni baru sekarang ini ia
melihat keanehan yang terjadi pada diri sumoinya yang biasanya amat ia kagumi karena sumoinya itu
biarpun lebih muda dari padanya, namun amat lihai dan memiliki sifat-sifat yang persis Lam-hai Sin-ni.
Akan tetapi hari ini, gara-gara Keng Hong, ia melihat sumoinya menyatakan cinta kepada Keng Hong,
dan kini, hal yang luar biasa ia lihat ketika sumoinya itu menangis! Timbul perasaan panas di hatinya. Dia
sendiri tergila-gila kepada Keng Hong, tergila-gila akan ketampanannya dan terutama sekali akan ilmu
kepandaiannya dan pusaka-pusaka yang mungkin sekali akan bisa ia dapatkan melalui pemuda itu. Kini
.
mendengar pengakuan sumoinya, diam-diam ia menjadi iri hati, cemburu dan marah. Ibu dan anak itu
sama sekali tidak tahu betapa Ang-kiam Tok-sian-li memandang ke arah Biauw Eng dengan sinar mata
aneh, seolah-olah mengeluarkan api yang hendak membakar seluruh tubuh gadis baju putih itu. Tidak
tahu pula betapa diam-diam Bhe Cui Im pergi meninggalkan tempat itu dengan sikap aneh dan
berkali-kali melirik ke arah Biauw Eng dengan sinar mata penuh kebencian!
Sesaaat kemudian, Lam-hai Sin-ni membuka matanya dan melihat puterinya menangis didepanya, ia
menghela napas panjang dan berkata halus sambil mengelus rambut kepala puterinya.
"Eng-ji, hukum karma selalu mengikuti kita....."
Biauw Eng memeluk ibunya dan tangisnya makin memilukan . Sesungguhnya, gadis ini tidak mewarisi
watak ibunya, tidaklah sedingin yang dia perlihatkan. Gadis ini perasa sekali, penuh semangat dan
memandang dunia dengan sepasang mata yang penuh kegembiraan, dapat dengan mudah menangkap
keindahan-keindahan pada setiap benda yang dipandangnya, yang didengarnya, yang diciumnya. Akan
tetapi, oleh karena semenjak ia kecil ia sudah digembleng oleh Lam-hai Sin-ni untuk mengekang
perasaan, untuk meniru sifatnya yang dingin seperti es, maka Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng ini menjadi
seorang gadis yang aneh dan dingin. Dingin paksaan, pada lahirnya saja, seperti sebuah gunung berapi
yang diliputi salju. Inilah sebabnya mengapa sekali jatuh cinta, ia menjadi nekat dan berani mengaku
secara terus terang dan bahkan berani membela kekasihnya dengan melawan ibunya! Biarpun diselimuti
salju, kalau gunung es itu meletus, takan ada yang dapat menahannya!
"Ibu....., kauampunkan anakmu yang put-hauw (tak berbakti) ini...."
Lam-hai Sin-ni kembali menghela napas. "Menanam bibit apel, memetik buah apel, menanam pohon
korma, memetik buah korma. Aku menentang ayahku karena cinta, kini engkau menentang aku karena
cinta. Semua ini sudah adil.....!"
Biauw Eng mengangkat mukanya memandang muka ibunya dan baru sekali ini ia melihat betapa wajah
ibunya membayangkan sesuatu, membayangkan kedukaan! Dan baru sekarang pula ia mendengar ibunya
menyebut-nyebut keluarganya. Biasanya ibunya tidak pernah bercerita, hanya menyatakan bahwa
ayahnya adalah Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong yang akhir-akhir ini menjadi terkenal sekali, bahkan
pedang pusaka Siang-bhok-kiam ayahnya itu menjadi rebutan semua orang gagah di dunia Kang-ouw
karena Pedang Kayu Harum itu menjadi kunci rahasia penyimpanan benda-benda pusaka yang
dikumpulkan oleh ayahnya itu dengan jalan mencuri, merampas, atau diberi orang. Ketika ia pernah
bertanya mengapa ayah dan ibunya berpisah, ibunya hanya menjawab dingin.
"Dia seorang laki-laki yang tidak setia! Semua pria di dunia ini tidak ada yang setia! Karena itu, jangan
kau mudah menjatuhkan cinta kasihmu kepada pria, Eng-ji! Sekali cinta kasihmu jatuh, engkau akan
menderita!"
Sekarang, ibunya menyebut-nyebut tentang ayah dari ibunya atau kakeknya, maka dengan ingin tahu
sekali ia bertanya.
"Ibu menentang kong-kong....?"
"Tidak hanya menentang, bahkan aku.... membunuhnya...."
"Ibu.....!!"
"Ya! Aku telah membunuhnya! Membunuhnya karena cinta! Apakah engkau tadi juga tidak ingin
.
membunuhku, Eng-ji?"
"Ibu.....!" Dan Biauw Eng menangis lagi sambil merangkul ibunya.
"Cinta memang membuat manusia, terutama wanita seperti kita, menjadi gila, eng-ji." Lam-hai Sin-ni
menghelus-elus kepala puterinya. "Tadi aku amat marah kepadamu. Sakit hatiku melihat betapa engkau
mencinta seorang pemuda sehingga rela kau melawanku, rela menyerangku untuk menyelamatkannya,
menyerang untuk membunuh ibunya sendiri. Akan tetapi aku teringat akan keadaan diriku di waktu
muda, dan aku dapat memaklumi perasaanmu, anakku. Aku tahu betapa cinta membuat mata kita seperti
buta. Aku dahulu pun mencita, Sie Cun Hong. padahal aku seorang puteri terhormat, ayahku seorang
yang amat berkuasa dan berpengaruh di selatan, seolah-olah menjadi seorang raja muda, dan..... dan Sie
Cun Hong terkenal sebagai seorang pria mata keranjang yang mempunyai ratusan, bahkan ribuan orang
kekasih! Akan tetapi aku nekat, bahkan ketika ayahku melarang aku melawannya. Aku sudah menerima
beberapa macam ilmu pukulan sakti dari Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, sehingga dalam pertempuran
yang didorong oleh marah itu, aku kelepasan tangan, membunuh ayahku sendiri.....!"
"Ah, Ibu....." Biauw Eng menjadi kasihan sekali kepada ibunya. Dalam keadaan seperti itu, ibu dan anak
ini benar-benar amat berbeda dengan keadaan biasanya. Andaikata Cui Im tidak diam-diam pergi
meninggalkan mereka, gadis itu tentu akan bengong terheran-heran menyaksikan ibu dan anak itu
bercakap-cakap dengan penuh kemesraan dan keharuan seperti itu. Biasanya, ibu dan anak itu seperti
dua buah arca es yang dapat bergerak!
"Kemudian, Sie Cun Hong laki-laki tak setia itu tidak mau menikah denganku, seperti yang ia lakukan
terhadap ribuan orang wanita lain. Sedangkan aku telah mengandung engkau, Eng-ji. Kami bertengkar,
atau lebih tepat, aku memusuhinya, akan tetapi dia terlampau sakti. Sampai belasan tahun aku belajar
ilmu, puluhan tahun aku menggembleng diri sehingga menjadi tokoh utama di selatan, namun tetap saja
aku belum pernah dapat menangkan dia. Karena itu, aku ikut pula berusaha mendapatkan
pusaka-pusakanya. Kini dia sudah mati, dan pusakanya itu seharusnya jatuh ketanganmu, karenaengkau
keturunannya, engkau puterinya. Itulah sebabnya aku hendak memaksa muridnya tadi menyerahkan
Siang-bhok-kiam! Ketika mendengar pedang itu terjatuh ke tangan para tosu Kun-lun-pai, aku menjadi
mendongkol dan marah, apalagi melihat bahwa Sie Cun Hong agaknya telah menurunkan Ilmu
Thi-khi-i-beng kepadanya, padahal aku dahulu hanya menerima petunjuk sedikit saja.... aku menjadi
benci kepada muridnya. Juga kulihat pandang mata dan gerak bibir bocah itu sama benar dengan
keadaan Sie Cun Hong di waktu muda. Dia pun seorang laki-laki yang tidak setia. Akan tetapi.... kau....
kau jatuh cinta kepadanya!"
Biauw Eng menarik napas panjang. Hebat riwayat ibunya itu. "Ibu, aku sendiri hanya menduga saja
bahwa aku mencinta dia, karena perasaan hatiku aneh, aku ingin membelanya, aku tidak suka melihat dia
terbunuh. Hal ini timbul dalam hatiku ketika dia menyelamatkan aku daripada ancaman Ang-bin Kwi-bo.
Sejak detik itu aku..... aku suka kepadanya, aku tidak ingin terpisah darinya..... ah, benarkah ini cinta,
Ibu?"
"Hukum karma..... hukum karma.....! Aku sendiri dahulu pun mencinta Sie Cun Hong karena
pertama-tama dia menolongku daripada perkosaan Tujuh Orang Setan Go-bi (Go-bi Jit-kwi)."
"Ibu, kalau begitu aku benar-benar mencintainya. Perasaanku membisikkan bahwa dialah satu-satunya
pria yang kucinta karena aku agaknya rela untuk mengorbankan nyawaku untuknya." Gadis itu berhenti
sebentar dan pandang matanya jelas membayangkan cinta kasih besar ketika ia mengingat pemuda itu.
"Ibu, sekarang juga aku akan mengejarnya, aku harus berada didekatnya....."
"Pergilah, akan tetapi jangan hanya mendapatkan dia, melainkan mendapatkan pula peninggalan pusaka
.
ayahmu."
Sepasang mata itu terbelalak penuh gembira, wajahnya menjadi kemerahan dan Biauw Eng yang kini
bukan lagi seorang gadis berwajah dingin karena salju itu agaknya sudah mencair oleh panasnya api cinta,
berkata.
"Ibu, terima kasih. Aku pergi sekarang....!!"
Lam-hai Sin-ni memegang tangan puterinya dan berkata, "Hanya satu hal yang kuminta agar engkau
suka berjanji kepadaku, anakku."
"Apakah itu, Ibu?"
"Berjanjilah, bersumpahlah bahwa engkau tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan ibumu
dulu. Engkau tidak akan menyerahkan dirmu kepada bocah itu di luar pernikahan! Kalian harus menjadi
suami istri yang syah! Nah, kalau begitu, barulah ibumu akan memberi ijin dan doa restu. Kalau tidak,
aku akan mengutukmu, Biauw Eng!"
Gadis itu memeluk ibunya dan berbisik, "Aku bersumpah, Ibu."
Kemudian ia melepaskan ibunya dan cepat melesat pergi setelah menyambar sabuk sutera putih yang
tadi dirampas dan dilemparkan ibunya. Lam-hai Sin-ni, tokoh nomer satu dari Bu-tek Su-kwi, "ratu" tak
bermahkota dari daerah pantai laut selatan, masih duduk bersila, tubuhnya tak bergerak, wajahnya tetap
dingin, akan tetapi dari sepasang matanya keluar dua butir air mata yang perlahan-lahan menetes turun ke
atas sepasang pipinya yang putih.
Sementara itu, semenjak Kun-lun-pai menerima Siang-bho-kiam dari tangan Keng Hong, perkumpulan
besar ini tidak pernah mengalami hari-hari aman tentram lagi. Baru beberapa hari semenjak Keng Hong
meninggalkan Pedang Kayu Harum itu kun-lun-pai diserbu orang-orang Kang-ouw dari bermacam
partai. Cara penyerbuan mereka pun berbeda-beda, tergantung daripada sifat perkumpulan atau partai
mereka. Golongan bersih yang merasa "mengutangkan sesuatu" kepada Sin-jiu Kiam-ong karenanya
berkah untuk mendapatkan bagian dari pusaka peninggalan pendekar itu, menyerbu Kun-lun-pai secara
berterang, melalui pintu depan dan terang-terangan menyatakan "minta bagian" karena dengan
diserahkannya Siang-bhok-kiam kepada Kun-lun-pai, mereka ini menganggap bahwa Kun-lun-pai telah
mewarisi semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Akan tetapi golongan sesat mempunyai cara yang
lain lagi. Mereka ini datang dengan bermacam-macam cara, ada yang secara sembunyi-sembunyi seperti
pencuri, ada pula yang datang dengan melontarkan tuduhan-tuduhan dan menantang pibu. ***
Sementara itu, semenjak Kun-lun-pai menerima Siang-bhok Kiam dari tangan Keng Hong, perkumpulan
besar ini tidak pernah mengalami hari-hari aman tenteram lagi. Baru beberapa hari semenjak Kenghong
meninggalkan Pedang Kayu Harum itu, Kun-lun-pai diserbu orang-orang kang-ouw dari bermacam
partai. Cara penyerbuan mereka pun berbeda-beda, tergantung dari sifat perkumpulan atau partai
mereka. Golongan bersih yang merasa “mengutangkan sesuatu” kepada Sin-jiu Kiam-ong dan karenanya
berhak untuk mendapatkan bagian dari pusaka penginggalan pendekar itu, menyerbu Kum-lun-pai
secara berterang, melalui pintu depan dan terang-terangan menyatakan “minta bagian” karena dengan
diserahkannya Siang-bhok-kiam kepada Kun-lun-pai, mereka ini telah menganggap Kun-lun-pai telah
mewarisi semua pusaka peninggalan Sin-jiu-Kiam-ong. Akan tetapi golongan sesat mempunyai cara yang
lain lagi. Mereka ini datang dengan bermacam cara, ada yang sembunyi-sembunyi seperti pencuri, ada
pula yang datang dengan melontarkan tuduhan-tuduhan dan menantang pibu.
Namun, partai persilatan Kun-lun-pai adalah sebuah partai besar yang memiliki tokoh-tokoh yang
.
berilmu tinggi. Di samping ini, juga para tosu anak murid kun-lun-pai rata-rata memiliki kepandaian yang
lihai, jumlahnya banyak pula sehingga semua usaha para tokoh kang-ouw yang hendak merampas
Siang-bhok-kiam dapat digagalkan.
Karena munculnya gangguan-gangguan ini, para tokoh Kun-lun-pai menjadi sibuk sekali dan tahulah
mereka bahwa keputusan yang diambil oleh Kiang Tojin sebagai wakil suhunya, yaitu Thian Seng Cinjin
ketua Kun-lun-pai , biarpun merupakan keputusan amat baik demi menjunjung tinggi kedaulatan dan
nama besar Kun-lun-pai, namun merupakan keputusan yang amat berbahaya. Dengan mencegah Keng
Hong membawa pergi Siang-bhok-kiam dan merampas pedang itu, menyimpannya di Kun-lun-pai, maka
kini perhatian semua orang kang-ouw kepada Kun-lun-pai. Kalau dahulu para tokoh kang-ouw
mengejar-ngejar Sin-jiu Kiam-ong, kini mereka menyerbu Kun-lun-pai untuk merampas pedang
Siang-bhok-kiam!
Biarpun fihak Kun-lun-pai selalu berhasil menghalau para penyerbu yang hendak merampas
Siang-bhok-kiam, namun dalam pertandingan-prtandingan yang terjadi selama pedang itu berada di situ,
telah jatuh korban di fihak mereka sebanyak empat orang murid yang tewas dalam pertempuran. Hal ini
ditambah lagi dengan perasaan gelisah, selalu harus berjaga-jaga sehingga para tosu itu tak dapat tidur
nyenyak. Mulailah timbul perasaan tak senang mereka terhadap keputusan Kiang Tojin yang mereka
anggap tidak tepat dan hanya menyusahkan Kun-lun-pai saja. Murid-murid Thian Seng Cinjin yang lain
mulai mengomel dan menyatakan ketidaksenangan mereka di depan ketua Kun-lun-pai itu sehingga
kakek ini yang melihat adanya bahaya perpecahan, pada suatu pagi mengumpulkan murid-murid untuk
diajak berunding mengenai pedang Siang-bhok-kiam!
Jumlah murid-murid Thian Seng Cinjin ada tujuh orang. Kiang Tojin merupakan murid kepala, bahkan
dialah merupakan calon ketua kelak kalau Thian Seng cinjin meninggal dunia atau mengundurkan diri.
Segala urusan mengenai Kun-lun-pai juga telah banyak diserahkan kepadanya oleh kakek yang sudah
amat tua itu. Karena Kiang Tojin adalah seorang yang luas pandangannya, berpengalaman dan berwatak
teguh dan adil, disamping kelihaiannya yang hanya berada di bawah tingkat gurunya, maka segala urusan
berjalan lancar apabila dia yang mengatur penyelesaiannya. Hal ini saja sudah membuat beberapa orang
sutenya diam-diam merasa iri hati.
Pagi hari itu, di dalam ruang yang diberi nama Ruangan Ketenangan yang letaknya di bagian belakang
asrama Kun-lun-pai, ketua Kun-lun-pai itu duduk di atas lantai yang ditilami kasur bundar, bersila
dihadap oleh tujuh orang murid-muridnya yang juga duduk bersila dalam bentuk setengah lingkaran
menghadap guru mereka. Suasana di ruangan itu memang amat hening, bersih dan nyaman. Angin
pegunungan bersilir masuk karena ruangan itu memang tidak tertutup dinding sehingga dari situ dapat
tampak tamasya pegunungan yang amat indah. Memang tepat sekali nama ruangan ini karena suasana di
situ benar-benar tenang dan menimbulkan ketenangan di hati, cocok untuk bersamadhi atau untuk
bertukar pikiran.
Untuk kepentingan perundingan ini, Thian Seng Cinjin sengaja membawa serta pedang Siang-bhok-kiam
yang dia letakan di depannya, di atas lantai. Kemudian, setelah sejenak delapan orang tosu ini
mengeningkan cipta membersihkan pikiran, kakek itu menggeraka tangan menghelus jenggot panjangnya
dan berkata dengan suara halus.
"Sekarang kita telah berkumpul dengan pikiran jernih. Pinto tahu bahwa pedang peninggalan Sin-jiu
Kiam-ong ini telah menimbulkan banyak keributan ysng biasanya aman tentram dan tenang.Akan tetapi,
keributan itu ditimbulkan oleh orang-orang luar yang hendak merampas pedang dan sudah seharusnya
kita mempertahankannya dan menghalau para penyerbu, hal itu tidaklah menyusahkan hati. Yang
membuat pinto prihatin dan kini mengumpulkan kalian untuk berunding adalah karena pinto melihat
adanya ketidaktenangan yang timbul di antara kita karena getaran bentrokan ketidakcocokan itu dan
.
mencari jalan keluar dengan musyawarah. Keluarkan semua isi hati dan pendapat kalian untuk kita telaah
dan pelajari."
Hening sejenak menyusul ucapan kakek ini yang dikeluarkan dengan suara halus, namun mengandung
penuh teguran. Jelas terasa oleh mereka yang hadir bahwa suhu mereka ini merasa tidak senang dengan
adanya pertentangan diam-diam di kalangan mereka sendiri. karena sekarang tiba saatnya dan
mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan semua ketidakpuasan hati, mereka pun mengambil
keputusan untuk menekan Kiang Tojin. Di antara para adik seperguruan Kiang Tojin, hanya dua orang
yang merasa iri hati dan diam-diam menentang kakek seperguruan ini, yaitu murid ke dua bernama Sian
Ti Tojin, dan murid ke lima lian Ci Tojin. Adapun murid yang lain ada yang berfihak kepada Kiang Tojin,
ada pula yang tidak mau mencampuri pertentangan pendapat antara saudara sendiri itu.
"Tepat sekali seperti yang dikatakan suhu tadi," kata Sian Ti Tojin. "Setelah Siang-bhok-kiam berada di
sini, kita menjadi tidak tenang lagi dan mendapatkan banyak musuh. Teecu anggap keliru sekali
keputusan Twa-suheng untuk menahan pedang itu di sini. Pedang itu menjadi bahan perebutan
orang-orang Kang-ouw, kalau sekarang disimpan di sini tentu saja semua resikonya tertimpa ke pundak
kita. Apakah keuntungannya bagi kita mencari permusuhan dengan sahabat-sahabat di dunia kang-ouw?
Empat orang anak murid telah mengorbankan nyawa, hanya untuk mempertahankan pedang kayu
peninggalan Sin-jiu Kiam-ong!"
"Benar sekali omongan Ji-suheng," sambung Lian Ci Tojin cepat-cepat. "Menurut pendapat teecu,
Twa-suheng mengambil keputusan menahan pedang itu pun hanya untuk melindungi Cia Keng Hong!"
Sunyi di ruangan itu setelah Lian Ci Tojin mengucapkan kata-kata ini, dan hati mereka mulai menjadi
tegang. Ucapan Sian Ti Tojin hanya mengeluarkan pernyataan yang memang nyata terjadi, akan tetapi
ucapan Lian Ci Tojin ini lebih condong kepada ucapan menuduh Kiang Tojin. Thian Seng Cinjin maklum
akan gawatnya urusan dengan diucapkannya tuduhan ini, maka dengan pandang mata tajam dia berkata
kepada muridnya yang ke lima itu dengan suara tetap halus.
"Lian Ci, tuduhan tanpa alasan kuat dan tanpa bukti dapat menjerumuskan kepada fitnah , dan engkau
tentu mengerti betapa jahatnya fitnah. Bicaralah dengan terbuka sesuai dengan sifat kejujuran dan
keadilan yang kita junjung tinggi."
"Memang teecu junjung tinggi pendapat suhu. Teecu sendiri pun tidak suka akan perbuatan yang
berpura-pura dan mengandung rahasia. Teecu mengatakan bahwa Twa-suheng menahan pedang untuk
melindungi Keng Hong tanpa alasan. Pertama, Cia Keng Hong adalah anak yang dibebasakan dari maut
oleh Twa-suheng dan bukan rahasia lagi betapa besar kasih sayang Twa-suheng kepada Keng Hong
sehingga tidak mengherankan kalau Twa-suheng melindunginya. Ke dua, memang dapat dimengerti
bahwa kalau pedang Siang-bhok-kiam itu berada di tangan Keng Hong, bukan kita yang diserbu
orang-orang Kang-ouw, melainkan Keng Hong yang akan dikejar-kejar sehingga membahayakan
keselamatan anak itu. Akan tetapi, betapa piciknya melindungi bocah yang bukan anak murid perguruan
Kun-lun-pai dengan mengorbankan nyawa empat orang murid kita, bahkan mungkin lebih banyak lagi!
Twa-suheng harus bertanggung jawab atas keputusannya yang tidak bijaksana itu!"
Semua mata kini ditujukan kepada Kiang Tojin yang masih duduk bersila denga sikap tenang. Juga
Thian Seng Cinjin memandang kepadanya dengan sinar mata seolah-olah minta jawaban. Kiang Tojin
mendehem perlahan lalu berkata, suaranya halus namun lantang, tidak menyembunyikan perasaan lain
daripada apa yang akan dikeluarkan melalui mulutnya.
"Tidak keliru semua ucapan Ji-sute dan Ngo-sute. Siang-bhok-kiam mendatangkan keributan, itu sudah
jelas. Juga tuduhan Ngo-sute ada benarnya, memang sedikit banyak ada terkandung di hati teecu ketika
.
menahan pedang bahwa hal itu akan menyelamatkan pula Keng Hong dari ancaman maut."
Ketika Kiang Tojin berhenti sebentar semua tosu memandangnya dengan hati tegang. Akan tetapi Kiang
Tojin melanjutkan dengan sikap tetap tenang, "Akan tetapi sesungguhnya bukan karena keselamatan
Keng Hong sematalah maka teecu memutuskan untuk menahan pedang Siang-bhok-kiam, melainkan
terutama sekali untuk mengangkat tinggi nama besar dan kehormatan Kun-lun-pai."
"Harap Twa-suheng jelaskan alasannya!" Sian Ti Tojin mendesak.
"Siang-bhok-kiam adalah pedang peninggalan Sin-jiu Kiam-ong dan menjadi perebutan orang-orang
kang-ouw. Sedangkan Sin-jiu Kiam-ong meninggal dunia berada di Kiam-kok-san. Kita semua tahu
bahwa Kiam-kok-san adalah sebuah tempat keramat bagi Kun-lun-pai, dan termasuk wilayah terdekat
Kun-lun-pai. Kalau sampai pedang yang sekian lamanya berada di wilayah Kun-lun-pai itu terjatuh ke
tangan orang lain , bukankah ini berarti bahwa Kun-lun-pai merupakan partai persilatan yang amat lemah,
tidak mampu mempertahankan benda keramat yang menjadi haknya? Bukankah hal ini akan menjadi
buah tutur dunia kang-ouw dan Kun-lun-pai akan ditertawakan sampai tujuh keturunan? Harus teecu
akui bahwa dengan adanya pedang Siang-bhok-kiam di sini, Kun-lun-pai diserbu orang-orang luar dan
memang ada empat orang anak murid kita tewas. Akan tetapi apa artinya kematian kalau terjadi dalam
membela Kun-lun-pai dari serbun orang luar? Mati sebagai orang gagah perkasa, adalah menjadi
pegangan teecu sesuai yang diajarkan suhu selama ini bahwa jauh lebih baik mati sebagai orang gagah
daripada hidup sebagai seorang pengecut. Sekian penjelasan teecu dan selanjutnya tentu saja teecu
serahkan kepada keputusan Suhu dalam hal Siang-bhok-kiam ini."
Keculai dua orang tosu yang menantang, semua sute dari Kiang Tojin diam-diam mengakui kebenaran
pendapat suheng mereka. Kalau saja Kiang Tojin tadi menyangkal bahwa dia melindungi Keng Hong, hal
itu tentu akan tetap menjadi kecurigaan dan bahan tuduhan. Akan tetapi setelah dengan tenang Kiang
Tojin mengakuinya, tuduhan ini menjadi hilang artinya, apalagi setelah ada alasan yang demikian kuatnya.
Thian Seng Cinjin mengelus-elus jenggotnya dan diam-diam kakek ini kagum kepada murid kepala ini
dan makin yakin hatinya bahwa kelak yang akan dapat memimpin Kun-lun-pai menuju ke arah kemajuan
dan kebesaran nama adalah Kiang Tojin ini. Ia menyapu murid-murid lain dengan pandang matanya lalu
berkata.
“Siancai…. Kurasa pendapat suheng kalian ini cukup beralasan dan tepat. Namun betapapun juga,
pertemuan ini diadakan untuk bermusyawarah. Pinto tidak akan mengambil keputusan kebitu saja
sebelum mendengarkan semua isi hati kalian. Tidak boleh ada keputusan diambil tanpa dimufakati semua
orang. Pinto tidak ingin melihat pertentangan faham di antara kalian karena hal itu akan melemahkan
Kun-lun-pai, justru pada saat Kun-lun-pai dimusuhi banyak orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Setelah pinto sendiri amat tua dan lemah, seluruh nasib Kun-lun-pai berada di tangan kalian bertujuh.
Kalau kalian tidak bersatu, bagaimana mungkin Kun-lun-pai dapat dipertahankan kebesarannya? Karena
itu, kalau masih ada yang tidak setuju mengenai Siang-bhok-kiam ini, katakanlah terus terang berikut
alasannya.”
Kembali Lian Ci Tojin yang bicara dan nada suaranya mengandung penasaran karena dia mendapat
kenyataan betapa mudahnya Kiang Tojin lolos dari tuduhan itu. Lian Ci Tojin ini masih muda kalau
dibandingkan dengan para suhengnya. Usianya baru empat puluh lima tahun, akan tetapi karena dia amat
berbakat sehingga dapat menguasai ilmu silat tertinggi dari Kun-lun-pai, maka dia termasuk seorang di
antara tujuh tokoh besar Kun-lun-pai, muid-murid Thian Seng Cinjin. Kini terdengar suaranya.
"Suhu, teecu berpendapat bahwa kalau toh Siang-bhok-kiam kita tahan di sini, berarti menjadi hak kita,
sudah sepatutnya pula kalau susah payah yang kita derita untuk mempertahankannya itu dapat imbalan
.
yang sepadan, yaitu dengan menambah simpanan Kun-lun-pai dengan kitab-kitab pusaka peninggalan
Sin-jiu Kiam-ong. Bukankah Siang-bhok-kiam dikabarkan menjadi kuci daripada tempat rahasia
peninggalan pusaka itu? Hal ini sudah berkali-kali teecu usulkan kepada Twa-suheng, akan tetapi selalu
tidak disetujui oleh Twa-suheng. Sekarang, sekali lagi di depan Suhu dan para suheng sute sekalian teecu
hendak bertanya lagi kepada Twa-suheng apakah pusaka-pusaka itu tidak akan kita cari untuk
perbendaharaan Kun-lun-pai?"
"Tidak! Kita tidak akan mencari pusaka-pusaka itu karena Sin-jiu Kiam-ong tidak mewariskannya
kepada kita. Kun-lun-pai sebuah perkumpulan yang besar, bukan sebuah perkumpulan yang biasa
merampas hak milik orang lain!" jawab Kiang Tojin dengan suara tegas sehingga para sutenya juga
gurunya sendiri, menjadi kagum dan bangga dalam hati.
Akan tetapi tiba-tiba Lian Ci Tojin tertawa. "Ha-ha-ha, sungguh pintar Twa-suheng dan sungguh bodoh
kita yang dapat dikelabui! Kalau sudah berani menahan pedang dengan dalih bahwa pedang berada di
wilayah Kun-lun-pai, mengapa tidak berani memiliki pusaka yang juga berada di wilayah Kun-lun-pai?
Ahhh, siapakah tokoh di dunia persilatan yang tidak ingin memiliki? Termasuk Twa-suheng tentunya!
Kalau pusaka-pusaka itu diambil dan menjadi milik Kun-lun-pai, berarti semua murid Kun-lun-pai dapat
mempelajarinya, akan tetapi Kiang Tojin suheng tidak setuju karena Twa-suheng ingin memiliki semua
pusaka itu untuk diri sendiri. Bukankah begitu?"
Muka Kiang Tojin menjadi merah dan semua mata memandangnya. Akan tetapi tosu yang
berpengalaman ini selain kuat ilmu silatnya, juga kuat sekali batinnya. Dia tidak sudi dikuasai perasaan
hatinya, maka sekuat tenaga dia menekan kemarahannya dengan kesadarannya bahwa sute ke lima ini
melontarkan tuduhan-tuduhan kepadanya tentu ada latar belakangnya. Maka dia memandang sutenya itu
dan mengingat-ingat. Mengapa sutenya yang ke lima ini seolah-olah membencinya? kemudian dia
teringat. Terhadap para sutenya, Kiang Tojin memang selalu bersikap keras dan memimpin, selalu tidak
segan menegur kalau mereka itu melakukan kekeliruan sehari-hari. Teringatlah dia betapa seringnya dia
menegur Lian Ci Tojin ini yang masih sering kali tampak lemah menghadapi godaan nafsu berah, sering
kali tampak nyata amat tergoda batinnya, kalau bertemu wanita cantik. Yang terakhir, ketika Kiang Tojin
menangkap Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im dan menyuruh sute-sutenya membelenggu gadis cantik itu,
dia melihat betapa Lian Ci Tojin cepat-cepat melakukan perintah ini dan pandang matanya yang tajam
dapat melihat betapa sinar mata Lian Ci Tojin berkobar oleh nafsu, betapa tangan sutenya itu ketika
membelenggu sengaja meraba-raba tubuh gadis itu. Penyelewengan karena dorongan nafsu ini, biarpun
tidak berarti dan kecil, juga tidak terlihat oleh siapapun, namun sudah cukup kuat bagi Kiang Tojin untuk
pada keesokan harinya memanggil sutenya ini dan memarahinya dengan keras. Pada saat itu, Lian Ci
Tojin hanya menunduk dengan muka sebentar pucat sebentar merah, akan tetapi ketika pandang mata
mereka bertemu, sepasang mata sutenya itu memancarkan kebencian seperti yang sekarang terpancar
kepadanya dalam bentuk tuduhan-tuduhan itu.
Kiang Tojin menghela napas panjang dan berhasil memadamkan api kemarahannya setelah dia melihat
latar belakangnya mengapa sutenya itu seperti membencinya.
"Teecu hanya melaksanakan tugas sebaiknya dan dalam urusan Siang-bhok-kiam, teecu mengambil
keputusan stelah dipikirkan masak-masak. Teecu tidak sudi melakukan sesuatu di luar garis peraturan
Kun-lun-pai sendiri." Demikian Kiang Tojin berkata kepada gurunya dan ketika gurunya
mengangguk-angguk, Kiang Tojin lalu menoleh ke arah Lian Ci Tojin.
"Ngo-sute, kiranya masih ingat bagaimana bunyi peraturan ke tiga dari perguruan kita? Setiap murid
Kun-lun-pai dilarang mempelajari ilmu silat dari lain perguruan dan kalau hal ini dilanggar, berarti si murid
telah murtad dan mengkhianati Kun-lun-pai. Dengan adanya peraturan yang sudah jelas ini, bagaimana
Ngo-sute dapat mengusulkan agar kita mengambil kitab-kitab pusaka peningalan Sin-jiu Kiam-ong?"
.
Ditegur begini, Lian CI Tojin menjadi merah mukanya. Diam-diam dia memaki di dalam hati atau
kecerdikan twa-suhengnya ini sehingga dari keadaan menuduh dia malah menjadi seorng tertuduh
melanggar peraturan perguruan mereka! Namun Lian Ci Tojin cukup cerdik dan dia cepat berkata.
"Twa-suheng harap jangan menuduh yang bukan-bukan. Pinto bukan sekali-kali mengusulkan untuk kita
menyeleweng dan mempelajari isi kitab-kitab pusaka peninggala Sin-jiu Kiam-ong, hanya mengusulkan
untuk menguasai kitab-kitab itu, adapun tentang mempelajarinya , tentu terserah kepada suhu, kalau suhu
yang mengijinkan kita mempelajarinya untuk menambah kepandaian dan dengan demikian nama besar
Kun-lun-pai akan makin meningkat, apakah itu dianggap melanggar peraturan?"
Melihat keadaan mulai "panas" , Thian Seng Cinjin cepat mengangkat tangannya dan berkata, suaranya
berpengaruh, "Cukuplah sudah semua perbantahan yang kosong ini! Pinto setuju akan tindakan yang
diambil oleh Twa-suheng kalian! Memang tidak semestinya kalau Kun-lun-pai menguasai kitab-kitab
pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Harus kalian ketahui kitab-kitab itu adalah milik
perguruan-perguruan tinggi lainnya yang dahulu dicuri atau dirampas Sin-jiu Kiam-ong. Kalau kita
menguasainya dan mempelajarinya, tentu kita akan bermusuhan dengan pemilik-pemilik kitab. Pula,
hendaknya kalian ingat bahwa kesaktian bukan tergantung kepada kitab atau pelajarannya, juga bukan
tergantung pada senjatanya, melainkan kepada si manusianya sendiri. Kalau kalian tekun memperdalam
semua ilmu asli dari Kun-lun-pai, kurasa tidak akan kalah saktinya daripada pelajaran-pelajaran lain
perguruan. Nah, pinto perintahkan agar mulai detik ini semua pertentangan faham dilenyapkan dari hati
masing-masing."
Tujuh orang muridnya itu lalu berlutut dan dengan suara bulat menyatakan ketaatan mereka. Pada saat
itu, dua orang anak murid Kun-lun-pai lari tergopoh-gopoh memasuki ruangan ketenangan dan
serta-merta menjatuhkan diri berlutut menghadap Thian Sen Cinjin sambil berkata dengan muka pucat
dan suara gemetar.
"Teecu berdua datang melaporkan bahwa saat ini puncak Kun-lun terancam dijadikan kancah perang
antara pasukan utara dan pasuka selatan! Kita sudah terkurung, dari utara muncul pasukan dari Peking
sedangkan dari selatan muncul pasukan dari Nan-king, mereka telah mengurung tempat kita."
Hanya Thian Seng Cinjin dan Kiang Tojin saja yang menerima berita mengagetkan ini dengan sikap
tenang. Guru dan murid kepala ini bertukar pandang, kemudian Thian Seng Cinjin mengangguk dan
bangkit dari lantai, menyambar tongkatnya lalu berkata.
"Kita harus menghadapi mereka selengkapnya. Perintahkan seluruh anak murid Kun-lun-pai untuk
mengatur barisan bersiap-siap!"
Tujuh orang murid itu lalu berpencar menunaikan tugas masing-masing, kemudian kakek tua Kun-lun-pai
itu diikuti oleh tujuh orang muridnya melangkah keluar dan menuju ke puncak. Anak murid Kun-lun-pai
telah berbaris rapi, dibagi dua bagian, sebagian menghadap selatan sebagian menghadap ke utara.
Adapun Thian Seng Cinjin sendiri dengan gerakan riangan lalu melompat ke arah sebuah batu yang tinggi
di puncak itu, diikuti tujuh orang muridnya. Mereka berdiri tegak di atas batu ini dan tampaklah oleh
mereka dua pasukan yang mengurung itu, satu di utara, satu lagi di selatan. Pasukan itu tidak besar,
paling banyak seratus orang masing-masing fihak, akan tetapi lengkap bersenjata dan kalau dilihat
besarnya pasukan, tidak mungkin mereka itu muncul untuk berperang. hal ini mlegakan hati Thian Seng
Cinjin yang segera mengerahkan khikangnya dan berkata dengan lantangnya.
"Kami dari Kun-lun-pai selamanya tidak pernah melibatkan diri dengan perang saudara. Hari ini
pasukan-pasukan kedua fihak datang berkunjung ke Kun-lun-pai, harap para ciangkun (perwira) kedua
.
pasukan sudi menjelaskan apa yang menjadi magsud kedatangan cu-wi!"
Tiba-tiba dari pasukan sebelah utara itu tampak berlari maju seorang berpakaian perwira yang bertubuh
kurus tinggi. Larinya cepat dan geraknya gesit sekali, sungguhpun pakaian perang itu kelihatan kaku,
namun tidak menghalangi gerakannya yang cekatan sehingga para tokoh Kun-lun-pai menjadi kagum dan
maklum bahwa pasukan utara itu dipimpin oleh perwira yang lihai. Sebentar saja perwira itu telah tiba di
bawah batu. Ia berdiri dengan tegak, memandang ke arah tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang berada di atas
batu, kemudian dia memberi hormat dengan gagah, kedua tangan dirangkap di depan dada, agak
membungkuk sehingga pedangnya yang panjang itu ikut bergerak di pinggangnya dan terdengar suaranya
lantang namun mengandung sikap hormat dan ramah.
"Kami Han Tek Thai yang memimpin pasukan pengawal melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh
junjungan kami, Raja Muda Yung Lo dari utara yang perkasa, calon kaisar yang aseli, untuk menghadap
para pimpinan Kun-lun-pai. Raja muda kami menyampaikan rasa terima kasih bahwa Kun-lun-pai
selama ini tidak membantu kekuasaan raja penyerobot mahkota di Nan-king, karena hal itu membuktikan
bahwa Kun-lun-pai dapat mengerti akan kebenaran dan keadilan yang berada di fihak utara!"
Diam-diam Kiang Tojin tersenyum dan merasa kagum. Perwira dari utara ini benar-benar seorang yang
tepat dijadikan seorang perwira, karena selain ilmu kepandaiannya tinggi yang dapat dilihat dari
gerakannya tadi, juga jelas bahwa perwira ini memiliki kecerdikan dan kepandaian untuk menarik rakyat
di fihaknya. Dia sudah banyak mendengar akan sifat-sifat ini menjadi inti kekuatan fihak utara, karena
sifat itu membuat rakyat jelata merasa bersimpati terhadap perjuangan mereka sehingga
berbondong-bondong rakyat membantu.
"Maaf, Han-ciangkun," kata Kiang Tojin setelah dia mendapat isyarat dari gurunya untuk menjawab.
"Kiranya raja muda dari utara tidak seharusnya berterima kasih kepada kami , karena pendirian
Kun-lun-pai sama sekali bebas, tidak memihak manapun juga. Kami seluruh anggauta Kun-lun-pai hanya
merasa perihatin menyaksikan perang saudara karena tidak lain yang menjadi korban adalah rakyat
jelata. Karena inilah kami tidak mau memihak siapa-siapa. Hendaknya Han-ciangkun maklum akan hal
ini dan selanjutnya suka menjelaskan apa kehendak selanjutnya dengan kunjungan ini."
Perwira utara itu tersenyum sabar dan berkata, "Ucapan Totiang benar-benar membuktikan bahwa para
tosu merupakan manusia-manusia dewa yang tidak sudi mencampuri urusan dunia lagi. Sungguh
menimbulkan rasa kagum! Kami diutus oleh junjungan kami untuk mengharapkan budi kebaikan
Kun-lun-pai, sukalah mnyerahkan kitab Thai-yang-tin-keng? yang tentu tidak akan ada manfaatnya bagi
Kun-lun-pai kepada kami."
"Kitab Thai-yang-tin-keng? Kitab apakah itu? Kami tidak tahu dan baru mendengar namanya sekarang,"
kata Kiang Tojin tanpa ragu-ragu.
Perwira itu masih bersikap sabar. "Kitab itu, sesuai dengan namanya adalah Kitab Barisan Matahari,
yang ciptaan Raja Besar Jenghis Khan dan merupakan kitab pelajaran mengatur barisan yang diambil
dari pengalaman-pengalaman barisan mongol ketika menyerbu ke Tiong-goan (pedalaman). Junjungan
kami mohon pinjam kitab itu dari Kun-lun-pai."
"Tapi.... kami tidak mempunyai kitab seperti itu!" jawab Kiang Tojin.
Perwira itu mengangguk-ngangguk. "Mungkin bukan milik Kun-lun-pai, akan tetapi setelah pusaka
peninggalan Sin-jiu Kiam-ong kabarnya jatuh ke tangan Kun-lun-pai, tentu kini kitab itu berada di tangan
totiang sekalian. Kitab ini dahulu dicuri oleh Sin-jiu Kiam-ong dari gedung perpustakaan kaisar."
.
Sebelum Kiang Tojin dapat menjawab, terdengar teriakan keras dan tampaklah bayangan orang berlari
cepat sekali dari selatan. orang ini pun berpakaian sebagai perwira, tubuhnya tinggi besar akan tetapi
larinya cepat dan tubuhnya kelihatan ringan sekali, membuktikan bahwa perwira selatan ini pun memiliki
kepandaian yang tak boleh dipandang ringan. Begitu tiba sebelah selatan batu tinggi, perwira ini
mengerak-gerakan kedua tangannya dan berkata, suaranya seperti geledek.
"Harap para tosu Kun-lun-pai jangan sampai kena terbujuk oleh mulut para pembrontak hina! Kami
percaya bahwa Kun-lun-pai tidak berjiwa pembrontak! Kitab Thai-yang-tin-keng adalah milik kaisar
kami, maka sudah semestinya dikembalikan kepada kami!"
"Manusia sombong! Kami bukan pembrontak, melainkan pejuang yang memperjuangkan kebenaran dan
keadilan, pembela kepentingan rakyat! Raja kalian yang merupakan raja lalim, penyerobot mahkota,
orang muda yang tidak tahu menghormat orang tua!" Perwira utara yang bernama Han Tek Thai itu
membentak marah.
"Kau pemberontak laknat! Sudah jelas membrontak terhadap pemerintahan yang syah, masih banyak
cakap lagi?" bentak perwira tinggi besar dari selatan sambil menerjang maju. Dua oang perwira itu tanpa
dapat dicegah lagi sudah saling terjang maju dan terjadilah saling serang. dalam gebrakan pertama,
keduanya dengan marah mengirim pukulan dengan tangan dan terdengar suara keras, keduanya
terhuyung ke belakang dan baju besi perisai di depan dada mereka ternyata sudah retak-retak! Akan
tetapi tubuh mereka rupanya cukup kebal dan kuat sehingga tidak mengalami luka hebat. kini mereka
mencabut pedang masing-masing dan siap untuk bertanding, sedangkan pasukan kedua belah fihak juga
sudah berlari-lari untuk saling terjang.
Dua bayangan yang gesit sekali melayang turun dari atas batu. Mereka ini adalah Sian Ti Tojin dan Lian
Ci Tojin. Bagaikan burung garuda yang besar mereka melayang turun, Sian Ti Tojin menghadapi perwira
utara sedangkan sutenya menghadapi perwira selatan. Begitu kedua orang tosu ini menggerakan
tangannya, pedang kedua orang perwira itu telah dapat mereka rampas sehingga dua orang perwira itu
menjadi kaget dan melongo.
"Ji-wi Ciangkun adalah tamu-tamu, mengapa tidak mengindahkan kedaulatan tuan rumah dan hendak
membikin kacau Kun-lun-pai?" Kiang Tojin dari atas batu berseru menegur.
Han Tek Thai menjura dan berkata, "Maafkan kami yang terburu nafsu....."
"Apa? Kun-lun-pai hendak membela pembrontak?" bentak perwira tinggi besar dari selatan.
Menyaksikan sikap kedua orang perwira yang saling bermusuhan ini, Thian Seng Cinjin menghela napas
dan mengelus jenggotnya. "Siancai...., kehendak tuhan terjadilah....! Kembalikan padang mereka!" lian Ci
Tojin dan Sian Ti Tojin mengembalikan pedang mereka lalu melangkah mundur namun masih
bersiap-siap untuk bergerak apabila tamu-tamu yang tak dikehendaki ini membikin kacau lagi.
"Ji-wi Ciangkun dari utara dan selatan, dengarlah baik-baik omongan pinto! pinto Thian Seng Cinjin ktua
Kun-lun-pai selama hidup tidak suka berbohong dan apa yang akan pinto katakan ini hendaknya ji-wi
sampaikan kepada junjungan ji-wi masing-masing!" Suara Thian Seng Cinjin terdengar jelas sekali
biarpun kakek ini bicara perlahan saja. Suaranya penuh dengan wibawa sehingga bukan hanya kedua
orang perwira itu yang mendengarnya penuh perhatian, bahkan pasukan kedua fihak yang tadinya sudah
bersiap-siap untuk saling hantam, kini tidak berani mengeluarkan suara, memandang kakek itu dan
mendengarkan kata-katanya.
Thian Seng Cinjin dengan gerakan tenang mengeluarkan sebatang pedang kayu dari balik jubahnya dan
mengangkat pedang itu tinggi di atas kepala sambil berkata.
.
"Hendaknya Ji-wi Ciangkun ketahui bahwa kami sama sekali tidak tahu akan pusaka peninggalan Sin-jiu
Kiam-ong, juga tidak tahu-menahu tentang kitab Thai-yang-tin-keng itu! Satu-satunya benda peninggalan
Sin-jiu Kiam-ong yang berada pada kami hanyalah pedang Siang-bhok-kiam ini dan kami pun tidak
menghendaki pusaka-pusaka yang lainnya. Pedang ini telah berada di wilayah Kun-lun-pai selama
puluhan tahun dan setelah berada di tangan kami, tidak akan kami serahkan kepada siapapun juga. Nah,
kiranya sudah jelas keterangan kami, harap Ji-wi Ciangkun membawa pulang pasukan masing-masing
dan kami melarang pasukan Ji-wi bertempur di wilayah kami. Jika larangan yang menjadi hak
Kun-lun-pai ini dilanggar, terpaksa kami turun tangan tanpa memandang bulu, tanpa memihak siapapun
juga!"
Tiba-tiba terdengar suara ketawa seperti kaleng dipukul disusul suara keras, "Ha-ha-ha-ha-ha, tosu tua
bangka, berikan Siang-bhok-kiam kepadaku!"
"Tidak, aku lebih berhak!"
"Berikan kepadaku!"
"Padaku!"
Semua tosu Kun-lun-pai terkejut dan kiranya berturut-turut di situ telah muncul banyak orang-orang
kang-ouw yang menggunakan kesempatan selagi semua tosu Kun-lun-pai bersiap menghadapi dua
pasukan yang bermusuhan itu, menyelinap masuh dan tiba di tempat! Melihat tokoh-tokoh Siauw-lim-pai,
Hoa-san-pai, Kong-thong-pai dan orang-orang kang-ouw yang sejak dahulu mengejar-ngerjar Sin-jiu
Kiam-ong, para tokoh Kun-lun-pai ini tidak mengambil pusing, akan tetapi melihat orang yang tadi
mengeluarkan suara ketawa dan dua orang lain di dekatnya, Thian Seng Cinjin sendiri menjadi terkejut
dan maklum bahwa sekali ini Kun-lun-pai benar-benar menghadapi saat gawat. Orang yang tertawa tadi
keluar dari mulut seorng kakek tinggi besar yang tubuhnya berkulit hitam seperti arang, matanya lebar,
putih dan telinganya seperti gajah, tubuh hitam itu berbulu dan di pinggangnya tergantung rantai baja
terhias dua buah tengkorak manusia. Ketua Kun-lun-pai mengenal orang ini yang bukan lain adalah
Pak-san Kwi-ong datuk dari utara! Dan tak jauh dari situ, berdiri sambil tersenyum-senyum tampak
Pat-jiu Sian-ong kakek tua renta yang bertubuh kecil kate, berkepala besar dengan muka sempit,
mengebut-ngebut lehernya dengan sebuah kebutan hudtim dengan sikap tenang sabar seolah-olah dia
benar-benar seorang dewa! Agak dibelakang kelihatan nenek yang menyeramkan, menyeringai sehingga
gigi yang besar-besar itu menonjol keluar, mukannya merah darah, rambut riap-riapan dan pakaiannya
serba hitam. Nenek yang menjadi datuk di timur, yang namanya tidak kalah terkenalnya dari Pat-jiu
Sian-ong datuk barat atau Pak-san Kwi-ong datuk utara, yaitu Ang-bin Kwi-bo!
Thian Seng Cinjin yang biasanya tenang itu kini harus menarik napas panjang untuk menekan guncangan
hatinya, sedangkan para muridnya, kecuali Kiang Tojin yang juga masih tenang seperti gurunya, semua
menjadi pucat wajahnya. Tiga orang datuk hitam telah hadir di situ, berarti bahwa urusan ini bukan
main-main lagi!
Tidak hanya para tosu Kun-lun-pai yang menjadi gelisah, bahkan pasuka-pasukan dari utara dan selatan
tercengang menyaksikan munculnya banyak orang-orang aneh ini , sedangkan dua orang perwira yang
memimpin pasukan masing-masing tidak berani bergerak . Mereka maklum bahwa sekali ini mereka
bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang biasanya aneh-aneh wataknya dan kejam-kejam sekali
perbuatanya, maka mereka menjadi berhati-hati dan tidak ada yang berani bergerak.
"Pak-san Kwi-ong," kata Thian Seng Cinjin dengan suara sabar, "kiranya engkau ikut pula mengunjungi
Kun-lun-pai! Ucapanmu tadi kurang jelas bagi pinto, harap kauulangi lagi, apakah benar kedatanganmu
.
ini untuk meminta pedang Siang-bhok-kiam ini?" ia mengangkat lagi pedang kayu itu tinggi-tinggi di atas
kepalanya. Kiang Tojin melihat dengan hati geli betapa semua mata ditujukan ke arah pedang kayu itu,
mengingatkan dia akan mata segerombolan anjing kelaparan melihat sepotong tulang!
"Ha-ha-ha, benar sekali! Kalau bukan untuk pedang itu, apa kau kira aku datang karena kangen
kepadamu? Ha-ha-ha!" jawab Pak-san Kwi-ong.
"Baik sekali. Kalau begitu akan kutanya pula yang lain. Ang-bin Kwi-bo, engkau juga muncul, jauh-jauh
datang dari timur. Apakah kehendakmu mengunjungi pinto dan perkumpulan pinto?"
"Cih, tosu bau! Siapa sudi mengunjungimu ? Aku datang untuk mengambil Siang-bhok-kiam dari
tanganmu!" Ang-bin Kwi-bo menjawab sambil memandang dengan mulut mengilar ke arah pedang kayu
di tangan ketua Kun-lun-pai itu.
"Kalau begitu sama kehendakmu dengan Pak-san Kwi-ong. Bagaimana dengan engkau Pat-jiu
Sian-ong? Apakah engkaupun menginginkan pedang kayu yang tak berharga ini?"
"Hemmm, kalau tidak berharga masa diperebutkan, Totiang?" jawab kakek ini dengan suara yang halus
dan ramah, akan tetapi kehalusan ini malah mendatangkan sesuatu yang menyeramkan . "Kalau tidak
berharga, engkau pun jangan terlalu pelit, lebih baik diberikan saja kepadaku."
"Bagaimana dengan para enghiong yang hadir di sini? Apakah kedatangan Cu-wi ini pun untuk memiliki
Siang-bhok-kiam ?"
"Benar, serahkan kepadaku!"
"Padaku saja!"
"Padaku.....!"
Ribut sekali suara mereka itu sehingga sambil tersenyum pahit Thian Seng Cinjin mengangkat tangan
kirinya, memberi isyarat agar mereka tidak berteriak-teriak. Keadaan mereka itu bagi kakek ketua
Kun-lun-pai ini seperti anak-anak kecli yang patut dikasihani. Ia lalu berkata dengan penuh kesabaran.
"Kasihan sekali Sin-jiu Kiam-ong! Sesudah mati, barangnya masih dipakai perebutan. Cu-wi sekalian!
Benda ini hanya sebuah, yang menginginkan begitu banyak, bagaimana baiknya? kalau dibiarkan, tentu
kita semua akan menggunakan kekerasan saling gempur sehingga akan banyak roboh korban yang tidak
ada gunanya. Pinto tidak menghendaki permusuhan, tidak menghendaki darah tertumpah di tanah
Pegunungan Kun-lun-san yang suci. Karena itu, biarlah pinto menguji, siapa yang paling kuat maka dia
yang akan memiliki Siang-bhok-kiam. Tidak boleh menggunakan kekerasan, dan siapapun juga yang
berani menggunakan kekerasan, akan dikeroyok oleh semua yang hadir di sini. Bagaimana?"
Biarpun tokoh-tokoh besar yang menjadi datuk kaum sesat seperti tiga orang Bu-tek Sam-kwi (Tiga
Iblis Tak Terlawan) ini pun menjadi gentar. Mereka itu maklum bahwa kalau seorang di antara mereka
menggunakan kekerasan lalu dikeroyok oleh semua yang hadir, biarpun mereka itu ditambah tiga kepala
dan enam tangan pun takkan menang! Apalagi kakek ketua Kun-lun-pai itu bersama tokoh-tokoh
Kun-lun-pai yang hadir, merupakan lawan-lawan yang takan mudah dikalahkan. Karena itulah, tiga orang
datuk ini mengangguk-ngangguk dan semua menyatakan setuju sambil berteriak-teriak, "Akur, akur!"
"Syukur kalau Cu-wi sekalian setuju. Nah, sekarang pedang Siang-bhok-kiam berada di tanganku. Jikat
di antara Cu-wi ada yang mampu mengambilnya dari tanganku, tidak menggunakan penyerangan kasar,
.
hanya menggunakan tenaga untuk merampasnya, berarti pedang ini berjodoh dengannya." Setelah
berkata demikian, tubuh kakek ini melayang turun dari atas batu besar itu, diikuti lima orang muridnya
yang lain karena dua orang muridnya sudah turun. Kini kakek ini berdiri di tempat yang luas, dan tujuh
orang muridnya, dikepalai oleh Kiang Tojin, siap melindungi guru mereka berdiri di belakang guru ini
membentuk setengah lingkaran.Sikap ini saja sudah memberi tahu kepada semua yang hadir bahwa siapa
yang hendak menggunakan kecurangan dan untuk memiliki pedang itu menyerang tubuh Tian Seng Cinjin,
tentu tujuh orang tokoh Kun-lun-pai ini sekaligus turun tangan melindungi guru mereka dan menyerang dia
yang bermain curang!
"Nah, silakan!" kata pula Thian Seng Cinjin yang sudah memegang gagang pedang kayu itu erat-erat
dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dengan jari terbuka ditempelkan di pusarnya sendiri,
sikap yang amat baik untuk mengerahkan sinkang yang disalurkan ke tangan kanan untuk
mempertahankan pedang itu.
Sebagian besar para tokoh kang-ouw yang hadir di situ sudah mengenal, atau setidaknya sudah
mendengar akan kehebatan kakek yang menjadi ketua Kun-lun-pai ini, seorang di antara para
lo-cianpwe yang sukar dicari tandingangannya di waktu itu. maka mereka ini menjadi jerih.
"Maafkan aku!" Tiba-tiba han-ciang-kun pemimpin pasukan utara sudah melangkah maju dan pada saat
yang sama perwira tinggi besar yang memimpin pasukan selatan juga sudah maju. Akan tetapi mereka ini
sama sekali bukan bermagsud mencoba kekuatan Thian Seng Cinjin, karena Han-ciangkun berkata,
"Kalau berhasil merampas pedang kayu ini, apakah akan bisa mendapatkan Thai-yang-tin-keng?"
"Kalau bisa, aku pun akan mencoba!" kata perwira selatan tak mau kalah. Kiang Tojin mewakili
suhunya menjawab, "Sudah kami katakan bahwa kami tidak tahu-menahu tentang kitab itu. Siapa
berhasil merebut pedang menggunakan kekuatan hanya akan memiliki pedang Siang-bhok-kiam ini dan
selebihnya kami tidak akan mencampuri urusan lainya!"
"Kalau begitu, buat apa pedang kayu bagi kami?" Perwira selatan berkata kecewa sambil mundur,
diturut pula oleh perwira utara yang melihat bahwa tidak akan ada gunanya merampas pedang kayu.
"Nanti dulu, Thiang Seng Cinjin!" Tiba-tiba Pak-san Kwi-ong berkata dengan suaranya yang keras.
"Andaikata aku maju dan berhasil dan merampas pedang Siang-bhok-kiam, pedang itu menjadi miliku?"
"Begitulah yang sudah diputuskan Suhu," jawab Kiang Tojin.
"Dan yang lain-lain tidak boleh merampas dari tanganku?"
"Selama Locianpwe berada di sini, kami akan menjamin bahwa tidak akan ada yang mengganggu tanpa
berhadapan dengan kami. Tentu saja mereka berhak pula mencoba merampasnya dari tangan
Locianpwe tanpa menggunakan kekerasan. Sudah diputuskan oleh suhu bahwa tidak boleh dipergunakan
kekerasan di wilayah Kun-lun-pai. Tentu saja di luar wilayah Kun-lun-pai, bukanlah menjadi kewajiban
kami lagi untuk mencampuri urusan siapapun juga."
"Ha-ha-ha, cukup adil! Nah, biar kucoba tenagamu, Thian Seng Cinjin!" sambil tertawa-tawa Pak-san
Kwi-ong melangkah maju lalu memasang kuda-kuda di depan kakek yang menjadi ketua Kun-lun-pai
itu. Dua orang datuk hitam yang lain tidaklah sekasar tokoh hitam ini. Mereka, seperti Ang-bin Kwi-bo
dan Pat-jiu Sian-ong, lebih cerdik dan lebih hati-hati. Mereka itu tidak dapat mengukur sampai di mana
tingkat kepandaian dan sampai di mana kekuatan sinkang ketua Kun-lun-pai ini. Sebaliknya, mereka ini
sudah tahu sampai di mana kekuatan Pak-san Kwi-ong yang kalau dibandingkan dengan mereka
setingkat. maka mereka itu merasa lebih "sip" untuk menanti. Mereka baru akan mencoba kalau Pak-san
.
Kwi-ong gagal, atau baru akan berusaha merampas pedang itu dari tangan datuk hitam utara itu
andaikata pedang dapat dirampas oleh Pak-san Kwi-ong.
Semua orang memandang dengan penuh ketegangan ke arah dua orang kakek yang kini sudah siap
mengandu tenaga untuk memperebutkan pedang kayu itu. Sejenak mereka hanya berdiri saling tatap
dengan pandang mata penuh mengeluarkan getaran karena penuh dengan tenaga sinkang. Kemudian,
perlahan-lahan Pak-san Kwi-ong mengangkat tangan kanan dan menggenggam tubuh pedang kayu yang
gagangnya dipegang oleh Thian Seng Cinjin, sedangkan tangan kirinya ditumpangkan ke atas sebuah di
antar dua tengkorak yang tergantung di pinggangnya.
Dua orang kakek itu kelihatannya hanya diam saja seperti arca, akan tetapi sesungguhnya mereka itu
mulai mengerahkan tenaga sinkang yang disalurkan melalui lengan kanan terus ke pedang kayu, saling
dorong, dan saling membetot pedang. Dua tenaga sinkang raksasa yang tak tampak saling bertemu
dengan hebatnya, kedua lengan tergetar dan pedang kayu itu tergetar lebih hebat lagi, sampai
bergoyang-goyang mengeluarkan suara berkeretekan , kemudian....."prokkkk....!" pedang itu hancur
menjadi berkeping-keping!
Terdengar seruan-seruan kaget dari semua yang menonton pertandingan itu, bahkan muka Thian Seng
Cinjin sendiri menjadi pucat. Pak-san Kwi-ong yang biasanya tertawa-tawa itu kini terbelalak
memandangi bagian peadng yang atas, yang telah pecah-pecar telah menjadi kepingan kayu-kayu tak
berguna di tangannya. Kiang Tojin, Ang-bin Kwi-bo dan Pat-jiu Sian-ong masing-masing telah
melangkah maju dan mengambil kepingan kayu yang berhamburan di atas tanah, lalu mereka meneliti
kepingan-kepingan kayu itu, menciumnya.
"Ahhhhh.....!"
"Kayu biasa....!"
"Sama sekali bukan kayu mujijat!"
"Tidak harum bagian dalamnya!"
"Bukan Siang-bhok-kiam......!!" Seruan Kiang Tojin yang terakhir inilah yang membuat semua orang
tercengang dan saling pandang. Thin Seng Cinjin sendiri melongo, memandang gagang pedang di
tangannya dan baru ternyata olehnya bahwa gagang pedang itu kasar buatannya.
"Bu..... bukan.... Siang-bhok-kiam....?" tanyanya gagap.
Kiang Tojin berlutut di depan suhunya. "Benar , suhu. Teecu telah kena diakali Cia Keng Hong! Pedang
itu tadi sama sekali buka Siang-bhok-kiam!"
"Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa pedang itu bukan Siang-bhok-kiam?" tanya Thian Seng Cinjin
dan mukanya menjadi merah karena malu. Masa dia seorang tokoh besar, ketua Kun-lun-pai, sampai
dapat diakali oleh seorang bocah yang masih ingusan seperti murid Sin-jiu Kiam-ong itu? Yang lain-lain,
termasuk ketiga orang Bu-tek Sam-kwi para datuk golongan hitam itu mendengarkan penuh perhatian.
"Teecu yakin. Pedang ini terbuat dari kayu pohon yang tumbuh di sini, yang memang agak wangi baunya.
Pedang ini tidak mungkin Siang-bhok-kiam karena menurut kabar, pedang Siang-bhok-kiam terbuat
daripada kayu yang kerasnya melebihi baja, sedangkan pedang ini terbuat dari kayu biasa. Sekarang
mengertilah teecu mengapa bocah itu memberikan pedang ini kepada kita secara demikian mudah!"
.
"Bocah setan!" Tiba-tiba Lin Ci Tojin memaki. "Sudah kuketahui dia bukan manusia baik-baik! Ilmunya
menyedot sinkang saja sudah menunjukan bahwa dia seorang calon iblis! Dan Twa-suheng begitu
percaya kepadanya! Sungguh memalukan sekali!"
"Lian Ci, diam kau!" bentak Thian Seng Cinjin dengan suara nyaring karena malu dan marah. Di depan
orang-orang luar yang begitu banyak, dia tidak senang sekali mendengar muridnya itu menyalahkan
saudara sendiri.
Tiba-tiba Pak-san Kwi-ong tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha-ha! Alangkah lucunya! Para tosu hidung
kerbau di Kun-lun-pai samapi kena dikentuti oleh murid Sin-jiu Kiam-ong bocah yang masih ingusan!
Betapa lucunya hal ini akan menjadi buah percakapan mengembirakan di dunia kang-ouw. Dan tahukah
kalian bahwa bocah yang sudah menipu kalian itu kini bersenang-senang main gila dengan dua orang
gadis cantik murid Lam-hai Sin-ni? Ha-ha-ha, benar-benar bocah itu melebihi gurunya dalam segala hal!
Kita semua telah tertipu, akan tetapi yang benar-benar makan kotoran yang dilempar anak itu adalah
para tosu Kun-lun-pai!"
Wajah Thian Seng Cinjin sebentar merah sebentar pucat. Pukulan batin ini amat hebat dan elamanya
baru sekali ini Kun-lun-pai mengalami hal yang benar-benar amat memalukan. Ia pun merasa tak senang
kepada Kiang Tojin karena sesungguhnya penipuan ini terjadi karena rasa sayang Kiang Tojin kepada
Keng Hong. Andaikata tidak begitu mendalam kasih sayang muridnya itu terhadap Keng Hong, tentu
tidak begitu mudah ditipu karena sudah ada kecurigaan. Karena marah, ketua Kun-lun-pai ini lalu
berkata kepada Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin, justeru dipilihnya dua orang di antara muridnya yang tadi
menentang Kiang Tojin.
"Sian Ti dan Lian Ci! Sekarang juga pinto perintahkan kalian berdua pergi mencari dan menangkap Cia
Keng Hong, membawa dia ke sini!"
"Baik, Suhu!" jawab dua orang tosu itu yang segera meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.
Kiang Tojin hanya memandang dengan hati prihatin karena dia sendiri pun tidak mengerti mengapa Keng
Hong sampai berani melakukan penipuan seperti itu. Kalau begitu pedang Siang-bhok-kiam tentu masih
dipengang anak itu, dan entah disembunyikan di mana karena kalau pedang itu dibawa-bawa, dia merasa
yakin bahwa pedang itu tentu telah dirampas tokoh kang-ouw yang sakti. Akan tetapi seperti telah
dilakukan para tokoh kang-ouw yang semua menyerbu ke Kun-lun-pai, hal ini menandakan bahwa
mereka tidak berhasil mendapatkan Siang-bhok-kiam dari Keng Hong. Kiang Tojin mengerti bahwa
suhunya marah dan kecewa kepadanya, maka dia diam saja, maklum bahwa sekali ini dia memang salah,
meleset perhitungannya menilai diri Keng Hong.
Karena kesal hatinya, Kiang Tojin lalu berkata lantang kepada para tamu yang tak dikehendaki itu.
"Cu-wi sekalian membuktikan dengan mata sendiri betapa kami pihak Kun-lun-pai sendiri telah tertipu,
bahwa di sini sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi yang menyangkut warisan Sin-jiu Kiam-ong. Harap
Cu-wi meninggalkan tempat ini karena di antara kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi!"
Sambil tertawa-tawa, Bu-tek Sam-kwi berkelebat pergi, diikuti pula para tokoh kang-ouw yang pergi
mengambil jalan masing-masing, namun dapat dimengerti bahwa isi hati mereka tak banyak berbeda,
yaitu selain kecewa, juga masing-masing tentu mengambil ketetapan hati untuk mencari Cia Keng Hong,
satu-satunya orang yang menjadi kunci rahasia dan dapat membawa mereka kembali menuju ke
simpanan pusaka warisan Sin-jiu Kiam-ong. Juga kedua pasukan dari utara dan selatan itu cepat pergi
kembali ke asal masing-masing tanpa bertanding. Hal ini memang lucu karena dalam keadaan biasa, dua
pasukan yang bermusuhan itu tentu akan berperang mati-matian. Agaknya karena mereka bertemu
dengan tokoh-tokoh yang sakti itu, hati mereka menjadi kuncup, takut kalau-kalau orang-orang sakti itu
.
menjadi marah dan membantu salah satu fihak apabila mereka mengadakan perang di tempat itu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan perang saudara yang terjadi antara utara dan selatan itu adalah
akibat perebutan mahkota setelah kaisar Thaicu meninggal dunia pada tahun 1398. Ketika itu, putera
sulung kaisar Thaicu telah lebih dahulu meninggal dunia dan oleh karena itu, maka sebelum dia meninggal,
kaisar Thaicu telah mewariskan tahta kerajaan kepada cucunya, anak dari putera sulung itu, yang
bernama Hui Ti. Di bawah perlindungan dan dukungan para pembesar yang mempergunakan
kesempatan untuk mengangkat diri sendiri mencapai kedudukan tinggi dan berkecimpung dalam
kemuliaan duniawi, setahun kemudian setelah kaisar Thaicu meninggal, Hui Ti naik tahta dan menjadi
Kaisar Kerajaan Beng.
Peristiwa inilah yang mengakibatkan perang saudara karena Raja Muda Yung Lo, putera yang lain dari
kaisar Thaicu dan yang pada waktu itu bertugas mempertahankan wilayah Beng-tiauw di bagian utara
melawan penyerbuan bangsa mongol , menjadi marah dan tidak menerima pengangkatan kaisar baru itu.
Menurut pendapatnya, tidaklah adil kalau mahkota diwariskan kepada keponakannya itu, dan dia yang
sudah banyak berjasa terhadap kerajaan, dia sebagai putera ke dua, merasa lebih berhak mewarisi
mahkota. Demikianlah, Raja Muda Yung Lo yang berkedudukan di Peking ini lalu membawa bala tentara
dan menyerbu ke Nan-king dan timbullah perang saudara memperebutkan tahta Kerajaan Beng-tiauw.
Telah menjadi kenyataan dalam catatan sejarah bahwa setiap kali terjadi perang, apalagi perang saudara
sesama bangsa, rakyatlah yang menderita. Yang memperebutkan kekuasaan demi kemuliaan diri sendiri
adalah beberapa gelintir orang besar, akan tetapi yang dijadikan makanan golok dan pedang adalah
perajurit-perajurit, anak rayat jelata. Peadng mendatangkan akibat yang lebih buruk lagi, yaitu kekacauan
dan kejahatan merajalela, mempergunakan kesempatan selagi pemerintah mencurahkan kekuatan untuk
berperang, di mana penjagaan keamanan untuk rayat menjadi kosong sehingga terjadilah
perampokan-perampokan, pembakaran dusun-dusun, penculikan dan pemerkosaan semena-mena.
Tidak jarang pula terjadi pasukan-pasukan yang selalu hidup berhadapan dengan maut, yang oleh perang
digembleng menjadi manusia-manusia haus darah yang selalu menderita karena tekanan-tekanan batin,
karena tekanan-tekanan lahir, berubah menjadi manusia-manusia yang lebih ganas daripada para
penjahat. Dengan dalih "berfihak kepada musuh" banyaklah rakyat jelata menjadi korban keganasan
mereka, hanya karena mereka itu silau oleh harta dan silau oleh kecantikan wanita!
Keadaan yang kacau-balau di sepanjang jalan yang dilalui Keng Hong inilah sesungguhnya yang bahkan
menolong Keng Hong, membuat para tokoh kang-ouw termasuk dua orang tosu Kun-lun-pai kehilangan
jejaknya. Setahun lebih Keng Hong merantau, tujuannya adalah kembali ke Kun-lun-san karena dia
sudah mengambil keputusan untuk memperdalam ilmunya setelah mengalaman-pengalaman pahit yang dia
derita. Ia harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi kalau dia tidak menghedaki gangguan-gangguan di
masa depan. Akan tetapi, kekacauan yang terjadi dimana-mana membuat dia tersasar dan ada kalanya
mengambil jalan memutar, ada kalanya harus kembali lagi kalau terhalang oleh perang yang dahsyat.
Pada suatu pagi dia memasuki dusun Ciang-cung yang terletak di kaki gunung Min-san, di lembah sungai
Cia-liang. Karena sungai Cia-liang ini mengalirkan airnya ke sungai Yang-ce-kiang yang merupakan jalan
perhubungan yang terbaik dan tercepat menuju ke pedalaman, maka dusun Ciang-cung ini cukup ramai.
Tanpa diketahuinya secara tepat, Keng Hong sudah makin dekat dengan Kun-lun-san yang berada di
sebelah barat Gunung Min-san.
Makin ke barat, makin berkuranglah perang, karena bala tentara kedua fihak memperebutkan
daerah-daerah antara Peking-dan Nanking. Biarpun demikian, wilayah barat ini tak dapat dikatakan
tenteram sama sekali dan akibat perang saudara melanda juga daerah yang jauh dari pusat tempat perang
itu sendiri. Di sini timbul kekacauan-kekacauan dan para penjahat merajalela, berpesta-pora seolah-olah
gerombolan tikus yang berada dirumah kosong, ditinggal pergi oleh kucing-kucing yang mereka takuti.
.
Ketika Keng Hong memasuki dusun Ciang-chung di pagi hari itu, segera dia melihat akibat kekacauan
yang melanda di mana-mana. Sepagi itu telah ada orang berkelahi. Seperti biasa, dan Keng Hong
akhir-akhir ini sering kali melihat orang bertempur, dia hendak mengambil jalan lain agar tidak terlibat
dalam perkelahian itu. Terlalu banyak orang berkelahi bunuh-membunuh yang dijumpainya di mana-mana
sehingga dia menjadi muak dan bosan. Tidak mungkin dia mencampuri urusan orang-orang lain itu yang
semua diakibatkan oleh perang sehingga masing-masing membela fihak pilihannya sendiri. Sekali ini pun
dia tidak peduli dan tentu Keng Hong sudah meninggalkan dusun itu untuk melanjutkan perjalanannya
kalau saja dia tidak mendengar bentakan-bentakan nyaring suara wanita. Yang berkelahi itu ternyata
adalah seorang wanita yang dikeroyok banyak laki-laki! Hal ini menarik perhatian keng Hong dan
menggerakan hatinya untuk menghampiri tempat pertempuran. Betapapun juga, kalau melihat seorang
wanita dikeroyok belasan orang laki-laki seperti itu, tak mungkin dia tinggal diam saja. Gurunya pasti
akan memakinya kalau dapat melihat dia mendiamkan saja seorang wanita dikeroyok belasan orang
laki-laki!
Setelah dekat dengan tempat pertempuran itu, dia melihat dua belas orang laki-laki mengeroyok seorang
gadis berpakaian biru muda. Hatinya menjadi kagum sekali. Bukan hanya kagum akan kegesitan dan
keindahan gadis itu bermain pedang melayani pengeroyokan belasan orang lawan yang kasar-kasar, kuat
dan bersenjata golok itu, melainkan terutama sekali melihat wajah yang cantik jelita, mata yang
bersinar-sinar seperti mata burung hong, mukanya yang putih kemerahan, tubuh yang padat ramping,
pendeknya, seorang gadis yang amat cantik! Yang membuat Keng Hong terheran-heran dan penasaran
adalah ketika dia melihat bahwa di situ tidak ada orang yang berani mendekat, apalagi melrai
perkelahian, bahkan rumah-rumah dan warung-warung terdekat sudah menutup pintu dengan
tergesa-gesa. Tampak olehnya ada empat orang laki-laki tinggi besar yang sudah roboh berlumuran
darah, juga seorang pemuda remaja terduduk di atas tanah memegang pundaknya yang terluka terkena
bacokan.
Ilmu pedang gadis itu lihai, akan tapi menghadapi pengeroyokan dua belas orang laki-laki kasar itu, si
gadis menjadi repot juga. Apalagi karena para pengeroyoknya mengeluarkan kata-kata yang kasar dan
kotor, dengan ancaman-ancaman yang menjijikan, membuat gadis itu makin merah mukanya dan makin
kacau gerakan pedangnya.
"He, kawan, jangan sampai dia terluka!"
"Jangan membikin cacat wajahnya yang cantik halus!"
"Biarkan dia kehabisan tenaga, tentu akan menyerah sendiri, ha-ha-ha!"
"Wah, kalau tenaganya habis, bagaimana bisa melayani kita?"
"Jangan khawatir, gadis kang-ouw simpanan ini tenaganya kuat, heh-heh-heh!"
"Robek-robek dan tanggalkan semua pakaiannya, berikan padaku lebih dulu!"
"Aku dulu!"
"Aku dulu!"
"Eh, kawan-kawan. Mengapa ribut-ribut? Biar dia kita tangkap dulu , baru kita mengadakan undian
siapa yang akan menikmatinya lebih dulu!"
.
Muka Keng Hong menjadi merah sekali. Dia hendak turun tangan membantu, akan tetapi dia masih
belum tahu apa urusanya, dan apa yang menyebabkan mereka berkelahi. Kalau dia langsung membantu
gadis itu, apakah itu adil namanya? Siapa tahu, gadis ini yang berada di fihak salah. Maka dia menanti
dan memandang penuh perhatian.
Gadis baju biru itu sudah mulai lelah. Gerakannya lambat dan ketika tiga buah golok secara berbareng
menangkis pedangnya dengan pengerahan tenaga kasar, gadis itu menjerit, pedangnya terlempar dan
tubuhnya terhuyung ke belakang. Banyak tangan menyambarnya dan..... "brettt.... aihhh.....!!" sebagian
bajunya terobek berikut baju dalamnya sehingga tampaklah leher, pundak dan sebagian dada kiri yang
berkulit putih halus seperti susu.
Keng Hong tak dapat lagi menahan kemarahannya. Ia meloncat maju dan membentak, "Orang-orang
kuang ajar! Mundur....!!" Sekali tangkap dia telah mencengkeram dua orang laki-laki di bagian
tengkuknya dan bagaikan melempar rumput kering saja, dia melontarkan dua orang itu ke belakang
sehingga mereka terpental dan terlempar sejauh empat meter, terbanting dan bergulingan. Dia tidak
berhenti sampai di situ, kaki tangannya bergerak dan kembali empat orang laki-laki terlempar jauh dan
jatuh bangun!
Empat orang yang lain cepat mebalikan diri dan golok-golok di tangan mereka menyambar. Akan tetapi,
mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan keberanian, tenaga kasar dan golok. Begitu
Keng Hong menggerakan tangannya, angin dorongan tangan itu membuat keenam orang pengeroyok
terhuyung mundur. Dua orang yang agaknya menjadi pimpinan mereka menjadi penasaran, berseru keras
dan menerjang maju lagi dengan golok mereka. Keng Hong mendahului mereka, menyapok keras dan
terdengar bunyi "krek-krek!" ketika tangan Keng Hong bertemu dengan pergelangan tangan mereka
yang menjadi patah tulangnya. Mereka meringis kesakitan dan melompat mundur, tidak berani maju lagi.
"Masih tidak lekas minggir dari sini?" Keng Hong menghardik, pandang matanya tajam menusuk. Dua
belas orang itu tidak berani untuk mencoba-coba lagi, mereka lalu pergi membawa teman-teman yang
terluka. Ternyata jumlah mereka semua ada enam belas orang, yang empat telah dirobohkan gadis cantik
itu.
Setelah mereka semua kabur, Keng Hong menoleh dan melihat gadis itu tengah menolong pemuda
remaja yang terluka pundaknya. Terdengar olehnya suara gadis itu halus, "Bagaimana, adikku? Parahkah
lukamu?"
Pemuda remaja itu mengigit bibirnya dan menggeleng kepala. "Kurasa tulangnya patah....Cici, lekas
haturkan terima kasih...."
Gadis baju biru itu agaknya seperti baru teringat, cepat ia membalikan tubuhnya menghadapi Keng Hong
yang berdiri memandang mereka , kemudian ia menjatuhkan diri berlutut sambil berkata.
"Saya Sim Ciang Bi dan adik saya Sim Lai Sek menghaturkan terima kasih atas pertolongan Taihiap
(Pendekar Besar) yang telah menyelamatkan nyawa kami."
Dua macam perasaan memenuhi hati Keng Hong mendengar ucapan itu. Dia disebut taihiap! Dia merasa
bangga dan juga jengah. Tentu gadis ini menganggap dia seorang pendekar yang berilmu tinggi karena
dalam segebrakan saja mampu mengusir dua belas orang laki-laki kasar tadi. Padahal kalau
mempergunakan ilmu silat, tanpa disertai tenaga sinkang yang luar biasa, belum tentu dia menang lihai
daripada gadis itu sendiri. Bangga karena mulut yang manis dan mungil itu menyebutnya taihiap, namun
jengah dan malu karena dia sendiri merasa amat tidak pantas disebut seorang pendekar besar.
.
"Ah, harap jangan sungkan, bangkitlah, Nona," katanya sambil mengangkat bangun gadis itu. Ketika
kedua telapak tangannya menyentuh pundak itu, terasa hawa yang hangat lunak keluar dari daging
pangkal lengan yang halus itu dan berdebarlah jantung Keng Hong, apalagi ketika matanya bertemu pada
sebagian dada yang telanjang itu. Pandang matanya seperti lekat pada kaki dan lereng bukit dada yang
putih halus.
"Cici.... bajumu....!" Pemuda remaja itu memperingatkan cicinya yang saat itu sedang memandang wajah
Keng Hong. Gadis itu merintih perlahan dan mukanya menjadi merah sekali. Keng Hong cepat membuka
jubahnya dan menyelimutkan jubah ini pada tubuh si gadis yang memandangnya dengan sinar mata
berterima kasih. Hal ini membebaskannya dari rasa malu, apalagi kalau diingat bahwa kini banyak orang
mendatangi tempat itu. Mereka ini adalah penduduk dusun yang baru berani keluar setelah perkelahian itu
berakhir.
"Ah, masih untung Sam-wi dapat lolos dari pengeroyokan mereka. Harap Sam-wi segera pergi
meninggalkan dusun ini, karena kalau tidak ..... mereka pasti datang lagi dan menyusahkan Sam-wi (Tuan
bertiga)." Yang berkata demikian adalah seorang kakek, mukanya membayangkan kegelisahan.
Keng Hong mengerutkan alisnya. Dia sudah membantu dan dia tidak boleh kepalang tanggung
membantu nona ini. "Lopek, kami tidak takut menghadapi ancaman mereka. Biarkan mereka datang,
akan kami hajar mereka semua! Saat ini kami perlu untuk merawat adik yang terluka ini. Siapakah di
antara Cu-wi (Tuan sekalian) yang sudi menolong kami, meminjamkan tempat istirahat dan berobat?"
Akan tetapi, sekian banyaknya pasang mata hanya memandangnya dengan terbelalak, penuh
kekhawatiran dan tak seorang pun menawarkan tempatnya. Kakek itu cepat berkata.
"Enghiong (Orang gagah) harap dapat memaklumi keadaan kami. Mereka itu adalah kawanan buaya
darat yang tinggal di dusun tak jauh dari sini. Kalau mereka mendengar ada seorang di antara kami berani
membantu Sam-wi, tentu yang membantu itu akan celaka.....!"
"Pengecut!" Tiba-tiba Sim Lai Sek yang terluka pundaknya itu berseru marah. "Apakah dikira kami
tidak akan membela dia yang menolong kami? Dan kami bersedia membayar sewa kamar dan harga
obat!"
Keng Hong hanya tersenyum dan maklum akan rasa penasaran pemuda remaja itu, yang ternyata
tampan seperti cicinya, sepasang matanya lebar dan mukanya membayangkan keberanian.
"Maaf, Siauw-enghiong. Kami percaya akan kegagahan Sam-wi, akan tetapi maukah Sam-wi
selamanya tinggal di dusun ini?"
"Apa....??" Kini gadis cantik itu yang bertanya, matanya terbelalak heran dan Keng Hong terpaksa harus
mengalihkan pandangnya karena mata itu amat indahnya sehingga dia khawatir kalau-kalau dia akan
melongo menikmati keindahan itu.
"Nona, dan Siauw-te, harap Ji-wi memaklumi kekhawatiran mereka ini. Lopek ini benar. Memang,
selama kita masih berada di sini, penjahat-penjahat itu tidak berani datang mengganggu. Akan tetapi
tidak mungkin kita tinggal selamanya di sini dan kalau kita sudah pergi lalu mereka datang mengamuk,
membalas dendam kepada penduduk dusun ini, bukankah sama saja artinya dengan kita yang
mencelakakan penduduk di sini?"
Enci dan adik itu tercengang dan mengangguk-angguk. "Ah, kalau begitu apa gunanya ada penjaga
keamanan? Apa gunanya ada pembesar setempat? Bukankah di sini ada kepala dusun wakil
.
pemerintah?" Sim Lai Sek masih mencoba untu k menyatakan rasa penasarannya.
Kakek itu menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Siauw-enghiong, hal begini saja masa
Eng-hiong masih belum tahu? Semenjak saya masih kanak-kanak ampai sekarang sudah kakek-kakek,
mana ada jaminan keamanan dan keselamatan bagi rakyat jelata? Memang selalu ada penjaga keamanan,
ada pembesar setempat, akan tetapi kenyataan pahit yang menyedihkan namun tak dapat disangkal
adalah bahwa penjaga keamanan di sini hanya namanya saja penjaga keamanan, namun pada
kenyataanya adalah pengacau keamanan. Mereka hanya menjadi pelindung-pelindung bayaran, dan
mempergunakan kekuasaan untuk kesenangan sendiri. Adapun pembesar hanya namanya saja besar,
akan tetapi, jiwanya kecil dan lalim. Sudahlah, harap Sam-wi memaklumi keadaan kami rayat kecil yang
melarat dan tidak menambah beban kami yang sudah berat."
"Mari kita keluar dari dusun ini, biarlah saya mencarikan tempat istirahat untu kJi-wi," kata Keng Hong
dan tanpa menanti lagi dia lalu membungkuk dan memondong tubuh Sim Lai Sek yang terluka. pemuda
remaja ini sudah amat lemah, bukan hanya oleh lukanya di pundak yang mematahkan tulangnya , namun
juga karena lemas kehilangan banyak darah.
"Di luar dusun, dalam hutan sebelah barat terdapat sebuah kuil yang kosong. Kiranya Sam-wi dapat
beristirahat di sana. Sam-wi dapat membawa bekal obat dan bahan makanan," kata pula si kakek yang
sesungguhnya menaruh rasa kagum dan simpati kepada tiga orang muda yang telah berani menentang
para buaya darat yang semenjak dahulu merupakan gangguan di dusun itu.
Setelah Ciang Bi, gadis itu, membeli obat-obat dan bahan makanan, brangkatlah mereka bertiga kelura
dari dusun memasuki hutan sebelah barat dan benar saja, di tengah hutan itu mereka menemukan sebuah
kuil tua yang kosong, akan tetapi lumayan untuk tempat berteduh dan mengaso. Keng Hong lalu
merebahkan tubuh Lai Sek di atas lantai yang telah di bersihkan oleh Ciang Bi. Kemudian dia membantu
gadis itu menggodok obat dan merawat Lai Sek.
Setelah pemuda remaja minum obat, makan bubur dan tertidur nyenyak, Ciang Bi dan Keng Hong
duduk di ruang luar kuil, di atas batu-batu halus yang agaknya dahulu dipakai untuk bersamadhi para
pendeta peenghuni kuil. Sampai lama mereka berdiam diri dan setiap kali mereka bertemu pandang,
gadis itu menundukan mukanya dan bibir yang merah dan segar selalu itu tersenyum malu-malu.
"Taihiap...."
"Ah, jangan menyebut aku taihiap, Nona. Aku seorang biasa saja yang kebetulan dapat membantumu.
Namaku Keng Hong, Cia Keng Hong."
"Tapi..... kepandaianmu sunggguh amat luar biasa, Taihiap. Sungguh membuat hatiku kagum."
"Kepandaianmu bermain pedang pun hebat, Nona. Tidak bisa aku yang bodoh dibandingkan denganmu.
Engkau masih muda sudah amat pandai bermain pedang, gerakanmu cekatan dan ringan, permainan
pedangmu indah sekali seperti seorang bidadari menari dan kau...... kau cantik jelita sekali, Nona."
Gadis itu cepat menengokdan menatap wajah Keng Hong. Akan tetapi ia tidak melihat pandang mata
kurang ajar, hanya melihat sinar kekaguman yang jujur terpancar keluar dari sepasang mata yang tajam
itu sehingga ia tidak jadi marah, bahkan lalu menunduk dengan muka merah, bibirnya tersenyum, matanya
mengerling dan jantungnya berdenyut, penuh kegembiraan. Wanita manakah di dunia ini yang takan
menjadi dak-dik-duk hatinya kalau menerima pujian-pujian yang begitu jujur dari seorang pemuda yang
amat gagah perkasa dan tampan pula?
.
Sejenak mereka diam tak berkata-kata. Keadaan ini tidak mengganggu Keng Hong yang menikmati
pemandangan indah di depannya, rambut yang hitam mulus dan halus panjang terurai itu, wajah yang
cantik sekali sepasang mata seperti mata burung hong, hidung kecil mancung yang cupingnya dapat
bergerak-gerak sedikit di waktu merasa malu dan merah, mulut yang indah bentuknya dengan sepasang
bibir yang seolah-olah dicat merah, merah semringah dan lalu segar, sepasang pipinya kemerahan seperti
buah tomat setengah matang, dagu kecil meruncing yang kalau digerakan menimbulkan lesung pipit di
atasnya. Tubuh yang ramping padat dan biarpun kini tertutup jubah Keng Hong yang terlalu besar, masih
tak dapat menyembunyikan bentuknya yang menggairahkan.
Biarpun mereka tak berkata-kata, Keng Hong tidak merasa kesepian. Akan tetapi gadis yang maklum
betapa sepasang mata orang yang dikaguminya itu memandangnya penuh kekaguman, menjadi tak tenang
dan akhirnya ia berkata lirih.
"Ciap-taihiap, betapa aku akan dapat membalas budimu yang amat besar? Biarlah aku dan adikku akan
selalu berdoa untuk kebahagianmu....."
"Ihhh, Nona, mengapa begini sungkan? lupakan saja apa yang telah kulakukan semua karena itu tak lain
hanyalah pelaksanaan kewajiban seorang manusia yang haru membantu manusia lain yang sedang
tertimpa kemalangan."
"Engkau gagah dan bijaksana, taihiap...." Gadis itu memandang dan sejenak pandang mata mereka saling
melekat. Keng Hong dapat menangkap sinar kemesraan memancar dari pandang mata di balik bulu mata
lentik itu, akan tetapi hanya sebentar karena gadis itu sudah cepat-cepat menundukan mukanya kembali.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari sebelah dalam kuil. Keduanya cepat melesat ke dalam kuil seperti
berlumba, dan berbareng mereka memasuki ruangan di mana tadi Lai Sek rebah dan tidur. Kini pemuda
remaja itu sudah bangun, akan tetapi masih rebah dan kelihatan gelisah sekali, mulutnya mengeluarkan
teriakan-teriakan marah seperti orang sedang berkelahi, kaki tangannya bergerak-gerak tapi matanya
meram. Keng Hong menarik napas lega. Kiranya pemuda itu hanya mengigau saja.
"Dia diserang demam!" Seru Ciang Bi khawatir ketika meraba leher adiknya itu. Keng Hong meraba
dahi pemuda itu dan ternyata pemuda itu diserang demam panas.
"Biar kucari obat di dusun itu untuk melawan demamnya," kata Keng Hong dan tanpa menanti jawaban
dia sudah berkelebat lari menuju ke dusun itu. Pemilik toko obat dengan senang hati memberikan obat
penolak demam yang disebabkan luka, dan pemuda ini cepat kembali lagi kedalam hutan .
Dapat dibayangkan betapa marah hatinya ketika melihat bahwa di depan kuil itu telah penuh dengan
orang-orang yang dia kenal adalah orang-orang yang tadi mengeroyok enci dan adik itu. Jumlah mereka
kini tidak kurang dari tiga puluh orang dan paling depan berdiri seorang laki-laki tinggi besar bermuka
mereh yang membawa golok besar. Laki-laki tinggi ini sedang bicara dengan Ciang Bi,
menuding-nudingkan goloknya ke arah gadis itu yang bersikap tenang dengan pedang di tangan, siap
untuk melayani pengeroyokan. Keng Hong mempercepat larinya dan dengan gerakan indah dia meloncati
kepala mereka yang mengurung, langsung turun di dekat Ciang Bi. Gadis ini berseri wajahnya melihat
datangnya penolongnya.
Keng Hong tidak mempedulikan si tinggi besar , bahkan memberikan bungkusan obat kepada gadis itu
sambil berkata, "Nona, kauserahkan tikus-tikus ini kepadaku. Lekas masak obat ini dan minumkan
kepada adikmu."
Gadis itu meragu, menyapu para penjahat itu dengan matanya. Agaknya ia merasa berat meninggalkan
.
pemuda penolongnya itu seorang diri saja menghadapi sekian banyaknya penjahat, apalagi yang kini
dipimpin oleh kepala mereka yang kelihatannya kuat dan lihai.
"Akan tetapi......"
"Jangan membantah, lebih baik lekas tolong adikmu. Aku sanggup melayani mereka ....."
"Taihiap, pakailah pedangku......."
"Terima kasih. Tidak usah. Menghadapi segala macam tikus busuk, perlu apa menggunakan pedang?"
Sejenak gadis itu memandangnya, memandang dengan sinar mata mesra seperti tadi, akan tetapi kini
lebih lama lebih jelas sehingga Keng Hong-lah yang lebih dulu menundukan muka karena tak tahan
menghadapi pemandangan yang mengguncang perasaannya ini. Gadis itu lalu berlari masuk membawa
obat dan pedangnya, sedangkan Keng Hong lalu menghadapi kepala penjahat sambil berkata.
"Kalian ini mau apakah? Puluhan orang laki-laki tinggi besar mendesak dan menggangu seorang gadis
muda dan adiknya yang sedang sakit, sungguh perbuatan yang amat gagah!"
Kepala penjahat itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya membayangkan tenaga yang amat
kuat dan goloknya amat besar dan kuat, sikapnya menyeramkan. Mukanya merah seperti wajah kwan
Hong pahlawan di jaman Sam-kok, dengan kumis dan jenggotnya hitam lebat, sepasang matanya yang
lebar itu kemerahan. Dengan gerakan goloknya dia menudingkan ke arah Keng Hong dan suaranya serak
ketika bertanya kepada anak buahnya.
"Inilah pemuda usilan itu?"
"Benar dia, Twako!" kata seorang di antara mereka yang tadi dihajar Keng Hong. Kepala penjahat itu
kembali memandang Keng Hong penuh perhatian, seolah-olah tidak dapat percaya bahwa pemuda itu
usianya paling banyak sembilan belas tahun ini mampu merobohkan dua belas orangnya!
"Siapa namamu?" bentaknya, sikapnya sombong dan memandang rendah.
"Namaku Cia Keng Hong."
"Kamu orang Hoa-san-pai juga?"
Pertanyaan ini menyadarkan Keng Hong bahwa enci dan adik itu tentulah murid Hoa-san-pai. Pantas
saja ilmu pedangnya demikian indah. Ia menggeleng kepala dan menjawab, "Aku bukan dari partai
mana-mana, aku seorang yang kebetulan lewat dan tidak tahan melihat belasan laki-laki tinggi besar
mengeroyok seorang wanita. Mengapa kalian tidak insyaf akan perbuatan pengecut dan memalukan itu,
bahkan kini datang lagi mengganggu? Lebih baik kalian sadar dan pergi saja, karena perbuatan kalian ini
hanya akan membuat kalian tercela dan ditertawai orang gagah sedunia."
"Bocah sombong! Bocah usilan! Kami mempunyai urusan sendiri dengan orang Hoa-san-pai, ada
sangkut pautnya apa denganmu? Engkau sudah bosan hidup!" Kepala penjahat itu sudah menerjang
dengan goloknya dan terdengar suara mendesing ketika golok itu menyambar ke arah kepala Keng
Hong. Pemuda ini belum sempurna mempelajari ilmu silat dan yang sudah dipelajarinya hanyalah delapan
jurus ilmu serangan dan ilmu pedang yang belum matang, maka dia kaget dan cepat meloncat mundur.
Loncatannya ringan dan cepat sekali, namun gerakanya mengelak kaku. Hal ini dilihat oleh kepala
penjahat yang ilmu silatnya lumayan juga, maka sambil berseru keras dia maju lagi menubruk sambil
.
membacokan goloknya. Namun sekali ini Keng Hong yang maklum akan bahaya yang mengancam
dirinya, sudah mendahuluinya dengan pukulan atau dorongan kedua tanganya ke depan. Ia menggunakan
telapak tangannya mendorong sambil mengerahkan sinkang. Terdengar penjahat tinggi besar itu menjerit
dan roboh terjengkang, muntahkan darah segar, matanya mendelik dan nyawanya melayang di saat itu
juga!
Melihat robohnya pemimpin mereka, orang-orang kasar itu menjadi marah sekali dan sambil
berteriak-teriak memaki mereka sudah menerjang maju, mengeroyok Keng Hong dengan senjata
mereka,. Keng Hong yang belum banyak pengalamannya dalam pertempuran, apa lagi kalau dikeroyok
tiga puluh orang yang memegang senjata tajam, menjadi bingung sekali. Akan tetapi untung baginya
bahwa gemblengan mendiang gurunya ditekankan kepada sinkang dan ginkang sehingga tubuhnya yang
mengelak dan meloncat ke sana-sini itu jauh lebih cepat daripada gerakan para pengeroyoknya sehingga
mereka menjadi bingung karena bagi mereka, tubuh pemuda itu seperti lenyap dan berkelebatan
seolah-olah pemuda itu telah berubah menjadi sesosok bayangan yang sukar diserang. Melihat betapa
dengan mudah dan leluasa dia dapat bergerak di antara pengeroyoknya yang menurut pandangannya
bergerak sangat lambat itu, timbul kegembiraan di hati Keng Hong. Baru sekarang dia mengerti mengapa
suhunya dahulu menekankan latihan sinkang dan ginkang. Kiranya, waktu yang amat pendek ketika dia
belajar dahulu telah diisi dengan dasar daripada syarat utama dalam ilmu silat, yaitu kecepatan gerakan
dan kekuatan dalam. Kini, setelah dengan mudah dia dapat menghindarkan semua serangan
mengandalkan kecepatan gerakannya, dia mulai balas menyerang dan betapa mudahnya merobohkan
mereka itu. Dengan satu kali tamparan, atau tendangan saja dia mampu merobohkan seorang
pengeroyok. Keng Hong mengamuk, dan biarpun di pandang oleh mata orang lain dia dikeroyok dan
dikepung, namun kenyataannya, seorang demi seorang dari para pengeroyoknya dapat dia robohkan dan
makin lama pengeroyokan itu menjadi makin kacau.
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan para pengeroyok yang sudah kehilangan tujuh orang teman
dirobohkan Keng Hong. Para pengeroyok yang berada di sebelah luar berjatuhan dan dalam sekejap
mata saja ada lima orang roboh! Keng Hong melirik dan pandang matanya yang tajam hanya dapat
melihat sinar putih berkelebatan, maka maklumlah dia bahwa ada orang membantunya dengan
menggunakan senjata rahasia untuk merobohkan para pengeroyok. Ia menjai gembira dan kembali dua
orang dapat dia robohkan dengan tamparan kedua tangannya. Para pengeroyok menjadi makin panik
dan akhirnya mereka itu melarikan diri pontang-panting, meninggalkan teman-teman yang tewas atau
terluka.
"Sahabat baik yang telah membantuku, harap suka keluar!" Keng Hong berteriak memanggil setelah
semua pengeroyoknya pergi. Namun tidak ada jawaban, juga tidak tampak gerakan di balik
pohon-pohon. Keadaan sunyi, kecuali suara merintih yang keluar dari mulut mereka yang terluka.
"Dia telah pergi, In-kong......"
Keng Hong membalikan tubuhnya, melihat bahwa Ciang Bi telah berdiri di pintu kuil dengan pandang
mata penuh kagum dan bersyukur kepadanya. Gadis itu kini menyebutnya "in-kong" (tuan penolong).
"Dia siapa, Nona?"
"Entahlah, akan tetapi aku melihat berkelebatnya bayangan seorang wanita berpakaian putih di balik
pohon sana. Dia membantumu dengan cara bersembunyi, tentu kini telah pergi. Tentu In-kong mengenal
dia."
Berdebar jantung Keng Hong. Gadis baju putih yang lihai? Siapa lagi kalau bukan Biauw Eng? Ia
menghampiri lima orang pengeroyok yang tadi roboh dan melihat bahwa mereka ini telah tewas, pelipis
.
mereka remuk oleh bola-bola putih berduri yang dia kenal sebagai senjata rahasia Biauw Eng! Ah,
kembali gadis itu telah menolongnya. Akan tetapi mengapa menolong sambil bersembunyi? Mengapa
tidak menemuinya?
"In-kong tentu mengenal gadis yang lihai itu, bukan?"
Keng Hong mengangguk, kemudian bertanya, "bagaimana dengan adikmu?"
Gadis itu memandang penuh terima kasih. "Berkat pertolonganmu, adiku telah turun panasnya. Berkat
pertolonganmu, kami kakak beradik masih dapat bernapas sampai saat ini. Tidak tahu bagaimana kami
akan dapat membalas budimu yang besar." Tiba-tiba gadis itu menjatuhkan diri berlutut.
Sekali meloncat, Keng Hong sudah tiba di depan gadis itu, memegang pundaknya dan mengangkatnya
bangun. Darahnya berdesir ketika dia menyentuh kedua pundak itu. Dari luar baju dia dapat merasakan
halusnya kulit pundak itu. Cepat dia melepaskan kedua tangannya setelah Ciang Bi bangkit berdiri.
Sejenak mereka berpandangan dan dari sepasang mata yang indah itu bersinar kemesaraan yang
membuat bulu tengkuk Keng Hong berdiri dan jantungnya berdebar-keras.
"Jangan memberi penghormatan secara berlebihan, Nona. Sudah kukatakan bahwa semua yang
kulakukan bukanlah pertolongan melainkan kewajiban. Sekarang kita harus cepat pergi dari sini.Tempat
ini amat tidak baik dan tidak enak untuk tinggal di sini." Ia memandang ke arah mayat-mayat dan
orang-oran terluka. "Mari kita mencari tempat lain untuk merawat adikmu sampai sembuh."
Ciang Bi mengangguk dan Keng Hong lalu memasuki kuil. Sim Lai Sek, pemuda remaja berusia enam
belas tahun itu, sudah turun demamnya dan hanya masih lemah. Ia tersenyum dan hanya masih lemah. Ia
tersenyum dan wajahnya yang pucat itu menyinarkan kekaguman ketika dia memandang Keng Hong.
"Engkau hebat dan baik sekali......., Taihiap....." katanya lemah. Keng Hong tak menjawab, hanya
membungkuk dan memondongnya sambil berkata.
"Kita harus pergi dan mencari tempat lain."
Pemuda itu kelihatan sungkan. "Aku dapat berjalan sendiri, Taihiap."
"Engkau masih lemah dan kita perlu melakukan perjalanan cepat pergi dari tempat ini," kata Keng Hong
yang segera lari dari kuil itu, diikuti oleh Ciang Bi. Mereka berlari terus keluar dari hutan itu tanpa
bercakap-cakap. Ciang Bi selalu tersenyum dan kaadng-kadang melontarkan kerling penuh kagum dan
bersyukur ke arah pemuda yang memondong adiknya. Keng Hong berlari sambil melamun karena
pikirannya penuh dengan bayangan Biauw Eng yang dia anggap aneh sekali, menolongnya secara
sembunyi-sembunyi dan tidak mau menemuinya.
Karena malam tiba, akhirnya mereka terpaksa menghentikan perjalanan. Untung mereka mendapatkan
sawah ladang yang luas dan di situ terdapat beberpa buah gubuk kecil, tempat para petani berteduh dan
menjaga sawah. Sunyi senyap di tempat itu dan langit amat cerah, biarpun tidak ada bulan malam itu,
namun bintang-bintang memenuhi angkasa dan tidak ada bayangan pohon yang menggelapkan tempat itu.
Keng Hong merebahkan tubuh Lai Sek dalam sebuah gubuk, kemudian dia pergi untuk mencari bahan
makanan untuk mereka, adapun Ciang Bi menjaga adiknya yang masih amat lemah.
"Cici, dia baik sekali....." kata pemuda remaja itu kepada kakaknya setelah bayangan Keng Hong
lenyap ditelan cuaca yang suram.
.
Gadis itu mengangguk, termenung sampai lama kemudian terdengar bisikan adiknya.
"Dia lihai sekali. Murid siapakah dia, Cici? Dari golongan mana?"
Gadis itu menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Seluruh perasaannya terselimut bayangan
Keng Hong, rongga dada dan kepalanya penuh oleh pemuda penolongnya yang amat menarik hatinya itu.
"Aku tidak tahu......, kami belum sampai bicara tentang itu....."
"Eh, mengapa begitu, Cici? kita telah ditolongnya, dibebaskannya dari ancaman maut sampai dua kali,
bahkan dia terus menjaga dan merawatku. Kita harus tahu siapa dia, bagamana keadaannya dan dari
golongan mana. Betapapun juga, budi sebesar ini harus kita balas kelak. Bahkan kita harus melaporkan
kepada suhu agar Hoa-san-pai kelak dapat membalas budinya."
"Sudahlah, kau mengaso Lai Sek. Kulihat dia itu tidak begitu suka untuk diingatkan akan budinya."
"Tetapi..... kau harus bertanya tentang gurunya, partainya......"
Gadis itu menutup mulut adiknya dengan telapak tangannya yang halus. "Akan kulakukan itu, sekarang
minumlah obat ini lebih dulu." Ciang Bi telah membuat api unggun dan memanaskan obat dalam tempat
obat dari tanah yang tadi dibawanya, obat dan tempatnya yang didapat oleh Keng Hong sebelum para
penjahat tadi datang menyerbu.
Lai Sek terpaksa minum obat yang pahit itu dan rasa pahit melenyapkan nafsu bicaranya dan dia mulai
memejamkan matanya. Tubuhnya masih letih sehingga sebentar saja dia tertidur pulas.
Keng Hong datang membawa beberapa buah bakpauw panas dan seguci besar terisi air the yang
dibelinya dari dusun tak jauh dari sawah itu. Ia menawarkannya kepada Ciang Bi dan mereka lalu makan
minum tanpa bicara, menyisihkan bagian Lai Sek agar dapat dimakan pemuda itu kalau sudah bangun.
Kemudian keduanya duduk dekat api unggun.
"Syukur kalau adikmu telah sembuh, Nona," Keng Hong berkata untuk memecahkan kesunyian yang
mencekam sambil memandang wajah jelita itu yang disinari cahaya api unggun kemerahan.
"Berkat pertolonganmu, In-kong."
"Harap kau jangan menyebutku In-kong atau taihiap. Namaku Cia Keng Hong dan sebut saja kakak
kepadaku karena tentu aku lebih tua darimu. Usiaku sudah hampir sembilan belas tahun."
"Kau juga harap jangan menyebut nona. Namaku Sim Ciang Bi dan usiaku delapan belas tahun,
Twako."
Keng Hong tersenyum. "Baiklah, Bimoi (adik Bi). Dan jangan menyebut-nyebut lagi tentang pertolongan,
kau membuat aku menjadi malu saja."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Twako. Engkau telah menolongnya kami enci dan adik,
bolehkah aku mengetahui, dari perguruan manakah engkau? Ilmu kepandaianmu hebat sekali." Gadis itu
memandang kagum, kekaguman yang setulusnya dan yang terbayang sepenuhnya pada pandang mata
yang tajam itu, pada wajah yang jelita itu.
Keng Hong menarik napas panjang. Ia kini sudah cukup kenyang dalam pengalaman pahit apabila orang
mengetahui akan dirinya, mengetahui bahwa dia adalah murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, dan
.
terutama sekali, mengetahui bahwa dia pewaris pedang Siang-bhok-kiam yang oleh seluruh orang
kang-ouw diperebutkan karena mereka itu mengira bahwa pedang itulah kunci tempat penyimpanan
pusaka-pusaka peninggalan gurunya. Karena itu, kini mendengar pernyataan gadis jelita ini, dia enggan
untuk memperkenalkan perguruannya.
"Ah, aku bukan dari perguruan mana-mana, Bi-moi dan sebaiknya aku tidak membawa nama guruku
yang sudah meninggal dunia. Riwayatku tidak menarik, aku seorang sebatangkara, rumah pun tidak
punya. Lebih baik mendengar riwayatmu, Bi-moi, kalau kau tidak berkeberatan. Mengapa engkau dan
adikmu bermusuhan dengan mereka itu? Di mana tempat tinggalmu dan hendak ke mana kalian pergi?"
"Twako, engkau terlalu merendahkan diri. Seoran dengan kepandaian seperti engkau ini tentu datang
dari perguruan yang tinggi dan ternama, atau setidaknya tentu murid seorang yang amat sakati. Akan
tetapi kalau engkau hendak merahasiakannya, aku pun tidak berani memaksa. Tentang aku..... ah, aku
dan adikku hanya murid-murid kecil dari Hoa-san-pai."
Keng Hong teringat akan dua orang tokoh Hoa-san-pai seperti yang dituturkan oleh gurunya, yaitu yang
bernama Coa Kiu dan Coa Bu, dua orang kakek bersaudara yang amat terkenal dan di dunia kang-auw
dijuluki Hoa-san Siang- sin-kiam (Sepasang pedang sakti dari Hoa-san)! Juga dia teringat akan cerita
gurunya akan pengalaman-pengalaman gurunya dimusuhi oleh kaum Hoa-san-pai, yaitu karena gurunya
dahulu pernah mencuri ramuan obat, dan pedang pusaka dari Hoa-san-pai. Bahkan kemudian terdapat
seorang murid wanita Hoa-san-pai yang tergila-gila kepada Sin-jiu Kiam-ong dan melarikan diri bersama
pendekar yang nakal itu! Teringat akan penuturan gurunya, mau tidak mau Keng Hong tersenyum lebar.
"Kenapa engkau tertawa, Twako?"
"Ah, tidak apa-apa, Bi-moi. Hanya aku girang bahwa aku telah bertemu dengan murid Hoa-san-pai
yang telah lama kudengar nama besarnya. Pantas saja ilmu pedangmu amat indah dan hebat!"
"Ihhh, apanya yang hebat?"
Gadis itu memandang penuh kekaguman dan sama sekali tidak menyembunyikan rasa tertarik pada sinar
matanya yang bening. "Engkau lihai luar biasa, engkau baik budi dan manis bahasa, engkau pandai
merendahkan diri dan sekarang ternyata engkau pandai pula memuju-muji orang untuk menyenangkan
hatinya."
"Wah-wah, yang pandai memuji-muji ini aku atau engkau?" Keng Hong tertawa. Melihat pemuda ini
tertawa dan memperlihatkan deretan gigi yang putih dan kuat, gadis itu pun tertawa sambil berkata.
"Kita sama-sama pandai memuji orang. Akan tetapi salahkah itu? Memuji orang berarti menyenangkan
hati orang, dan aku ingin menyenangkan hatimu, Twako, sungguhpun hal itu merupakan balas budi yang
tak ada artinya."
"Sudahlah, Bi-moi. Lebih baik kau ceritakan mengapa kau dan adikmu dimusuhi mereka itu."
Gadis itu menarik napas panjang. "Aaahhh, semua adalah salahku, gara-gara akulah maka terjadi
permusuhan itu....." katanya, kemudian ia bercerita.
Gadis yang bernama Sim Ciang Bi dan adiknya, Sim Lai Sek ini adalah putera dan puteri seorang
sastrawan di kota Liok-keng yang terkenal karena pandai sekali membuat sajak dan melukis, dikenal
dengan sebutan Sim-siucai (sastrawan Sim). Karena banyak mengalami kesengsaraan akibat perang dan
kerusuhan, di mana kepandaian bun (sastra) tak dapat melindunginya, Sim-siucai lalu membawa kedua
.
anaknya itu ke Hoa-san-pai untuk mendidik kedua anaknya dengan ilmu silat, karena siucai ini
berpendapat bahwa dalam jaman perang dan kerusuhan itu ilmu silat lebih berguna daripada ilmu sastra.
Dengan demikian, Ciang Bi yang ketika itu berusia tiga belas tahun sedangkan Lai Sek berusia sebelas
tahun menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Selama lima tahun mereka berdua belajar ilmu silat. Setelah
pimpinan Hoa-san-pai merasa bahwa mereka sudah memiliki kepandaian cukup untuk menjaga diri,
apalagi mengingat bahwa Ciang Bi sudah menjadi seorang gadis dewasa berusia delapan belas tahun dan
sudah sepatutnya berada di rumah orang tua sendiri untuk kemudian berumah tangga, dua orang anak
murid Hoa-san-pai ini disuruh pulang ke tempat tinggal mereka.
Ketika mereka berdua melakukan perjalanan sampai di dusun Ciang-chung, kecantikan wajah Ciang Bi
menimbulkan urusan besar. di sebuah dusun lain yang tak jauh dari Ciang-chung tinggal seorang kepala
kampung yang menjadi raja kecil di dusun itu, bahkan kekuasaan dan pengaruhnya sampai menjalar ke
dusun-dusun lain di dekatnya, termasuk Ciang-chung karena kepala-kepala kampung lain dusun tidak
ada yang berani menentangnya. Kepala dusun ini bernama Bong-chung-cu (Lurah Bong) dan mempunyai
seorang putera tunggal bernama Bong-cit yang terkenal jahat, mata keranjang dan suka membawa
kehendak sendiri mengandalkan kedudukan ayahnya dan mengandalkan kekuatan pasukan tukang
pukulnya yang terdiri dari buaya-buaya darat yang pandai ilmu silat. Ketika Bong Cit mendengar akan
kecantikan seorang gadis bersama adiknya yang memasuki dusun itu, segera bersama anak buahnya
Bong Cit mengejar ke Ciang-chung, menemui gadis cantik itu dan menggodanya dengan ucapan-ucapan
yang tidak sopan.
Tentu saja Ciang Bi dan adiknya menjadi marah dan menghajar para tukang pukul itu sehingga mereka
bersama majikan muda mereka lari tunggang-langgang. Akan tetapi, tidak lama kemudian datang lagi
pasukan tukang pukul yang lebih banyak jumlahnya, lalu mengeroyok Ciang Bi dan adiknya. Pasukan
tukang pukul ini ternyata cukup kuat sehingga hampir saja Ciang Bi dan adiknya celaka kalau saja tidak
muncul Keng Hong yang menghajar mereka..
"Demikianlah, Twako. Sungguh aku merasa malu sekali bahwa biarpun ayah telah mengirim aku dan
adikku belajar selama lima tahun di Hoa-san-pai, ternyata baru pertama kali bertemu dengan penjahat
saja sudah hampir celaka. Masih baik nasibku dapat bertemu dengan seorang pendekar gagah perkasa
seperti engkau. Kalau saja kepandaianku setinggi kepandaianmu, tentu akan kucari jahanam Bong Cit itu
dan kulenyapkan dari dunia. Manusia macam dia itu merupakan ancaman bagi keselamatan gadis-gadis
di kampung sekeliling tempat itu."
Keng Hong mengangguk-angguk. "Aku tidak dapat terlalu menyalahkan dia."
"Apa maksudmu?"
"Siapa orangnya yang takkan tergila-gila melihat engkau, Bi-moi. Engkau terlalu cantik jelita dan manis,
membuat hati pria menjadi jungkir balik!"
Tiba-tiba wajah yang cantik itu menjadi merah sekali, bibir yang mungil itu tersenyum ditahan, matanya
mengerling malu-malu. "Ihhh, engkau juga.... mata keranjang dan...... dan kurang ajar .....? Sukar
dipercaya.....!"
Keng Hong tertawa lirih dan menggeleng-geleng kepalanya, pandang matanya secara jujur menatap
wajah itu dengan kekaguman. "Apakah artinya mata keranjang, Bi-moi? Menurut mendiang suhu, wanita
itu seperti bunga yang indah. Wanita mana yang tidak selalu berusaha untuk mempercantik diri? Untuk
apa semua usaha itu? Tentu aga kelihatan cantik dan menimbulkan rasa kagum di hati pria. dan sudah
menjadi hak setiap orang pria untuk mengagumi kecantika wanita. Semua pria tentu saja suka melihat
kecantikan wanita, kecuali mereka yang munafik, kalau ada wanita cantik pura-pura menundukan muka
.
padahal matanya mengerling! Di lahirnya tidak pura-pura tidak suka akan tetapi diam-diam
merindukannya! Semua pria suka akan wanita cantik, sedikitnya suka memandang dengan kagum seperti
orang mengagumi setangkai bunga yang cantik dan indah. Semua wanita suka untuk dikagumi pandang
mata pria, biarpun banyak yang berpura-pura marah dan membenci. Padahal disudut hatinya, Wanita
mana yang tidak suka dipandang dengan kagum? Tentang kurang ajar, harap jangan keliru sangka,
Bi-moi. Pria yang mana saja boleh memandang kagum akan kecantikan wanita yang mana saja, akan
tetapi kalau melakukan perbuatan yang lebih daripada ini, yaitu ingin mengganggu dengan perbuatan,
barulah jahat dan tidak baik. Seperti juga setiap orang boleh mengagumi setangkai bunga, akan tetapi
untuk berlancang tangan untuk memetiknya adalah perbuatan tidak benar karena bunga itu tentu ada yang
memilikinya. Kalau aku menyatakan dengan sejujurnya apa yang terpikir olehku, itu bukan kurang ajar
namanya, Bi-moi. Aku memandangmu dengan kagum karena memang hatiku kagum akan kecantikanmu,
aku menyatakannya dengan mulut bahwa engkau cantik jelita dan manis, bukan berarti kurang ajar."
Makin merah wajah Ciang Bi dan gadis itu menunduk. akan tetapi ia tidak marah, bahkan jantungnya
berdebar karena..... girang! Memang tepat sekali ucapan yang didengarnya. Dia suka akan pujian
mengenai kecantikannya, apalagi kalau pujian itu keluar dari mulut seorang pemuda yang dikaguminya!
Kalau dia sampaui bermusuh dengan Bong Cit adalah karena pemuda she Bong itu mengeluarkan
kata-kata kotor dan kemudian hendak menangkapnya.
"Kau.... kau terlalu jujur dan blak-blakan, Twako......" akhirnya dengan lirih Ciang Bi berkata. "kau
membikin aku menjadi..... menjadi malu...."
Keng Hong tertawa dan memandang wajah yang ayu itu. Sinar merah api ungun membuat bentuk wajah
itu menjadi gemilang dan tampak jelas garis-garisnya, seperti garis-garis daun bunga mawar dengan
lekuk-lengkungnya yang tak lebih tak kurang, tepat dan cocok, serasi pada tempatnya, membuat mata
tidak bosannya memandang dan mengaguminya. "Salah siapakah, Bi-moi? Salahkah mata ini kalau
melihat wajah yang cantik dan indah, sedap dipandang tak membosankan? Ataukah pemilik wajah itu
sendiri yang salah mengapa wajahnya cantik? Kalau salah mataku, biarlah mulai sekarang aku akan
meramkan mata kalau bicara dan berhadapan denganmu agar aku jangan dapat melihat wajahmu!
Sebaliknya, kalau salah wajahmu mengapa begitu cantik, biarlah mulai sekarang kau menutupi wajahmu
dengan saputangan atau dengan kedok yang buruk agar mataku tidak dapat mengagumimu. Bagaimana?"
Gadis itu tersenyum lebar, menekan diri agar tidak tertawa terkekeh, dan pandang matanya
bersinar-sinar ditujukan kepada wajah pemuda yang makin menarik hatinya itu. pemuda yang perkasa,
yang telah menyelamatkan nyawanya dan nyawa adiknya, yang ramah-tamah, yang telah melepas budi
namun selalu merendahkan diri, yang amat tampan dan memiliki sepasang mata yang seolah-olah dapat
menembus dadanya dan menjenguk isi hatinya, yang kini bahkan memuji-mujinya dengan kata-kata
merayu-rayunya!
"Wah......., Hong-ko...... engkau benar-benar pandai merayu hati! Hong-ko.....' apakah
sesungguhkah....... kau menganggap aku cantik dan....... dan apakah engkau,.......... suka kepadaku?"
Gadis itu memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan ini yang keluar dari lubuk hatinya, dan dia
diberanikan oleh sikap dan kata-kata Keng Hong yang selalu terbuka dan jujur blak-blakan itu.
Keng Hong tersenyum lebar. "Pria yang manakah di dunia ini yang tidak akan merayu wanita cantik
seperti seekor kumbang menari-nari dan menyanyi di atas setangkai bunga? Kaum cendekiawan, kaum
sastrawan selalu merayu segala keindahan dengan kata-kata indah yang dirangkai dalam bentuk
sajak-sajak sehingga terciptalah sajak-sajak abadi yang menyanjung keindahan bunga dan kecantikan
wanita! Tentu saja aku merayumu dengan kata-kata indah sedapatku, Bi-moi, karena memang engkau
cantik dan patut menerima rayuan dan sanjungan pria yang manapun juga di dunia ini. Kau bertanya
apakah aku suka kepadamu? Aduh, Bi-moi, perlukah ditanya lagi? Tiada seekor pun kupu-kupu atau
.
kumbang yang tidak suka akan kembang! Tiada seorang pun pria yang tidak suka akan seorang wanita
cantik, kecuali kalau pria itu tidak normal atau....... banci!"
Gadis itu kembali menekan perutnya karena geli, akan tetapi mulutnya bertanya, "Banci? Apakah itu?
Manusia atau binatang?"
Keng Hong menggelengkan kepalanya. Semua ucapan yang keluar dari mulutnya tadi hanyalah tiruan
saja dari ucapan suhunya dan dia sendiri pun tidak tahu apa itu yang disebut banci. Maka dia pun hanya
mencontoh jawaban suhunya ketika dia bertanya tentang banci. "Banci itu bisa manusia bisa binatang,
akan tetapi yang pasti dia itu bukan pria dan bukan pula wanita, atau boleh juga disebut bahwa dia itu
dapat menjadi pria maupun wanita!"
"Eh....., aku menjadi bingung. Bagaimana sih jelasnya?"
"Jelasnya...... aku sendiri pun tidak tahu karena selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan
seorang banci!"
"Engkau belum menjawab pertanyaanku, Hong-ko, apakah engkau suka kepadaku?"
"Sudah kukatakan tadi, mana ada kumbang tidak suka akan kembang?"
"Engkau bukan kumbang!"
"Hanya kiasan, Bi-moi, kuumpamakan diriku seekor kumbang dan engkau setangkai kembang.
Kumbang takan pernah jemu untuk berdendang memuji kecantikan kembang, takkan jemu-jemu
membelai dan menciumnya......"
Wajah Ciang Bi menjadi makin merah, kepalanya menunduk, jantung berdebar keras dan jari-jari
tangannya menggigil. Keng Hong yang melihat jari tangannya mengigil itu, jari-jari tangan yang kecil dan
bentuknya meruncing, dengan kuku-kuku jari yang halus bersih terpelihara, tanpa disadarinya telah
menggeser duduknya mendekat, kmudian dengan hati-hati dia memegang tangan itu.
"Tanganmu gemetar, Moi-moi...... dan agak dingin. Mengapa?"
Memang ada getaran keluar dari tangan Ciang Bi, getaran sebagai akibat denyut jantungnya, juga akibat
perasaannya. Dia merasa berbahagia, terharu dan juga...... takut! Semua perasaan ini bergelut dengan
rasa suka di hatinya, memdatangkan kemesraan sehingga tanpa disadarinya pula jari tangannya membalas
sentuhan pemuda itu dan jari-jari tangan mereka saling meremas.
"Hong-ko...... kalau kau menjadi kumbangnya.......aku suka menjadi kembangnya......." Suara Ciang Bi
juga gemetar, napasnya agak terengah karena hatinya berguncang. Keng Hong tersenyum girang, lalu
dengan tangan kirinya ia meraba ragu yang halus itu, mengangkat muka cantik itu sehingga mereka
berpandangan dan dia bertanya.
"Bi-moi cintakah engkau kepadaku?" Pertanyaan yang langsung seperti tusukan sebatang pedang yang
meruncing. Suhunya dahulu selalu menceritakan segala pengalamannya di waktu muda diselingi
nasihat-nasihat tentang wanita. Nasihat yang dia masih ingat dan kini dia praktekan terhadap Ciang Bi
adalah begini : "Jangan sekali-kali memaksa wanita untuk melayani cintamu dan jangan sekali-kali jatuh
cinta karena sekali jatuh, engkau akan terikat dan kesengsaraan akan timbul. Lebih baik tanya terus
terang apakah wanita itu mencintaimu dan jangan menolak cinta kasih wanita, kalau engkau tertarik
kepadanya tentu aja!"
.
Nasehat inilah yang teringat oleh Keng Hong ketika dia secara tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang
langsung itu kepada Ciang Bi. Tentu saja gadis itu menjadi malu sekali untuk menjawab. Namun karena
hati Ciang Bi sudah terpikat, baik oleh ketampanan wajah, kelihaian, maupun budi bahasa pemuda itu, ia
makin menunduk dan menjawab lirih seperti bisikan, "Dengan seluruh jiwa ragaku, Koko....."
Tangan mereka makin erat saling meremas dan terdengar Keng Hong berkata, juga secara blak-blakan,
"Juga masih mencintaku biarpun aku kelak tak mungkin kelak menjadi suamimu?"
Ciang Bi mengangkat mukanya menandang, wajahnya menjadi pucat, akan tetapi kemudian menjadi
merah kembali dan ia menjawab, "Apa kaukira sikapku ini merupakan perangkap untuk menjebak
seorang calon suami?"
Keng Hong tertawa, menarik lengan gadis itu yang dengan lemas menurut saja sehingga rebah dalam
pelukan pemuda yang amat dikaguminya itu. Keng Hong sebetulnya adalah seorang pemuda yang baru
berusia delapan belas tahun masih hijau dan bvelum ada pengalaman sama sekali mengenai pergaulan
dengan wanita. Akan tetapi, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, seorang "jagoan" besar,
bukan hanya mengenai ilmu silat akan tetapi juga mengenai ilmu menjatuhkan hati wanita, sedikit banyak
Keng Hong ketularan penyakit itu. Sering kali suhunya bercerita tentang petualangan-petualangan
cintanya di masa muda, bahkan memberinya nasihat-nasihat tentang wanita, mengajarkan "tehnik-tehnik"
merayu wanita, sehingga biarpun pada dasarnya Keng Hong tidak berbakat menjadi seorang laki-laki
mata keranjang dan hidung belang, namun watak suhunya menular dan dia menjadi seorang pemuda yang
lebih berani menghadapi wanita daripada pemuda-pemuda lain sebaya dengannya. Apalagi setelah dia
berjumpa dengan Ang-kiam Tok-sian-li Bhi Cui Im dan remajanya gugur oleh wanita cabul yang cantik
itu, pengalaman ini menambah keberaniannya menghadapi Ciang Bi. Hanya ada satu hal yang
menguntungkan bagi batin Keng Hong, yaitu bahwa dia amat taat kepada pesan-pesan suhunya sehingga
betapapun terpupuk dan bangkit selera dan nafsunya untuk berdekatan dan bermain cinta dengan wanita,
namun seperti suhunya, memaksa dan memperkosa wanita merupakan pantangan mutlak baginya. Kalau
ada wanita suka kepadanya, dia akan melayaninya. Akan tetapi betapapun cantik seorang wanita dan
betapapun tertarik hatinya, kalau wanita itu tidak suka kepadanya, dia tidak akan menyentuh seujung
rambutnya.Ketaatan ini menguntungkan Keng Hong sendiri dan para wanita, karena andaikata tidak,
tentu dia akan tersesat menjadi seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) atau tukang pemerkosa
wanita yang berbahaya sekali!
Mendengar jawaban gadis itu, Keng Hong tertawa, merangkul lehernya dan menundukan muka. Mereka
berciuman dan biarpun keduanya belum berpengalaman dalam bermain cinta, namun karena didorong
hati yang mencinta, mereka berciuman mesra.
"Hong-ko...." Ciang Bi merintih, tubuhnya mengetar, semua bulu di tubuhnya meremang ketika kedua
lengannya merayap seperti ular melingkari leher pemuda perkasa yang menjatuhkan hatinya itu.
"Bi-moi...... engkau jelita sekali......" Keng Hong juga berbisik di dekat telinga gadis itu dan kembali
mereka berdekapan dan berciuman mesra.
Cinta adalah perasaan yang dimiliki oleh setiap mahluk di dunia, setiap mahluk yang hidup wajar sesuai
dengan kodrat dan kekuasaan alam. Cinta bukan merupakan sesuatu yang kotor dan bukan merupakan
hal yang tak patut dibicarakan. Sebaliknya daripada itu! Cinta antara pria dan wanita adalah hal yang
amat wajar, merupakan anugrah dari Tuhan, merupakan dorongan alamiah yang tak dapat dibantah,
bahkan tak dapat dihindarkan dan tak dapat dibuang karena cinta ini pula yang membuat manusia masih
berlangsung ada di dunia ini, berkembang biak dan mencipta generasi demi generasi. Karenanya, cinta
adalah bersih dan murni, tidak kotor dan bukannya tidak patut dibicarakan, bahkan seharusnya
.
dibicarakan agar tidak disalah gunakan.
Biarpun cinta antaralawan kelamin merupakan kodrat dan dimiliki oleh setiap mahluk, dari yang terkecil
sampai yang terbesar, namun karena manusia adalah mahluk yang berakhlak dan berakal budi, maka
tidaklah dapat disamakan dengan mahluk lain yang dalam hal cinta kasih semata-mata menurut dorongan
kodrat belaka. Cinta antara pria dan wanita diciptakan oleh kodrat dan pembawaan yang sudah ada
pada setiap mahluk yaitu daya tarik yang ada di antara lawan kelamin. Tanpa diberi tahu, tanpa membaca
buku, jika masanya sudah tiba sesuai dengan usianya, seorang pemuda akan tertarik melihat seorang
pemudi, dan sebaliknya. Rasa tertarik ini menimbulkan suka yang disebut cinta, kasih atau asmara. Tidak
berhenti sampai di situ saja. Cinta antara pria dan wanita yang normal diikuti oleh bangkitnya nafsu berahi
yang wajar, diikuti pula oleh hubungan kelamin yang juga sudah wajar. Segala macam mahluk di dunia ini,
kecuali manusia, akan melakukan hal ini, yaitu saling tertarik dan saling mendekati, menurut nafsu berahi
melakukan hubungan kelamin. Adakah seorang pun dapat mengatakan bahwa perkembangan dan
perbuatan itu kotor dan tidak patut ? Sama sekali tidak!
Akan tetapi, sekali lagi ditekankan bahwa manusia bukanlah sembarangan mahluk! Tanpa berunding
lebih dulu, manusia seluruh dunia ini telah membangun dan mendirikan mercu suar di antara segala mahluk
yang disebut peradaban yang melahirkan prikemanusiaan! Prikemanusiaan inilah yang melahirkan
hukum-hukum yang dibuat oleh manusia sendiri, disesuaikan dengan rasa, dengan kebiasaan, dan dengan
kepercayaan golongan masing-masing. Lahir pula hukum-hukum susila yang melarang pria dan wanita
melakukan hubungan kelamin di luar pengesahan hukum. Terciptalah istilah-istilah dan sebutan bagi
perbuatan-perbuatan yang melanggar garis yang ditentukan ini, misalnya perjinaan, perkosaan dan
lain-lain. Cintanya itu sendiri, nafsu berahinya itu sendiri, dan hubungan kelamin itu sendiri tetap brsih dan
murni, bukanlah hal yang tidak patut. Hanya perbuatan melanggar garis hukum itulah yang tidak patut,
karena sudah tahu ada garis tetap dilanggar sehingga tentu saja menimbulkan pertentangan-pertentangan.
Keng Hong adalah seorang pemuda yang kurang pengalaman. Dia bertumbuh menjadi dewasa dalam
asuhan seorang aneh seperti Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi gurunya. Dan semenjak dia masih muda,
Sin-jiu Kiam-ong sudah meninggalkan dan tidak lagi mengindahkan gari-garis hukum buatan manusia ini.
Dia melakukan apa saja yang dia anggap benar, biarpun itu melanggar hukum manusia dan sebaliknya dia
tidak akan melakukan hal yang dianggapnya tidak benar, biarpun hal itu dibenarkan hukum. Maka
timbulah perbuatan-perbuatannya yang menggemparkan karena tidak cocok dengan hukum manusia lain,
permainan cinta dengan banyak wanita yang tertarik oleh ketampanandan kegagahannya,
pencurian-pencurian dan perampasan-perampasan benda-benda pusaka, pertolongan-pertolongan tanpa
melihat bulu, dan pertentangan-pertentangan lain yang mengakibatkan dia dimusuhi orang-orang gagah
sedunia!
Watak aneh Sin-jiu Kiam-ong yang pada hakekatnya seorang pendekar yang sakti dan berjiwa besar itu
hanyalah akibat. Akibat dari kepatahan hati. Di waktu masih muda, baru berusia dua puluh dua tahun dan
baru saja menikah dua tahun dengan seorang wanita yang cantik jelita, masih belum mempunyai
keturunan, pada suatu malam pendekar muda yang sakti ini, yang baru pulang dari perantauan selama
sebulan, menemukan istrinya yang tercinta itu sedang melakukan hubungan kelamin dengan seorang pria
lain, sahabat baiknya sendiri! Tadinya Sin-jiu Kian-ong Sie Cun Hong marah sekali dan hampir saja dia
meloncat masuk dan serta-merta membunuh istrinya dan sahabatnya itu, yang dalam keadaan seperti itu
tidak tahu bahwa perbuatan mereka ditonton oleh Sie Cun Hong yang mengintai di luar jendela kamar.
Akan tetapi tiba-tiba pkiran yang aneh menyelinap dalam benaknya. Kekecewaan dan pukulan batin
yang amat hebat agaknya telah membuat jalan pikirannya Sie Cun Hong menjadi tidak normal, tidak
lumrah seperti manusia biasa, bahkan menjadi berlawanan dengan pendapat umum! Pada saat itu, timbul
pendapat dihatinya bahwa tidak perlu dia marah karena kalau istrinya sampai mau melakukan hubungan
kelamin dengan pria lain, tentu ini didasari hati suka kepada si pria itu. Mengapa dia akan melarang orang
yang mencinta? Kedua orang itu, biarpun istrinya dan sahabatnya namun tetap orang, saling mencinta dan
.
menumpahkan rasa cinta mereka dalam hubungan kelamin. Mengapa dia harus marah dan membunuh
mereka? Sie Cun Hong tertawa, suara ketawanya meninggi dan melengking sehingga mengejutkan
istrinya dan sahabatnya yang sudah mengakhiri perbuatan mereka. Isterinya terkejut setengah mati, juga
sahabatnya, sehingga kedua orang ini dengan tubuh menggigil menjatuhkan diri berlutut di atas lantai dan
memejamkan mata, siap menanti datangnya maut karena mereka kenal suara ketawanya di luar jendela
itu turun tangan, mereka berdua takkan dapat tertolong lagi. Akan tetapi Sie Cun Hong tidak pernah lagi
memasuki kamarnya itu, bahkan tidak pernah lagi berjumpa dengan bekas isterinya dan bekas
sahabatnya.
Peristiwa itulah yang menjadi sebab munculnya seorang pendekar aneh yang menggegerkan dunia
persilatan. Sie Cun Hong melakukan hal-hal yang bagi manusia biasa dianggap jahat dan keji, tidak
lumrah dan dia dikutuk oleh banyak tokoh kang-ouw. Bermain cinta dengan wanita manapun juga,
bahkan wanita-wanita yang telah menjadi isteri orang lain, kalau dasarnya suka sama suka, dia tidak
segan melakukannya. Banyak sekali wanita yang tergila-gila kepadanya karena memang di waktu
mudanya Sie Cun Hong merupakan seorang pria yang gagah perkasa dan tampan.
Kini Sie Cun Hong sudah tidak ada lagi akan tetapi dia mewariskan seluruh miliknya kepada murid
tunggalnya, yaitu Cia Keng Hong. Seluruh sinkangnya dia berikan, seluruh pusakanya dia tinggalkan
untuk muridnya, bahkan sebagian wataknya dia wariskan sehingga kini, dalam usia delapan belas tahun,
Keng Hong telah melayani nafsu berahi Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im, dan sekarang, untuk kedua
kalinya dia bermain cinta dengan seorang gadis Hoa-san-pai yang mengaguminya dan jatuh hati
kepaadnya. Kalau gurunya tidak peduli akan hukum susila karena pernah patah hati menyaksikan
isterinya berjina dengan sahabatnya, adalah Keng Hong melakukan hal itu semata-mata karena dia
menganggap hal itu wajar dan benar, sesuai dengan nasehat-nasehat mendiang gurunya! Dia tidak
memperkosa, dia tidak memaksa, dia dan Ciang Bi sama-sama mau, cocok sudah dengan pesan
suhunya, maka tentu saja hal itu sudah benar dan baik!
Sim Ciang Bi, gadis remaja yang dikuasai nafsu berahinya sendiri, sudah seperti mabuk dan buta bahwa
dia telah melakukan pelanggaran garis hukum. Lupa bahwa garis hukum susila itu diadakan oleh manusia
semata-mata untuk melindungi dan membela nasib hidup dan kebahagiaan wanita. Lupa bahwa hubungan
kelamin di luar pernikahan, si wanitalah yang akan menanggung akibat-akibat pahit getir, bahkan yang
akan dapat menyeretnya kelembah kesengsaraan, mungkin ke lembah kehinaan. Manusia tidak dapat
membebaskan diri daripada hukum-hukum manusia yang sudah tersusun dan bertumpuk ribuan tahun
lamanya. Apalagi, dalam hukuman kelamin, alam sendiri sudah menjatuhkan kodrat bahwa si wanitalah
yang akan menderita akibatnya, yaitu kehamilan. Setiap orang gadis yang bijaksana, yang sadar betapa
satu kali saja salah langkah melanggar garis hukum kesusilaan ini dapat mengakibatkan malapetaka
sepanjang hidup, akan selau pandai mengekang nafsu , pandai menjaga diri tidak terseret oleh gelombang
yang memabukan, tentu akan menjaga kesusilaan dan kehormatanya yang dia junjung lebih tinggi dan
berharga daripada nyawa! Kehilangan nyawa hanya berarti mati. Akan tetapi kehilangan kehormatan
sebagai gadis ternoda, berarti akan hidup terhina oleh manusia-manusia lain yang sudah melekatkan
batinnya pada hukum.
Dua orang yang tenggelam dalam lautan kasih asmara itu tidak sadar bahwa Sim Lai Sek menjulurkan
kepalanya keluar dari gubuk. Pemuda remaja ini pada tengah malam terbangun dari tidurnya dan
menggerakan tubuh, menjenguk keluar gubuk.Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika dia
menyaksikan keadaan cicinya dan penolong mereka itu di atas rumput, di dekat api ungun. Sejenak dia
terbelalak, mukanya berubah mereh, akan tetapi dia lalu menarik diri lagi rebah di dalam gubuk,
napasnya agak terengah dan diam-diam dia menangis, berdoa semoga cicinya yang telah tersesat itu akan
menjadi isteri yang sah dari Cia Keng Hong. Mengingat ini, lenyaplah kemarahan dan kedukaannya,
terganti rasa girang karena dia memang suka sekali dan kagum kepada penolongnya yang demikian
gagah perkasa. Kalau dia dapat mempunyai Cihu (kakak ipar) seperti itu, alangkah senangnya dan dia
.
akan memperdalam ilmu silatnya, belajar dari cihunya. Kelegaan hati inilah yang membuat Lai Sek
tertidur kembali, lupa akan perutnya yang lapar.
Lewat tengah malam, Keng Hong tertidur nyenyak, sedangkan Ciang Bi pulas pula di atas dadanya.
Mereka tidur berdekapan, pipi Ciang Bi terletak di atas dada Keng Hong, rambut gadis itu terurai lepas
menutupi dada, leher dan sebagian muka Keng Hong. Mereka berdua tidur dengan nikmat, karena
badan lelah hati bahagia, sehingga tidak sadar dan tidak tahu bahwa tak jauh dari tempat itu tampak
sepasang mata yang bening dan jeli memandang ke arah mereka dengan sinar berkilat-kilat. Muklut yang
manis dengan bibir merah itu bergerak- gerak, tampak giginya berderet rapi putih seperti mutiara.
Kemudian, tangan yang halus itu merogoh kantong dalam baju, mengambil sesuatu, tangan digerakan dan
sinar putih meluncur ke arah Ciang Bi yang masih tidur pulas berbantal dada Keng Hong
Jerit melengking yang keluar dari mulut Ciang Bi adalah jerit kematian, dan bayangan putih itu berkelebat
cepat sekali, lenyap ditelan kegelapan malam. Keng Hong tersentak bangun, otomatis lengannya
memeluk leher Ciang Bi. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangannya menjadi basah oleh
darah yang mengucur keluar dari pelipis itu! Di bawah sinar api unggun yang masih menyala sedikit, dia
memandang dan kerongkongannya serasa dicekek ketika dia melihat sebuah benda bulat berduri
menancap di pelipis gadis itu. Senjata rahasia Biauw Eng yang tadi telah menolongnya merobohkan
pengeroyokan para penjahat. Kini sebuah di antara senjata rahasia itu menancap di pelipis kiri Ciang Bi,
merenggut nyawa dari tubuh yang masih hangat itu.
"Biauw Eng......!" Seruan Keng Hong ini seperti jerit tangis dan setelah dia merebahkan tubuh yang
masih hangat dan tak bernyawa lagi itu di atas tanah bertilam rumput yang juga hangat dan rebah semua
karena tindihan tubuh mereka berdua semalam, dia meloncat dan mencari-cari dengan pandang matanya.
Namun keadaan di sekeliling tempat itu sunyi dan agak gelap. Ia maklum bahwa akan percuma saja dia
mencari Biauw Eng. Maka dia lalu berlutut lagi dan memeluk tubuh gadis yang semalam telah
menyerahkan segala-galanya kepadanya dengan penuh kasih sayang, penuh kemesraan dan kehangatan.
"Ciang Bi...... ahhh, Bi-moi.......!" Keng Hong teringat akan sikap gadis ini semalam dan dengan hati
penuh keharuan dia menundukan muka dan mencium mulut mayat itu yang semalam membisikan
kata-kata cinta kepadanya.
"Cici.......! Cia-taihiap, ada apakah........??" Sim Lai Sek melompat keluar dari gubuk, matanya yang
masih mengantuk itu belum dapat melihat jelas, hanya dia tadi terbangun mendengar jerit cicinya.
Keng Hong mengangkat mukanya dan dua titik air mata menetes turun. Kini Lai Sek dapat melihat
pelipis cicinya dan melihat pula darah membasahi leher dan baju, melihat bahwa tubuh cicinya telah lemas
tak bernyawa.
"Cici.......!!" Ia menubruk, berlutut dan menangis, memanggil-manggil nama cicinya. Keng Hong hanya
memandang dengan penuh keharuan lalu memegang pundak pemuda itu sambil berkata halus.
"Dia....... sudah mati........"
Tiba-tiba Lai Sek meloncat bangun. Tangan Keng Hong yang menyentuh pundaknya itu terasa olehnya
seperti serangan seekor ular berbisa.
"Kau.....! kau....... telah membunuh cici.......! kau........ telah berpura-pura menjadi pendekar berbudi
yang menolong kami, merayu cici, memperkosanya..... kemudian membunuhnya.......!" Sim Lai Sek
menerjang maju dengan pukulan tangannya ke arah kepala Keng Hong, akan tetapi sekali tangkis,
tubuhnya terpelanting ke atas tanah. Akan tetapi dia bangkit kembali dengan kemarahan meluap.
.
"Sabar dan tenanglah, siauwte. bukan aku yang mmbunuhnya. Lihat, pelipisnya terluka oleh senjata
rahasia........."
"Aku tahu! Senjata rahasia ini adalah senjata rahasia wanita yang menolongmu. Dia tentu sahabatmu,
atau...... kekasihmu! Tentu dia melihat engkau merayu dan memperkosa cici, lalu dia membunuh cici.
Sama saja, berarti engkau yang telah membunuh ciciku, keparat!" Lai Sek menerjang lagi dan Keng
Hong terpaksa meloncat pergi. Ia tidak dapat membantah lagi karena omongan atau tuduhan itu
mendekati kenyataan. Hanya dia tidak merasa memperkosa Ciang Bi dan baru sekarang dia tahu bahwa
agaknya pemuda remaja ini malam tadi telah melihat dia bermain cinta dengan Ciang Bi! Memang dugaan
itu tidak salah. Dia sendiri merasa yakin kini bahwa Biauw Eng membunuh Ciang Bi karena cemburu.
Bukankah puteri Lam-hai Sin-ni itu terang-terangan menyatakan bahwa gadis itu mencintainya? agaknya
Biauw Eng terus mengikutinya, membantunya merobohkan para pengeroyok dan tadi melihat dia bermain
cinta dengan Ciang Bi, lalu datang pada saat dia pulas dan membunuh Ciang Bi. Memang bukan dia yang
membunuh, namun sudah jelas gadis ini tewas karena dia!
"Siauwte, aku menyesal sekali......... akan tetapi demi Tuhan, aku tidak bermaksud mencelakakannya.
Bukan aku yang membunuhnya dan...... sekiranya aku tidak sedang tidur pulas, tentu aku dapat
melindunginya....... akan tetapi.........."
"Laki-laki laknat! Jai-hwa-cat! Setelah memperkosa cici, engkau bisa saja bicara seenakmu! Engkau
suah mempunayi kekasih yang bersenjata bola putih itu! Akan tetapi engkau masih merayu enciku! Hayo
katakan, apakah engkau berniat mengawini enciku? Apakah engkau berniat mengambil dia sebagai
isteri?"
Keng Hong menghela napas dan menggeleng kepala. Urusan ini amat pelih dan tidak boleh dia
main-main dan membohong. "Tidak, kami memang saling suka dan hubungan cinta kami dilakukan
dengan kesadaran kami berdua, dan aku sudah menjelaskan kepada Bi-moi bahwa aku tidak dapat
menjadi suaminya......."
"Keparat! Jahanam! Sudah kuduga seperti itu! Kalau aku tahu tentu malam tadi sudah kuremukan
kepalamu!" Lai Sek kembali berteriak-teriak dan menerjang maju. Keng Hong merasa bingung dan
berduka sekali. Ia maklum bahwa tidak mungkin dia dapat menenangkan dan menyabarkan hati pemuda
yang sedang diamuk kemarahan dan kesedihan itu, maka dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri, pergi
dari tempat itu. Jalan satu-satunya yang paling baik hanyalah menjauhkan diri pada saat seperti itu.
Perhitungannya memang tepat. Setelah maklum bahwa tak mungkin mengejar Keng Hong yang tingkat
kepandaiannya jauh lebih tinggi, Lai Sek kembali berlutut dan menangisi jenazah kakaknya dengan sedih.
Setengah malam dia menangis sampai matahari muncul dan penduduk dusun pergi ke sawah ladang. Para
penduduk terheran dan terkejut, apalagi setelah mendengar dari pemuda itu bahwa kaka perempuan
pemuda itu terbunuh oleh penjahat malam tadi. Mereka menaruh kasihan dan beramai-ramai mereka itu
membantu Lai Sek mengurus jenazah Ciang Bi dan menguburnya di tanah pekuburan dusun itu secara
sederhana.
Pada keesokan harinya, ketika malam sedang gelap, sesosok bayangan hitam datang ke dalam tanah
kuburan itu dan berlutut di depan gundukan tanah yang masih baru. Bayangan ini menangis dan dia bukan
lain adalah Keng Hong! Sampai semalam dia berkabung dengan penuh kedukaan di depan kuburan itu,
dan baru pada keesokan harinya dia meninggalkan kuburan baru itu, pergi secepatnya meninggalkan
dusun di mana Ciang Bi dimakamkan, meninggalkanya akan tetapi membawa pergi kenangan sedih yang
takkan pernah dapat terlupakan. Hatinya penuh kedukaan, bukan semata karena kematian Ciang Bi,
akan tetapi yang lebih daripada itu, adalah karena kekejaman Biauw Eng! Ia suka kepada Biauw Eng,
.
perasaan suka yang aneh dan berbeda kalau dibandingkan dengan rasa suka kepada wanita lain seperti
kepadaCui Im dan Ciang Bi, suka bukan semata karena kecantikan gadis puteri Lam-hai Sin-ni itu,
melainkan karena pribadinya, dan mungkin sekali karena dia mengingat bahwa gadis itu adalah puteri
suhunya, puteri Sin-jiu Kiam-ong! Inilah agaknya yang membuat dia merasa suka kepada gadis itu, dan
kini kenyataan betapa puteri suhunya itu berhati kejam seperti iblis, membunuh Ciang Bi yang sama sekali
tidak berdosa, benar-benar mendatangkan rasa duka di hatinya di samping rasa marah terhadap Biauw
Eng.
Keng Hong melakukan perjalanan cepat, tujuannya adalah Kun-lun-san karena dia ingin kembali ke
Kiam-kok-san, yaitu puncak dimana terdapat batu pedang temapt suhunya menggemblengnya selama
lima tahun. Dia harus pergi ke sana, mengambil pdang Siang-bhok-kiam yang memang dia sembunyikan
di puncak Kiam-kok-san! Ketika dia turun gunung setelah tidak berhasil mencari rahasia penyimpanan
barang-barang pusaka gurunya, dia maklum akan bahayanya kalau dia membawa Siang-bhok-kiam turun
gunung, maka dia lalu membuat sebuah pedang tiruan, pedang dari kayu harum pula yang dia dapatkan di
puncak, pedang yang mirip dengan Siang-bhok-kiam. Ia menyembunyikan pedang Siang-bhok-kiam
tulen dibalik tumpukan batu karang dan membawa turun pedang palsu. Tepat seperti yang telah
diduganya, begitu turun gunung pedangnya menimbulkan keributan dan terpaksa dia menyerahkan
pedang palsu itu kepada Kiang Tojin! Kini, pedang tulen masih berada di puncak Kiam-kok-san. Setelah
mengalami bnayak hal yang amat tidak enak, bertemu dengan orang-orang pandai yang memusuhinya,
dia tahu bahwa dia harus kembali ke sana, harus menggembleng dirinya seperti yang dipesankan suhunya.
Ia harus dapat menemukan kitab-kitab peninggalan suhunya, memperdalam ilmunya agar dia dapat
menjaga diri kalau berhadapan dengan tokoh-tokoh dunia kang-auw, baik para datuk hitam maupun
para datuk putih!
Seminggu setelah dia meninggalkan dusun di mana terdapat kuburan Ciang Bi dia telah tiba di kaki
Pegunungan Bayangkara yang menyambung dengan Pegunungan Kun-lun-san, setelah dia berhasil
melewati Pegunungan Min-san. Namun untuk sampai di tempat markas Kun-lun-pai, masih amat jauh
dan sedikitnya dia harus melakukan perjalanan naik turun gunung selama setengah bulan.
Selagi Keng Hong enak-enak berjalan mendaki sebuah lereng, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan
muncullah puluhan orang menghadang jalan, bahkan segera mengurungnya. Keng Hong terkejut karena
orang-orang yang mengurungnya ini jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang dan semua memegang
senjata tajam! Kalau dilihat keadaan mereka, pasti bukan perampok, karena selain meeka terdiri dari
bermacam-macam orang yang berpakaian cukup baik, juga di antara mereka terdapat pula
wanita-wanita yang cantik dan gagah.
"Berhenti, orang muda!" Yang membentak adalah seorang kakek berjenggot panjang, tangan kiri
bertolak pinggang dan tangan kanan meraba gagang golok yang terselip di pinggangnya. Gagang golok ini
indah sekali, terbuat dari emas yang diukir seperti kepala naga. Kakek yang berjenggot panjang dan
usianya kurang lebih lima puluh tahun ini masih kelihatan gagah dan kuat sehingga Keng Hong merasa
kagum dan cepat menjura.
"Locianpwe siapakah dan ada kepentingan apa menghadang perjalanan saya?"
Kakek itu mengelus jenggotnya dan tercengang, juga bangga dan girang. Tak disangkanya bahwa
pemuda yang menurut laporan anak buahnya yang telah membunuh muridnya itu begini sopan dan halus,
dan menyebutnya "Locianpwe"! Sikap Keng Hong ini saja sudah melenyapkan sebagian dari
kemarahannya. Akan tetapi mengingat akan kematian muridnya dan banyak anak buah muridnya, dia lalu
berkata lagi dengan suara nyaring.
"Aku adalah Kiam-to (Si Golok Emas) Lai Ban, wakil ketua Tiat-ciang-pan dan mereka semua ini
.
adalah anak buah Tiat-ciang-pang!"
Keng Hong memandang penuh perhatian. Ia belum pernah berurusan dengan orang-orang
Tiat-ciang-pang (Perkumpulan Tangan Besi), hanya pernah mendengar bahwa perkumpulan ini adalah
sebuah perguruan silat yang lumayan besarnya dan kabarnya membantu atau memihak kepada
pemerintahan utara.
"Maaf, menurut ingatan saya, tidak pernah saya berurusan dengan fihak Locianpwe, maka entah
kesalahan apa yang telah saya lakukan di luar kesadaran saya terhadap Tiat-ciang-pang, mohon
Locianpwe suka memberi penjelasan."
Lai Ban makin suka kepada pemuda ini. Ia lalu menoleh ke belakang dan bertanya dengan suara keras.
"Heiii, benar inikah bocah yang kalian maksudkan itu?"
Tiga orang muncul, laki-laki tinggi besar yang segera menuding ke arah Keng Hong dan berkata, "Benar,
Ji-pangcu (Ketua Ke Dua), dia inilah bocah setan yang telah membunuh Kiang-twako dan mengaku
bernama Cia Keng Hong!"
Teringatlah Keng Hong sekarang bahwa tiga orang ini terdapat di antara anak buah penjahat yang
mengeroyok Ciang Bi. Ketika dia membela gadis itu di depan kuil dalam hutan, dia merobohkan kepala
penjahat yang wajahnya seperti Kwan Kong tokoh jaman Sam-kok yang bersenjata golok, kemudian
setelah dia merobohkan beberapa orang, diam-diam dibantu pula oleh Biauw Eng dengan senjata
rahasianya, sisa gerombolan itu melarikan diri. Agaknya tiga orang ini lalu melapor, dan sungguh diluar
dugaannya bahwa kepala penjahat yang brewok dan bersenjata golok besar itu adalah anak murid
Tiat-ciang-pang.
Kiam-to Lai Ban Si Golok Emas itu memandang kepada Keng Hong dengan pandang mata tidak
percaya. Pemuda halus tutur sapanya dan lemah lembut gerak-geriknya inikah yang telah menewaskan
muridnya? Sukar untuk dipercaya!
"Orang muda, benarkah engkau bernama Cia Keng Hong?"
"Tidak keliru, Locianpwe. Nama saya adalah Cia Keng Hong!"
"Benarkah engkau telah membunuh muridku Pun Kiong di depan kuil tua di dalam hutan dekat dusun
Ciang-chung?"
Keng Hong menggeleng kepala. "Saya tidak tahu siapa yang menjadi murid Locianpwe, akan tetapi
memang benar saya telah membunuh beberapa orang angauta penjahat yang hendak berlaku keji dan
mengganggu dua orang enci dan adik......." Keng Hong berhenti dan lehernya seperti tercekik karena dia
teringat kepada Ciang Bi, nona cantik jelita yang tewas secara mengerikan di tangan Song-bun Siu-li
Biauw Eng itu.
Kakek itu menggerakan alisnya dan matanya mulai menyinarkan kemarahan. "Hemmm, kalau begitu
benar engkau yan membunuh muridku dan anak buahnya. Bocah lancang, mengapa kau mmbunuh
mereka? Berani engkau menghina Tiat-ciang-pang dengan membunuh seorang anak muridnya?"
"Maaf, Locianpwe. Saya tiak tahu bahwa dia itu murid Locianpwe atau anak murid Tiat-ciang-pang.
Saya hanya tahu bahwa mereka itu amat jahat, hendak menghina seorang gadis baik-baik......."
.
"Aaahhhhhh! Engkau seperti orang baik-baik, bukan orang jahat. Akan tetapi mengapa engkau
selancang itu? Apakah engkau anak murid Hoa-san-pai?"
"Bukan, Locianpwe."
"Kalau bukan, mengapa membela orang-orang Hoa-san-pai?"
Keng Hong terdesak. Kakek ini benar pandai berdebat sehingga dia tersudut oleh
pertanyaan-pertanyaan itu. "Saya....... saya hanya melihat seorang gadis dan adiknya....... eh, diganggu
orang-orang jahat......."
"Cia Keng Hong! Bagaimana kau bisa membedakan bahwa gadis dan adiknya itu orang-orang baik dan
anak buah muridku orang-orang jahat?" Kakek itu membentak, membuat Keng Hong tertegun karena
memang tentu saja dia tidak dapat membedakan, hanya dia membantu Ciang Bi dan Lai Sek
berdasarkan rasa kasihan melihat seorang gadis dikeroyok banyak laki-laki tinggi besar.
"Tentu karena gadis itu cantik dan kami laki-laki mana bisa melawan kecantikannya?" teriak seorang di
antara mereka yang dahulu mengeroyok Keng Hong dan ucapan ini disebut dengan suara ketawa.
"Cia Keng Hong, agaknya engkau seorang pemuda hijau yang baru saja muncul di dunia kang-ouw.
Akan tetapi menurut pelaporan anak buah muridku, engkau lihai sekali. Dari golongan atau partai
manakah engkau? Siapa gurumu?"
"Maaf, saya bukan dari golongan manapun dan guruku yang sudah meninggal tidak boleh diganggu
namanya. Harap Locianpwe jelaskan, kesalahan apakah yang telah saya lakukan dalam membela gadis
dan adiknya yang dikeroyok itu?"
“Kami orang-orang gagah dari Tiat-ciang-pang adalah pendukung-pendukung gerakan raja muda Yung
Lo di utara yang perkasa dan yang sepatutnya dan seharusnya menjadi kaisar yang menguasai seluruh
tanah air. Akan tetapi Hoa-san-pai begitu tak tahu malu untuk membela kaisar palsu yang kini berkuasa
di selatan, yang secara tak tahu malu mengangkat diri sendiri menjadi kaisar padahal sesungguhnya
singasana menjadi hak raja Muda Yung Lo. Sudah sering kali terjadi bentrokan antara anak murid fihak
kami dengan anak murid Hoa-san-pai, maka setelah terjadi bentrokan lain di dusun Ciang-chung, tanpa
melihat perkaranya, engkau langsung turun tangan membantu fihak Hoa-san-pai dan membunuh
orang-orang kami. Tidak salahkan itu?"
Keng Hong terkejut sekali. Hal ini sungguh tak pernah disangkanya, bahkan ketika dia bercakap-cakap
dengan Ciang Bi, gadis itu tidak pernah menyebut-nyebut tentang itu, tidak pernah bicara tentang
permusuhan antara Hoa-san-pai dan Tiat-ciang-pang yang diakibatkan perbedaan faham itu. Ia merasa
menyesal juga mengapa dia tergesa-gesa turun tangan membunuh orang. Ternyata perbuatannya itu
menimbulkan kemarahan di fihak Tiat-ciang-pang. Betapapun juga, Keng Hong sorang yang berwatak
jantan yang diwarisinya pula dari suhunya. Dia tidak mengenal takut apalagi karena dia merasa bahwa
perbuatanya dalam urusan ini tidak salah! Menurut ajaran suhunya, dalam kebenaran dia harus berani
menghadapi apa saja, bahkan mati pun bukan apa-apa kalau mati dalam kebenaran. Lebih baik mati
dalam kebenaran atau membela kebenaran dari pada hidup dalam keadaan tercemar dan terhina karena
kejahatan! Tentu saja baik atau jahat menurut penilaiannya sendiri! Dan betapapun dia pertimbangkan,
dia tidak merasa salah dalam hal itu!
"Maaf, Locianpwe. Baru sekarang setelah mendengar penuturan Locianpwe, saya tahu akan
persoalannya. Akan tetapi pada waktu hal itu terjadi, saya hanya tahu bahwa ada seorang gadis muda
dikeroyok banyak laki-laki tinggi besar yang mengeluatkan ucapan-ucapan menghina. Tentu saja saya
.
turun tangan membela wanita itu, karena bukankah hal itu merupakan tuga seorang gagah yang
menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan? Sekarang, ternyata ada sebab-sebab lain tersembunyi dalam
perkelahian itu, sebab-sebab yang tidak saya ketahui. Semua telah terjadi, sekarang saya berhadapan
dengan Locianpwe, harap jelaskan, apa yang harus saya lakukan dan apa pula yang akan Locianpwe
lakukan terhadap saya?"
Kembali kakek itu diam-diam menjadi kagum. Terang bahwa bocah ini bukan bocah sembarangan dan
mulailah dia percaya bahwa pemuda ini memiliki kelihaian yang luar biasa, murid seorang sakti yang tentu
amat terkenal. Biarpun dia merasa kagum dan sayang, namun sebagai ketua Tiat-ciang-pang, dia harus
membela perkumpulannya dan harus menuntut atas kematian murid Tiat-ciang-pang agar tidak ditertawai
dan dipandang rendah dunia kang-ouw, apalagi dipandang rendah oleh Hoa-san-pai!
"Cia Keng Hong, ucapanmu membuktikan bahwa kau seorang laki-laki sejati yang tidak menyangkal
perbuatan yang telah kau lakukan. Kau telah mengaku bahwa kau telah membunuh murid Tiat-ciang-pan,
karena itu, aku sebagai wakil ketua Tiat-ciang-pang berkewajiban untuk menangkapmu dan
membawamu ke depan ketua kami untuk menerima keputusan dan hukuman."
Keng Hong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. "Permintaanmu ini sukar sekali untuk dapat
saya terima, Locianpwe, karena apa pun yang telah terjadi, saya berbuat demi kebenaran dan kebaikan,
sedikitpun tidak mengandung dasar yang jahat dan buruk, sedikit pun tidak merasa salah. Karena itu,
saya tidak dapat menghadap Tiat-ciang-pangcu (ketua) untuk menerima hukuman. Harap Locianpwe
suka memaafkan."
Sinar mata yang tadinya sabar dan penuh kagum itu menjadi marah. "Eh, orang muda,boleh jadi engkau
lihai, murid seorang sakti, akan tetapi ketahuilah bahwa engkau berhadapan dengan seorang tua seperti
aku yang telah mengejar ilmu sebelum engkau lahir! Kami orang-orang Tian-ciang-pang mengutamakan
keadilan, setelah nanti didengar semua keteranganmu, tentu pangcu kami tidak akan menjatuhkan
hukuman sewenang-wenang! Kalau engkau menolak, sunguh menyesal sekali bahwa aku terpaksa harus
memaksamu!"
"Ah, ternyata Locianpwe hanya ingin mencari benar sendiri!" Kata Keng Hong.
"Hemmm, apakah bukan engkau yang hendak mencari benar sendiri, orang muda? Engkau telah
membunuh murid kami, dan kami sekarang hendak menangkapmu. Siapakah yang salah dan siapa benar
dalam hal ini? Siapa yang jahat dan siapa yang baik?"
Tiba-tiba terdengar suara ketawa, suara ketawa yang mengakak seperti suara burung gagak (goak) atau
suara seekor ular besar. Mendengar suara ketawanya, sepatutnya orang yang tertawa seperti itu tentulah
seorang yang tinggi besar. Akan tetapi ternyata sebaliknya. Ketika semua orang memandang ke atas
karena suara ketawa itu terdengar dari atas, mereka melihat seorang kakek yang amat lucu duduk
dengan kedua kaki telanjang ongkang-ongkang di atas dahan pohon tak jauh dari tempat itu. Kakek ini
tubuhnya kecil dan bongkok berpunduk, rambut, kumis dan jenggotnya panjang terurai akan tetapi
bagian atas kepalanya botak dan kelimis. Mukanya membayangkan kegembiraan total, sehingga tampak
seperti wajah seorang bocah nakal yang tertawa-tawa selalu, pakaiannya bersih sekali dan baru, akan
tetapi kedua kakinya telanjang. Tangan kirinya memegang sebuah guci arak, dan setelah tertawa dia lalu
menuangkan isi guci ke mulut. Bau arak wangi memenuhi tempat itu.
"Ha-ha-ha-ha-ha!" Ia tertawa lagi setelah minum arak. "Semua salah, semua benar, tiak ada yang baik
tidak ada yang buruk. Sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha! Yang tinggi yang pendek ya sama saja! Yang gemuk
yang kurus ya sama saja! Yang salah yang benar, yang buruk yang baik, yang cantik yang bopeng, semua
ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha!"
.
Kalau semua orang merasa geli dan juga jengkel mendengar kata-kata tdak karuan sikap seperti orang
gila itu, Keng Hong sebaliknya menjadi tertarik sekali. Dia dapat menangkap inti sari ucapan yang tidak
karuan itu maka lalu menjura ke atas terhadap kakek itu sambil berkata.
"Kebetulan sekali Locianpwe yang arif bijaksana muncul di saat ini. Mohon petunjuk Locianpwe
siapakah yang salah dan siapa yang benar dalam urusan antara saya dan fihak Tiat-ciang-pang ini?"
"Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain an kami tidak membutuhkan pendapat orang
lain," kata Kim-to Lai Ban yang tentu saja merasa direndahkan kalau sebagai wakil ketua
Tiat-ciang-pang dia harus mendengarkan pendapat orang luar untuk mengambil keputusan atas urusan
yang mengenai perkumpulannya.
"Lai-pangcu," kata Keng Hong dengan wajah tidak senang, "dalam setiap urusan antara kedua fihak,
selalu harus ada fihak ke tiga yang dimintai pertimbangan agar dapat dipertimbangkan siapa salah siapa
benar. Kalau tidak, bagaimana kedua fihak yang bertentangan itu akan dapat menyelesaikan urusan
secara musyawarah?" Kemudian dia menoleh lagi kepada kakek bongkok di atas dahan itu sambil
berkata, "Mohon petunjuk Locianpwe."
Kakek bongkok itu tertawa lagi. "Bocah, kau awas dan berbakat sekali! Di dunia ini mana ada baik dan
buruk? Mana ada salah dan benar? Yang ada hanyalah pandangan manusia, disesuaikan dengan selera
masing-masing, disesuaikan dan didasari oleh nafsu mementingkan diri sendiri masing-masing! Mana ada
manusia baik atau manusia jahat? Manusia ya manusia, tidak baik tidak jahat. Baik atau buruknya
tergantung dari pendapat masing-masing, pendapat yang diuntungkan atau dirugikan. Pendapat manusia
didasari sifat mementingkan diri pribadi. Contohnya? Biar orang sedunia menganggap seseorang itu baik,
kalau orang itu merugika dirinya, dia tentu menganggapnya jahat! Sebaliknya, biar orang sedunia
menganggap seseorang jahat, kalau orang itu menguntungkan dirinya, dia tentu akan menganggapnya
baik! Demikian pula perbuatan. Perbuatan ya perbuatan. Salah atau benarnya, baik atau buruknya, selalu
diciptakan manusia yang terkena akibat perbuatan itu. Kalau menguntungkan, dianggapnya benar, kalau
merugikan, salahlah perbuatan itu! Buktinya sekarang ini. Perbuatan bocah ini merugikan fihak
Tiat-ciang-pang, tentu saja oleh fihak Tiat-ciang-pang dianggap salah dan jahat! Padahal, bagaimanakah
sifat perbuatan itu sesungguhnya? Tanyakan kepada pihak murid-murid Hoa-san-pai yang oleh perbuatan
bocah ini diuntungkan terhindar dari kekalahan, tentu saja perbuatan ini dianggapnya benar dan baik!
Mana yang benar? Baik atau jahat? Salah atau benar? Ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha-ha!"
Wakil ketua Tiat-ciang-pang dan anak buahnya menjadi marah dan mendongkol. Akan tetapi diam-diam
Keng Hong terkejut dan kagum. Kata-kata yang kedengarannya tidak karuan artinya itu sekaligus
mencakup segala rahasia pertentangan dan keributan yang selalu timbul tiada henti-hentinya di atas bumi
di antara manusia! Rahasia daripada timbulnya segala bentuk pertentangan telah tercakup dalam
kata-kata kakek bongkok itu, ialah bahwa semua pertentangan timbul karena manusia memperebutkan
"kebenaran" yang sesungguhnya selalu didasari oleh sifat mementingkan diri pribadi.
"Maafkan saya, Locianpwe yang bijaksana. Kalau kebenaran dan kebaikan sepalsu yang Locianpwe
katakan, bagaimanakah sesungguhnya yang aseli?"
"Heh-heh-heh, tidak ada yang aseli tidak ada yang palsu! Yang benar dan baik bagi diri sendiri bukanlah
kebenaran, yang benar dan baik bagi orang lain tanpa dipaksakan dalam pengakuannya barulah
mendekati kebenaran!"
"Ah, amat dalam dan sukar dimengerti wejangan Locianpwe. Mohon petunjuk bagaimana saya harus
menghadapi kemarahan Tiat-ciang-pang?"
.
"Ha-ha-ha, sikap terbaik adalah seperti air! Kebijaksanan tertinggi seperti air, tidak memaksa tidak
mendesak, sepenuhnya mematuhi kekuasaan yang ada.........!"
Jantung Keng Hong berdebar. Dia sudah banyak membaca kitab-kitab kuno, sudah banyak menghafal
ayat-ayat dalam kitab-kitab suci, maka dia tentu saja dapat menangkap inti sari ucapan kakek ini, ialah
bahwa dia harus bersikap wajar, tidak dibuat-buat, seperti gerakan air yang wajar mengalir ke bawah.
Akan tetapi bukan maknanya yang mendebarkan jantungnya, melainkan disebutnya kalimat itu.
Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Bukankah itu merupakan kalimat pertama daripada huruf-huruf yang
terukir di pedang Siang-bhok-kiam? Hanya kebetulan saja, ataukah mungkin sekali kakek bongkok ini
dapat memecahkan rahasia huruf-huruf di pedang itu?
"He, orang tua yang lancang mulut! Jangan mencampuri urusan kami!" bentak Lai Ban yang menjadi
marah karena pemuda itu mengobrol dengan si kakek bongkok demikian asiknya seolah-olah puluhan
orang Tiat-ciang-pang itu dianggap seperti segerombolan pohon saja!
Karena kakek itu tidak menjawab dan hanya tersenyum-senyum sambil tetap duduk di atas dahan
pohon dengan kedua kaki bergantungan, Keng Hong menoleh kepada Lai Ban dan berkata dingin.
"Lai-pangcu, salah-menyalahkan dalam urusan ini memang tidak ada habisnya dan tidak akan dapat
membereskan persoalan. Aku tidak memusuhi Tiat-ciang-pang, dan aku tiak merasa bersalah dalam
peristiwa antara anak murid Tiat-ciang-pang dengan anak murid Hoa-san-pai, dan karena tidak merasa
bersalah, aku tidak mau kalau diharuskan menghadap ketua Tiat-ciang-pang untuk menerima hukuman.
Jika Ji-pangcu henadk menggunakan paksaan dan kekerasan, silahkan."
Sekali ini ketua dua Tiat-ciang-pang itu benar-benar hilang sabar dan menjadi marah sekali. "Orang
muda! Engkau benar-benar tidak tahu tingginya langit dalamnya lautan! Boleh jadi engkau lihai, akan
tetapi engkau masih seorang muda remaja, masih seorang bocah! Sebetulnya aku merasa sungkan untuk
turun tangan menandingi seorang yang sepantasnya menjadi cucu muridku kalau melihat usianya......"
"Ha-ha-ha! Pintar dan bodoh tidak mengenal tua atau muda. Yang makin tua makin tolol amat banyak,
yang muda-muda sudah pintar seperti orang muda ini pun tidak jarang! Siapa sih orangnya yang tahu
akan tingginya langit dan dalamnya lautan? Heh-heh-heh!" Kakek bongkok itu tertawa-tawa lagi sambil
memberi komentar, seolah-olah dia sedang menonton pertunjukan yang lucu.
Kim-to Lai Ban menjadi makin marah. "Eh, kakek tua yang lancang mulut! Pergilah engkau dari sini,
jangan mencampuri urusan orang lain! Kalau tidak, akan kuseret turun engkau!"
"Wah-wah-wah, ini aturan mana, ya? Sebelum kalian datang aku sedang enak-enakan tidur di pohon ini.
Kalian datang membikin ribut sampai aku terkejut dan terjaga dari tidurku. Menurut patut, aku yang
menegur kalian. Kalau kalian mengenal malu, pergilah dari sini dan carilah tempat lain untuk main
ribut-ribut agar tidak mengganggu orang!"
Kim-to Lai Ban membentak kepada dua orang sutenya, "Seret dia turun dan tendang dia jauh-jauh dari
sini!"
Dua orang sutenya itu adalah orang-orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Di dalam perguruan
Tiat-ciang-pang, terdapat sebuah ilmu yang dipakai ukuran tinggi murid-muridnya, yaitu ilmu
Tiat-ciang-kang (Tangan Besi). Kedua tangan atau sebelah tangan saja, digembleng dan dilatih
sedemikian rupa sehingga tangan itu menjadi kuat dan kebal seperti besi. Makin hebat latihannya, makin
kuat tenaga sinkang si murid, makin kebal dan kuat tangan besinya. Kekuatan tangan besi inilah yang
.
dijadikan ukuran tingkat. Tingkat pertama tentu saja diduduki oleh ketuanya yang bernama Ouw Beng
Kok, adapun tingkat kedua diduduki oleh Kiam-to Lai Ban. Kini, kedua orang sute yang menghampiri
pohon di mana duduk kakek bongkok dan yang menerima tugas untuk menyeret turun kakek itu, adalah
orang-orang tinggi besar dan kuat sekali, apalagi karena mereka telah menduduki tingkat ke empat di
Tiat-ciang-pang yang menandakan bahwa ilmu "tangan besi" mereka sudah amat hebat.
"Orang tua bongkok, engkau sudah mendengar permintaan Ji-pangcu kami, harap lekas turun dan pergi
karena kami merasa tidak enak sekali kalau harus menggunakan kekerasan terhadap orang kakek tua
seperti engkau," kata seorang di antara dua murid Tiat-ciang-pang tingkat empat itu.
"Heh-heh-heh, apakah sih artinya kekerasan? Kalian hendak menggunakan kekerasan seperti apa? Aku
sejak tadi duduk di sini dan hanya tertawa bicara, hanya menggunakan kelemasan, duduk mengandalkan
kelemasan kaki, bicara mengandalkan kelemasan lidah, akan tetapi kalian ini agaknya suka sekali akan
barang yang serba keras. Agaknya, lebih baik lagi kalau Tiat-ciang (Tangan Besi) ditambah dengan
Tiat-sim (Hati Besi)!"
"Kekerasan seperti inilah!" Seorang di antara mereka tiba-tiba menghantamkan tangan kanan dengan
jari-jari terbuka ke arah bantang pohon itu.
"Kraaakkkkk.......!" Hebat bukan main hantaman tangan yang penuh dengan hawa Tiat-ciang-kang itu.
Batang pohon yang besarnya sepelukan orang itu, sekali kena dihantam tangan besi itu, menjadi patah
dan tumbang! Tentu saja tubuh kakek bongkok yang duduk di dahan pohon itu ikut pula terbawa roboh
ke bawah!
Akan tetapi, ketika dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu siap hendak menubruk dan menyeret kakek
cerewet itu pergi, tiba-tiba hanya tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek bongkok itu sudah
berjongkok lagi di atas dahan pohon lain sambil terkekeh-kekeh.
"Heh-heh-heh, itukah yang kalian sebut kekerasan? Bagiku, lebih tepat disebut pengrusakan!
Pengrusakan ciptaan alam, sungguh besar dosanya!"
Karena merasa bahwa mereka diejek dan ditertawakan dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu menjadi
makin marah. Mereka berlari menghampiri pohon besar di mana kakek itu kini berjongkok di atas dahan,
lalu mereka berdua secara berbareng memukul batang pohon yang amat besar itu. Kembali terdengar
suara yang lebih keras daripada tadi dan batang pohon itu tumbang, membawa dahan-dahan dan
daun-daun berikut tubuh si kakek bongkok. Seperti tadi pula, bagaikan seekor burung saja, kakek itu
telah meloncat seperti terbang melayang dan "hinggap" di atas pohon lain. Cara dia bergerak meloncat
benar-benar amat mengagumkan, selain cepat dan ringan, juga aneh gerakannya karena dalam meloncat,
kakek ini mengembangkan dan menggerak-geraka kedua lengan seperti sayap burung!
Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang makin penasaran sehingga mereka terus mengejar dan memukul
tumbang semua pohon yang dijadikan tempat "mengungsi" kakek itu sehingga dalam waktu tak berapa
lama, belasan batang pohon telah tumbang!
"Wah-wah-wah, kalian berdua ini dapat menjadi tukang-tukang penebang pohon yang amat baik dan
menguntungkan sekali, heh-heh-heh!" Kakek bongkok itu tertawa-tawa.
"Sute, tahan......!" Tiba-tiba Kim-to Lai Ban berseru. Kedua orang sutenya itu lalu mundur, akan tetapi
muka mereka merah dan mata mereka melotot ke arah kakek bongkok yang kini masih duduk
ongkang-ongkang di atas dahan sebuah pohon lain, agak jauh dari situ karena pohon-pohon yang
berdekatan telah tumbang semua. "Asal kakek itu tidak mencampuri urusan secara langsung, biarkan dia
.
menggoyang lidahnya, setidaknya dia sudah tahu bahwa Tiat-ciang-pang tak boleh dibuat bermain-main."
Kemudian Lai Ban menghadapi Keng Hong dan berkata, "Orang muda, engkau sudah melihat sendiri
kehebatan pukulan Tiat-ciang-kang dari kedua suteku. Aku tidak ingin menggunakan kekerasan
terhadapmu. Kalau kau menyerahkan diri tanpa perlawanan, kami pun akan membawamu ke hadapan
pangcu tanpa kekerasan."
Semenjak tadi, Keng Hong memandang kakek bongkok dengan penuh perhatian. Dia dapat menduga
bahwa kakek itu bukan sembarang orang, akan tetapi yang paling menarik hatinya adalah bunyi kalimat
yang merupakan kalimat yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam. Ingin dia bertanya tentang kalimat itu
kepada si kakek bongkok, akan tetapi dia masih menghadapi urusan dengan orang-orang
Tiat-ciang-pang ini, maka dia harus dapat membereskan urusan ini lebih dulu. Tadi dia melihat kehebatan
pukulan dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu dan dia maklum bahwa orang-orang ini benar-benar amat
lihai dan memiliki pukulan maut yang amat kuat. Dalam hal ilmu silat, tentu saja dia masih kalah jauh, akan
tetapi dalam hal sinkang, mereka itu tidak ada artinya baginya. Juga dia memiliki kecepatan gerakan yang
jauh melampaui mereka.
"Lai-pangcu, kedua orang sutemu telah mendemonstrasikan kelihaian dan hal ini hendak kaupergunakan
untuk menundukanku, apa bedanya itu dengan kekerasan? Tidak, Pangcu, karena aku tidak merasa
bersalah, aku tetap tidak mau kau bawa pergi menghadap ketua kalian di Tiat-ciang-pang."
"Bocah, kau benar-benar keras kepala!" teriak seorang di antara dua orang sute Lai Ban yang tadi
mengejar-ngejar si kakek bongkok. Mereka masih terlalu pensaran dan marah karena merasa
dipermainkan si bongkok, kini mereka seolah-olah hendak menimpakan kemarahan mereka kepada
Keng Hong. "Ji-suheng, serahkan saja bocah ini kepada kami, tidak perlu kiranya Ji-suheng turun tangan
sendiri!"
Kim -to Lai Ban adalah seorang cerdik. Kalau tadi dia menyuruh kedua orang sutenya mundur adalah
karena pandang matanya yang awas dapat menduga bahwa kakek bongkok itu bukan orang
sembarangan. Kalau pemuda yang lihai ini saja belum dapat ditundukkan, sunggah tidak menguntungkan
kalu menambah seorang lawan lagi yang belum dapat diukur sampai di mana kelihaiannya. Kini, dia harus
mengawasi gerak-gerik si bongkok yang dia duga tentu akan membantu Keng Hong , maka dia
mengambil keputusan untuk "menyerahkan" Keng Hong kepada anak buahnya dan dia sendiri yang akan
turun tangan kalau kakek bongkok itu mencampuri urusan ini. Anak buahnya ada puluhan orang, masa
tidak akan mampu menangkap Keng Hong. Maka dia lalu mengganggukkan kepala dan berkata.
"Baik, tangkaplah bocah sombong ini !"
Dua orang tokah Tiat-ciang-pang yang tinggi besar itu lalu bergerak dari kanan kiri Keng Hong sambil
membentak keras, "Bocah, engkau ikutlah dengan kami !". Mereka mencengkeram ke arah pundak keng
Hong dari kanan kiri dengan niat menangkap dan sekaligus membuat pemuda itu tidak berdaya dalam
cengkeraman tangan besi mereka.
Keng Hong dapat merasakan sambaran angin pukulan tangan mereka itu yang amat kuat dan mantep.
Dia tidak takut menghadapi cengkeraman itu karena kalau dia mengerahkan sinkang ke arah sepasang
pundaknya, kulit pundaknya akan menjadi kebal dan agaknya tidak perlu takut menghadapi
cengkeraman mereka. Akan tetapi setidaknya, bajunya tentu akan menjadi robek-robek dan dia tidak
menghendaki ini. Pula, dia pun harus memperlihatkan kelihaiannya, maka cepat dia mengangkat kedua
tangan ke kanan kiri, mengerahkan tenaga dan menangkis dengan tolakan dari samping mengadu
pergelangan kedua tangannya dengan lengan kedua orang lawannya.
"Plak! Plak!"
.
Dua orang tokoh tiat-ciang-pang itu berteriak kaget dan tubuh mereka terdorang ke belakang ke
belakang , lengan mereka yang tertangkis terasa nyeri dan panas sekali. Hanya dengan pengerahan
tenaga saja mereka dapat mencegah tubuh mereka terguling, dan kini mereka memandang dengan
kemarahan berkobar, sejenak mengelus pergelangan tangan yang terasa senut-senut.
Orang-orang Tiat-ciang-pang menjadi marah sekali dan tanpa menanti komando, mereka sudah
menerjang maju dengan senjata di tangan mengeroyok Keng Hong. Hal ini bukan hanya menunjukkan
bahwa orang-orang Tiat-ciang-pang suka main keroyok, melainkan karena mereka ini terlatih dalam
perang melawan pasukan-pasukan kerajaan sehingga mereka memiliki jiwa setia kawan yang tebal dan
setiap melihat seorang kawannya, apalagi pimpinan , terdesak atau terpukul, tanpa dikomando mereka
lalu maju menerjang.
Hal ini menimbulkan rasa marah di hati Keng Hong. Tadinya dia tidak marah, hanya ingin berpegang
kepada kebenaran menurut faham dan pendapatnya sendiri dalam urusannya dengan orang-orang
Tiat-ciang-pang , maka dia pun tidak berniat untuk menurunkan tangan maut. Akan tetapi, sekarang
melihat betapa puluhan orang itu bergerak seperti semut menggeroyoknya, dia menjadi marah dan
menbentak keras.
"Kalian manusia-manusia curang tak tahu malu!" Dan tubuhnya lalu menerjang ke depan, sambil
mengerahkan tenaga pada kedua lengannya, Keng Hong menangkis, mencengkeram dan memukul.
Karena para pengeroyoknya hanyalah para anggota Tiat-ciang -pang rendahan , maka berturut-turut
robohlah enam orang yang mengeroyok dari sebelah depan!"
Tiba-tiba angin pukulan yang amat dahsyat menghantam dari arah belakang dari kanan kiri menuju ke
punggung Keng Hong. Pemuda ini terkejut karena angin pukulan ini hebat bukan main. Ia maklum bahwa
dua orang tokoh Tiat-ciang-pang tukang robohan pohon tadi telah menyerangnya dari belakang,
menggunakan kesempatan selagi dia sibuk menghadapi penggeroyokan banyak orang dari depan.
Keamarahan Keng Hong memuncak dan dia mengeluarkan suara pekik melengking sambil mengerahkan
sinkang ke tubuh bagian belakng.
"Buk...! Buk...!" Dua kepalan tangan yang amat kuat telah menghantam punggung Keng Hong di kanan
kiri. Akan tetapi pada saat itu, keng Hong yang sedang marah sekali telah mengerahkan tenaganya dan
tenaga mujijatnya timbul di luar kehendakknya sehingga begitu dua kepalan itu sehingga melekat pada
punggung tak dapat dilepaskan pula. Dua orang itu adalah ahli-ahli pukulan Tiat-ciang-kang, sungguhpun
belum encapai tingkat paling tinggi, namun sudah cukup hebat dan tenaga sinkang mereka pun sudah
amat kuat. Kini, menghadapi kenyataan mengerikan bagi mereka itu, kepalan tak dapat dilepas dari
punggung dan tenaga sinkang mereka molos keluar seperti air membanjir karena tanggulnya bobol, tanpa
dapat mereka tahan, mereka menjadi kaget dan juga panik. Cepat mereka menggunakan tangan kiri
mereka, mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, kini mereka memukul ke kanan kiri
lambung. Pukulan ini adalah pukulan maut, karena selain yang memukul adalah kepalan-kepalan tangan
yang penuh dengan hawa sakti Tiat-ciang-kang, juga yang dipukul adalah lambung yang biasanya
merupakan tempat yang lemah. Akan tetapi, justru bagian tubuh Keng Hong yang dekat pusar
merupakan bagian-bagian yang paling "peka" dan aktif sekali kalau tenaga mujijat yang menyedot itu
sedang bekerja, maka begitu dua pukulan itu menyentuh lambung, kontan saja tersedot dan melekat!
Dua orang tokoh tiat-ciang-pang itu kini menjadi seperti dua ekor lintah yang melekat, tak dapat terlepas
pula dan tenaga sinkang mereka terus menerobos keluar melalui kedua tangan mereka measuki tubuh
keng hong yang menjadi makin lamban gerakan-gerakannya akan tetapi menjdai makin hebat tenaga
sinkangnya. Dia hanya melangkah perlahan-lahan ke depan, kedua lengannya bergerak perlahan pula,
akan tetapi kedua tangannya itu mengeluarkan angin bersuitan dan setiap orang pengeroyok yang
.
terdorong oleh angin pukulan ini tentu roboh terjengkang! Hal ini tidaklah aneh kalau dipikir bahwa pada
saat itu, yang memang sudah amat kuat, melainkan ditambah lagi oleh tenaga Tiat-ciang-kang dari kedua
orang yang menempel yang di tubuhnya dari belakang itu!
"Pemuda iblis…!!" kim-to lai ban menjadi marah sekali. 'Lepaskan dua orang suteku!" Ia marah dan
juga ngeri menyaksikan betapa dua orang sutenya itu kini telah bergantung pada tubuh Keng Hong
dengan lemas, wajah mereka pucat separti mayat. Sebetulnya hal ini adalah kesalahan dua orang itu
sendiri. Tenaga mujijat yang bergerak di seluruh tubuh Keng Hong adalah tenaga yang hanya mengenal
dan menyedot tenaga sinkang dari luar. Andaikata seorang manusia biasa yangtidak pernah berlatih
sehingga tenaga sakti dalam tubuh mereka tidak bangkit, membuat mereka itu hanya bertenga biasa dari
otot-otot saja, aka tenaga mujijat di tubuh Keng hong takkan dapat berbuat apa-apa,dan orang yang
tidak bersinkang itu tidak akan dapat terlekat dan tersedot. Demikian pula bagi mereka yang memiliki
tenaga sakti seperti dua orang Tiat-ciang-pang itu, andaikata mereka tidak mempergunakan tenaga
sinkang, tentu mereka akan terlepas dengan sendirinya dari tubuh Keng Hong. Tadi mereka memukul
dengan tangan kanan, disusul dengan tangan kiri, mempergunkan Tiat-ciang-kang, pukulan yang
sepenuhnya didasari tenaga sinkang, tentu saja mereka terlekat dan tersedot. Setelah demikian, mereka
meronta dan mengerahkan tenaga pula untuk berusaha melepaskan diri. Tentu saja usaha pengerahan
tenaga ini merupakan "makanan" bagi tenaga mujijat di tubuh Keng Hong yang bekerja sehingga makin
hebat mereka berusaha untuk melepaskan diri makin hebat pula mereka tersedot dan melekat terus!
"Aku... aku tidak bisa melepaskan mereka...!" kata Keng Hong gugup. Peristiwa seperti ini terulang
kembali dan selalu dia menjadi gugup. Apalagi sekarang bukan hanya dua orangitu yang melekat dan
tersedot sinkangnya, juga ada dua orang lain yang tadinya berusaha embantu kawan mereka, kini
menempel dan tersedot sinkangnya. Yang menjemukan, dua orang ini menjerit-jerti seperti dua ekor babi
disembelih! Ingin Keng Hong melepaskan dari mereka, akan tetapi dia sendiri pun tidak tahu bagaimana
caranya!
Jawabannya yang memang sesungguhnya itu diterima salah oleh Kim-to Lai Ban, dia menjadi makin
marah dan dicabutlah golok emasnya. "Terpaksa aku membunuhmu, pemuda iblis!" serunya dan dia
menerjang maju, lalu meloncat ke atas dan berteriak keras menyerang Keng Hong.
Pemuda ini maklum betapa hebat dan berbahayanya serangan Kim-to Lai Ban itu. Maka dia pun
mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah mencelat ke atas, membawa empat tubuh yang
menempel di sebelah belaknang tubuhnya sendiri itu ke udara. Menghadapi serangan golok lawan yang
demikian dahsyatnya, yang beruabah menjadi sinar keemasan yang melengkung panjang, Keng Hong
sudah mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus In-keng-hong-wi (Awan menggetarkan Angin dan
Hujan), yaitu jurus kedelapan atau jurus terakhir, jurus yang paling dahsyat daripada ilu silatnya,
San-in-kun-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Awan Gunung) yang hanya terdiri dari delapan jurus itu.
Jurus ini amat sukar dimainkan, namun juga amat hebat gerakannya, karena selagi berada di udara
menyambut terjangan lawan yang juga meloncat ke udara itu, kaki kiri Keng Hong bekerja susul
menyusul dalam rangkainan yan selain cepat tak terduga, juga amat aneh dalam kerja sama yang rapi
sekali. Kedua kakinya sudah sususl menyusul melakukan tendangan ke arah pergelangan tangan Kim-to
Lai Ban yang memegang golok dan ke arah pusar, sedangkan kedua tangannya susul menyusul pula
melakukan serangan, yang kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala sedangkan yang kanan
mengikuti gerakan golok yang ditarik ke belakang karena tendangannya sedetik yang lalu!
"Hayaaaaa..!!" Selama hidupnya baru sekali ini Kim-to Lai Ban menjadi gugup. Tadinya dia memutar
goloknya dan melompat ke atas melakukan serangan dengan jurus yan paling ampuh dari ilu goloknya. I
harus menyelamatkan dua orang sutenya, maka dia tidak segan-segan lagi menurunkan serangan maut,
goloknya membentuk lingkaran dan sasarannya adalah leher lawan, sedangkan tangan kirinya yang
terbukajarinya mencengkeram ke arah lehar Keng Hong .
.
Akan tetapi, siapa kira, lawannya itu malah meloncat pula dan menyambut serangannya secara terbuka
di udara ! Tentu saja tubuh mereka bertemu di udara dan dalam beberapa detik ini telah terjadi beberapa
gebrakan hebat. Kim-to Lai ban terpaksa menarik goloknya karena pergelangan tangannya yang
menbacok itu dipapaki tendangan dari bawah , akan tetapi tangan kirinya berhasil "masuk" dan
mengcengkeram leher Keng Hong karena dia menang dulu. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika
jari-jari tangannya yang mengcekeram leher itu seperti mencengkeram daging yang amat lunak dan
sekaligus tenaganya tersedot dan tangannya melekat! Sebelum hilang rasa kagetnya, pusarnya terancam
tendangan yang cepat dia elakkan, akan tetapi tiba-tiba goloknya terampas oleh tangan Keng Hong dan
ubun-ubunnya juga terancam oleh cengkeraman sebelah tangan pemuda luar biasa itu!
"Celaka..!" Lai Ban berseru keras, berusaha membetot tangannya dan pada detik lain, dia mengirim
tusukan dengan dua buah tangannya ke arah mata Keng Hong dan hal ini sama sekali tak dapat
dielakkan maupun ditangkis oleh pemuda itu! Dalam detik itu, nyawa Lai Ban terancam maut oleh
cengkeraman pada ubun-ubunnya sedangkan keselamatan mat Keng Hong terancam kebutaan oleh dua
jari tangan Kim-to Lai Ban.
"Heh-heh-heh, sayang..sayang..!" Terdengar kakek yang duduk nongkrong di atas pohon itu tertawa
dan dari tangannya menyambar dua butir buah mentah dari pohon itu. Yang sebutir menyambar siku
lengan Lai Ban yang menusuk jari tangannya ke arah mata Keng Hong , adapun yang sebutir lagi
melayang ke arah siku lengan Keng Hong yang mencengkeram ke arah ubun-ubun lawannya. Biarpun
buah mentah itu tidak keras, namun ternyata tenaga luncur dan tenaga totokannya dahsyat sekali sehingga
tiba-tiba kedua lengan yang tertotok buah-buah entah itu menjadi lumpuh dan kedua orang itu meloncat
turun ke bawah. Untung bagi Lai Ban bahwa ketika dia tertotok oleh buah mentah yang melayang tadi,
kelupuhannya membuat dia terlepas dari tenaga ujijat keng Hong yang menyedot dan menempelnya
sehingga dia dapat meloncat ke bawah. Ia terkejut bukan main dan hanya dapat memandang kepada
Keng hong dengan mata terbelalak dan mulutnya menggumamkan bisiskan, "Iblis....!" keudian dia
terbelalak kaget ketika tubuh dua orang sutenya dan doa orang anak buahnya, mereka berempat yang
tadi melekat di belakang Keng Hong seperti lintah, kini telah menggeletak tak bernyawa lagi! Kiranya
tadi karena terlalu lama mereka tersedot sinkangnya dan mereka sama sekali tidak berdaya, hawa sakti
tubuh mereka tersedot sampai habis sama sekali sehingga mereka dengan sendirinya terlepas dan jatuh
ke atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi. Melihat ini, Kim-to Lai Ban menjadi makin marah dan
selagi dia bersiap untuk mengerahkan anak buahnya yang saat banyak dan mengeroyok mati-matian
untuk menebus kematian dua orang sutenya, tiba-tiba Keng Hong meloncat pergi, melempar golok
rampasannya ke atas tanah sambil berseru.
"Locianpwe, tunggu dulu.....!"
Ketika Lai Ban memandang teliti kiranya pemuda iblis itu telah lari mengejar kakek bongkok yang juga
sudah melarikan diri amat cepatnya . Kim-to lai Ban menggeget giginya sabil memandang jauh ke depan
sampai dua bayangan itu lenyap, kemudian menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas dengan
penuh duka. Sungguh tak dia sangka bahwa hari ini nama besarnya, juga nama besar Tiat-ciang-pang
akan hancur hanya oleh seorang bocah yang tak ternama! Dengan hati penuh penasaran dan dendam
terhadap Keng Hong , Kim -to Lai Ban lalu menyuruh anak buahnya mengangkut empat jenazah itu dan
membawa pergi dari tempat itu. Dia maklum bahwa mengejar pemuda itu takkan ada gunanya. Sudah dia
saksikan betapa ilmu lari cepat peuda itu amat hebatnya ketika mengejar si kakek bongkok, seperti
terbang saja . Dan ilmu kepandaiannya pun mujijat. Belum lagi diingat kakek bongkok itu yangjuga
memiliki kesaktian. Biarlah, untuk sekali ini Tiat-ciang-pang boleh mengaku kalah, akan tetapi urusan ini
takkan habis sampai disitu saja! Pada suatu saat, dendam ini harus terbalas! Demikianlah tekad hati Lai
Ban sambil mengiring jenazah ke empat orang kawan, atau lebih tepat, dua orang sute dan dua orang
anak buah itu kembali ke pusat Tiat-ciang -pang yang berada di sebuah di antara puncak-puncak
.
pegunungan Bayangkara. ***
Kakek kecil pendek yang bongkok itu ternyata dapat lari cepat sekali. Tadinya kakek itu menggunakan
ilmu berlari cepat secara melompat-lompat sepert katak, sekali melompat ada sepuluh meter jauhnya dan
begitu kakinya tiba di atas tanah terus melompat lagi ke depan. Akan tetapi Keng Hong yang oleh
mendiang gurunya di gembleng terutama sekali untuk tenaga dan kecepatan, dapat bergerak lebih cepat
lagi. Tubuh peuda yang kini terlalu penuh dengan hawa sinkang "rampasan" dari orang-orang
Tiat-ciang-pang tadi, ringan seperti sebuah balon karet penuh hawa, maka dia dapat berlari cepat dan
ringan sekali mengejar, makin lama makin dekat sabil berteriak.
"Locianpwe, tunggu dulu...!" Mendengar ini, kakek itu berlari makin cepat lagi.
"Heiii, Locianpwe yang bongkok, tunggu...!" Suara Keng Hong makin keras dan ketika kakek itu
menoleh dan melihat betapa pemuda itu mengejarnya dengan cara yang sama, yaitu melompat-lompat
seperti katak, akan tetapi dengan lompatan yang lebih jauh daripada lompatannya, dia kaget kaget sekali
dancepat mengubah caranya berlari. Kini dia tidak berlompatan lagi, melainkan berlari dengan gerakan
yang luar biasa cepatnya sehingga kedua kakinya itu lenyap bentuknya dan tampak seperti kitiran
berputar sehingga kelihatannya seperti roda. Langkah-langkahnya pendek-pendek, sesuai dengan kedua
kakinya yang pendek-pendek, namun gerakannya cepat sekali sehingga tubuhnya meluncur ke depan
seperti seekor kuda membalap.
"Heh-heh-heh, tak mungkin kau dapat mengejarku lagi, bocah bandel!" Kakek itu terkekeh dan
mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari secepat mungkin. Beberapa lamanya kakek itu berlari
sampai dia merasa yakin bahwa pemuda itu kini tentu telah tertinggal jauh dan kalau dia teruskan,
napasnya mungkin akan putus meninggalkan tubuhnya yang sudah amat tua. Selagi dia hendak
memperlambat larinya, tiba-tiba dekat sekali di belakangnya terdengar teriakan Keng Hong.
"Heiii, Locianpwe, mengapa melarikan diri? Saya hendak bicara..!"
Kakek bongkok itu menengok dan alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa kini pemuda
itu pun berlari cepat seperti dia, cepat sekali seperti terbang melayang saja. Karena merasa bahwa lari
pun tidak ada gunanya, kakek itu berhenti dan membalikkan tubuh menanti sampai Keng Hong tiba di
depannya. Pemuda itu masih merah sekali mukanya, sampai matanya pun masih merah sebagai akibat
daripada kebanjiran sinkang di tubuhnya, akan tetapi dia sudah tenang karena tadi kelebihan hawa sakti
itu telah banyak dia pergunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kakek yang amat cepat larinya
itu, dan di sepanjang jalan Keng Hong menggunakan tangannya mendorong roboh beberapa batang
pohon besar.
"Ehhh, bocah yang keji seperti setan. Apakah engkau masih belum kenyang , mengejarku untuk
menyedit habis sinkangku dengan ilmu sesatmu Thi-khi-i-beng ?" Ia bertanya sambil memandang tajam.
"Seekor lintah hanya menyedot darah sampai kenyang baru puas, akan tetapi engkau menyedot hawa
orang sampai empat orang mati masih belum puas, sungguh jauh lebih keji daripada seekor lintah!"
Keng Hong mengerutkan alisnya dengan hati risau. "Locianpwe, benarkah ada itu ilmi yang dinamai
Thi-khi-I-beng? Apakah benar tenaga menyedot yang keluar dari tubuhku itu tadi Ilmu Thi-khi-I-beng ?"
Kakek itu membusungkan dada menegakkan kepala dan memandang Keng Hong dari bawah dengan
sikap seorang guru memandang muridnya, kemudian dia menunjuk hidung sendiri sambil berkata.
"Aku Siauw-bin kuncu (Budiman Berwajah Rahmah) selamanya tidak suka membohong. Seorang kuncu
(budiman) tidak akan membohong ! Terang bahwa kau tadi menggunakan ilmu menyedot sinkang lawan,
.
apalgi namanya kalau bukan Thi-khi-I-beng yang kabarnya sudah lenyap dari permukaan bumi dan
dibawa lari untuk dijadikan ilmu para iblis dan setan ? Akan tetapi sekarang ternyata kau memilikinya.
Hih, sungguh mengerikan, sungguh keji menakutkan!" Setelah berkata demikian, dia bergidik dan
mengangkat guci araknya, terus dituangkan isi guci ke dalam mulutnya sambil terdengar bunyi
menggelogok. Kemudian dia menutup mulut guci, mukanya menjadi merah dan wajahnya tertawa-tawa
lagi. "Heh-heh-heh, seteguk arak mengusir semua kerisauan hati! Biarpun engkau memiliki ilmu iblis, tentu
takkan kau pergunakan untuk menyedot hawa dari tubuhku, bukan ?"
Keng Hong menggeleng kepalanya. "Locianpwe telah menolong saya, telah menyelamatkan nyawa saya
dengan sambitan tadi, mengapa saya hendak menganggu locianpwe yang budiman ? Tidak sama sekali,
saya mengejar locianpwe untuk menghaturkan terima kasaih atau pertolongan itu dan .."
"Tidak ada tolong menolong ! Siapa suka menolong orang yang seuda ini telah memiliki ilmu begitu keji
sehingga tidak segan-segan membunuh orang? Seekor lintah menyedot darah hanya secukupnya saja,
setelah kenyang melepaskan diri. Akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai orang-orang itu mati.
Aku tidak menolong siapa-siapa, hanya tidak suka melihat pembunuhan-pebunuhan."
"Ah, akan tetapi saya tidak sengaja membunuh ereka, Locianpwe..."
"Bohong! Ingat, tidak baik membohong dan aku, Siauw-bin Kuncu selaanya tidak sudi membohong!
Kebohongan itu berantai, sekali berbohong engkau harus selalu membohong untuk menutupi
kebohongan-kebohongan yang terdahulu."
Keng Hong menahan senyumnya, "Saya tidak perlu berpura-pura, Locianpwe. Sekali waktu, kalau perlu
saya akan membohong. Saya tidak pernah mempunyai niat di hati untuk membunuh siapapun juga. Dan
ilmu Thi-khi-i-beng yang Locianpwe sebut-sebut itu sama sekali saya tidak mengerti dan tidak pernah
mempelajarinya. Tenaga sedotan yang berada di tubuh saya ini bukan saya pelihara dan bergerak di luar
kesadaran saya."
"Eh, eh, eh, mengapa begitu? Aku melihat engkau seorang bocah yang baik, maka aku condong
memihakmu ketika engkau ribut-ribut dengan orang-orang Tiat-ciang-pang. Akan tetapi aku kecewa
melihat engkau mempergunakan ilmu yang sesat itu. Dan sekarang kau mengatakan tidak sadar akan ilmu
itu ? sungguh luar biasa... ."
"Sudahlah, Locianpwe. Sesungguhnya selain hendak menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe,
saya hendak mohon penjelasan, hendak bicara dengan Locianpwe.."
"Hemmm, boleh. Bicara tentang apa ?"
"Tentang air !"
Kakek itu melongo. Mulutnya masih tersenyum akan tetapi karena terbuka lebar kelihatan lucu, matanya
terbelalak, tangan kirinya perlahan-lahan diangkat ke atas dan menggaruk-garuk bagian atas kepalanya
yang botak kelimis.
"Eh, orang muda, apakah kau gila ?" tanyanya, pertanyaan yang sungguh-sungguh dengan wajah serius,
bukan main-main atau memaki.
Timbul kegembiraan di hati Keng Hong. Pemuda ini memang memiliki dasar watak gembira, maka
biarpun kelihatannya pendiam, setiap kali bertemu dengan orag yang bersikap riang dan lucu,tentu dia
akan mudah terbawa riang pula.kakek ini selain aneh, lihai, juga amat lucu dan gembira. Melihat sikap
.
sungguh-sungguh ketika kakek yang nama julukannya saja sudah aneh itu bertanya apakah dia gila, Keng
Hong tak dapat menahan kegelian hatinya dan dia tertawa bergelak, membuat kakek itu makin curiga,
makin keras mengira bahwa pemuda ini benar-benar telah gila!
"Tidak, Locianpwe. Aku belum gila dan mudah-mudahan tidak akan gila," jawab Keng Hong.
"Yang kumaksudkan dengan air adalah kalimat yang Lociapwe berikan kepada saya sebagai nasihat
menghadapi orang-orang Tiat-ciang-pang. Kalimat yang amat menarik hati saya dan yang ingin sekali
saya tanyakan kepada locianpwe tentang artinya."
"Kalimat apa ?"
"Yang seperti bunyi ujar-ujar kuno yang suci, mengenai air." Keng Hong sengaja memancing.
"Sangat banyaknya ujar-ujar suci yang membawa-bawa air sebagai wejangan. Yang mana yang
kaumaksudkan? Nasihat apa yang kuberikan tadi? Aku sudah tidak ingat lagi. Pertanyaan-pertanyaanmu
aneh dan membikin aku bingung. Eh, benar-benarkah engkau tidak miring otak, ya?"
"Tidak, Locianpwe. Kalau locianpwe lupa, biarlah saya mengulang kalimat yang locianpwe ucapkan
tadi. Begini bunyinya : Kebijaksanaan tertinggi seperti air."
"Heh-heh-heh! Betul sekali! Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Lengkapnya begini :
Kebijaksanaan tertinggi seperti air yang member manfaat kepada segala sesuatu mengalir ke tempat
rendah yang tak disukai orang karena itu, sifatnya berdekatan dengan Too.."
"Eh bukankah itu ayat di kitab Too-tik-khing bagian ke delapan ?" Keng Hong berseru girang dan heran.
Sebaliknya, kakek bongkok itu memandang Keng Hong dengan mata beerseri, "Hayaaaaa. Engkau ini
benar-benar bocah yang kukoai (aneh) sekali! Mengerti dan hafal pula ayat-ayat di kitab Too-tik-khing
?"
"Tentu saja hafal karena saya sudah berkali-kali menghafalnya, Locianpwe. Tadi saya lupa dan ... ah, hal
ini tidak perlu. Yang penting sekarang apakah Locianpwe mengenal pula kalimat yang berbunyi seperti ini
: Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan."
"Kaumaksudkan tulus dan sungguh mengabdi kebajikan seperti air keluar dari sumbernya? Dan
sewajarnya seperti munculnya matahari dan bulan atau sewajarnya seperti empat musim yang datang
bergantian? Ujar-ujar itu lengkapnya berbunyi begini : Phouw Phek Yan Coan, Ji Si Chut Ci."
"Wah, itu adalah ujar-ujar pasal tiga puluh satu ayat dua dari kitab Tiongyeng!" kembali Keng Hong
berseru hirang sekali karena mengenal ujar-ujar itu yang pernah dihafal seluruh isi kitabnya di luar kepala.
Sekali lagi kakek bongkok itu bengong dan kagum. "Kau juga pandai ujar-ujar Nabi Khongcu ? Wah,
bocah apakah engaku ini ? Kalau gila terang belum! Akan tetapi, engaku mengausai ilmu sesat
Thi-khi-I-beng, ginkangmu luar biasa sekali dapat menandingi aku, sinkangmu menakjubkan, dan engkau
hafal akan kitab-kitab Too-tik-khing dan Tiong-yong ! siapakah sesungguhnya engaku ini bocah aneh ?"
Akan tetapi Keng Hong yang sudah mengenal dua di antara tiga baris kalimat yang terukir di pedang
Siang-bhok-kiam, menjadi begitu girang sehingga dia tidak mempedulikan lagi pertanyaan kakek itu,
melainkan cepat dan menahan napas ketika dia berkata lagi.
.
"Satu lagi, Locianpwe. Satu lagi mohon bantuanmu. Dengarkanlah kalimat ini : Tukang saluran
mengalirkan airnya kemana dia suka"
Tiba-tiba sikap kakek itu berubah. Dia selamanya tidak bisa marah, akan tetapi sekarang berpura-pura
marah, atau memasang muka seperti orang marah. Betapapun juga, karena mukanya itu muka lucu,
memasang mukla marah tidak kelihatan menyeramkan atau menakutkan, malah menggelikan!
"Bocah sombong! Apakah engkau hendak menantang aku ? Apakah enkau tidak percaya akan
julukanku Siauw-bin-Kuncu? Aku berjuluk Kuncu, tentu saja aku seorang bijaksana yang sudah
mengenal seluruh ayat di permukaan bumi ini! Apakah engkau sengaja hendak mengujiku? Sekaligus kau
mengeluarkan tiga ayat dari tiga macam agama, apa kau kira aku berjuluk kuncu hanya untuk main-main
dan palsu belaka? Kalau memang kau hendak menantangku berdebat tentang filsafat agama-agama di
dunia ini, bilang saja terus terang, dan akan kulayani sampai mengaku keok!"
Keng Hong menahan kegelian hatinya, ia maklum bahwa kakek ini seorang tokoh yang amat aneh dan
agaknya memang seorang ahli kitab-kitab suci. Kalau dipaksa dan dibujuk, biar dia
menyembah-menyembahnya tentu takkan sudi memenuhi permintaannya, maka jalan satu-satunya hanya
menantangnya!
"Ha-ha-ha, kusangka tadinya julukanmu hanya kosong belaka, siapa kira ternyata lebih kosong daripada
yang kosong!" kata Keng Hong untuk memanaskan hati kakek itu. "Memang aku menantangmu berdebat
tentang filsafat. Kalimat terakhir tadi tentu tidak kau kenal, maka engkau mencari-cari alasan, kakek
bongkok!"
Anehnya kakek itu tidak marah malah tertawa-tawa. "Heh-heh-heh, engkau memujiku terlalu tinggi,
orang muda. Siapa namamu tadi? Cia Keng Hong? Ah, aku mulai suka kembali kepadamu. Di dalam
to-kauw terdapat paham bahwa yang kosong itu lebih berguna daripada yang isi, maka kau menyebut
aku lebih kosong daripada ynag kosong. Pujian apa lagi yang lebih hebat daripada ini?"
Celaka, pikir Keng Hong. Kakek ini benar angin-anginan dan mencampuradukkan isi filsafat dengan
ucapan-ucapan biasa. Akan tetapi dia tidak kekurangan akal. "Locianpwe, ada maksud saya dengan
menjajarkan tiga ayat itu, karena dua ayat terdahulu sudah dapat Locianpwe tebak, harap tidak berlaku
kepalang dan suka mengenal ayat terakhir tadi. Saya ulangi lagi. Tukang saluran mengalirkan airnya ke
mana dia suka."
Kakek itu tertawa lalu bersenandung, "Tukang-tukang pembuat saluran air mengalirkan airnya ke mana
mereka suka; para pembuat panah meluruskan anak panahnya; tukang kayu melengkungkan sebatang
kayu; para bijaksana mengendalikan diri pribadi!".
Keng Hong meloncat dan berjingkrak-jingkrak saking senangnya. "Ha-ha-ha! Itulah ayat ke delapan
puluh dari kitab Jalan Suci Kebajikan (Dhammapada).!"
Kakek itu melangkah dekat dan menantang, "Tak perlu mengejek! Kalau engkau memang seorang ahli
dalam filsafat dari isi kitab suci dari tiga agama, mari berdebat dengan aku. Kalau aku kalah, aku akan
membuang julukan Kuncu dan akan mengaku engkau sebagai guru!"
Keng Hong yang tadinya menari-nari kegirangan karena merasa dapat memecahkan arti tiga baris
kalimat yang terukir di atas pedang Siang-bhok-kiam, tiba-tiba berdiam dan mengasah otaknya. Kalau
sudah mengenal, lalu bagaimana lanjutannya? Bagaimana artinya yang berhubungan dengan rahasia
penyimpanan pusaka-pusaka peninggalan gurunya? Ia mendapat akal dan ingin mempergunakan
.
perngertian yang mendalam dari kakek yang berjuluk Siauw-bin Kuncu itu untuk mencoba membongkar
rahasia yang tersembunyi di balik tiga baris kalimat itu.
"Baiklah, Locianpwe. Akan tetapi karena Locinpwe yang menantang, harap Locianpwe yang lebih
dahulu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang sulit-sulit.Kalau Locianpwe tidak dapat menjawab
berarti Locianpwe kalah satu angka. Nanti kita saling perhitungkan, siapa yang mendapat angka
terbanyak dia menang."
"Akur! Dapat menjawab mendapat satu angka, aku dapat menjawab dipotong satu angka. Majukan
pertanyaanmu, bocah yang menyenamgkan hati!"
"Pertanyaan pertama. Apakah bedanya antara ketiga pelajaran yang Locianpwe sebutkan tadi, yaitu
mengenai kalimat-kalimatnya yang saya sebutkan. Untuk jelasnya, apa bedanya antara tiga kalimat ini.
Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan! Tukang sakuran mengalirkan
airnya ke mana dia suka!"
"Heh-heh-heh, pertanyaan kanak-kanak. Amat mudahnya, lebih baik kau tanyakan yang lain dan yang
lebih sulit. Baiklah kujawab. Ketiganya tidak ada perbedaannya dan ketiganya mengandung nasihat agar
manusia meniru sifat ari air yang amat bijaksana. Mengapa air disebut bijaksana dalam ayat-ayat suci itu?
Pertama karena air bergerak secara wajar, tidak memaksa sesuatu tidak menentang sesuatu, menurut
sifat alam, keluar dari sumbernya dan mengalir menuju ke tempat rendah, menyerahkan diri untuk segala
macam benda yang membutuhkannya dan memanfaatkannya, tanpa pamrih, dan selalu menempatkan diri
di tempat yang paing rendah. Itulah inti pelajaran itu dan ketiganya menggunakan sifat air sebagai contoh."
"Tepat sekali, Locianpwe dan biarlah untuk jawaban ini Locianpwe mendapatkan angka satu. Sekarang
pertanyaan kedua. Ada hubungan apakah antara ketiga ayat itu?"
Kakek itu mengernyitkan alisnya. Pertanyaan ini sulit sekali karena tidak mengandung maksud
pemecahan filsafat, lebih condong kepada pertanyaan teka-teki. Akan tetapi dia tidak mau kalah karena
kalau dia tidak dapat menjawab berarti dia kehilangan nilai satu angka! Memang Keng Hong sengaja
mengajukan pertanyaan ini untuk memecahkan rahasia Siang-bhok-kiam. Ia maklum bahwa tiga kalimat
di pedang itu diambil dari tiga bagian ayat Too-tik-khing., Tiong-yong dan Dhammapada, dan jika di
dalam kalimat-kalimat itu terdapat rahasia yang sifatnya filsafat, maka sudah tentu akan dapat dipecahkan
oleh kakek bongkok yang ternyata seorang ahli dalam segala macam agama. Kalau kakek bongkok ini
tidak mampu memecahkannya, apalagi dia yang dahulu hanya menghafal saja segala kitab itu, belum
dapat menyelami maknanya yang amat dalam. Kalau tidak memiliki maksud tersembunyi yang dalam,
juga akan dapat dia pelajari dari jawaban kakek itu.
"Hubungannya hanya penggunaan air sebagai contoh nasihat. Tidak ada hubungan apa-apa lagi kecuali
persamaan yang menyebut air itu. Kalau dipaksakan hubungannya, tiada lain hanya air dan memang oleh
air, seluruh dunia ini dipersatukan dan jika mengingat akan air, tidak ada lagi yang terpisah-pisah, segala
sesuatu di dunia ini sambung-menyambung dan sesungguhnya hanya satu, seperti air samudera, biarpun
terdiri dari titik-titik air, namun tak dapat dibedakan karena merupakan kesatuan yang tiada bedanya."
Keng Hong menganguk-angguk, akan tetapi sesungguhnya di dalam hatinya dia menjadi bingung.
Agaknya, ketika menuliskan kalimat-kalimat itu, gurunya maksudkan AIR! Akan tetapi, apa artinya air
yang hendak ditunjukkan gurunya itu? Air di puncak Kiam-kok-san? Apa maksudnya? Air selalu
mengalir ke tempat rendah! Dan di puncak itu ada sebuah kolam kecil yang menampug semua air yang
jatuh dari langit, baik air hujan maupun air dari embun dan dari kolam ini, air mengalir ke bawah seperti
sebuah sungai kecil, hanya dua kaki lebarnya, terus ke bawah melalui celah-celah batu karang.
.
"Bagus sekali jawabanmu, Locianpwe. Biarlah aku kalah dua nilai. Sekarang pertanyaan ketiga. Kalau
ada orang menuliskan tiga buah kalimat tadi bersambung, dengan niat untuk memberitahukan sesuatu
yang rahasia, yaitu hendak menunjukkan sesuatu tempat rahasia, apakah maksudnya?"
Mata kakek itu terbelalak. "Eh, orang muda. Benar-benarkah engkau tidak gila?"
Keng Hong tersenyum lebar, "Masih belum, Locianpwe. Kalau kelak sudah gila, akan kuberi tahu
kepada Locianpwe. Sekarang aku belum gila!"
"Kita berdebat tentang filsafat, akan tetapi kau selalu mengajukan pertanyaan seperti anak-anak
penggembala kerbau bermain teka-teki! Aku tidak sudi menjawab kalau kau hendak mempermainkan
aku orang tua!"
"Ah, sungguh mati saya tidak mempermainkan Locianpwe. Pertanyaan saya ini amatlah penting bagi
saya. Percayalah, Locianpwe, hanya satu pertanyaan itu lagi saja. Setelah itu, saya akan bertanya kepada
Locianpwe tentang filsafat yang amat tinggi dan yang belum tentu bisa dijawab oleh dewa sekalipu, yaitu
tentang mati dan hidup dan isinya!"
"Bagus! Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang seharusnya kudengar! Hayo lekas ajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang mati atau hidup itu."
"Nanti dulu Locianpwe. Saya minta Locianpwe menjawab lebih dulu pertanyaan saya tadi. Apa kira-kira
yang dimaksudkan oleh orang yang merangkai tiga kalimat itu untuk menunjukkan sebuah tempat
rahasia?"
Kakek itu meraba-raba dagunya, kemudian menggaruk-garuk botaknya. "Hemmm, kau keras kepala.
Akan tetapi agaknya orang yang meninggalkan tanda seperti itu adalah seorang yang suka bergurau,
seorang yang merasa kesepian sehingga melihat air pun lalu timbul pikiran yang bukan-bukan untuk
mempermainkan orang lain. Tentu dia maksudkan air yang mengalir. Mungkin tempat yang dia rahasiakan
itu dapat dicaei menurutkan air yang mengalir ke bawah. Dan karena dalam kalimat itu tidak terdapat
angka-angka, maka mungkin sekali angka-angka sebagai ukuran tempat itu diambil dari nomor-nomor
ayat dan bagian dari ketiga ayat suci itu. Kebijaksanaan tertinggi seperti air, terdapt dalam Too-tik-khing
bagian ke delapan. Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan adalah sifat-sifat kuncu seperti dinasihatkan
dalam kitab Tiong-yong bagian tiga puluh satu ayat dua, adapun yang terakhir tukang saluran mengalirkan
airnya ke mana dia suka terdapat dalam kitab Dhammapada pasal enam ayat delapan puluh. Kalau
diambil angka-angka dalam ketiga ujar-ujar itu, maka terdapat angka delapan, tiga puluh satu, dua,
enam,dan delapan puluh. Jika dijumlahkan, menjadi seratus dua puluh tujuh. Mungkin itulah rahasianya,
tempatnya mengikuti aliran air, dan jumlah ukurannya seratus dua puluh tujuh!"
Keng Hong hampir berjingkrak-jingkrak dan menari-nari lagi. Itulah agaknya! Tidak ada lain tafsiran dan
perhitungan lagi. Itu tentu yang dimksudkan mendiang suhunyal. Rahasia Siang-bhok-kiam! Rahasia
tempat penyimpanan pusaka! Rahasia tiga baris kalimat di Pedang Kayu Harum itu!
"Terima kasih, Locianpwe. Sungguh budi Locianpwe amat besar bagi saya!" Setelah berkata demikian,
Keng Hong membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Eh, eh, eh, nanti dulu, orang muda! Seeokor kerbau diikat hidungnya,akan tetapi seorang manusia yang
diikat mulutnya yang sudaah berjanji! Engkau tadi berjanji akan mengajukan pertanyaan tentang mati atau
hidup. Hayo penuhi janji out lebih dulu, kemudian aku yang akan balas mengajukan
pertanyaan-pertanyaan."
.
Dalam kegembiraannya, Keng Hong tadi hampir lupa akan janjinya, maka sambil tertawa dia lalu
berhenti dan menghadapi kakek itu lagi. Ia mengerutkan alisnya, berpikir dan mengingat-ingat. Banyak
filsafat hidup yang dia ketahui, dan di dalam kesempatan itu, dia akan mengajukan pertanyaan yang dia
sendiri belum dapat menjawabnya dan yang jawaban kakek itu akan dapat menambah pengertiannya
tentang hidup dan mati.
"Pertanyaan pertama, Locinpwe. Untuk apa manusia hidup harus melakukan kebajikan?"
"Heh-heh-heh, baru pertanyaanmu itu saja sudah tidak tepat, orang muda. Pertanyaanmu itu menyatakan
bahwa seolah-olah kebajikan harus dilakukan UNTUK sesuatu. Padahal, sesuatu yang dilakukan dengan
parih, bukanlah kebajikan lagi namanya. Seharusnya pertanyaan itu berbunyi: Mengapa manusia hidup
harus melakukan kebajikan? Nah, untuk pertanyaan ini kujawab begini dan dengarlah baik-baik karena
setiap orang manusia perlu mengetahui dan sadar akan hal ini."
Keng Hong mengangguk-angguk dan mendengarkan penuh perhatian.
"Kebajikan merupakan kewajiban manusia hidup karena hidup itu sesuai dan selaras dengan alam, maka
untuk menyesuaikan diri dengan alam yang memberi manfaat pada setiap benda, manusia pun harus
memnafaatkan diri sebagai sebagian daripada alam. Adapun pemanfaatan diri inilah yang mengharuskan
manusia berkewajiban untuk mengisi hidupnya dengan kebajikan. Kebajikan berarti segala perbuatan
baik yang ditujukan kepada orang lain atau sesama hidup. Perbuatan baik dalam arti kata berbuat demi
keuntungan dan kesenangan orang lain. Karena itu harus tanpa pamrih karena dengan begitu barulah
kebajikan ini wajar, seperti alam sendiri yang memberi tanpa meminta, tanpa pamrih. Kebajikan yang
dilakukan dengan pamrih berarti palsu, hanya merupakan kedok untuk menutupi nafsu sendiri.
Contohnya, kalau engaku menolong seseorang dengan pamrih rahasia dalam hati sendiri yaitu agar
supaya engkau memperoleh pujian, maka perbuatanmu menolong itu sesungguhnya bukanlah kebajikan
karena dasarnya bukan untuk menolong melainkan melakukan daya upaya agar memperoleh pujian!
Andaikata di sana tidak ada harapan untuk memperoleh pujian, tentu saja engaku takkan suka
melakukan perbuatan itu. Kebajikan sejati yang tanpa pamrih, adlah kebajikan yang dilakukan dengan
kesadarnn bahwa itu adalah sebuah kewajiban mutlak dalam hidup. Kalau manusia sudah membiasakan
diri meletakkan kebjaikan sebagai kewajiban hidup, maka pamrihnya akan lenyap karena perbuatan itu
tidak dianggapnya baik atau buruk lagi, melainkan pelaksanaan tugas kewajiban hidup. Dan sebagaimana
biasa, setiap kewajiban jika dilakukan dengan baik, akan mendatangkan rasa lega di hati dan lapang di
dada."
Keng Hong mengangguk-angguk. Banyak sudah dia membaca uraian tentang kebajikan yang harus
dilaksanakan manusia hidup di dunia ini, ada yang muluk-muluk uraiannya, ada yang berbelit-belit. Uraian
kakek ini sederhana sekali dan gamblang, mudah dimengerti dan juga mudah diterima oleh akal. Benda
apakah yang tidak ada guna atau manfaatnya di dunia ini? Semua ada manfaatnya bagi makhluk lain,
memberi, memberi dan memberi tanpa pamrih. Buah-buahan pada pohon, bunga-bunga indah, tanah dan
air, angin dan hujan, matahari dan bulan, binatang-binatang. Manusia berakal budi, masa kalah oleh yang
lain dala mengusahakan agar dirinya bermanfaat bagi dunia dan isinya? Tentu saja manfaat yang
ditimbulkan oleh perbuatan yang berguna dan menguntungkan sesamanya. Tidak melakukan kebajikan
berarti sudah mengabaikan kewajiban hidup, apalagi melakukan hal yang menjadi lawannya, yaitu
kejahatan!
"Bagus sekali uraian Locinpwe dan sudah membuka mata dan pikiran saya. Sekarang pertanyaan
terakhir, Locianpwe. Bagaimanakah sikap manusia selagi hidup dan apa yang harus dilakukan sesudah
mati?"
Kakek itu terkekeh. "Ha-ha-ha, jangan engkau memasukkan dirimu ke dalam kelopok mereka yang
.
merasa ngeri menghadapi kematian, orang muda. Patut dikasihani mereka itu yang takut menghadapi
pengalaman yang belum pernah dialaminya itu, ketakutan karena bayangan-bayangan sendiri. Aku lebih
condong kepada pelajaran Nabi Khong-cu yang mengingatkan murid-muridnya mengapa ingin
mengetahui tentang kematian sedangkan tentang hidupnya sendiri saja belum tahu artinya dan belum
dapat mengisinya dengan sempurna? Seperti lahir bukan kehendak manusia, matipun bukan kehendak
manusia, oleh karena itu lebih baik tentang kematian kita serahkan saja pada Pengurusnya karena itu
bukanlah urusan atau wewenang manusia yang masih hidup. Yang terpenting sekarang adalah mengisi
hidup, memepelajari tentang soal perikehidupan dan lika-likunya, seluk-beluknya karena kita adalah
manusia hidup selaras dan sesuai dengan kehendak ala, kita harus dapat MENYESUAIKAN DIRI
dengan apa yang ada disekeliling kita. Menyesuaikan diri terhadap manusia lain yang kita hadapi.
Menyesuaikan kedalam lingkungan masyarakat dimana kita tinggal. Menyesuaikan diri dengan keadaan.
Dengan menyesuaikan diri berarti tidak menentang karena hanya pertentangan yang akan menimbulkan
keretakan dan kehancuran. Penyesuaian diri tentu akan meenimbulkan kerukunan, kecocokan dan dalam
keadaan seperti ini, akan lebih mudah memanfaatkaan diri seperti yang telah kusinggung-singgung tadi
tentang kewajiban manusia untuk mengisi hidup dengan kebajikan."
Keng hong yang hatinya masih diliputi ketegangan dan kegembiraan karena marasa dapat memecahkan
rahasia Siang-bhok-kiam, menganggap sudah cukup mengobrol tentang hal yang amat tinggi dan sukar
itu, maka ia cepat menjura dengan hormat dan berkata.
"Locianpwe, saya menghaturkan banyak terima kasih atas semua wejangan Locianpwe yang amat
berharga baagi saya. Harap Locianpwe maafkan bahwa saya tidak dapat melayani Locianpwe lebih lama
lagi."
"Eh-eh-eh, nanti dulu, orang muda. Engkau sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang semua
sudah kujawab. Sekarang tiba giliranku untuk bertanya tentang….."
"Saya mengaku kalah, Locianpwe. Memang Locianpwe hebat sekali dalam soal filsafat dan saya patut
menjadi murid Locianpwe.bagaimana saya berani berdebat dengan Locianpwe? Sudahlah, saya mengaku
kalah dan kelak kalau kita ada kesempatan bertemu lagi, tentu saya akan menyediakan lebih banyak
waktu untuk mendengarkan wejangan-wejangan Locianpwe yang amat berharga. Selamat tinggal!" Keng
Hong tidak memberi kesempatan lagi kepada kakek itu untuk membantah karena dia sudah cepat
berkelabat melarikan diri sambil mengerahkan tenaganya. Ia mendengar kakek itu memanggil-manggil,
namun dia tidak peduli dan berlari terus secepatnya. Dia kagum akan pengetahuan kakek itu tentang
kitab-kitab suci dan ayat-ayatnya, kagum akan pandangan kakek itu tentang hidup. Akan tetapi dia
merasa sangsi apakah kakek itu sudah dapat mengetrapkan semua teori dalam praktek, apakah kakek
itu sudah dapat menyesuaikan tiga serangkai yang tak boleh dipisah-pisahkan dalam ilmu kebatinan, yaitu
sesuainya hati, kata, perbuatan. Dia belum pernah menyaksikan sepak terjang kakek itu, akan tetapi
orang telah berani memakai julukan Kuncu (Budiman Bijaksana) sungguh amat meragukan!
Akan tetapi setelah berlari jauh dan tidak melihat kakek itu mengejarnya, Keng Hong sudah melupakan
lagi kakek itu. Pikirannya penuh dengan pemecahan rahasia Siang-bhok-kiam. Semenjak turun dari
Kiam-kok-san, dia selalu bertemu dengan peristiwa-peristiwa hebat, bertemu dengan orang-orang yang
berkepandaian tinggi dan beberapa kali terancam bahaya maut. Memang benar seperti pesan suhunya,
kepandaiannya sendiri masih jauh daripada mencukupi untuk melindungi dirinya terhadap ancaman
orang-orang sakti di dunai kang-ouw yang selalu membayanginya, yag amat tamak hendak merampas
pusaka yang tersembunyi di balik rahasia Siang-bhok-kiam. Dia kini sudah dapat membuka rahasia itu.
Dia harus kembali ke Kiam-kok-san mencari pusaka suhunya dan menggembleng diri dengan ilmu-ilmu
gurunya. Setelah kepandaiannya cukup, mewarisi ilmu-ilmu gurunya, baru dia akan turun dari
Kiam-kok-san dan dia akan dapat menghadapi lawan manapun juga dengan penuh kepercayaan kepada
diri sendiri, seperti sikap gurunya ketika menghadapi begitu banyak lawan.
.
Dari pegunungan Bayangkara, Keng Hong terus lari ke barat dan beberapa hari kemudian dia telah
memasuki daerah Pegunungan Kun-lun-san. Sesungguhpun Kun-lun-san dianggap sebagai pusat atau
markas besar para tosu Kun-lun-pai, akan tetapi hal ini sebetulnya hanyalah anggapan dunia kang-ouw
saja. Kun-lun-san adalah daerah pegunungan yang amat luas dan besar, sedangkan Kun-lun-pai hanyalah
sebuah partai persilatan yang dibentuk oleh sekelompok tosu yang kemudian berkembang biak dengan
murid-murid mereka, juga akhir-akhir ini kesemuanya tosu belaka. Biarpun jumlah mereka banyak, dan
yang berdiam di puncak Kun-lun tidak kurang dari dua ratus orang, namun jumlah yang sedemikian itu
tidak ada artinya bagi Pegunungan Kun-lun-san yang amat luas itu. Di sepanjang kaki Pegunungan
Kun-lun-san, juga di lereng-lereng, terdapat pedusunan dan di bagian-bagian yang sunyi terdapat banyak
pula pertapa-pertspa yang menyembunyikan diri. Hanya karena mereka ini memnag bersembunyi di
tempat sunyi untuk bertapa dan tidak pernah mencampuri urusan dunia, maka fihak Kun-lun-pai juga
tidak pernah mau menganggap mereka. Bahkan para tosu Kun-lun-pai itu sering kali turun tangan
membantu para penduduk dusun-dusun di situ. Karena pengaruh Kun-lun-pai pula maka tidak seorang
pun perampok berani mengacau di daerah Kun-lun-san.
Keng Hong terpaksa menghentikan perjalanannya dalam sebuah hutan ketika malam tiba. Ia merasa
amat lelah karena selama beberapa hari melakukan perjalanan terus-menerus dan hanya berhenti kalau
malam tiba. Makannya tidak teratur, kadang-kadang selama dua hari baru bertemu makanan. Malam ini
dia lelah sekali dan begitu membuat api unggun dan merebahkan diri di bawah pohon, dia segera jatuh
pulas. Malam itu gelap, tiada bulan dan angkasa hanya diterangi bintang-bintang yang sinarnya terlampau
suram untuk dapat menembusi celah-celah daun pohon yang lebat. Menjelang tengah malam, dalam
keadaan setengah sadar setengan mimpi, dia merasa betapa dia diberi minum orang. Dalam keadaan
setengah sadar itu dia merasa betapa lengan yang halus lunak dan hangat memeluk lehernya, mengangkat
kepalanya dan ketika pundaknya menyentuh dada yang menonjol, Keng Hong diam-diam tersenyum.
Ada wanita yang bentuk tubuhnya halus lunak dan padat wanita muda, mencoba untuk meminumkan
sesuatu kepadanya. Dia tidak takut akan segala macam racun karena dia sudah kebal terhadap racun,
maka tanpa ragu-ragu lagi dia menurut saja dan minum dari cawan yang ditempelkan di bibirnya. Bibir
cawan yang halus, rasa anggur yang ahrum dan manis, mengingatkan dia akan bibir Sim Ciang Bi, gadis
Hoa-san-pai yang belum lama ini telah melayaninya dalam cinta kasih yang mesra, maka setelah minum
habis anggur itu, dia berbisik.
"Ciang Bi.. Kekasihku.."
Akan tetapi tiba-tiba lengan yang halus itu merangkulnya lebih erat dan sepasang bibir yang hangat
menyumbat mulutnya dalam sebuah ciuman yang membuat Keng Hong bergidik. Kalau Ciang Bi,
betapapun mencintainya, tak mungkin dapat memberinya ciuman seberani dan sepenuh nafsu seperti ini.
Hanya Cui Im yang akan dapat melakukan ciuman seperti ini. Akan tetapi Keng Hong tidak peduli
melainkan menerima hal itu sebagai suatu kenikmatan, pelipur hati gelisah dan lelah setelah mengalami
banyak hal ynag berbahaya. Dia tidak minta, dia tidak mengajak, melainkan gadis itu sendiri yang datang
dan "memperkosanya". Bukan, bukan memperkosa karena dia menerima dengan senang hati! Watak
gurunya menurun kepadanya! Cinta kasih wanita dianggapnya sebagai semacam "rejeki" yang tidak boleh
ditolaknya, apalagi kalau wanita itu seperti ini, muda jelita, halus, hangat dan haru seperti serangkai bunga
mawar pagi. Segar menggairahkan!
Keng Hong membiarkan dirinya dihanyutkan permainan cinta kasih yang menggelora. Ia berada dalam
keadaan setengah sadar. Arak yang diminumnya tidak mempengaruhinya karena gumpalan hawa beracun
yang wangi ia kumpulkan di dada dan kini perlahan-lahan dia hembuskan keluar kembali. Ia teringat
bahwa arak semacam ini adalah arak yang pernah diminumnya dari Ang-kiam Tok-sian-li Bhe-Cui-Im.
Cui-Im-kah gadis ini?
.
"Keng Hong... akulah kekasihmu.... hanya akulah yang mencintaimu……"
Suara Cui-Im-kah ini? Atau suara Biauw Eng? Sukar bagi Keng Hong untuk mengenal gadis ini karena
malam itu sangat gelap dan api unggun yang tadi dinyalakannya telah padam. Namun dia tidak peduli dn
hanya menyelamkan diri dalam lautan cinta yang memabukkan.
Keng Hong sadar dari tidurnya. Mimpikah dia semalam? Ia meraba ke kiri dan membuka mata, meraba
tubuh yang menggairahkan yang demalam rebah di sampingnya. Akan tetapi kosong! Tangannya hanya
meraba rumput yang masih hnagat. Ia membuka matanya. Cuaca tidak segelap malam tadi. Kiranya
sudah menjelang fajar. Ia mendegar suara kaki di sebelah kanan, cepat menoleh dan masih tampak
olehnya Sie-Biauw-Eng dengan pakaian serba putihnya yang mudah dikenal itu berlari cepat
meninggalkan tempat itu.
Aihhhhh! Biauw Eng kiranya gadis yang begitu mesra kepadanya semalam! Jantung Keng Hong
berdebar dan dia meloncat bangun, berteriak, "Nona Biauw Eng…..!"
Akan tetapi bayangan putih itu lenyap dalam halimun pagi yang memenuhi tempat itu. Keng Hong bangun
duduk, tidak mengejar, lalu mengenakan pakaiannya untuk melawan hawa yang amat dingin itu.
Dilihatnya sebuah cawan kosong menggeletak di situ, dan sebuah tusuk konde berkepala bunga bwee.
Lagi-lagi sebuah di antara senjata rahasia Sie Biauw Eng, agaknya jatuh tercecer. Ia melamun, bermacam
perasaan mengaduk hatinya. Kemudian dia tersenyum pahit dan entah mengapa, hatinya merasa kecewa
sekali.
Sie Biauw Eng gadis itu! Gadis yang semalam menggerumutnya, yang ternyata tiada bedanya dengan
Bhe Cui Im! Gadis yang menjadi hamba nafsu birahi, yang tidak kuat hatinya sehingga mudah tunduk ke
dalam cengkeraman nafsu. Kiranya tiada bedanya antara Biauw Eng dan Cui Im, bahkan Biauw Eng
lebih jahat lagi. Tidak hanya menjadi haba nafsu birahi, juga hati Biauw Eng amat kejam. Gadis itu telah
membunuh Sim Ciang Bi gadis Hoa-san-pai itu secara keji sehingga gadis Hoa-sa-pai yang dia tahu
benar-benar mencintainya, bukan hanya oleh dorongan hawa nafsu birahi itu tewas dalam pelukannya!
Rasa kagum dan juga rasa aneh yang pernah dia kandung terhadap diri Biauw Eng, mungkin karena
Biauw Eng adalah puteri suhunya, yang mungkin juga merupakan perasaan cinta kasih yang
sesungguhnya, bukan cinta nafsu yang mempengaruhi hatinya ketika dia melayani Cui Im, bahkan ketika
dia brcinta dengan Sim Ciang Bi skalipun perasaan itu kini berubah menjadi perasaan muak dan
benci.muak dan benci terhadap Biauw Eng yang timbul dari kecewa dan sesal. Mengapa puteri suhunya
macam itu? Karena Biauw Eng membunuh banyak orang Tiat-cang-pang dengan senjata rahasianya,
maka dia makin dibenci orang-orang Tiat-ciang-pang. Karena Biauw Eng membunuh Sim Ciang Bi
secara keji, tentu saja dia akan dimusuhi oleh Hoa-san-pai dengan hebat! Dan kini secara tak tahu malu,
di malam buta, Biauw Eng agaknya tak dapat menahan gelora nafsu birahinya dan menggerumutnya
seperti seorang pelacur.
"Terkutuk! Engkau tidak patut menjadi puteri mendiang suhu! Engkau puteri lam-hai Sin-ni nenek iblis
itu, akan tetapi aku tidak percaya engkau puteri guruku. Engkau iblis betina yang keji dan jahat!"ia
memaki sambil bangun berdiri, menendang pergi cawan kosong dengan jijik. Kalau dia tahu benar bahwa
gadis semalam itu adalah Biauw Eng, betapapun mesranya sikap gadis itu, betapapun indah
menggairahkan tubuhnya, dia tentu akan menendangnya pergi! Baru sekarang, Keng Hong merasa sebal
dan menyesal sekali telah menuruti hati mengejar kenikmatan dalam menyambut cinta kasih seorang
gadis. Kemudian, dengan hati panas dan penuh kebencian, dia lalu berlari-lari pergi dari situ menuju ke
barat. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia peduli akan semua yang dilakukan Biauw Eng? Padahal,
Cui Im juga jahat dan keji, namun dia sama sekali tidak menyesal telah bermain cinta dengan murid
Lam-hai Sin-ni yang seperti iblis itu. Mengapa dia merasa menyesal mendapat kenyataan bahwa Biauw
Eng bukan seorang gadis baik-baik yang patut menjadi puteri gurunya? Mengapa menyesal mendapat
.
kenyataan bahwa gadis pakaian putih itu ternyata juga seorang hamba nafsu birahi dan seorang yang keji,
yang membunuh orang lain yang tak berdosa tanpa berkedip mata? Dia sendiri tidak dapat menjawab
pertanyaan hatinya yang ditujukan kepada perasaannya itu.
Hatinya agak lega setelah dia mengenal daerah yang sudah termasuk daerah Kun-lun-san ini. Memasuki
daerah Kun-lun-san berarti berada di wilayah yang dikuasai Kun-lun-pai, daerah aman.Dia tentu takkan
menghadapi gangguan-gangguan para tokoh kang-ouw lagi setelah berada di sini. Akan tetapi tidak
mungkin dia pergi menghadap tokoh-tokoh Kun-lun-pai, karena para tokoh-tokoh kun-lun-pai
mengrtahui dia berada di situ, tentu dia akan ditangkap dan tidak ada harapan lagi baginya untuk naik ke
Kiam-kok-san. Dia harus dapat mencapai Kiam-kok-san dengan diam-diam, tanpa diketahui
tokoh-tokoh Kun-lun-pai. Kalau dia sudah berada di puncak Kiam-kok-san, biarpun diketahui juga,
takkan ada yang berani menyusulnya ke tempat itu.
Akan tetapi dugaannya ini ternyata keliru karena baru saja dia keluar dari hutan itu, dia melihat banyak
orang menghadang di sebelah depan! Ia tadinya mengira bahwa mereka tentulah tokoh Kun-lun-pai,
akan tetapi dugaannya keliru karena ketika dia sudah tiba dekat dengan mereka, dia mengenal tosu tua
yang berdiri di depan itu adalah seorang di antara para tokoh yang pernah mengeroyok suhunya, yaitu
Kok Cin Cu tosu termuda dari Kong-thong Ngo-iojin, seorang tokoh Kong-thong-pai yang amat lihai!
Dan di sebelah belakang tosu ini berdiri sepuluh orang, delapan orang pria dan dua orang wanita yang
rata-rata berusia tiga puluh tahun, bersikap gagah dan galak, sedangkan dua orang wanita itu pun
kelihatan gagah, berwajah cantik dan bermata tajam. Ia dapat menduga bahwa sepuluh orang itu tentulah
murid-murid Kong-thong-pai. Karena dia sendiri belum pernah bentrok secara hebat dengan fihak
Kong-thong-pai, kecuali dengan sembilan orang murid Kong-thong-pai yang beberapa orang di
antaranya juga seorang di antara dua wanita cantik itu kini berada di situ, maka dia masih mempunyai
harapan untuk membebaskan diri dari keadaan tidak enak dalam perjumpaannya dengan tokoh besar
Kong-thong-pai yang memimpin sepuluh orang murid itu. Ketika dia bentrok dengan sembilan orang
murid Kong-thong-pai yang bercampur dengan empat orang murid Hoa-san-pai dan tiga orang murid
Siauw-lim-pai, yang bertempur sesungguhnya adalah Cui Im dan Biauw Eng dan biarpun ada yang
terluka di antara beberapa orang Kong-thong-pai, namun tidak ada yang sampai tewas. Ia cepat menjura
penuh hormat kepada tosu itu sambil berkata.
"Selamat pagi, Totiang dan para Twako dan Cici dari Kong-thong-pai yang mulia!"
Kok Cin Cu, tosu yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih itu, memandang penuh perhatian. Dia
sudah mendengar cerita para muridnya tentang pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong ini, yang kabarnya
memiliki ilmu mujijat, yaitu menyedot hawa sinkang muridnya. Mendengar itu dia menjadi penasaran dan
tertarik sekali, lalu mengajak mereka dan beberapa orang murid lain untuk menghadang di kaki
Kun-lun-san karena merasa yakin bahwa sekali waktu pemuda itu tentu akan kembali ke Kun-lun-san.
Dia tercengang melihat bahwa pemuda ini seorang bocah biasa saja, tampan dan memiliki sinar mata
yang cemerlang, sikap yang sopan santun danwajah yang berseri gembira. Juga dia terheran melihat
pemuda ini seperti mengenalnya.
"Hemmm, engkau telah mengenal pinto?"
Keng Hong tersenyum, "Tentu saja saya mengenal Totiang. Bukankah Totiang yang disebut Kok Cin
Cu, tokoh termuda dari Kong-thong Ngo-Lojin?"
"Siancai...! Agaknya Sin-jiu Kiam-ong tidak menyimpan sesuatu rahasia terhadap murid tunggalnya.
Bukankah engkau murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong?"
"Benar, Totiang. Saya Cia Keng Hong, murid dari suhu Sin-jiu Kiam-ong dan betul pula bahwa saya
.
mendengar segala hal tentang Kong-thong-pai dari mendiang suhu."
"Hal apa saja kau dengar?"
"Bahwa Kong-thong-pai adalah sebuah partai persilatan besar yang mengutamakan kebajikan
berdasarkan kegagahan, keadilan dan kebenaran. Bahwa Kong-thong Ngo-iojin merupakan lima tokoh
besar yang menjadi tulang punggung Kong-thong-pai dan banwa suhu bersahabat baik dengan pimpinan
Kong-thong-pai," kata Keng Hong, sengaja menambah untuk mendinginkan suasana.
"Bersahabat baik apanya? Dia telah membunuh lima orang murid Kong-thong-pai dan engkau masih
mengatakan bersahabat baik ? Kalau dia bersahabat baik, tentu dia tidak akan begitu pelit untuk
memberikan siang-bhok-kiam kepada pinto sebagai tebusan kesalahannya kepada pihak kami. Pinto
hanya mengharapkan agar engkau sebagai muridnya, dapat melihat kekeliruan gurumu dan dapat
menebus semua kesalahan agar persahabatan akan terpelihara."
Keng Hong menghela napas panjang. Tak lain tak bukan, ke situ juga larinya. Alangkah tamaknya kaum
kang-ouw ini dalam mengejar ilmu. Mereka itu seolah-olah tidak ada puasnya dalam mencari ilmu-ilmu
yang tinggi, seolah-olah berlumba agar menjadi jagoan nomor satu di dunia, lupa bahwa semua itu akan
musnah dan habis digerogoti waktu dan usia, akhirnya ditelan oleh kematian. Bahkan kakek yang begini
tua masih begitu tak untuk memperebutkan pusaka peninggalan suhunya. Apakah kakek ini masih
mempunyai waktu untuk mempelajari dan kemudian mempunyai kesempatan pula untuk mempergunakan
ilmu yang dipelajarinya? Sungguh manusia-manusia merupakan badut-badut yang tidak lucu, bahkan
menjemukan, selalu menjadi hamba daripada nafsu dan ketamakannya. Ada yang tamak dalam mengejar
kedudukan tinggi, mengejar nama besar, mengejar kemuliaan duniawi, mengejar wanita, atau seperti
orang-orang kang-ouw ini, mengejar ilmu agar menjadi orang yang paling hebat di dunia ini! Benar
gurunya! Gurunya tidak mengejar, melainkan menerima segala sesuatu sebagai suatu berkah, suatu
nikmat hidup, suatu kesenangan! Gurunya yang melakukan segala sesuatu demi kesenangan hidup, tidak
menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar sesuatu.
Tentu saja Keng Hong tidak tahu keadaan gurunya seperti itu pun adalah sebagai akibat daripada suatu
sebab, yaitu sebab patah hati oleh cinta kasih yang ternoda. Dia masih terlalu muda, masih belum
berpengalaman untuk dapat meneropong sepak terjang gurunya yang dianggapnya sebagai pengganti
orang tua, merupakan satu-satunya manusia di permukaan bumi yang dianggapnya paling baik.
"Maaf, Totiang. Menurut cerita guru saya, bentrokan yang terjadi antara suhu dan anak murid
Kong-thong-pai adalah bentrokan antara orang-orang ada yang sedang bermain judi, artinya merupakan
bentrokan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Kong-thong-pai. Kalah menang dalam
perkelahian sudah wajar, terluka atau mati juga hanya merupakan resiko-resiko dalam sebuah
pertandingan. Kebetulan murid-murid Kong-thong-pai yang kalah dan tewas. Bagaimana kalau suhu
yang ketika itu kalah dan tewas? Saya rasa urusan seperti itu saja tidak perlu diperpanjangan, apalagi
diperpanjang, apalagi kedua fihak, baik lima orang murid Kong-thong-pai yang kalah maupun suhu yang
menang, telah meninggal dunia. Saya menganggap bahwa urusan itu sudah !"
"Aha, kulihat engkau seorang muda yang berpemandangan luas. Tentu engkau akan dapat mengerti pula
akan kesediaan pinto menghapus seua luka lama dengan sebuah tangan murid Sin-jiu Kiam-ong yang
akan memenuhi permintaan pinto."
Diam-diam Keng Hong menjadi jengkel juga. "Kalau saya tidak salah artikan tentu Totiang maksudkan
pedang Siang-bhok-kiam, bukan?"
Tosu itu tersenyum dan mengangguk, "Engkau seorang muda yang gagah dan cerdik, tentu maklum apa
.
yang kami kehendaki."
"Tentu Totiang sendiri juga sudah tahu jelas bahwa Siang-bhok-kiam telah saya serahkan kepada
Kun-lun-pai."
Tosu tua itu meraba-raba jenggotnya yang panjang. "Tentu saja pinto tahu. Akan tetapi pinto juga tahu
bahwa fiahak Kun-lun-pai telah kena dibohongi, telah terkena tipuanmu. Aha engkau benar-benar
menuruni sifat Sin-jiu Kiam-ong yang nakal, orang muda. Masa para pimpinan Kun-lun-pai sampai kena
kau bohongi, kau beri sebuah pedang kayu yang palsu. Ha-ha-ha! Sungguh amat lucu sekali."
Keng Hong terkejut. "Ah , jadi ……mereka sudah tahu………."
"Sudah, rahasiamu telah terbuka dan engkau berada dalam bahaya aut yang hebat. Maka mengingat
persahabatan pinto dengan gurumu, sebaiknya engkau serahkan pedang itu atau memberitahukan
tempatnya kepada pinto, dan pinto beserta semua pimpinan Kong-thong pai akan melindungimu.
Percayalah, Kong-thong Ngo-Iojin masih memiliki cukup wibawa untuk melindungi murid
Sin-jiu-kiam-ong."
Keng Hong maklum bahwa kini dia telah menambah ancaman baru bagi dirinya, menambah musuh baru
yang amat hebat, yaitu pihak Kun-lun-pai! Ternyata pihak Kun-lun-pai telah mengetahui akan kepalsuan
pedang yang dia berikan kepada Kiang Tojin ! Akan tetapi, untuk menyerahkan diri berlindung kepada
Kong-tong-pai, dia tidak sudi. Dia sudah berbuat, dan dia sendiri pula yang harus bertanggung jawab,
demikian ajaran yang dia terima dari gurunya. Bukan sengaja dia hendak menipu Kun-lun-pai, adalah
Kun-lun-pai sendiri tidak benar, yang hendak memaksa minta pedang Siang-bhok-kiam darinya.
"Terima kasih atas atas kebaikan Totiang akan tetapi saya tidak dapat memberikan pedang itu kepada
Totiang, karena pedang itu telah lenyap dan saya sendiri tidak tahu berada di mana."
Wajah tosu itu menjadi merah. "Bohong kau!"
"Terserah penilaian Totiang, akan tetapi yang jelas, saya tidak dapat memberikan pedang itu kepadapun
juga."
"Cia Keng Hong, bocah masih ingusan seperti engkau ini berani menentang pinto?"
"Totiang, agaknya menurut kenyataannya, baik mendiang suhu maupun saya sendiri tidak pernah
menentang siapa-siapa, tidak menentang Totiang juga tidak memusuhi Kong-thong -pai. Adalah Totiang
sendiri dan para tokoh kang ouw yang dahulu mendesak-desak suhu dan sekarang setelah suhu
meninggal dunia, mendesak-desak saya. Memang soal kebenaran tidak bisa diperebutkan, Totiang,
karena setiap orang selalu melihat kebenaran dari sudut demi kepentingan pribadi. Yang penting adalah
buktinya. Sekarang kita bertemu dijalan kalau kita masing- masing jalan sendiri, bukankah tidak akan
timbul pertentangan? Saya hendak membuktikan bahwa saya tidak menentang siapa-siapa, yaitu saya
hendak mengambil jalan sendiri, tidak mengganggu Totiang sama sekali. Hendak saya lihat , siapakah
diantara kita yang mencari pertentangan." Setelah berkata demikian, Keng Hong melangkah pergi dan
hendak melewati orang-orang yang menghadangnya itu dengan jalan memutar.
"Mau atau tidak, engkau harus ikut bersama kami ke Kong-thong-pai! Di sana , dihadapan Kong-thong
Ngo-lojin , baru kau boleh bicara membela diri" kata Kok Cin Cu sambil melangkah dan menghadang
Keng Hong.
Pemuda itu menjadi penasaran dan marah sekali. Diantara banyak watak gurunya , sebuah watak yang
.
diwarisinya adalah watak tidak takut menghadapi apapun asal merasa benar. Ia maklum akan kelihaian
kakek ini , maklum dari penuturaan gurunya bahwa kelima orang tua Kong-thong Ngo lojin memiliki ilmu
pukulan Ang -liong-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Naga Merah) dan amatlah ampuhnya, mengandung
tenaga panah melebihi api membara dan merupakan kesaktian yang amat sukat dikalahkan. Ia pun
mendengar pula bahwa selain Ang-liong-jiauw-kang, kelima orang kakek itu mempunyai senjata
keistimewaan sendiri-sendiri dan Kok Cin Cu ini memiliki senjata sabuk baja yang dipergunakan sebagai
pecut. Akan tetapi melihat betapa kakek ini mendesak dan memaksanya, timbul sifat keras kepalanya
dan dia menjawab dengan tegas.
"Sebaliknya, Totiang. Dengan cara apa pun juga, Saya tidak mau ikut ke Kong-thong-pai karena tidak
mempunyai urusan dengan siapapun juga di sana!"
"Bagus, engkau berani menentang pinto, ya?'' “Saya bukan menentang orangnya melainkan perbuatan
dan sikapnya yang tidak benar yang saya tentang!"
"Bocah sombong! Kau kira pinto takkan dapat menangkapmu?" Tosu tua itu menjadi marah. Dia bukan
seorang pemarah, di depan murid-murid dan keponakan-keponakan muridnya, dia selalu di desak
omongan oleh pemuda ini, tentu saja dia menjadi malu dan menganggap Keng Hong tidak memandang
mata kepadaya. Dia suka berlaku sungguh sungkan dan mengajak pemuda itu ke Kong-thong-pai
sehingga keputusan akan dijatuhkan terhadap pemuda ini bukan keputusan dia sendiri, melainkan
keputusan kelima orang Kong-thong Ngo-Lojin. Hal ini saja sudah dia lakukan secara banyak mengalah
terhadap seorang pemuda, kini di tambah oleh bantahan-bantahan Keng Hong, benar-benar membuat
kakek ini kehilangan kesabaran dan lupa diri. Ia sudah melangkah maju dan cepat mencengkeram untuk
menangkap pundak Keng Hong dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya sudah melolos sabuk
baja dari pinggangnya.
Keng Hong menjadi marah dan tidak mau diam saja. Dia mengerahkan sinkang dari pusarnya,
mengangkat tangan kiri menagkis cengkeraman itu.
"Plakkk!" tangan Kok Cin Cu tertangkis secara hebat, akan tetapi kakek ini lihai bukan main.
Cengkeraman pada pundak yang ditangkis itu berbalik menjadi cengkeraman pada pergelangan tangan
Keng Hong dan gerakannya amat cepat dan kuat sehingga sebelum Keng Hong tahu apa yang terjadi,
tahu-tahu pergelangan tangan kanannya sudah kena di cengkeraman lima buah jari tangan yang panas dan
kuat sekali.
"Hayaaaaaaa….! Teriakan ini keluar dari mulut Kok Cin Cu ketika kakek ini merasa betapa tenaga
singkang yang terkandung dalam tangan kanannya membanjir keluar memasuki pergelangan tangan
pemuda itu..Maklumlah dia kini akan cerita kepada muridnya betapa pemuda ini memiliki ilmu "menyedot
sinkang lawan." Ia memang sudah bersiap-siap untuk ini, dan untuk penjagaan inilah dia tadi mencabut
sabuk baja, maka kini cepat menggerakkan tangan kirinya, menggunakan sabuk itu menotok siku tangan
kiri Keng Hong.
Totokan itu mengenai jalan darah dengan tepat sekali sehingga seketika tangan kiri Keng Hong menjadi
lumpuh dan otomatis tangan Kok Cin Cu yang mencengkeram tadi telah melekat dapat direnggutnya
terlepas. Kok Cin Cu melompat ke belakang sambil berseru.
"Bocah keji! Engkau benar-banar memiliki ilmu iblis Thi-khi-I-beng itu?" Kakek ini dia-diam merasa
kagum dan juga iri hari sekali. Ilmu yang telah ratusan tahun dikabarkan lenyap itu, yang tentu saja
diinginkan oleh semua tokoh tentu saja diinginkan oleh semua tokoh kang-ouw, dan bahkan Lam-hai
Sin-pi sendiri, tokoh datuk hitam yang paling lihai, hanya mengerti sedikit saja tentang ilmu ini, kini dimiliki
oleh bocah yang masih hijau! Ia lalu menggerakkan sabuk baja itu yang meledak-ledak di udara seperti
.
sebatang cambuk dan berubahlah cambuk itu menjadi sinar melingkar-lingkar seperti naga beterbangan di
atas kepala Keng Hong!
Keng Hong menjadi pening kepalanya memandang sinar hitam melingkar-lingkar ini akan tetapi dia tidak
menjadi gentar dan sambil melengking keras tubuhnya sudah meloncat itu. Akan tetapi, tubuhnya yang
meloncat itu bertemu dengan ujung sabuk baja di udara. Ujung sabuk yang lemas itu telah mengait
lehernya. Keng Hong yang tercekik itu kaget dan marah, sekali sabut itu sudah ditarik dengan gentakan
keras sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terpelanting dan bergulingan diatas tanah. Ia meloncat
bangun, mendengar suara ketawa dan ternyata sepuuh orang murid Kong-thong-pai iitu telah
mentertawakannya. Kemarahannya makin menjadi dan cepat Keng Hong sudah membalikkan tubuh
menghadapi kakek itu lagi. Kok Cin Cu merasa tidak enak sendiri harus menghadapi seorang lawan
muda dengan senjata di tangan. Akan tetapi dia pun maklum betapa bahayanya kalau dia bertangan
kosong saja, mengingat pemuda itu memiliki ilu Thi-khi-I-beng. Dia tentu sja tidak tahu bahwa
sesunguhnyanya dalam hal ilmu silat, kepandaian keng Hong masih dangkal sekali. Bahkan dalam hal itu
pukulan, dia hanya mengenal ilmu pukulan sakti San-im-kun-hoat di samping ilmu Pedang
Siang-bhok-Kiam-sut yang hanya bisa dimainkan dengan pedang kayu itu! Kakek itu mengira bahwa
peuda yang sudah memiliki Thi-khi-I-beng tentu memiliki pula ilmu-ilmu silat yang amat tinggi. Dan dia
tidak berniat merobohkan pemuda ini dengan membunuhnya, melainkan hendak menangkapnya yang
tentu saja lebih sukar daripada kalau membunuhnya.
"Totiang, engkau jahat!" Keng Hong berseru dan kini dia menerjang maju sambil mainkan jurus ke tiga
Ilmu Silat San-in-kun-hoat. Jurus ini disebut Siang-in-twi-san (Sepaang Mega Mendorong Gunung),
dilakukan dengan pukulan mendorong ke arah lawan mengunakan sepasang lengan yang dilonjorkan
sambil melompat maju. Untuk melakukan serangan ini, Keng Hong menggunakan sinkang sehingga angin
pukulannya dari jauh sudah menyambar ke arah dada Kok Cin Cu.Tokoh Kong-thong-pai ini sendiri
adalah seorang ahli Iweekeh, seorang yang mahir mempergunakan sinkang untuk melakukan Ilmu
Ang-liong-jiauw-kang , juga sinkangnya sudah kuat sekali. Akan tetapi, ketika angin pukulan kedua
tangan pemuda itu mendorongnya dan dia merasa betapa tenaga itu amat dahsyat dan kalau dia lawan
agaknya dia tidak akan kuat, dia menjadi terkejut bukan main, cepat dia melempar tubuh ke belakang
dan berjungkir balik ke samping, kemudian pecutnya disabetkan ke depan mengarah tubuh Keng Hong
yang masih meloncat datang. Ujung cabuk ini melibat kedua kaki Keng Hong terpelanting keras ke atas
tanah. Kembali dia terjatuh dan terguling-guling dan kembali dia mendengar suara ketawa anak murid
Kong-thong-pai yang baginya lebih menyakitkan daripada bantingan itu sendri.
Keng Hong melompat bangun lagi, bajunya robek pada bagian siku dan pundak, akan tetapi dia tidak
peduli akan keadaan dirinya, bahkan tidak peduli akan rasa nyeri pada pinggul dan paha ketika
terbanting tadi. Kemarahannya membuat dia tidak mau mengeluarkan suara , melainkan siap untuk
menyerang lagi.
Melihat sikap pemuda ini yang agaknya nekat dan sama sekali tidak mengenal takut, Kok Cin Cu
menjadi makin tidak enak. "Orang muda, lebih baik engkau menyerah saja. Pinto hanya ingin mengajaku
ke Kong-thong-pai, pasti sukarnya bagimu? Mengapa harus menantang pinto ? Pinto sunggah tidak ingin
menghina orang muda, tidak ingin menyakitimu."
"Tosu palsu, tak perlu banyak bicara manis lagi karena bicaara manis itu menyembunyikan kepahitan
yang memuakkan. Engkau menghendaki Siang-bhok- kiam dan aku tidak ingin memberikan. Mau bunuh
atau mau apakan aku, terserah, aku tidak takut!" jawab Keng Hong.
"Ah, bocah keras kepala, kau memang pelu dihajar!" bentak Kok Cin Cu yang benar-benar tidak
berdaya untuk mebujuk. Sabuk bajanya menyambar dan meledak-ledak ke atas kepala Keng Hong, lalu
meluncur ke bawah mencambuk ke arah leher pemuda itu. Keng Hong cepat mengelak, akan tetapi
.
cabuk itu seolah-olah bermata, karena begitu juga mengejar dan dengan suara keras cambuk telah
menghanntam pangkal bahunya.
"Tarrr..!"
Untung Keng Hong cepat sekali mengerahkan lweekangnya sehingga ujung cabuk itu mental kembali
dan hanya berhasil menggigit robek baju di bagian bahunya. Betapapun juga, kulit bahu terasa pedas dan
panas. Adapun kok Cin Cu yang melihat betapa kulit bahu tidak lecet sedikitpun, diam-diam makin
kagum dan harus memuji pemuda ini yang benar-benar telah memiliki tenaga sinkang yang amat hebat.
Diam-diam dia harus mngakui pula bahwa jika pemuda itu memiliki ilmu silat yang tinggi dan terlatih,
kiranya sukarlah baginya untuk dapat menandingi pemuda ini. Untung baginya, pemuda ini agaknya hanya
mewarisi sinkang yang amat dahsyat, namun belum mewarisi ilmu silat Sin-jiu Kiam-ong yang tinggi.
Biarpun gerakan serangannya tadi luar bisa anehnya dan dahsyatnya, namun gerakannya masih kaku,
tanda bahwa pemuda ini kurang terlatih dalam ilmu silat.
"Tarr.!Tarrr!!! Tarrrrrrrrr!!!" Cambuk itu melecut-lecut dengan ganasnya, menghujani tubuh Keng Hong
dari segala jurusan dan datangnya dari jarak jauh sehingga pemuda itu tidak ada kesempatan untuk balas
menyerang. Memang benar bahwa dengan sikangnya Keng Hong dapat menolak lecutan tiba, sehingga
mulaillah darahnya mengalir keluar dari kulit paha dan kulit punggung yang ikut robek bersama
pakaiannya. Melihat darahnya sendiri dan merasa betapa nyeri punggung dan pahanya, Keng Hong
bukan menjadi jerih bahkan menjadi makin marah. Ia kini berusaha menerima lecutan cambuk dengan
kedua tangannya dan setelah kedua lengannya penuh luka oleh ujung cabuk, akhirnya dia berhasil
menangkap ujung cambuk dengan tangan kanannya.
Keng Hong mengerahkan tenaga membetot untuk merampas, Kok Cin Cu mengerahkan dengan susah
payah. Untung bagi Tosu ini bahwa Keng Hong memegang ujung cambuk baja itu yang kecil, licin dan
keras, berbeda dengan tosu itu yang memegang gagangnya yang tentu saja lebih enak sehingga sampai
beberapa lama Keng Hong belum juga berhasil merampasnya. Sementara itu, anak murid
Kong-thong-pai mulai mengurung dengan senjata di tangan siap menghujankan senjata pada tubuh Keng
Hong belum juga berhasil merampsnya. Sementara itu, anak murid Kong-thong-pai mulai mengurung
dengan senjata di tangan, siap menghujankan senjata pada tubuh Keng Hong. Pemuda ini terancam
bahaya, terutama sekali dari Kok Cin Cu yang mulai menggerahkan tangan kirinya dengan Ilmu
Ang-liong-jiauw-kang sehingga perlahan-lahan tangan kirinya itu berubah merah sekali, tanda bahwa
tenaga Ang-liong-jiauw-kang telah terkumpul. Kini tosu itu siap dengan tangan kirinya dan agaknya
begitu Keng Hong dapat menang dalam perebutan cambuk, tentu dia akan mengirim pukulan mautnya.
"Suhu, biar teecu serampang kakinya dengan tombak teecu!" seru seorang di antara murid-murid Kok
Cin Cu.
"Biar teecu tusuk dari belakang," kata yang lain.
Teriakan-teriakan mereka itu dibarengi dengan pengurungan yang makin ketat dan tangan mereka sudah
bergerak-gerak penuh semangat karena begitu ada komando dari guru mereka, tentu mereka itu akan
berlumba untuk menyerang Keng Hong.
"Jangan..turun tangan...." terdengar Kok Cin Cu berkata lirih dan cepat kakek ini mengerahkan tenaga
lagi karena begitu dia bicara sedikit saja, cambuk terbetot dan hampir dapat terampas oleh Keng Hong.
Pemuda ini pun agak berkurang kemarahannya, bahkan kalau tadi dia bernafsu membunuh kakek ini,
sekarang nafsunya hilang dan dia sadar bahwa betapapun juga, kakek ini bukanlah seorang para tokoh
kang-ouw lainnya, haus akan pusaka simpanan gurunya. Kakek ini masih mengenal sifat gagah buktinya
dia melarang murid-muridnya turun tangan padahal kalau hal itu terjadi, sudah jelas bahwa kakek itu tentu
.
akan dapat mengalahkannya, menangkapnya atau pun membunuhnya.
Pada saat itu terdengar suara melengking tinggi dan suara ini disusul teriakan-teriakan kesakitan dan
robohlah empat murid Kong-thong-pai. Mereka roboh bergulingan lalu berkelojotan karena pelipis
mereka masing-masing telah tertusuk sebatang tusuk konde berkepala bunga bwee! Pada saat itu,
bayangan putih berkelebat dan Sie Biauw Eng telah meloncat dengan gerakan ringan. Ketika tangannya
bergerak, sebuah sinar putih melayang ke depan dan ujungnya menyambar ke arah mata Kok Cin Cu!
"Hayaa....!!" Tosu itu berseru kaget melihat menyambarnya sabuk sutera putih yang amat cepat seperti
ular hidup ini. Terpaksa dia melepaskan cambuknya sehingga tertinggal di tangan Keng Hong sedangkan
dengan gerakan cepat kakek itu meraih ke arah ujung sabuk sutera putih dengan cengkeraman tangan
kirinya untuk merampas senjata wanita baju putih ini, Sie Biauw Eng sudah menyendal kembali sabuk
suteranya karena niatnya hanya hendak menolong Keng Hong daripada bahaya tadi.
Akan tetapi Kok Cin Cu tidak mengerti akan niat wanita cantik yang baru datang ini. Melihat gerakan
sabuk sutera putih, Kok Cin Cu yang juga seorang ahli memainkan senjata lemas, maklum bahwa wanita
muda ini merupakan seorang lawan lihai yang sama sekali tidak boleh di pandang ringan , maka dia pikir
bahwa sebelum di keroyok dua orang muda lihai ini, lebih baik turun tangan dulu membunuh Keng hong,
baru menghadapi wanita itu. Pikiran inilah yang membuat Kok Cin Cu tiba-tiba meloncat ke depan
menubruk ke arah Keng Hong dan mengirim serangan dengan ke dua tangannya mencengkeram ke arah
kepala dengan Ilmu Ang-liong-jiauw-kang yang luar biasa dahsyatnya!
"Keng Hong ....awas...! " Sie Biauw Eng menjerit ngeri menyaksikan dahsyatnya serangan tokoh
Kong-thong- pai ini dari tangannya meluncur sinar putih.
Keng Hong juga maklum akan kelihaian Ang-liong-jiauw-kang, maka dia pun lalu mengerahkan
sinkangnya dan karena dia tidak ingin membunuh kakek ini, dia menggunakan tenaga sinkangnya untuk
mendorong agar tubuh kakek itu terpental. Kini dia tidak marah kepada kakek itu, maka otomatis tenaga
sedot yang mujijat di tubuhnya pun tidak bekerja!
"Dessss...!" Dua tenaga raksasa yang tidak tampak bertemu di udara. Tubuh Keng Hong tergetar dan
bergoyang-goyang kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang. Akan tetapi Kok Cin Cu
mengeluarkan keluhan tertahan, tubuhnya terbanting ke belakang dan kakek itu roboh tak berkutik lagi!
"Kau..perempuan keji..!!" Keng Hong menoleh ke arah Biauw Eng karena dia dapat melihat jelas
betapa ujung sabuk sutera Biauw Eng tadi menotok ke arah jalan darah di belakang kepala tosu itu,
sebuah totokan maut yang tak mungkin dapat dielakkan oleh tosu yang sedang mengadu tenaga dahsyat
dengan dia tadi. Gerakan sabuk sutera di tangan Biauw Eng sedemikian cepatnya sehingga hanya dia
yang melihatnya, sedangkan sisa murid Kong-thong-pai tidak ada yang mengetahuinya, mengira bahwa
guru mereka itu tewas di tangan Keng Hong.
Biauw Eng memandang heran. Keng Hong ..., aku hanya membantumu...!"
"Perempuan rendah! Perempuan tak tahu malu ! Siapa membutuhkan bantuanmu? Pergi, muak perukku
melihatmu!"
"Kau... Kau...!" Biauw Eng terisak dan mukanya pucat sekali, kemudian gadis itu membalikkan
tubuhnya lalu berkelebat cepat melarikan diri dari tempat itu menginggalkan isak tertahan. Keng Hong
menghela nafas panjang, memandang ke arah mayat Kok Cin Cu dan mayat empat orang murid
Kong-thong-pai , kemudian dia berkata, suaranya berat.
.
"Heh, kalian murid-murid Kong-thong-pai, semua ini salahku. Aku telah membunuh Kok Cin Cu totiang
dan empat orang saudara kalian .Nah , tangkaplah aku, belenggu tanganku. Bawa aku ke
Kong-thong-pai menghadap para pimpinan kalian agar aku menerima hukumannya secara adil.
Empat orang laki-laki gagah dan dua wanita cantik itu sejenak memandang kepadanya dengan perasaan
jerih, benci, marah dan juga heran. Kemudian mereka meloncat maju dan menelikung kedua tangan Keng
Hong ke belakang. Seorang di antara mereka mempergunakan cambuk baja ilik Kok Cin Cu untuk
mengikat kedua lengan pemuda itu ke belakang, kemudian mereka mengiring Keng hong sambil
membawa lima jenazah itu. Mereka menuju ke sebuah dusun dan dengan bantuan penduduk di situ,
kelima buah jenazah itu dikubur secara sederhana. Ketika enam orang murid Kong-thong-pai itu berlutut
sambil menangis di depan gundukan kuburan itu, Keng Hong yang terbelenggu kedua lengannya ikut pula
menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan Kok Cin Cu dan berbisik lirih.
"Totiang tentu mengerti bahwa bukan niatku membunuh Totiang berlima." Enam orang Kong-thong-pai
itu menjadi heran melihat Keng Hong berlutut pula sabil berkemak-kemik di depan kuburan guru mereka,
akan tetapi mereka diam saja. Mereka membenci pemuda ini yang telah menewaskan guru mereka, akan
tetapi mereka tidak berani bersikap kasar karena mereka tahu diri dan mengerti bahwa pemuda itu dapat
mereka belenggu karena pemuda itu sengaja menyerahkan driri. Kewajiban mereka hanya menggiring
pemuda ini ke Kong-thong-pai, menyerahkannya kepada para pimpinan Kong-thong-pai. Mereka tahu
bahwa biarpun kedua lengannya dibelenggu, kalau pemuda itu memberontak, agaknya mereka berenam
bukanlah lawannya.
Dua orang wanita anak murid Kong-thong-pai itu, disamping rasa benci dan dendam karena kematian
gurunya, ada perasaan lain yang amat mengganggu hati mereka dan yang sekaligus menghapus rasa benci
dari hati mereka. Mereka berdua merasa saat kagum kepada Keng Hong. Kagum akan kelihaian
pemuda itu, kagum akan sikapnya yang tenang , gagah, kagum pula akan ketampanan wajahnya dan
kebagusan bentuk tubuhnya. Apalagi bagi Kiu Bwee Ceng, wanita cantik baju kuning yang sudah dua
kali bertemu dengan Keng Hong, yaitu pertama kalinya ketika ia dan para saudara sepergurunnya dan
murid-murid Siauw-liam-pai dan Hoa-san-pai menghadang pemuda ini, bahkan dia pernah mengalami
tersedot sinkangnya oleh pemuda yang aneh ini. Dia kagum sekali akan kegagahan Keng Hong. Kiu
Bwee Ceng ini adalah seorang janda muda, usianya mendekati tiga puluh tahun. Suaminya telah
meninggal dunia dan dahulu suaminya adalah murid kepala dari Kok Cin Cu, maka tentu saja ilmu
kepandaiaanya paling tinggi di antara para suheng-suhengnya. Setelah suaminya tewas dalam
pertempuran melawan gerombolan penjahat, Bwee Ceng menjadi janda. Sukar baginya untuk
menemukan seorang pria yang dapat menandingi suaminya. Bagaimana hatinya takkan menjadi tertarik?
Apalagi karena ia dapat menduga bahwa dua orang gadis cantik jelita murid La-hai Sin-ni yang amat lihai
itu agaknya tergila-gila pula kepada Keng Hong. Ketika tadi melihat betapa Keng Hong menbentak dan
mengusir Song-bun Siu-li yang kelihaiannya terkenal sebagai seorang iblis betina yang mengerikan, ia
menjadi makin tertarik.
Adapun wanita ke dua yang berpakaian biru adalah Tang Swat Si, sumoinya. Wanita ini masih gadis
sungguhpun usianya sudah dua puluh lima tahun. Swat Si memiliki wajah cantik dan bentuk tubuh yang
indah sehingga banyak pria yang jatuh cinta kepadanya. Banyak pula datang lamaran, kan tetapi gadis ini
selalu menolaknya karena tidak ada seorangpun di antara para pelamar itu yang menggerakkan hatinya.
Kini bertemu dengan Keng Hong, tiba-tiba saja hatinya menjadi tidak karuan rasanya. Berkali-kali gadis
ini mencuri pandang, mengerling ke arah tubuh belakang Keng Hong, melihat pinggulnya, punggung dan
paha yan telanjang sebagian karena pakainnya robek-robek terakan oleh pecut baja Kok Cin Cu tadi.
Mereka kulit putih halus yang membayangkan otot-otot yang kuat, karena dia tadi menyaksikan betapa
di balik kulit putih halus itu tersembunyi tenaga sinkang yang saat hebat sehingga gurunya sendiri pun
tidak kuat menghadapinya, hati gadis ini menjadi tegang, mukanya menjadi merah dan pipinya terasa
panas, jantungnya berdebar tidak karuan.
.
Bwee Ceng agaknya maklum akan gerak-gerik sumoinya. Sebagai seorang wanita yang pernah
bersuami, dia lebih berpengalaman dan melihat gerak-gerik sumoinya, ia dapat menduga bahwa
sumoinya, ia dapat menduga bahwa sumoinya terserang penyakit yang sama dengan dia sendiri.
Diam-diam dia mendekatinya sumoinya sehingga mereka berjalan berendeng, agak jauh dari empat orang
suheng mereka. Bwee Ceng menowel lengan sumoinya dan berbisik-bisik sambil kadang-kadang
memandang ke arah tawanan mereka tiu. Kelihatan Swat Si terbelalak memandang sucinya, kemudian
menundukkan muka dengan kedua matanya meneriling tajam membayangkan rasa jengah dan malu-malu.
Kemudian mereka berbisik-bisik dan tidak ada orang lain yang dapat mendengar mereka , kecuali Keng
Hong!
Pada saat itu, Keng Hong sedang berjalan sambil melamun, memikirkan Sie Biauw Eng. Kebenciannya
dan penyesalan hatinya terhadap gadis itu makin menghebat. Ia mengerti bahwa gadis itu saat
mencintainya, entah cinta hanya terdorong nafsu berahi belaka, seperti yang terbukti dari pengalamannya
malam itu ketika Biauw Eng mendatanginya dan mencurahkan segala kemesraan terhadap dirinya, entah
cinta yang lain lagi sifatnya karena buktinya secara diam-diam gadis itu selalu mengikutinya dan
membantunya. Betapapun sifatnya, dua macam cinta kasih ini tentu saja dapat dia terima dengan hati
senang dan puas, akan tetapi yang membuat dia menyesal dan membenci adalah bahwa setiap kali Biauw
Eng turun tangan,tentu terjadi pembunuhan keji dan akibatnya dialah yang dimusuhi orang! Yang terakhir
ini sudah keterlaluan. Kalau saja Biauw Eng tidak turun tangan, tak mungkin empat orang tokoh murid
Kong-thong-pai tewas dan seorang tokoh di antara Kong-tong Ngo-Iojin tewas pula! Dan yang paling
memanaskan hatinya karena kekejian gadis itu adalah kematian Sim Ciang BI, gadis Hoa-san-pai yang
lemah lembut, yang sama sekali tidak berdosa. Hanya karena gadis Hoa-san-pai itu mencintainya lalu
dibunuh secara keji oleh Biauw Eng. Hemmm.. demikian kejikah hati seorang wanita yang sudah
mencinta? Apakah kalau melihat setiap orang wanita lain mencintanya, lalu turun tangan tangan
membunuhnya? Ah, ingin dia melihatnya! Kalau betul demikian, dia harus dapat menangkap basah Biauw
Eng, dan menyeretnya untuk menerima hukuman dari partai persilatan yang bersangkutan! Betapapun dia
mempunyai perasaan sayang yang amat aneh di sudut hatinya terhadap Sie Biauw Eng, namun mengingat
akan kekejian gadis itu, dia ingin menangkap basah Biauw Eng dan menyerahkannya kepada
Hoa-san-pai atau Kong-thong-pai!
Ketika dia termenung sampai di situ, tiba-tiba dia mendengar bisikan-bisikan dua orang wanita yang
berjalan agak jauh di sebelah belakangnya. Pada saat itu, Keng Hong sedang termenung dan keadaan
orang yang termenung hampir sama dengan keadaannya kalau sedang bersamadhi. Begitu telinganya
dapat menangkap bisikan-bisikan itu, dia menghentikan renungannya dan mencurahkan perhatiaanya
pada bisikan-bisikan tadi sehingga terdengar cukup jelas oleh Keng Hong yang memang memiliki sinkang
yang amat kuat itu. Muka Keng Hong menjadi merah ketika dia menangkap bisikan-bisikan itu dan dia
mengerling ke kanan kiri, ke arah empat orang murid pria Kong-thong-pai ynag berjalan di kanan kirinya,
akan tetapi hatinya lega melihat mereka ini tidak mendengar apa-apa.
"Suci apa yang kaukatakan ini? Jangan menuduh yang bukan-bukan.." terdengar jelas oleh Keng Hong
gadis baju biru, Tang Swat Si, berbisik.
"Hi-hi-hik, tak perlu bepura-pura lagi, Sumoi. Aku pun amat tertarik kepadanya. Dia seorang jantan
pilihan, dan kalau saja kita dapat menerima cintanya untuk semalam saja.. ah, selamanya kita tidak akan
penasaran..." balas Kiu Bwee Ceng sambil menghela napas.
"Ihhh..! Suci, apa yang kaukatakan ini? Sungguh memalukan.."
"Memalukan apa" Sumoi, kita sama-sama wanita dan sama-sama jatuh hati kepadanya. Dia memiliki
sinkang yang luar biasa. Siapa tahu, kalau.. satu kali saja dia suka melimpahkan cintanya kepada kita..,
.
sinkangnya yang kuat itu akan menular kepada kita..."
"Hina dan rendah sekali, Suci..":
"Benarkah? Kurasa tidak demikian isi hatimu. Atau, kalau engkau tidak mau, biarlah aku yang
mencobanya asal engkau dapat menutup rahasia. Kulihat matanya penuh gairah ketika memandang kita.
Mata seperti itu hanya dimiliki oleh pria yang bersemangat dan yang selalu suka kepada wanita. Malam
ini.... kalau ada kesempatan, kalau engkau mau, lebih baik lagi..., maukah engkau, Sumoi?"
"Ihhhhh, aku... aku malu, Suci. Engkau lebih dulu..."
"Baik, aku lebih dulu dan engkau menjaga. Kalau berhasil, akan kubujuk dia agar suka melayanimu."
Keng Hong tersenyum dalam hatinya, tersenyum geli. Alangkah banyaknya wanita cantik seperti mereka
itu di dunia ini. Seperti Cui Im! Bahkan Biauw Eng, yang tadinya dia sangka lain daripada yang lain,
bukan penghamba nafsu berahi, kiranya juga sama saja! Ah, dia tidak peduli lagi. Kalau memang mereka
menghendaki dia tidak akan menolak. Mereka itu manis-manis dan apakah kata gurunya? "Uluran cinta
kasih wanita merupakan anugerah nikmat yang tidak semestinya dibiarkan sia-sia, tentu saja kalau
engkau sendiri tertarik kepadanya. Kalau tidak sekalipun, jangan menolak secara kasar karena hal itu
akan menyakiti perasaannya yanghalus. Tidak ada sakit hati yang lebih parah bagi seorang wanita
daripada di tolak cintanya oleh seorang pria.”
Dia akan melayani mereka bahkan akan membuka jalan. Hal ini bukan sekali-kali karena dia sudah
tergila-gila kepada mereka atau sudah terlalu mendesak keinginnya untuk bermain cinta dengan mereka.
Sama sekali bukan. Terutama sekali karena dia kini mendapat jalan untuk memancing Biauw Eng.
Bukankah Biauw Eng membunuh Sim Ciang Bi karena gadis Hoa-san-pai itu memncintainya? Nah,
biarlah dua orang murid wanita Kong-thong-pai ini bermain cinta dengannya agar Biauw Eng turun tangan
pula membunuh ereka. Akan tetapi sekali ini daia akan waspada, tidak akan tertidur pulas dan akan
selalu menjaga agar dia dapat menangkap Biauw Eng kalau gadis itu berusaha membunuh mereka, dan
tentu saja dia akan berusaha mencegah pembunuhan atas diri ke dua orang murid Kong-thong-pai ini.
Malam itu, rombongan murid Kong-thong-pai bermalam di sebuah dusun. Karena mereka tidak ingin
mengganggu penduduk dusun itu, didalam dusun kecil itu tidak terdapat rumah penginapan, terpaksa
mereka lalu berada dalam sebuah kuil tua yang sudah kosong. Hati para murid Kong-thong-pai itu
sedang risau dan berduka berhubung dengan kematian guru mereka , dan Keng Hong merupakan
seorang tawanan yang suka rela, tidak perlu di jaga lagi karena andaikata mau melarikan diri, biar di jaga
sekalipun akan percuma dan tetap akan dapat lari, maka empat orang murid pria dan dua orang murid
wanita itu segera merebahkan diri mengaso di lantai kuil setelah mereka makan malam dan lantai itu
disapu bersih oleh Bwee Ceng dan Swat Si.
Tentu saja, seperti biasa, Bwee Ceng dan Swat Si memisahkan diri. Biarpun empat orang itu adalah
suheng-suheng mereka, namun sebagai wanita tentu saja mereka merasa tidak leluasa untuk tidur dalam
suatu ruangan dengan mereka, apaa lagi di situ terdapat Keng Hong dan lebih-lebih lagi karena mereka
berdua diam-diam mempunyai rencana rahasia!
Malam itu, menjelang tengah malam, Bwee Ceng berindap memasuki ruangan belakang di mana Keng
Hong tidur. Pemuda ini emang sengaja memilih ruangan terpisah untuk tidur. Dengan suara gemetar Bwee
Ceng berbisik.
"Keng Hong.."
.
Keng Hong memang belum tidur, dia masih duduk bersandar tembok kuil. "Ah, engkaukah itu? Apakah
kehendakmu?"
"Aku... aku ingin membuka belenggumu. Amat tidak enak tidur dengan kedua tangan terbelenggu."
Keng Hong tersenyum dan mengangkat kedua tangannya yang sudah bebas. Dia telah membuka sendiri
belenggu tangannya yang dia taruh di atas lantai. "Aku sudah bebas dan siap menantimu, nona. Ataukah..
Perasaan cintamu yang kau bisikkan siang tadi sudah berubah?"
Bwee ceng makin kaget. "Kau..kau dapat mendengarkan percakapan itu ...?"
"Tentu saja, dan aku merasa girang sekali. Kalian adalah nona-nona yang cantik manis. Akan tetapi, kita
harus keluar dari kuil ini. Tidak enak rasanya kalau kita bersenang-senang disini, dimana para suhengmu
tidur. Dan ajak sumoimu. Kita bertiga berjalan-jalan di kebun belakang kuil. Bagaimana, maukah?"
Dengan kedua pipi kemerahan Bwee Ceng hanya mengangguk-angguk, tanpa dapat mengeluarkan
suara, kemudian tertawa kecil dan berlari-larian pergi untuk memanggil sumoinya. Keng Hong sudah
melangkah keluar dari kuil menuju ke kebun bunga yang berada di belakang kuil. Seperti kuil itu sendiri,
kebun itupun tidak terpelihara, namun masih banyak bunga-bunga liar tumbuh di situ dan ditumbuhi
rumput tebal. Keng Hong yang hendak mempergunakan pertemuannya dengan dua orang murid wanita
Kong-thong-pai ini sebagai "pancingan" kepada Biauw Eng, memilih tempat terbuka dan duduklah dia di
atas tanah yang bertilang rumput hijau tebal. Tak lama dia menanti dan tampaklah Bwee Ceng, janda
muda ini yang begitu tiba di tempat itu, lalu menarik sumoinya duduk di dekat Keng Hong, kemudian
sambil tersenyum ia merangkul Keng Hong yang balas memeluknya.
"Ah, engkau begini tampan, begini gagah..." Bwee Ceng berbisik.
Karena memang sudah memiliki dasar batin lemah terhadap godaan nafsu, biarpun tadinya sungkan dan
malu, atas desakan Bwee Ceng dan keramahan Keng Hong, akhirnya Swat Si mulai berani pula
membalas rangkulan Keng Hong. Pemuda ini melayani kedua orang murid Kong-thong-pai yang di
mabuk nafsu itu dengan penuh kesediaan dan keramahan, akan tetapi dia hanya mencurahkan
perhatiannya setengah saja untuk itu, karena sebagian perhatiannya lagi dia kerahkan untuk meneliti
keadaan sekeliling kebun itu, dan untuk dapat "menangkap basah" apabila Biauw Eng turun tangan
melakukan serangan kejam terhadap dua orang nona dalam pelukannya.
Menjelang fajar, Swat Si sudah tertidur kelelahan, dan Bwee Ceng masih membelai dan memeluk Keng
Hong. Janda ini benar-benar tergila-gila kepada pemuda perkasa itu dan dia berbisik-bisik mesra, "Keng
Hong, kekasihku.. Engkau jangan khawatir, kelak di depan para supekku, aku akan membelamu akan
kuceritakan bahwa bukan engkau yang membunuh suhu dan empat orang suheng, melainkan Song-bun
Siu-li. Aku akan bersumpah dan.. Dengan segala daya akan kubela engkau, kekasihku."
Keng Hong menciumnya sambil tersenyum. "Engkau baik sekali, Bwee Ceng. Terima kasih."
Pada saat itu, Keng Hong cepat melepaskan pelukan Bwee Ceng dan tubuhnya bergerak ke depan,
menangkap dua benda yang mengeluarkan sinar putih dan yang menyambar cepat ke arah pelipis Bwee
Ceng dan Swat Si. Tepat seperti dugaannya, Biauw Eng turun tangan menyerang dengan senjata
rahasianya, yatiu bola-bola putih berduri!
"Biauw Eng, perempuan keji...!" Keng Hong meloncat ke arah dari mana datangnya senjata-senjata
rahasia itu, tidak peduli bahwa tubuhnya bertelanjang. Akan tetapi tak tampak bayangan seorang pun
manusia. Keng Hong cepat-cepat kembali dan mengenakan pakaian, sedangkan dua orang wanita itu
.
sudah cepat kembali ke dalam kuil. Karenan tidak berhasil menangkap Biauw Eng, Keng Hong dengan
hati panas kembali ke ruangan belakang kuil, lalu tertidur sampai pagi.
Pada keesokkan harinya, dengan wajah berseri dan kedua pipi kemerahan, Bwee Ceng dan Swat Si
telah memasak makanan. Pagi-pagi benar mereka telah membeli beberapa ekor ayam dan gandum dari
penduduk dusun, bahkan Bwee Ceng membawa pula seguci arak.
Keng Hong yang melihat betapa wajah mereka berseri, diam-diam harus mengakui bahwa mereka itu
cantik-cantik dan manis, maka hatinya menjadi makin girang. Apalagi melihat Swat Si yang menahan
senyum dan dengan malu-malu kadang-kadang mengerling ke arahnya, dia mengakui gadis ini dan
membandingkannya dengan Ciang Bi. Untung bahwa dia bersikap waspada, kalau tidak, tentu dua orang
wanita cantik ini sekarang telah menjadi mayat, pelipis mereka pecah oleh dua bola putih berduri, korban
keganasan Biauw Eng. Ia makin marah dan benci kepada Biauw Eng.
"Wah, Ji-wi Siocia (Nona Berdua) sungguh rajin, sepagi ini sudah mendapatkan makanan pagi yang
lengkap!" Keng Hong berseru gembira sambil mendekati seorang murid Kong-thong-pai minta
dibukakan belenggunya. Murid Kong-thong-pai itu membuka belenggu tangannya untuk memberi
kesempatan Keng Hong ikut makan pagi.
"Eh, ada araknya pula. Dari mana Ji-wi bisa mendapatkan arak?"
Swat Si tidak dapat mengeluarkan suara. Ia masih merasa malu dan jengah dan sehingga khawatir
kalau-kalau suaranya akan gemetar. Bwee Ceng tersenyum dan menjawab, "Kebetulan sekali ada
seorang wanita petani membawa hendak ditawarkan kepada kita. Aku lalu membelinya dan araknya baik
sekali, wangi."
Setelah masakan gandum dan ayam matang, makanlah Keng Hong bersama enam orang murid
Kong-thong-pai itu dan kalau melihat keadaan mereka itu, Keng Hong sama sekali bukan seperti
seorang tawanan, melainkan seorang sahabat baik. Bahkan empat orang murid laki-laki Kong-thong-pai
kini sudah mulai mengajaknya bercakap-cakap dan berkelakar.
Ketika Bwee Ceng membagikan arak dan menuangkan arak pada cawan masing-masing yang
diambilnya dari bungkusan perbekalan mereka, tercium bau arak yang wangi dan sedap sekali. Mereka
menjadi gembira dan segera mengangkat cawan arak dan minum arak yang ternyata manis dan enak
sekali. Akan tetapi, tiba-tiba Keng Hong mengerutkan aslinya ketika arak itu melalui lidahnya. Mulutnya
yang sudah amat kuat berada di dalam arak, racun yang sama sekali. Akan tetapi lidahnya begitu
tersentuh racun itu sudah dapat merasai dan tahulah dia bahwa dia hendak di racun! Keng Hong
tersenyum ketika dia mengerling ke arah Swat Si yang kebetulan mengerling ke arahnya pula dari balik
cawannya. Hem, tentu cawan untuknya itu yang diberi racun. Diam-diam dia mengeluh hatinya. Agaknya
kedua orang wanita itu, ataukah Bwee Ceng itu karena dia tidak percaya bahwa Swat Si yang begitu
halus dan mesra akan suka meracuninya, sengaja hendak membunuhnya karena khawatir kalau-kalau
peristiwa semalam akan terbongkar dan diketahui orang lain. Kalau Keng Hong mati, tentu rahasia itu
takkan pernah dapat terbongkar lagi. Begini kejamkan wanita? Keng Hong hanya mengeluh dalam hati
akan tetapi terus meneguk habis araknya karena baginya, racun itu tidak akan ada bahayanya.
Tiba-tiba Keng Hong meloncat bangun ketika melihat perubahan pada wajah enam orang itu.
Mendadak saja wajah enam orang itu. Mendadak saja wajah mereka yang tadinya duduk di atas lantai.
"Aduhhh.... Keng Hong..!" Swat Si mengeluh dan hati Keng Hong penuh keharuan dan kekhawatiran. Ia
cepat meloncat dekat dan merangkul leher gadis itu. Wajah gadis itu menjadi agak menghitam, tubuhnya
berkelojotan, akan tetapi matanya memandang wajah Keng Hong, mulutnya agak tersenyum sungguhpun
.
giginya yang kecil rata dan putih mengkilap itu menggigit bibir bawah menahan rasa nyeri yang
menusuk-nusuk perut.
"Swat Si... kenapa..." Keng Hong yang mendekapnya bertanya khawatir.
"Keng Hong ... jangan lupakan aku.." Swat Si berbisik dan tubuhnya menjadi lemas, matanya mendelik.
Tak salah lagi, tentu arak itu! Dan Bwee Ceng yang membelinya ! Ia lepaskan tubuh Swat Si yang sudah
sekarat lalu membalik menubruk Bwee Ceng, mengangkat tubuh itu yang lalu di rangkulnya. Seperti juga
Swat Si, ketika memandangnya, Bwee Ceng berusaha untuk tersenyum. "Keng Hong ... arak...itu... ada
racun.. aku tidak penasaran...setelah semalam..." Ia tidak dapat melanjutkan karena tubuhnya
berkelojotan dan matanya mendelik pula. Keng Hong melepaskan Bwee Ceng dan memeriksa ke empat
orang murid pria Kong-thong-pai. Semua sama keadaannya, merela sekarat dan dalam perjalanan maut.
Arak beracun! Seorang wanita petani menjual seguci arak kepada Bwee Ceng ! Seperti kemasukan
setan Keng Hong meloncat dan lari memasuki dusun. Hari masih pagi sekali akan tetapi seperti kebiasaan
dusun-dusun, sepagi itu para penduduk telah bangun. Melihat Keng Hong berlari-lari, mereka semua
terkejut dan heran. Bukankah pemuda ini yang kemarin menjadi tawanan enam orang gagah yang
bermalam di dalam kuil? Pemuda tampan ini tentu seorang penjahat, maka menjadi tawanan enam orang
pendekar itu.
"Siapa yang telah menjual seguci arak kepada kami?" Keng Hong berteriak-teriak seperti orang gila.
Seorang wanita setengah tua dengan muka pucat dan mata terbelalak melangkah maju dan berkata,
"Saya yang menjual seguci arak kepada mereka tadi pagi. Ada apakah orang muda? Arakku hanya ada
seguci itu, kalau mau tambah lagi harus pergi ke kota..!"
Wanita itu menghentikan kata-katanya dan mengaduh-aduh karena Keng Hong sudah mencekeram
lengannya. Tadinya pemuda ini mengira bahwa nenek yang telah meracuni mereka tentu memiliki
kepandaian lihai, akan tetapi ketika memegang lengannya dan mendapat kenyataan bahwa wanita ini
tidak bisa apa-apa dan amat lemah, dia lalu mengendurkan cengkeramannya dan membentak.
"Lekas katakan! Dari mana engkau mendapat arak itu? Awas kalau membohong, ku bunuh kau!"
Para penduduk dusun itu menjadi marah menyaksikan kekasaran KengHong terhadap seorang wanita.
Mereka itu, yang laki-laki , telah menyerbu sambil memaki, "Orang gila! Mengapa datang-datang
mengamuk ? Engkau adalah seorang tawanan, tentu seorang jahat! Melayanglah pukulan dan tendangan
ke tubuh Keng Hong. Namun pemuda ini tidak memperdulikan mereka semua dan tetap memegangi
lengan wanita setengah tua yang menggigil ketakutan. Terdengar suara bak-bik-buk ketika serangan itu
mengenai tubuh Keng Hong, disusul teriakn-teriakan mengaduh-ngaduh para penyerang itu sendriri
karena kaki tangan mereka bertemu dengan tubuh yang kerasnya seperti baja!
"Dia setan....!"
"Siluman.....!" teriakan-teriakan mereka yang mengaduh-ngaduh ini membuat suasana di situ menjadi
gaduh sekali.
"Saudara-saudara jangan bertindak sembrono!" Keng Hong berteriak tantang arak kepada wanita ini
karena semua sahabatku yang itu arak itu kini mati semua!"
Mendengar ini, orang-orang dusun itu menjadi pucat mukanya dan otomatis mereka melangkah mundur
.
memandang ke arah wanita dengan mata terbelalak. Wanita itu sendiri lalu menjatuhkan diri berlutut
sambil menangis.
"Aku tidak tahu apa-apa .... Aku tidak tahu tentang arak dan tentang racun. Seguci arak itu ku terima
dari seorang puteri dengan pesan agar ku berikan kepada rombongan yang menginap di kuil.... Dan..
karena niocu (nona) itu berbaik hati memberi hadiah uang......, tentu ku terima.."
Keng Hong melepaskan cengkeraman tangannya dan mendorong tubuh wanita setengah tua itu yang
terhuyung ke belakang sambil memegangi pergelangan tangan yang terasa nyeri, menangis dengan muka
pucat.
"Lekas katakan, seperti apa macamnya nona yang memberi arak kepadamu itu?"
"Dia masih muda cantik sekali seperti dewi…. pakaiannya serba putih, suaranya halus dan..."
Akan tetapi Keng Hong sudah meloncat pergi dan sebentar saja lenyap dari depan para penduduk yang
melongo leheranan. Keng Hong tidak menjadi heran mendengar keterangan wanita dusun itu karena
memang sudah disangkanya..Tangan keji Biauw Eng lagi! Siapa lagi kalau bukan Biauw Eng yang
menggunakan racun membunuh enam orang Kong-thong-pai itu? Pagi tadi, menyaksikan dua orang gadis
Kong-thong-pai dilayani bercinta kasih oleh Keng Hong, dalam cemburunya gadis berwatak iblis itu
menyerang dengan senjata rahasia. Kemudian, karena ada Keng Hong yang menghalangi niat kejinya, ia
lalu menggunakan racun secara keji dan cerdik sekali. Tentu gadis itu tahu bahwa Keng Hong kebal akan
racun, akan tetapi enam orang Kong-thong-pai tidak!
“Biauw Eng, engkau sungguh jahat!" Keng Hong berkata dengan hati penuh duka dan penyesalan ketika
dia tiba di dalam kuil dan berdiri memandang ke arah enam sosok mayat murid-murid Kong-thong-pai
itu. Dengan perasaan berat Keng Hong lalu menggali lubang di pekarangan kuil dan mengubur
mayat-mayat itu. Setelah selesai dia meninggalkan kuil dan baru mendapat kenyataan bahwa banyak
penduduk menonton dari jauh dan secara sembunyi-sembunyi. Ketika dia melangkah dekat mereka itu
melarikan diri dan terdengar suara mereka, "pembunuh….pembunuh keji.."
Keng Hong menghela napas panjang. Murid-murid Kong-thong-pai dibunuh Biauw Eng semua, dan
kembali dialah yang tertuduh. Dia tidak menyalahkan orang-orang dusun itu yag menuduhnya, dan dia
merasa tidak ada gunanya untuk memberi penjelasan kepada mereka. Makin keras hasrat hatinya untuk
cepat kembali ke Kiam-kok-san, di mana dia takkan berhubungan lagi dengan dunia ramai, takkan
terlibat urusan manusia yang hanya membuat kegetiran-kegetiran dan permusuhan ia berjalan terus
mendaki lereng Pegunungan Kun-lun-san. ***
Keng Hong berhenti melangkahkan kakinya dan memandang ke kiri dengan kagum. Gadis itu, dia berani
menduga bahwa bayangan tubuh lamping gesit itu tentu seorang gadis, berlari dengan cepat
sekali.Tadinya jantung berdebar dan mukanya terasa panas karena mengira bahwa gadis itu Biauw Eng.
Akan tetapi setelah agak dekat dan pakaian gadis itu hijau muda, tidak putih seperti pakaian Biauw Eng,
dia menduga-duga. Jelas bukan Biauw Eng, bukan pula Cui Im, sungguhpun gerakan gadis itu
menunjukkan ginkang yang sudah tinggi. Yang jelas berbeda dan tampak dari jauh adalah cara gadis ini
menyanggul rambutnya, disanggul tinggi di atas kepala seperti sebuah menara yang bergoyang-goyang
ketika dia berlari cepat. Di punggungnya tampak sebatang pedang dalam sarung pedang merah.
Ketika gadis itu yang ternyata cantik manis dengan pandang mata tajam dan penuh gairah hidup tiba di
dekat Keng Hong yang duduk di bawah pohon, gadis itu kelihatan kaget, akan tetapi dia bahkan
langsung menghampiri Keng Hong. Sejenak gadis itu memandang tajam kemudian mengangkat kedua
tangan ke depan dada sebagai penghormatan ketika dia bertanya.
.
"Maafkan kalau aku yang sesat jalan menggangu Twako dengan pertanyaan."
Keng Hong tersenyum. Senang hatinya menyaksikan sikap gadis yang membayangkan kegagahan ini
ternyata amat peramah dan sopan santun. Ia cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatannya,
kemudian menjawab.
"Sudah sewajarnya kalau dua orang yang saling jumpa di tempat sesunyi ini saling bertanya. Nona
hendak bertanya tentang apakah?"
Gadis itu kembali tertegun. Agaknya ia sama sekali tidak mengira bahwa pemuda tampan yang duduk
mengaso di pohon itu adalah seorang yang demikian halus tutur sapanya, membayangkan seorang yang
tahu akan kebudayaan dan sama sekali bukanlah seorang penduduk pegunungan yang buta huruf. Maka
pandang matanya menjadi makin tajam dan penuh selidik.
"Aku hendak bertanya jalan yang menuju ke Kiam-kok-san.."
Kini Keng Hong yang merasa terkejut sekali. Akan tetapi hanya sebentar karena dia segera dapat
menekan perasaannya dengan pengertian bahwa sekarang ini agaknya Kiam-kok-san menjadi mercusuar
bagi orang-orang kang-ouw, menjadi seperti sebuah lampu yang menarik datangnya laron dan
kupu-kupu. Ia menarik nafas panjang, kemudian mencari jalan untuk mengetahui siapakah gerangan nona
muda ini yang ikut-ikutan memperebutakan pusaka Kiam-kok-san. Karena hanya orang yang ingin
mendapatkan pusaka-pusaka suhunya sajalah yang bertanya-tanya tentang Kiam-kok-san!
"Pertanyaanmu mengejutkan hati Nona. Kim-kok-san bukanlah sebuah tempat yang dikenal semua
orang. Bolehkah aku mengetahui namamu dan keperluannya mencari tempat seperti itu? Perkenalkan,
aku she Cia..."
"Harap engkau suka berbaik hati menunjukkan jalan itu kalau kau mengetahuinya ..eh, Cia-twako.
Namaku adalah Tan Hun Bwee dan tentang keperluanku dengan Kiam-kok-san adalah urusan
pribadiku. Kalau engkau mengetahui tempat itu dan dapat menunjukkan jalan untukku, aku akan
berterima kasih sekali. Kalau engkau mengetahui, biarlah aku pergi mencari sendiri, tidak perlu terlalu
lama disini.."
Keng Hong tersenyum. "Aku tahu pula mengapa Nona datang mencari Kiam-kok-san. Bukankah Nona
puteri Ketua Hek-houw-piawkiok bernama Tan Kai Sek?"
Nona itu terkejut sekali dan tangannya bergerak secara otomatis hendak meraba pedangnya sambil
bertanya dengan suara nyaring, "Engkau siapakah?" Apakah engkau murid Kun-lun-pai dan hendak
menghalangi aku mencari Kiam-kok-san?"
Keng Hong tersenyum, lalu membalikkan tubuh membelakangi nona itu, menghampiri pohon dan duduk
kembali di bawah pohon yang teduh. Setelah duduk menghadapi nona itu dia berkata, "Tenanglah, Nona
dan tak perlu mencabut pedang itu. Aku bukan murid Kun-lun-pai dan juga tidak akan menghalangi
orang. Marilah duduk di sini dan dengarlah dulu kata-kataku, baru ku tunjukkan padamu jalan ke
Kiam-kok-san."
Tan Hun Bwee, gadis itu, menjadi curiga, akan tetapi karena dia percaya akan kepandaiannya sendiri,
dia tidak takut dan menghampiri lalu duduk agak jauh di atas sebuah batu, menghadapi pemuda yang ia
dapat menduga tentu bukan orang sembarangan itu. Orang yang tahu akan adanya Kiam-kok-san
kiranya bukan sembarangan orang.
.
"Siapakah engkau dan bagaimana engkau dapat mengenal ayahku?"
"Sudah kukatakan bahwa aku she Cia dan tentang ayahmu, pernah aku bertemu berkenalan. Aku tahu
bahwa ayah dan ibu pernah mendatangi Kiam-kok-san untuk memusuhi Sin-jiu Kiam-ong akan tetapi
gagal dan dikalahkan oleh kakek itu. Apakah kedatangan Nona ini ada hubungannya dengan urusan itu?"
Kembali gadis itu terkejut dan terheran-heran. Bagaimana pemuda tampan dan halus tutur sapanya ini
mengetahui akan hal itu? Ia tidak suka urusan pribadi orang tuanya dibicarakan orang lain, maka ia
menjawab singkat, "Dendam besar antara keluarga kami dengan Sin-jiu Kiam-ong adalah urusan pribadi,
tidak perlu aku membicarakannya dengan orang lain. Kalau engkau mengetahui jalan ke Kiam-kok-san
dan suka menunjukkannya kepadaku, harap katakan sekarang juga."
"Nanti dulu, Nona. Mengapa Nona berkeras hendak mendatangi Kiam-kok-san? Kakek berjuluk
Sin-jiu Kiam-ong itu telah meninggal dunia, dengan demikiam maka urusan yang ada antara beliau dan
orang tua sudah terhapus.."
Sepasang alis menjelirit hitam itu bergerak-gerak, indah sekali dalam pandangan Keng Hong , bibir yang
merah itu bergerak cepat, "Terhapus bagaimana? Enak saja ! Dia seorang yang amat jahat, seorang
manusia sombong dan keji, yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarga ayahku!"
"Ah, terlalu keras engkau menjatuhkan keputusan, Nona. Aku pun telah mengetahui akan urusan antara
Sin-jiu Kiam-ong dan orang tuamu. Bukankah dahulu orang tuamu sebagai piauwsu dari
Hek-houw-piauwkiok pernah dirampok oleh kakek itu dan dirampas benda-benda perhiasaan milik
seorang pembesar tinggi?"
"Bukan itu saja! Bahkan dia berani mengganggu puteri dari menteri..."
"Hemmm, bukan menganggu, hanya karena keduanya sama suka. Puteri itu tadinya di tawan dengan
maksud dimintakan uang tebusan dan Sin-jiu Kiam-ong melakukan hal ini sebagai pengajaran karena
sang menteri adalah seorang pejabat tinggi yang selain korup juga menindas rakyat mengandalkan
kekuasaan. Akan tetapi puteri itu jatuh cinta kepada Sin-jiu Kiam-ong sehingga terjadilah hubungan cinta
kasih antara mereka. Urusan itu ada sangkut pautnya dengan orang tuamu?"
"Piauwkiok ayahku menjadi tercemar namanya, dan menyeret pula nama besar ayahku. Pendeknya, aku
tidak terima! Biarpun Sin-jiu Kiam-ong telah menginggal, dia masih berhutang kepada ayahku, dan aku
harus mendapatkan kembali harta pusaka yang dia rampok karena itu menjadi hakku, di samping pusaka
lainnya yang ditinggalkannya. Aku akan menggeledah Kiam-kok-san!"
Keng Hong tersenyum lebar. "Nona, berpikirlah masak-masak. Dendam digerakkan oleh benci, dan
siapa yang membenci orang lain berarti membenci diri sendiri. Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal dunia,
mengapa engkau masih menaruh denda? Padahal, engkau sendiri tidak mempunyai urusan dengan dia,
mengenalpun tidak. Perlukah dendam dibawa sanpai menurun dari ayahmu kepadamu? Menurutkan
dendam, berarti engkau mengikatkan dirimu dengan tali-temali karma yang amat ruwet, Nona. Bukankah
dengan demikian engkau akan menyia-nyiakan waktu hidupmu? Perlukah engkau memenuhi permintaan
orang tuamu yang begitu tega menyuruh seorang gadis muda seperti Nona menempuh bahaya besar,
hendak mendatangi Kiam-kok-san yang tak dapat didatangi oleh orang-orang sakti di dunia kang-ouw?
Orang tuamu benar-benar berpemandangan picik...'
"Ayah ibuku telah meninggal dunia..!"
.
"Ah, maaf..... aku tidak tahu..."
"Mereka telah meninggal dunia, meninggalkan aku seorang diri. Mereka meninggal karena tekanan batin,
karena tidak mampu membalas kepada musuh besar kami. Aku sebagai puterinya harus melanjutkannya,
harus dapat merampas kembali benda-benda berharga yang dahulu dirampas Sin-jiu Kiam -ong. Aku
akan..eh, engkau ini siapakah yang tahu akan segala hal?"
"Tentu saja aku tahu, Sin-jiu Kiam-ong adalah mendiang guruku.."
"Bagus..! Ada yang mewakili menerima pembalasan keluarga Tan...!" Sambil berkata demikian, gadis itu
sudah meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya. Gerakannya cepat sekali maka Keng Hong
dapat menduga bahwa tentu gadis itu telah mewarisi ilmu kepandaian ayah bundanya. Ia dia saja, hanya
duduk sambil memandangi gadis itu dengan wajah tenang.
"Hayo bangkitlah engkau murid Sin-jiu Kiam-ong! Bangkitlah agar segala perhitungan lama dapat
dibereskan saat ini!" Gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke arah hidung Keng Hong yang masih
duduk tenang tak bergerak dari tempatnya.
"Mendiang guruku tidak pernah merasa menjadi musuh orang tuamu, apalagi musuhmu, Nona. Dan aku
pun tidak pernah merasa menjadi musuh keluarga Tan piauw su, maka bagiku tidak ada perhitungan
apa-apa yang harus di bereskan.”
Dan aku yakin bahwa seorang gadis perkasa seperti Nona tidak akan membunuh orang yan tidak mau
melawannya, apalagi kalau orang itu selama hidupnya tidak pernah ada urusan dengan Nona maupun
orang tua Nona. Akan tetapi kalau keliru dugaanku dan ternyata Nona bukan seorang wanita yang
berhati keji dan haus darah, boleh saja Nona tusuk dada ini sampai tembus, aku pun tidak akan
melawanmu!"
Pedang di tangan gadis itu menggigil akan tetapi tidak turun dari depan hidung Keng Hong. "Aku
mendengar penuturan orang tuaku bahwa Sin-jiu Kim-ong adalah seorang laki-laki yang bermulut tajam,
pandai membujuk dan menipu. Siapa tahu kalu muridnya pun mewarisi kepandaian itu!"
Keng Hong bukanlah seorang bodoh yang membiarkan dirinya terancam maut begitu saja sehingga dia
mengeluarkan ucapan tadi. Melihat sikap gadis itu, mendengar ucapan-ucapannya, dia merasa yakin
bahwa gadis ini tidak ungkin mau membunuhnya begitu saja kalau dia tidak mau melawan, Kini dia
tertawa dan menjawab
"Nona, biarpun kau buka dada ini, engkau takkan mendapatkan niat buruk dalam hatiku terhadapmu.
Aku tidak membujuk, hanya bicara sesungguhnya bahwa aku tidak pernah memusuhiu dan tidak suka
bermusuhan denganu karena memang tidak ada sebab yang mengharuskan kita salign berusuhan. Apalagi
setelah sekarang suhu tidak ada, juga kedua orang tuamu tidak ada, mengapa kita harus melanjutkan
sikap bermusuhan orang tuamu, percayalah bahwa kelak kalau aku berhasil menemukan simpanan suhu,
tentu benda-benda itu akan ku kembalikan kepadau. Bukan hanya benda-benda dari orang tuamu,
bahkan benda milik semua orang yang pernah diambil suhu akan ku kembalikan. Dengan jalan itu aku
hendak menebus semua perbuatan suhu yang telah menimbulkan sikap bermusuhan dari orang-orang
gagah terhadap suhu."
Ujung pedang yang menodong itu menurun, perlahan-lahan. Lalu tubuh gadis yang menegang itu menjadi
agak lemas ketika ia berkata perlahan, seperti mengeluh.
"Ah, mengapa engkau tidak mau bangkit melawan saja? Agar terpenuhi kebaktianku kepada
.
orangtuaku. Mengapa engkau tidak menjadi murid berbakti dari gurumu dan mempertahankan nama
gurumu dengan menghadapi musuhnya?"
Keng Hong menggelengkan kepala. "Engkau keliru dalam mengartikan sikap berbakti, Nona.
Melanjutkan perbuatan orang tua baru dapat dikatkan berbakti kalau perbuatan itu sendiri benar. Akan
tetapi kalau perbuatan itu tidak benar, maka kewajiban seorang berbakti adalah membetulkan perbuatan
itu, tidak melanjutkannya. Mengerti engkau, Nona?"
Gadis itu menunduk, perlahan-lahan menyimpan kembali pedangnya. "Biarpun aku tidak suka mengakui,
namun aku percaya kepadamu."
Tiba-tiba Keng Hong mengangkat muka memandang ke kanan dan terdengarlah suara. "Siancai..!
Bocah keparat ini sama sekali tidak boleh dipercaya!"
Tan Hun Bwee cepat memutar tubuh memandang ke arah suara itu dan tahu-tahu di situ muncul dua tosu
yang usianya sekitar lima puluh tahun. Mereka ini bukan lain adalah Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin, dua
orang tokoh Kun-lun-pai untuk mencari dan menangkap Keng Hong yang menipu Kun-lun-pai dengan
menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam palsu.
Melihat dua orang tosu ini, Keng Hong terkejut dan cepat dia maju, menjatuhkan diri berlutut.
"Kiranya Ji-wi Totiang yang datang, harap menerima penghormatan teecu,” katanya penuh hormat.
Sejak kecil Keng Hong hidup di Kun-lun-pai dan tak pernah dia kehilangan rasa terima kasihnya dengan
kepada Kun-lun-pai, terutama kepada Kiang Tojin yang telah menolong nyawanya dan telah
memeliharanya. Dua orang tosu ini adalah adik seperguruan Kiang Tojin, tentu saja dia bersikap amat
hormat.
"Cia Keng Hong! Tahukah engkau akan dosamu terhadap Kun-lun-pai?" bentak Sian Ti Tojin sambil
menggerakkan ujung lengan nya yang panjang dan sikapnya keren.
"Teecu telah banyak menerima budi kebaikan Kun-lun-pai dan belum sempat membalasnya. Hal itu
sudah merupakan dosa."
"Tak usah memutar lidah!" bentak Lian Ci Tojin yangseperti suhengnya, amat marah kalau mengingat
betapa Kun-lun-pai sampai bentrok antara saudara sendiri, dan betapa Kun-lun-pai didatangi banyak
tokoh-tokoh kang-ouw yang menganggu. Apalagi kalau teringat akan penipuan pedang palsu. "Engkau
telah menipu kami, menipu guru kami dengan menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam palsu.Apakah kau
hendak menyangkal dosa besar ini?"
Keng Hong menundukkan mukanya dalam keadaan masih berlutut. 'Teecu tidak menyangkal, dan
memang hal itu benar telah teecu lakukan. Teecu bersedia untuk menghadap Kiang Tojin dan para
locianpwe di Kun-lun-pai untuk mohon pengampunan atas perbuatan teecu yang tidak patut itu."
"Enak saja kau bicara tentang minta ampun setelah kekacauan yang kau ciptakan di Kun-lun-pai!"
bentak Sian Ti Tojin sambil melangkah maju dan tangan kirinya menampar.
“Plakk!” Pipi kanan Keng Hong ditamparnya keras sekali sehingga tubuh pemuda itu terguncang miring
dan hampir roboh.
“Kalau kami tidak menerima perintah untuk menangkapmu hidup-hidup dan menyeretmu ke depan kaki
suhu, tentu sekarang juga pinto membunuhmu, bocah keparat!” ucapan ini keluar dari mulut Lian Ci Tojin
.
yang juga menggerakkan tangan ke depan, menampar pipi kiri Keng Hong. "Plakkk!" Tamparan ini lebih
keras lagi, sesuai dengan watak Lian Ci Tojin yang berangasan, apalagi karena tosu ini amat benci
kepada Kiang Tojin sehingga kemarahannya dia timpakan kepada anak yang dipungut dan ditolong oleh
Kiang Tojin itu. Kembali tubuh Keng Hong terguncang dan dari kedua ujung bibirnya menitik darah.
"Pendeta-pendeta berhati kejam!" Tiba-tiba Tan Hun Bwee memaki dan meloncat ke depan. "Kalian
sungguh tak tahu malu, memukul orang yang sama sekali tidak mau melawan."
Lian Ci Tojin dan suhengnya mengangkat muka memandang gadis itu. Lian Ci Tojin tersenyum dan
mengejek. "Cia Keng Hong, apakah engkau sudah mewarisi watak mata keranjang suhumu dan gadis ini
menjadi seorang di antara pacarmu?"
"Lian Ci totiang harap jangan bicara sembarangan. Nona ini adalah seorang gadis terhormat adalah
puteri Tan-piauwsu dan sama sekali bukan pacar teecu.."
"Tosu bau, mulutmu busuk!" Tan Hun Hwee sudah tak dapat menahan kemarahannya dan pedangnya
dia sudah dia cabut dan secepatnya kilat dia menyerang Lian Ci Tojin.
Akan tetapi dengan mudah Lian Ci Tojin mengelak. Tosu ini adalah murid ke lima dari ketua
Kun-lun-pai, tentu saja merupakan seorang di antara tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang termasuk golongan
atas. "Hemmm, kalau bukan pacar bocah keparat ini, setidaknya tentu mata-mata musuh yang hendak
menyelidiki Kun-lun-pai. Mengakulah, mau apa kau datang ke wilayah Kun-lun-pai?" bentak tosu itu.
"Tosu keparat, tosu palsu, lihat pedang!" Tan Hun Bwee sudah menyerang lagi dan ternyata gadis ini
memiliki ilmu pedang yang cukup lihai sehingga kembali Lian Ci Tojin terpaksa meloncat ke belakang
mengelak sambil meraba punggungnya dan di lain saat pedangnya sudah berada di tangan.
"Engkau hendak menggunakan kekerasan? Baik, majulah!"
Ketika gadis itu menyerang lagi, Lian Ci Tojin sudah menggerakkan pula pedangnya menangkis dan
mereka segera bertanding dengan hebat.
"Sute, jangan membunuh orang!" Sian Ti Tojin memperingatkan sutenya.
"Ha-ha-ha, menghadapi bocah seperti ini, masa perlu membunuhnya, Suheng? Dia harus ditangkap,
mungkin dia mata-mata musuh yang berbahaya."
Tan Hun Bwee boleh jadi lihai dan jarang terdapat seorang gadis muda memiliki keahlian bermain
pedang seperti dia, akan tetapi berhadapan dengan seorang tokoh besar Kun-lun-pai seperti Lian Ci
Tojin, ia masih kalah jauh. Setelah bertanding mati-matian selama tiga puluh jurus, dalam pertemuan
pedang, Lian Ci Tojin mengerahkan tenaganya dan gadis itu berteriak kaget, pedangnya terlepas dari
pegangan dan sempat ia mengelak, tangan kiri tosu itu telah menotok pundaknya, membuat ia roboh
lemas tak dapat berkutik lagi!
"Ha-ha-ha, bocah-bocah sekarang banyak yang tak tahu diri, seperti bocah keparat Keng Hong ini dan
gadis galak ini. Suheng, keadaan gadis ini amat mencurigakan, dia datang bersama Keng Hong, siapa
tahu di belakangnya ada orang-orang lain. Biar dia kubawa dulu menghadap suhu agar diselidiki. Harap
Suheng mengantar Keng Hong ke atas, menyusul."
Sian Ti Tojin hanya mengangguk sambil berkata kepada Keng Hong., "Hayo berdiri dan ikut dengan
pinto ke puncak Kun-lun-pai."
.
Keng Hong tadi hanya menonton saja ketika nona Tan bertanding melawan Lian Ci Tojin. Hatinya
gelisah tidak karuan, akan tetapi bagaimana dia dapat turun tangan melindungi nona itu atau mencegah
Liaan Ci Tojin? Kalau dia melakukaan hal ini berarti bahwa dosanya terhadap Kun-lun-pai akan menjadi
bertambah. Apalagi dia dapat melihat bahwa tosu itu tidak akan membunuh Tan Hun Bwee, dan hanya
akan menangkapnya dan membawanya ke Kun-lun-pai untuk diselidiki. Kalau memang gadis itu tidak
bersalah, dan benar hanya ingin mencari pusaka di Kiam-kok-san, dia percaya akan kebijaksaan para
pimpinan Kun-lun-pai yang tentu akan membebaskannya. Akan tetapi pada saat dia hendak bangkit
memenuhi permintaan atau perintah Sian Ti Tojin dan mengerling ke arah Tan Hun Bwee yang sudah
tertotok, dia melihat Lian Ci Tojin secara kasar dan sembarangan mengempit tubuh gadis itu dan dibawa
pergi. Pada saat itu dia melihat sinar mata Lian Ci Tojin dan jantungnya berdebar tidak karuan. Ia
berusaha menekan-nekan debar jantungnya, akan tetapi tidak berhasil sehingga ketika dia bangkit
berdiri, kakinya gemetar dan mukanya menjadi berubah dan keningnya berkerut.
Melihat ini, Sian Ti Tojin mengira bahwa pemuda ini hendak menbangkang. Ia sudah maklum akan
kelihaian bocah ini yang memiliki ilmu aneh, pernah menggegerkan Kun-lun-pai. Tentu saja dia tidak
takut dan merasa dapat mengatasi bocah ini karena dia tahu bahwa Keng Hong hanya memiliki tenaga
sedot mujijat itu sedangkan dalam hal ilmu silat, pemuda ini masih rendah ilmunya. Adapun tentang ilmu
sedot itu, setelah dahulu Keng Hong menggegerkan Kun-lun-pai, suhunya telah menberi penjelasan
kepada para murid, dan kini sudah tahu bagaimana caranya menolong diri sendiri apabila dia kena
"disedot". Betapapun juga, dia tidak menghendaki pemuda ini membangkang sehingga dia tidak usah
menpergunakan kekerasan.
"Cia Keng Kong, mengapa kau? Apakah kau hendak membangkang?"
Keng Hong tadinya memandang ke arah bayangan Lian Ci Tojin yang membawa lari Hun Bwee dan kini
bayangan itu telah lenyap di tikungan lereng. Ia menghela nafas panjang dan memutar tubuuhnya
mneghadapi Sian Ti Tojin adalah murid ke dua dari Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai, sehingga dalam
hal ilmu silat, tosu ini hanya berada di bawah suhengnya yang tertua, yaitu Kiang Tojin.
"Totiang, mengapa Totiang membiarkan Lian Ci Tojin membawa pergi nona Tan? Mengapa tidak
bersama-sama saja?"
"Hemmm, engkau lancang sekali. Ada sangkut pautnya apakah denganmu? Sute hendak membawa
gadis itu lebih dulu karena menaruh curiga kepadanya. Sebetulnya apakah keperluannya berada di
tempat ini bersamamu?"
"Totiang, dia itu orang baik-baik, tidak ada kesalahan terhadap Kun-lun-pai. Dia sengaja datang ke sini
untuk mencari Kim-kok-san."
"Apa? Mengapa?'
"Dia adalah puteri dari Tan- piauwsu yang dahulu pernah bermusuhan dengan mendiang suhu. Ada
bebrapa buah barang berharga dari ayah ibunya dirampas suhu dan dia hendak mencari barang-barang
itu.Dia sama sekali tidak beraksud buruk terhadap Kun-lun-pai. Mengapa ditangkap?"
Sian Ti Tojin menggeleng kepala. "Tidak bermaksud buruk akan tetapi dia menyerang sute. Sudahlah,
kalau memang dia tidak bersalah, tentu akan dibebaskan kembali. Mari kita naik menghadap suhu dan
jangan banyak tingkah agar pinto tidak perlu menggunakan kekerasan terhadapmu."
Keng Hong menghela napas panjang dan melangkah pergi diikuti kakek itu dari belakang. Akan tetapi
.
baru beberapa ratus langkah, dia berhenti lagi.
"Totiang...."
"Kenapa kau berhenti? Hayo jalan terus."
"Totiang, hati saya merasa tidak enak sekali. Amat berbahaya nona Tan dibawa pergi Lian Ci Tojin.
Tidakkah Totiang dapat melihat betapa sinar mata Lian Ci Tojin berapi-api? Adakah patut dia
mengempit tubuh seorang gadis? Lebih baik kita susul dia."
"Ah, engkau benar-benar kurang ajar dan patut dipukul, Keng Hong. Berani benar engkau
mengeluarkan fitnahan-fitnahan menghina sute. Kami adalah tosu-tosu yang menyucikan diri dan batin,
masa terhadap seorang wanita akan timbul pikiran kotor seperti mendiang suhumu? Uhhh, sekali lagi kau
mengeluarkan ucapan seperti itu, terpaksa akan pinto pukul sebagai hajaran.”
Kembali Keng Hong menghela napas lalu berjalan lagi. Ia menganggap bahwa alasan tosu tua ini benar.
Masa Lian Ci Tojin akan melakukan hal yang amat rendah terhadap gadis itu? Bukankah para tosu
Kun-lun-pai. Bukan sembarangan tosu melainkan tosu murid langsung Thian Seng Cinjin!
Kembali sinar mata Lian Ci Tojin yang ditangkapnya ketika tosu itu mengempit tubuh Hun Bwee
menggoda hatinya. Betapapun percaya dia akan alasan Sian Ti Tojin tadi, namun sinar mata itu! Seperti
mata orang kehausan melihat air, mata orang melihat makanan , mata seekor anjing melihat daging, mata
yang penuh memancarkan nafsu berahi! Kalau benar seperti yang dikhawatirkannya, celakalah nasib Hun
Bwee di tangan tosu itu yang sudah begitu baik kepadanya, jelas tampak kebaikannya ketika gadis itu
membelanya melihat dia dipukuli kedua orang tosu Kun-lun-pai. Betapa beraninya membelanya dari dua
orang tosu yang lihai! Gadis yang berwatak pendekar, gagah perkasa. Dan kini terancam bahaya yang
lebih hebat daripada maut bagi seorang gadis!
"Totiang , terpakasa teecu harus menyusul non Tan..."
"Cia Keng Hong, berhenti! Kalau tidak, terpaksa kupukul kau!"
Namun Keng Hong sudah meloncat pergi hendak mengejar Lian Ci Tojin.
"Keng Hong, kalau tidak berhenti, pinto memukulmu!" Kembali teriakan Sian Ti Tojin menggema
dibelakangnya dan tosu itu telah mengejarnya.
Keng Hong berpikir cepat. Kalau dia menggunakan ginkangnya, dia hanya akan menang sedikit karena
para tosu Kun-lun-pai tentu saja memiliki ginkang yang hebat. Dan kalau dikejar-kejar, bagaimana dia
dapat mencari Hun Bwee? Setelah berpikir, dia lalu berlari terus, sengaja memperlambat larinya.
“Peringatan terakhir, Keng Hong. Berhentilah!”
Keng Hong berlari terus.
“Siancai! Pinto terpaksa memukulmu!”
Angin pukulan dahsyat menyambar dari belakang. Keng Hong cepat membalikkan tubuhnya,
mengerahkan sinkangnya ke lengan dan menangkis pukulan itu terus mendorong ke samping.
“Dukk!!” Tubuh Sian Ti Tojin terpental ke belakang seperti disambar angin yang amat kuat sehingga dia
.
berseru kaget. Untung bahwa dia telah memiliki lweekang yang amat kuat sehingga dia dapat mencegah
tubuhnya terbanting, namun dia merasa betapa tenaga lweekang yang amat kuat sehingga dia dapat
mencegah tubuhnya terbanting, naun dia merasa betapa tenaga lweekang dalam pukulannya tadi
membalik dan membuat dadanya sesak. Ia tahu bahwa kalau dia mengerahkan tenaga lagi, dia akan
terluka, maka cepat dia duduk bersila mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan keadaanya dan
tentu saja dia harus membiarkan pemuda yang luar biasa itu pergi.
Keng Hong berlari terus secepatnya. Memang dia telah melakukan hal yang membuat hatinya menjadi
makin tidak enak terhadap Kun-lun-pai akan tetapi karena dia hanya menangkis dan yang memukul
adalah Sian Ti Tojin, dia menekan kekhawatirannya. Mengejar dan menolong Tan Hun Bwee lebih
penting lagi. Ia tadi melihat bayangan Lian Ci Tojin yang membawa lari nona itu naik ke atas, maka kini
diaapun mengejar, belum juga dia dapat menyusul. Hatinya menjadi penasaran dan gelisah. Dari sebuah
puncak dia telah dapat mmelihat dinding tinggi dari Kun-lun-pai dan tidak tampak bayangan tosu itu.
Kalau Lian Ci Tojin membawa Hun Bwee ke Kun-lun-pai, dia tidak usah khawatir. Akan tetapi dia
merasa curiga dan menduga bahwa tentu nona itu tidak dibawa ke sana. Maka dia lalu membelok dan
kembali menuruni puncak, lalu mencoba untuk mencari ke dalam sebuah sebuah hutan besar yang berada
di lereng. Kalau tosu itu yang sinar matanya penuh nafsu berniat melakukan kekejian, tidak ada tempat
yang lebih baik daripada dalam hutan itu. Setibanya di dalam hutan, dia mencari-cari. Keadaan dalam
hutan sunyi senyap.
Tiba-tiba keng Hong menghentikan langkahnya dan membungkuk, mengambil sehelai pita sutera hijau
yang berbau harum. Agaknya pita rambut atau pita pelindung leher dan tak salah lagi, warna hijau muda
ini menyatakan bahwa pita ini milik Tan Hun Bwee. Tentu orangnya berada tak jauh dari tempat ini.
Hatinya makin tidak enak dan berdebar.
"Tan -siocia (nona Tan )..!" ia memanggil. Tiada jawaban. Ia meneliti dan akhirnya melihat tapak kaki di
atas tanah yang agak basah. Namun cukup baginya. Kaki itu menuju ke arah serumpun alang-alang atau
rumput tinggi di sebelah kirinya. Cepat dia menerobos semak-semak itu dan akhirnya dia melihat Tan
Hun Bwee menggeletak di atas rumput, tersembunyi di balik semak-semak yang tebal. Gadis itu dalam
keadaan pingsan, agaknya tertotok dan melihat keadaan pakaiannya, hati Keng Hong seperti di tusuk
pisau. Gadis ini telah diperkosa! Dengan hati penuh iba, dia membereskan pakaian itu sedapat mungkin,
kemudian dia mengurut tengkuk dan punggung Tan Hun Bwee.
Gadis itu mengeluh, membuka matanya dan berteriak kaget sambil meloncat berdiri. Sepasang mata
yang tajam itu sejenak menunduk, meneliti keadaan dirinya, kemudian wajah itu diangkat memandang
Keng Hong, pucat sekali dan matanya liar.
"Kau....kau..laki laki jahat..apa yang telah kau perbuat atas diriku....?" Air mata deras mengalir di
sepasang pipi yang makin pucat dan mata itu makin beringas.
"Tenanglah, Nona. Aku mendapatkan Nona menggeletak di sini, dan....."
"Bohong! Engkau telah melakukan kekejian kepadaku! Aihhhhh, engkau murid Sin-jiu Kiam-ong....,
keparat busuk!" Hun Bwee tiba-tiba menerkam ke depan dan menyerang Keng Hong dengan pukulan ke
arah dada pemuda itu.
Saking kaget dan menyesal menyaksikan kesalahfahaan ini, Keng Hong sampai tidak sempat mengelak.
Akan tetapi begitu dadanya terpukul, otomatis sinkang di tubuhnya bergerak.
"Dukkkk...!" Dan tubuh gadis itu terjengkang roboh sendiri.
.
"Aah, Nona, sungguh mati, aku tidak..."
"Laki-laki jahanam! Pengecut hina dina! Sudah berani berbuat tidak berani bertangung jawab, malah
menyangkal keparat!" kembali Hun Bwee membuat gadis ini lemah, selain berduka dan malu, juga air
matanya membuat kedua matanya sukar melihat. Serangan-serangannya ngawur dan asal pukul saja.
Keng Hong merasa kasihan, akan tetapi juga bingung menghadapi gadis yang mengamuk tidak karuan
itu. Akhirnya dia berhasil menangkap kedua pergelangan tangan gadis itu sehingga tak dapat bergerak
lagi, lalu berkata.
"Dengarlah Nona, akau tidak melakukan sesuatu kepadamu, kudapati engkau telah menggeletak pingsan
disini.."
"Bohong! Bohong...!" Gadis itu meronta-ronta sehingga terpaksa Keng Hong melepaskan pegangannya.
Karena maklum bahwa terhadap pemuda ini dia tidak akan dapat menang, gadis itu lalu membalikkan
tubuh dan lari-lari dari tempat itu sambil menangis terisak-isak, meninggalkan Keng Hong yang berdiri
bengong. Setelah bayangan gadis itu lenyap, Kenghong menunduk, melihat ke tempat di mana seorang
tosu Kun-lun-pai yang terhormat melakukan perbuatan biadab yang sama sekali tidak terhormat. Ia
mengeluarkan pita hijau yang tadi dia masukkan saku, memandang pita itu dan berkata perlahan.
"Lian Ci Tojin.... akan tiba saatnya engkau menyesali perbuatanu yang terkutuk ini..." Tak lama
kemudian dia mengantongi pita hijau itu kembali dan meninggalkan tempat itu, berjalan dengan kepala
tunduk menuju ke Kun-lun-pai. Hatinya makin berduka karena kembali dia menjadi korban perbuatan
jahat orang lain yang ditimpakan kepadanya. Berkali-kali Biauw Eng melakukan pembunuhanpembunuhan
keji dan selalu dialah yang menanggung akibatnya, dan kini dia merasa yakin bahwa Lian Ci
Tojin telah memperkosa Tan Hun Bwee dalam keadaan pingsan dan akibatnya dia pula yang dituduh
oleh gadis itu!
“Suhu, mengapa nasib teecu tidak sebaik nasib suhu yang selalu mengalami kegembiraan? Apakah
karena teecu masih terlalu bodoh dan perlu menyempurnakan ilmu peninggalan suhu?" Demikian keluh
hatinya terhadap mendiang gurunya. Biarpun Keng Hong hidup, namun dia belum banyak pengalaman
dan jiwanya belum matang, sehingga dia pula bahwa senang maupun susah bukan datang dari luar
melainkan akibat terhadap segala yang menimpa hidupnya. Seorang yang sudah matang seperti Sin-jiu
Kiam-ong, tentu akan menerima segala yang menimpa hidupnya. Seorang yang sudah matang seperti
Sin-jiu Kiam-ong, tentu akan menerima segala macam derita hidup dengan tertawa geli dan seolah-olah
menyaksikan sebuah lelucon.
"Lian Ci Tojin, engkau benar-benar lebih jahat daripada seorang jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa
wanita). Seorang jai-hwa cat melakukan kejahatannya dengan berterang, sebaliknya engkau bersebunyi
dalam kependetaan. Alangkah hina dan jahat engkau!" Begitu teringat akan tosu itu, di dalam hatinya
Keng Hong memaki-maki. Kemudian dia teringat kepada Biauw Eng dan sedetik timbul rasa rindu yang
membuat kedua kakinya lemas. Akan tetapi begitu mengingat perbuatan-perbuatan Biauw Eng, dia
memaki-maki pula di dalam hatinya.
"Aku benci kepadamu! Kau perempuan hina, kejam, curang! Tak tahu malu engkau, aku tidak cinta
kepadamu, melainkan benci...benci...!" Keng Hong menghentikan langkahnya dan terpaksa menutupkan
kedua tangan di depan muka karena biarpun mulutnya menyebutkan benci sampai berulang kali, namun
dia maklum bahwa di dalam hatinya dia tak pernah dapat membenci Biauw Eng!
Keng Hong berlari terus secepatnya dengan hati tertekan dan wajah muram. Kalau menurutkan hatinya,
ingin dia langsung saja naik ke Kiam-kok-san untuk menjauhkan diri daripada segala urusan dunia
yangmenimbulkan kepahitan. Akan tetapi dia harus mentaati kesadaraannya bahwa dia harus lebih dulu
.
menghadap Kiang Tojin dan mohon maaf akan kedosaannya telah menipu tosu itu dengan menyerahkan
Siang-bhok-kiam palsu. Tosu itu adalah penolongnya, dan semua tosu di Kun-lun-pai telah bersikap baik
kepadanya ketika dia masih kecil. Kalau dia tidak pergi menghadap, tentu selamanya dia akan menyesal
dan berdosa. Biarlah dia akan menanggung segala akibatnya. Apapun yang akan terjadi , akan dia hadapi
dan kalau perlu dia aka membela diri di depan semua tosu bahwa dialah sesungguhnya satu-satunya
manusia yan berhak memiliki Siang-bhok-kiam sehingga dia terpaksa menipu mereka, menyerahkan
pedang kayu yang palsu. Bahkan peristiwa itu akan dapat merupakan tamparan bagi tokoh-tokoh sakti
dunia kang-ouw yang amat tamak, secara tak bermalu memperebutkan benda milik orang lain!
Biarpun hatinya tertekan oleh semua peristiwa yang dialami, oleh kekecewaan melihat perbuatan Biauw
Eng, oleh kemarahan karena perbuatan Lian Ci Tojin, namun dengan penuh semangat Keng Hong
mendaki lereng yang menuju ke puncak di mana berdiri markas Kun-lun-pai dengan megahnya. Puncak
itu masih jauh, masih membutuhkan perjalanan setengah hari pun dindingnya sudah tapak dari lereng.
Ketika melalui sebuah tikungan, tiba-tiba Keng Hong berhenti dan matanya memandang terbelalak ke
depan. Maklum dia bahwa nyawanya terancam bahaya maut ketika dia mengenal orang-orang yang telah
menghadangnya di tengah jalan itu. Pertama-tama dia mengenal Sim Lai Sek, pemuda remaja adik
mendiang Sim Ciang Bi yang terbunuh oleh Biauw Eng. Sim Lai Sek berdiri dengan muka merah saking
marahnya, berdampingan dengan dua orang kakek yang dikenal Keng Hong sebagai tokoh-tokoh
Hoa-san, yaitu Hoa-san Siang-sin-kiam yang amat lihai! Di samping tiga orang Hoa-san-pai ini, dia
melihat empat orang tosu tua yang bersikap angker penuh wibawa dan yang belum pernah dikenalnya.
Karena belum mengenal empat orang tosu tua itu, maka perhatiannya tertarik kepada dua orang yang lain
yang berdiri dengan alis berdiri saking marahnya. Mereka berdua ini bukan lain adalah Kim-to Lai Ban
wakil ketua Tiat-ciang -pang dan seorang laki-laki tua yang mukanya licin seperti muka anak-anak, akan
tetapi sepasang matanya bundar seperti mata ikan bandeng raksasa! Melihat sikap kakek bermuka halus
itu Keng Hong menjadi berdebar dan menduga bahwa agaknya dia itu adalah ketua Tiat-ciang-pang!
Memang dugaannya benar. Laki-laki tua yang datang bersama Kim-to Lai ban itu bukan lain adalah Ouw
Beng Kok, pangcu (ketua) dari Tiat-ciang-pang. Kakek yang hebat ini tangan kirinya merupakan tangan
kiri palsu terbuat daripada logam kehijauan yang mengerikan sekali, seperti cakar iblis! Adapun empat
orang tosu tua yang tidak di kenal keng Hong itupun bukan orang-orang sembarangan, melainkan empat
orang di antara Kong-thong Ngo-lojin, tokoh-tokoh utama Kong-thong-pai!
Keng hong menenangkan hatinya lalu menjura dengan hormat kepada semua orang sambil berkata,
"Para Locianpwe berada di sini apakah sengaja menghadang saya dan ada urusan apakah? Eh, adik Sim
Lai Sek juga berada di sini? Apakah kau baik-baik saja?"
"Manusia keparat! Siapa sudi menjadi adikmu? Engkau telah mencemarkan kehormatan ciciku
kemudian masih tega membunuhnya! Nah, untuk perbuatanmu yang terkutuk itulah aku datang bersama
Ji-wi Supek untuk membunuhmu!" bentak Sim Lai Sek penuh kebencian.
"Celaka, bocah ini lebih jahat dari pada gurunya, Sin -jiu Kiam -ong. Patut dilenyapkan dari muka
bumi!" kata Coa Kiu orang tertua dari Hoa-san Siang-sin-kiam.
Keng Hong mengangguk-angguk. "Cukup sudah kuketahui maksud Ji-wi Locianpwe dari Hoa-san-pai
yang hendak membunuhku berdasarkan fitnah memperkosa dan membunuh. Bagaimana dengan para
Locianpwe yang lain? Ada urusan apakah?" Sikap Keng Hong tenang saja karena memang
sesungguhnya dia tidak merasa berdosa terhadap orang-orang ini. Sikapnya ini mengingatkan semua
tokoh kepada sikap Sin-jiu Kiam-ong dan membuat mereka makin marah.
"Lai-pangcu, aku menyesal sekali akan peristiwa yang terjadi antara kita, dan Lai-pangcu sebagai
seorang tua yang berkedudukan tinggi telah memaksaku sehingga terjadi bentrokan dan jatuh korban.
.
Sejak semula sudah kunyatakan bahwa aku tidak bermusuhan dan tidak ingin bermusuhan dengan
Tiat-ciang-pang. Mengapa sekarang Lai-pangcu datang lagi menghadang perjalankanku?"
"Bocah iblis! Engkau mengandalkan ilmu iblis membunah murid-murid Tiat-ciang-pang, masih banyak
bicara lagi? Kami datang untuk membinasakanmu!" jawab Kim-to Lai ban, sedangkan Ouw Beng Kok,
ketua Tiat-ciang-pang masih berdiri memandang penuh keheranan. Hampir saja dia tidak bisa percaya
bahwa bocah ini yang telah merobohkan banyak anak muridnya dan bahkan hampir saja membunuh Lai
Ban, sutenya!
"Sunggah sayang bahwa omongan Siauw bin Kun-cu mengenai Tiat-ciang-pang tepat sekali, bukan
hanya mengandalkan Tiat-ciang (Tangan Besi), bahkan memiliki Tiat-sim (Hati Besi) pula. Dan
bagaimana dengan para Locinpwe ini? Apakah para Totiang ini juga hendak mencariku?" Ia memandang
ke arah empat orang tosu yang bersikap galak dan sejak tadi memandangnya dengan sinar mata tajam.
Tosu tertua di antara Kong-thong Ngo-lojin adalah seorang kakek tinggi kurus bermata buta sebelah
kiri, memegang tongkat bambunya, ditudingkan ke arah Keng Hong sambil berkata.
“Cia Keng Hong, engkau telah membunuh sute termuda kami dan sepuluh orang murid kami, sekarang
terpaksa kami orang-orang tua dari Kong-thong-pai melupakan malu dan harus mencabut nyawa
seorang muda yang berbahaya seperti engkau!"
Keng Hong terkejut. Kiranya empat orang ini adalah para suheng dari Kok Cin Cu yang terkenal
dengan sebutan Kong-thong Ngo-lojin! Wah, sekali ini dia menghadapi ancaman lawan berat,
orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi! Betapa mungkin dia dapat melawan mereka? Akan tetapi,
kalau tidak dapat melawan dan membela diri dengan mulut. Dia tidak merasa bersalah, maka sebelum
mereka turun tangan, dia harus membela diri, menyatakan kebersihannya.
"Aku telah mendengar semua tuduhan, akan tetapi cu-wi Locianpwe sesungguhnya telah keliru
menjatuhkan tuduhan-tuduhan palsu. Tuduhan yang tidak benar berarti fitnah, merupakan hal yang keji
melebihi pembunuhan. Aku tidak bersalah. Pertama-tama tuduhan dari Hoa-san-pai yang mengatakan
bahwa aku telah meemperkosa dan membunuh nona Sim Ciang Bi. Memang benar ada hubungan cinta
antara aku dan mendiang nona Sim, akan tetapi bukan perkosaan. Adapun kematian nona itu yang
berada dalam pelukanku bukanlah karena aku yang membunuhnya!"
"Aku melihat dengan mata kepala sendiri engkau masih berani menyangkal?" bentak Sim Lai Sek
setengah menjerit.
"Apakah engkau melihat aku membunuh, adik Sim Lai Sek?" tanya Keng Hong dengan sikap tenang.
"Aku melihat engkau...engkau ..memperkosanya... kemudian melihat dia mati di pelukanmu. Siapa lagi
kalau bukan engkau atau perempuan iblis temanmu yang yang membunuhnya?"
"Kesaksianmu lemah. Aku tidak memperkosanya dan tidak pula membunuhnya. Sekarang tuduhan dari
Tiat -ciang-pang. Ketika itu aku membantu nona Sim dari desakan orang-orang Tiat-ciang-pang. Aku
tidak beraksud membunuhi anak buah Tiat-ciang-pang, kemudian datang Lai pangcu yang memaksaku
dengan kekerasan sehingga terjadi bentrok dan di dalam pertempuran jatuh pula korban di fihak
Tiat-ciang-pang. Jelas bahwa bukan aku sengaja memusuhi Tiat-ciang-pang karena aku hanya membela
diri. Hal ini disaksikan oleh seorang Locianpwe yang patut dipercaya, yaitu Siauw-bin Kuncu
Locianpwe."
"Bocah berilmu iblis! Engkau berbahaya sekali, memiliki ilmu iblis, tukang merayu wanita, pandai
.
memutar lidah. Engkau sudah selayaknya dilenyapkan dari muka bumi agar jangan membikin kotor
dunia!" bentak Kim-to Lai Ban marah.
"Terserah wawasan Ji-pangcu dan Tiat-ciang-pang. Sekarang urusan dengan Kong-thong-pai yang
menuduh aku membunuh Kok Cin Cu totiang dan sepuluh orang muridnya. Bagaimana aku dapat
mebunuh seorang lihai seperti Kok Cin Cu totiang? Ada orang lain yang membunuh, akan tetapi bukan
aku. Adapun pertempuran sepuluh orang anak murid Kong-thong-pai yang tewas dalam pertempuran
yang sudah sewajarnya dan sebagian..."
"Sebagian lagi kau bunuh dalam kuil setelah kau perkosa dua orang murid wanita!" bentak Kok Seng
Cu, tosu ke empat dari Kong-thong Ngo-lojin.
Keng Hong terkejut dan menduga bagaimana tosu ini tahu akan hubungannya dengan Kiu Bwee Ceng
dan Tang Swat Si? Dia tidak tahu bahwa empat orang tokoh Kong-thong-pai ini menerima
pemberitahuan dari coretan yang dilakukan dengan tusuk konde bungan bwe yang ditinggalkan
menancap di pondok setelah melakukan coretan peberitahuan bahwa Kiu Bwee Ceng dan Tang Swat Si
telah diperkosa oleh murid Sin-jiu Kiam-ong dan bahwa kedua orang gadis itu bersama para saudara
seperguruannya telah dibunuh pula.
"Aku tidak memperkosa, kami berhubungan secara suka sama suka dan aku tidak membunuh
siapa-siapa.."
"Manusia keji!" Kok Sian Cu, orang pertama dari Kong-thong Ngo-lojin sudah tak dapat menahan
kesabarannya lagi. Tubuhnya bergerak maju mengirim pukulan ke arah ubun-ubun kepala Keng Hong.
Sebuah pukulan maut yang didahului angin pukulan dahsyat sekali.
Keng Hong terkejut dan cepat dia mengelak dengan jalan meloncat ke kiri dan mengangkat tangan
menjaga kepalanya. Akan tetapi, dari sebelah kiri pundaknya disambar lagi oleh hantaman tangan yang
lebih ampuh lagi daripada pukulan pertama tadi, terbuat daripada logam. Hebat bukan main datangnya
pukulan ini karena Ouw Beng Kok dijuluki Tiat-ciang (Tangan Besi), bahkan mendirikan perkumpulan
Tiat-ciang-pang adalah karena kehebatan tangan kirinya yang palsu inilah. Tangan itu bukan terbuat dari
besi sebarangan, melainkan besi yang mengandung racun hebat, dan karena ketua Tiat-ciang-pang ini
memiliki lweekang yang amat kuat maka pukulannya benar-benar merupakan pukulan maut yang sukar
dihindarkan. Untung bagi Keng Hong bahwa sebelum suhunya meninggal dunia, kakek sakti itu telah
"mengoperkan " hawa sinkang mujijat ke dalam tubuh muridnya sehingga otomatis Keng Hong memiliki
sinkang kuat sekali seperti mendiang suhunya dan tanpa dia sadari pula dia telah memiliki ginkang yang
membuat tubuhnya seolah-olah dapat bergerak di luar kesadarannya. Datangnya pukulan Ouw Beng
Kok cepat, namun tubuh pemuda itu lebih cepat lagi, membuang diri ke belakang lalu bergulingan
menjauhi lawan.
Orang-orang yang menyerangnya adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi, sedikit banyak merasa
malu dan sungkan untuk menggeroyok seorang pemuda, maka mereka itu begitu menyerang dan luput ,
merasa sungkan untuk mendesak, membiarkan orang lain yang lebih dekat untuk turun tangan. "Bukk..!"
Ketika tubuh Keng Hong sedang bergulingan, kaki Kok Liong Cu, tosu ke dua dari Kong-thong
Ngo-lojin ini selain ilmu pukulan Ang-liong-jiauw-kang yang dimiliki oleh mereka berlima, juga terkenal
lihai dalam ilmu tendangannya. Datangnya tendangan cepat dan tak terduga sehingga tubuh Keng Hong
terlempar ketika dicium ujung sepatunya. Keng Hong merasa napasnya seolah-olah berhenti, namun
dengan pengerahan sinking dia dapat melindungi tubuh dan tidak terluka, hanya merasa nyeri di
punggung. Ia melompat bangun lagi hanya untuk menghadapi sinar berkeredepan menyambar dari depan
dibarengi bentakan Coa Bu orang kedua dari Hos-san Siang-sin-kiam yang menusukkan pedangnya
sambil membentak.
.
"Bocah iblis, mampuslah!"
Keng Hong kaget bukan main, cepat dia membuang diri lagi ke kanan menghindarkan diri dari sambaran
pedang. Sinar pedang itu menyeleweng lewat dan membabat rumput sehingga rumput-rumput itu terbabat
habis tanpa tergerak, menandakan betapa tajam dan lihainya pedang kakek ini! Keng Hong sudah
meloncat bangun lagi, wajahnya pucat, napasnya terengah dan ketika dia mengerling, kiranya dia sudah
dikurung!
"Aku tidak bersalah, dan aku akan mempertahankan nyawaku dari kalian orang-orang tua yang tidak
adil!" teriaknya. Ia maklum bahwa sekali ini sukar bagi dia untuk lolos, karena yang megepungnya adalah
orang-orang yang sakti dan jumlah mereka, tanpa menghitung Sim Lai Sek yang tidak ada artinya, adalah
delapan orang. Baru menghadapi seorang di antara mereka saja sudah berat, apalagi delapan orang
sekaligus! Baiknya mereka itu masih sungkan untuk mengeroyok, hanya menjaga agar dia tidak melarikan
diri dan siap-siap menerjang jika pemuda itu mendekat.
Dalam keadaan marah dan penasaran, Keng Hong merasa betapa seluruh tubuhnya menggetar dan
teringatlah dia bahwa apabila tubuhnya menggetar seperti ini berarti dia dapat menyedot hawa sinkang
lawannya. Ia mengerling dan melihat bahwa di antara mereka, yang bersenjata dan yang sukar untuk
dihadapi dengan sinkang adalah dua orang Hoa-san-pai yang berpedang itu, Coa Kiu dan Coa Bu, orang
tertua dari Kong-thong Ngo-lojin, yaitu Kok Sian Cu yang memegang tongkat bambu, dan Thiat-ciang
Ouw Ban Kok yang bertangan palsu. Maka dia lalu sengaja menggeser kakinya mendekatkan diri
dengan Kok Liong Cu dan Kok Kim Cu, dua orang kakek Kong-thong-pai yang tidak bersenjata.
Pancingannya berhasil karena kedua orang ini sudah mengulur tangan hendak mencengkeram dan
memukulnya. Keng Hong mengeluarkan teriakan keras dan menggerakkan lengan menangkis, sekaligus
menangkis dua lengan mereka.
"Plak! Plak!" Kedua tangan orang tua itu berhasil dia tempel dengan tangkisannya dan benar saja, begitu
menempel, hawa sinkang dari dua orang kakek itu menerobos keluar memasuki tubuhnya melalui
lengannya yang menangkis tadi! Dua orang kakek Kong-thong-pai itu terkejut dan makin besar mereka
mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, makin lekat tangan mereka dan makin banyak tenaga
mereka tersedot keluar!
"Ilmu keji!" Kok Sian Cu yang menyaksikan keadaan dua orang sutenya itu telah menggerakkan
tongkatnya, cepat seperti kilat menusuk mata Keng Hong! Pemuda ini terkejut dan miringkan kepala,
akan tetapi ternyata serangan itu hanya merupakan gertakan belaka karena tahu-tahu ujung tongkat telah
menotok sikunya, membuat lengannya lumpuh dan otomatis daya tempel atau daya sedotnya lenyap
untuk sementara sehingga dua orang kakek Kong-thong-pai itu dapat membebaskan diri. Ujung tongkat
terus menyambar ke arah lehernya. Keng Hong kembali menelak dan "brettt!" ujung tongkat itu menusuk
pecah baju di pundaknya.
"Desss!" Pada saat itu pula, kaki Kok Liong Cu sudah mengirim tendangan yang amat keras dan yang
tepat mengenai lambung Keng Hong, membuat pemuda itu roboh terguling-guling dengan dengan kepala
pening.
Melihat betapa pemuda itu kembali mempergunakan ilmu yang mujijat dan yang mereka sangka adalah
ilmu hitam Thi-khi-i-beng (Mencuri Hawa Memindahkan Nyawa), para tokoh kang-ouw itu menjadi
marah dan mengambil keputusan untuk turun tangan sekaligus membunuh bocah berbahaya itu. Sepasang
pedang di tangan Hoa-san Siang-sin-kiam meluncur ke arah leher dan dada Keng Hong yang masih
bergulingan di atas tanah. Pemuda ini cepat menekan kedua tangan di atas tanah dan mengerahkan
tenaga, dan... tubuhnya mencelat ke atas sedemikian cepatnya sehinga dua sinar pedang itu tidak
.
mendapatkan sasarannya.
"Dukkk!" Keng Hong terbanting roboh kembali ketika tangan besi Ouw Beng Kok menghantamnya
dengan cara memapakinya pada saat tubuhnya mencelat ke atas tadi. Pukulan berat ini tidak sempat
ditangkis atau dielakkan lagi oleh Keng Hong sehingga terpaksa pemuda ini menerimanya dengan
pengerahan sinkang melindungi tubuhnya. Ia masih belum terluka parah, namun seluruh tubuhnya terasa
nyeri dan kepalanya makin pening.
Dan begitu tubuhnya terbanting ke atas tanah, dua sinar pedang dari Hoa-san Siang-Sin -Kiam dan sinar
hijau tongkat bambu ditangan Kok Sian Cu menyambar. Keng Hong tidak melihat jalan keluar lagi,
mengelak tak mungkin apalagi menangkis, maka dia membelalakkan mata menanti maut sambil
mengerahkan sinkangnya secara untung-untungan untuk mengadu kekebalan tubuh yang penuh tenaga
sinkang itu dengan tiga senjata lawan yang ampuh.
"Cring-cring-traaakkk..!"
Kedua orang kakek Hoa-san Siang-Sin-Kiam, juga Kok Sian Cu, terkejut dan cepat menarik kembali
senjata mereka ketika tiba-tiba ada sinar putih menyambar dan tepat sekali menangkis senjata mereka
disusul dengan berkelebatnya sinar putih panjang yang mengancam mereka. Terpaksa mereka meloncat
mundur dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang gadis berpakaian serba putih yang cantik jelita dan
sikapnya agung dan penuh wibawa. Kiranya yang menangkis senjata-senjata yang sudah mengancam
nyawa Keng Hong tadi adalah tiga buah senjata rahasia berbentuk bola-bola putih berduri dan sinar
panjang berwarna putih adalah sabuk sutera yang sudah berada di tangan gadis itu.
"Sungguh tidak malu, golongan tua tokoh-tokoh partai besar mengeroyok seorang pemuda yang tidak
melawan! Cih, beginikah watak dan sikap golongan yan patut disebut locianpwe?" Gadis itu berkata,
suaranya dingin sekali dan pandangan matanya menyapu mereka yang mengurung Keng Hong dengan
pandang mata menghina.
"Siancai.. bukankah nona ini Song-bun Siu-li, puteri Lam-hai Sin-ni?" Kok Sian Cu orang tertua dari
Kong-thong Ngo-lojin berseru heran dan kaget, akan tetapi juga penasaran. "Nona, harap jangan
mencapuri urusan kami seperti juga kami tidak pernah mencapuri urusan Lam-hai Sin-ni. Harap nona
membuka mata dan melihat bahwa urusan dengan pemuda ini menyangkut Kong-thong-pai,
Hoa-san-pai, dan Thiat-ciang-pang!"
Dari ucapannya ini saja orang tertua dari Khong Thong Pai itu jelas menyatakan jerihnya terhadap
Lam-hai Sin-ni, bukan terhadap putrinya ini dan hendak mempergunakan nama ketiga partai besar untuk
menakuti-nakuti. Akan tetapi Sie Biauw Eng atau Song-bun Siu-li (Dara Jelita Berkabung) hanya
memandang air muka dingin dan mata bersinar lebih dingin lagi.
"Tidak bisa, selama ada aku di sini, kalian tidak boleh menyentuhnya, apalagi membunuhnya!"
Tiat-ciang Ouw Beng Kok menjadi amrah di dalam hati, akan tetapi karena dia sendiri sudah mendengar
akan nama besar Lam-hai Sin-ni sebagai tokoh paling lihai di antara para datuk hitam, maka dia tidak
berani menyatakan kemarahannya, hanya berkata dengan suaranya yang besar.
"Nona, karena nona adalah puteri Lam-hai Sin-ni, maka kami bersikap sungkan dan mengharap dengan
halus hendaknya nona suka mundur dan jangan melindungi pemuda iblis ini. Bukankah dia itu tidak ada
hubungannya sama sekali dengan ibu nona yang terhormat Lam-hai Sin-ni?"
"Dengan ibuku memang tidak, akan tetapi dia adalah satu-satunya pria di dunia ini yang kucinta dan akan
.
kubela dengan seluruh tubuh dan nyawaku!" Ucapan yang dikeluarkan dengan suara polos jujur ini
sejenak membuat semua orang menjadi tertegun. Akan tetapi dengan sikap wajar nona itu lalu
mengeluarkan sebatang pedang dan menyerahkan pedang itu kepada Keng Hong sambil berkata, "Keng
Hong, kau pergunakanlah pedangku ini dan mari kubantu kau menghadapi manusia-manusia haus darah
ini!"
Keng Hong menerima pedang yang diberikan itu, memegangnya dengan kedua tangan dan megerahkan
tenaga . "Krekkkk!" pedang yang terbuat daripada baja pilihan itu patah menjadi dua potong lalu
dilemparkannya ke atas tanah dengan muka merah dan pandang mata penuh kemarahan kepada Biauw
Eng.
"Aku tidak sudi pertolonganmu! Kau perempuan kejam, kau telah menyeretku ke dalam lembah
permusuhan! Engkaulah orangnya telah membunuh gadis itu karena karena cemburu, engkau curang,
kejam dan...aku benci kepadamu!"
Semua orrang yang memandang peristiwa itu membelalakan mata, akan tetapi terutama sekali Biauw
Eng yang menjadi pucat dan memandang Keng Hong dengan mata seekor kelinci ketakutan, kemudian
bibirnya bergerak-gerak.
"Tidak...., aku tidak melakukan hal itu...ah, Keng Hong, aku hanya ingin membantumu, membelamu,
karena aku cinta padamu...."
"Aku tidak butuh bantuanmu, tidak butuh pembelaanmu, tidak membutuhkan cintamu yang keji dan
kotor....!"
"Keng Hong...., uuuuhhhhhhhh... Keng Hong....." Gadis itu tak dapat menahan air matanyaa yang jatuh
berderai, kemudian ia menyusut air matanya dan mengangkat mukanya sambil berkata tegas. "Kalau
begitu, baiklah, kita mati bersama!" Sabuk sutera putih di tangannya bergerak meluncur ke depan
menyerang para pengurung yang terdekat.
"Perempuan iblis! Patut dibasmi kalian!” Teriak Kok Kiam Cu yang dengan susah payah baru dapat
menyelamatkan diri dari sambaran sabuk ini ke arah lehernya dengan jalan menggulingkan diri ke tanah
karena sinar sabuk itu benar-benar cepat bukan main, tidak sempat lagi dia menangkis.
Kini majulah para pengeroyok yang banyak jumlahnya itu. Dua orang Hoa-san Siang-sin-kiam memutar
pedangnya, bersama Kok Sian Cu, Kok Kim Cu, Ouw Beng Kok dan Lai Ban! Pertandingan terpecah
menjadi dua rombongan, namun keduanya merupakan pertandingan yang tak seimbang, atau boleh
dikatakan bukan merupakan pertandingan, melainkan pengeroyokkan dan usaha pembunuhan. Mereka
yang mengeroyok itu adalah orang-orang sakti yang berkepandaian tinggi. Betapapun lihainya permainan
sabuk sutera putih di tangan Biauw Eng, namun dia bukanlah lawan tiga orang kakek tokoh-tokoh besar
Hoa-san-pai itu. Sepasang pedang Hoa-san Siang-sin-kiam masih dapat ia menahannya dengan gulungan
sinar sabuk putih yang membentuk lingkaran-lingkaran, akan tetapi desakan tongkat babu di tangan Kok
Sian Cu, kakek pertama yang buta mata kirinya dari Kong-thong Ngo-lojin benar-benar membuat Biauw
Eng sibuk bukan main. Sudah dua kali ia terkena senjata lawan, pertama kali ujung pedang Coa Kiu
menyerempet pundaknya, menimbulkan luka pada kulit dan sedikit dagingnya, tidak parah namun cukup
mengakibatkan pakaiannya yang putih bersih. Kedua kalinya, ujung tongkat babu di tangan Kok Sian Cu
merobek kulit paha dirinya sehingga celana putihnya ikut robek dan tampak bagian kulit pahanya yang
berdarah. Namun, gadis ini tak pernah mengeluh dan permainan sabuk suteranya malah menjadi makin
cepat dan ganas.
Keng Hong juga amat repot menghadapi para pengeroyoknya. Keadaannya tidak lebih baik daripada
.
keadaan Biauw Eng, bahkan lebih buruk lagi. Dia dikeroyok oleh lima orang kakek sakti, yaitu ketiga
orang dari Kong-thong-pai dan dua orang dari pimpinan Tiat-ciang pang. Biarpun dia sudah
mempergunakan ginkangnya untuk berkelebatan ke sana ke mari dan mengerahkan sinkang untuk
menangkis, namun tetap saja berkali-kali tubuhnya terpaksa menerima gebukan-gebukan yang kalau
mengenai tubuh orang lain tentu mendatangkan maut. Dia memiliki tubuh yang secara otomatis telah
menggerakkan tenaga sakti untuk melawan pukulan yang datang dari luar, akan tetapi biarpun dia tidak
sampai terluka dalam, tetap saja tubuhnya terasa sakit-sakit seperti rontok semua tulang-tulangnya dan
kepalanya menjadi pening. Namun pemuda ini juga tidak pernah mengeluh dan dalam daya tahan dan
kekerasan hati, belum tentu dia kalah oleh Sie Biauw Eng. Hanya ada satu hal yang membuat hati Keng
Hong tidak enak, yaitu adanya Biauw Eng yang membelanya mati-matian. Ia menbenci gadis ini akan
tetapi dia pun tidak menghendaki gadis ini tewas karena dia. Sayang dan benci bercampur aduk di dalam
hatinya, membuat hatinya terasa lebih sakit daripada pukulan-pukulan yang diterimanya.Yang paling berat
baginya dalam pertandingan ini adalah tangan besi hijau dari Ouw Beng Kok, ketua Tiat -ciang-pang.
Hebat bukan main ilmu kepandaian kakek ini, dan tangan besinya itu bertemu dengan tangan besi, dia
merasa tangannya panas dan sakit, sungguhpun dalam hal tenaga, dia tidaklah dapat dikatakan kalah
karena Tiat-ciang Ouw Ban Kok juga tidak berani mengadu tenaga dengan pemuda ini.
Biauw Eng yang mengamuk dengan nekat itu kembali terkena tusukan pedang, sekali ini di tangan Coa
Bu. Karena ia sedang menahan desakan tongkat bambu Kok Sian Cu yang berbahaya dengan sabuk
suteranya, maka tusukan dari samping kanan itu sukar untuk dapat ia hindarkan lagi. Ia hanya dapat
meloncat ke atas untuk menghindarkan tusukan maut yang mengarah lambungnya, namun tetap saja ujung
pedang itu menancap daging paha kanannya. Biauw Eng mengeluarkan jeritan, bukan jerit karena nyeri
melainkan jerit kemarahan. Ketika tubuhnya roboh, tangan kirinya bergerak cepat sekali dan sinar-sinar
putih menyambar ke arah tiga orang kakek yang mengeroyoknya itu. Hebat bukan main sambaran
senjata rahasia bola-bola putih berduri yang kesemuanya mengarah ulu hati, leher dan pelipis lawan dan
jumlahnya belasan buah karena disambitkan secara cepat dan susul menyusul.
"Aihhhh…..!" Coa Bu yang kegirangan karena berhasil merobohkan gadis yang lihai itu, berteriak kaget
dan cepat miringkan tubuhnya, namun tetap saja bola putih yang menyambar ulu hati menyeleweng dan
mengenai pundaknya, menimbulkan rasa nyeri dan seketika pundak berikut lengannya seperti lumpuh.
Karena maklum bahwa senjata rahasia itu bagian duri-durinya tentu mengandung racun, cepat kakek
Hoa-san ini meloncat mundur, merobek luka dengan ujung pedang mengeluarkan darahnya lalu
mengobatinya dengan obat bubuk yang disimpan di sakunya. Coa kiu dan Kok Sian Cu dapat menangkis
runtuh semua senjata rahasia, bahkan ketika gadis itu menguras seluruh senjata bola putih dan tusuk
konde bunga bwe, mereka dapat menyampok semua am-gi (senjat gelap) itu ke atas tanah.
"Gadis keji...!"
Kok Sian Cu menggerakkan tongkat bambunya di tusukkan ke arah perut gadis itu yang sudah rebah di
atas tanah. Akan tetapi Biauw Eng tidak mau menyerah begitu saja. Ia menggunakan kegesitannya untuk
bergulingan ke atas tanah sehingga sampai empat lima kali ujung tongkat bambu itu hanya menusuk tanah.
Melihat robohnya Biauw Eng, Keng Hong menjadi marah sekali. Ia mengeluarkan teriakan melengking
nyaring dan pukulan Kok Liong Cu ke arah dadanya dia terima begitu saja sambil mengerahkan sinkang
dan..... tangan itu melekat di dadanya terus disedot sinkangnya! Namun, seperti juga tadi setiap kali
Keng Hong berhasil menyedot singkang seorang lawan, kakek yang lain cepat menotoknya sehingga
terpaksa dia tidak dapat mempertahankan kekuatan sinkangnya dan lawan itu terlepas lagi. Kalau saja
yang menotok bukan tokoh-tokoh sakti seperti itu, tentu yang menotoknya pun akan tersedot sekalian!
"Dess..!" Begitu tangan Kok Liong Cu tertempel di dadanya dan Kok Seng Cu cepat menotok
pundaknya sehingga tubuhnya seperti lumpuh dan tangan Kok Liong Cu terlepas, sebuah pukulan kilat
.
datang dari belakang, yaitu tangan besi ketua Tiat-ciang-pang, amat keras menghantam tengkuk Keng
Hong. Pukulan ini adalah pukulan maut yang amat kuat dan jarang sekali ada tokoh kang-ouw sanggup
menerima pukulan ketua Tiat-ciang-pang seperti itu. Keng Hong terdorong sebuah pukulan kilat datang
dari belakang, yaitu tangan besi ketua Tiat-ciang-pang, amat keras menghantam tengkuk Keng Hong ke
depan dan roboh menelungkup dalam keadaan pingsan!
"Keng Hong..!" Biauw Eng yang tadinya sibuk bergulingan menghindarkan tusukan ujung tongkat bambu
Kok Sian Cu, menubruk ke arah Keng Hong ketika dilihatnya pemuda itu roboh dan disangkanya tentu
tewas. Kekhawatirannya membuat dia kurang waspada dan selagi tubuhnya masih meloncat dan hendak
menubruk Keng Hong, dari kiri melayang kaki Kok Liong Cu yang menendang keras, tepat mengenai
lambungnya dan tubuh Biauw Eng terlempar pula, terguling-guling dan rebah miring dalam keadaan
pingsan.
"Kita habiskan saja mereka. Dua orang muda ini benar-benar berbahaya sekali!" kata Kok Sian Cu
yang sudah menggerakkan tongkat bambu ke arah Biauw Eng yang pingsan, sedangkan Ouw Ban Kok
sudah menghampiri Keng Hong hendak mengirim pukulan terakhir. Ketua Tiat-ciang-pang ini merasa
penasaran dan malu sekali bahwa pukulan tadi tak cukup kuat untuk membunuh Keng Hong.. padahal
dia maklum bahwa pukulannya itu benar-benar hebat bukan main, dan kiranya orang-orang sakti yang
berada di situ tak seorang pun yang akan dapat menerima pukulan itu dan hanya pingsan seperti Keng
Hong.
Detik-detik menegang itu agaknya merupakan detik-detik penentuan bagi Keng Hong dan Biauw Eng.
Sekali saja tokoh Tiat-ciang-pang menjatuhkan pukulan maut pada dua tubuh orang muda yang pingsan
itu, tentu mereka akan tewas dan takkan tertolong lagi. Akan tetapi, kalau Thian belum menghendaki
seseorang mati, ada saja sebabnya yang mencegah datangnya maut.
"Tahan, jangan bunuh dia....!"
Bentakan ini keras dan nyaring sekali, penuh wibawa dan tampaklah bayangan empat orang yang cepat
bukan main sehingga tahu-tahu telah berada di tengah-tengah mereka, bahkan dua di antara mereka
langsung menghadang di depan tubuh Keng Hong dalam keadaan siap untuk mencegah siapapun juga
membunuh pemuda itu. Karena sesunguhnya yang mereka musuhi adalah Keng Hong, melihat ada orang
datang melindungi Keng Hong otomatis Kok Sian Cu juga menarik tongkat bambunya dan
menggurungkan niatnya membunuh Biauw Eng.
Ketika mereka semua memandang empat orang yang baru muncul, mereka menjadi terkejut sekali dan
juga terheran-heran mengapa empat orang itu mencegah mereka membunuh Keng Hong. Mereka itu
bukan lain adalah Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu, nenek berpakaian hitam yang memegang senjata pecut
sembilan ekor berujung kaitan, dua orang hwesio Siauw-lim-pai tingkat dua, yaitu Thian Ti Hwesio yang
memegang senjata Liong-cu-pang dan Thian Kek Hwesio yang bersenjata jubahnya, adapun orang ke
empat adalah Sin-to Gi-hiap tokoh ahli golok yang sudah berusia delapan puluh lima tahun namun
kelihatan gagah dan tampan. Munculnya empat orang tokoh besar kang-ouw ini tentu saja menimbulkan
keheranan, apalagi karena mereka itu seolah-olah hendak melindungi Keng Hong, padahal baik
tokoh-tokoh Hoa-san-pai maupun Kong-thong-pai maklum bahwa mereka berempat itu pun merupakan
musuh-musuh mendiang Sin-jiu Kiam-ong karena dulu pernah menyerbu Kiam-kok-san.
"Siancai..! Apa sebabnya keempat orang sahabat datang-datang melarang kami membunuh bocah setan
ini? Hendaknya diketahui bahwa dia membunuh banyak murid Khong-thong-pai, di antaranya bahkan
sute Kok Cin Cu telah dibunuhnya!" kata Kok Sian Cu, suaranya halus akan tetapi mengandung
penasaran dan dan tuntutan.
.
"Dia telah memperkosa dan membunuh murid Hoa-san -pai!" kata pula Coa Kiu sambil melintangkan
pedangnya di depan dada, tanda bahwa dia siap untuk menghadapi siapa saja demi mempertahankan
nama Hoa-san-pai.
"Dan dia telah membunuh banyak anak murid Tiat-ciang -pang!" kata Ouw Beng Kok, marah.
"Dia sama sekali tidak boleh dibunuh. Belum boleh!" kata Kiu -bwe Toanio dengan suaranya yang
nyaring. "Kami menghalangi kalian bukan karena kami membela bocah itu, sama sekali tidak. Kami tidak
bermusuhan dan juga tidak bersahabat dengan dia.." akan tetapi kami bermusuhan dengan mendiang
gurunya. Kami telah bersepakat untuk memaksa dia menyerahkan pusaka-pusaka peninggalan Sin-jiu
Kiam-ong, dan kalau kalian berlaku cerdik, sebaiknya menyetujui kehendak kami agar kelak pusaka
yang amat banyak itu dapat dibagi-bagi dengan adil. Setelah pusaka berada di tangan kami, terserah apa
yang hendak kalian lakukan terhadap bocah ini!"
"Omithoud, Siauw -lim-pai tidak menginginkan benda lain kecuali dua buah kitab pusaka yang dicurinya
dari Siauw -lim-pai, " kata Thian Ti Hwesio.
"Akan tetapi mereka ini amat berbahaya, kalau tidak dibunuh sekarang selagi mereka tak berdaya, kelak
tentu akan mendatangkan banyak kekacauan, dan pula, sampai kapan sakit hati kami dapat terbalas?"
kata pula Ouw Beng Kok. Ucapannya ini mendapat tanda setuju dari mereka yang ingin sekali
membunuh Keng Hong untuk membalas dendam.
"Siapa yang hendak membunuhnya sekarang, berarti akan berhadapan dengan kami berempat!" bentak
Kiu-bwe Toanio sambil menggerak-gerakkan cambuknya. Thian Ti Hwesio, Thian Kek Hwesio dan
Sin-to Gi-hiap yang memang telah berunding terlebih dahulu untuk menangkap Keng Hong dan memaksa
pemuda ini menunjukkan tempat persembunyian pusaka, kini mengurung pemuda yang masih rebah
pingsan itu, siap untuk melawan siapa yang ingin membunuh pemuda itu.
Sejenak ke dua golongan ini saling pandang dan keadaan menjadi makin tegang. Fihak yang hendak
membunuh terdiri dari delapan orang ditambah Sim Lai Sek yang tentu saja tak dapat dimasukkan
hitungan, sedangkan fihak yang menentang pembunuhan adalah empat orang, akan tetapi karena empat
orang itu, terutama sekali Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap terkenal sebagai orang -orang yang
memiliki kepandaian amat tinggi, fihak yang hendak membunuh menjadi ragu-ragu. Apalagi kalau mereka
ingat bahwa Keng Hong dan Biauw Eng hanya pingsan saja. kalau mereka siuman, tentu saja mereka itu
akan menjadi lawan yang berat pula.
Melihat keadaan ini, Sim Lai Sek menjadi penasaran, marah dan khawatir kalau-kalau kematian cicinya
tidak akan terbalas. Maka dia lau berteriak-teriak, "Dia harus dibunuh! Cia Keng Hong si keparat harus
di bunuh!" Tiba-tiba bertiup angin dari atas puncak dan terdengar suara yang perlahan namun amat jelas
terdengar oleh semua orang. "Siancai! Di wilayah Kun-lun-pai, siapa berani bicara tentang
pembunuhan?Apakah kami tidak boleh berkuasa di wilayah kami sendiri?" Semua orang terkejut dan
memandang. Ternyata dari atas puncak Kun-lun-pai tampak bayangan beberapa orang tosu yang
menuruni puncak dengan gerakan cepat seperti terbang. Jumlah mereka ada tujuh orang dan dibelakang
tujuh orang ini kelihatan serombongan tosu yang jumlahnya ada lima puluh orang tentu saja semua orang
menjadi jerih, bukan hanya menyaksikan jumlah tosu-toosu Kun-lun-pai yang demikian banyak
melainkan terutama sekali Kiang Tojin dan enam orang sutenya yang merupakan tujuh orang pimpinan
Kun-lun-pai yang disegani. Baru mendengar suara Kiang Tojin yang digemakan dari atas tadi saja sudah
menbayangkan betapa hebatnya sinkang dan khikang dari tosu itu!
Mereka itu memang benar adalah para tosu Kun-lun-pai yang dipimpin oleh Kiang Tojin sendiri bersama
enam orang sutenya. Setelah tiba ditempat itu, pandangan mata Kiang Tojin dan para ssutenya menyapu
.
kearah para tamu tak diundang itu dan kearah tubuh Keng Hong dan Biauw Eng yang masih menggeletak
pingsan. Di lubuk hatinya, Kiang Tojin merasa kasihan kepada Keng Hong. Memang tosu ini selalu
merasa suka dan kasihan kepada bocah yang dahulu dia tolong dari bencana maut itu. Kini, didalam hati
tosu ini timbul pertanyaan-pertanyaan yang menbikin perasaannya perih, yaitu apakah bukan dia yang
menyeret bocah itu kedalam jurang kesengsaraan? Karena dia menolong Keng Hong dan menbawa ke
Kun-lun-san, maka bocah itu bertemu dengan Sin-jiu Kiam -ong dan menjadi muridnya kemudian karena
dia menjadi murid Si Raja Pedang maka dia dimusuhi semua orang kang-ouw, dijadikan rebutan dan
nasibnya selalu sengsara karena dimusuhi orang-orang pandai sehingga akhirnyakini menggeletak pingsan
di bawah kakinya! Kiang Tojin menghela napas panjang dan merasa betapa semua itu diakibatkan oleh
pertolongannya kepada Keng Hong. Memang mungkin sekali kalau dia tidak turun tangan menolong
Keng Hong, tentu pemuda itu telah mati di waktu kecil. Akan tetapi apakah kematian lebih sengsara
daripada hidup? "Cu - wi sekalian hendaknya maklum bahwa kedua orang muda yang pingsan ini adalah
tawanan-tawanan kami.
Pemuda ini kami tawan karena dia mampunyai kesalahan terhadap Kun-lun-pai dan memang sedang
kami cari-cari, adapun gadis ini kami tawan karena dia berani melanggar wilayah Kun-lun-pai. Harap
cu-wi (tuan sekalian ) sebagai orang-orang luar tidak akan menghalangi kami bertinak di dalam wilayah
kami sendiri." Semua orang sakti yang hadir tak dapat membantah kebenaran ucapan Kiang Tojin yang
memang pada tempatnya. Sudah menjadi peraturan tak tertulis di dunia kang-ouw bahwa para tamu
harus tunduk kepada peraturan tuan rumah. Mereka semua berada di wilayah Kun-lun-pai sebagai
tamu-tamu yang tak di undang, dan mereka semua sudah mendengar akan perbuatan Keng Hong menipu
para pimpinan Kun-lun-pai dengan enyerahkan Siang-bhok-kiam palsu. Hal ini menjadi buah tertawaan
orang sedunia kang-ouw, tentu saja merupakan dosa besar peuda itu terhadap Kun-lun-pai. Kalau
sekarang fihak Kun-lun-pai hendak menangkapnya dan pemuda itu berada di wilayah Kun -lun, tentu
saja mereka berhal untuk mencegah. Didalam hati mereka timbul rasa tidak puas dan penasaran, akan
tetapi karena mereka segan dan jerih terhadap Kun-lun-pai, mereka tidak berani membantah. Hanya
Tiat-ciang Ouw Beng Kok yang menyatakan penasaran hatinya, namun juga dia bersikap halus terhadap
Kiang Tojin. Ia menjura sebagai penghormatan lalu berkata. "Toyu, apa yang Toyu ucapakan semuanya
memang benar. Akan teapi, bocah itu telah membunuh banyak anak murid Tiat-ciang-pang, apakah kami
tidak diberi kesempatan untuk menjatuhkan hukuman kepadanya?"
Pertanyaan ketuaTiat-ciang-pang ini membuka kesempatan kepada semua orang untuk mengatakan isi
hati mereka dan ramailah mereka itu berkata susul-menyusul. "Benar, dia telah membunuh banyak anak
murid kami!" "Dia telah memperkosa murid wanita kami dan membunuhnya!" "Sin-jiu Kiam-ong masih
berhutang kepada kami, sudah sepatutnya muridnya yang membayar hutangnya!" "Gurunya mencuri
kitab-kitab pusaka kami, muridnya yang harus mengembalikan!" Kiang Tojin mengangkat kedua
tangannya,minta agar mereka tidak ribut-ribut, kemudian berkata, "Pinto mengetahui akan hal itu
semua.Siapa yang bersalah harus dihukum, akan tetapi karena kita berada di wilayah kami, maka
kamilah yang berhak untuk mgadili dia. Kami akan membawanya ke Kun-lun-pai dan akan mengadili Cia
Keng Hong. Disana cu-wi boleh menjatuhkan tuduhan dan dia berhak membela dan baru kemudian
diputuskan hukumannya secara adil. Pinto mengharap cu-wi sudah enyetujui dan ikut bersama kami ke
Kun-lun-pai." Tentu saja tidak ada yang dapat embantah kebenaran ucapan ini dan pada saat itu Keng
Hong dan Biauw Eng siuman dari pingsannya. Ketika keng Hong membuka matany dan melihat para tosu
Kun-lun-pai, dia cepat menghampiri Tojin dan menjatuhkan diri berlutut.
"Teecu Cia Keng Hong siap untuk menerima pengadilan !" "Cia Keng Hong, engkau harus ikut bersama
kami di Kun-lun-pai. Dan engkau, Song-bun Siu-li, karena telah berani melanggar wilayah Kun-lun-pai
dan menimbulkan keributan, engkau pun harus ikut untuk menerima pengadilan.' Biauw Eng tidak
menjawab dan agaknya tidak peduli karena dia sedang memandang ke arah Keng Hong dengan alis
berkerut dan mata embayangkan kesedihan. Akan tetapi dia tidak membantah ketika dia digiring naik ke
puncak Kun-lun-pai. Sebetulnya, keputusan Kiang Tojin untuk menawan pula Biauw Eng ada rahasia
.
atau latar belakangnya. Tosu ini tadi sudah mendengar akan tuduhan-tuduhan Keng Hong yang
dilontarkan kepada gadis ini, , karena dia ingin membawa gadis ini untuk memperingan dosa pemuda itu,
Kalau tidak ada latar belakang ini , kiranya dia tidak begitusembrono unutk menawan puteri Lam-hai
Sin-ni hanya karena telah mendatang wilayah Kun-lun-pai tanpa ijin! Keng Hong berjalan sambil
menundukkan muka, sama sekali tidak memperdulikan Biauw Eng yang berjalan di sebelahnya. Di dalam
hatinya, dia berterima kasih sekali kepada Kiang Tojin karena biarpun tadi dia berada dalam keadaan
pingsan, namun dia maklum bahwa sekirnya tidak ada Kiang Tojin disitu tentu sekarang nyawanya telah
melayang ke akhirat.
***
Rasa terima kasih yang bertumpuk-tumpuk sejak dahulu terhadap tosu ini membuat dia tunduk dan
menyerah, siap untuk melakukan segala perintah dan enerima segala hukuman yang dijatuhkan Kiang
Tojin kepadanya. Keng Hong dan Biauw Eng dibawa masuk ke dala "ruangan pengadilan Kun-lun-pai"
yang merupakan sebuah ruangan yang amat luas dengan lantai batu putih. Disitu telah menanti Thian Seng
Cinjin ketua Kun-lun-pai dengan pakaian ketua yang sederhana nan agung dan berwibawa. Kakek tua ini
telah diberi tahu lebih dulu sehingga dia menanti di situ. Kiang Tojin dan enam orang sutenya lalu
menjatuhkan diri berlutut dan Kiang Tojin melaporkan bahwa Cia Keng Hong telah ditangkap bersama
Song-bun Siu-li yang melanggar wilayah Kun-lun-pai. Keng Hong telah pula menjatuhkan dirinya berlutut
di depan ketua Kun-lunpai dengan sikap tenang. Akan tetapi Biauw Eng tidak mau berlutut, juga tidak
ada yang memaksanya, dan gadis ini duduk di atas bangku yang berada di situ.Tak seorangpun
melarangnya karena betapapun juga, semua orang selain mengenal nama Song-bun Sin-li sebagai tokoh
yang amat terkenal, juga nama besar Lam-hai Sin-ni membuat semua orang merasa jerih. Kalau tadi para
tokoh mengeroyok dan hendak membunuh Biauw Eng adalah karena gadis itu membela Keng Hong.
Para anak murid Kun-lun-pai yang lain menjaga di luar ruangan sidang pengadilan, bersikap menjaga
segala kemungkinan.
Suasana disitu sunyi dan semua orang menanti ketua Kun-lun-pai membuka mulut. Thian Seng Cinjin
hanya membalas penghormatan semua tamu dan mempersilakan mereka duduk dengan isyarat tangan
yang digerakkan perlahan menuju ke arah bangku-bangku yang tersedia disitu. "Suhu, setelah Cia Keng
Hong terlepas dari tangan Ngo-sute dan Ji-sute (Adik seperguruan ke Lima dan ke Dua) teecu dapat
menangkap dia di wilayah Kun-lun-pai, sedang dikeroyok oleh para sahabat yang datang dari
partai-partai persilatan dan dunia kangouw yang menghendaki agar dilakukan pengadilan atas dirinya.
Teecu menyerahkan kepada Suhu mohon keputusan." Demikian antara lain Kiang Tojin melapor. Thian
Seng Cinjin menghela napas. "Siancai... kekacauan yang ditimbulkan oleh perbuatan mendiang Sin-kiu
Kiam-ong dengan sepak terjangnya yang seseka sendiri, dilanjutkan oleh muridnya. Muridku, pinto
menyerahkan dan mewakiliku kepadamu untuk memulai persidangan pengadilan ini." Kiang Tojin
mengangguk, kemudian bersama enam orang sutenya lalu bangkit ber diri di belakang suhu mereka.
Kiang Tojin lalu berkata kepada semua tamu. "Cu-wi sekalian, sebelum kami mempersilakan cu-wi
menjatuhkan tuduhan terhadap Cia Keng Hong, lebih dahulu kami akan menjatuhkan tuduhan kami,
harap cu-wi menjadi saksi." Sejenak keadaan sunyi, kemudian Keng Hong yang masih berlutut dan
enundukkan mukanya, lalu berkata, suaranya lantang dan tegas.
"Cia Keng Hong! Kurang lebih setahun yang lalu engkau telah menyerahkan Siang-bhok-kiam yang kau
serahkan itu adalah pedang palsu. Benarkah bahwa engkau telah menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam
palsu kepada kami?" "Saya mengaku, memang pedang Siang-bhok-kiam yang saya serahkan kepada
Totiang dahulu adalah pedang kayu palsu buatan saya sendiri." "Jadi engkau mengaku bahwa engkau
telah menipu Kun-lun-pai dan sengaja melakukan penghinaan agar Kun-lun-pai menjadi buah tertawaan
orang sedunia ?" "Sama sekali tidak!" Keng Hong mengangkat muka dan memandang KiangTojin dengan
pandangan mata tajam dan penuh ketabahan. "Saya tidak bermaksud menyerahkan pedang palsu.
Semenjak turun dari Kiam-kok-san, saya telah menbawa pedang palsu itu karena maklum bahwa
.
banyak menghendaki pedang itu. Pedang Siang-bhok-kiam adalah milik suhu yang telah diwariskan
kepada saya, mengapa orang lain hendak memintanya? Mengapa pula Kun-lun-pai hendak
memintanya,bahwa hendak merampasnya dengan paksa? Adalah kesalahan Kun-lun-pai sendiri yang
ikut-ikut menginginkan pedangitu sehingga karena terpaksa saya menyerahkan pedang yang saya bawa,
pedang palsu buatan saya yang disangka Siang-bhok-kiam. Saya tidak berasa bersalah dalam
penyerahan pedang itu,tidak merasa sengaja hendak menipu, hal itu terjadi karena kesalahan!
Kun-lun-pai sendiri yang ingin memiliki benda kepunyaan orang lain!"
Suasana menjadi sunyi sekali setelah semua orang mendengar jawaban yang tak tersangka-sangka ini.
Kemudian terdengar Kiu-bwe Tooanio nyaring melengking. "Anak ini benar! Bukan salahnya ,karena
memang pedang itu tidak seharusnya dirampas Kun-lun-pai! Pedang itu adalah hak kami bersama, kami
orang -orang yang dibuat sakit hati oleh Sin-jiu Kiam-ong dan yang berhak untuk mendapatkan bagian
dari pusaka peninggalannya. Pedang itu harus diserahkan kepada kami untuk kami pakai mencari pusaka
itu dan kita bagi-bagi bersama. Ini baru adil namanya."
"Omitohud, ucapan Toanio tepat sekali. Pincang juga harus mendaptkan kembali dua buah kitab pusaka
Siauw-lim-pai yang dicuri oleh Sin-jiu Kiam-ong , maka pedang itu harus diberikan kepada kami. Dalam
hal itu, anak ini tidak bersalah terhadap Kun-lun-pai!" kata pula Thian Ti Hwesio tokoh Siauw-lim-pai.
"Tepat sekali..tepat sekali..!" sambung Sin-to Gi-hiap. Keng Hong mendengarkan semua itu dengan hati
geli. Dari sikap para tokoh ini jelas sekali terlihat betapa setiap orang manusia. betapapun tinggi
kepandaian dan kedudukannya, masih selalu diperhaba oleh nafsu mendahulukan kepentingan diri sendiri.
Karena nafsu inilah maka setiap persoalan yang dianggap enguntungkan dirinya, langsung di anggap benar
dan tepat. Jika sebaliknya dan persolan itu dianggap merugikan, tentu akan ditentang!"
Kiang Tojin juga makulum akan hal itu, dan diam-diam diapun girang bahwa Keng Hong dapat
menjawab dengan tepat seperti yang diharapkan sehingga dapat memperingan "dosanya" terhadap
Kun-lun-pai. Akan tetapi tentu saja di samping perasaan sayang kepada Keng Hong, sebagai orang ke
dua Kun-lun-pai dan calon pengganti suhunya kelak sebagai ketua Kun-lun-pai, Kiang Tojin lebih
mementingkan kebesaran nama Kun-lun-pai, aka dia lalu berkata. "Cu-wi sekalian telah mendengar
pengakuan Cia Keng Hong dan dengan pengakuannya itu, kami fihak Kun-lun-pai dapat menerimanya
dan kami dapat mengampuni dosanya karena setelah diteliti memang pemuda ini tidak bermaksud
menipu, melainkan memalsukan pedang Siang-bhok-kiam dengan maksud agar yang asli tidak sampai
terampas orang lain. Dengan pengakuannya itu, sekaligus nama besar kami telah tercuci daripada
noda-noda. Pertama, jelas bahwa kami tidak menyembunyikan Siang-bhok-kiam asli seperti disangka
banyak orang. Ke dua, Kun-lun-pai jelas bukanlah partai yang tamak akan pusaka lain orang sehingga
sampai sekian lamanya kami tidak emeriksa pedang itu palsu atau bukan karena memang kami tidak
mempunyai maksud mencari pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Hanya karena diperebutan oleh
tokoh-tokoh kang-ouw, maka pedang itu rusak dan ketahuan bahwa benda itu palsu. Adapaun tentang
anggapan bahwa Kun-lun-pai tidak berhak atas pedang itu adalah salah! Pedang itu selaanya berada di
wilayah Kun-lun-pai, yaitu Kiam-kok-san, dan segala benda yang berada di wilayah Kun-lun-pai adalah
hak kekuasaan kami untuk menentukan apakah boleh dibawa keluar atau tidak."
***
Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin, terutama Sian Ci Tojin, yang menginginkan pusaka-pusaka itu untuk
dipelajari, merasa tidak setuju dengan ucapan Kiang Tojin ini, akan tetapi karena mereka melihat betapa
suhu, Thian Seng Cinjin yang lebih mengutamakan nama baik Kun-lun-pai, nengangguk-ngangguk setuju
atas ucapan Kiang Tojin, mereka hanya saling pandang dan mengerutkan kening, tidak berani
membantah. "Cia Keng Hong, karena jelas bahwa engkau belum membawa keluar Siang-bhok-kiam dari
Kun-lun-san, dan mendengar pembelaan diri yang tepat, maka kami dapat mengampunimu dengan syarat
.
bahwa engkau harus menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam yang asli kepada kami...."
"Wahhh...!!" Terdengar seruan tidak setuju dari para tamu.
"Harap tenang dan biarkan Twa-suheng bicara!" Lian Ci Tojin berseru keras, dan tosu ini sudah merasa
girang dengan keputusan Kiang Tojin.
"Keputusan ini dikeluarkan oleh Kun-lun-pai mengingat bahwa Siang-bhok-kiam akan selalu
menimbulkan kegemparan di dunia kang-ouw, menjadi perebutan yang akan mengorbankan banyak
nyawa secara sia-sia dan karena pedang yang selalu berada di Kiam-kok-san itu enjadi hak kami, maka
kamilah yang harus menyipannya dengan janji bahwa kami Kun-lun-pai tidaklah tamak terhadap pusaka
orang lain dan tidak akan menggunakan pedang untuk mencari pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong!"
Ucapan terakhir ini melegakan hati para tamu akan tetapi sebaliknya mengecewakan para tosu
Kun-lun-pai terutama Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin.
"Nah, pinto rasa sudah jelas bagi dunia kang-ouw umumnya bahwa Kun-lun-pai mempunyai
alasan-alasan kuat untuk memiliki Siang-bhok-kiam dan persoalan Cia Keng Hong dengan Kun-lun-pai
telah selesai. Kini kami persilakan cu-wi yang ingin menuntut pemuda ini agar mengajukan tuntutannya."
Kiang Tojin bersikap cerdik dalam sikapnya membela Keng Hong. Dia tidak mendesak atau bertanya
kepada Keng Hong untuk pelaksanaan keputusan itu karena dia khawatir kalau-kalau Keng Hong secara
berterang menolak dan menimbulkan pula kemarahan di fihak para tosu Kun-lun-pai. Ia akan
menggunakan pengaruhnya untuk memaksa pemuda itu kelak menyerahkan Siang-bhok-kiam secara
baik-baik. Dengan memberi kesempatan kepada para tamu untuk mengajukan tuduhan, maka para
sutenya tidak ada kesempatan untuk mendesak Keng Hong. "Cia Keng Hong telah memperkosa murid
Hoa-san-pai yang bernama Sim Ciang Bi kemudian membunuhnya, disaksikan oleh adik korban yang
kini hadir, Sim Lai Sek" kata Coa Kiu tokoh Hoa-san-pai. "Dosa yang keji itu harus ditebus dengan
hukuman kematian bagi pemuda jahat ini!"
"Cia Keng Hong memperkosa dua orang murid wanita kamu lalu membunuh mereka, juga membunuh
sute kami Kok Cin Cu dan beberapa orang anak murid Kong-thong-pai. Dosanya lebih besar lagi
terhadap kami dan biarpun dia mati sepuluh kali masih belum dapat menebus dosanya !" kata Kok Sian
Cu. "Dia telah membunuh banyak anak murid kami dari Tiat-ciang-pang. Dia harus kami hukum mati
demi menjaga nama besar kami yang diinjak-injaknya!"
Hening sejenak setelah tiga orang wakil tiga partai besar ini menjatuhkan tuduhannya dan semua mata
memandang Keng Hong yang masih menundukkan muka.
"Cia keng Hong, bagaimana engkau menjawab tuduhan-tuduhan para Locinpwe ini ?" Kiang Tojin
bertanya, suaranya mengandung getaran karena hatinya merasa berduka sekali. Ia merasa berduka kalau
-kalau semua tuduhan itu benar dan anak yang disayangnya itu benar-benar telah mewarisi watak
suhunya, yaitu suka mempermainkan wanita dan sudah turun tangan membunuh orang. Hanya dia terkejut
dan ragu mendengar bahwa Keng Hong juga membunuh Kok Cin Cu yang dianggapnya tak mungkin
terjadi. Ia tahu siapa Kok Cin Cu, orang tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, tentu takkan dapat
dikalahkan oleh Keng Hong. Ia merasa khawatir sekali karena kalau yang dituduhkan itu benar-benar,
alangkah berat dosa pemuda ini dan amat tidak baik kalau dia atau Kun-lun-pai hendak melindunginya.
Andai kata tokoh-tokoh kang-ouw hendak mengganggu Keng Hong karena perbuatan-perbuatan
Sin-jiu Kiam -Ong, tentu dia akan membela Keng Hong. Akan tetapi kalau yang dituntut adalah
perbuatan-perbuatan pemuda ini sendiri, tak mungkin dia dapat mencampurinya. Cia Keng Hong
.
menggeleng kepalanya dan menjawab dengan suara tenang namun tegas, "Semua tuduhan yang
dijatuhkan kepada saya itu adalah fitnah yang tidak benar! Saya tidak memperkosa Sim Ciang Bi anak
murid Hoa-san-pai itu, karena hubungan antara kami adalah atas dasar suka rela, dan saya pun tidak
membunuhnya, biar pun ada saksi yang menjatuhkan fitnah palsu. Saya tidak membunuh Sim Ciang Bi!
Mengenai urusan dengan Kong-thong-pai, Kok Cin Cu totiang tidak mati oleh tangan saya. Dua orang
murid wanita Kong-thong-pai yang dimaksudkan tentulah Kiu Bwee Ceng dan Tang Swat Si seperti juga
Sim Ciang Bi murid Hoa-san-pai, mereka berdua ini pun amat baik kepada saya dan hubungan di antara
kami berdasarkan suka sama suka, tidak ada perkosaan sama sekali. Yang membunuh mereka dan para
saudara seperguruan mereka dengan para saudara seperguruan mereka dengan racun juga bukan saya.
Demikian pula urusan dengan Tiat-ciang-pang. Mereka itu mengeroyok saya yang hanya membela diri,
dan sebagian di antara mereka tewas oleh senjata rahsia juga bukan oleh tangan saya !"
"Wah-wah-wah, pengecut! Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab!" bentak Coa Kiu, seorang
di antara Hoa-san Siang-sin-kiam marah. "Kalau engkau tidak mengaku membunuh ereka semua, akan
tetapi buktinya mereka itu mati, habis apakah hendak kau katakan bahwa mereka itu telah membunuh
diri mereka sendiri?" "Keng Hong ! Hendakkah mengaku menyangkal bahwa ciciku mati dalam
pelukanmu ?" Sim Lai Sek membentak marah. "Semua penduduk dusun melihat betapa anak murid kami
yang wanita engkau perkosa dan kemudian semua anak murid kai itu kau beri racun !" bentak pula Kok
Sian Cu. Keng Hong melirik ke kiri dan kini dia melihat Sie Biauw Eng yang sejak tadi telah siuman dan
mendengar semua persidangan yang mengadili Keng Hong itu. Ia melihat betapa Biauw Eng
menundukkan muka dengan alis berkerut, wajah jelita itu kelihatan berduka sekali. Hemmm, wajah palsu,
pikirnya ! Engkaulah yang mendatangkan semua malapetaka kepadaku, dan kau masih berpura-pura
dengan sikap alim berpura-pura seperti orang berduka! Teringat betapa Sim Ciang Bi mengejang dengan
tubuh masih hangat di pelukannya, terbunuh secara keji oleh Biauw Eng, dan teringat pula betapa Kiu
Bwee Ceng dan Tang Swat Si yang amat mencintainya juga mati oleh racun Biauw Eng, seketika
kemarahan Keng Hong melenyapkan rasa kasihnya yang aneh terhadap gadis itu dan diam menjadi
benci, benci sekali! Tiba-tiba Keng Hong meloncat ke kiri dan menyambar tubuh Biauw Eng,
dipegangnya lengan gadis itu dan diseretnya di depan Kiang Tojin sambil berseru keras.
***
"Inilah dia manusianya yang membunuh mereka semua! Inilah Song-bun Siu-li puteri lam-hai Sin-ni yang
berkepandaian tinggi dan berwajah jelita namun berhati iblis! Dialah yang telah membunuh Sim Ciang Bi
dengan darah dingin, meracuni murid-murid Tiat-ciang-pang dengan senjata rahasianya! Dia melakukan
semua itu karena cemburu, karena iri hati, karena... Karena hatinya yang ganas liar dan kejam!" Semua
orang tercegang memandang kepada Biauw Eng yang menudukkan mukanya yang menjadi pucat sekali.
Suasana menjadi sunyi senyap dan Kiang Tojin eandang wajah yang menunduk itu penuh perhatian. Ia
percaya akan keterangan Keng Hong berdasarkan pengetahuannya bahwa keng Hong tidak memiliki
watak atau dasar watak jahat dan kejam. Sebaliknya, biarpun dia belum mengenal kepribadian Song-bun
Siu-li, akan tetapi mengingat bahwa gadis ini puteri Lam-hai Sin-ni yang terkenal sebagai tokoh nomor
satu dari Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tandingan), tidak akan mengherankan kalu gadis yang
kelihatan cantik jelita dan dingan seperti salju ini memiliki watak iblis seperti ibunya. "Cia Keng Hong,
engkau yang dijatuhi tuduhan, mengapa engaku menimpakannya kepada orang-lain?" Kiang Tojin
pura-pura mencela, padahal kehendak hatinya ialah memancing agar tuduhan Keng Hong itu dapat
diperkuat.
"Maaf, totiang. Saya sama sekali tidak menuduh sebarangan, bukan menuduh karena saya takut
menghadapi hukuman. Biar dihukum mati sekalipun, kalau memang saya bersalah, saya tidak akan gentar
dan siap mempertanggungjawabkan perbuatan saya. Akan tetapi sesungguhnya bukan saya melainkan
perempuan iblis inilah yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji, curang dan pengecut itu. Kalau
Totiang tidak percaya, harap bertanya kepadanya dan ingin sekali saya mendengar apa yang akan
.
dijawabnya." Memang Keng hong ingin sekali mendengar jawaban Biauw Eng. Ketika gadis ini tadi
membelanya pada waktu dia dikeroyok orang-orang sakti dan dia melancarkan tuduhannya, gadis ini
menyangkal. Sekarang, di dalam sidang pengadilan di depan-depan orang-orang sakti, bagaimana gadis
ini akan dapat menyangkal pula? Bukti-buktinya sudah cukup lengkap, yaitu senjata-senjata rahasianya,
dan saksi-saksinya juga sudah banyak, terutama sekali dia yang menjadi saksi utama karena beberapa
kali dia melihat gadis baju putih ini berkelebat pergi setiap ada pembunuhan-pembunuhan itu, dan masih
teringat olehnya, bahkan masih terasa belaian-belaian kasih sayang penuh nafsu dari gadis baju putih yang
kelihatannya dingin dan alim ini!
"Nona, jawablah apakah semua yang dikatakan Cia Keng Hong itu benar? Apakah benar Nona yang
membunuh murid-murid Hoa-san-pai, Kong-thong-pai dan Tiat-ciang-pang?"
Biauw Eng memandang kepada Keng Hong dengan muka pucat, sinar matanya berduka sekali, bibirnya
bergerak-gerak dan gemetar seperti wanita kalau hendak menangis. Akan tetapi gadis yang keras hati ini
cepat menggigit bibirnya yang bawah sehingga tampak kilatan gigi putih disusul warna merah karena bibir
bawahnya pecah tergigit! Agaknya dengan kekerasan hati Biauw Eng hendak mengeluarkan kata-kata
yang kemudian ditekan dan ditahannya sendiri dengan gigitan pada bibirnya. Wajahnya tidak pucat lagi,
bahkan mulai menjadi kemerahan, sinar matanya menyapu semua orang yang hadir disitu, kemudian
memandang Kiang Tojin dan sejenak sinar mata kedua orangitu bertmeu. Dalam detik pertemuan sinar
mata itu, keduanya seperti orang bermufakat dan saling bermufakat dan saling maklum bahwa
masing-masing merasa suka dan mengandung hati kasih sayang terhadap Keng Hong! Akan tetapi hanya
sedetik saja pertemuan getaran perasaan ini dan terdengarlah suara Biauw Eng nyaring dan tetap, sedikit
pun tidak gemetar dan ia sudah bangkit berdiri."Yang bersalmh dihukum, yang tidak bersalh dibebaskan.
Itu sudah sewajarnya maka saya minta kepada cu-wi sekalian untuk membebaskan Keng Hong ! Dia
tidak bersalah karena benar seperti yang dikatakannya, semua pembunuhan itu akulah yang
melakukannya ! Dan aku siap menerima hukuman, akan tetapi Keng Hong harus dibebaskan sekarang
juga!'
Keng Hong memandang gadis itu dengan sinar mata tajam. Begitu Biauw Eng mengucapkan
pengakuannya, sungguh heran sekali, kebenciannya menghilang dan dia kini memandang penuh
kekhawatiran! Gadis itu jelas telah mengucapkan keputusan kematian sendiri! Kiang Tojin menghadapi
para tokoh tiga buah partai persilatan besar itu dan berkata, "Nah, cu-wi telah mendengar sendiri
pengakuan Song-bun Siu-li dan berarti bahwa Keng Hong tidak bersalah dalam urusan ini. Kalau dia
membela diri ketika diserang dan dikeroyok sehingga jatuh korban di antara para pengeroyok, amatlah
tidak adil kalu dia dipersalahkan .Terserah cu-wi sekalian sekarang, apa yang akan cu-wi lakukan
kepada yang bersalah." "Perempuan iblis ini harus dibinasakan!" bentak Tiat-ciang Ouw Beng Kok,
menghantam dengan tangan bajanya yang kiri ke arah kepala Biauw Eng. Juga Coa Kiu sudah
menggerakkan pedangnya enyusul, sehingga tampak sinar terang dan suara mencuit ketika sinar pedang
ini saat berikutnya, Kok Sian Cu menggerakkan pula tongkat bambunya menusuk ke dada gadis itu. Tiga
serangan maut dari tiga tokoh kang ouw yang sakti ini datang secara beruntun dala detik-detik yang
hampir bersamaan , Sedangkan Biauw Eng hanya menundukkan muka siap menerima datangnya maut. Ia
sama sekali tidak menjadi gentar, matanya hanya ditujukan kepada Keng Hong dengan pandang mata
sayu penuh kesedihan.
"Tidak! Jangan bunuh dia....!!" Kneg Hong berseru keras dan dia pun menubruk maju menghadang di
depan Biauw Eng sambil menggerakkan tangan mendorong ke depan dengan maksud melindungi gadis
ini. Karena pukulan Tiat-ciang Ouw Beng Kok datang lebih dahulu , maka pukulan tangan baju inilah
yang bertemu dengan tangan Keng Hong sehingga terdengar suara keras dan tubuh Ouw Beng Kok
terjengkang ke belakang, juga Keng Hong terbanting ke kiri! "Tak boleh melakukan pembunuhan di sini!"
terdengar suara halus dan sinar pedang Coa Kiu yang sudah meluncur dekat dan kini mengancam Keng
Hong karena tubuh Keng Hong masih menutupi tubuh Biauw Eng, tiba-tiba terpental ketika tertangkis
.
tongkat di tangan Thian Seng Cinjin. Tongkat bambu di tangan Kok Sian Cu lihai sekali. Biarpun ada
tubuh Keng Hong yang menghadang, namun tongkat itu dapat meliuk melalui punggung Keng Hong dan
langsung menukik dan menusuk ke arah dada Biauw Eng. "Trakkk!" Tongkat bambu ditangan orangtetua
dari Kong-thong Ngo-lojin itu menyeleweng dan menghantam lantai sehingga membuat lantai itu
berlubang!
***
"Hi-hi-hik, segala kacoa berani lancang tangan hendak membunuh puteriku?" Tiba-tiba saja Lam-hai
Sin-ni sudah berada di situ sehingga mengejutkan semua orang. Pukulan jarak jauh yang sudah berhasil
menangkis tongkat bambu di tangan Kok Sin Cu ini benar-benar mengejutkan dan mengagumkan.
Lam-hai Sin-ni memandang puterinya dan berkata dengan suara gemetar. "Eng-ji....ah, Eng-ji.., mengapa
engkau begini lemah? Mengapa engkau menyia-nyiakan nyawa untuk kau korbankan? Begitu murahkah
nyawamu kau korbankan untuk seorang pria berhati palsu macam Keng Hong ini..?" Biauw Eng terisak.
"Ibu .. aku cinta kepadanya, Ibu.." Lam-hai Sin-ni membanting kakiknya, "Bodoh! Lemah...! Ah, Sie
Cun Hong, setelah engkau menghancurkan hatiku, mengapa kini muridmu yang hendak merusak
kebahagiaan puteriku dan puterimu?" "Lam-hai Sin-ni , puterimu telah berhutang nyawa kepada kami,
harus di tebus dengan nyawanya pula!" Kok Kim Cu berseru marah melihat munculnya tokoh utama dari
Bu-tek Su -kwi ini. "Benar, dia harus dibinasakan!" bentak pula Coa Kiu dan Coa Bu. "Biarpun Lam-hai
Sin-ni sendiri, tidak boleh melindungi puterinya yang berhutang nyawa penasaran murid-murid kami!"
bentak pula tiat-ciang Ouw Beng Kok.
"Eh, eh, eh begitukah? Anakku hanya membela pemuda tak tahu diri itu, akan tetapi andai kata benar
dia yang membunuhi murid-murid kalian yang tak berharga, habis kalian mau apa?" Watak Lam-hai
Sin-ni memang amat dingin dan keras, bahakn selalu memandang rendah lain orang, maka kini di depan
tokoh- tokoh sakti itu ia sama sekali tidak memandang mata!" Tentu saja tokoh-tokoh itu menjadi marah
sekali. Apalagi Ngo-lojin dari Kong-thong-pai yang kini tinggal empat orang itu. Dahulu mereka berlima
amat terkenal sehingga tokoh-tokoh iblis seperti Thian -te Sa-lo-o yang menjadi tiga orang datuk hitam
dari dunia penjahat dan amat terkenal sebelum akhirnya muncul Bu-Tek Su Kwi, tidak berani
memandang rendah, maka dengan seruan-seruan nyaring meraka itu menerjang maju, mempergunakan
cengkeraman-cengkeraman Ang-Liong-jiauw-kang mereka yang ampuh, bahkan Kok Sian Cu
menyerang dengan tongkat bambunya. Di saat itu pula, melihat kesempatan baik karena banyak kawan
untuk menghadapi nenek iblis yang mereka tahu amat lihai ini, Coa Kiu dan Coa Bu kedua Hoa-san
Siang -sin-kiam juga maju dengan pedang mereka sedangkan Ouw Beng Kok dan Kim-to lai Ban juga
tidak tinggal diam, akan tetapi mereka ini bukan menyerang Lam Hai Sin Ni melainkan Biauw Eng!
Terjangan orang-orang sakti ini dilakukan serentak dan cepat, membuat para tosu Kun-lun-pai tidak
sempat melerai dan memandang bingung karena mereka sebagai tuan rumah tentu saja merasa tidak
senang kalau tempat tinggal mereka dijadikan gelanggang pertempuran.
"Plak-plak-plak.." Yang datang lebih dulu adalah pukulan-pukulan Ang-liong-jiauw-kang, akan tetapi
tiga pukulan Kok Seng Cu, Kok Liong Cu dan Kok Kim Cu ini ditangkis lengan Lam-hai Sin-ni dan
tangan mereka itu melekat pada lengan nenek ini dan terus di sedotlah hawa sinkang dari tangan mereka
yang membanjir tanpa dapat dicegah memasuki lengan Lam-hai Sin-ni yang tertawa terkekeh.
Ketika mereka bertiga terkejut, tiba-tiba Lam-hai Sin-ni menggerakkan ke dua lengannya sehingga tiga
orang itu terangkat dan diputar-putar ke atas untuk dipakai menangkis serangan bambu Kok Sian Cu
dan sepasang pedang Coa Kiu dan Coa Bu ! Tentu saja dua orang Hoa-san Siang -sin-kiam itu terkejut
sekali dan menarik kembali pedang ereka agar tidak melukai para tokoh Kong-thong-pai itu, sedangkan
Kok Sian Cu yang lebih cerdik dan lihai, menggerakkan tongkat bambunya menyusun ke samping dan
mengiri totokan ke arah pusar Lam-hai Sin-ni secara hebat dan cepat sekali!
.
Lam-hai Sin-ni tertawa, mundur dua langkah dan melontarkan tubuh ke tiga orang tokoh
Kong-thong-pai itu ke arah Kok Sian Cu , Coa Kiu dan Coa Bu sehingga terpaksa tiga orang tokok itu
mengelak dan tubuh Kok Seng Cu dan para suhengnya terbanting roboh dalam keadaan lemas karena
sebagian dari sinkang mereka telah tersedot oleh Lam-hai Sin-ni dengan ilmu mujijat Thi-khi-I-beng!
Sementara itu, Biauw Eng yang masih berdiri seperti orang kehilangan semangat, diam saja ketika
diserang oleh dua orang tokoh Tiat-ciang-pang. Melihat ini, kembali Keng Hong yang meloncat maju dan
menyambut serangan itu. Sekali ini karena kedua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu marah sekali, serangan
mereka pun hebat, bahkan Kim-to Lai Ban telah menggunakan goloknya. Keng Hong masih bingung tadi
oleh pengakuan Biauw Eng yang tadinya menyangkal kemudian berbalik mengaku, menjadi makin
bingung oleh ucapan Lam-hai Sin-ni. Melihat gadis yang amat aneh, yang dapat mendatangkan rasa cinta
dan benci bergantian dihatinya itu kini terancam bahaya, mati-matian dia menubruk maju, menggunakan
kedua lengannya untuk menangkis pukulan tangan baja dan golok.
"Desssss..!" Tubuh Keng Hong terbanting lagi ke atas lantai. Dalam pertandingan di lerang Kun-lun-san
ketika dia dikeroyok, dia telah mengalami pukulan-pukulan yang mengakibatkan luka di dalam tubuh, kini
dia menangkis pukulan. Tiat-ciang Ouw Beng Kok sampai dua kali. Dadanya terasa sakit-sakit dan dia
muntahkan darah segar, sedangkan lengannya yang menangkis golok Lai ban terluka parah di pangkal
sikunya, kulit dagingnya robek dan mengucurkan banyak darah. Namun, dalam usahanya menyelamatkan
Biauw Eng, Keng Hong tidak merasakan luka-lukanya, bahkan begitu tubuhnya terbanting, dia terus
berguling ke lantai mendekati Biauw Eng, tiba-tiba menangkap pinggang gadis itu dan melontarkannya
sekuat tenaga ke arah Lam-hai Sin-ni sambil berkata.
"Locianpwe, harap bawa pergi puterimu dari sini...!" Lam-hai Sin-ni baru saja memukul mundur para
pengeroyoknya dengan melontarkan tubuh ketiga orang tokoh Kong-thong-pai, kini melihat tubuh
puterinya melayang ke arahnya, cepat dia menangkap dan mengempitnya. Ia ingin sekali mengamuk dan
membunuhi semua orang yang hendak mengganggu puterinya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara
halus.
"Apakah orang tidak memandang mata lagi kepada Kun-lun-pai sehingga tidak memperdulikan pinto
semua dan mengacau sekehendak hatinya?" Yang bicara ini adalah Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai
yang tadi ketika enangkis sinar pedang Coa Kiu dilakukan sambil duduk dan semenjak itu menonton dan
mendengarkan semua yang terjadi dengan alis berkerut. Mendengar suara ini, Lam-hai Sin-ni tertawa dan
berkata, "Maafkan kelancanganku, Cinjin!" Tubuhnya lalu berkelebat, membawa pergi puterinya dari
tempat itu tanpa ada yang berani mengganggu, pertama kareana memang jerih menghadapi nenek itu
sendirian saja ,kedua karena mereka pun terpengaruh suara Thian Seng Cinjin sehingga merasa sungkan
untuk memperlihatkan kekerasan di depan kakek ini yanng selain menjadi tuan rumah, juga terkenal
sebagai ketua Kun-lun- pai yang amat lihai, belum lagi diingat akan banyaknya tosu-tosu lihai di
Kun-lun-pai ini.
***
"Biarlah dia pergi, yang terpenting, bocah ini tak boleh terlepas begitu saja dari tangan kami!" kata Coa
Kui. "Andai kata bukan dia yang membunuh, sudah jelas dia menghina urid wanita kami!" "Juga dua
orang murid wanita kami!" kata Kok Sian Cu. "Benar, tak boleh bocah ini dilepas begitu saja !" Ouw
Beng Kok. "Omitohud, Pinceng masih harus mendapat kitab-kitab Siauw -lim-pai dari bocah ini !" kata
wakil ketua Siauw -lim-pai dan yang lain -lain juga ikut pula membuka suara. Keng Hong menjadi marah
sekali. Tubuhnya sakit-sakit, dadanya terasa sesak, kepalanya pening oleh pukulan- pukulan yang
diterimanya, ditambah pula kepergian Biauw Eng tiiba-tiba seperti membawa sebagian semangatnya.
Pengakuan Biauw Eng yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu amat meragukan hatinya.Ia yakin
bahwa gadis itu mengakui semua itu untuk meneria hukuman di atas pundaknya, dengan niat
.
membebaskan Keng Hong. Maka dia menjadi ragu-ragu apakah benar gadis itu yang melakukan
pembunuhan-pembunuhan keji. Siauw Biauw Eng dan ucapan Lam-hai Sin-ni meragukan hatinya. Tentu
ada rahasia di balik semua itu. Orang yang kelihaian jahat belum tentu selamanya akan melakukan
perbuatan jahat. Sebaliknya orang yang kelihatannya baik-baik belum tentu pula selamanya benar.
Buktinya Lian Ci Tojin. Bukankah tosu itu secara keji seperti binatang buas telah memperkosa Tan Hun
Bwee, puteri Yan piauwsu? Padahal perbuatan itu sampai mati sekalipun tidak sudi dia melakukannya.
Dan para tokoh besar ini. Tidak jelaskah tampak betapa tamak mereka ini, mengejar-ngejar dan
berlumba-lumba memperebutkan pusaka gurunya?
Tiba-tiba dia meloncat bangun dan berkata, suaranya kasar dan nyaring, "Kalian ini orang-orang tua
yang jahat dan tamak! Aku tidak sudi lagi menurut segala kata-kata kalian ! Apakah dosaku terhadap
kalian, termasuk terhadap Kun-lun-pai ? Salahkah kalau aku menjadi murid Sin-jiu Kiam -oang ? Coba
katakan, perbuatan apakah yang telah kulakukan terhadap kalian semua ? Akan tetapi kalian selalu
mengejar-ngejar aku, memperebutkan Siang-bhok-kiam , ini hanya alasan karena sebenarnya kalian
semua menginginkan pusaka peninggalan suhu! Tak tahu malu! Takkan ku berikan kepada siapapun
juga! Akan kupelajari sendiri dan kelak kupergunakan untuk melawan kalian!" Semua orang memandang
dengan mata terbelalak, termasuk Kiang Tojin, Thian Seng Cinjin berkata perlahan. "Siancai..., mulut
tajam....!" Akan tetapi Ouw Beng Kok telah menerjang maju menghantam sabil membentak. "Bocah
sombong!"
Berbarengan dengan pukulan Ouw Beng Kok ini, Lian Ci Tojin juga maju menghamtam dari kiri dengan
pukulan dahsyat mengarah lambung Keng Hong.
Pemuda ini yang sudah dua kali merasai pukulan Ouw Beng Kok yang hebat, menjadi marah dan
merendahkan diri setengah berjongkok, mengerahkan seluruh tenaganya memapaki pukulan ketua
Tiat-ciang-pang ini dengan dorongan tangan yang mengandung sinkang warisan gurunya.
"Blekkkkkkkkk!!"
Tubuh Oue Beng Kok terjengkang dan ketua Tiat-ciang-pang ini roboh pingsan dengan mulut muntah
darah! Akan tetapi Keng Hong juga roboh berguling-gulingan karena labungnya dihajar pukulan tangan
Lian Ci Tojin."Sute, jangan bermain curang!" bentak Kiang Tojin marah, akan tetapi karena pukulan itu
telah bersarang dan membuat Keng Hong roboh, dia hanya memandang cemas.
Keng Hong bangkit lagi, menekan lambungnya yang serasa hendak pecah. Ia lalu menyusuti darah yang
mengalir dari mulutnya, tanpa disadari dia mencabut keluar saputangan ini teringat akan gadis itu dan
menudingkan telunjuknya kepada Lian Ci Tojin sambil berkata. "Kiang Tojin! Sutemu ini selain curang
juga keji sekali terhadap seoarng nona baju hijau..."
"Engkau yang keji, bisa menuduh orang, keparat!" Lian Ci Tojin sudah menerjang maju lagi, akan tetapi
Keng Hong meloncat mundur, membalikkan tubuhnya dan lari secepatnya menuju Kiam-kok-san.
"Kejar!"
Entah siapa yang mengeluarkan ucapan ini, akan tetapi seperti sepasukan tentara enerima komando,
semua orang segera mengejar, kecuali ketua Kun-lun-pai dan Kiang Tojin.
Diantara para tosu Kun-lun-pai, hanya Lian Ci tojin dan Sian Ti Tojin saja yang mengejar bersama para
tokoh lainnya. Sedangkan para Kun-lun-pai lainnya hanya berdiri ragu-ragu dan menanti perintah, ,
memandang kepada Kiang Tojin.
.
"Bawa anak murid Kun-lun-pai dan lihat apa yang terjadi di sana. . jaga jangan sampai tempat suci itu
dikotori orang," kata Thian Seng Cinjin kepada muridnya yang tertua itu. Kiang Tojin mengangguk lalu
mengajak semua anak murid Kun-lun-pai, melakukan pengejaran dari jauh. Thian Seng Cinjin menghela
napas panjang berulang kali, kemudian bersila bersamadhi untuk menenteramkan batinnya yang
mengalami guncangan dalam peristiwa itu.
Keng Hong mengerahkan seluruh tenaganya yang ada untuk berlari cepat. Larinya masih cepat karena
memang pemuda ini memiliki ginkang yang tidak lumrah diiliki seorang pemuda, dan pantasnya dimiliki
seorang yang sudah berlatih puluhan tahun. Hal ini adalah berkat di terimanya pemindahan sinkang dari
Sin-jiu Kiam-ong. Akan tetapi pada saat itu dia telah terluka cukup berat sehingga andaikata dia tidak
memiliki sinkang yang luar biasa tentu dia telah roboh dan karenanya, ketika dia mengerahkan seluruh
tenaganya, napasnya terengah-engah dan dadanya terasa sakit sekali.
Merasa betapa kepalanya pening sekali dan napasnya sesak hampir sukar bernapas, terpaksa Keng
Hong memperlambat larinya dan begitu dia mengurangi kecepatannya empat orang kakek Ngo-thong-pai
telah menyusulnya. Memang Kong-thong Ngo -lojin terkenal dengan ginkang mereka yang hebat
sehingga ginkang mereka itu dapat berlari lebih cepat daripada tokoh lainnya.
"Bocah setan, engkau hendak lari kemana?"
Di natara para tokoh yang mengejar, yang merasa sakit hati kepada Keng Hong pribadi adalah
tokoh-tokoh kong-thong-pai, Hoa-san-pai dan Tiat-ciang-pang. Adapun tokoh lainnya yang juga
mengejar, seperti dari Siauw-lim-pai, Kiu-bwe Toanio, Sin-to Gi-hiap hanya ingin memperebutkan
pusaka Sin-jiu Kiam-ong, tidak mempunyai dendam pribadi kepada pemuda itu, maka mereka ini tidak
seperti tokoh-tokoh tiga partai besar pertama , tidak ingin membunuh Keng Hong, melainkan hanya ingin
memaksanya menyerahkan pusaka gurunya.
Begitu Kong-thong Ngo-lojin yang tinggal empat orang itu dapat menyusul, serentak mereka mengirim
pukulan-pukulan Ang-liong-jiauw-kang yang ampuh dari belakang. Keng Hong mendengar sambaran
angin pukulan yang amat hebat ini dan dia meamng sudah siap mengadu nyawa dengan orang-orang yang
memusuhinya, sudah marah dan nekat sekali dan mengambil keputusan untuk tidak menyerah sampai
mati. Maka cepat dia membalikkan tubuhnya sabil merendahkan tubuh menekuk kedua lutut, sedangkan
ke dua lengannya bergerak ke atas untuk menangkis.
***
Kekuatan sinkang yang dia kerahkan hebat bukan main dan dia dalam keadaan marah, maka otomatis
daya sedat sinkangnya bekerja amat kuatnya sehingga begitu tangan Kok Seng Cu, Kok Liong Cu dan
Kok Kim Cu tertangkis, tangan tiga orang yang mengandung tenaga pukulan Ang-liong-jiauw-kang itu
menempel pada kedua lengan mereka dengan kuatnya. Tenaga Ang-lioang-jiauw-kang merupakan
tenaga yang timbul dari pengerahan sinkang dan memang sangat hebat sehingga dengan jari-jari tangan
mereka yang membentuk cakar, kakek-kakek dari Kong-thong-pai ini sanggup meremas hancur senjata
tajam lawan! Maka kini yang mengalir seperti banjir memasuki tubuh Keng Hong melalui kedua lengan
nya adalah tenaga sinkang yang amat dahsyat sehingga napasnya hampir berhenti. Ia megap-megap dan
merasa betapa tenaga yang kuat dan hawa panas sekali memasuki tubuhnya, berputaran di sekitar
pusarnya.
"Celaka .. Twa suheng...tolong...!" Kok Kim Cu berteriak kaget. Melihat betapa tiga orang sutenya
terbelalak dan terengah-engah mencoba melepaskan tangan mereka yang mencekeram lengan pemuda
itu, maklumlah Kok Sian Cu akan keadaan tiga orang sutenya.
.
"Terkutuk! Ilmu iblis..!" teriaknya dan tongkatnya segera bergerak menotok kedua siku lengan Keng
Hong. Pemuda ini sedang dalam keadaan setengah kejang kaku, tak dapat bergerak karena derasnya
hawa sinkang yang memasuki tubuhnya, maka biarpun dia maklum akan datangnya totokan, dia tidak
mampu mengelak.
Andaikata Kok Sian Cu, betapapun kuatnya sebagai orang pertama Ngo-lojin, menyerang Keng Hong
dengan tangan kosong, tentu begitu pukulannya mengenai tubuh peuda itu, sinkangnya akan tersedot
pula. Namun kakek ini saat lihai dan maklum akan hal itu, maka dia menggunakan ujung bambu untuk
menotok dan begiru mengenai sasaran, dengan gerakan "sendal pancing" dia menarik kebali tongkatnya.
Keng Hong merasa betapa keduanya lumpuh dan tiga buah tangan kakek yang tadi mencengkeramnya
dapat terlepas, maka dia lalu membalikkan tubuh dan berlari lagi. Ia megap-megap dan dadanya makin
sakit, akan tetapi larinya tidak lumrah manusia lagi, seolah-olah terbang saja dan kedua kakinya seperti
tidak menyentuh bumi. Hal ini adalah karena tenaga sinkang dari tiga orang kakek pemilik ilmu pukulan
Ang-jiauw -kang yang telah tersedot oleh tubuhnya tadi kuat bukan main sehingga tubuh Keng Hong
penuh dengan tenaga sinkang yang berlebihan. Seperti sebuah balon karet terlalu banyak angin, tubuhnya
ringan dan setiap kali meloncat ke depan, dapat mencapai jarak yang lima enam kali lebih jauh daripada
kemampuannya yang luar biasa. Sudah beberapa kali keadaan terlalu penuh hawa sinkang seperti dialami
Keng Hong. Tiap kali dia bingung bagaimana harus membuang tenaga berlebihan itu. Akan tetapi
sekarang, karena dia mengerahkan seluruh tenaga untuk melarikan diri, maka tenaga kelebihan itu dapat
dia salurkan untuk keperluan ini sehingga larinya seperti terbang dan makin cepat dia mengerahkan
tenaga berlari, makin lapang rasa dadanya dan daya tarik-menarik di tubuhnya akibat penyedotan
sinkang tiga orang kakek itu mulai berkurang, bahkan dapat dia selaraskan dengan pernapasan dan
tenaganya sendiri.
Empat orang kakek kong-thong-pai melongo ketika menyaksikan betapa peuda itu berkelebat cepat
laksana halilintar menyabar, sebentar saja sudah sampai di sebuah puncak! Hampir mereka tak dapat
percaya akan pandangan mata sendiri, dan karena tiga orang diantara mereka sudah menjadi agak lemah
karena sebagian besar sinkang mereka tersedot lenyap, terpaksa dengan hati penasaran mereka
melanjutkan pengejaran perlahan-lahan sehingga tersusul oleh tokoh-tokoh lain.
Akan tetapi ketika para tokoh itu tiba di kaki batu pedang di Kiam-kok -san , mereka melihat tubuh
Keng Hong dengan susah payah telah mendaki sampai setenghnya dari batu pedang yang tampak dari
bawah. Jelas tampak betapa pemuda itu sudah terluka dan terengah-engah, akan tetapi dengan nekat
pemuda itu merangkak terus ke atas. "Kejar...!!" Seru Coa Kiu tokoh Hoa-san-pai sambil
menggerakkan pedangnya. "Akan tetapi Kiang Tojin yang sudah tiba disitu bersama anak murid
Kun-lun-pai, sudah cepat menghadang di depan batu pedang sambil berkata
"Maaf ,cu-wi sekalian ! kiam-kok-san adalah sebuah tepat keramat bagi Kun-lun-pai, sedangkan kami
sendiri tidak ada yang boleh naik ke puncaknya, bagaimana kami dapat membolehkan orang lain naik?
Pinto harap cu-wi sekalian maklum, dan kami percaya bahwa di tempat wilayah kekuasaan cu-wi
masing-masing terdapat tempat keramat seperti Kiam-kok-san bagi kami." "Ah, tapi hal ini lain lagi,
Toyu." Bantah kok Sian Cu. "Harus pinto akui kebenaran ucapan Kiang -toyu bahwa di tempat kami pun
ada tempat keramat yang tidak boleh dilanggar lain orang. Kami pun tentu saja memandang muka para
pimpinan Kun-lun-pai, akan tetapi sekali-kali berani melanggar tempat keramat Kun-lun-pai,akan tetapi
sekali ini kami semua sama sekali bukanlah hendak melanggar. Kami hanya ingin mengejar dan
menangkap bocah yang naik ke Kiam-kok-san itu. Biarpun merupakan tempat larangan, akan tetapi
kalau ada alasan kuat dan bukan semata-mata sengaja hendak melanggar, kami kira sepatutnya kalau
Toyu membiarkan kami mengejar dan menangkap bocah itu." "Omitohud...., benar sekali apa yang
diucapkan sahabat Kok Sian Cu. Pinceng tentu saja pantang untuk melanggar tempat keramat
Kun-lun-pai, akan tetapi mungkin sekali kitab-kitab pusaka pinceng berada di puncak Kiam Kok-san ini,
.
apakah Kiang -toyu hendak mengukuhi larangan ini dan tidak hendak mengembalikan kitab kami?"
Selagi Kiang Tojin bingung karena merasa terdesak oleh oongan-omongan yang mempunyai dasar kuat
itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan tahu-tahu disitu telah muncul tiga orang yang
mengejutkan hati mereka karena tiga orang ini bukan lain adalah Ang-bin-kwi-bo, Pak-san kwi-ong dan
Pat-jiu-sian-ong - tiga orang di antara tiga orang Bu-tek Su-kwi yang dahulu, lima tahun yang lalu juga
telah datang di tempat itu membuat kocar-kacir para tokoh sakti dan hampir saja membunuh para tokoh
itu kalau tidak di tolong oleh Sin-jiu Kiam -ong! Melihat munculnya tiga orang iblis ini, Thian Ti Hwesio
tokoh Siauw-lim-pai yang tadi bicara cepat berkata sambil menggerakkan tongkat Liong-cu-pang di
tangannya. "Omitohud...! Pinceng tidak akan mundur selangkah pun menghadapi ketiga orang Bu-tek
Sam-kwi jika sekali ini Sam Kwi hendak merampas peninggalan Sin-jiu Kiam -ong, termasuk kitab-kitab
pusaka kami!' "Kami pun tidak sudi bersekutu dengan Bu-tek Sam-kwi, musuh-musuh kami dari aliran
yang bertentangan!" kata Kok Sian Cu. "Ha-ha-ha-ha-ha! Ada saatnya bermusuhan ada saatnya
bersahabat. Kalau tidak ada alasan bersahabat berusuhan,mengapa tidak bersahabat? Kalau ada alasan
kuat untuk bersekutu, mengapa bermusuhan? Bukankah Nabi Konghucu mengatakan bahwa di empat
penjuru lautan ini semua manusia adalah bersaudara?" Berkata Pat-jiu kiam-ong yang suaranya halus
sambil menggerak-gerakkan kebutannya dengan lagak seorang dewa memberi ceramah kebatinan !
***
"Kami adalah golongan bersih, lawan golonan sesat, kami kaum putih lawan kaum hitam tidak sudi
bersahabat dengan Bu-tek Sam -kwi!" kata Coa Bu tokoh Hoa-san-pai. Memang semua tokoh
kang-ouw membensi Bu-tek Sam-kwi, empat orang iblis yang selalu membikin kacau dunia kang-ouw
dan hampir semua golongan kang-ouw pernah dibikin rugi oleh empat orang datuk hitam itu. "Hi-hi-hik,
sombong amat orang Hoa-san-pai! Mengandalkan apanya sih ?" Ang-bin kwi-bo mengejek. "Mengapa
bicara baik-baik dengan orang yang berhati dengki dan memandang orang lain penuh dosa dan diri
sendiri yang paling bersih? Kalau kami merampas pusaka , kalian mau bisa berbuat apakah?" bentak
Pak-san kwi-ong dan kakek tinggi besar berkulit hitam ini menggerak-gerakkan tubuhnya yang berbulu
sehingga dua buah tengkorak di ujung rantai yang diikatkan di pinggangnya mengeluarkan suara
berkelotakkan mengerikan. Akan tetapi Pat -jiu Sin-ong mengangkat tangan yang memegang kebutan
sambil tersenyum dan terdengarlah suaranya yang halus seperti orang peramah penuh kasih sayang antara
manusia.
"Damai, damai..! Tidak ada yang seindah perdamaian ! Kami datang untuk membantu cu-wi sekalian
dalam perdebatan memperebutkan kebenaran dengan fihak Kun-lun-pai ! Harap cu-wi jangan salah
faham." Setelah berkata demikian, Pat-jiu Sian-ong, memandang kepada ke dua orang kawannya.
Memang di antara mereka bertiga Pat-jiu Sian-ong terhitung yang paling pandai bicara dan pandai pula
bersiasat. Ia tahu bahwa dua orang kawannya itu, seperti juga dia sendiri , tentu saja tidak gentar
menghadapi pengeroyokan para tokoh kang-ouw itu.
Akan tetapi di situ terdapat para tosu, Kun-lun-pai yang selain berjumlah banyak, juga di ntaranya
terdapat para pimpinan Kun-lun-pai, tujuh orang tokoh murid Thian Seng Cinjin, terutama sekali kiang
Tojin yang tidak boleh dipandang ringan. Apalagi kalau si tua Thian Seng Cinjin sendiri turun tangan.
Tentu mereka bertiga takkan dapat bertahan. Maka kini dia menggunakan siasat memihak par tokoh
kang-ouw menghadapi Kun-lun-pai! Kiang Tojin, engkau sebagai tokoh yang mewakili Kun-lun-pai,
mengapa berpandangan sempit dan picik? Mengapa engkau melarang orang-orang gagah yang hendak
naik ke puncak Kiam-kok-san?" dengan suara halus naun penuh nada menekan, Pat-jiu Sian-ong
bertanya kepada Kiang Tojin. Tosu Kun-lun-pai ini maklum bahwa dengan munculnya Bu-tek Sam kwi,
keadaan menjadi gawat. Akan tetapi dia bersikap tenang ketika menjawab. "Pat-jiu Siang-ong , agaknya
jaman sekarang ini orang-orang kang-ouw tidak lagi mengindahkan peraturan sehingga melanggar
wilayah orang lain sesuka hatinya dan seenak perutnya sendiri. Kiam-kok-san adalah wilayah kami,
.
bagaimana mungkin kami memperbolehkan orang lain mendakinya ?"
"Ha-ha-ha-ha-ha-ha, alasan yang amat lemah, ya ...lemah sekali! Tadi sudah dikemukakan pendapat
yang amat jitu dari sahabat Kok Sian Cu wakil kong-thong-pai dan sahabat Thian Ti Hwesio wakil
Siauw-lim-pai. Mengejar orang jahat dan berusaha mengambil kitab pusaka sendiri sama sekali bukanlah
sengaja hendak melanggar, Akan tetapi aku mempunyai alasan yang lebih kuat sekali, KiangTojin.
Bukankah tadi kau katakan sendiri bahwa Kiam-kok-san adalah sebuah tepat keramat bagi Kun-lun-pai
dan tak seorang pun boleh mendakinya, bahkan orang Kun-lun-pai sendiri pun di larang?" "Benar sekali!"
Kiang Tojin berkata tegas. "Ha-ha-ha ! Kalau begitu mengapa sampai bertahun-tahun Sin-jiu Kiam-ong
menjadi penghuni Kiam-kok-san padahal dia pun bukan seorang Kun-lun-pai? Dan sekarang, baru saja
Cia Keng Hong mendaki kiam-kok-san, mengapa didiamkan saja, Kiang Tojin? Bukankah dengan
demikian seolah-olah Kun-lun-pai melindungi bocah itu? Ataukah ada udang bersebunyi di balik batu,
ada maksud lain terkandung dala mperaturan ini?" Mendengar ini, Kiang Tojin tidak mampu menjawab!
Ya, bagaimana dia harus menjawab? Sin-jiu Kiam-ong dahulu setengah memaksa tinggal di
Kiam-kok-san , dan karena tidak ada orang Kun-lun-pai yang dapat menundukkannya, bahkwn dia
telah melepas budi kepada Kun-lun-pai, maka ketua Kun-kun-pai membiarkan saja dia tinggal dan
bertapa di Kiam-kok-san.
Kemudian Keng Hong tinggal pula di sana ,akan tetapi hal itu merupakan kelanjutan dri perbuatan
Sin-jiu Kiam-ong, bukan kehendak Keng Hong pribadi atau kehendak Kun-lun-pai. Betapapun juga,
apa yang diucapkan oleh Pat-jiu Sian-ong memang benar terjadi! Kiang Tojin telah melihat semua tokoh
kang-ouw yang tadi bersikap tak senang dan memusuhi ketiga orang Butek Sam-kwi, ini
mengangguk-angguk mendengar ucapan Pat-jiu Sian-ong itu. Hal ini pun dilihat jelas oleh Pat jiu
Sian-ong yang merasa "mendapat angin" , maka dia lalu melanjutkan kan desakan kepada Kiang Tojin.
"Kiang Tojin, selamanya Kun-lun-pai terkenal sebagai partai besar yang kenamaan karena gagah
perkasa dan menjujung tinggi kejujuran dan keadilan. Kalau sekarng ini Kun-lun-pai kukuh dengan
peraturan hanya untuk mempertahankan sebongkah batu karang saja, akibatnya akan hebat sekali.
Bayangkan saja, kalau para cu-wi disini tidak mau menerima peraturan kukuh yang mau menang sendiri
itu tentu akan timbul bentrokan dan pertempuran yang akan membawa akibat hebat sekali. Bahkan amat
berbahaya bagi Kun-lun-pai." Kakek yang bertubuh kecil kate akan tetapi berkepala sebasar gentong
beras dengan muka ciut itu menggeleng-geleng kepalanya dan membelai lehernya dengan hudti (kebutan
dewa). Dengan hati mendongkol Kiang Tojin maklum apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu, yang
tidak diucapkan akan tetapi yang sesungguhnya paling penting, yaitu bahwa kalau terjadi pertempuran,
tentu Bu -tek Sam-kwi akan berfihak kepada para tokoh kang-ouw!
"Adapun bahaya ke dua yang merupakan akibat kekukuhan peraturan tidak adil ini adalah bahwa jika
para sahabat yang perkasa di sini berhati mulia dan mengalah lalu mengundurkan diri, tentu Kun-lun-pai
akan menjadi buah tertawaan dan buah ejekan seluruh dunia! Bayangkan saja, melindungi seorang bocah
dengan dalih peraturan yang kaku, tua dan konyol, dengan pamrih bahwa apabila semua orang telah
pergi, Kun-lun-pai tentu akan naik sendiri ke Kiam-kok-san , dan menguasai seluruh pusaka peninggalan
Sin-jiu Kiam-ong ! Bukankah Kun-lun-pai lalu dianggap sebagai perkupulan brengsek yang
menggunakan akal bulus dan menganggap seua tokoh kang-ouw di sini seperti kanak-kanak saja?"
"Pat-jiu Kiam-ong, omonganmu mengandung racun!" bentak Kiang Tojin dengan kedua tangan di kepal.
Dia maklum betapa lihainya kakek yang menjadi datuk golongan hitam ini, namun untuk mempertahankan
Kun-lun-pai , dia tidak takut menghadapinya. Ia menaksir bahwa dengan enam orang sutenya dan
dibantu oleh puluhan anak murid Kun-lun-pai, dia tidak perlu takut menghadapi Bu-tek Sam kwi.Akan
tetapi tiba-tiba terdengar Kok Sian Cu tokoh kong-thong-pai berkata. "Siancai..! Sekali ini, omongan
pat-jiu Kiam-ong ada isinya dan harus diakui kebenarannya!" Ketika Kiang Tojin memandang, jelas
tampak olehnya betapa semua tokoh kang-ouw membenarkan datuk hitam itu dengan pandang mata atau
anggukan kepala. Maklumlah Kiang Tojin bajwa keadaan benar-benar makin gawat dan kalu dia
bersikeras mempertahankan, tentu akan terjadi bentrokan hebat yang dia sangsikan apakah akan
.
menguntungkan Kun-lun-pai. Selagi Kiang Tojin bibang tiba-tiba terdengar suara gurunya berkata
lembut.
"Sat-jiu Sian -ong, keadaan menguntungkan bagi pihak Bu-tek Sam Kwi, Jelaskanlah, apa kehendakmu
selanjutnya ? Pinto mendengarkan" Tahu-tahu di situ telah muncul kakek tua Thian Seng Cinjin ketua
Kun-lun-pai yang berdiri dengan tongkat di tangannya.
"Bagus sekali, Ketua kun-lun-pai datang sendiri, segala sesuatu dapat diputuskan dengan singkat dan
tepat. Thian Seng Cinjin, mengingat akan keadaan para sahabat kang-ouw yang menaruh dendam
kepada murid Sin-jiu Kiam -ong dan mereka yang dahulunya diganggu Sin-jiu Kiam -ong , maka
sebaiknya kalau kita bersama ramai-ramai mengejar ke puncak Kiam-kok-san. Kita bekerja sama dalam
suasana persahabatan,tidak ada persaingan dan tidak ada perebutan. Kita tangkap bocah yang membikin
kacau itu, dan kita ambil semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Para sahabat yang pusakanya
yang dahulu dicuri oleh Sin-jiu kiam-ong tentu saja boleh mengambil pusaka masing-masing, adapun
pusaka-pusaka lainnya yang tidak ada pemiliknya, kita bagi rata di antara kita.Adapun bocah itu sendiri,
kita serahkan kepada mereka yang menaruh dendam kepadanya. Bagaimana, bukankah keputusan ini
sudah adil sekali?"
Semua tokoh kang-ouw mengangguk-angguk menyatakan setuju dan terdengar ucapan "adil" dari
beberapa buah murid Thian Ti Hwesio berkata, "Omitohud, Kami dari Siauw -lim-pai sama sekali tidak
menginginkan pusaka lain orang dan kami sudah cukup senang kalau bisa menemukan kembali dua buah
kitab pusaka kami."
"Kami hanya mengkehendaki kembalinya pedang pusaka dan ramuan obat dari Hoa-san-pai, kemudian
nyawa anak itu sebagai hukuman atas penghinaan yang dia lakukan terhadap kami," kata Coa Kiu tokoh
Hoa-san-pai.
"Kami pun menghendaki nyawa anak itu sebagai pembalasan atas kematian banyak anak murid kami!"
kata Kok Sian Cu dari Kong-thong-pai.
"Sin-jiu kiam-ong berdosa kepadaku kalau kini aku mendapatkan sebuah dua buah pusaka
peninggalannya, itu sudah cukup adil," kata Sin-tio Gi-hiap.
"Juga peninggalan pusaka yang berharga sebagai pengganti nyawa Sin-jiu kiam-ong bagiku!" Semua
orang menyatakan penasarannya dan hak mereka untuk mendapat sebagiam pusaka Sin-jiu Kiam -ong.
Akhirnya Thian Seng Cinjin yang tersenyum tenang mendengarkan tuntutan mereka itu, berkata.
"Dan bagaimana dengan kalian bertiga, Bu-tek Sam-kwi? Kalian bertiga menuntut apakah ? Juga
menghendaki pembagian pusaka Sin-jiu Kiam-ong?"
"Ha-ha, Thian Seng Cinjin. Segala macam benda permainan dan pelajaran kanak-kanak apakah
gunanya bagi kami ? Kalau nanti ternyata ada yang berguna bagi kami tentu kami akan mengambil bagian
kami sebagai imbalan atas usaha kami menciptakan perdamaian dan pemufakatan di sini, ha-ha-ha!"
Kiang Tojin menjadi muak dan mendongkol mendengarkan omongan semua orang itu dan diam-diam di
dalam hatinya dia terpaksa membenarkan maki-makian Keng Hong tadi bahwa orang tua-orang tua ini
amatlah tamak! Makin suka hatinya terhadap Keng Hong, akan tetapi karena maklum sekali ini Keng
Hong takkan dapat terlepas dari bahaya maut kecuali kalau panddai terbang di udara, maka dia hanya
berkata dengan menekan keharuan hatinya. "Keputusan terserah kepada Suhu, asal saja para sahabat
yang mulia ini masih ingat bahwa merupakan pantangan besar bagi Kun-lun-pai untuk melihat
pembunuhan dilakukan disini!"
.
"Suheng mengapa khawatir? Para Locinpwe tentu akan menangkap dan membawa pergi bocah setan
itu, tidak akan membunuhnya di depan Kiang Tojin!" kata Lian Ci Tojin dengan hati girang. Tosu ini
tadinya merasa gelisah sekali ketika Keng Hong memperlihatkan sapu tangan hijau dan mendengar
omongan pemuda itu.Rahasianya telah diketahui orang dan celakanya, yang mengetahui adalah bocah ini.
Maka dia harus dapat membunuh bocah ini. Maka dia harus dapat membunuh Keng Hong atau melihat
bocah ini terbunuh, baru akan aman rasa hatinya. Karena dia memang sudah mempunyai perasaan tidak
suka kepada Kiang Tojin, maka dia mempergunakan kesempatan itu untuk memukul suhengnya ini
dengan ucapan yang jelas penuh arti itu. Thian Seng Cinjin ketua kun-lun-pai juga maklum akan rasa
sayang Kiang Tojin terhadap Keng Hong, hal yang tidak aneh kalau diingat bahwa Kiang Tojin adalah
tosu yang menyelamatkan nyawa Keng Hong dan membawa Keng Hong ke Kun-lun-pai. Maka dia lalu
berkata halus.
"Semua tosu di Kun-lun-pai menyayang Keng Hong. Dahulu dia seorang anak yang baik dan penurut,
akan tetapi setelah menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong.. ah ,sudahlah. Bu-tek Sam-kwi dan sahabat
sekalian, kalau mau mendaki Kiam-kok-san mencari Cia Keng Hong dan pusaka peninggalan Sin-jiu
Kiam-ong silakan, kami menanti di bawah!"
Mendengar ijin yang diberikan ketua Kun-lun-pai ini, bagaikan serombongan anak-anak yang dituruti
kemauannya orang-orang kang-ouw itu berebutan mendaki Kiam-kok-san yang terjal dan tidak mudah
didaki. Mereka terpaksa harus mendaki seorang demi seorang dan tentu saja Bu-tek Sam-kwi berada
paling depan.
"Suhu, mengapa kita tidak ikut? Bolehkah teecu ikut naik,,,,?"
"Tidak ! Kita harus menanti di sini. Apakah kita akan melanggar pantangan kita sendiri?" Thian Seng
Cinjin membentak Lian Ci Tojin dengan suara marah. Memang, melihat perkembangan urusan itu, hati
ketua Kun-lun-pai tidak lagi dapat mempertahankan ketenangannya dan dia marah sekali dalam hatinya.
Sekali ini, Kun-lun-pai benar-benar menerima penghinaan dan tidak dipandang mata oleh para tokoh
kang-ouw itu, hanya karena di situ dapat Bu-tek Sam kwi yang memelopori mereka. Diam-diam kakek
ini mengancam untuk sewaktu-wakti membuat pembalasan kepada Bu-tek Sam-kwi.
Biarpun lambat, akhirnya semua tokoh kang-ouw dapat juga menembus awan atau halimun yang
menutupi puncak batu pedang dan betapa kagum rasa hati mereka ketika menyaksikan keindahan
tamasya alam dari puncak batu pedang yang bagian atasnya ternyata datar itu dan cukup luas.
Akan tetapi hanya sebantar saja mereka mengagumi pemandangan alam ini karena hati mereka berdebar
ingin cepat menangkap Keng Hong dan terutama sekali menemukan simpanan pusaka peninggalan Sin-jiu
Kiam-ong yang selaa bertahun-tahun menjadi rebutan di antara tokoh-tokoh kang-ouw.
Mereka memandang ke kanan kiri mencari-cari sambil mengelilingi seluruh permukaan tanah datar di
puncak Kiam-kok-san, akan tetapi mereka tidak menemukan Keng Hong. Bayangannya pun tidak ada,
jejaknya juga tidak ada! Sunyi sepi di puncak Kiam-kok-san!
"Semua orang menjadi penasaran sekali. "Jangan-jangan ketika melihat kita mendaki naik, bocah setan
itu lalu terjun dari atas membunuh diri!" kata Kiu-bwe Toanio dan semua orang juga membenarkan
kemungkinan ini dengan hati kecewa.
"Tidak mungkin!" kata Ang-bin Kwi-bo, mukanya yang biasanya memang merah itu menjadi agak hitam
saking marahnya. "Bocah itu cerdik sekali, tentu dia bersembunyi. Akan tetapi, biarpun dia terbang ke
langit, tentu aakan dapat kutemukan dia!"
.
Mereka mencari terus tanpa hasil. Kemanakah perginya Keng Hong? Betapa mungkin dia dapat
melarikan diri, sedangkan ketika mendaki tadi dia sedang menderita luka parah?
Memang Keng Hong terluka hebat ketika Mendaki tadi, luka dibelahan dalam tubuhnya oleh
pukulan-pukulan sakti. Kalau sinkangnya tidak hebat tentu dia sudah tewas setelah berkali-kali bertemu
dengan pukulan-pukulan sakti seperti Tiat-ciang- dari ketua Tiat-ciangpang, pukulan Ang
-liong-jiauuw-kang dari tokoh-tokoh kong-thong-pai, bahkan totokan ujung bambu Kok Sian Cu yang
lihai. ***
Biarpun hawa sakti di tubuhnya melindunginya, namun tetap saja guncangan -guncangan pukulan sakti
yang berkali-kali itu membuat dadanya sesak dan kepalanya pening. Ia tadi mendaki setengah
merangkak, biarpun gerakannya masih cepat berkat tambahan sinkang dari tokoh-tokoh
Kong-thong-pai, namun sering kali kakinya menggigil dan tangannya kurang tetap ketika memegang
ujung-ujung batu karang untuk mendaki.
Akhirnya, pada sebuah tanjakan yang amat sukar, dekat tempat yang digelapi halimun, kakinya
tergelincir dan kepalanya tertumbuk batu karang. Tentu dia akan jatuh terjungkang ke bawah kalu tidak
ada sebuah lengan yang berkulit halus merangkulnya, kemudian menariknya ke tempat yang agak lebar.
Untung kejadian ini berlangsung setelah Keng Hong mendaki jauh ke atas, terlalu tinggi sehingga tidak
tampak dari bawah.
"Cui Im.." Keng Hong berkata lemah ketika membuka mata dan melihat wajah cantik itu
tersenyum-senyum. Gadis berpakaian merah ini agaknya sudah lama menanti di situ dan kini Cui Im
berbisik.
"Keng Hong, tenanglah. Engkau terluka di sebelah dalam tubuh agaknya. Aku membawa obat.. nih,
telanlah!" Ia memasukkan tiga butir pil merah ke dalam mulut Keng Hong.
Pemuda ini sudah sering diracuni oleh gadis ini, akan tetapi karena dia kebal terhadap racun dan dalam
keadaan payah seperti itu dia tidak perduli apakah yang ditelannya itu racun, dia lalu menelan tiga butir pil
kecil itu.
"Wah, obatmu hebat...!" Dalam belasan detik saja Keng Hong merasa dirinya segar kembali. Memang
pil-pil merah itu bukanlah sembarangan obat, melainkan obat simpanan Lam-hai Sin-ni yang dicuri Cui
Im. Obat merah ini adalah obat yang mijijat, dapat menyembuhkan segala macam luka di dalam tubuh.
Dan karena Keng Hong sendiri memiliki sinkang yang luar biasa kuatnya, aka khasiat obat itu pun
berlipat ganda, karena hanya memnyembuhkan luka akibat guncangan hawa pukulan saja.
"Cui Im... mengapa kau di sini..?"
"Aku menantimu, melihat kau dikejar-kejar, tak dapat membantu, terpaksa lari kesini. Akan tetapi aku
tidak dapat naik terus, terlalu sukar memanjat keatas melalui karang licin dan rata ini!"
"Cui Im, sebetulnya tidak boleh engkau ke sini. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dan untuk kembali
tentu engkau akan celaka di tangan mereka, selain itu engkau telah menyelamatkan aku. Mari, pegang
erat-erat pinggangku dengan kedua tangnmu!"
Cui Im girang sekali dan memeluk pinggang Keng Hong dari belakang. Mulailah Keng Hong mendaki
dengan cepat sekali.Setelah kini napasnya tidak sesak dan kepalanya tidak pening, tentu saja amat
mudah bagnya mendaki tempat yang dahulu menjadi tempat tinggalnya ini.
.
"Iiiiihhhhh,ngeri melihat ke bawah..!" Cu Im mengeluh dan mempererat pelukannyya ,bahkan menciumi
punggung yang bajunya basah oleh keringat itu.
"Hishhh, diamlah dan jangan memandang ke bawah!" Keng Hong menegur dan mendaki makin cepat.
Setelah tiba di atas, Cu Im menahan napas saking kagumnya.
"Bukan main indahnya di sini.."
"Cui Im, bukan waktunya bersenang-senang. Mereka tentu akan mengejar ke sini. Sebelum ku lanjutkan
rencanaku, bersumpahlah lebih dulu bahwa engkau akan bersetia kepada mendiang suhu, bahwa engkau
tidak akan menyia-nyiakan pusaka suhu yang akan kita lihat..."
"Pusaka? Akan kita dapatkankah..?"
"Bersumpahlah!"
Cui Im lalu berlutut dan bersumpah bahwa ia akan tunduk akan segala kata -kata Keng Hong. Setelah
itu Keng Hong menarik tangannya dan cepat berlari mengambil pedang Siang-bhok-kiam tulen yang dia
sembunyikan di balik batu karang yang berlubang.
"Wah, ini Siang-bhok-kiam tulen! Baunya saja ,sudah begini wangi..?"
"Sudah, diamlah dan jangan menganggu, jangan pula bicara. Lihat saja dan ikuti aku!" Keng Hong
membentak karena dia maklum bahwa dia tidak mempunyai banyak waktu. Ia membawa pedang itu ke
tempat penampungan air di mana air itu mengalir turun menjadi kali kecil, air yang merupakan sumber
kecil akan tetapi tidak pernah kering.
Ia menggunakan pedang itu untuk mengukur, sambil mengukur dia terus mengikuti aliran air yang menuju
ke bawah melalui celah-celah batu karang, terus turun ke dinding bagian belakang yang luar biasa
curamnya.
“Aku takut turun..!" Cui Im berbisik. Boleh jadi Cui Im seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi,
sukar mencari tandingan, akan tetapi melihat dinding karang yang luar biasa curamnya.
"Aku takut turun…..!" Cui Im berbisik. Boleh jadi Cui Im seorang gadis yang meiliki kepandaian, akan
tetapi melihat dinding karang yang luar biasa curamnya, sampai tidak tampak dasarnya karena terhalang
halimun, benar-benar membuat ia menggigil.
"Panjangkah ikat pinggangmu?"
"Panjang. Mengapa?"
"Berikan ujungnya, kau ikatkan pada lenganku dan ujung di situ ikatkan pada lenganmu. Dengan
demikian andaikata engkau jatuh ke bawah, aku dapat menahanmu. Cepat! Apakah kau tidak taat?"
Cui Im ingat akan sumpahnya dan ia mengangguk, lalu memberikan ujung ikat pinggangnya. Setelah
keduanya mengikat lengan dengan ujung ikat pinggang merah itu , Keng Hong melanjutkan pekerjaannya
mengukur jalan air dengan pedang Siang-bhok-kiam sambil menghitung. Seratus dua puluh tujuh! Ia
masih ingat akan pemecahan Siauw -bin kuncu atas deretan sajak yang terukir di gagang pedang. Setelah
mengukur sampai seratus dua puluh tujuh, yang berarti dia sudah turun dari puncak melalui belakang batu
.
pedang itu sejauh kurang lebih dua ratus kaki, air itu lenyap masuk ke dalam celah batu dan agaknya
mengalir di sebelah dalam batu pedang. Akan tetapi di situ terdapat sebuah pada batu yang agak rata dan
lubang ini jelas bukan lubang biasa, melainkan buatan.
Keng Hong berdebar memandang lubang yang bentuknya panjang sempit seperti lubang sarung pedang.
Ia memang cerdik maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu memasukkan Siang-bhok-kiam pada lubang itu dan
ternyata pas sekali. Siang-bhok-kiam masuk sampai ke gagangnya dan Keng Hong lalu
memutar-mutarnya ke kiri kanan.
Terdengar suara gemuruh di sebelah dalam batu pedang seoleh-olah terjadi gempa bumi. "Ihhhhh, aku
takut..!" Cui Im merangkulnya. Gadis ini dengan susah payah juga mengikuti Keng Hong. Sebetulnya,
dengan tingkat kepandaian dan ginkangnya, Cui Im akan dapat menuruni batu karang terjal itu. Akan
tetapi karena melihat tempat securam itu, jantungnya bergetar dan timbul rasa takut. Setelah dengan ikat
pinggang lengannya terikat dan terjaga oleh lengan keng Hong, hal ini mengusir sedikit rasa takutnya dan
mendatangkan rasa aman, maka ia dapat mengikuti Keng Hong tanpa banyak kesukaran lagi. Kiranya
Keng Hong menyuruh mengikat tangan tadi memang dengan niat mengusir rasa takut itulah seperti yang
pernah dilakukan oleh suhunya kepadanya dahulu!
Tiba-tiba terdengar bunyi batu pecah dan... terbukalah sebuah gua di depan Keng Hong, sebelah kiri
dari "lubang kunci!" tadi. Keng Hong cepat mencabut Siang-bhok-kiam, lalu berbisik.
"Suhu hebat sekali!" Suaranya memuji penuh kekaguman. "Mari ikut masuk!" Kedua orang itu lalu
merangkak masuk karena gua itu hanya satu meter tingginya, merupakan terowongan yang dingin gelap.
***
Namun Keng Hong percaya penuh akan kepandaian suhunya, dan dia terus merangkak masuk,
beberapa kali dia dipegang dan didorong dari belakang oleh Cui Im yang masih merasa ngeri.
Kurang lebih seratus meter jauhnya mereka merangkak, tiba-tiba terowangan itu menjadi terang dan
lebar sekali. Mereka bangkit berdiri dan tertegun! Kiranya ruangan itu merupakan sebuah "kamar" batu
yang berdinding licin dan penuh ukiran-ukiran huruf yang indah!
"Nanti dulu, aku lupa menutupkan kembali pintu terowongan!" Tiba-tiba Keng Hong teringat bahwa
para pengejarnya adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepadainan tinggi. Sungguh pun tidak mungkin
mereka akan dapat mengukur tempat penyimpanan pusaka dari puncak Kiam-kok-san tanpa bantuan
pedang Siang-bhok-kiam, namun siapa tahu kalau orang-orang sakti itu mencari di setiap tebingnya dan
kalu mereka lewat di depan itu pasti mereka akan memasuki nya. Kalau pintu terowongan yang
merupakan dinding batu biasa itu tertutup, tanpa memiliki "Kuncinya" yang berupa pedang
Siang-bhok-kiam, tidak mungkin pula mereka dapat masuk atau menyangka bahwa lubang kecil itu
adalah kunci rahasia untuk menuju ke tempat penyimpanan pusaka.
Tanpa menanti jawaban gadis itu yang masih terpesona memandangi keadaan ruangan tadi, Keng Hong
kembali merangkak keluar terowongan sambil membawa Siang-bhok-kiam. Setelah tiba di mulut
terowongan, dia melihat dan meneliti.
Ternyata bahwa mulut terowongan itu terbuka dengan cara bergesernya sebuah batu besar ke kiri yang
tentu digerakkan oleh alat rahasia. Kini batu sebasar gajah itu berdiri di dekat pintu terowongan yang
mengangga seperti mulut seekor ular raksasa. Keng Hong memeriksa dan akhirnya dia menemukan
lubang "kunci" dari sebelah dalam. Tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menusukkan Siang-bhok-kiam ke dalam
lubang ini yang ternyata seperti lubang ini yang ternyata seperti lubang di luar, pas menerima masuknya
Pedang Kayu Harum. Tiga kali keng Hong memutar ke kanan dan terdengar suara hiruk pikuk ketika
.
batu sebesar gajah itu tiba-tiba bergerak menggelinding dan menutupi mulut terowongan sehingga
kelihatan wajar. Takkan ada manusia dari luar menyangka bahwa sebagian batu kasar yang tampak dan
sebuah lubang itu adalah batu "daun pintu " yang amat besar dan dapat bergerak sendiri.
Puaslah hati Keng Hong. Biarpun keadaan kini amat gelap setelah lubang itu tertutup, namun hatinya lega
dan dia merangkak kembali ke dalam. Ia tersenyum geli memikirkan Cui Im. Betapa akan takutnya gadis
itu dia tinggal sendirian di dalam ruangan tadi. Akan tetapi ada pula hal yang menggelisahkan hatinya.
Tidak bersalahkah dia terhadap gurunya bahwa dia membawa Cui Im masuk ke tempat ini?"Ah, tentu
tidak .Dia tidak sengaja membawa Cui Im ke sini.adalah gadis itu yang tadinya mencari dan menantinya
di lereng Kiam-kok-san, kemudian gadis itu telah menyelamawtkan nyawanya.
Andaikata dia tidak senang dikejar banyak orang sakti, tentu dia akan mengusir Cui Im dan tidak akan
memperkenalkan gadis itu ikut. Akan tetapi, dia tahu betul bahwa kalu dia melakukan hal itu, Cui Im
tentu akan terbunuh oleh orang-orang sakti yang sedang mengejarnya, apalagi Cui Im terkenal tokoh
golongan sesat dan kini telah melanggar larangan Kun-lun-pai dengan mendatangi bahkan mendaki
Kia-kok-san yang dianggap keramat oleh para tosu Kun-lun-pai.
Tiba tiba dia teringat betapa gadis berpakaian merah itu pun dahulu amat menginginkan pusaka gurunya!
Ah, kalau sampai Cui Im mempelajari segala ilmu peninggalan gurunya dan menjadi seorang yang
memiliki kesaktian hebat, bukankah dunia ini akan bertambah seorang tokoh kaum sesat yang berbahaya
sekali? Bagaimana dia mengajak seorang gadis yang sedemikian jahat dan kejamnya ke tempat suci ini?
Tidak! Dia harus menyuruh pergi Cui Im , setidaknya menanti sampai keadaan aan. Biarlah dia memberi
benda-benda berharga peninggalan suhunya, karena bukankah wanita paling suka akan benda-benda
perhiasan yang serba indah dan mahal? Atau kalau gadis itu masih belum puas, boleh dia bagi sebuah
kitab pelajaran ilmu yang tidk terlalu berbahaya.
Teringat akan ini, Keng Hong mempercepat gerakannya merangkak dan begitu tiba di ruangan penuh
ukiran-ukiran huruf itu, dia meloncat berdiri dan memanggil.
"Cui Im...!"
Hanya gema suaranya sendiri yang menjawab. Cui Im tidak tampak di dalam ruangan itu!
"Cui Im...!" Keng Hong memanggil sambil memandang ke arah pintu yang terbuka ke arah pintu yang
terbuka, menuju ke ruangan sebelah dalam. Tentu gadis itu yang mengagumi keadaan ruangan ini telah
masuk ke sana untuk melihat-lihat ruangan lain. Dan baru teringat dia sekarang betapa menggelikan
keadaannya ketika tadi dia memtertawakan Cui Im yang disangkanya takut dia tinggalkan seorang diri.
Cui Im takut? Ah, alangkah bodohnya pendapat ini. Cui Im adalah seorang tokoh kang-ouw, seorang
tokoh golongan sesat atau hitam yang berjuluk Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Merah)
yang ditakuti orang melebihi seorang iblis betina! Seorang tokoh seperti itu mana bisa merasa takut
berada sendirian dalam ruangan di sebelah dalam batu pedang di puncak Kiam-kok-san itu? Kalau tadi
ketika mendaki, Cui Im takut-takut adalah karena rasa ngeri seorang wanita yang tidak biasa mendaki
tempat-tempat curam seperti itu.
"Cui Im..!"
Keng Hong melangkah maju melalui pintu yang terbuka . Kiranya di balik pintu ini ada ruangan lain yang
amat luas dan dindingnya amat indah karena batu karang di sebelah dalam batu pedang ini kiranya
menjadi batu yang berkilauan! Ruangan luas ini memiliki lubang-lubang di sebelah atas dan begitu dia
memasuki ruangan ini, selain udaranya segar, juga terdengar suara angin memasuki lubang-lubang itu yang
menimbulkan suara seperti suling di tiup,amat aneh namun halus dan merdu.
.
Di sebelah atas tampak ukiran-ukiran huruf besar yang amat indah , berbunyi : MENDIRIKAN
KUN-LUN-PAI UNTUK MENEGAKKAN KEADILAN DI DUNIA Keng Hong tertarik sekali
sehingga sejenak dia melupakan Cui Im. Apakah artinya ukiran-ukiran huruf itu? Tak mungkin suhunya
yang membuat ukiran itu. Mendirikan Kun-lun-pai? Ah, pengukirnya tentu orang yang mendirikan
Kun-lun-pai. Sucouw dari Kun-lun-pai. Benar! Bukankah tempat ini merupakan tempat keramat dari
partai Kun-lun? Pernah ketika dia masih menjadi kacung di Kun-lun-pai, seorang tosu tua mendongeng
kepadanya tentang pendiri partai Kun-lun-pai yang mereka sebut sucouw, yang kabarnya memiliki
kesaktian seperti dewa. Dan kabarnya sucouw ini setelah menyerahkan Kun-lun-pai kepada
murid-muridnya, lalu naik ke batu pedang dan bertapa di situ sampai lenyap dan oleh semua anak murid
Kun-lun-pai di anggap telah naik ke alam baka bersama raganya! Itulah sebabnya mengapa
Kiam-kok-san dianggap sebagai tempat keramat, sebagai "kuburan" sucouw mereka yang terhitung
kakek buyut guru Thian Seng Cinjin! Tentu di sinilah tempat sucouw itu bertapa dan mungkin sekali
tempat sucouw itu bertapa dan mungkin sekali tempat ini adalah ciptakan atau buatan sucouw itu yang
kemudian dipergunakan oleh Sin-jiu Kiam-ong sebagai tempat bertapa dan tempat menyimpan
pusakanya. Siapa pula nama sucouw itu? Kalau tidak salah dia mendengar dari tosu tua itu bahwa nama
sucouw ini adalah Thai kek Couwsu. ***
Tiba-tiba dia terkejut karena teringat akan Cui Im. Kembali dia memandang ke sekiling setelah
beberapa lama termenung karena membaca huruf-huruf terukir itu. Ia melihat bahwa ruangan lebar itu
mempunyai empat buah pintu. Sebuah menuju ke ruangan luar tadi dan yang tiga buah lagi daun pintunya
yang terbuat daripada kayu tebal tertutup.
"Cui Im..!" Ia mengerahkan khikang sebagai suaranya bergema keras. Namun tidak ada jawaban. Keng
Hong lalu menghampiri pintu di sebelah kiri dan membukanya. Daun pintu itu terbuka dengan mudah. Dia
terpesona dan silau melihat benda-benda berharga teratur rapi di atas sebuah meja dan dinding penuh
dengan lukisan dan tulisan indah yang serba mahal. Benda berharga di atas meja ini terbuat dari emas,
perak, dan batu-batu pertama yang serba indah. Kendi dan cawan-cawan emas, peti-peti kecil dan eas
dan perak diulir indah dan dihias batu-batu permata. Perhiasan-perhiasan wanita yang halus buatannya.
Mainan berupa segala macam binatang yang terbuat dari emas dan perak pula, dengan mata intan yang
besar. Bahkan terdapat ukiran dari emas yang menggambarkan pelbagai pasangan binatang yang sedang
bercumbuan dan di sudut, yang terindah dari segala yang berada di situ, terdapat ukiran emas yang
menggambarkan sepasang manusia yang sedang bermain cinta! Keng Hong tersenyum melihat ini, teringat
akan watak suhunya. Kemudian dia ingat lagi kepada Cui Im. Benda-benda di kamar ini agaknya masih
tersusun rapi, tidak terusik. Kemudian dia menutupkan daun pintu kamar kiri dan melangkah
menghampiri pintu kanan yang kanan yang dia dorong terbuka daun pintunya.
Sekali lagi dia terpesona dan jantungnya terdengar keras. Benda-benda di dalam inilah yang membuat
tokoh-tokoh kang-ouw mengejar-ngejarnya, membuat mereka berebutan tulang. Di dekat dinding
berjajar senjata-senjata pusaka yang indah. Pedang-pedang, golok, tombak dan beberapa macam
senjata lagi,. Kalau tidak salah, senjata-semjata ini adalah senjata pusaka tokoh-tokoh besar di dunia
kang-ouw yang dirampas oleh gurunya dan kembali Keng Hong tersenyum. Gurunya merampas
senjata-senjata ini sama sekali bukan karena tamak menginginkan senjata-senjata ini untuk dipergunakan,
melainkan dirampas untuk dijadikan koleksi senjata, atau sebagai tanda kemenangannya karena lawan
yang tidak kalah tak mungkin dapat dirampas senjatanya! Gurunya memang nakal, romantis dan
berandalan!
Akan tetapi yang paling menarik hati Keng Hong adalah sebuah rak batu di manan berdiri jajaran
kitab-kitab yang sudah lapuk. Inilah kitab-kitab ilmu peninggalan gurunya. Akan tetapi hatinya berdebar
keras ketika dia melihat betapa keadaan tempat kitab-kitab ini tidak rapi susunannya, bahkan
kacau-bakau dan ada beberapa buah kitab tercecer di atas lantai. Melihat betapa senjata-senjata itu
.
masih rapi seperti juga keadaan benda-benda berharga, maka kitab-kitab itu pasti ada yang mengusik
dan mengganggu. Cui Im! Tak salah lagi, tentu gadis itu yang mendahuluinya mendapatkan kamar ini telah
mengambil kitab-kitab yang pilihnya! Celaka, pikir Keng Hong.
Terjadilah apa yang dia khawatirkan. Di antara segala benda berharga, perhiasan-perhiasan indah dan
senjata-senjata pusaka, yang diambil Cui Im adalah kitab-kitab pelajaran ilmu kesaktian! Dia tidak tahu
kitab-kitab apa yang diambil Cui Im, akan tetapi melihat bekas-bekasnya, tentu tidak sedikit yang
diambil.
"Cui Im ...!" Ia meanggil lebih keras sambil berlari keluar dari kamar itu. Ia harus minta kembali
kitab-kitab yang diambil Cui Im ! Kalau gadis itu ingin mempelajari satu dua macam ilmu di situ, harus dia
yang memilihkannya karena selain dia seoranglah yang berhak mewarisi pusaka gurunya, juga dia harus
dapat mengekang watak kejam gadis itu, atau sedikitnya menjaga agar jangan sampai gadis itu
memperoleh ilmu-ilmu yang sakti sehingga kelak akan menjadi seekor harimau buas yang buas tumbuh
sayap!
"Cui Im...!"
Keng Hong lari dan membuka daun pintu terakhir yang ternyata merupakan sebuah terowongan sebelah
depan yang kecil sehingga hanya dapat dilalui dengan merangkak. Terowongan sebelah belakang ini
cukup tinggi, ada dua meter dan lebarnya semeter sehingga dia dapat berjalan dan mencari Cui Im. Dia
merasa yakin bahwa gadis itu pasti melarikan kitab-kitab yang diambilnya melalui terowongan dari
ruangan itu.
Pada saat itu, Keng Hong mendengar suara hiruk-pikuk seperti ada gempa bumi terjadi di puncak
Kiam-kok-san. Ia menghentikan langkahnya dan mendengarkan dengan teliti. Terdengar suara batu-batu
pecah dan batu-batu menggelinding turun. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi.Suara itu sesungguhnya
adalah suara yang ditimbulkan oleh kemarahan para tokoh yang naik ke puncak batu pedang. Dipelopori
oleh Bu-tek Sam kwi, para tokoh itu mulai membongkar batu-batu di puncak, merobohkan
pohon-pohon dan bahkan menggunakan kesaktian mereka menghantami puncak-puncak batu karang,
sehingga ambrol dan batu-batu besar bergulingan jatuh ke bawah menimbulkan suara hiruk-pikuk yang
sampai terasa getarannya dan terdengar suaranya oleh Keng Hong yang berada di sebelah dalam batu
pedang! Batu-batu yang terguling itu sebagian ada yang menguruk tempat di mana terdapat gua rahasia
terowongan sehingga tertimbun dan kini tak mungkin ada orang mampu mendapatkan tempat rahasia
yang mereka cari-cari itu. Betapapun Bu-tek Sam kwi dan para tokoh kang-ouw mengauk di atas
puncak batu pedang, mereka tidak dapat menemukan Keng Hong dan tidak dapat menemukan tempat
penyimpanan pusaka Sin-jiu Kiam-ong. Akhirnya, sambil memaki-maki, Bu-tek Sam kwi meninggalkan
tempat itu dan mendaki turun, diikuti oleh para tokoh kang-ouw yang merasa kecewa sekali. Thian Seng
Cinjin, Kiang Tojin dan para tosu Kun-lun-pai memandang ke atas dengan kaget dan heran. Mereka
mendengar suara hiruk-pikuk itu, dan melihat pula sebagian batu gunung yang runtuh dan menggelinding
turun dari batu pedang sehingga mereka cepat mencari tempat yang aman agar tidak sampai tertimpa
hujan batu itu.
Mereka ingin sekali tahu apa yang sedang terjadi di puncak batu pedang itu, akan tetapi selain tidak
diperkenankan naik oleh ketua mereka , juga mendaki pada saat dari puncak turun hujan batu itu amatlah
berbahaya bagi keselamatan mereka.
Setelah suara hiruk-pikuk itu lenyap, tampaklah Bu-tek Sam kwi dan para tokoh lain menuruni batu
pedang dengan wajah keruh. Para tosu Kun-lun-pai memperhatikan dan dengan hati lega mereka tidak
melihat mereka itu membawa sesuatu turun dari puncak. Hal ini menjadi tanda bahwa usaha mereka tidak
berhasil untuk menemukan pusaka Sin-jiu Kiam-ong. Adapun Kiang Tojin yang tidak melihat mereka
.
membawa Keng Hong sebagai tangkapan, menjadi terheran-heran dan hatinya diliputi dua macam
perasaan. Ia girang bahwa mereka tidak dapat menangkap Keng Hong akan tetapi juga khawatir
kalau-kalau pemuda itu dibunuh oleh mereka di atas puncak karena pemuda itu tidak mau mengaku di
mana adanya pusaka peninggalan Sin-jiu- Kiam-ong.
"Pinto harap cu-wi sekalian tidak melanggar pantangan melakukan pembunuhan di puncak Kiam-kok
san yang kami hormati," kata Kiang Tojin, suaranya tenang saja padahal hatinya berdebar keras.
"Membunuh apa ? Seekor semut pun tidak ada di puncak itu. Bocah itu kembali telah mengakali kita!
Tidak saja kun-lun-pai yang ditipu dengan pedang kayu palsu juga kali ini kita tertipu semua. Dia tidak
berada di puncak!' kata Ang-bin Kwi -bo dengan muka cemberut.
***
"Kalau ku dapatkan bocah itu, akan kuganyangkan dagingnya, ku minum darahnya dan ku hancurkan
kepalanya!" Pak-san kwi-ong berkata dengan nada marah sekali. Pat-jiu Sian-ong juga marah dan
kecewa, akan tetapi sesuai dengan sifatnya , dia tersenyum dan berkata halus, " Sayang sekali, kembali
Kun-lun-pai yang menjadi korban. Kalau dunia kang-ouw mendengar akan hal ini, siapakah yang tidak
akan timbul persangkaan bahwa bocah itu sengaja disembunyikan oleh Kun-lun-pai?"
"Pat-jiu Sian -ong, hati-hati sedikit kalau bicara!" Kiang Tojin membentak, alisnya berkerut dan matanya
mengeluarkan sinar berapi.
Pat-jiu Sian -ong tersenyum menyeringai dan matanya mengerling ke kanan kiri.
"Eh, apakah yang telah ku katakan? Aku tidak menuduh Kun-lun-pai, hanya menyatakan betapa
mengherankan melihat bocah yang sudah terluka itu mendaki batu pedang kemudian lenyap tak berbekas
sama sekali dari puncak sana. Kemanakah perginya? Terbangkah dia? Atau menghilang? Siapa dapat
menjawab? Batu pedang bukanlah milik kami, bukan wilayah kami, tentu saja hanya Kun-lun-pai yang
dapat mengetahui rahasianya. Sudahlah, selamat berpisah! Kwi-bo dan Kwi-ong, tidak pergi dari sini au
menunggu apalagi sih?" Pat-jiu Sian-ong tertawa dan berkelebat pergi dan diikuti Ang-bin Kwi-bo dan
Pak-san Kwi-ong.
Demikian pula para tokoh kang-ouw itu pergi seorang demi seorang meninggalkan puncak
Kiam-kok-san dengan hati kecewa. Melihat sikap mereka, Kiang Tojin maklum bahwa omongan Pat-jiu
Sian -ong tadi mendapatkan sasaran dan para tokoh itu biarpun sedikit, ada menaruh kecurigaan kepada
Kun-lun-pai dan hal ini pasti akan tersiar luas!
Setelah mereka semua pergi, Kiang Tojin berkata kepada gurunya, "Suhu, amatlah mengherankan
bagaimana Keng Hong dapat lenyap dari puncak sana. Dapatkah Suhu memberi ijin kalau teecu
meninjau ke puncak dan melihat apakah sebetulnya yang terjadi di sana?"
"Suhu, teecu juga hendak ikut!" kata Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin hampir berbareng. Thian Seng
Cinjin menghela napas panjang.
"Semoga arwah sucouw sudi mengampuni kita yang membiarkan orang mengotori Kiam-kok-san. Pergi
dan lihat lah, apa yang telah terjadi dan kemana perginya murid Sin-jiu Kiam-ong. Ah, Sie-taihiap, masih
belum cukup banyakkah kami membalas budi kebaikanmu terhadap Kun-lun-pai?"
Kiang Tojin dan dua orang sutenya itu cepat menggunakan ginkang mereka mendaki batu pedang.
Mereka yang belum pernah mendaki batu tinggi ini, melakukannya dengan hati-hati sekali dan dengan
.
perasaan penuh hormat kepada tempat yang dianggap keramat ini.
Kiang Tojin terheran-heran setelah tiba di atas menyaksikan permukaan batu pedang yang sudah rata
dan rusak bekas amukan tokoh kang-ouw tadi, terheran memikirkan bagaimana Keng Hong dapat
melepaskan diri dari ancaman orang-orang sakti tadi?
Tidak ada jalan keluar kecuali dari tempat yang dinaikinya tadi. Dari atas tampak jelas betapa sisi -sisi
lain dari batu pedang itu tidak mungkin dituruni orang karena tegak lurus dan licin. Jangan-jangan anak itu
putus harapan dan meloncat turun, pikirnya. Kiang Tojin adalah seorang tokoh besar yang sudah
mengalami segala macam peristiwa, akan tetapi memikirkan kemungkinan bahwa Keng Hong meloncat
turun dari tempat setinggi itu, dia bergidik. Kalau hal mengerikan ini dilakukan Keng Hong dan tubuh
pemuda itu terbanting ke bawah, kiranya tidak akan ada sisanya dan hancur lebur sebelum mencapai
tanah, dihunjam dan dikerat permukaaan batu yang runcing dan tajam.
Betapapun ketiga orang tosu itu mencari-cari, tidak ada bekas-bekas Keng Hong dan terpaksa mereka
lalu turun kembali melaporkan kepada Thian Seng Cinjin yang menghela napas dan berkata.
"Hanya Thian yang mengetahui apa yang telah terjadi denngan murid Sin-jiu Kiam-ong itu. Masih baik
bahwa tidak terjadi pertempuran dan banjir darah. Mudah-mudahan saja urusan mengenai peninggalan
Sin-jiu Kiam-ong akan habis sampai di sini saja." Akan tetapi benarkah akan terjadi seperti yang
diharapkan ketua Kun-lun-pai? Jauh daripada itu. Cia Keng Hong masih hidup dan pusaka peninggalan
Sin-jiu Kiam-ong ternyata masih utuh dan dapat ditemukan Keng Hong. Lebih hebat lagi, tanpa
dikehendakinya, Keng Hong terpaksa mengajak Ang-kiam Tok-sian-li memasuki tempat rahasia
penyimpanan pusaka-pusaka itu dan kini Bhe Cui Im, gadis murid lam-hai Sin-ni itu telah melarikan
beberapa buah kitab yang dipilihnya dari kumpulan kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong!
"Cui Im..!" Keng Hong berteriak-teriak sambil berjalan terus setelah menanti beberapa lama mendengar
suara batu-batu pecah dan gempur tanpa dapat menduga apa yang sesungguhnya telah terjadi.
Terowongan itu amat panjang dan makin lama makin gelap.
"Cui Im!"
Akhirnya tampak cahaya terang dan terowongan itu berakhir, akan tetapi Keng Hong berdiri terbelalak
di ujung terowongan memandang ke depan. Kiranya jalan terowongan itu berakhir di pinggir sebuah
celah yang amat lebar,dan disebelah celah atau jurang itu tampak Cui Im berdiri sambil tersenyum
menertawakannya!
"Cui Im...!" Keng Hong berseru memanggil dengan nada suara marah,. Apa yang telah kaulakukan?
Kembalikan kitab-kitab peninggalan suhu yang kau curi!"
"Hi-hi-hik, Keng Hong yang ganteng, kaupikirkan dulu baik-baik sebelum memaki orang karena
ucapanmu itu sama saja dengan maling teriak maling!" Gadis berpakaian merah itu mengangkat
tinggi-tinggi lima buah kitab kuno dengan kedua tangannya lalu melanjutkan kata-katanya.
"Tahukah engkau kitab-kitab apa yang kupegang ini? Ang dua buah adalah kitab-kitab Seng-to-ci-keng
dan I-kiong-hoan-hoat dari Siauw-lim-pai untuk pelajaran Iwekang dan menghimpun sinkang. Yang
sebuah adalah kitab pelajaran ilmu pedang dari Go-bi-pai. Sebuah lagi kitab pelajaran ilmu ginkang, dan
yang sebuah terakhir adalah kitab pelajaran ilmu silat tangan kosong yang hebat dan kalau tidak salah
gubahan Sin-jiu Kiam-ong sendiri. Nah, di antara lima buah kitab, yang tiga buah adalah kitab curian.
Sin-jiu Kiam-ong mencuri kitab, kalau sekarang kitabnya dicuri orang lain, bukankah sudah adil itu
namanya?"
.
“Cui Im , jangan gila kau! Engkau sudah ku ajak masuk ke sini, mau mempelajari ilmu boleh saja, akan
pergi jangan mencuri !" Dengan pandang matanya, Keng Hong mengukur dan dia terkejut sekali
mendapatkan kenyataan bahwa tidaklah mungkin bagi seorang manusia untuk meloncati jarak antara dia
dan Cui Im. Akan tetapi bagaimanakah gadis itu dapat berada di seberang? Agaknya dari jarak sejauh
itu , Cui Im dapat menduga apa yang dipikirkan Keng Hong.
Ia tertawa, kemudian duduk di tepi jurang itu dengan suara mengejek.
“Hi-hi-hik, mau meloncat ke sini? Jangan mimpi, Keng Hong. Selain terlampau jauh, sekali kau terjatuh
ke bawah, tubuhmu akan hancur lebur. Tidak mengerikankah? Sayang tubuhmu yang muda dan perkasa
, wajahmu yang tampan. Hanya ada satu cara untuk menyeberang melewati jurang ini, yaitu melalui
jembatan , dan jembatannya berada di tanganku!"
Keng Hong mendengus marah. Gadis ini membual. Mana mungkin jembatan bisa disimpan? "Kau tidak
percaya? Inilah jembatannya, berada ditanganku. Kalau kuhendaki mudah saja aku menyeberang ke situ,
akan tetapi engkau? Kecuali kalau di pundakmu keluar sayap dan dapat terbang, tak mungkin engkau
dapat menyeberang ke sini!"
***
"Hemmm, engkau jahat dan curang, Cui Im! Akan tetapi, jangan kau mengira bahwa aku akan
membiarkan saja engkau melarikan kitab-kitab itu," kata Keng Hong dan mengertilah dia bahwa di
antara kedua tempat ini memang terdapat jembatan yang merupakan penghubung, yaitu yang terbuat
daripada sehelai tambang yang kini sudah tergulung dan berada di tangan Cui Im. Tentu tambang itu
tadinya terpasang melintang di atas jurang. Setelah menyeberang mempergunakan ginkangnya yang
memang sudah mencapai tingkat tinggi, yaitu berjalan di atas tambang, gadis itu lalu melepaskannya dan
menggulungnya, tentu ada cara melepaskan yang mudah dari seberang, mungkin kedua ujung tambang itu
dipasangi kaitan dan karena kedua tempat itu terdiri dari batu-batu yang kasar dan runcing, mudahlah
melemparkan kaitan ke seberang sehingga dapat tercipta jembatan tambang dan dengan
menyendal-nyendal dapat pula kaitan di seberang dilepaskan.
"Hi-hi-hik, engkau mimpi, Keng Hong.Andaikata kelak engkau dapat mencariku, setelah aku
mempelajari lima buah kitab ini, engkau akan bisa berbuat apakah terhadap aku? Pula , engkau tidak
akan dapat bertahan lama bertahan di situ, tidak ada bahan makanan tidak ada air dan belum lagi diingat
bahwa tokoh itu tentu akan mencarimu. Aku akan pergi meninggalkanmu di situ dan membawa
kitab-kitab ini. Sudah ku periksa isinya dan kalau dapat berlatih selama lima tahun saja, di dunia ini tidak
akan ada orang yang mampu melawanku!"
Keng Hong bukan seorang yang bodoh.Tidak, sebaliknya malah . Dia cerdik sekali dan pikirannya
dapat dikerjakan secara cepat menarik kesimpulan-kesimpulan . Mengapa Cui I setelah mengambil
jebatan tambang itu tidak lekas pergi malah menantinya di situ? Hanya untuk mengejek? Tak mungkin,
seorang yang telah mendapatkan pusaka kitab-kitab yang diinginkan oleh seluruh tokoh kang-ouw tentu
merasa terlalu tegang untuk main-main dan mengejek, tentu akan terus pergi melarikan diri dan
cepat-cepat mempelajari isi kitab. Akan tetapi Cui Im menantinya di situ. Membual! Ya, gadis itu tentu
sengaja membual unutk menutupi kelemahannya ia mengangguk-angguk dan berkata.
"Cui Im, siapa percaya bualanmu? Engkau menemui jalan buntu, tidak dapat meninggalkan tempat itu.
Jalan keluar hanya melaui lorong ini dan kau terjebak di situ, tidak dapat terus dan tidak dapat kembali.
Nah, katakan, apa kehendakmu dariku?"
.
Cui Im terperanjat sekali dan meloncat berdiri. "Eh,eh,eh, bagaimana kau bisa tahu?" Saking kaget dan
herannya ia sampai tidak dapat menyimpan rahasianya lagi.
Keng Hong tersenyum. "Kalau ada jalan keluar di sebelah situ, tentu engkau takkan menanti hanya untuk
bicara denganku. Engkau telah mencuri lima buah kitab dan mungkin dapat kau pelajari di situ sehingga
engkau menjadi seorang sakti. Akan tetapi apa gunanya kalau kau tak dapat keluar, menjadi
nenek-nenek dan mati kering di situ?"
"Aku akan menanti kesempatan, setelah kepandaianku meningkat, aku akan menggunakan jembatan
tambang ini menyeberang ke situ dan membunuhmu!"
"Ha-ha-ha, bicara sih mudah. Akan tetapi boleh kau coba. Aku tidak bodoh, nona manis. Aku akan
selalu waspada dan sekali saja tabang itu kau lontarkan ke sini, akan ku nanti sampai kau enyeberang di
tengah-tengah, keudian tabang itu akan ku bikin putus sebelah sini. Wah, tentu lucu sekali melihat kau
terbang ke bawah sana."
Cui Im membanting-banting kaki. "Keng Hong engkau manusia kejam!" Kemudian suaranya
mengandung isak, ketika ia berkata lagi, "Engkau laki-laki yang tidak mengenal budi, tidak tahu dicinta
orang! Setelah susah payah aku selalu membayangimu, melindungimu, menyatakan cinta kasihku dengan
perbuatan, membiarkan diriku terancam bahaya, membebaskanmu dari tangan musuh-musuhmu,
kau..kau..." Akan tetapi Cui Im segera teringat bahwa ia kelepas bicara, akan tetapi terlambat karena
Keng Hong sudah meloncat berdiri dan muka pemuda itu menjadi merah sekali.
"Cui Im! Jadi...engkaulah orang nya...? Engkaukah yang selama ini membayangiku, membunuh murid
wanita Hoa-san-pai, membunuh murid-murid Kong-thong-pai dengan racun? Engkaukah gerangan
orangnya??"
Cui Im tidak dapat mundur kembali dan baginya sudah kepalang. Tidak perlu lagi kini merahasikan
perbuatannya.
"Benar ! Akulah orangnya yang melakukan itu semua! Demi cintaku kepadamu, Keng Hong, dengarkah
engkau? Demi cintaku kepadau, bukan cinta seperti yang pernah ku rasakan terhadap pria manapun
juga. Aku cinta kepadamu, akan tetapi engkau buta!"
Jantung Keng Hong berdebar keras. "Jadi engkau yang membunuh Sim Ciang Bi, membunuh
murid-murid wanita Kong-thong-pai pula? Mengapa ?"
"Tentu saja! Mereka itu berani merayumu, bermain cinta denganmu. Ahhh, betapa sakit hatiku, hampir
gila oleh cemburu. Kalau tidak sebesar ini cintaku kepadamu, tentu engkau pun sudah ku bunuh pula!"
"Dan ... ketika malam gelap itu..yang datang kepadaku, merayuku penuh cinta kasih.. Engkau pulakah
itu?"
Cui Im tertawa genit. "Hi-hi-hik, benar aku! Masa engkau tidak mengenal aku? Biarpun aku tidak bicara
banyak , apakah engkau tidak mengenal suaraku, tidak mengenal kesedapan keringatku? Hi-hi-hik!"
"Cui Im… ! Kenapa kau lakukan itu?"
"Kenapa? Karena kau selalu menolakku dan aku sudah amat cinta kepadau. Hatiku perih sekali harus
berpura-pura seperti itu..." "Bukan itu maksudku ! Kenapa engkau mengenakan pakaian putih,
menggunakan senjata rahasia dan senjata-senjata Biauw Eng? Mengapa engkau menyambar sebagai
.
Biauw Eng ?"
"Kenapa? Ah. Biar dia rasakan ! Sumoi berani sekali merampas engkau dari tanganku! Berani dia
berlancang mulut menyatakan cinta kasihnya kepadamu, padahal biasanya sumoi menganggap cinta
sebagai sebuah pantangan besar! Panas hatiku, dan biar dia tahu rasa, berani merebut cinta kasih kasih
sucinya!"
Kedua telinga Keng Hong terasa panas dan andai kata Cui Im berada di depannya tentu sudah
ditamparnya perempuan itu. Akan tetapi dia menekan kemarahannya dan hatinya menjadi girang sekali.
Girang, terharu dan menyesal . Girang karena kini dia mendapat kenyataan bahwa Biauw Eng bukanlah
wanita jahat seperti yang diduganya. Biauw Eng suci dan bersih. Terharu karena teringat betapa Biauw
Eng melindunginya mati-matian, bahkan mengakui segala perbuatan yang dituduhkan olehnya dengan
dasar membela dan melindunginya. Betapa besar dan murni cinta kasih gadis itu kepadanya! Cinta yang
amat mengharukan, apalagi kalau dia teringat bahwa gadis itu adalah puteri suhunya! Dan dia menyesal,
ia menyesal kepada diri sendiri sehingga mau rasanya dia menampari mukanya sendiri kalau teringat
betapa dia menjatuhkan fitnah-fitnah keji terhadap gadis itu, bahkan menangkapnya untuk dibunuh oleh
para tokoh kang-ouw.
"Cui Im ... mengapa engkau sendiri sekeji itu?" tanyanya dengan suara perlahan.
"Keji apa? Mereka yang keji, dan sumoi yang bersalah kepadaku. Demi cintaku kepadamu, aku rela
melakukan apa juga. Bahkan sekarang ini aku rela pula mengalah kepadamu, aku ingin berdamai
denganmu, Keng Hong."
***
Keng Hong menahan kemarahannya. Dalam keadaan seperti ini, dia harus bersabar . Wanita ini
berbahaya sekali, selain lihai ilmunya, juga amat cerdik dan banyak akalnya. "Cui Im, engkau pandai
membual. Engkau sudah terjebak di tempat itu, maka engkau sengaja hendak membujukku,bukan?"
"Manusia sombong, keras kepal engkau! Memang , disini tidak ada jalan keluarnya, akan tetapi setelah
kepandaianku meningkat, kiranya tidak sukar mencari jalan keluar, atau kalau perlu menyerbumu ke situ!
Bukan karena itu, dan jangan mengira kalau aku akan minta-minta kepadamu. Tidak , biarpun aku
terjebak di sini, engkau pun terjebak di situ dan keadaanmu lebih buruk lagi. Engkau tahu? Di sini
terdapat persediaan makanan yang akan cukup dimakan sampai bertahun-tahun. Terdapat roti-roti
gandum kering yang asin, yang tidak rusak di simpan bertahun-tahun, apalagi disimpan di dalam kamar
yang rapat sekali. Di sini terdapat air jernih karena air kali kecil itu lewat di bagian sini. Dan di akhir
terowongan menjadi tempat bersarangnya ratusan ribu burung sehingga aku dapat makan telur burung
atau menangkap dan makan dagingnya.Sedangkan engkau di situ akan makan dan minum apa? Mencari
makan dengan menuruni batu pedang sama saja dengan menyerahkan diri kepada para tosu Kun-lun-pai.
Nah, katakan, siapa yang terjebak? Engkau amat membutuhkan aku, atau lebih tepat, tempat ini dan aku.
Aku amat membutuhkan engkau untuk membacakan dan menuntun aku mempelajari kitab-kitab ilmu
silat..."
"Heeeee? Engkau buta huruf?"
Merah wajah Cui Im. "Buta sama sekali sih tidak. Kalau hanya membaca dan menulis surat-surat cinta
saja aku bisa. Akan tetapi, kitab-kitab ini... terutama sekali kitab dari Siauw -lim-pai, tulisannya seperti
cakar bebek dan bahasanya amat kuno, menggunakan sajak-sajak yang sukar dimengerti. Marilah kita
berdamai dan saling membantu. Kita berdua dapat dapat hidup di sini mempelajari ilmu dan kelak kita
menjadi jago-jago nomor satu di dunia ini, apakah tidak senang dan nikmat?"
.
Keng Hong mengerutkan keningnya. Biarpun amat menggemaskan hatinya, namun harus dia akui bahwa
ucapan Cui Im ada benarnya. Kalau memang ransum makanan dan air minum berada di seberang sana,
sudah tentu dia amat membutuhkannya. Dan gadis itu juga membutuhkan dia untuk membaca kitab-kitab
ilu. Hemmmmm, dengan demikian, tentu saja dalam mempelajari ilmu-ilmu berdua, dia akan lebih menang
karena lebih dulu membaca dan mudah saja untuk melewati bagian-bagian penting sehingga tingkat Cui
Im akan tetap berada di bawahnya. Dengan demikian ,kelak akan mudahlah menundukkan gadis ini
kalau menjadi liar dan jahat. Tidak ada jalan pada saat seperti ini.
"Baiklah Cui Im, Tidak ada jalan lain bagi kita berdua selain berdaai dan bekerja sama. Nah, lontarkan
ujung tambang itu agar jembatan tambang selalu terbentang!"
"Hi-hi-hik, nanti dulu Keng Hong."
"Ada apa lagi? Jangan engkau main-main, Cui Im."
"Bukan aku yang main-main, melainkan aku khawatir kalu engkau yang akan main-main. Lebih dulu
bersumpahlah engkau , Keng Hong, baru aku mau bekerja sama denganmu. Siapa tahu engkau
menipuku seperti engkau memberikan Siang-bhok-kiam palsu, hi-hi-hik!" Keng Hong mendongkol
sekali. Gadis ini terlalu cerdik, dia harus berhati-hati. Hanya ada satu harapannya, yaitu bahwa Cui Im
agaknya benar-benar memcintainya sehingga dia tidak khawatir gadis itu akan tega mencelakainya. Pula,
kalau dipikir secara mendalam, amatlah merugikan kalau kitab-kitab peninggalan suhunya itu dibawa
pergi oleh Cui Im yang tentu minta bantuan orang-orang lain untuk membacakannya. Dengan demikian,
isi kitab-kitab itu akan diketahui orang ke tiga. Lebih baik dia sendiri yang membacakannya daripada
orang lain!
"Baiklah, Cui Im. Kalau engkau kurang percaya kepadaku, aku akan bersumpah. Harus bersumpah
bagaimana?"
"Berlututlah dan bersumpahlah demi nama suhumu, Sin-jiu Kiam-ong!"
Keng Hong terkejut dan ingin membantah, akan tetapi dia sudah mengenal watak Cui Im
Yang keras dan dalam persoalan ereka sekarang ini, kedudukannyalah yang lebih lemah dan tidak
menguntungkan. Ia hanya menghela napas panjang untuk bersumpah saja, asal dia memegang
sumpahnya, menggunakan nama suhunya juga tidak mengapa. Maka dia lalu berlutut dan mengucapkan
kata-kata yang dikehendaki Cui Im.
"Teecu bersumpah demi nama suhu Sin-jiu kiam-ong.."
"Pertama, engkau tidak akan membunuhku!"
“….bahwa teecu tidak akan membunuh Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im"
"Kedua, bahwa engkau akan membacakan kitab-kitab ilmu silat dengan sebenarnya dan tidak
menipuku!"
Celaka ,pikir Keng Hong dalam hatinya. Gadis ini cerdik bukan main! Terpaksa dia mengucapkan
kata-kata menurut kehendak Cui Im , "... Bahwa teecu akan membacakan kitab-kitab ilmu silat dengan
sebenarnya dan tidak menipunya..."
.
"Ke tiga, bahwa engkau akan menerima aku belajar sambil selesai dan tidak menghalangi bila
sewaktu-waktu aku menghentikan pelajaran dan keluar dari tempat ini!" Keng Hong meniru ucapan itu
dan hatinya lega ketika Cui Im menyatakan sudah cukup puas. Cepat dia bangkit berdiri dan berkata
dengan wajah dan berseri, "Cui Im, lontarkan tabang itu dan aku ingin meninjau tempat di seberang situ!"
Cui Im menjadi heran mengapa Keng Hong kelihatan demikian gembira setelah bersumpah. Akan tetapi
dia percaya bahwa seorang pemuda seperti Keng Hong ini sekali bersumpah, apalagi demi nama
gurunya, sampai mati pun tidak akan sudi melanggar sumpahnya. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu
melontarkan ujung tambang yang ada besi kaitannya ke seberang.
Tepat seperti dugaannya tadi, besi kaitan itu melayang dan mengait batu di seberang sana Cui Im
mengait ujung yang satu lagi pada batu di sana. Akan tetapi Keng Hong memeriksa lagi kaitannya, dan
setelah mendapat kenyataan bhawa besi itu mengait baik-baik dan kuat-kuat, dia lalu meloncat ke atas
tambang dan berlari diatas tambang menuju ke seberang. Diam-diam dia kagum kepada Cui Im. Tadinya
gadis itu merasa ngeri ketika mendaki batu pedang, akan tetapi begitu mendapat kitab-kitab itu, gadis itu
tidak merasa ngeri untuk berjalan di atas jembatan tabang yang lebih mengerikan lagi.
Begitu dia meloncat di daratan seberang, Cui Im menyambutnya dengan bibir mencari-cari bibirnya.
Akan tetapi Keng Hong menghindarkan mukanya dan dengan halus mendorong pundak Cui Im.
"Keng Hong, mengapa? Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik?"
"Cui Im, kita bersahabat untuk saling membantu dalam mengejar ilmu disini, dan tentang cinta, ingat,
tidak ada disebut-sebut dalam sumpahku tadi!"
Kini mengerilah Cui Im mengapa tadi sehabis bersumpah pemuda itu kelihatan lega dan girang. Kiranya
dia lupa memasukkan "acara" dan syarat ini ke dalam sumpah itu. Ia menyesal sekali dan mukanya
cemberut.
***
Keng Hong merasa tidak baik kalau kerja sama itu dimulai dengan tidak menyenangkan hati Cui Im,
maka katanya cepat.
"Cui Im, engkau akan tahu dari ilmu ilmu dalam kitab-kitab ini bahwa selagi mempelajari ilmu tinggi,
hubungan antara pria dan wanita merupakan paling besar. Hal itu akan menghambat kemajuan ! Tunggu
dan lihat sendiri saja nanti kalau kita sudah mulai belajar." Ucapan ini menyenangkan hati Cui Im karena
ia menganggap bahwa adanya Keng Hong menolak cintanya adalah karena pemuda ini menganggap hal
itu sebagai pantangan dalam belajar, jadi bukan karena pemuda itu mambencinya atau tidak membalas
cintanya! Masih banyak kesempatan baginya untuk kelak menjatuhkan hati pemuda ini. Dia adalah
seorang ahli dalam hal itu. Keng Hong bersama Cui Im lalu memeriksa keadaan di situ dan memang Cui
Im tidak membohong. Di situ terdapat bahan-bahan makan-minum seperti yang diceritakan Cui Im tadi
dan tidak ada jalan untuk keluar karena ujung terowongan yang dihuni ratusan ribu ekor burung walet itu
merupakan dinding yang curam dan tegak lurus, pula amat licin.
Demikianlah, mulai hari tu, Keng Hong dan Cui Im mulai membalik-balik lembaran kitab-kitab pelajaran
ilmu silat yang tinggi, dan memang tepat pemberitahuan Keng Hong tadi, karena dalam kitab pertama ,
yaitu kitab I-kiong-hoan-hoat dari Siauw-li-pai, jelas disebutkan bahwa pantangan utama dalam
hubungan antara pria dan wanita!
Ilmu I-kiong-hoan-hoat adalah semacam ilmu memindahkan jalan darah dari partai Siauw -lim-pai, juga
.
kitab ke dua Siauw-lim-pai, Seng-to-cin-keng adalah ilmu yang khas yang mengajarkan Iweekang,
bersamadhi mengatur pernapasan unutk menghimpun sinkang. Setelah melihat sendiri bahwa emang ada
pantangan hubungan antara pria dan wanita sewaktu melatih dri dengan ilmu-ilmu itu, Cui Im tidak
banyak rewel lagi dan tidak mau menganggu Keng Hong, sungguhpun kadang-kadang ia kelihatan seperti
cacing kepanasan dan menderita sekali. Bhe Cui Im yang tadinya menghambakan diri kepada terganggu
dorongan nafsu, akan tetapi nafsunya ingin menjadi jagoan wanita nomor satu di dunia ini mengalahkan
nafsu berahinya sehingga ia tekun berlatih.
Keng Hong sendiri secara diam-diam membaca semua kitab yang berada di situ, akan tetapi karena dia
menganggap bahwa apa yang dia dahulu pelajari dari gurunya tidak kalah mutunya, dia hanya membaca
kitab-kitab milik partai lain hanya untuk dimengerti isinya dan dikenal sifatnya, pula dia mempunyai rasa
segan untuk mencuri ilmu partai lain. Dia hanya membaca dan mengenal, akan tetapi tidak melatih dirinya
dengan ilmu-ilmu itu. Kecuali kitab tulisan gurunya sendiri yang ternyata merupakan inti sari daripada ilmu
silat Siang-bhok- Kiam-sut dan Ilmu silat San-in-kun-hoat sehingga dia menjadi girang sekali. Ia dapat
memperdalam ilmu silatnya yang masih mentah itu dan melatih diri dengan rajin.
Biarpun Cui Im juga minta agar dia membacakan kitab ciptaan gurunya, namun dia yakin bahwa tanpa
memiliki sinkang seperti yang dia "oper" dari gurunya, dan tanpa memiliki dasar-dasar yang dulu dia
pelajari dari Sin-jiu Kia-ong, kepandaian yang didapat oleh Cui Im hanyalah permukaannya atau kulitnya
belaka. Namun tentu saja dia tidak mau bicara tentang hal ini bahkan setiap kali ada kesempatan dia
memuji kemajuan-kemajuan yang diperoleh gadis itu sehingga Cui Im menjadi girang sekali. Memang
harus diakui bahwa Cui Im yang memiliki bakat baik sekali itu kini memperoleh kemajuan pesat.
Keng Hong menjadi matang ilmunya. Biarpun yang dia matangkan hanya ilmu silat yang dua macam itu,
yaitu San-in-kun-hoat yang terdiri dari delapan jurus pukulan tangan kosong dan Siang- Kiam-sut yang
terdiri dari tiga puluh enam jurus, namun kematangannya dan keistiewaan dua ilmu ini mencakup seluruh
dasar dan inti ilmu silat yang dikuasai Sin-jiu Kiam-ong, dia kini dapat mainkan ilmu silat itu secara
dahsyat. Biarpun hanya delapan jurus, namun ilmu silat San-in-kun-hoat ini cukup untuk membuat dia
patut dijuluki Sin-jiu (Kepalan Sakti), sedangkan Siang-bhok Kiam-sut adalah ilmu pedang istiewa yang
dapat dikatakan menjadi rajanya ilmu pedang sehingga dia patut pula dijuluki Kiam-ong (Raja Pedang)
seperti gurunya!
Setelah dia membaca kitab peninggalan suhunya, barulah dia sadar bahwa Ilmu Silat San-in-kun-hoat
memiliki segi-segi yang amat hebat, dengan perkembangan yang tak terhitung banyaknya tergantung dari
keadaan dan daya khayalnya sendiri sehingga biarpun pada dasarnya hanya mempunyai delapan jurus,
namun apabila dikembangkan menjadi jumlah jurus yang tak terhitung banyaknya! Tadinya dia hanya
menguasai dasarnya yang dia gerakkan dengan mengandalkan sinkang kuat belaka. Kini dia dapat
mainkan setiap jurus dengan kembangan yang tak terhitung banyaknya. Demikian pula dengan Ilmu
Pedang Siang-bhok- Kiam-sut, kalau sebelum ini dia hanya menghafal gerakan-gerakan yang tiga puluh
enam jurus mengandalkan sinkang dan kecepatan, akan tetapi kini dia dapat menangkap inti sarinya dan
dapat mempergunakan Siang-bhok-kiam sedemikian rupa sehingga sinar kehijauan pedang itu cukup
untuk merobohkan lawan. Diam-diam dia selalu memperhatikan latihan-latihan yang dilakukan Cui Im
dan dia menjadi kagum bukan main. Gadis itu benar-benar hebat, berbakat dan karena tadinya sebagai
murid Lam-hai Sin-ni dia telah memiliki tingkat tinggi, kini dengan mudahnya ia melahap semua isi kitab
yang berada di situ dan telah hafal akan semua isinya, telah pandai pula mainkan ilu-ilmu itu termasuk ilmu
silat yang diciptakan oleh Sin-jiu Kiam-ong sendiri!
Cemas-cemas hati Keng Hong kalau melihat ini karena dia maklum bahwa Cui Im sekarang, setelah tiga
empat tahun berlatih dengan tekun, jauh bedanya dengan Cui Im dahulu, sungguhpun orangnya masih
tetap cantik manis genit. Ilmu kepandaiannya telah meningkat secara hebat sekali.
.
Hanya ada satu hal yang melegakan hati Keng Hong melihat kemajuan Cui Im yang mencemaskan itu,
ialah betapa pun gadis itu berlatih dan mencari-cari dalam kitab-kitab yang berada di situ, gadis itu tidak
dapat menemukan ilmu Thi-khi-I-beng, dan dalam hal tenaga sinkang, betapa pun gadis itu menghimpun
dan berlatih, tidak dapat menandingi tenaga sinkangnya sendiri yang dia terima secara langsung
dipindahkan dari tubuh gurunya.
Empat tahun telah berlalu dengan cepat sekali karena kedua orang ini tekun belajar dan berlatih sehingga
waktu berlalu tanpa terasa oleh mereka. Kini semua kitab telah habis dipelajari Cui Im ! Gadis ini telah
memnjadi seorang wanita berusia dua puluh enam tahun yang matang segala-galanya! Cantik jelita, dan
dalam pandang matanya yang kini terdapat sinar berapi yang dahulunya tidak ada, sinar berapi yang
timbul dari kekuatan sinkangnya ditambah kepercayaannya kepada diri sendiri.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali ketika Keng Hong bangun dari tidurnya, dia mendapatkan Cui Im
tersenyum-senyum di dekatnya dan dia heran melihat gadis itu mengenakan pakaian yang bersih, agaknya
baru kemarin atau malam tadi dicuci, rambutnya digelung indah, wajahnya berseri-seri dan mulutnya
tersenyum-senyum. Akan tetapi dengan terkejut Keng Hong melihat adanya pandang mata aneh,
pandang mata yang jelas membayangkan nafsu berahi!
Kekhawatirannya terbukti ketika bangun duduk tiba-tiba Cui Im menjatuhkan diri duduk di dekatnya,
memandang penuh kemesrann dan tertawa-tawa kecil penuh nafsu.
"Eh, Cui Im , apa-apaan ini? Engkau mau apa ?" Keng Hong merenggutkan lengannya yang mulai
dipegang dengan sentuhan halus mesra oleh gadis itu.
"Hi-hi-hik, Keng Hong, betapa rinduku kepadamu. Hampir mati aku menanggung rindu kepadamu,
kekasihku. Hampir gila aku mengekang diri, setiap malam kalau engkau sudah tidur memandangimu,
teringat masa lalu!"
"Cui Im, tidak boleh...." Keng Hong membuang muka menghindarkan ciuman gadis itu dan dia mulai
terangsang. Akan tetapi dia teringat betapa gadis ini telah melakukan hal-hal keji, yang menjatuhkan
fitnah kepada Biauw Eng.
Selama empat tahun ini, ingatan itu selalu menyiksa dirinya dan membuat dia makin menyesal di samping
rasa rindu kepada Biauw Eng. Hal ini menimbulkan rasa muak dan bencinya kepada Cui Im sehingga
begitu teringat kepada Biauw Eng, lenyaplah rangsangan berahinya terhadap gadis yang membelai dan
membujuk rayunya itu.
"Jangan berpura-pura alim Keng Hong. Dulu engkau begitu mencintaiku! Dan sekarang aku tidak lagi
berlatih menghimpun sinkang, sudah cukup kuat aku, hi-hi-hik, lebih kuat dari guruku sendiri. Ya, kini
aku dapat menjagoi di seluruh dunia dan cintaku kepadamu menjadi lebih kuat daripada dulu-dulu karena
engkau telah membantuku, kekasihku. Layanilah aku, Keng Hong, dan kita nanti keluar dari sini, menjadi
sepasang kekasih, juga sepasang jagoan nomor satu di dunia. Mungkin engkau tidak mendapat banyak
kemajuan, akan tetapi jangan khawatir, kepandaianku telah meningkat secara hebat, dan aku siap selalu
melindingimu, kekasihku. Marilah..! Cui Im menubruk, merangkul dan menggelutinya.
Keng Hong hampir tak dapat menahan gelora darah mudanya ketika di gelut oleh Cui Im yang merayu
dan yang makin cantik jelita ini. Akan tetapi dia cepat menekan perasaannya dan berkata.
"Engkau telah berlaku keji terhadap Biauw Eng..."
Jari-jari tangan yang sedang membelainya itu tiba-tiba terhenti, akan tetapi hanya sebentar, kemudian
.
mengelus-elus lagi, mulut itu menciuminya sekerasnya. "Aiiiih, kekasihku, hal itu kulakukan karena cintaku
kepadamu..."
Keng Hong sudah menjadi dingin lagi begitu dia teringat Biauw Eng. Ingin dia meronta menggunakan
sinkangnya, akan tetapi dia tidak mau memancing keributan dengan Cui Im. Maka dia lalu berkata.
"Baiklah, Cui Im. Siapa dapat bertahan mengahadapi kecantikan dan rayuanmu? Akan tetapi, aku... aku
hendak mandi dulu…."
"Hi-hi-hi, tak usahlah...".
"Tidak , nanti saja. Aku perlu mandi dulu!" Keng Hong merenggutkan tubuhnya terlepas dari pelukan
gadis itu kemudian dia melompat dan lari menuju ke jembatan tambang. Ia menoleh melihat Cui Im
meandangnya dengan mata penuh gairah nafsu berahi. Ia perlu mencari waktu untuk menenteramkan
hatimu yang yang terangsang. "Kau tunggulah aku hendak mandi..!" Katanya dan Cui Im tertawa aneh.
Cui Im mengertak gigi saking gemasnya ketika melihat Keng Hong lari. Ia maklum bahwa dia telah
kehilangan cinta pemuda itu karena Biauw Eng. Hemmm, orang yang tak tahu dicinta, gerutunya dan ia
pun bangkit perlahan mengikuti Keng Hong. Dilihatnya pemuda itu meloncat ke atas jembatan tambang
dan berlari cepat. Cui Im memperhatikan dan ia dapat melihat bahwa ginkang dari pemuda itu makin
hebat saja. Ia pun dapat dengan mudah berlari cepat melalui tambang itu masih bergetar dan bergoyang
sedikit.
Kini, melihat Keng Hong berlari cepat dan sedikit pun tambang itu tidak bergoyang hatinya menjadi
khawatir sekali. Ia mencinta Keng Hong, akan tetapi kalau pemuda itu memiliki kepandaian yang hebat
dan membahayakan dirinya sendiri, pemuda itu tidak berhak hidup lagi.
"Keng Hong, berhentilah!!"
Nada suara panggilan yang mengandung kemarahan ini membuat Keng Hong terkejut dan berhenti di
tengah-tengah tambang, kemudian membalikkan tubuhnya menoleh ke arah Cui Im. Gadis itu berdiri di
tepi jurang, dekat ujung tambang dan sikapnya membayangkan kemarahan besar. Akan tetapi
kemarahannya itu ditutup oleh senyumannya yang lebar.
"Keng Hong, engkau bersumpahlah!"
"Heeeee?? Apa? Tidak alasan bagiku untuk bersumpah!"
"Keng Hong, bersumpahlah bahwa engkau mencintaiku dan akan melayani hasrat cinta kasihku!"
Keng Hong menggelengkan kepalanya, "Cui Im, sesungguhnya engkau seorang gadis yang cantik jelita
dan sekiranya engkau tidak begitu keji, telah menjadi biang keladi terjadinya semua kekacauan bahkan
merusak hati seorang gadis seperti Biauw Eng, sekiranya engkau tidak begitu curang dan tidak
menimbulkan rasa muak dan benci di hatiku, agaknya aku akan menerima cintamu dengan penuh
kegembiraan."
"Keparat, laki-laki tak tahu dicinta! Kalau begitu mampuslah!" Tiba-tiba gadis itu menggerakkan kedua
tangannya ke depan dan tampaklah sinar-sinar merah kecil berkeredepan menyambar ke arah tujuh jalan
darah di tubuh depan Keng Hong!
Itulah jarum-jarum merah senjata rahasia Cui Im, dan karena selama empat tahun ini ia telah mencapai
.
kemajuan pesat dan tenaga sinkangnya sudah hebat sekali, maka sambitan jarum-jarumnya juga cepat
sekali seperti kilat menyambar.
Keng Hong menggerakkan tangan kirinya ke depan dan angin pukulan tangannya sedemikian kuatnya
sehingga jarum-jarum itu dalam jarak dua meter sebelum menyentuh tubuhnya sudah runtuh semua ke
bawah, ke dasar jurang yang tidak tampak dari atas.
"Cui Im, apa yang kau lakukan ini..?" Akan tetapi Keng Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya
karena pada saat itu sambil tertawa Cui Im sudah menggerakkan tangan lagi dan kini sinar putih berkilau
menyambar..bukan ke arah Keng Hong, melainkan ke bawah, ke arah tambang yang diinjak pemuda itu.
Keng Hong terkejut sekali, tidak berdaya menghindarkan ancaman bahaya ini karena sekali kena
disambar senjata rahasia bola putih berduri, senjata rahasia Biauw Eng yang telah dicuri Cui Im, tambang
itu putus di tengah-tengah dan tentu saja tubuh Keng Hong jatuh ke bawah!
Dalam detik itu Keng Hong maklum bahwa nyawanya terancam bahaya maut yang mengerikan. Cepat
dia menyambar ujung tambang dan ketika tubuhnya meluncur ke bawah, dia menggerak-gerakkan tangan
kakinya memukul dan menendang ke bawah sambil mengerahkan ginkang sehingga tenaga luncuran itu
banyak berkurang.
***
Hal ini dia lakukan untuk mencegah tambang itu putus di bagian atas. Ketika tubuhnya terayun tambang
ke arah dinding jurang, dia menggunakan tangan kirinya sehingga dia tidak terbanting keras dan tambang
itu untungnya tidak putus, akan tetapi bajunya robek-robek dan kulitnya lecet-lecet mengeluarkan darah.
Keng Hong tidak kekurangan akal, lalu perlahan-lahan dia memanjat naik melalui tambang yang tinggal
sepotong karena putus pada tengah-tengah tadi. Ia berhasil mencapai tepi jurang di seberang dan begitu
dia meloncat dan berdiri dengan baju robek-robek berdarah uka pucat berkeringat dan napas agak
terengah karena baru saja dia terlepas dari bahaya maut mengerikan, dia melihat Cui Im di seberang sana
tertawa terkekeh, membuat dia menjadi makin marah dan membenci wanita curang dan kejam itu.
"Hi-hi-hik, diberi jalan sorga kau memilih neraka ! Ditawari kesenangan engkau memilih penderitaan.
Engkau tidak mau menyambut cintaku, ya ? Baiklah, kalau begitu engkau boleh bermain cinta dengan
bayanganmu sendiri di situ sampai engkau mati tua karena engkau tidak mungkin akan dapat
meninggalkan tempat itu. Hi-hi-hik! Adapun kitab-kitab pusaka-pusaka dan benda-benda berharga
sekarang menjadi milikku semua dan akan kubawa pergi. Nah, selamat berpisah, Keng Hong bekas
kekasihku. Aku akan hidup sebagai wanita tersakti di dunia ini menikmati pusaka peninggalan Sin-jiu
Kiam-ong dan engkau boleh mampus sebagai pertapa kesunyian disitu. Hi-hi-hik!"
Cui Im membalikkan tubuhnya dan menghilang, meninggalkan Keng Hong di seberang yang berdiri
mengepal tinju akan tetapi tidak dapat berbuat sesuatu.
Keadaan Keng Hong amatlah buruknya dan kalau orang lain yang mengalami malapetaka seperti dia,
tentu akan menjadi bingung, gelisah dan putus asa. Akan tetapi pemuda ini masih dapat mempertahankan
ketenangannya. Ia memandang sepotong tambang yang sudah dia gulung naik. Tambang itu hanya
setengah panjang jarak jurang antara kedua tepi. Biarpun tergesa-gesa mencari akal,takkan mungkin
dapat mencegah Cui Im melarikan semua pusaka itu. Akan terlabat. Pula, bagaimana akalnya untuk
dapat menyeberang? Ia berjalan perlahan memasuki lorong, dan untuk menghilangkan rasa panas karena
kemarahannya terhadap Cui Im, dia lalu pergi ke air dan mencuci muka, dan tubuhnya yang lecet-lecet.
Biasanya, dia datang ke bagian ini hanya kalau membutuhkan makan minum, karena di seberang lebih
enak di tinggali. Kini dia mendapat kesempatan amat luas untuk menyelidiki keadaan disitu sampai habis,
dan dengan teliti mulailah dia melakukan penyelidikan. Di mulut lorong sebelah sana, tempat yang dihuni
.
burung-burung walet, mempunyai dinding yang tidak mungkin dituruni. Siapa tahu kalau-kalau ada jalan
atau lorong rahasia di bagian ini. Hasil karya seorang sakti seperti gurunya tak dapat di duga lebih dulu.
Dengan membawa Siang-bhok-kiam yang tak pernah terpisah dari tubuhnya sehingga tidak sampai
terampas Cui Im, dia lalu mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti sekali. Karena dia melakukan amat
teliti, setiap dinding dan lantai batu dia periksa, sejengkal demi sejengkal, maka Keng Hong harus
menggunakan waktu sampai tiga hari untuk dapat memeriksa tempat itu seluruhnya, dari tepi jurang
sampai sepanjang lorong, kamar berisi makanan , sampai ujung lorong yang dihuni burung-burung walet.
Pada hari ke tiga, setelah kesabarannya hampir habis, setelah kepalanya mulai pening karena kegagalan
dan tenaganya habis karena mencokel-cokel dan mendorong-dorong setiap bagian dinding dan batu,
tiba-tiba dia tertarik akan bunyi nyaring ketika dia mengetuk-ngetuk dinding hitam di bagian belakang
dengan pedangnya. Bunyi nyaring ini menjadi tanda bahwa batu yang menjadi dinding itu kosong tidak
berisi, atau di sebelah sana dinding merupakan ruangan kosong! Jantungnya berdebar dan mulailah dia
meneliti. Bagian ini gelap karena dindingnya adalah batu -batu berwarna hitam. Ia menggunakan
pedangnya menusuk-nusuk dan tiba-tiba pedang itu menusuk sebuah lubang sampai amblas ke
gagangnya! Keng Hong menahan seruannya, lalu memutar-mutar pedang Siang-bhok-kiam itu ke kanan
kri. Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh di belakang diding batu itu. Keng Hong mencabut pedangnya dan
bunyi gemuruh itu disusul dengan bunyi bergerit, kemudian dinding itu bergerak dan tampaklah sebuah
lubang lima kaki persegi besarnya di dinding batu hitam itu!
"Terima kasih, Siang-bhok-kiam, lagi-lagi engkaulah yang menolongku!" Keng Hong mencium Pedang
Kayu Harum itu kemudian dia merangkak-rangkak memasuki lubang ini. Siapa tahu kalau di sebelah
sana terdapat jalan yang akan membawanya kepada kebebasan, pikirnya.
Begitu dia menembus dinding batu hitam yang tebalnya ada dua meter itu, dia melihat sebuah kamar lain
di balik dinding dan hatinya kecewa. Bukan jalan keluar kamar ini pun merupakan jalan buntu! Akan
tetapi, kekecewaannya segera lenyap, tertutup oleh keheranan dan kengerian ketika melihat sebuah
rangka manusia yang masih utuh sedang "nongkrong" duduk di atas sebuah kursi gading! Tengkorak dari
rangka itu agak menunduk dan kelihatannya seperti sedang mentertawakannya! Keng Hong bergidik dan
menggoyang-goyang kepalanya. Mimpikah dia ? Ataukah karena tiga hari bekerja terus tanpa makan
membuat dia tak dapat lagi menggunakan mata dan pikirannya secara normal? Namun, betapa dia
menggoyang kepalanya, ketika memandang lagi, rangka itu tetap berada di situ, duduk di atas kursi
gading dan di sebelah rangka itu terdapat sebuah kursi gading pula.
Meja yang kakinya terbuat daripada gading terukir itu, permukaannya dari batu putih halus dan diatas
meja itu terletak sebuah kitab yang sudah kuning saking tuanya. Sejenak Keng Hong terpesona. Biarpun
rangka itu hanyalah sekumpulan tulang manusia, akan tetapi sikap duduknya masih membayangkan sikap
tegak dan wibawa, seperti sikap seorang raja atau seorang yang sudah biasa disembah-sembah orang.
Anehnya, bagi Keng Hong timbul perasaan seolah-olah rangka itu merupakan tuan rumah, pemilik
ruangan -ruangan di dalam batu pedang ini, dan dia sendiri sebagai tamu tak diundang. Ia merasa
bersalah, dan tanpa disadarinya pula, Keng Hong menekuk kedua lututnya dan berbisik, "Locinpwe,
mohon maaf atas kelancanganku.." Ia berlutut sambil menunduk dan begitu dia menunduk, tampak ukiran
huruf-huruf kecil di atas batu lantai di depan lututnya. Huruf-huruf itu terukir amat kecilnya sehingga
takkan dapat dilihatnya kalau dia tidak berlutut dan menundukkan muka. Jantungnya berdebar apalagi
ketika dia mengenal ukiran huruf -huruf ini serupa benar dengan ukiran-ukiran di gagang pedang
Siang-bhok -kiam ! Jelas bahwa ukiran huruf-huruf di atas lantai itu dan di gagang pedang dibuat oleh
satu orang, yaitu gurunya, Sin-jiu Kiam-ong!
"Terima kasih kepada Thai Kek Couwsu dan maaf bahwa teecu tidak dapat menjadi ketua
.
Kun-lun-pai."
Keng Hong menduga-duga. Tidak akan keliru kalau dia menduga bahwa rangka ini adalah rangka dari
Thai Kek Couwsu, pendiri Kun-lun-paai yang dikabarkan bertapa di Kiam-kok-san dan lenyap bersama
raganya sehingga batu pedang dianggap tepat keramat oleh Kun-lun-pai. Kiranya kakek yang
dikabarkan sakti seperti dewa itu berada di sebelah dalam batu pedang dan meninggal dunia di tempat
tersembunyi ini!
***
Dan rangkanya diketemukan suhunya, Sin-jiu Kiam-ong! Ia pun makin menghormat rangka itu dan
menyembah delapan kali sambil berkata.
"Teecu Cia Keng Hong mohon maaf atas kelancangan teecu kepada Couwsu yang mulia." Kemudian
perhatiannya tertarik kepada kitab di atas meja. Tadinya dia ragu-ragu, karena merasa tidak berhak
menyentuh kitab itu. Akan tetapi kemudian dia berpikir bahwa gurunya yang amat suka akan ilmu dan
suka pula akan kitab-kitab pusaka, mustahil kalau tidak memeriksa kitab itu. Mungkin itukah sebabnya
gurunya menghaturkan terima kasih kepada Thai Kek Couwsu? Tidak ada seorang ahli silat yang tidak
akan tertarik untuk membaca kitab peninggalan seorang sakti! Maka diapun lalu bangkit dan
menghampiri meja itu, dengan hati-hati sekali mengambil kitab dari atas meja. Tiba-tiba terdengar suara
berkerotokan dan rangka itu runtuh dari atas kursi mengeluarkan suara hiruk-pikuk! Keng Hong cepat
meloncat ke samping, wajahnya pucat saking kagetnya. Akan tetapi dia segera mengerti bahwa
tulang-tulang itu tentu runtuh karena sedikit pergerakan saja, karena memang tidak ada
penyambungannya lagi. Kalau rangka itu asih dapat duduk sekian lamanya, hal ini adalah karena cara
"duduk" tulang-tulang yang merupakan rangka itu amat tepat, sesuai dengan cara duduk bersamadhi yang
dinamakan "keseimbangan". Ia makin kagum dan meletakkan kitab di atas meja untuk cepat
menyempurnakan sisa-sisa raga Thai Kek Couwsu dengan cara membakar tulang-tulangnya itu.
Tulang-tulang itu sudah sedemikan keringnya sehingga mudah sekali dimakan api, dan sebentar saja raga
pendiri Kun-lun-pai itu telah menjadi abu. Keng Hong mengumpulkan abu ini dan menaburkannya melalui
jurang di ujung lorong yang dihuni burung-burung walet. Abu tipis beterbangan tertiup angin memenuhi
udara dan menjadi satu dengan alam di sekelilingnya! Keng Hong segera kembali lagi ke kamar rangka
itu dan begitu mengambil kitab di atas meja, kini tampaklah huruf-huruf terukir di permukaan meja seperti
digurat-gurat benda tajam. Huruf-huruf ini berbeda dengan gaya tulisan Sin-jiu Kiam-ong, maka dia
menduga bahwa ini tentulah tulisan Thai Kek Couwsu. Dengan hormat dia membaca huruf-huruf terukir
itu.
"Thai-kek Sin-kun ditinggalkan untuk dia yang berjodoh memasuki tempat ini dan diharapkan dia suka
menjadi ketua Kun-lun-pai."
Keng Hong mengerutkan keningnya dan belum berani membuka kitab yang pada kulit luarnya tertulis
namanya: THAI KEK SIN KUN. Ah, kini mengertilah dia akan maksud huruf-huruf di lantai, yang ditulis
oleh Sin-jiu Kiam-ong. Tentu gurunya itu telah masuk kekamar ini dan mempelajari isi kitab maka dia
menghaturkan terima kasih, kemudian minta maaf karena tidak dapat menjadi ketua Kun-lun-pai seperti
yang diharapkan oleh Thai Kek Couwsu. Dia sendiri pun telah masuk ke kamar ini, dan hal itu
merupakan jodoh baginya, membuat dia berhak memiliki kitab.
Adapun tentang menjadi ketua Kun-lun-pai , dia sama sekali tidak mengkehendakinya seperti
diharapkan pencipta kitab ini. Biarlah seperti suhu kupelajari kitab ini dan kelak akan kuserahkan kitab
ini kepada ketua Kun-lun-pai, pikirnya.
.
Demikianlah, lupa bahwa agaknya tidak ada harapan lagi baginya untuk keluar dari tempat itu, Keng
Hong mengambil kitab kemudian meneliti keadaan kamar itu. Ia melihat sebuah peti hitam di sudut dan
ketika peti itu dibukanya didalamnya penuh dengan pakaian-pakaian sutera putih dan kitab-kitab tentang
Agama To! Sudah banyak dia membaca kitab-kitab Agama To ketika menjadi kacung di Kun-lun-pai,
dan tentang pakaian itu, dia merasa berterima kasih sekali karena memang dia amat membutuhkan
pakaian sebagai pengganti pakaiannya yang sudah empat tahun tidak diganti, dan kini robek-robek
ketika dia berjuang melawan maut di tambang tadi.
Setelah makan dan minum untuk memulihkan tenaganya. Terkejut dan giranglah hatinya ketika mendapat
kenyataan bahwa kitab tebal ini terisi petunjuk-petunjuk inti sari ilmu silat tinggi sekali, termasuk petunjuk
tentang penggunaan sinkang, ilmu silat tangan kosong dan ilmu silat pedang yang berdasarkan ilmu sakti
Thai -kek Sin-kun!
Baru sekarang dia mengerti bahwa kesaktian gurunya sebagian besar disempurnakan oleh isi kitab ini
dan dia dapat menduga mengapa gurunya tidak menurunkan ilmu ini kepadanya. Tiada lain adalah karena
gurunya merasa tidak dapat menjadi ketua Kun-lun-pai maka tidaklah berhak untuk menurunkan ilmu itu
kepada orang lain. Diam-diam dia kagum sekali kepada gurunya yang biarpun merupakan seorang
petualangan, namun sesungguhnya memiliki jiwa gagah perkasa yang tidak sudi melanggar janji tak tertulis
tak terucapkan antara dia dan Thai Kek Couwsu!
"Teecu pun bersumpah takkan memperlihatkan kitab ini atau memberitahukan isinya kepada orang lain
kecuali ketua Kun-lun-pai," demikian bisik hati Keng Hong dan mulailah dia membaca kitab itu penuh
perhatian. Mulailah dia berlatih dengan tekun sekali dan dengan girang dia mendapat kenyataan bahwa
semua yang telah dipelajarinya, baik dari mendiang suhunya maupun tambahan-tambahan yang dia dapat
dari pelbagai kitab pusaka peninggalan gurunya yang dia bacakan kepada Cui Im, inti sarinya termuat
dalam kitab ini, maka semua ilmu itu dapat disempurnakan. Lebih gembira lagi hatinya ketika
mendapatkan petunjuk tentang cara untuk menguasai tenaga sinkang dan di bagian akhir kitab itu dia
menemukan cara untuk menguasai tenaga sedot dari sinkangnya! Tanpa disengaja karena terciptanya
tenaga sedot di tubuhnya memang merupakan suatu kebetulan yang tidak disengaja oleh gurunya maupun
olehnya sendiri, kini Keng Hong telah menguasai ilmu yang dianggap sudah musnah dari dunia kang-ouw,
yaitu ilmu mujijat Thi-khi-I-beng !
Lam-hai sin-ni yang mempelajari ilmu ini sampai belasan, bahkan puluhan tahun hanya dapat mengusai
kulitnya saja, hanya berhasil menggunakan tenaga mujijat ini sepersepuluh bagian saja! Akan tetapi Keng
Hong, dengan petunjuk kitab pusaka Thai-kek Sin-kun, dapat mengusai seluruhnya. Bagi orang yang
tidak memiliki sinkang yang menciptakan daya sedot, betapapun saktinya orang itu seperti Sin-jiu
Kiam-ong sekalipun, tidak dapat memiliki Thi-khi-I-beng biarpun telah membaca kitab peninggalan Thai
Kek Couwsu ini.
Setahun lamanya Keng Hong melatih diri menurut petunjuk kitab itu dan kini di luar kesadarannya
sendiri, dia telah memperoleh kemajuan yang jauh melampaui yang diperoleh Cui Im selama berlatih
empat tahun! Setelah dia mempelajai kitab sampai habis dalam waktu setahun, mulailah dia merenung dan
sering kali dia duduk di tepi jurang, memandang jarak yang didudukinya dan tepi jurang di seberang yang
kini amat sunyi, tidak lagi terdengar suara ketawa Cui Im, tidak lagi tampak berkelebatnya bayangan
merah pakaian gadis cantik dan genit itu. Ia mengerutkan keningnya kalau membayangkan betapa kini
semua pusaka dibawa lari Cui Im, terutama sekali kalau membayangkan betapa gadis itu tentu akan
melakukan perbuatan-perbuatan yang luar biasa sehingga menggegerkan dunia kang-ouw.
Betapa mungkin keluar dari tempat ini? Menyeberang ke sana tanpa jembatan, merupakan hal yang
amat sukar.
.
***
Sukar? Bukankah suhunya dahulu sering mengatakan bahwa tidak ada hal yang sukar didunia ini?
Ataukah dia yang bodoh? Juga gurunya pernah mengatakan bahwa tidak ada manusia pintar atau bodoh
di dunia ini. Keng Hong memejamkan matanya, mengingat-ingat. Apapun yang dikatakan gurunya dahulu
tentang sukar dan mudah ,tentang bodoh dan pintar? Ia ingat betapa dahulu dia membantah, kemudian
betapa dia dapat menangkap inti sari wejangan itu dan dapat membenarkannya. Ah, dia ingat sekarang.
"Di dunia ini tidak ada hal yang sukar maupun yang mudah, muridku. Juga tidak ada atau tidak tepatlah
kalau disebut seseorang itu bodoh atau pun pintar. Biasanya, orang berpendapat sukar adalah pendapat
orang bodoh dan mudah itu pendapat orang pintar. Sebetulnya tidak demikian. Tidak ada sukar , tidak
ada mudah, tidak ada bodoh tidak ada pintar. Yang ada hanya MENGERTI dan BELUM MENGERTI.
Yang mengerti tentu bisa dan kalau sudah bisa menjadi mudah. Yang belum mengerti tentu tidak bisa dan
kalau belum bisa menjadi sukar. Jadi , tidak ada hal sukar di dunia ini selama orang mau belajar agar
mengerti dan bisa. Kalau belum mengerti, carilah, pergunakan akal budi yang dianugerahkan kepadamu
sebagai manusia. Segala hal pasti akan dapat diatasi!"
Demikianlah wejangan gurunya yang kini terngiang di telinganya. Cari,cari caranya! Tentu akan dia
dapatkan! Biar dia terhalang jurang begini lebar, biarpun tampaknya amat sukar dan tidak ada jalan
keluar, hal ini hanya karena dia BELUM MENGERTI jalannya maka harus dia cari sampai dapat!
Dengan landasan wejangan gururnya ini, sejak saat itu Keng Hong memutar otak, mencari akal
bagaimana dia akan dapat keluar dari tempat itu. Menggunakan ilmu kepandaiannya melompati jurang,
tidak akan mungkin. Hal seperti ini tentu hanya dapat dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam dongeng seperti
Sun Go Kong atau Kauw cee Thian si raja kera putih dalam dongeng See-yu saja! Dapatkah gurunya
melompati jurang selebar ini? Kiranya tidak mungkin. Dan bagaimana dengan Thai kek Couwsu?
Dapatkah kakek yang dikatakan berkepandaian seperti dewa itu dapat melompati jurang ini? Kalau
dapat bukan melompat namanya, melainkan terbang! Tidak masuk akal! Dia hanya mencari jalan,
menggunakan akalnya. Manusia berakal budi, tidak seperti binatang yang talanjang. Manusia
berpakaian...ah, pakaian..! Keng Hong memandang pakaian yang menutupi tubuhnya. Pakaian warna
putih dari sutera yang dia ambil dari dalam peti. Agaknya peninggalan Thai kek Couwsu. Pakaian putih
dari sutera halus dan amat kuat, lagi ulet dan kuat! Benar! Pakaian-pakaian putera, sutera ulet itulah!
Keng Hong berlari-lari memasuki kamar, membuka peti dan mengeluarkan semua pakaian sutera putih.
Ia mengukur-ukur, kemudian merobek-robek semua pakaian itu, menjadi robekan-robekan kecil
panjang, kemudian memilinnya menyambung-nyambung sehingga menjadi tali sutera yang panjang sekali,
hanya sebesar kelingking akan tetapi amat ulet dan kuat!
Disambungnya terus sampai habis semua pakaian sutera putih yang kini berubah menjadi tali yang amat
panjang. Disambungnya tali sutera ini dengan tambang yang masih setengah jarak jurang itu. Kemudian,
dengan jantung berdebar dan hati berdoa kepada Thian, dia melontarkan ujung tambang yang ada
kaitannya ke seberang setelah mengikatkan ujung tali sutera pada batu karang. Tenaga lontarannya amat
kuat dan baja kaitan itu melayang ke seberang, tepat mengait pada batu di seberang. Tali sutera itu
ternyata cukup panjang! Terbentanglah kini "jembatan" terbuat dari tabang disabung tali sutera! Keng
Hong hampir berteriak-teriak saking girang hatinya. Akan tetapi dia menekan kegirangannya. Dia tidak
mabuk kemenangan. Bahaya masih harus ditempuhnya. Sebelum sampai ke seberang, dia harus
menyeberang melalui "jembatan' ini dan hal itu tidaklah semudah kalau menyeberang tambang seperti
setahun yang lalu. Tapi sutera itu amat kecil lagi licin dan dia masih harus mempertaruhkan nyawanya
karena kalau tali itu kurang kuat dan putus...! Akan tetapi tidak ada jalan lagi dan soalnya hidup
selamanya di tepat itu, sampai mati sebagai seorang kakek tua renta dan kurus kering, mati kesunyian.
Kalau dia menyeberang, andaikata gagalpun hanya akan menemui kematian. Akan tetapi kalau berhasil..!
.
Keng Hong menyelipkan Siang-bhok-kiam di ikat pinggangnya, menyembunyikan pedang itu di balik
bajunya yang kebesaran ,baju sutera putih, satu-satunya yang tidak dia robek-robek untuk dijadikan tali
penyeberang. Kitab Thai-kek Sin-kun dia masukkan dalam saku baju.
Setelah berdiri mengheningkan cipta di tepi jurang, menengadah dan di dalam hati mohon perlindungan
Thian dan mohon bantuan arwah Thai-kek Couwsu dan dan Sin-jiu kiam-ong, Keng Hong lalu
mengerahkan ginkangnya dan mulai melangkah menginjak tali sutera yang melintang jurang didepannya.
Setelah kedua kakinya menginjak tali sutera dan merasa yakin bahwa tali itu cukup kuat, tidak bergoyang
dan tubuhnya dapat berdiri tegak lurus, dia lalu mulai melangkah maju perlahan-lahan .Menurutkan hasrat
hatinya yang ingin cepat-cepat sampai di seberang, ingin dia berlari cepat. Akan tetapi dia menyabarkan
hatinya dan tetap menjaga keseimbangan tubuhnya tetap tegak sehingga jembatan itu tidak terlalu
bergoyang dan tidak terlalu berat tubuhnya membebani tali sutera. Bahkan bernapas pun dia tahan
sehingga napasnya panjang-panjang dan lambat. Seolah-olah jarak yang setahun lalu setiap hari
ditempuhnya itu kini menjadi lima kali lebih panjang dari biasa! Seolah-olah tidak akan pernah sampai di
seberang. Akan tetapi kakinya kini tidak menginjak tali sutera lagi, melainkan menginjak tambang, tanda
bahwa jarak setengahnya telah dilalui.
Kini dia mempercepat langkahnya dan tak lama kemudian dia melompat ke tepi jurang di mana dahulu
Cui Im berdiri mentertawakannya! Keng Hong menjatuhkan diri berlutut ke arah tempat di mana tadi dia
mulai menyeberang, seakan -akan tadi dia hendak menghaturkan terima kasih atas bantuan arwah Thai
Kek Couwsu dan Sin-jiu Kiam-ong. Memang sesungguhnyalah bahwa dia menerima bantuan kedua
orang sakti itu, yaitu dengan mempelajari ilu-ilmu dari kedua orang sakti itu. Kalau dia tidak memiliki
sinkang yang hebat, dan kalau ilmunya tidak diperdalam setahun lagi menurut petunjuk kitab peninggalan
Thai Kek Couwsu, terutama sekali kalau dia tidak menerima peninggalan pakaian sutera putih dari
pendiri Kun-lun-pai itu, agaknya tidaklah secepat itu dia akan dapat menyeberangi jurang!
Dari pengalaman Keng Hong ini ternyatalah bahwa berharga atau tidaknya sebuah warisan.lebih luas
lagi, berharga atau tidaknya sebuah benda, tergantung daripada pengetrapan penggunaannya.
Kadang-kadang, benda yang biasanya dianggap tidak berharga, sekali waktu pada saatnya yang tepat
amatlah dibutuhkan dan berubah menjadi benda yang amat berharga.
***
Sebaliknya, benda yang biasa dianggap amat berharga, jika tidak diperlukan akan menjadi benda yang
sama sekali tidak ada harganya! Apa artinya segunung emas di padang pasir yang kering tiada airnya?
Manusia yang hampir mati kehausan di situ akan dengan rela dan senang hati menukar setiap bongkah
emas dengan seteguk air! Dalam halnya Keng Hong, setumpuk pakaian tua itu ternyata jauh lebih
berharga daripada segala macam pusaka yang diperebutkan oleh tokoh kang-ouw seluruh dunia!
Keng Hong segera berlari memasuki lorong dan memeriksa semua ruangan. Tepat sekali yang dia duga,
Cui Im lenyap dan demikian pula semua kitab peninggalan suhunya berikut tiga batang pedang pusaka ,
dan sebagian besar perhiasan-perhiasan yang paling indah. Wanita itu benar-benar tidak menyia-nyiakan
kesempatan unuk memuaskan nafsu ketamakannya!
Biarpun senjata-senjata pusaka di situ masih banyak , dan juga barang-barang berharga tersebut
daripada emas perak dan permata, namun Keng Hong tidak ada sedikitpun niat di hatinya untuk
membawa benda-benda pusaka itu. Ia hanya membawa pedang Siang-bhok-kiam dan kitab Thai-kek
Sin-kun, kemudian dia terus keluar dari tempat itu melalui lorong atau terowongan kecil sambil
merangkak, seperti ketika dia datang dahulu.
Masih teringat dia betapa Cui Im yang merangkak di belakangnya ketakutan, kadang-kadang memegang
.
lengannya, kadang-kadang mendorong pinggulnya Keng Hong tersenyum. Betapapun marah dan
bencinya kepada Cui Im, kalau teringat akan kelakukan gadis itu geli juga hatinya kadang-kadang.
Di ujung lorong, dia melihat batu-batu bertumpuk dan dia dapat menduga bahwa pintu yang menutup
terowongan itu hancur kena gempuran batu-batu dari atas. Tadinya dia memikirkan bagaimana Cui Im
akan dapat keluar dari tempat itu tanpa bantuan pedang Siang-bhok-kiam sebagai kunci. Akan tetapi
ternyata bahwa batu yang menutupi lubang itu pecah-pecah, agaknya tertimpa batu dari atas dan tentu
ketika keluar dari tempat ini,Cui Im telah membongkar batu-batu itu. Melihat banyaknya batu-batu itu,
Keng Hong dapat membayangkan betapa sukarnya pekerjaan itu. Tentu akan waktu berhari-hari!
Diam-dia dia tersenyum memikirkan betapa Cui Im dengan susah payah membongkar batu-batu yang
menimbuni mulut terowongan, dan betapa pekerjaan susah payah itu tanpa disangka-sangka kini
dipergunakan oleh Keng Hong yang dapat keluar tanpa bekerja sedikit pun!
Setelah keluar dari lubang dan berada dilereng batu pedang, Keng Hong menarik napas dalam. Angin
gunung meniup mukanya dan dia memicingkan matanya terhadap sinar matahari. Hatinya terharu. Ia
merasa seolah-olah hidup kembali !
Lima tahun lamanya dia berada di sebelah dalam batu pedang, seolah-olah telah terkubur di situ.
Dan setahun lamanya dia merasa telah terjebak tanpa ada jalan keluar. Kini dia telah berada di lereng
batu pedang! Keng Hong mengangkat sebuah batu besar, sebesar kerbau sehingga lubang itu tertutup
oleh tumpukan batu-batu besar. Kemudian dia mulai merayap turun dengan hati penuh kegembiraan dan
dengan semangat tinggi. Tugas penting terbentang luas di depannya. Andaikata tidak ada Cui Im yang
mengganggu, tentu sekarang dia telah membawa kitab-kitab dan pusaka-pusaka untuk di kembalikan
kepada pemiliknya masing-masing. Akan tetapi, semua pusaka itu telah dirampas oleh Cui Im, maka
tugas utama dan pertama baginya adalah mencari Cui Im untuk merampas kembali benda-benda itu.
Nama besar suhunya tetap akan tercemar dan tetap akan dimusuhi dunia kang-ouw sebelum
benda-benda itu dikembalikan kepada mereka yang berhak. Akan tetapi sebelum mencari Cui Im dia
akan pergi lebih dulu mengunjungi Kun-lun-pai untuk menyerahkan Thai-kek Sin-kun peninggalan pendiri
Kun-lun-pai dan sekalian minta maaf atas segala kesalahannya yang lalu. Ia percaya bahwa fihak
Kun-lun-pai, terutama sekali kiang Tojin, akan dapat memaafkannya, dan andaikata tidak, dia pun tidak
gentar dan dia percaya bahwa tingkat kepandaiannya yang sekarang, dia akan dapat dengan mudah
menyelamatkan diri! Dengan gembira Keng Hong lalu bersenandung, melagukan lagu ciptaannya ketika
dia dahulu sering kali bermain suling sambil duduk di punggung kerbaunya, ketika di masih menjadi
kacung Kun-lun-pai.
Keng hong mengira bahwa turunnya dari batu pedang tentu akan dihadang oleh orang-orang kang-ouw
yang masih teringat akan semua pengalamannya lima tahun yang lalu. Memang, pengalaman-pengalaman
yang paling pahit merupakan kenang-kenangan yang paling mengesankan! Ia mereka-reka dan
merenungkan bagaimana dia akan menghadapi mereka yang pernah mengejar-ngejarnya lima tahun yang
lalu. Setelah dia mengalami hal-hal yang pahit dengan Cui Im, kini dia dapat melihat bahwa dibandingkan
dengan Cui Im, tokoh-tokoh kang-ouw itu tidaklah begitu jahat dan tamak. Cui Im tega melakukan
hal-hal keji hanya terdorong semata-mata oleh nafsunya yang amat besar. Adapun para tokoh kang-ouw
itu mengejar-ngejarnya dengan mempunyai dasar yang tentu saja mereka itu masing-masing
mengangkapnya benar. Mereka yang memperebutkan pusaka peninggalan gurunya, merasa benar karena
mereka itu telah di sakiti hatinya oleh Sin-jiu Kiam-ong dan merasa berhak menagih hutang itu dengan
jalan memiliki pusaka peninggalannya. Adapun mereka yang mengejarnya untuk membunuh juga merasa
benar karena mereka menaruh dendam kepadanya atas kematian murid-murid mereka.
Akan tetapi setelah dia tiba di bawah batu pedang, keadaan disitu sunyi saja, tidak tampak seorang pun
manusia. Bahkan ketika dia meneliti dari tempat tinggi ini, melihat ke bawah ke sekililing puncak, tidak
.
ada tampak bayangan manusia, sunyi sekali keadaan di situ. Ah, mungkin kini Kun-lun-pai telah
melakukan penjagaan ketat, melarang semua orang asing mendatangi wilayah Kun-lun! Ia menuruni
puncak Kiam-kok-san di mana markas Kun-lun-pai berada. Disepanjang jalan sunyi saja , tidak ada
pula tampak tosu-tosu Kun-lun-pai melakukan penjagaan.
Tiba-tiba dia melihat segunduk tanah seperti kuburan orang, akan tetapi tidak ada batu nisannya dan
sebagai gantinya terdapat sebongkah batu kasar yang ada tulisannya, diukir kasar, buruk dan berbunyi;
DI SINI THIAN TI HWESIO MATI DI TANGAN ANG-KIAM BU-TEK. Ia terkejut. Thian Ti
Hwesio adalah seorang di antara tokoh Siauw-lim-pai yang kitabnya dicuri Sin-jiu Kiam-ong. Hwesio itu
lihai sekali, merupakan hwesio tingkat dua dari Siauw-lim-pai, Siapakah Ang-kiam Bu-tek (Pedang
Merah Tanpa Tanding) itu? Tiba-tiba jantung Keng Hong berdebar, mukanya panas saking marahnya
ketika dia teringat dan menduga keras bahwa Ang-kiam Bu-tek itu tentulah Ang-kiam Tok-sian -li Bhe
Cui Im! Siapa lagi kalau bukan dia? Untuk dapat membunuh seorang seperti Thian Ti Hwesio haruslah
memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia tahu bahwa tingkat Cui Im sekarang amatlah hebat .
***
Dan julukan itu! Ang -kiam (Pedang Merah) adalah pedang gadis itu, dan agaknya dia membuang
julukan Tok-sian-li (Dewi Racun) dan menggantinya menjadi Bu-tek (Tanpa Tanding). Dan memang
dalam tingkatnya sekarang ini, Cui Im tidak memerlukan lagi bantuan racun untuk menghadapi lawan.
Setiap pukulannya dengan sendirinya sudah merupakan tangan beracun yang amat ampuh, karena gadis
itu mencampuradukkan ilmu dipelajarinya dari kitab-kitab peninggalan gurunya dengan ilmu yang
diterimanya dari Lam-hai Sin-ni, tentu saja ilmu silat golongan sesat.
"Cui Im, kalau benar-benar engkau yang melakukan pembunuhan itu, aku akan menghajarmu!"
gerutunya di dalam hati.
Ia berjalan terus dan di dalam hutan itu dia melihat sebatang pohon besar yang sebagian kulit batangya
terbuka dan pada kayu pohon yang putih itu terdapat pula ukiran-ukiran huruf yang buruk kasar : DI
SINI KIU-BWE TOANIO DIKALAHKAN ANG-KIAM BU-TEK. Keng Hong
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak salah lagi, tentu perbuatan Cui Im semua ini. Ukiran huruf-huruf
itu demikian halus yang hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli pedang, sedangkan bentuk huruf-huruf
itu sendiri amatlah buruknya yang hanya menunjukkan tulisan seorang setengah buta huruf seperti Cui Im.
Ia kini mengerti mengapa keadaan di situ begitu sunyi, mengapa tidak ada tokoh-tokoh kang-ouw yang
menghadangnya. Kiranya mereka itu ada yang menghadangnya setahun yang lalu akan tetapi tentu saja
mereka itu hanya berjumpa dengan Cui Im dan celakalah nasib mereka begitu bertemu dengan Cui Im
yang bagaikan seekor harimau ganas dan kini telah bertambah sayap itu. Pemuda itu berjalan terus dan
sebelum keluar dari hutan, kembali dia melihat gundukan tanah dan ternyata dari batu terukir disitu adalah
Sin-to Gi-hiap yang mati di tangan Ang-kiam Bu-tek lagi! Keng Hong membanting kakinya dengan
gemas. Entah siapa lagi yang dikalahkan atau dibunuh oleh Cui Im.. Dan mengapa semua pembunuhan ini
terjadi di wilayah Kun-lun-pai tanpa campur tangan fihak Kun-lun-pai bersama puluhan orang tosu turun
tangan, kiranya tidak akan begitu mudah bagi Cui Im untuk mengganas.
Keng Hong bergegas menuju ke puncak Kun-lun-pai dan mendaki puncak Kun-lun-pai dan mendaki
puncak tertinggi pegunungan itu yang dijadikan arkas partai Kun-lun-pai. Tiba-tiba dia berhenti dan
menyelinap di balik pohon ketika dia mendengar suara orang tertawa-tawa. Cepat dia berindap-indap
mempergunakan ginkangnya sehingga dia dapat menghampiri tepat suara dengn cepat namun tidak
menimbulkan berisik. "Sudahlah, Totiang, jangan terlalu lama menahanku di sini, nanti suamiku tahu dan.."
Terdengar suara wanita.
.
"Ha-ha-ha, suamimu yang lemah seperti cacing itu? Tahu juga bisa apa dia?Bukankah aku jauh lebih
kuat dari suamimu yang kurus kering itu? Ha-ha-haa-ha-ha, jangan tergesa-gesa, Manis, kita
bersenang-senang sampai sepuasnya...!"
Keng Hong terbelalak ketika mengintai di balik semak-semak dan melihat seorang tosu empat puluh
tahun, murid Kun-lun-pai, memeluk seorang wanita muda yang melihat pakaiannya tentulah seorang
wanita dusun. Wanita itu cukup manis dan sikapnya genit. Keng Hong terheran-heran. Betapa mungkin
terjadi hal seperti ini? Seorang anak murid Kun-lun-pai bermain asmara dengan seorang wanita isteri
penduduk dusun? Padahal sepanjang pengetahuannya, para tosu Kun-lun-pai memegang teguh
pantangan mengadakan hubungan dengan wanita! Dan dalam hal itu, para pimpinan Kun-lun-pai
memegang teguh peraturan dan berdisiplin keras sekali. Akan tetapi dia segera teringat akan Lian Ci
Tojin yang dahulu memperkosa Tan Hun Bwee, maka hatinya menjadi khawatir. Melihat betapa Cui Im
dapat mengganas di Kun-lun, dan kini melihat seorang anak murid Kun-lun-pai berani melanggar
pantangan di tempat yang begitu dekat dengan markas Kun-lun-pai, bahkan dindingnya sudah tampak
dari situ, membuat dia menduga bahwa tentu terjadi perubahan di Kun-lun-pai. Kemana perginya Kiang
Tojin si orang kuat dari Kun-lun-pai ? Dan mengapa Thian Seng Cinjin, ketua Kun-lun yang sakti itu,
menjadi begini lemah?
Keng Hong menyingkap semak-semak itu dan berkata nyaring, "Totiang, aku ingin bicara denganmu!"
Lalu dia meloncat mundur, memberi kesempatan kepada dua orang itu untuk membereskan apa yang
perlu di bereskan.
Tosu itu meloncat bangun dengan pakaian kedodoran. Saking gugup dan kagetnya karena menyangka
bahwa tentulah suami wanita itu yang datang dan menangkap basah penyelewengan isterinya, sampai
sukarlah dia membereskan pakaian,Akan tetapi, dia segera mengangkat muka membusungkan dada.
Suami wanita ini hanya seorang dusun, mau apakah? Ia lalu menarik tangan wanita yang menggigil dengan
muka pucat itu keluar dari semak-semak dan langsung berteriak-teriak.
"Petani busuk! Pinto sedang berusaha mengusir keluar siluman yang mengganggu isterimu, mengapa kau
menganggu..?" Akan tetapi tosu itu menghentikan kata-katanya dan melongo memandang ke arah Keng
hong yang tersenyum-senyum geli, sedangkan wanita itu tersipu-sipu malu dan menundukkan
mukanya,akan tetapi dengan hati lega karena ternyata pemergok itu bukan suaminya.
"Totiang, engkau bukan mengeluarkan siluman, sebaliknya malah memasukkan setan!" Keng Hong
tertawa geli, membuat tosu itu merah mukanya saking malu dan marah.
"Engkau...? Bukankah engkau ini pemuda setan itu..? Celaka, benar engkaulah orangnya !" Tosu itu lalu
menerjang maju mengirim pukulan ke arah dada Keng Hong yang diterima oleh pemuda itu dengan mulut
tersenyum.
"Krekkk! Auugggh!"Tosu itu meringis kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang patah
tulangnya di dekat pergelangan tangan. Ia marah sekali dan mengirim tendangan dengan kaki kiri,
menendang ke arah bawah pusar Keng Hong. Pemuda ini tetap tidak menangkis atau mengelak, hanya
menekuk sedikit kedua lututnya sehingga tubuhnya merendah dan tendangan itu mengenai pusarnya,
"Krakkkk! Aduuuu-du-duuuuhhh…!!" Tosu itu kini mengangkat kaki kirinya ke atas, memegangi
dengan tangan kiri dan berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanan sambil mengaduh-ngaduh dan
mendesis-desis kesakitan karena tulang-tulang jari kakinya remuk-remuk!
Wanita itu menggigil dan menahan jerit dengan menutupkan tangan di depan mulut. Keng Hong
memandang kepadanya dan berkata halus, "Engkau pulanglah cepat sebelum terlihat suamimu."
.
Mendengar ini, wanita itu lalu menggerakkan kakinya berlari menuruni gunung tanpa berani menoleh lagi.
Dari belakng tampak sepasang buah pinggulnya bergerak-gerak seperti menari-nari dan Keng Hong
tertawa, mengenal seorang wanita hamba nafsu berahi, seperti Cui Im!
"Totiang, sekarang ceritakanlah dengan sejelasnya keadaan Kun-lun-pai atau jawab terus terang kalau
Totiang tidak ingin tulang-tulang Totiang patah-patah dan remuk semua. Nah, kumulai. Di manakah
adanya Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai.
***
Tosu itu agaknya menjadi lapang dadanya. Tadinya dia mengira akan ditanya mengenai perhubungannya
dengan wanita dusun itu. Ia lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, tangan kirinya sibuk
mengelus-ngelus secara bergantian tangan kanan dan kaki kirinya yang patah-patah tulangnya sehingga
rasa nyeri berdenyut-denyut sampai menembus ubun-ubun dan jantung.
"Mengapa engkau menanyakan beliau? Thian Seng Cinjin kakek guruku itu telah meninggal dunia
setahun yang lalu..."
Keng Hong terkejut, teringat akan Cui Im yang meninggalkannya setahun yang lalu. "Apa..? Siapa
pembunuhnya...?
Sambil meringis tosu itu berkata, "Tidak ada yang membunuh, mati karena usia tua."
"Ahhh!" Lapang rasa dada Keng Hong. "Dan Kiang Tojin di mana?"
"Kiang-supek (uwak guru Kiang)? Ah, dia telah menjadi seorang hukuman di dalam ruangan hukuman
murid-murid Kun-lun-pai!"
"Apa? Siapa yang menghukumnya?"
"Tentu saja ketua kami.."
"Siapa ketua Kun-lun-pai?"
"Dia? Eh, dia guru pinto.."
Keng Hong menjadi marah mendengar bahwa Kiang Tojin, tokoh utama di Kun-lun-pai sesudah Thian
Seng Cinjin dihukum di Kun-lun-pai. Mendengar jawaban-jawaban singkat ini, dia lalu menggerakkan
tangannya dan dicengkeramnya pundak tosu itu. "Jangan main-main. Hayo lekas ceritakan siapa gurumu
itu!"
"Aduhhh…. Ampun..., guru pinto adalah Sian Ti Tojin.."
"Aahhhh..!" Keng Hong teringat kepada dua orang tosu itu, Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin.
"Hayo cepat ceritakan apa yang telah terjadi! Ceritakan seluruhnya kalau kau tidak ingin semua tulangmu
kupatahkan!" Keng Hong mengancam.
"Ah, Keng Hong. eh, Taihiap…. Kasihanilah pinto, tidak ingatkah engkau betapa dahulu aku baik sekali
kepadamu….?" Keng Hong tidak ingat lagi kepada tosu ini karena tosu Kun-lun-pai amat banyak, akan
tetapi harus dia akui bahwa dahulu ketika dia menjadi kacung di Kun-lun-pai, semua tosu bersikap baik
.
kepadanya. "Aku tidak akan mengganggumu asal saja kau suka bercerita sejujurnya tentang apa yang
telah terjadi setelah Thian Seng Cinjin meninggal dunia dan apa yang menyebabkan Kiang Tojin sampai
dihukum."
Sambil menahan rasa nyeri di tubuhnya, tosu itu lalu bercerita, "Setelah kakek guru meninggal dunia
setahun yang lalu, terjadilah perebutan kedudukan ketua di antara tujuh orang muridnya. Terutama sekali
yang berebut adalah Kiang Tojin di satu fihak dan suhu Sian TI Tojin bersama susiok Lian Ci Tojin di lain
fihak. Empat orang paman guru yang lain berfihak kepada suhu, karena menurut anggapan semua murid
Kun-lun-pai, Kiang-supek terlampau keras dan bengis terhadap anak murid Kun-lun-pai!"
"Hemmm, kurasa Kiang Tojin berada di fihak yang benar karena beliau adalah murid tertua, bahkan
tadinya mewakili Thian Seng Cinjin. Aku yakin pula Kiang Tojin tidak akan kalah, biarpun menghadapi
enam orang sutenya."
"Memang tadinya tidak kalah. Perebutan kedudukan itu menjadi pertandingan dan tidak seorang pun di
antara suhu dan para susiok dapat mengalahkan Kiang-supek yaang amat lihai, akan tetapi."
"Akan tetapi apa? Hayo lanjutkan!"
"Selagi suhu dan para sutenya terdesak oleh Kiang-supek, tiba-tiba muncul Ang-kiam Bu-tek..."
"Apa? Bagaimana? Teruskan..!" Kali ini Keng Hong benar-benar terkejut sekali mendengar munculnya
Cui Im di Kun-lun-pai.
"Wanita cantik jelita itu sungguh hebat! Hebat bukan main! Tidak hanya hebat kecantikannya, hebat
bentuk tubuhnya, akan tetapi hebat pula ilmu pedangnya sehingga Kiang-supek terluka begitu dia turun
tangan membantu suhu dan para susiok. Kiang-supek terluka dan terpaksa menyerah, lalu dihukum dan
suhu diangkat menjadi ketua Kun-lun-pai, sedangkan Lian Ci susiok amat beruntung, selain menjadi
wakil ketua juga agaknya dapat bersahabat baik sekali dengan wanita yang seperti bidadari itu."
"Katakan mengapa wanita itu mebantu suhumu menentang Kiang Tojin."
"Ketika itu dia memaki-maki Kiang-supek, mengatakan bahwa beberapa tahun yang lalu Kiang-supek
pernah menangkapnya dan hal itu dianggap penghinaan maka dia datang membalas dendam dan
merobohkan Kiang-supek. Dia hebat sekali dan."
Akan tetapi tubuh Keng Hong sudah berkelebat lenyap dari depan tosu itu yang saking kagum dan
herannya sampai melongo, lupa akan rasa nyeri tubuhnya.
Akan tetapi setelah keheranannya mereda, kaki tangannya yang patah tulangnya itu senut-senut, rasa
nyeri menyusup tulang sumsum sehingga dia merintih-rntih lalu merangkak karena tak dapat berjalan.
Keng Hong yang menjadi amat marah mendengar betapa Kiang Tojin dirobohkan Cui Im yang
membantu tosu-tosu sesat macam Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin, berlari cepat sekali mendaki puncak
menuju ke dinding Kun-lun-pai yang sudah dekat dari tempat itu. Dia harus menolong Kiang Tojin,
apapun yang terjadi, sebagai pembalasan atas segala kebaikan Kiang Tojin kepadanya. Karena kini
ginkang yang dimiliki Keng Hong sudah mencapi tingkat tinggi sekali, maka tak lama kemudian dia telah
tiba di pintu gerbang dinding tebal Kun-lun-pai yang terjaga oleh beberapa orang tosu.
Munculnya Keng Hong menggegerkan para tosu yang segera mengenal pemuda berpakaian putih ini,
dan cepat nmereka bersiap untuk menyerang sedangkan seorang penjaga cepat-cepat lari masuk untuk
.
menyampaikan pelaporan mengenai munculnya pemuda yang sudah dikabarkan mati itu.
"Totiang sekalian, aku datang bukan untuk memusuhi Kun-lun-pai, aku hanya ingin bertemu dan bicara
dengan Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin!" Keng Hong berkata dengan suara nyaring. "Kamu tunggu di
luar! Tidak boleh kamu masuk mengotorkan dan mencemarkan lantai Kun-lun-pai dengan kakimu yang
kotor!" bentak seorang tosu.
Keng Hong memandang ke arah kedua kakinya yang tak bersepatu dan memang kotor, lalu dia
menjawab, "Kaki kotor mudah saja dibersihkan dengan air, Totiang. Akan tetapi hati yang kotor sukar
dicuci bersih! Apalagi kalau orang itu tidak merasa betapa kotor hatinya!"
"Wah, masih saja amat sombong bocah ini!" teriak para tosu yang tetap melarang Keng Hong melewati
pintu gerbang Mereka sudah berbaris menghadang di pintu dengan senjata mereka ditodongkan, siap
untuk menyerang apabila Keng Hong memaksa. Diam-dia pemuda itu mengeluh. Betapa banyaknya
perubahan pada partai Kun-lun-pai yang tadinya merupakan partai besar itu, merupakan temapat
bertapa para tosu yang kasar dan galak ini, kelakuan tosu yang dia patahkan tulang kakinya, lebih pantas
menjadi kelakuan dan sikap anak buah perampok! Dalam waktu lima tahun saja, alangkah banyaknya
perubahan terjadi di Kun-lun-pai.
Keng Hong menjadi makin penasaran dan dia berkata dengan suara tegas, "Totiang sekalian, Keng
Hong bukanlah seorang yang tak mengenal budi dan aku telah berhutang budi diantara semua tosu di
Kun-lun-pai, terutama sekali kepada Kiang Tojin aku berhutang budi. Ku harap Totiang sekalian suka
melaporkan kepada Sian To Tojin dan Lian Ci Tojin karena aku hendak bicara dengan mereka. Aku
tidak ingin menggunakan kekerasan terhadap Kun-lun-pai, akan tetapi kalau Totiang sekalian mencegah
aku dengan kekerasan, apa boleh buat, aku akan memaksa masuk!"
Dengan pandang matanya yang tajam Keng Hong dapat melihat bahwa yang bersikap keras dan
memandang kepadanya dengan sinar mata menentang hanya beberapa orang saja, sedangkan yang
lain-lain ketika dia menyebut nama Kiang Tojin sudah menundukkan pandang mata mereka seolah-olah
mereka menyimpan atau menyembunyikan perasaan hati mereka. Namun Keng Hong sudah awas dan
maklum bahwa sebagian besar para tosu yang menjadi anak murid Kun-lun-pai ini masih setia kepada
Kiang Tojin, hanya karena mereka bertekun dan takut kepada ketua dan wakilnya yang baru, terutama
kepada Sian Ti Tojin yang merupakan orang ke dua sesudah Kiang Tojin, maka mereka terpaksa tunduk
kepada perintah kedua orang tosu yang memegang pimpinan baru di Kun-lun-pai itu. Keng Hong sudah
bersiap-siap untuk menggunakan kepandaiannya merobohkan mereka yang bersikap keras dan melewati
mereka yang pandang matanya ragu-ragu, dan para tosu itu pun sudah siap mengeroyoknya. Tiba-tiba
terdengar bentakan nyaring.
"Mundurlah kalian semua!"
Semua tosu merangkapkan kedua tangan dan mundur ke kanan kiri, memberi jalan orang yang
meneriakkan perintah itu. Tampak oleh Keng Hong dua orang tosu dan dia menahan ketawanya.
Geli dan mengkal hatinya melihat lagak dua orang tosu yang dikenalnya sebagai Sian Ti Tojin dan Lian
Ci Tojin ini, yang berjalan dengan dada membusung, sedangkan di belakang kedua orang ini tampak
empat orang tosu tokoh Kun-lun-pai murid Thian Seng Cinjin. Kalau tidak ada Kiang Tojin, maka Sian
Ti Tojin sebagai murid kedua dari Thian Seng Cinjin memang merupakan tokoh tertua dan terpandai.
Akan tetapi Lian Ci Tojin hanya merupakan murid ke lima. Mengapa Sian Ti Tojin memilih dia sebagai
wakil ketua, tidak sute-sutenya yang menjadi murid ke tiga dan ke empat? Hal ini mudah dimengerti
melihat keakraban mereka dan kecocokan mereka dalam menghadapi KiangTojin pada waktu-waktu
yang lalu.
.
Sian Ti Tojin memakai pakaian kebesaran ketua Kun-lun-pai, dengan jubah pendeta bersulam benang
perak, kepalanya memakai pelindung kepala yang indah dan membuat wajahnya tampak angker.
Tangannya memegang sebatang tongkat yang dikenal oleh Keng Hong sebagai tongkat milik Thian Seng
Cinjin, yang agaknya menjadi tanda pangkat ketua Kun-lun-pai! Adapun Lian ci Tojin membuat hati
Keng Hong lebih panas lagi. Tosu ini berpakaian indah dan juga tersulam benang perak dan yang
menggelikan adalah rambutnya yang licin mengkilap oleh minyak, wajahnya terpelihara seperti wajah
seorang pria muda pesolek, di punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terukir indah.
Kedua orang tosu ini memandang Keng Hong dengan sinar mata penuh selidik.
Sedangkan sikap empat orang tosu lainnya masih biasa saja, namun mereka mengerutakan kening dan
siap mempertahankan Kun-lun-pai jika pemuda ini kembali hendak mendatangkan kekacauan.
"Cia Keng Hong, kiranya engkau yang datang menghadap?" berkata Sian Ti Tojin dengan suara halus.
"Kami bersyukur kepada Thian bahwa engkau ternyata masih hidup, tidak mati seperti disangka semua
orang!"
Keng Hong menjawab dengan hornat, "Terima kasih atas kebaikan totiang."
"Keng Hong, engkau pernah menjadi kacung Kun-lun-pai.Suheng kini menjadi ketua Kun-lun-pai,
sepatutnya engkau memberi hormat dan menyebutnya locianpwe," kata Lian Ci Tojin. Keng Hong
diam-diam dapat membedakan watak kedua orang ini. Sian Ti Tojin memperlihatkan sikap halus lembut,
sikap yang sepatutnya dimiliki seorang ketua partai besar. Namun sikap Lian Ci Tojin membayangkan
kekerasan dan suka membanggakan kekerasan dan suka membanggakan kekuasaan. "Tidak mengapa,
memang orang muda kurang pengalaman dan kurang pengertian tentang tatacara. Cia Keng Hong, ada
keperluan apakah engkau muncul di sini? Apakah engkau datang untuk mohon maaf atas kelakuanmu
dahulu yang membikin kacau dan rugi nama besar Kun-lun-pai? Ataukah engkau akan menebus
kesalahan menipu kami dengan memberikan pedang palsu dan kini hendak menyerahkan
Siang-bhok-kiam yang tulen?" suara Sian Ti Tojin tetap halus dan sikapnya tenang sekali.
"Tidak sama sekali, Totiang." Keng Hong tetap menyebut totiang kepada ketua baru yang di dalam
hatinya tidak dia akui ini sambil melirik ke arah Lian Ci Tojin. Yang mulai merah mukanya. "Aku datang
untuk menghadap Kiang Tojin. Di manakah Kiang Tojin? Harap suka mohon beliau keluar untuk
menerima aku datang menghadap beliau." Cara Keng Hong bicara jelas membayangkan bahwa kita
menempatkan Kiang Tojin ditingkat lebih tinggi daripada Sian Ti Tojin yang kini menjadi ketua. Hal ini
dirasakan oleh semua tosu dan mereka semua memandang dengan hati tegang.
"Cia keng Hong! Kiang Tojin tidak dapat menemuimu pada saat ini. Semua urusan yang hendak kau
kemukakan boleh kau sampaikan kepada pinto sebagai ketua Kun-lun-pai," kata Sian Ti Tojin.
"Kenapa Kiang Tojin tidak dapat menemuiku? Apakah beliau sakit? Aku mendengar berita bahwa
Thian Seng Cinjin locianpwe telah meninggal dunia. Sepanjang pengetahuanku, bukankah Kiang Tojin
dahulu dan menjadi calon ketua Kun-lun-pai?"
"Cia Keng Hong! Engkau tetap bocah lancang seperti dahulu! Siapakah engkau ini yang usil dan hendak
mencampuri urusan dalam Kun-lun-pai?
Keng Hong menjawab dengan hormat, "Terima kasih atas kebaikan Totiang."
"Hemm, Lian Ci Totiang, memang aku tetap bocah yang dulu, dan kalau perlu, penting juga bersikap
lancang. Aku tidak mencampuri urusan dalam Kun-lun-pai.
.
Setelah kini Thian Seng Cinjin meninggal, mengapa beliau tidak menjadi ketua,bahkan tidak
diperbolehkan menemuiku? Apakah beliau telah menjadi orang yang tidak bebas lagi? Apakah beliau
kalian hukum?"
Para tosu memandang pemuda itu dengan mata terbelalak. Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin sejenak saling
bertukar pandang, kemudian Sian Ti Tojin mengetukkan tongkatnya pada tanah dengan lagak seorang
ketua yang kehilangan kesabaran, akan tetapi suaranya tetap halus.
"Cia keng Hong, engkau bukan anak murid Kun-lun-pai dan sesungguhnya tidak berhak untuk
mengetahui urusan dalam Kun-lun-pai. Akan tetapi mengingat bahwa engkau adalah bekas kacung kami,
dan mengingat hubungan antara engkau dan Kiang-suheng, baiklah kau ketahui urusan dalam yang
semestinya menjadi rahasia perkumpulan kami. Setelah suhu meninggal, terjadilah perbedaan pendapat
antara Kiang-suheng dan kami. Seperti sudah lazim, perbedaan pendapat dalam penggantian ketua ini
diselesaikan dengan cara kami, yaitu menguji kepandaian. Dia yang paling pandai berhak menjadi ketua.
Karena Kiang-suheng menggunakan kekerasan, kami bertanding, pinto menang dan menjadi ketua
sedangkan Kiang-suheng karena berdosa telah memancing keributan dan pertentangan antara saudara
sendiri, diwajibkan menebus dosa di ruangan.." Sampai di sini Sian Ti Tojin berhenti, merasa sudah
terlalu banyak bicara.
Di ruangan menebus dosa atau ruangan hukuman! Aku sudah tahu, Sian Ti Tojin, dan aku tahu pula
bahwa ruangan itu disediakan bagi para tosu yang telah melakukan pelanggaran, baik pelanggaran, baik
pelanggaran hukuman perikemanusiaan. Para tosu yang memperkosa gadis orang dan yang bersekutu
dengan orang lain untuk menjatuhkan saudara sendiri pun termasuk pelanggaran-pelanggaran yang harus
dihukum, bukan?"
Ucapan Keng Hong ini membuat wajah para tosu anak murid Kun-lun-pai menjadi pucat. Sian Ti Tojin
menggerakkan kepala ke belakang dan matanya menyinarkan kemarahan yang tak tertutupinya lagi. "
“Bocah lancang mulut! Apa maksudmu?"
Keng Hong tersenyum ketika melihat ke arah Lian Ci Tojin dan melihat tosu ini pucat mukanya dan
meraba gagang pedang di punggung, lalu berkata, "Aku tidak bermaksud mencampuri urusan
Kun-lun-pai. Aku tidak peduli apakah Kiang Tojin kalian hukum atau kalian apakan asal saja memang
sudah semestinya demikian dan tidak ada yang yang melanggar kebenaran dan keadilan. Aku datang
hanya untuk bertemu dengan KiangTojin."
"Bocah sinting, minggat kau dari sini!" bentak Lian Ci Tojin sambil menyerang pedangnya, ditusukkan ke
arah dada Keng Hong dengan gerakan cepat dan kuat sekali. Dia tidak takut menghadapi Keng Hong
karena selama lima tahun ini dia dan terutama suhengnya telah menggembleng diri agar kuat
mempertahankan kedudukan mereka sebagai ketua dan wakil ketua Kun-lun-pai.
"Hemmm, gerakanmu cukup baik, akan tetapi kurang isi karena kau kotori dengan watak dengki, kejam
dan penuh kebencian, Lian Ci Tojin," kata Keng Hong sambil mengelak dengan amat mudahnya. Dia
tidak banyak bergerak hanya miringkan tubuh tanpa mengubah kedudukan kedua kakinya. Melihat
betapa tusukannya hanya lewat saja di dekat dada Keng Hong, Lian Ci Tojin membalikkan pergelangan
tangannya dan kini pedang itu membabat turun memenggal atau membacok ke arah pinggang. "Plakkk!"
Keng Hong melangkah mundur dan mengangkat kakinya, menampar pedang itu dari samping dengan
tendangan kakinya. Kelihatannya perlahan saja dia menendang, namun pedang itu hampir terlepas dari
pegangan Lian Ci Tojin yang ikut terpental dan berputar setengah lingkaran. Ketika dia memandang,
Keng Hong telah meloncat jauh melampaui kepala para tosu.
.
"Kejar dia! Jangan perbolehkan dia masuk! Bentak Sian Ti Tojin yang meloncat pula dengan gerakan
cepat sekali, seperti melayang melampaui kepala anak buahnya. Akan tetapi dia tercelik karena Keng
Hong tidak terus meloncat ke dalam, melainkan menyambar balok atap dan mengayun tubuhnya
mencelat ke atas genteng. "Ha-ha-ha, Sian Ti Tojin, engkau sudah pucat ketakutan, khawatir rahasiamu
terbuka. Haa-ha-ha, betapa memalukan rahasia itu. Engkau merampas kedudukan ketua dari tangan
suhengmu sendiri, sama sekali bukan mengandalkan kepandaian, sama sekali bukan karena engkau lebih
lihai daripada Kiang Tojin, melainkan karena engkau dibantu oleh seorang tokoh kaum sesat, dibantu
oleh Ang-kiam Tok Sian-li Bhe Cui Im yang dahulu menjadi murid Lam-hai Sin-ni dan yang kini memakai
julukan Ang-kiam Bu-tek. Eh, Lian Ci Tojin, bukankah engkau telah menjadi sahabat baiknya? Dia
manis sekali, bukan? Apakah engkau suka mencium tahi lalat merah di tubuhnya? Ha-ha-ha!" Entah
bagaimana, dalam kemarahannya ini Keng Hong tidak menyadari bahwa dia bersikap gembira dan nakal,
tidak menyadari bahwa kini dia telah bersikap persis seperti sikap Sin-jia Kiam-ong di waktu muda.
Dia ingat bahwa di tubuh Cui Im terdapat sebuah tahi lalat merah, maka dia sengaja mengejek Lian Ci
Tojin yang dia dapat menyangka tentu melayani gadis cantik dan lihai itu dalam bermain asmara, karena
biarpun usianya sudah empat puluh lima puluh lebih, mungkin lima puluh tahun, tosu ini termasuk seorang
pria yang gagah dan tampan. Apalagai kalau dia ingat betapa Lian Ci Tojin kurang kuat menahan
nafsunya sehingga sampai hati melakukan pemerkosaan terhadap seorang, yaitu Tan Hun Bwee.
"Binatang kurang ajar!" Lian Ci Tojin dalam kemarahannya karena terdorong malu, membuat gerakan
dengan kedua kakinya, memutar tubuh dan kedua lengan kemudian secara tiba-tiba sekali tangan
kanannya sudah melontarkan pedangnya yang meluncur seperti anak panah, lebih cepat lagi malah,
menuju ke perut Keng Hong. Pedang itu berubah menjadi sinar terang saking lajunya, dan mengeluarkan
suara berdesing.
Keng Hong setelah mempelajari kitab Thai kek Sin-kun peninggalan Thai Kek Couwsu yang merupakan
inti sari ilmu silat Kun-lun-pai, mengenal gerakan itu, dan cepat dia melompat ke samping sambil
menyambar pedang itu dengan kedua jari tangan telunjuk dan jari tengah, mengepitnya, kemudian
meloncat turun kembali. Enam orang murid thian Seng Cinjin terkejut dan melongo. Yang diperlihatkan
Keng hong dalam menyambut pedang yang disambitkan tadi adalah jurus Yan-cu-phok-li (Burung Walet
Menyambar Ikan), jurus yang khusus dalam ilmu silat Kun-lun-pai untuk menghadapi serangan yang
khusus pula, yaitu penyambitan pedang yang disebut jurus terakhir Sin-lion-hian -bwe (Naga Sakti
Mengulur Buntut).
"Hemmm, Lian Ci Tojin, betapapun kejam dan ganas hatimu, namun jurus Sin-liong-hian-bwe ini masih
jauh dari pada sempurna. Melontar pedang menuju sasaran barulah tepat kalau pencurahan perhatian
memusat pada satu titik, akan tetapi pikiranmu sudah banyak bercabang, di antaranya bercabang pada
kedudukan, pada kemewahan, dan terutama sekali bercabang kepada kulit kuning wajah cantik!
Kau lihatlah baik-baik dan baru tahu bahwa sesungguhnya Sin-liong-hian-bwe dari Kun-lun-pai amatlah
lihainya!" Keng Hong yang berada di atas genteng itu menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya
berputar seperti yang dilakukan Lian Ci Tojin tadi, kemudian dia melontarkan pedang yang ditangkapnya
tadi ke arah Lian Ci Tojin. Pedang itu meluncur bagaikan kilat menyambar, tidak mengeluarkan bunyi
akan tetapi justeru tidak berbunyi inilah yang amat lihai. Dapat menyambitkan pedang sedemikian
cepatnya tanpa pedang itu mengeluarkan bunyi, benar-benar merupakan kemahiran dan tingkat yang
terlalu tinggi bagi para murid Thian Seng Cinjin. Lian Ci Tojin kaget bukan main. "Celaka …!" serunya
dan dia cepat menggunakan gerakan yan-su-phok-hi untuk menghindarkan diri. Ia meloncat, membalik
dan tangannya bergerak, bukan untuk menjepit pedang karena kecepatan pedang itu membuat tosu ini
jerih untuk menjepitnya dengan dua jari tangan, maka sebagai gantinya dia menggebut pedang itu dengan
itu menyambar terlalu cepat dan ketika dia kebut dengan ujung lengan bajunya Akan tetapi pedang itu
.
menyambar terlalu cepat dan ketika dia kebut dengan ujung lengan baju, masih meluncur terus bahkan
ujung lengan bajunya yang buntung.
"Aihhh...!" Lian Ci Tojin menjadi pucat melihat pedang itu tadi telah menyambar dan membabat putus
segumpal rambutnya dan kini rambut segumpal bersama kain dengan lengan baju sepotong yang tadi
terbabat dan menyangkut pada gagang pedang, tampak di atas tanah, tertikam pedang yang amblas
sampai ke gagangnya ke dalam tanah!
Gegerlah para tosu menyaksikan hal ini, terutama sekali enam orang pimpinan Kun-lun-pai menjadi
pucat mukanya. Mereka maklum bahwa pemuda itu kini telah menjadi orang yang lihai sekali dan amatlah
berbahaya bagi Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin kalau tidak segera dibinasakan.
"Kejar! Kepung! Bunuh!" Sian Ti Tojin berseru keras dan semua tosu yang mentaati perintahnya telah
mengepung tempat itu dan siap untuk meloncat naik ke atas genteng mengeroyok Keng Hong
"Heh, para tosu Kun-lun-pai, dengarlah baik-baik!" Keng Hong berteriak dan karena pemuda ini
menggunakan tenaga khikang, maka suaranya menggetarkan jantung semua tosu, terasuk
tokoh-tokohnya sehingga mereka terkejut sekali, bahkan beberapa orang anak murid Kun-lun-pai yang
masih belum kuat benar sinkangnya, kedua kaki mereka menjadi lemas dan mereka roboh terguling
begitu mendengar suara Keng Hong yang mengandung getaran khikang yang amat kuatnya itu. "Menurut
aturan sesungguhnya Kiang Tojin yang patut menjadi ketua Kun-lun-pai, selain beliau adalah murid tertua
mendiang Thian Seng Cinjin, juga memiliki tingkat kepandaian tertinggi dan mempunyai pula sifat-sifat
yang berdisiplin , bijaksana, berpemandangan luas. Akan tetapi kedudukan ketua telah dirampas oleh
Sian Ti Tojin secara curang, yaitu menggunakan bantuan seorang iblis betina golongan sesat. Kalau kalian
insyaf, demi menjaga nama besar Kun-lun-pai, bebaskan Kiang Tojin dan angkat beliau sebagai ketua!
Aku tidak ingin mencampuri urusan Kun-lun-pai, hanya memberi nasihat mengingat bahwa aku pernah
hidup di sini. Sekarang, aku ingin berjumpa dan bicara dengan Kiang Tojin. !"
Dari atas genteng Keng Hong dapat melihat jelas betapa pada wajah sebagian besar para tosu
Kun-lun-pai tampak keraguan dan bahkan persetujuan dengan anjurannya itu, maka berisiklah keadaan
di bawah itu karena para tosu saling berbisik-bisik.
"Diam semua! Siapa hendak memberontak akan kubunuh dengan tongkatku ini!" Sian Ti Tojin
membentak dan diamlah para tosu itu. "Hayo kalian membantu pinto menangkap dan membunuh
pengacau Kun-lun-pai itu!"
Para tosu kembali menjadi berisik sekali dan mereka itu, seperti rombongan semut diganggu bersiap
untuk mengeroyok Keng Hong.
***
"Tahan semua..!" Tiba-tiba terdengar nyaring dan sesosok tubuh berkelebat naik ke atas genteng.
Tahu-tahu Kiang Tojin telah berdiri di depan Keng Hong! "Cia Keng Hong, engkau pengacau terbesar di
dunia! Mau apa engkau hendak berjumpa dengan pinto? Masih ada muka untuk bicara dengan pinto?
Bicara apa lagi?" Kiang Tojin membentak Keng Hong dengan sikap keren dan mata memancarkan
kemarahan.
Keng Hong memandang tosu penolongnya itu dan hatinya terharu. Pakaian tosu ini kumal dan
robek-robek, rambut kusut, wajahnya pucat dan tubuhnya kurus sekali. Kedua lengannya diborgol pada
pergelangan tangan. Yang masih tetap tampak bersemangat bahkan kini lebih tajam sinarnya adalah
sepasang mata kakek ini. Keng Hong cepat menjura dengan penuh hormat dan menjawab.
.
"Totiang, mohon maaf atas kelancangan saya.Akan tetapi saya mendengar bahwa Totiang dicurangi,
bahkan dihukum dan saya datang dengan maksud membantu.."
"Pinto tidak membutuhkan bantuanmu, Keng Hong. Dan tentang urusan kedudukan ketua Kun-lun-pai,
tongkat ketua telah di tangan suteku Sian Ti Tojin, juga urusan dalam Kun-lun-pai. Engkau tidak
berhak..."
"Kalau saya tidak berhak mencampuri, mengapa Ang-kiam Bu-tek mencampurinya dan membantu
mereka yang merampas kedudukan Totiang?"
Tiba-tiba sepasang mata itu menjadi makin bersinar marah. "Perempuan itu! Tidak menyebutnya masih
tidak mengapa, akan tetapi setelah menyebutnya, betapa... tidak punya malu engkau, Cia keng Hong!"
"Eh, apakah maksud Totiang ?"
Tosu tua itu memandang Keng Hong dengan kepala dikedikkan ke belakang matanya memandang
setengah terkatup dan cuping hidungnya bergetar. "Cia Keng Hong, engkau menolak permintaan banyak
tokoh kang-ouw gagah perkasa yang menginginkan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong.
Andaikata engkau mengkhianati gurumu dan menyerahkan pusaka itu kepada para tokoh kang-ouw
yang akan mempergunakan untuk perjuangan membela kebenaran dan keadilan, itu sih masih tidak
mengapa. Akan tetapi engkau telah menyerahkan pusaka gurumu kepada seorang wanita seperti murid
Lam-hai Sin-ni! Cia Keng Hong , kemana larinya kesadaran dan kebijaksanaanmu?"
"Saya tidak menyerahkan ,melainkan dia yang telah mencurinya. Kiang-totiang, mengapa Totiang
membiarkan pengaruh jahat menyelundup ke Kun-lun-pai? Apakah sudah tepat kalau Totiang mengalah
dan menerima dihukum begitu saja dan membiarkan Kun-lun-pai melalui jalan yang menuju ke arah
penyelewengan? Apakah pertanggungan jawab Totiang terhadap Kun-lun-pai, terhadap Thai Kek
Couwsu pendiri Kun-lun-pai? Kemana larinya kesetiaan Totiang terhadap Kun-lun-pai?"
"Cia Keng hong, tutup mulutmu dan jangan mencampuri urusan Kun-lun-pai. Pinto sudah dikalahkan,
tongkat ketua telah dirampas, mau berkata apa lagi? Biarlah, ini adalah urusan pribadi pinto sendiri!"
"Demikian pula, urusan peninggalan harta pusaka suhu adalah urusan pribadi saya, Totiang. Tidak perlu
orang lain memusingkannya. Sekarang, saya pun tidak mau mencampuri urusan Totiang dengan
Kun-lun-pai, akan tetapi saya ingin menyampaikan pesan Thai Kek Couwsu kepada Totiang."
"Iiiihhhh...!!!" Terdengar seruan-seruan kaget dari para tosu di bawah genteng. "Keng Hong, apa yang
kau katakan ini? Keng Hong, bocah yang sejak dahulu pinto anggap sebagai putera sendiri. Ah,
benarkah engkau begini kejam, selain selalu mendatangkan rasa kecewa, kini malah berani menggunakan
nama Couwsu untuk main-main di depan pinto?" Kiang Tojin memandang dengan muka sedih dan suara
gemetar.
Keng Hong terharu sekali dan menjatuhkan diri berlutut. "Tidak, Totiang, saya mana berani
mempermainkan Totiang yang saya junjung tinggi dan yang tak pernah saya lupakan budi Totiang yang
amat besar terhadap saya?
Saya telah menemukan rangka Thai kek Couwsu, bahkan saya telah menyempurnakannya dengan
membakar rangkanya dan menyebarkan abunya di atas lereng batu pedang." "Siancai.. siancai..
siancai...!" Terdengar Kiang Tojin dan para tosu berdoa sambil menundukkan kepala.
.
"Cia Keng Hong, untuk kesekian kalinya pinto percaya akan segala keteranganmu ini. Bangkitlah dan
katakanlah apa yang kau maksudkan dengan menyampaikan pesan Couwsu kami kepada pinto tadi."
Keng Hong bangkit berdiri dan mengeluarkan kitab kuno peninggalan Thai Kek Couwsu, dipegangnya
dengan suara lantang.
"Saya mendapatkan kitab pusaka peninggalan Thai Kek Couwsu ini di atas meja dekat rangka Thai Kek
Couwsu dan karena di situ terdapat pesan agar kitab pusaka ini diserahkan kepada calon ketua yang
baik dari Kun-lun-pai , maka saya anggap bahwa Kiang Tojin seoranglah yang berhak menerimanya!"
"Bocah jahat, berani engkau mengacau Kun-lun-pai? Serahkan kitab itu kepada pinto!" teriak Sian Ti
Tojin dan tubuh ketua baru Kun-lun-pai ini meloncat naik ke atas genteng dengan cepat sekali dan
berada di atas kepala Keng Hong, kemudian tubuh itu membalik dan menukik membuat salto,
tongkatnya ke bawah dan meluncur dalam penyerangannya, menusuk ubun-ubun Keng Hong, sedangkan
tangan kirinya meraih ke depan merampas kitab,. Melihat betapa sutenya menggunakan jurus maut
dengan ilmu tongkatnya ini, Kiang Tojin berseru terkejut, "Sute..!" "Aha, Sian Ti Tojin, masa sebagai
ketua Kun-lun-pai, jurusmu Hek-liong-lo-hai hanya seperti ini? Jauh kurang sempurna..!" Keng Hong
berkata cepat ketika menyaksikan gerakan serangan ketua Kun-lun-pai itu. Ia tidak mengelak, malah
merendahkan tubuhnya sampai berjongkok dan menanti sampai tongkat itu dekat di atas ubun-ubunnya.
Baru dia cepat-cepat miringkan pundak dan kepala, secepat kilat tangan kirinya menyambar ujung
tongkat, dibetot terus ke bawah lalu dikempit sedangkan kaki kanannya secara tiba-tiba menendang
perut Sian Ti Tojin! Kakek ini terkejut, mempertahankan tongkatnya berarti perutnya akan tertendang
dan dia mengenal jurus yang lihai ini dan tahu pula bahwa pemuda ini memiliki sinkang yang luar biasa
sekali. Menurut peraturan, tongkat pegangan ketua yang merupakan "tongkat komando" sama harganya
dengan nyawa si ketua, sama sekali tidak boleh terampas lawan. Tentu saja Sian Ti tojin sebagai ketua
baru Kun-lun-pai, juga amat sayang kepada tongkatnya itu, akan tetapi ternyata menghadapi bahaya
maut, tosu ini lebih sayang nyawanya daripada tongkatnya. Hal ini terbukti ketika dia melepaskan
tongkatnya untuk menyelamatkan diri dengan meloncat ke belakang. Akan tetapi gerakannya kurang
cepat dan ujung kaki Keng Hong masih saja menendang paha Sian Ti Tojin sehingga kakek ini berteriak
nyaring dan tubuhnya terlempar ke bawah genteng. Untung kepandaiannya cukup tinggi sehingga dia
dapat berjungkir balik dan tidak sampai terbanting.
Pada saat yang hampir bersamaan tadi, Lian Ci Tojin juga melayang naik sambil membawa pedangnya
yang sudah dia cabut dari atas tanah. Ia pun menggunakan pedang itu menyerang Keng Hong dengan
bacokan dahsyat, tepat pada saat Keng Hong habis menendang roboh Sian Ti Tojin.
"Ngo-sute (adik kelima), sungguh keterlaluan engkau!" Kiang Tojin berkata dan sebelum Keng Hong
bergerak menyambut serangan Lian Ci Tojin, Kiang Tojin sudah mengangkat kedua tangannya yang
terbelenggu dan menyambut sambaran pedang itu.
"Cring-tranggggg..! Auhhh!" Tubuh Lian Ci Tojin juga terlempar ke bawah gentang, pedangnya terlepas
dari pegangan ketika bertemu dua kali dengan baja belenggu dan dia roboh oleh tendangan Kiang Tojin
yang gerakannya sama dengan gerakan Keng Hong merobohkan Sian Ti Tojin tadi!
"Cia Keng Hong, bagaimana engkau dapat mengenal Hek-liong-lo-hai tadi dan dapat mainkan jurus
Hui-eng-coan-in (Garuda Terbang menerjang Awan) tadi? Kedua jurus itu adalah jurus-jurus simpanan
tingkat tinggi dari Kun-lun-pai!" tegur Kiang Tojin, lebih merasa kagum akan kesempurnaan gerakan
Keng Hong yang bahkan melebihi gerakannya sendiri itu daripada marah dan penasaran.
.
Keng Hong kembali menyodorkan kitab pusaka itu dengan kedua tangannya kepada Kiang Tojin.
"Maaf, Totiang, saya bukan sengaja mencuri dan tidak akan saya berani membuka rahasia ilmu-ilmu itu
kepada orang lain. Saya mendapatkannya dari sini, dan terimalah pusaka peninggalan Thai Kek Couwsu
ini! Dan karena Sian To Tojin telah begitu baik hati untuk menyerahkan tongkat ketua kepada Totiang,
sebaiknya Totiang menerimanya sekalian!" Kiang Tojin tertegun, seperti orang terpesona dia memandang
ke arah kitab, suaranya gemetar dan kedua kakinya menggigil ketika dia bertanya lirih, "Keng Hong,
bersumpahlah. Benarkah kitab itu peninggalan Couwsu?"
"Saya bersumpah demi kehormatan saya, Totiang."
Mendengar ini, Kiang Tojin menerima kitab dengan kedua tangan, membukanya dan membaca
huruf-huruf indah di halaman pertama: THAI-KEK-SIN-KUN INI DICIPTA UNTUK
CALON-CALON KETUA KUN-LUN-PAI. Wajah Kiang Tojin makin berseri ketika dia
membuka-buka kitab itu, kemudian mengangkat tinggi-tinggi kitab itu di atas kepalanya, menghadapi
semua tosu di bawah genteng dan berteriak,
"Para murid Kun-lun-pai! Kitab ini benar-benar peninggalan Couwsu kita! Marilah kita menghaturkan
terima kasih kepada Couwsu!" Kiang Tojin ,menjatuhkan diri berlutut dan semua tosu di bawah genteng
pun lalu menjatuhkan diri berlutut di atas tanah!
"Teecu sekalian menghaturkan syukur dan terima kasih atas budi kecintaan Couwsu yang telah
meninggalkan kitab teecu sekalian.
***
Teecu bersumpah untuk menjunjung tinggi peninggalan Couwsu dan mencamkan semua ajaran
Couwsu!"
Wajah Kiang Tojin berseri-seri dan matanya bersinar ketika dia bangkit berdiri lagi. Dengan lantang dia
berkata, "Engkau benar, Keng Hong. Kesulitan-kesulitan dan urusan-urusan pribadi harus disingkirkan
dan dikesampingkan jika menghadapi urusan perkumpulan! Kun-lun-pai perlu dibangun, perlu diperkuat
dan karena couwsu berkenan meninggalkan pusaka ini kepada pinto, maka pinto berhak menjadi ketua!
Juga tongkat ketua, berkat ketangkasanmu, telah dapat dirampas kembali. Siapakah di antara para
saudara yang tidak setuju kalau pinto menjadi ketua Kun-lun-pai?"
Tak seorang pun di antara para tosu berani mengeluarkan suara, bahkan empat orang tosu yang menjadi
adik-adik seperguruan Kiang Tojin, memandang kepada kakek seperguruan tertua itu dengan sinar mata
penuh harapan. Kemudian semua tosu mengerling ke arah Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin yang berdiri
dengan muka pucat.
"Cia Keng Hong, selama hidup pinto takkan melupakan perbuatanmu ini dan sekali waktu pinto akan
membalas dendam ini!" bentak Lian Ci Tojin sambil mengertakkan giginya.
"Cia Keng Hong, engkau telah berani merampas tongkat ketua dan menggunakan kekerasan untuk
mencampuri urusan Kun-lun-pai. Selamanya Kun-lun-pai akan mengutukmu dan menganggapmu sebagai
musuh besar!" kata pula Sian Ti Tojin.
Keng Hong tertawa, "Pemutarbalikan fakta merupakan fitnah keji, Ji-wi Totiang. Aku tidak mencampuri
urusan Kun-lun-pai dan tentang tongkat, siapakah yang bergerak lebih dulu melakukan serangan ? Aku
hanya membela diri dan salahmu sendiri mengapa sebagai ketua kurang sempurna ilmumu, dan mengapa
pula kau meninggalkan tongkatmu ke tanganku. Bukankah seorang ketua Kun-lun-pai harus menjaga
.
tongkatnya seperti menjaga nyawa sendiri? Sekarang terserah kepadamu. Lawanlah Kiang Tojin kalau
memang kau merasa lebih berhak dan lebih pandai.
Adapun aku.., hemm, aku hanya menjadi saksi dan aku yang akan turun tangan menghadapinya kalau
kau minta bantuan tokoh-tokoh kaum sesat!" Melihat betapa dua orang tosu itu diam saja, hanya
memandang kepada Keng Hong dengan pandang mata melotot penuh kebencian, Kiang Tojin lalu
menggerakkan kedua tangannya dan terdengarlah suara berkerotokan ketika belenggu pergelangan
tangannya patah-patah. "Ji-sute dan Ngo-sute, kalian juga mengerti sendiri mengapa pinto mengalah.
Pertama untuk memenuhi janji bahwa siapa yang kalah harus memberikan kedudukan ketua. Pinto telah
kalah oleh Ang-kiam Bu-tek yang mewakilimu, dan tongkat ketua telah dapat dirampas dari tangan pinto.
Hanya karena pinto tidak mmenghendaki perpecahan di Kun-lun-pai sesuai dengan pesan suhu, maka
pinto mengalah, suka diperlakukan sebagai orang hukuman. Andaikata pinto tidak mau menerima dan
melawan setelah Ang-kiam Bu-tek pergi tentu kalian berdua tidak akan mampu melawan dan
mengalahkan pinto. Kini, pinto sadar bahwa sesungguhnya kalian telah menyelewengkan Kun-lun-pai dan
bahwa sikap mengalah dari pinto tidak benar, bahkan merupakan pengkhianatan terhadap Kun-lun-pai,
terhadap suhu yang telah menaruh kepercayaan kepada pinto. Dahulu tongkat ini dirampas dari tangan
pinto oleh Ang-kiam Bu-tek, kini kembali ke tangan pinto atas bantuan Cia Keng Hong. Hal ini sudah
sewajarnya maka pinto suka menerima kembali ini. Apalagi setelah pinto harus meminpin para anak
murid Kun-lun-pai seperti yang dikehendaki pendirinya yaitu Couwsu kita!"
"Kiang Tojin, kelak kita akan saling berjumpa kembali!" Terdengar suara Sian Ti Tojin penuh
kemarahan dan dendam. "Mulai detik ini, aku bukan lagi tosu Kun-lun-pai!"
"Sute...!!" Kiang Tojin berseru, akan tetapi Sian Ti Tojin sudah menoleh kepada Lian Ci Tojin dan
berkata singkat, "Hayo kita pergi!"
Dua orang tosu itu sudah meloncat pergi. Keng hong bergerak hendak mengejar sambil berkata lirih,
"Dia harus dibasmi..!"
Kiang Tojin mengira bahwa Keng Hong hendak mebunuh mereka karena sikap mereka sebagai
murid-murid Kun-lu-pai yang murtad, maka dia cepat mencegah, "Jangan, biarkan mereka pergi.. ini
urusan Kun-lun-pai…."
Sebetulnya Keng Hong berniat membunuh Lian Ci Tojin atas perbuatannya terhadap Tan Hun Bwee
dahulu, akan tetapi mendengar cegahan ini, dia menjadi tidak enak hati terhadap Kiang Tojin dan
mengurungkan niatnya. Sikap dua orang tokoh Kun-lun-pai itu sudah cukup menghancurkan hati Kiang
Tojin.
Para tosu yang tadinya bersekutu dengan Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin menjadi ketakutan sendiri dan
mereka itu menerima dengan penuh kerelaan hati ketika Kiang Tojin mengatakan bahwa siapa yang
merasa bersalah dipersilakan untuk menghukum diri sendiri di dalam ruangan "pencuci dosa" dan
kamar-kamar "penyesalan diri". Berbondong-bondong para tosu yang merasa bersalah, hampir dua puluh
orang banyaknya, pergi memasuki tempat-tempat yang khusus di adakan oleh Kun-lun-pai untuk
menyesali perbuatan sendiri yang tersesat bagi murid-murid Kun-lun-pai.
Diam-diam Keng Hong menjadi girang dan juga kagum sekali. Ternyata bahwa Kiang Tojin masih
cukup berwibawa dan para tosu yang bermain asmara dengan wanita dusun di lereng gunung dan dia
tersenyum sendiri. Salahkah tosu itu? Tidak ! Tidak salah, hanya lemah terhadap pantangan yang
memang diadakan oleh golongan mereka dan yang sudah diakui olehnya sendiri! Bersalah kiranya orang
yang melanggar larangan yang sudah diakuinya sendiri bahwa larangan itu tak boleh dilanggar.
.
"Keng Hong, kedatanganmu seperti datangnya dewa yang menyadarkan pinto dari mimpi buruk. Dan
besar sekali budimu terhadap Kun-lun-pai dan terhadap Couwsu kami. Tidaklah percuma kiranya ketika
Thian dahulu menggerakkan hati pinto untuk membawamu ke sini, Keng Hong. Sekarang ceritakanlah,
bagaimana engkau dapat menemukan tempat bertapa mendiang Couwsu, dan bagaimana pula semua
pusaka gurumu sampai dapat tercuri oleh Ang-kiam Tok-sian-li yang sekarang menjadi begitu lihai dan
berjuluk Ang-kiam Bu-tek?"
Keng hong yang kini diajak duduk di ruangan dalam oleh Kiang Tojin yang sudah menjadi ketua
Kun-lun-pai, segera menceritakan pengalamannya semenjak dia dikejar-kejar dan naik ke puncak batu
pedang. Di antara seluruh manusia di dunia ini, hanya kepada Kiang Tojinlah satu-satunya tokoh
kang-ouw yang boleh dipercaya dan yang sama sekali tidak memiliki niat buruk terhadap dirinya, tidak
pula menginginkan harta pusaka dan kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, Ia menceritakan betapa
akhirnya dia berhasil mendapatkan tempat rahasia penyimpanan pusaka gurunya, akan tetapi betapa
terpaksa dia mengajak Cui Im karena selain gadis itu telah menolongnya, juga kalau tidak dia ajak, tentu
gadis itu terancam keselamatannya oleh para tokoh kang-ouw yang mengejarnya. Diceritakan selanjutnya
betapa dia tertipu oleh Cui Im itu, terjebak di ujung seberang jurang akan tetapi akhirnya kekejian Bui Im
itu bahkan membuat dia berhasil menemukan tempat rahasia di mana terdapat rangka dan kitab
peninggalan Thai Kek Couwsu ! Akhirnya dia menceritakan perjalanannya keluar dari tempat rahasia itu.
Ia menceritakan dengan singkat, melewatkan saja keterangan tentang tempat itu sendiri, dan tidak
menyebut-nyebut hal lain, misalnya pengetahuannya terhadap kekejian Lian Ci Tojin terhadap Tan Hun
Bwee, maupun tosu Kun-lun-pai yang bermain cinta dengan wanita dusun.
Kiang Tojin mengelus jenggotnya yang panjang dan menarik napas panjang. "Aaah, baru empat tahun
mempelajari kitab-kitab peninggalan suhumu, gadis itu sudah sedemikian lihainya sehingga aku roboh di
tangannya! Dan kitab-kitab itu dibawanya semua!"
"Saya pun merasa menyesal sekali, Totiang. Semua itu akibat kelalaian saya, merupakan kesalahan dan
tanggung jawab saya. Saya sudah mengambil keputusan untuk mencari Cui Im sampai dapat, merampas
semua kitab-kitab peninggalan suhu yang dicurinya, kemudian saya akan mengembalikan kitab-kitab dan
pedang-pedang pusaka kepada orang yang berhak."
"Baik sekali pendirianmu, Keng Hong. Gurumu Sie Cun Hong bukanlah seorang yang jahat atau
berdasarkan watak yang buruk. Tidak sama sekali, dia adalah seorang taihiap, seorang pendekar besar
yang selain lihai sekali, juga selalu siap menentang segala kejahatan dan mempertaruhkan nyawa untuk
membela kebenaran, keadilan dan kebajikan. Akan tetapi dia berwatak aneh, tidak mengindahkan
hukum-hukum yang diperbuat manusia, bertindak seenak hatinya sendiri asalkan bersandar kebenaran
menurut penilaiannya. Boleh jadi gurumu telah menolong ribuan orang, telah menentang ribuan kejahatan,
akan tetapi karena wataknya yang ugal-ugalan, sukanya akan wanita cantik tanpa memperdulikan apakah
wanita itu isteri orang ataukah gadis, asal suka kepadanya tentu akan dia layani, kemudian ditambah
dengan kesukaannya akan benda-benda pusaka yang tidak segan dicurinya dari tangan orang lain
menggunakan kepandaiannya, maka segala kebaikannya itu dilupakan orang dan dia dimusuhi. Karena
itu, pendirianmu untuk mengembalikan benda-benda pusaka yang dahulu dicuri atau dirampas suhumu,
merupakan kebaktian pada gurumu, mencuci noda pada namanya. Dan engkau tidak perlu menjadi
penasaran menghadapi kenyataan bahwa benda-benda pusaka itu dicuri orang, karena benda yang
mudah didapat akan mudah lenyap pula, benda yang didapat dengan mencuri tentu akan lenyap tercuri,
siapa menanam pohonnya dia memetik buahnya."
***
Keng Hong mengangguk-angguk dan berkata. "Saya mengenal watak mendiang suhu, Totiang , dan
saya tidak dapat menyalahkannya. Memang, selagi masih hidup tidak menikmatinya, apa gunanya segala
.
anugerah yang diberikan Thian kepada manusia? Menikmati kesenangan hidup adalah hak manusia,
asalkan si manusia dapat mengekang diri, dapat mengendalikan nafsu yang mendorongnya untuk
menikmati kesenangan duniawi, sehingga tidak sampai mabuk, tidak sampai melupakan kebajikan dan
melakukan kejahatan hanya untuk pemuasan nafsu. Pemuasan nafsu dilakukan dengan wajar tanpa
merugikan orang lain adalah kenikmatan yang menjadi anugerah Thian, mengapa ditolak? Maaf, Totiang,
tentu saja pendirian seorang pendeta seperti Totiang lain lagi. Hanya sebaiknya diingat bahwa suhu
bukanlah pendeta, melainkan manusia biasa."
Kiang Tojin mengerutkan alis dan menghela napas panjang. "Pinto tidak dapat menyalahkan siapa-siapa.
Ada baik ada buruk, hal itu sudah wajar. Ada senang ada susah, memang saudara kembarnya yang
takkan dapat dipisahkan. Yang mencari senang akan bertemu susah, itu memang resikonya dan sudah
semestinya. Pengertian saja belum cukup. Karena itu, engkau yang masih muda memang baru akan dapat
mengerti dengan sempurna setelah digodok pengalaman dan sudah menjadi hakmu untuk mengalami
segala hal di dunia ini. Hanya pesanku Keng Hong, pengalaman pahit jauh lebih berharga daripada
pengalaman manis, dan ingat pula bahwa sesal kemudian sama sekali tiada gunanya. Ingat bahwa
kebenaran yang mendatangkan kesenangan di hati sendiri belum tentu kebenaran yang sejati. Kebenaran
yang mendatangkan kesenangan di hati orang lain itu pun hanya lebih dekat dengan yang sejati, Engkau
bebas untuk bergerak dalam hidup, dan guru yang paling dapat diandalkan adalah GURU SEJATI yang
berada di dalam dirimu pribadi."
Setelah banyak-banyak menerima wejangan Kiang Tojin, akhirnya Keng Hong meninggalkan
Kun-lun-pai dengan dada lapang bahwa dia telah dapat membantu memulihkan keadaan Kun-lun-pai
dan biarpun sedikit dapat pula menebus budi kebaikan Kiang Tojin.
"Aaauuuuuuhhhh... toloooooonggg...!"
Jerit melengking wanita ini tiba-tiba terdiam, memang leher yang dicekik tentu saja takkan dapat menjerit
lagi. Jerit itu keluar dari sebuah kamar yang indah dan diterangi sinar lilin terbungkus sutera merah,
remang-remang romantis menambah keindahan kamar yang berbau harum itu. Akan tetapi apa yang
terjadi di dalam kamar pada malam hari itu, seorang gadis remaja, puteri hartawan dan bangsawan yang
menjadi kembang kota itu, tertimpa malapetaka. Ketika ia sedang tidur pulas tadi, tiba-tiba ia terbangun
dan hampir ia pingsan ketika melihat betapa seorang laki-laki yang berpakaian mewah dan berwajah
tampan sedang memeluk dan menciuminya dan jari-jari tangan laki-laki ini merenggut-ranggutkan
pakaiannya sehingga robek-robek. Sejenak gadis itu tidak dapat menjerit saking kaget dan juga karena
mulutnya tertutup oleh ciuman-ciuman penuh nafsu yang membuatnya bernapas pun sukar, apalagi
menjerit. Ia hanya dapat membelalakkan mata dan meronta-ronta, namun agaknya gerakannya meronta
ini menabah berkobarnya nafsu jalang laki-laki itu.
"Diamlah manisku, diamlah nona... aduh, betapa cantik jelita engkau.." laki-laki itu berbisik dengan
napas mendengus-dengus dan kesempatan ini dipergunakan oleh nona yang mulutnya bebas. Akan tetapi
hanya satu kali saja dia dapat menjerit karena mulutnya segera tertutup kembali oleh mulut laki-laki itu
dan lehernya dilingkari jari-jari tangan yang kuat.
"Kalau kau menjerit lagi, kucekik mampus kau!" laki-laki itu mendesiskan bisikan marah, akan tetapi
gadis itu tak dapat menjerit lagi karena saking ngeri dan takutnya ia telah kehilangan suara dan setengah
pingsan.
Akan tetapi jeritnya yang satu kali tadi sudah cukup. Ayahnya adalah seorang bangsawan, seorang
bangsawan, seorang pembesar militer yang berjasa dalam perang, sebagai seorang di antara panglia dari
utara. Pada malam hari itu, ayahnya sedang menjamu banyak orang gagah yang dahulu membantu
gerakan bala tentara dari utara yang dipimpin oleh Raja Muda Yung Lo yang gagah perkasa. Malam hari
.
itu, ada lima orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi sedang dijamu ayahnya. Karena ini, jerit
melengking itu segera terdengar oleh mereka dan bersama panglima ayah gadis itu sendiri mereka
berenam sudah berkelebat cepat sekali menuju ke kamar si gadis.
“A-hwi..!" Panglima itu berseru memanggil puterinya, akan tetapi tidak ada jawaban. Sambil menggereng
penuh kekhawatiran, yang tinggi besar menerjang daun pintu kamar puterinya. Daun pintu bobol dan
roboh, disusul enam bayangan orang gagah itu berkelebat memasuki kamar.
"A-hwi....!" Kini teriakan panglima itu adalah teriakan yang menyayat hati, teriakan setengah marah
setengah menangis menyaksikan keadaan puterinya yang rebah terlentang dalam keadaan telanjang dan
matanya mendelik, lidahnya keluar, tidak bernapas lagi! Jelas bahwa dia mati tercekik.
Lima orang gagah itu adalah orang-orang yang berpengalaman. Melihat keadaan kamar sekelebatan
saja, mereka sudah menemukan lubang di atas rumah, maka seperti berlumba mereka lalu melayang naik
melalui lubang itu menembus atap dan hinggap di atas genteng. Mereka melihat bayangan orang berjalan
seenaknya di atas genteng meninggalkan tempat itu. "Berhenti...!" Lima orang itu meloncat maju
mengejar.
Bayangan yang melangkah seenaknya di atas genteng itu berhenti lalu membalikkan tubuhnya
menghadapi lima orang itu.
Mereka berlima tercegang ketika melihat bahwa bayangan itu adalah seorang laki-laki yang usianya
kurang lebih empat puluh tahun, berwajah tampan sekali dan tubuhnya tinggi besar gagah. Pakaiannya
indah dan mewah, muka dan rambutnya juga terpelihara baik-baik. Seorang laki-laki pesolek yang
menambah halusnya wajah dengan bedak halus tipis bahkan kehitaman alis dan kemerahan bibir itu pun
amat diragukan keasliannya. Ketika lima orang kang-ouw yang tak mengenal laki-laki ini melihat
perhiasan bunga teratai emas di atas dada laki-laki itu, mereka terkejut dan seorang diantara mereka
berseru.
"Kim-lian jai-hwa-ong!!"
Nama ini memang amat terkenal di dunia kang-ouw semenjak belasan tahun yang lalu. Dunia kang-ouw
sudah geger sejak lama oleh munculnya nama ini, akan tetapi karena tokoh dunia hitam ini tak pernah
mengganggu orang-orang kang-ouw dan selalu menjauhkan diri dari bentrokan, maka jarang ada yang
mengenal orangnya. Hal ini bukan saja karena tokoh ini jarang memperlihatkan muka, juga hebatnya
adalah bahwa setiap kali ada tokoh kang-ouw bertemu dengan dia, tentu tokoh kang-ouw itu kedapatan
tewas. Dengan demikian orang kang-ouw yang pernah bertemu dengan dia tidak ada kesempatan lagi
menceritakan kepada lain orang bagaimana macamnya tokoh ini. Dia dijuluki Kim-lian (Teratai Emas)
karena bajunya selalu dihiasi perhiasan bunga teratai dari emas. Dan julukannya Jai-hwa-hong (Raja
Pemetik Bunga) sudah jelas menyatakan apakah macam "pekerjaan" tokoh ini, yaitu memetik bunga atau
pemerkosa wanita di samping menyambar perhiasan-perhiasan berharga yang berada di kamar
wanita-wanita itu.
Itulah sebabnya mengapa lima orang kang-ouw itu kaget setengah mati ketika melihat hiasan bunga
teratai merah di dada laki-laki itu. Sudah menjadi kembang bibir di dunia kang-ouw bahwa bertemu
Kim-lian Jai-hwa-ong berarti bertemu dengan maut sendiri!
Akan tetapi, mereka berlima adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi maka tentu saja
tidak menjadi gentar, apalagi mengingat betapa penjahat ini telah membunuh puteri tuan rumah, membuat
mereka marah sekali.
.
Jai-hwa-ong itu tersenyum dan sinar bulan yang menimpa wajahnya membuat wajah itu tampak makin
tampan, senyumnya memikat dan giginya berkilauan putih bersih. Kumis tipis dia atas bibir itu
bergerak-gerak ketika dia berkata lirih mengejek.
"Kalian berlima sudah mengenal aku, tahukah kalian apa jadinya dengan orang yang mengenalku?"
Kim-lian Jai-hwa-ong, engkau boleh saja terkenal sebagai pembunuh setiap orang kang-ouw yang
bertemu denganmu. Akan tetapi jangan mengira kami takut menghadapi seorang penjahat rendah macam
engkau! Kami Pak-san Ngo-houw (Lima Harimau Pegunungan Utara) sudah mengikuti penyerbuan
tentara utara ke selatan, sudah menghadapi penderitaan dan ancaman maut ribuan kali, dan entah sudah
berapa ratus penjahat macam engkau ini kami basmi!" bentak seorang di antara lima orang tokoh dengan
ucapan ini, mereka berlima sudah mencabut golok masing-masing sehingga tampak sinar-sinar berkilat.
Namun laki-laki pesolek itu tidak keliatan marah memperlebar senyumnya lalu berkata, "Aha, kiranya
kalian adalah lima ekor tikus pegunungan utara? Bagus sekali! Biarlah kalian tidak akan mati penasaran
dan kenalilah aku baik-baik. Aku bernama Siauw Lek dan aku adalah murid Go-bi Chit-kwi, maka kini
sekali bertemu dengan aku jangan harap kalian akan dapat hidup lagi!"
Lima orang gagah itu sudah menerjang sambil membentak marah sekali, golok mereka berkelebat
seperti kilat menyabar ke arah tubuh laki-laki pesolek yang masih tersenyum itu. Akan tetapi penjahat
bernama Siauw lek itu ternyata bukan bersikap sombong yang kosong belaka. Tubuhnya berkelebat dan
semua serangan golok lima buah itu mengenai tempat kosong.
***
Cepat sekali gerakan penjahat itu dan ginkangnya sudah mencapai tingkat amat tinggi sehingga begitu
diserang dia lenyap dan tahu-tahu telah berada di belakang lima orang itu sambil tertawa mengejek!
Lima orang itu cepat membalikkan tubuh sambil melintangkan golok, kemudian pemimpin mereka yang
teringat bahwa mungkin penjahat ini merupakan utusan sisa-sisa musuh di selatan, segera menahan
senjatanya dan bertanya dengan suar nyaring.
"Penjahat hina she Siauw ! Sebelum engkau mampus di tangan kami, katakanlah mengapa engkau
membunuh puteri The-ciangkun?"
Penjahat itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, kalian ingin tahu pula tentang hal itu? Nah. Dengarlah. Aku di
sebut Raja Pemetik Bunga dan memang aku suka sekali akan kembang-kembang harum bermadu. Aku
seperti seorang kumbang yang mencari madu-madu bunga. Kalau ada bunga dengan senang hati
membuka kelopaknya dan menyerahkan madunya kepadaku, aku akan terbang pergi dengan
kenang-kenangan manis. Akan tetapi kalau ada bunga tidak suka menyerahkan madunya, akan
kurontokkan dia! Dara di bawah itu tidak mau menyerah, bahkan menjerit, terpaksa ku cekik dia sampai
mati. Ada jalan hidup senang dia memilih mati konyol! Kalau dia menyerah, aku akan puas, dia akan
hidup dan senang dan... Ha-ha-ha, dasar nasib, kalian pun akan mampus!"
"Keparat hina!" Lima orang harimau gunung utara itu menjadi marah sekali dan kembali lima batang
golok mereka menyambar, Tiba-tiba tampak sinar hitam berkelebat dan di susul suara trang-trang lima
kali. Lima orang kang-ouw itu terkejut karena pedang hitam di tangan Siauw Lek yang tadi berkelebat
telah menangkis golok-golok mereka dan begitu bertemu, golok mereka patah semua!
"Tangkap penjahat...!" Terdengar seruan dari bawah dan belasan orang pengawal The -ciangkun yang
berkepandaian lumayan sudah melayang naik ke atas genteng.
.
Akan tetapi terdengar Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek tertawa, tangan kirinya bergerak dan belasan
batang senjata berberntuk paku-paku yang disebut Hek-tok-ting (Paku Racun Hitam) meluncur cepat
sekali, menyambut tubuh para pengawal yang sedang meloncat sehingga tubuh mereka terkena senjata
rahasia dan jatuh kembali ke bawah didahului teriakan-teriakan mengerikan karena sebelum tubuh
mereka terbanting ke tanah, mereka itu telah tewas oleh paku-paku yang mengandung racun jahat itu!
"Lima ekor tikus rebahlah!" Kini Siauw Lek menggerakkan pedangnya yang berwarna hitam, cepat
sekali gerakannya, pedangnya berubah menjadi sinar panjang yang mengeluarkan suara bercuitan. Lima
orang gagah itu mencoba mengelak sambil menangkis dengan golok buntung, namun sia-sia belaka
karena sinar pedang itu menebas tangan yang memegang golok terus meluncur ke arah leher mereka.
Lima orang gagah itu tidak sempat untuk berteriak pula. Tubuh mereka menggelundung dari atas genteng
dengan kepala terpisah dari tubuh!
Panglima The yang menjadi marah sekali melihat belasan orang pengawalnya roboh binasa termakan
paku-paku beracun, sudah mengepalai banyak sekali pengawal dan melompat naik ke atas genteng.
Akan tetapi mereka tidak melihat sesuatu di atas genteng. Sunyi saja dan tidak tampak bayangan seorang
pun manusia. Panglima ini menjadi marah bukan main melihat lima orang sahabatnya tewas dengan leher
putus, dan malam itu juga dia mengerahkan pasukan melakukan pengejaran dan mencari si penjahat.
Akan tetapi, mereka yang pernah melihat penjahat itu, Lima Harimau Pegunungan Utara dan para
pengawaal yang meloncat naik pertama kali, semua telah tewas. Tak seorang pun di antara yang lain
sempat melihatnya. Kemana hendak mengejar dan mencari? Orangnya pun tidak dikenal!
Kembali dunia kang-ouw menjadi geger dengan terjadinya peristiwa mengerikan itu, dan biarpun tidak
ada yang melihat penjahat itu, namun paku-paku hitam beracun itu cukup menyatakan bahwa yang
melakukan pembunuhan-pembunuhan itu bukan lain adalah Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek!
Apalagi ketika di antara para pengawal yang masih berada di bawah genteng menyatakan bahwa dia
melihat berkelebatnya sinar pedang hitam, maka orang-orang di dunia kang-ouw tidak ragu-ragu lagi
bahwa pedang itu tentulah pedang Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) senjata penjahat cabul itu.
Memang lihai sekali Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek. Kelihaiannya tidak lah mengherankan kalau
diingat bahwa dia adalah murid tunggal Go-bi Chit-kwi yang amat lihai itu. Go-bi Chit-kwi sebelum
mengundurkan diri dari dunia ramai merupakan datuk-datuk hitam yang amat ditakuti di seluruh dunia
kang-ouw. Bahkan Bu-tek Su-kwi si empat iblis yang kini menjagoi di antara golongan sesat, masih
merupakan orang-orang muda yang belum begitu ternama ketika Go-bi Chit-kwi sudah amat terkenal.
Ketika Bu-tek Su-kwi masih muda, mereka pun gentar menghadapi Tujuh Setan Go-bi, dan orang
pertama dari Bu-tek Su-kwi, yaitu Lam-hai Sin-ni, pernah dirobohkan dan hampir diperkosa oleh tujuh
setan ini kalau saja tidak muncul mendiang Sin-jiu Kiam-ong yang menolong wanita itu.
Kini Go-bi Chit-kwi telah meninggal dunia di sebuah puncak di Pegunungan Go-bi-san. Akan tetapi
sebelum mereka meninggal dunia, mereka menurunkan ilmu kepada murid mereka yang hanya seorang,
yaitu Siauw Lek. Untuk menamatkan pelajarannya pada tujuh orang guru itu, Siauw Lek belajar sampai
dua puluh tahun, dan baru setelah dia berusia tiga puluh tahun, dia turun gunung dan begitu turun gunung
setelah memiliki ilmu kepandaian tinggi, gegerlah dunia kang-ouw dengan munculnya seorang jago yang
mengumbar nafsunya dengan memperkosa wanita-wanita yang disukainya! Maka muncullah julukan
Kim-lian Jai-hwa-ong yang tak pernah dilihat orang, atau pernah pula dilihat orang-orang yang begitu
bertemu dengannya tentu dibunuhnya!
Malam hari itu hati Siauw Lek murung dan tidak puas. Ia gagal bersenang-senang dengan puteri
The-ciangkun yang tidak mau melayani hasrat hatinya bahkan berani menjerit sehingga terpaksa
.
dibunuhnya. Siauw Lek memang seorang Jai-hwa-ong (penjahat pemerkosa wanita), namun dia
mempunyai kebiasaan aneh yang dia beritahukan kepada lima orang Pak-san Ngo-houw sebelum
mereka dia bunuh, yaitu bahwa dia hanya mau memiliki wanita yang bersedia melayaninya! Kalau wanita
itu menolak, tentu dibunuhnya! Banyak wanita yang karena takut dibunuh,atau memang tertarik oleh
wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi besar, suka melayaninya dan tentu saja setelah melayani
hasrat nafsu penjahat ini, wanita-wanita itu menyimpannya sebagai rahasia besar dan tidak berani
menceritakan keadaan penjahat itu kepada orang lain karena hal itu sama saja dia telah dinodai penjahat
itu! Mereka yang menolaknya pun tidak dapat menceritakan kepada orang lain karena mereka ini tentu
dibunuh oleh Siauw Lek. Ada kalanya Siauw Lek berhasil mendapatkan pelayanan wanita yang memang
tertarik kepadanya, akan tetapi ada pula yang harus dia dapatkan dengan cara mengancam dan dalam hal
ini dia memiliki banyak cara yang keji dan tidak mengenal perikemanusiann. Dalam mencengkeram nafsu
berahinya sendiri, Siauw Lek kadang-kadang seperti bukan manusia lagi, melainkan iblis sendiri yang
memasuki tubuhnya.
Malam itu dia murung. Ia hanya berhasil membunuh banyak orang, namun dia makin ditekan dan
dihimpit oleh nafsunya sendiri yang tidak terpuaskan. Biasanya, sebelum mendatangi korbannya pada
malam hari, siangnya dia sudah melihat-lihat dan mencari-cari. Malam ini dia tidak ada tujuan tertentu
karena siang tadi dia mencurahkan perhatiannya kepada puteri panglima itu. Untuk mencari korban di
malam hari seperti itu, amat sukar karena tak mungkin dia harus mengintai setiap rumah untuk mencari
wanita yang disukainya.
"Bedebah!" Ia menyumpahi nasibnya yang dianggapnya sial malam itu. Penjahat yang berilmu tinggi ini
sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan yang amat gesit gerakannya, yang seolah-olah terbang saja
ketika mengikutinya dari jauh.
Tiba-tiba Siauw Lek berhenti berlari dan bayangan di belakangnya pun cepat menyelinap dan
bersembunyi di balik wuwungan rumah. Kiranya Siauw Lek berhenti bukan karena mengerti bahwa dia
dibayangi orang, melainkan karena dia mendengar suara bayi menangis dari rumah di sebelah depan,
sebuah rumah kecil terpencil. Hatinya tergerak. Hemmm, ada bayinya tentu ada ibunya yang muda, pikir
otaknya yang sudah terlalu kotor karena selalu dipenuhi nafsu berahi yang tidak wajar. Ia lalu melompat
ke depan, ke atas genteng rumah di depan itu dan kini tangis bayi sudah tak terdengar lagi. Dari atas
genteng, Jai-hwa-ong ini mengintai dengan jalan membuka genteng. Di bawah tampak sebuah kamar
yang sederhana namun bersih, diterangi lampu minyak yang cukup terang. Seorang laki-laki berusia tiga
puluhan tahun tidur meringkuk di sudut ranjang dengan muka menghadap dinding. Di pinggir ranjang itu
sendiri, seorang wanita muda sedang duduk menyusui bayinya yang baru berusia beberapa bulan. Ibu ini
masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya dan karena ia menyusui bayinya sendiri di dalam
kamar, wanita ini tidak ragu-ragu membuka penutup dadanya lepas-lepas sehingga tampak dua buah
bukit dada yang berkulit putih halus dan penuh seperti biasa dimiliki ibu-ibu muda yang sedang menyusui
anaknya.
Biasanya, biar mata laki-laki yang bagaiana jalang sekalipun, pemandangan ini, yaitu melihat seorang ibu
menyusui anaknya, mendatangkan pemandangan yang mengharukan, yang menyentuh perasaan karena
setiap orang pernah menyusu dada ibunya, sebuah pemandangan yang sama sekali jauh daripada daya
perangsang nafsu. Namun tidaklah demikian bagi seorang hamba nafsu berahi yang sudah separah
Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek.
***
Hati dan pikirannya sudah penuh dengan bayangan kecabulan. Sudah penuh dengan
rangsangan-rangsangan nafsu berahi sehingga penglihatan seorang ibu muda menyusui anaknya itu
mendatangkan nafsu yang menyala-nyala dalam dirinya. Ibu muda itu memang cantik dan terutama sekali
.
berkulit putih kuning dan halus, kini agaknya terbangun dari tidur, kelihatannya demikian penuh sifat
kelembutan seorang wanita. Seketika lenyaplah kemurungan dan kekecewaannya, lenyaplah bayangan
puteri Panglima The yang urung dia dapatkan dan terpaksa dia bunuh. Dengan gerakan tangannya yang
kuat dia membuka beberapa buah genteng, keudian tubuhnya menyelinap turun melalui lubang itu dan
meloncat ke dalam kamar.
"Aihhhh....!" Wanita itu berseru kaget ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki asing berdiri di depannya.
Akan tetapi dia tidak sempat menjerit lagi karena jari tangan Siauw Lek telah bergerak cepat menotok
leher wanita itu sehingga jeritannya tertahan di kerongkongan, tak dapat berteriak lagi. Wanita itu dengan
muka pucat lalu memeluk bayinya di rapatkan ke dada, bukan hanya untuk melindungi bayinya, juga
untuk menutupi buah dadanya yang telanjang. "Manis, jangan takut. Aku telah melihatmu dan jatuh cinta
kepadau. Kalau engkau mau melayani aku dengan manis, engkau takkan kubunuh, akan tetapi kalau
engkau menolak, suamimu ini akan kubunuh lebih dulu!"
Agaknya suami wanita itu mendengar suara ribut-ribut dan menggeliat lalu membalikkan tubuh,
mengedipkan matanya yang menjadi terbelalak ketika dia melihat isterinya berdiri ketakutan dan seorang
laki-laki asing berdiri di situ. Akan tetapi dia tak dapat bergerak, hanya dapat memandang dengan sinar
mata penuh kemarahan dan kekhawatiran karena pada saat itu, jari tangan Siauw Lek secepat kilat telah
menotok jalan darahnya yang membuat laki-laki di atas ranjang itu lemas dan tak dapat bergerak.
"Jangan engkau berteriak, Manis, aku tidak akan menyusahkanmu, tidak akan menyakitimu..." Kembali
Siauw Lek merayu dan tangannya bergerak menotok leher membebaskan jalan darah wanita itu sehingga
dapat mengeluarkan suara lagi.
"Ampunkan saya...." Wanita itu berkata lemah.
Siauw Lek tersenyum penuh keenangan. Ia lalu mengulur tangan menyentuh pundak yang setengah
terbuka itu, pundak yang kecil berkulit putih halus. "Engkau tidak bersalah apa-apa, Manis, kenapa minta
ampun? Aku hanya akan mencintaimu, kau layanilah aku baik-baik, balaslah cintaku dan aku tidak akan
menganggu selembar rambutmu yang halus ini..."
"Ohhh, ampun jangan ..." Wanita itu mengeluh penuh kepanikan sambil melirik ke arah suaminya yang
rebah miring tak dapat bergerak itu.
Siauw Lek mengikuti pandang mata wanita itu, menoleh ke arah laki-laki di atas ranjang lalu tersenyum.
"Ah, engkau takut kepada suamimu?" Tak usah takut, dia takkan dapat berbuat sesuatu kecuali
menonton!"
"Tidak.... lebih baik kau bunuh saja aku...!" Tiba-tiba itu menangis terisak-isak sambil mendekap tubuh
anaknya. "Aku tidak bisa...aku tidak mau...!"
Sinar bengis dan marah membayangi wajah Siauw Lek . Haruskah dia mengalami dua kali kegagalan
dalam semalam? Apakah dia kini sudah terlalu tua dan kurang pandai merayu sehingga dalam satu malam
ada dua orang wanita yang menolak cintanya?
"Hemmm, haruskah ku bunuh suamimu lebih dulu? Lihat, sekali tusuk suamimu akan mampus. Apakah
engkau masih berani mengatakan tidak mau?" Untuk menakut-nakuti, Siauw Lek sudah mencabut
pedang hitamnya dan menodongkan pedang itu di leher suami wanita itu yang terbelalak penuh kengerian.
Wanita itu memandang dengan muka pucat, hatinya bimbang. Manakah yang harus dia pilih? Melihat
suaminya dibunuh ataukah membiarkan dirinya diperkosa di depan pandang mata suaminya?
.
Ah, lebih baik mati, mati bersama suaminya. Ia tersedu menangis dan berkata. "Bunuhlah kai
berdua....bunuhlah suamiku dan aku... Dan aku... Aku tidak dapat menuruti kehendakmu... Aku tidak
mau....!"
Kini wajah Siauw Lek menjadi merah. Kalau menurutkan nafsu kemarahan hatinya, ingin dia
mengelabatkan pedangnya membunuh wanita itu, suaminya dan anaknya. Akan tetapi dia tidak mau gagal
untuk kedua kalinya malam ini, dan wanita yang baru tiga empat bulan melahirkan dan masih menyusui
nafsunya, menyentuh perasaan hatinya yang keruh oleh nafsu berahi.
Tiba-tiba Siauw Lek, tertawa dan ketika tangannya bergerak, tahu-tahu dia telah merampas bayi yang
berada di dalam pelukan ibunya tadi. Anak itu menjerit, akan tetapi kalah oleh jeritan ibunya yang amat
kaget melihat anaknya dirampas.
"Anakku.... kembalikan anakku!!"
"Hemmm, kau ingin anakmu hidup? Nah, pilihlah. Engkau melayani cintaku dengan baik-baik dan manis
atau.. melihat perut anakmu kubelek dengan ujung pedang ini!"
"Ouuuhhh.... jangan... jangan....!" Wanita itu menjatuhkan diri berlutut dan merangkul kedua kaki Siauw
Lek sambil meratap-ratap minta agar anaknya jangan dibunuh.
"Manis, engkau ingin agar anakmu hidup dan tidak kubunuh?" Siauw Lek bertanya penuh nada
keenangan dalam suaranya sambil menunduk dan melihat wajah ayu yang menengadah penuh
permohonan itu.
"Ya.... ya....., mohon kau ampuni kami, jangan bunuh anakku..."
"Hemmm, mudah saja, aku takkan membunuh anakmu akan tetapi engkau harus menuruti segala
kehendakku!" Sambil berkata demikian, Siauw Lek mengangkat tubuh bayi itu tinggi-tinggi dan membuat
gerakan seakan hendak membantingnya ke lantai.
Wanita itu tersedak, menelan ludah seperti ada sesuatu mengganjal kerongkongannya, dan
mengangguk-angguk dengan mata terbelalak memandang anaknya.
"Ya.... ya... ya, apa saja perintahmu... Akan tetapi lepaskan anakku...."
"Nah, Manis, bangkitlah." Siauw Lek menggunakan sebelah tangannya menarik tubuh wanita itu berdiri
dengan bayi masih diangkat tinggi-tinggi di tangan yang lain, dan bagaikan tak sadar diri wanita itu bangkit
berdiri, seolah-olah tidak merasa betapa tangan yang menariknya bangkit itu menggerayang dan
meraba-raba tubuhnya, bahkan ketika tangan itu merangkul lehernya dan mulutnya yang masih setengah
terisak itu dicium oleh bibir Siauw Lek dengan penuh nafsu, ia seperti tidak merasakannya, matanya
masih terbelalak melirik ke arah anaknya yang diangkat tinggi oleh tangan kiri Siauw Lek. Baru setelah
matanya mendapat kepastian bahwa anaknya tidak diapa-apakan ia sadar betapa tubuhnya
diremas-remas dan mulutnya dicium penuh nafsu sehingga ia tersedu dan meronta sedikit.
"Hemmm, kau melawan? Engkau tidak mau....?"
".. Tidak.... oh, bukan... Aku... Aku tidak melawan..." Wanita itu menggagap kepalanya pening, matanya
berkunang dan kedua kakinya menggigil karena setelah kin kepanikannya menghadapi ancaman terhadap
anaknya lenyap, ia ngeri menghadapi hal yang mengancam dirinya sendiri. "Bagus, engkau manis sekali.
Nah, kau tanggalkan pakaianmu. Semuanya!" Siauw Lek memerintah, merasa gembira sekali
.
menyaksikan betapa korbannya itu menggigil dan bingung oleh rasa takut dan malu.
Wanita itu benar-benar bingung, kedua tangannya bukan menanggalkan pakaian, bahkan kini ia baru
teringat betapa bajunya tadi dibukanya separuh ketika menyusui anaknya, kini kedua tangannya malah
menutupkan baju ini. Mukanya sebentar pucat sebentar merah, pandang matanya jelilatan dan hanya
lewat saja di muka suaminya, agaknya ia tidak berani bertemu pandang dengan suaminya.
"Eh, engkau ragu-ragu lagi? Hendak membangkang perintahku! Hemmm, kalau begitu, lebih baik
kubunuh saja anakmu ini..."
"Tidak! Oh, jangan...!" Cepat sekali karena digerakkan oleh rasa ngeri dan khawatir akan keselamatan
anaknya wanita itu meranggut lepas baju atasnya sehingga ia berdiri setengah telanjang."Jangan bunuh
anakku….."
Siauw lek tersenyum, mengangguk-angguk puas. "Kalau kau menuruti semua hasratku, kalau kau suka
melayani cinta kasihku kepadamu, tentu aku takkan menganggu anakmu, Manis. Hayo, kesinilah...!"
Siauw Lek melangkah ke dekat ranjang akan tetapi wanita itu tidak menggerakkan kakinya. Dengan
muka pucat ia berkata lemah,
"Tidak, harap... Kasihani aku.., jangan di sini…."
Siauw lek menggerakkan alisnya menoleh ke arah suami wanita itu yang rebah miring dengan mata
melotot penuh kemarahan dan kebencian, lalu tersenyum. Sebetulnya, dia akan mendapatkan rangsangan
lebih besar ladi, mendapat kepuasan lebih penuh kalau dia dapat memiliki wanita itu di depan suaminya,
di depan mata suaminya yang melotot itu. Alangkah akan senang dan lucunya! Akan tetapi, kalau dia
memaksa, tentu hal ini akan menjadi penghalang besar bagi si wanita untuk melayaninya dengan leluasa,
dan kalau terjadi demikian diapun tentu tidak akan merasa puas. Sambil tertawa dia lalu menghampiri
wanita itu dengan bayi masih menangis, diangkat tinggi-tinggi
"Kalau begitu dimana?"
"Di kamar depan ..." Wanita itu berkata sabil menundukkan muka, tidak berani sama sekali melirik ke
arah suaminya.
"Baiklah, Manis. Hayo kau tunjukkan di mana kamarnya," Siauw Lek berkata. Wanita itu tanpa menoleh
ke arah suaminya lalu membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari kamar dengan kaki gemetar dan
lesu. Siauw Lek menggerakkan tangan dan sebatang paku hitam menyambar dan menancap di antara
sepasang mata yang terbelalak melotot memandangnya itu, membuat suami itu tewas dalam detik itu pun
juga tanpa dapat mengeluh sedikit pun juga. Peristiwa ini terjadi cepat dan sedikitpun tidak mengeluarkan
suara sehingga wanita itupun tidak tahu sama sekali bahwa suaminya telah dibunuh orang.
Kamar depan itu pun sederhana sekali, hanya terisi sebuah dipan dan sebuah meja, di terangi lilin yang
dinyalakan oleh wanita itu dengan tangan gemetar.
"Anakku....biar kususui dia agar tidak menangis..." Akhirnya wanita itu berkata dengan suara pilu karena
sejak tadi anaknya menangis saja.
Sambil tersenyum Siauw Lek memberikan bayi itu kepada ibunya, kemudian dia duduk di atas bangku
menonton wanita itu yang kini tak berbaju lagi menyusui anaknya. Laki-laki yang berwatak iblis ini
menonton sambil kadang-kadang menelan ludah. Melihat bayi itu menyusu dada ibunya menimbulkan
berahi yang amat besar baginya, seolah-olah dia sendiri dapat merasai kesegaran susu ibu muda itu.
.
Akan tetapi, bayi itu selalu gelisah dan tidak mau diam, bahkan tidak dapat menyusu dengan tenang,
diseling tangis.
"Dia sudah kenyang, memang rewel dia!" cela Siauw Lek."Aku dapat menidurkannya. Kesinikan.."
Ibu itu mendekap anaknya. "Jangan ... Jangan menganggunya..."
"Ihhh, Manis, mengapa kau tidak percaya kepadaku? Aku mencintaiu, dan aku mempunyai ilmu untuk
menenangkan bocah. Kuelus-elus kepalanya sebentar saja dia akan tidur. Biarkan dia tidur agar tidak
menganggu kita. Nah kesinikanlah, biar dia tidur di situ nanti, dan bantal itu.. hemmm, kita tidak
memerlukannya. Nah, marilah, Manis, jangan khawatir, anakmu akan pulas." Ibu muda itu yang memang
merasa bingung melihat anaknya menangis terus sehingga dia khawatir kalau-kalau laki-laki itu menjadi
marah dan membunuh anaknya, akhirnya menyerahkan bayinya yang masih menangis. Siauw Lek
tersenyum dan mengelus-elus kepala bocah itu. Benar saja , tak lama kemudian anak itu tidak menangis
lagi dan dengan gerakan halus Siauw Lek menidurkan bocah itu di atas meja yang sudah ditilami kain dan
disediakan bantal oleh si ibu muda yang tentu saja menjadi lega hatinya melihat bayinya tidur pulas.
Akan tetapi segera rasa lega ini tersusul rasa panik dan ngeri ketika Siauw Lek membalikkan tubuh dan
menghadapinya dengan senyum penuh nafsu.
"Nah, bukankah benar sekali kata-kataku, Manis? Anakmu sudah tidur pulas dan kini kita dapat
bersenang-senang tanpa ada yang mengganggu. Wah, engkau benar jelita dan montok. Marilah, Manis.."
Wanita itu terusik dan melangkah maju dengan muka tunduk. Patahlah seluruh pertahanannya sebagai
wanita karena ia maklum bahwa kalau ia menolak, tentu anaknya akan dibunuh. Bagaikan orang yang
kehilangan semangat, seperti mayat hidup, ia melangkah maju dan menyerah saja ketika kedua tangan
Siauw Lek memeluk dan mendekapnya, ketika mukanya yang basah oleh air mata dihujani
ciuman-ciuman bernafsu.
Tiba-tiba Siauw Lek melepaskan tubuhnya, bahkan meloncat bangun sambil berteriak kaget, "Setan...!”
Pada saat, ada sesosok tubuh menerjang memasuki kamar dan langsung menubruk Siauw Lek. Tentu
saja penjahat yang lihai ini dengan mudah mengelak ke kiri dan mengirim tendangan yang tepat mengenai
dada orang yang menubruknya. Orang itu terjengkang dan roboh terlentang di depan dipan, di dekat
wanita yang terbelalak kaget. Ketika melihat bahwa tubuh itu adalah tubuh suaminya yang sudah mati,
yang mukanya penuh darah merah yang mengucur dari luka di antara kedua matanya, wanita itu menjerit
kaget dan memeluk tubuh suaminya.
Sementara itu. Siauw Lek kaget setengah mati sampai mukanya pucat. Belum pernah selama hidupnya
dia mengalami kaget dan serem seperti saat itu. Dia sudah yakin benar bahwa suami wanita itu telah
dibunuhnya, bahkan ketika orang itu menubruknya dan dia merobohkannya kembali dengan tendangan
dia tahu bahwa yang menubruknya adalah sesosok mayat! Benarkah ada mayat orang bisa hidup kembali
karena merasa sakit hati melihat isterinya diganggu orang lain?
Ah, tak mungkin ini! Dia tidak percaya dan tiba-tiba Siauw Lek tertawa. Yang sudah mati tetap mati,
dan kalau ada gerakan-gerakan, hal ini pasti dilakukan oleh orang yang masih hidup. Ia menendang meja
dan tubuh bayi itu pun mencelat jatuh ke atas lantai, akan tetapi sama sekali tidak bergerak, tidak
terbangun biarpun terbanting karena sesungguhnya bayi ini telah mati pula! Mati oleh jari tangan Siauw
Lek yang "mengelus-elus" ubun-ubun kepala anak itu tadi, mengelus sambil menekan sehingga bayi itu
tewas tanpa dapat mengeluarkan suara apa-apa dan disangka tidur oleh ibunya.
Wanita muda itu ketika melihat bayinya terbanting dari atas meja, menjerit keras, meninggalkan mayat
.
suaminya danm menubruk anaknya, terus diangkat, dipeluk dan didekapnya. Akan tetapi ia tersentak
kaget, memandang muka bayinya dan tiba-tiba terdengar suaranya melengking tinggi menyayat hati dan
robohlah wanita muda itu dengan tubuh lemas, roboh pingsan dengan mayat bayinya masih di dalam
pondongannya!
Siauw Lek sudah meloncat bangun ke tengah kamar, tidak memperdulikan keadaan wanita muda itu
lagi, pandang matanya berkilat ketika ditujukan ke arah pintu kamar dari mana tadi "mayat hidup" itu
menyerangnya. "Siapakah berani bermain gila dengan aku?" bentaknya, menyangka bahwa tentu ada
orang pandai mengejarnya dari rumah gedung panglima she The yang dikacaunya tadi.
Akan tetapi mata yang menyinarkan kemarahan itu berubah terbelalak penuh keheranan dan kekaguman
ketika tampak oleh Siauw Lek bahwa yang muncul dari pintu itu adalah seorang wanita yang amat cantik
jelita dan yang memasuki kamar itu dengan langkah lambat, dengan tubuh bergerak-gerak seperti menari
ketika kedua kaki itu melangkah bergantian rapat-rapat, pinggulnya yang lebar melanggang-lenggok,
pinggang yang ramping seperti patah-patah, wajah yang cantik itu tersenyum manis dengan mata
menyambar penuh tantangan, namun di balik senyum itu tampak sikap memandang rendah.
Wanita itu mengenakan pakaian sutera berkembang yang ketat membungkus tubuh, dipunggungnya
tampak gagang pedang yang beronce merah. Sukar menaksir usia wanita ini. Masih kelihatan amat muda
seperti gadis remaja dua puluhan tahun, namun senyum bibir manis dan pandang mata tajam itu sudah
amat masak sehingga patutnya dia berusia tiga puluh tahun kurang sedikit.
Wanita itu bukan lain adalah Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im! Secra kebetulan saja ia melihat Siauw Lek
menibulkan kekacauan di rumah Panglima The di malam hari itu ketika dalam perjalanan malamnya Cui
Im lewat di kota itu. Ia amat tertarik ketika mendengar bahwa laki-laki tampan gagah itulah yang
bernama julukan Kim-lian Jai-hwa-ong, julukan yang sudah banyak ia mendengarnya. Jadi inikah murid
Go-bi Cjit-kwi yang dahulu menjadi musuh besar gurunya, karena gurunya Lam-hai Sin-ni pernah dahulu
hampir diperkosa tujuh orang setan Go-bi itu. Ia menjadi kagum ketika menyaksikan cara Siauw Lek
merobohkan lawan-lawannya, maka diam-diam ia membayangi penjahat cabul itu. Ia ingin mencoba
kepandaian murid Go-bi Chit-kwi dan juga sikap dan kepribadian Siauw Lek yang penuh kejantanan itu
amat menarik hatinya, menyentuh kewanitaannya dan membangkitkan berahinya. Ketika ia membayangi
laki-laki itu, Cui Im dapat menduga bahwa dalam hal kelincahan dan keringanan tubuh, dia sendiri hanya
menang sendikit saja, dan kiranya tingkat kepandaian ginkang Siauw Lek tidak kalah jika dibandingkan
dengan seorang di antara Bu-tek Su-kwi! Ia menjadi makin kagum dan membayangi terus.
Ketika Cui Im yang mengintai perbuatan Siauw Lek di dalam pondok sederhana itu melihat kekejaman
Siauw Lek membunuh suami dan bayi dari wanita yang hendak diperkosanya itu, dia tersenyum. Bukan
main pria ini, pikirnya. Cerdik dan pandai, juga amat gagah perkasa, tidak gentar melakukan
pembunuhan betapapun kejamnya! Orang seperti ini amat ia butuhkan.
Ia perlu mempunyai seorang pembantu seperti ini, yang berilmu tinggi, yang berwatak keras dan dingin.
Dengan seorang pembantu seperti itu, barulah dia akan dapat menjagoi dunia sebagai tokoh nomor satu!
Hanya ada satu hal yang masih ia ragukan, apakah pria ini patut menjadi temannya dalam petualangan
cintanya!
Sementara itu Siauw Lek yang biasanya memandang rendah orang lain, yang biasanya tidak gentar
menghadapi siapapun juga, kini merasa bulu tengkuknya bangun berdiri. Sungguh dia tidak pernah mimpi
bahwa dia akan berhadapan dengan seorang wanita secantik ini, yang dapat "menghidupkan" mayat,
yang agaknya sejak tadi telah membayanginya tanpa dia ketahui sama sekali, yang begitu cantik akan
tetapi juga mendatangkan sikap dingin yang mengerikan tersembunyi di balik kehangatan dan kegairahan
yang panas membakar dan menantang!
.
"Eh.. siapakah engkau...?" Siauw Lek merasa heran sendiri mengapa dia tiba-tiba menjadi gugup dan
kehilangan ketenangannya. Juga gairahnya terhadap ibu muda itu lenyap sama sekali tidak kecewa
melihat kenyataan bahwa kembali kesenangannya terganggu.
Cui Im tersenyum dan menggunakan senyum memikat yang sudah terlatih, setengah senyum setengah
tawa sehingga cukup lebar untuk memperlihatkan deretan gigi putih seperti mutiara dan sekilas pandang
ujung lidahnya yang merah mencuat keluar di antara deretan gigi mutiara. "Engkau Kim-lian Jai-hwa-ong
Siauw Lek, engkau murid Go-bi Chit-kwi bukan? Hemmm, bagus sekali semua perbuatan yang kau
lakukan malam ini, semenjak dari gedung panglima sampai pondok ini. Eh, orang she Siauw, apakah
engkau tidak takut akan dosa dan tidak ngeri memikirkan neraka yang kelak akan menyiksamu?"
Melihat sikap dan mendengar ucapan wanita cantik ini, perlahan-lahan lenyaplah ketegangan di hati
Siauw Lek.
***
Dapatlah dia menduga bahwa wanita cantik ini bukanlah seorang anggota golongan lawan, melainkan
agaknya juga seorang petualang, seorang yang tidak asing akan dunia hitam, dan mulailah pandang
matanya penuh nafsu berahi menjelajahi bentuk tubuh yang ramping padat dan menjanjikan kemesraan
lebih merangsang daripada ibu muda tadi.
"Nona, engkau sungguh nakal sekali, membikin aku kaget setengah mati. Mengapa engkau main-main
dengan mayat itu? Kusangka betul-betul ada mayat hidup! Engkau sudah mengenal namaku, itu baik
sekali. Sekarang tinggal aku yang belum mengenalmu. Kalau nona suka memperkenalkan diri, agaknya
kita dapat menjadi sahabat-sahabat yang baik sekali. Bukankah begitu pendapatmu, nona yang cantik
seperti bidadari?"
Cui Im mengangguk-angguk senang. Suara pria ini mendatangkan kesan baik, suaranya merdu dan
mengandung rayuan yang sama mesranya dengan kata-katanya, pria yang pandai bicara, pandai
menyenangkan hati wanita. Akan tetapi ia hanya tersenyum, tidak menjawab memperkenalkan diri,
bahkan berkata dengan sikap memandang rendah, "Aku harus melihat dulu apakah engkau pantas
menjadi sahabatku, Jai-hwa-ong. Kita tunda dulu saja tentang namaku karena aku ingin melihat apakah
engkau memiliki kepandaian seperti yang terkenal di dunia kang-ouw, ataukah hanya nama kosong
belaka."
Sepasang mata Siauw Lek berkilau penuh kegembiraan. Ia tercengang. Belum pernah dia bertemu
dengan wanita seperti ini, "Aha, hebat sekali kesombonganmu Nona. Engkau masih belum percaya akan
nama besarku dan hendak mencoba kepandaianku, begitukah yang kau maksudkan?"
Cui Im mengangguk. "Bukan mencoba hanya ingin membuktikan isi dari nama besarmu." Siauw Lek
tertawa tergelak, kegembiraannya timbul dan kini kepercayaan kepada diri sendiri pulih.
Tentu saja seorang gadis cantik jelita semuda ini merupakan lawan yang amat lunak dan dia sudah dapat
memastikan bahwa dengan mudah dia akan dapat menundukkan nona manis ini.
"Bagus! Biarlah kita saling menguji kepandaian dan kalau sampai aku menang, aku minta hadiah!"
"Hadiah apa?"
"Peluk - cium!" Siauw Lek tertawa dan sudah siap menghadapi kemarahan gadis itu. Sengaja dia hendak
.
membangkitkan kemarahannya karena dalam pertandingan, siapa yang dirangsang kemarahan berarti
sudah kehilangan kewaspadaan dan kalau gadis ini ternyata lihai, kemarahannya akan mengurangi
kelihaianya. Akan tetapi, kembali Siauw Lek tertegun karena gadis itu hanya tersenyum manis sekali dan
menjawab.
"Hemmm, itu sudah sepatutnya. Akan tetapi kalau aku yang menang engkau harus membunuh wanita
yang membuatmu tergila-gila ini. Bagaimana?"
Siauw Lek menoleh ke arah tubuh ibu muda yang masih pingsan, dan dia mengangguk.
"Kalau aku kalah olehmu, memang tidak berharga sekali aku untuk menikmati wanita ini. Baiklah, aku
memenuhi permintaanmu itu."
Cui Im sudah berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang. "Nah, aku sudah siap. Majulah!"
Sekali lagi Siauw Lek tertegun. "Disini? Kamar ini sempit sekali untuk dipakai tempat mengadu silat!"
Cui Im tersenyum mengejek. "Tidak ada tempat sempit atau luas bagi seorang yang benar-benar ahli.
Apakah engkau takut?"
"Siapa yang takut? Lihat, kutangkap engkau, nona yang menggemaskan hati!" Siauw Lek tertawa akan
tetapi tiba-tiba sekali tubuhnya sudah menubruk maju, jari tangan kiri terbuka, mencengkeram ke arah
dada Cui Im sedangkan yang kanan sedangkan yang kanan secepat kilat, juga sebelum kedua tangan
datang, angin pukulannya telah terasa oleh Cui Im. Gadis ini diam-diam menjadi kagum.
Kiranya orang ini juga memiliki sinkang yang amat kuat. Pantas menjadi murid Go-bi Chit-kwi. Akan
tetapi ia tidak menjadi gentar. Andaikata serangan macam ini ditujukan kepadanya lima tahun yang lalu
sebelum ia menggembleng diri dengan ilmu-ilmu tinggi dari kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong,
agaknya akan sukar baginya untuk menyelamatkan diri karena selain gerakannya tentu jauh kalah cepat
oleh Siauw Lek, juga tenaga sinkangnya tentu kalah jauh. Kini Cui Im dengan tenang saja mendoyongkan
tubuh atasnya ke belakang dan kedua tangannya menyambar dari bawah, sekaligus menangkis serangan
lawan sambil menggerahkan tenaganya, dan begitu dua pasang lengan itu bertemu yang membuat Siauw
Lek berseru kaget karena dia merasa betapa kedua lengannya tergetar dan panas, kaki Cui Im bergerak
menendang ke bawah pusarnya.
"Aihhh..!" Siauw Lek yang tadinya memandang rendah, kaget bukan main. Tendangan itu tidak keras
akan tetapi kalau tidak cepat dia hindarkan, tentu dia akan mati karena yang ditendang adalah kelemahan
setiap orang laki-laki. Sambil berteriak kaget Siauw Lek sudah meloncat ke belakang, terhindar dari
tendangan dan tubuhnya kini sudah berada di atas dipan, menginjak tubuh suami ibu muda yang tadi telah
menjadi "mayat hidup."
"Engkau hebat sekali...!" Ia memuji lebih penasaran daripada kagum. Memuji karena penasaran dan
untuk menutupi rasa malunya. Masa dalam segebrakan saja dia hampir saja celaka di tangan wanita
cantik ini?
"Hi-hi-hik, baru begitu saja hebat? Kau lihat dan jaga seranganku sekarang!" Cui Im tertawa dan
tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat sekali, meluncur ke depan seperti seekor burung walet menyambar,
sambil meloncat ke depan ia sudah menyerang dengan kedua tangan terbuka, melakukan totokan dengan
sepuluh jari tangannya ke bagian-bagian tubuh lawan, mencari jalan darah yang mematikan!
"Hayaaa..!" Siauw lek terkejut sekali karena bertubi-tubi dia diserang dan setiap serangan gadis itu
.
adalah serangan yang kalau mengenai sasaran akan mendatangkan maut! Ia cepat mengelak, berloncatan
kesana-sini di dalam kamar sempit itu, namun bagaikan bayangan setan gadis itu terus mengekar dan
enghujankan serangan dengan totokan-totokan dan pukulan-pukulan yang amat aneh, yang belum pernah
dilihat sebelumnya dan mengandung hawa sinkang amat kuat.
"Celaka...!" Tak terasa lagi seruan ini keluar dari mulut Siauw Lek. Baru sekarang terbuka matanya
betapa salahnya tadi memandang rendah gadis ini. Kiranya gadia ini benar-benar memiliki ilmu
kepandaian yang amat hebat sehingga biar dalam ginkang maupun sinkang, gadis ini melebihi dia sendiri!
Kini berubah pendiriannya dan sambil mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaian
yang dia warisi dari Go-bi Chit-kwi dia melakukan perlawanan, membalas serangan dengan serangan
maut pula, karena dia maklum bahwa tanpa perlawanan mati-matian, nyawanya terancam bahaya maut!
Kini dia tidak memandang gadis cantik ini sebagai calon korban, sama sekali jauh, daripada itu,
melainkan menganggapnya sebagai seorang musuh yang harus dikalahkannya, sebagai seorang lawan
yang paling berat di antara semua lawan yang pernah ditandinginya!
Setelah laki-laki itu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian yang di warisinya dari Go-bi Chit-kwi,
memang dia amat hebat dan berulah dia dapat mengimbangi kedasyatan gerakan Cui Im. Diam-diam Cui
Im menjadi makin kagum dan girang. Laki-laki ini benar-benar boleh dijadikan pembantu. Ilmu
kepandaiannya hebat, agaknya akan dapat menandingi Bu-tek Su-kwi dan tidak akan kalah menghadapi
Cia Keng Hong, kalau bocah itu masih hidup, pikirnya sambil tersenyum. Menyaksikan gadis yang di
lawan mati-matian itu masih dapat tersenyum-senyum, leher Siauw Lek mulai berkeringat. Dia sudah
mati-matian, sampai pening kepalanya dan terengah-engah napasnya, akan tetapi gadis itu masih
enak-enak saja tersenyum-senyum. Benar-benar mengerikan sekali!
"Robohlah...!" Tiba-tiba Siauw Lek membentak dan dia menyerang dengan jurus pukulannya yang paling
ampuh, yaitu dengan mendorongkan kedua tepak tangan ke depan. Pukulan ini mengandung dorongan
tenaga sinkang yang amat kuat, cukup untuk merobohkan lawan dari jarak jauh, apalagi kini dia
menyerang dari jarak dekat. Dapat dibayangkan betapa hebat kekuatan dorongannya itu. Namun Cui Im
terkekeh mengejek, tubuhnya mencelat mumbul ke atas dari atas menukik ke bawah, kedua tangannya
bergerak memukul ke bawah, yang kiri menimpa kedua lengan lawan yang bagian atas dan yang kanan
sudah menampar pundak Siauw Lek.
"Buuuuuuukk.. Plakkk..!" Tanpa dapat dipertahankannya lagi, tubuh Siauw Lek tergelimpang dan dia
roboh menimpa tubuh ibu muda yang hendak dipaksanya melayani hasrat nafsu berahinya tadi!
"Hi-hi-hik, kepandaianmu lumayan juga, orang she Siauw!" Cui Im berkata, bukan mengejek, melainkan
dengan ketulusannya hati.
Siauw Lek mengoyang-goyang kepalanya terasa pening, kemudian bangkit berdiri dan memandang Cui
Im dengan mata terbelalak, hampir tidak dapat percaya. Seorang gadis begitu cantik dan muda, memiliki
kepandaian yang sedemikian hebatnya? Ahhh, mimpi pun tak pernah dia akan dikalahkan oleh seorang
gadis jelita. Tiba-tiba terdengar suara jerit melengking dan disusul tangis. Kiranya ketika dijatuhi tubuh
Siauw Lek tadi, ibu muda teringat akan suami dan anaknya, ia menjerit dan menangis, memeluk mayat
anaknya.
Siauw Lek menjadi gemas. Ia memang sudah merasa penasaran dan marah karena kekalahkannya dan
tidak menemukan sasaran untuk melampiaskan kemarahannya, kini hendak dia tumpahkan kepada ibu
muda itu. Ia mengangkat tangan hendak menampar kepala yang tadinya ingin dia dekap dan ciumi, untuk
membunuhi wanita itu.
***
.
"Eiiit! Mengapa tergesa-gesa? Apakah engkau sudah mengaku kalah?" Cui Im sambil meraba gagang
pedangnya. "Nona, bolah jadi dalam hal ilmu silat tangan kosong aku sudah kalah olehmu, akan tetapi
selama Hek-liong-kiam masih ada padaku, aku belum mengaku kalah!" "Bagus, aku ingin pula
menyaksikan ilmu pedangmu, boleh ditambah senjata rahasiamu, bukankah kau mahir mempergunakan
Hek-tok-ting?" kata pula Cui Im dengan sikap memandang rendah.
Hati Siauw Lek makin penasaran dan sekali bergerak, tangan kananya sudah mencabut pedangnya yang
bersinar hitam dan tangan kirinya sudah merogoh keluar belasan buah senjata rahasia berbentuk
paku-paku hitam. "Nona, bersiaplah menghadapi senjata-senjataku!" Cui Im tersenyum, tangan kanannya
bergerak ke belakang dan tiba-tiba pandang mata Siauw Lek silau oleh sinar merah ketika pedang
wanita itu tercabut keluar dan dilihat, tangan kiri wanita sakti ini telah menggenggam senjata rahasianya
yaitu jarum-jarum merah yang amat halus. Melihat pedang merah ini, Siauw Lek mengerutkan alisnya.
"Ang-kiam (Pedang Merah)...!" Rasanya pernah aku mendengar tentang pedang merah...., pernah
disebut-sebut di dunia kang-ouw... Ah, benar! Bukankah engkau Ang-kiam Tok-sian-li, murid Lam-hai
Sin-ni adalah musuh besar mendiang guru-gurunya, maka bukan hal aneh kalau murid Lam-hai Sin-ni
memusuhinya. Tentu itu sebabnya mengapa wanita ini memusuhinya dan kalau memang karena
permusuhan itu, dia harus dapat membunuh wanita ini!
Akan tetapi Cui Im mengeleng-geleng kepala dan senyumnya melebar. "Dahulu memang benar demikian,
akan tetapi sekarang julukanku adalah Ang-kiam Bu-tek dan Lam-hai Sin-ni bukan guruku lagi karena
tingkatku jauh lebih tinggi daripada tingkatnya.
Tak perlu bicara tentang aku sebelum engkau dapat lulus dari ujianku. Nah, gerakkanlah senjatamu,
Siauw Lek!"
Ucapan Cui Im itu amat sombong dan terkebur, akan tetapi juga mengejutkan hati Siauw Lek disamping
menggemaskan karena sikap nona itu benar-benar seperti menganggap dia seorang anak kecil saja!
Sambil mengeluarkan bentakan keras dia menerjang maju, pedangnya berubah menjadi sinar hitam yang
mengeluarkan bunyi berdesing ketika meluncur dan menyambar ke arah tubuh Cui Im. Namun wanita ini
dengan gerakan seenaknya mengangkat pedangnya, memutarnya dan tampaklah sinar seperti payung
menangkis sinar hitam itu sehingga tampak bunga-bunga api diiringi suara berdencing nyaring dan sinar
hitam terpental ke belakang. Siauw Lek merasa betapa tangannya kesemutan dan dia menjadi penasaran,
menyerang dengan dahsyat sekali mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya. Dua macam sinar pedang merah
dan hitam itu segera saling libat dan saling himpit, membentuk lingkaran-lingkaran menyilaukan mata. Dua
orang yang lihai ini bertanding pedang tanpa bicara, hanya terdengar dencingan-dencingan senjata
mereka seolah-olah menjadi musik yang mengiring tangisan ibu muda yang tidak memperdulikan
pertandingan itu karena seluruh perhatiannya tertuju kepada mayat-mayat suami dan anaknya.
"Tranggg.. Cringgg…..!!" Suara bertemunya pedang lalu saling tempel dan saling ditarik iitu disusul
keluhan Siauw Lek yang mencelat mundur dengan baju bagian depan robek lebar! Mukanya pucat sekali
dan tangan kirinya bergerak.
"Srat-srat-srat....!" Sinar-sinar hitam menyambar ke depan dan tahu-tahu ada sembilan batang paku
menyambar ke arah sembilan bagian tubuh depan Cui Im. Nona ini tersenyum saja, hanya menggerakkan
pedang ke depan muka untuk menyampok runtuh tiga batang paku yang menyerang sepasang mata dan
dahinya, adapun enam batang paku lainnya yang menyerangnya dari dada ke bawah, ia diamkan saja.
"Hemmm, tadi disuruh menuruti kata-katanya, kini berubah menjadi mentaati segala perintahnya! "Baik,
saya akan taat."
.
"Kalau begitu, mengapa engkau belum juga turun tangan memenuhi janjimu? Engkau telah kalah,
Siauw-twako, apakahnya pada diri wanita ini yang membuatmu tergila-gila tadi?" Siauw Lek menoleh ke
arah ibu muda yang masih terisak-isak menangis. Dalam kedukaannya wanita ini lupa akan keadaan
tubuhnya yang telanjang bagian atasnya. Ia menangis dan buah dadanya bergoyang-goyang. Air susu
mengalir keluar membasahi keluar membasahi mukanya. Melihat dada wanita itu, Siauw Lek tersenyum.
Tak salah lagi, dada itulah yang mula-mula menarik hatinya, yang menimbulkan gairahnya. Ia
menggerakkan tangan, pedangnya berubah menjadi sinar hitam menyambar ke depan. Ibu muda itu
menjerit, darah memancar keluar dari sepasang buah dadanya yang terbelah, ia roboh menindih mayat
anaknya dan tewas dalam genangan darahnya sendiri!
"H-hi-hi, bagus sekali, engkau memenuhi janjiu, Siauw-twako. Engkau ternyata seorang laki-laki sejati!"
Siauw Lek menyimpan pedangnya dan memandang Cui Im dengan mulut tersenyum dan pandang mata
memikat. "Tentu saja aku seorang laki-laki sejati, cukup jantan untuk menandingimu dalam apa pun
juga,Nona. Akan tetapi bukankah kini tiba waktunya bagimu untuk memperkenalkan diri? Julukanmu
Ang-kiam Bu-tek, dan memang pedang merahmu sukar dicari bandingnya, akan tetapi siapakah
namamu, Nona?"
Cui Im tersenyum. "Belum waktunya engkau mengenal namaku. Ilmu kepandaianmu cukup bagiku,
cukup memenuhi syarat, akan tetapi apakah engkau benar seorang jantan dalam hal lain, masih harus
keselidiki dan uji lebih dulu."
"Maksudmu....?" Siauw Lek membelalakan matanya melihat betapa wanita cantik itu dengan gerakan
genit menarik mulai menanggalkan pakaiannya sendiri. Selama petualangannya baru satu kali. Inilah
Siauw Lek mengalami hal yang luar biasa ini, akan tetapi sama sekali bukanlah hal yang tidak
menyenangkan hatinya!
Ia pun bersiap-siap, namun sambil melirik ke arah tiga mayat keluarga yang dibunuhnya itu, tak urung
mulutnya berbisik, "Di... disini..?"
"Mengapa? Engkau ngeri?" Cui Im bertanya tertawa, lalu melangkah maju menghampiri pembaringan,
kaki kanannya yang sudah tak tertutup lagi digerakkan ke atas, ibu jari kakinya bergerak-gerak dibantu
jari-jari yang lain yang menyambak rambut kepala suami ibu muda dan melontarkan mayat itu dari atas
dipan yang masih bernoda darah.
"Aku? Ngeri? Ah, dewi cantik jelita, bersamamu aku akan sanggup menikmati tempat yang bagaimana
burukpun, berubah menjadi sorga!" Siauw Lek menubruk dan merangkul, disambut Cui Im yang
tertawa-tawa.
Iblis sendiri akan merasa ngeri dan muak menyaksikan sepasang manusia luar biasa ini, yang memiliki
kekejaman tidak lumrah, keji dan jahat tiada taranya! Dan sekali ini Cui Im merasa benar-benar bertemu
tanding yang amat menyenangkan dan memuaskan hatinya. Ternyata dalam segala hal, Siauw Lek
benar-benar merupakan seorang laki-laki yang cukup boleh diandalkan, dapat menjadi seorang
pembantu yang setia, seorang pengawal yang cukup lihai, dan seorang kekasih yang tidak
mengecewakan hatinya.!
Sementara itu, Siauw Lek diam-diam merasa kagum, akan tetapi juga penasaran, Ia merasa betapa di
dalam segala hal, dia selalu kalah oleh Cui Im. Dalam ilmu silat, dalam ginkang dan sinkang dalam
kepandaian merayu dan bercinta. Kekalahan-kekalahan ini membuat dia penasaran. Masa dia, Kim-lian
Jai-hwa-ong Siauw Lek yang belum pernah bertemu tanding dalam segala hal, kini harus tunduk dan taat
.
akan segala perintah seorang gadis muda? Betapapun menyenangkan wanita ini, aku harus dapat
menundukkan wanita ini, kalau tidak, akan rendah dan hinalah namamu demikian dia berpikir.
***
Menjelang pagi, ketika dia yang berpura-pura tidur itu mendengar pernapasan yang halus dan tenang
dari Cui Im dan menganggap wanita itu sudah tidur nyenyak, Siauw Lek perlahan-lahan mengangkat
kepalanya. Sinar lilin yang sudah remang-reang itu menerangi wajah yang cantik. Hemmm, sungguh
seorang wanita pilihan, pikrnya. Betapapun juga, aku harus memaksa dia menjadi pembantuku, bukan
aku menjadi pembantunya, demikian Siauw Lek mengambil keputusan. Cepat tangannya bergerak,
hendak menotok pundak yang telanjang itu untuk membuat tubuh Cui Im lemas dan tidak berdaya.
Dalam keadaan tidak berdaya, dia akan melakukan apa saja untuk memaksa Cui Im menjadi
pembantunya. Akan tetapi Siauw Lek tidak melanjutkan gerakannya dan tiba-tiba tubuhnya seperti kaku
karena ada jari-jari tangan halus mencengkeramnya di bawah selimut! Maklumlah dia bahwa kalau dia
melanjutkan totokannya, sebelum jari tangannya menyentuh pundak lawan, nyawanya sendiri akan lebih
dulu melayang meninggalkan raganya! Mukanya menjadi pucat keringat dingin memenuhi dahinya.
"Hemmm, apakah engkau masih juga belum takluk kepadaku, Siauw-twako? Ataukah engkau
benar-benar lebih senang mampus?"
"Aku.. Aku hanya mencoba...."
"Eh, tidak bisa engkau membohongiku, Engkau ingin menguasai aku, bukan?"
"Ba.... bagaimana engkau bisa tahu?"
"Hi-hi-hik, aku tahu bahwa engkau tadi masih penasaran, belum tunduk kepadaku. Dalam hal
kecurangan dan tipu muslihat, engkau pun takkan menang dariku, Twako. Akulah jago wanita nomor
satu di dunia ini dan sebagai pembantuku, engkau tidak akan menjadi rendah , bahkan namamu akan
meningkat. Nah, bagaimana sekarang? Engkau tahu bahwa dengan tidak membunuhmu saat ini berarti
aku sayang kepadamu, akan tetapi lain kali, sekali saja engkau berani main-main aku pasti akan
membunuhmu."
Siauw Lek menghela napas, bukan karena menyesal, melainkan karena kagum sekali. Ia merangkul dan
mencium dan saat itu pula Cui Im sudah yakin benar bahwa ia berhasil menundukkan pria ini.
***
Ia memilih sendiri pembantu-pembantunya, menunjuk orang-orang yang cakap, mengangkat
menteri-menteri dan ponggawa-ponggawa, bahkan tidak hanya sampai di situ perubahan yang
dilakukannya. Ia merasa khawatir bahwa kalau dia melanjutkan pemerintahan berpusat di istana lama,
tentu para pembantunya itu lambat laun akan terpengaruh pula oleh kaum penjilat Maka dia mengambil
keputusan yang amat penting dan bersejarah, yaitu dia memindahkan ibukota atau kota raja dari selatan
ke utara yaitu dari Nanking ke Peking!
Mulailah kaisar yang baru ini membangun di Peking dan mulailah tercipta bangunan -bangunan yang amat
indah dan penuh dengan daya seni yang mengagumkan. Istana yang besar-besar, megah dan indah
dibangun oleh tenaga-tenaga ahli yang didatangkan dari segenap penjuru negeri. Sedemikian hebatnya
pembangunan di kota raja kerajaan Beng -tiauw ini sehingga tercatat dalam sejarah bahwa pada masa
itu, Kota Raja Peking menjadi kota yang gilang gemilang, yang tidak ada taranya dalam keindahannya di
seluruh dunia dan yang mengagumkan setiap orang musafir yang datang dari segala penjuru dunia.
.
Bukan hanya istana-istana besar dan megah di kota raja yang dibangun oleh kaisar baru ini, melainkan
juga pekerjaan-pekerjaan besar yang lain dimulai. Tembok besar Ban-li-tiang-shia yang panjangnya lebih
dari dua ribu il itu, bangunan ajaib yang dibangun untuk menjadi benteng pertahanan Tiongkok dan
melindungi pedalaman dari serbuan suku-suku asing di utara, yang dimulai pembangunannya pada abad
ke dua sebelum Tarikh Masehi, kini disusul lagi, diperbaiki dan diperkuat. Bukan hanya tembok besar ini
saja, juga terusan yang menghubungkan Sungai Yang-ce-kiang dan Sungai Huang-ho, yang
penggaliannya dimulai pada jaman penjajah Mongol, kini dilanjutkan, diperbaiki dan diperlebar.
Setelah perang saudara berhenti, mulailah rakyat sibuk membangun kembali di bawah pimpinan Kaisar
Yung Lo yang ternyata tidak hanya pandai memimpin bala tentara, akan tetapi pandai pula membangun
negara. Pada jaman kaisar inilah kebudayaan dan kesenian berkembang luas dan mulai jaman itu pulalah
pelajaran-pelajaran Nabi Khong-hu-cu berkembang, bahkan dicetak menjadi kitab-kitab dan lebih
daripada itu pula dijadikan pedoman bagi mereka yang menempuh ujian-ujian negara! Pengetahuan
tentang pelajaran-pelajaran filsafat dari Nabi Khong-hu-cu ini dijadikan ukuran terpelajar atau tidaknya
seseorang, bahkan pengetahuan itu merupakan kunci untuk membuka pintu kedudukan bagi para pelajar.
Dibandingkan dengan ajaran yang sudah-sudah, keadaan rakyat mengalami perbaikan setelah Kaisar
Yung Lo memegang kekuasaan. Pemerintah mulai mengatur kehidupan rakyat dan ketenteraman mulai
terasa di mana-mana.
Tentu saja, keadaan pemerintahan yang baik hanya merupakan sebuah di antara syarat-syarat
kebahagiaan hidup manusia, bukan merupakan syarat mutlak karena bagi manusia yang belum mengerti,
hidup ini merupakan siksa dan derita. Terlampau banyak hal-hal yang mengurangi atau melenyapkan
kebahagiaan hidup. Memang jaranglah terdapat manusia yang mengerti akan ujar-ujar kuno yang
berbunyi :
Siapa mendekati nikmat menjauhi derita atau pun sebaliknya dia takkan dapat merasai bahagia!
Demikian pula dengan kehidupan Song-bin Siu-li Sie Biauw Eng, puteri dari Lam-hai Sin-ni. Dara jelita
ini semenjak dibebaskan dari kematian oleh ibunya sendiri dan dibawa kembali ke selatan hidup merana
dan menderita sengsara dalam batinnya. Apalagi ketika ia mendengar akan lenyaplah Keng Hong yang
oleh semua orang dianggap sudah mati ketika para tokoh tidak dapat menemukan pemuda itu di puncak
batu pedang. Biauw Eng menangis setiap hari, menangisi kematian Keng Hong, satu-satunya pria di dunia
ini yang dicintainya.
"Ihhh, mengapa engkau begini lemah? Sungguh tidak patut menjadi anakku! Menangis saja kerjanya
setiap hari. Sungguh memalukan!" Berkali-kali Lam-hai Sin-ni memarahi puterinya. Sebenarnya hanya
pada lahirnya saja nenek ini marah-marah dan mencela, padahal di dalam hatinya ia merasa berduka,
kecewa, menyesal dan marah sekali. Berduka menyaksikan penderitaan batin puterinya yang terkasih.
Kecewa mengapa puterinya mewarisi wataknya yang teguh mencinta seorang pria saja dengan kesetiaan
cinta kasih yang merugikan diri sendiri. Menyesal mengapa dia tidak menahan dan mamaksa Keng Hong
ketika bertemu dahulu agar pemuda itu tak pernah berpisah dari puterinya, dan marah kepada Keng
Hong juga yang dianggapnya menjadi biang keladi penderitaan batin puterinya!
Biauw Eng menahan isaknya dan memandang ibunya dengan wajah kurus dan pucat. Matanya yang
lebar tampak lebih lebar lagi karena wajahnya kurus, dan sinar matanya suram-muram seperti lampu
kehabisan minyak.
"Ibu, salahkah kalau hati ini mencinta Keng Hong? Salahkah kalau hati ini berduka karena kehilangan
satu-satunya pria yang kucinta? Aku tidak sengaja, Ibu, aku sama sekali tidak lemah. Hanya...apakah
artinya hidup ini kalau Keng Hong tidak berada di sampingku? Kalau dia mati, aku pun ingin mati saja,
.
Ibu!"
Lam-hai Sin-ni merasa seolah-olah jantungnya ditusuk, dan bulu tengkuknya meremang. Anaknya ini
sama sekali tidak lemah, bahkan terlalu keras hati! Kalau saja dia tidak pandai mengemukakan alasan,
tentu Biauw Eng sudah membunuh diri begitu mendengar bahwa Keng Hong lenyap tak meninggalkan
bekas.
"Anak bodoh! Cinta ya cinta, masa begitu nekat?" Ia mengomel, terkenang kepada dirinya sendiri ketika
ia tergila-gila kepada Sie Cun Hong si Raja pedang.
***
Dia pun dahulu nekat mencinta Sie Cun Hong semenjak pendekar itu menolongnya dari tangan Go-bi
Chit-kwi, mencinta dengan nekat dan membuta sehingga ia menyerahkan jiwa raganya, menyerahkan
kehormatannya padahal ia tahu manusia dan laki-laki macam apa adanya Sie Cun Hong. Sesal kemudian
tak berguna. Dia mengandung. Sie Cun Hong meninggalkannya. Selama hidup dia merana, merindu dan
menderita sengsara. Padahal ketika itu ia tidak muda lagi. Begitu kuatnya dia mempertahankan
kegadisannya, bahkkan pernah ia mengambil keputusan untuk tidak berhubungan dengan pria selama
hidupnya. Keputusan yang membuat ia dapat meraih ilmu-ilmu yang tinggi. Akan tetapi akhirnya ia jatuh
oleh Sin-jiu Kiam-ong, jatuh sampai ke lubuk hatinya yang mencinta pria itu. Dia menjadi korban cinta
kasihnya sendiri. Dan kini puterinya juga mengalami hal yang sama!
"Biauw Eng, biarpun engkau sudah buta oleh cinta, akan tetapi janganlah buta terhadap kenyataan!
Siapa bilang bahwa Keng Hong mati? Aku tidak percaya! Bocah seperti setan neraka itu mana bisa mati
begitu mudah? Kalau dia mati, mana mayatnya? Jangan engkau bodoh, dia belum mati, percayalah
kepadaku!"
Sinar mata yang layu itu menjadi agak segar kebali. "Benarkah, Ibu? Kalau masih hidup, dimanakah
dia?"
"Siapa tahu kemana larinya bocah setan neraka itu? Akan tetapi jelas dia belu mampus. Kita sendiri
sudah mencari sekeliling Kiam-kok-san, kalau dia mampus tentu ada mayatnya, tak mungkin mayatnya
lenyap begitu saja. Dia belum mampus dan kalau engkau sekarang mati dan dia muncul, bagaimana?"
"Ah, kuharap dia lekas muncul, Ibu...!"
"Tentu saja dia akan segera muncul kalau engkau sabar menunggu. Daripada engkau susah setiap hari,
lebih baik engkau selalu bersembahyang agar kalau dia sudah mati cepat-cepat ditemukan mayatnya dan
kalau hidup cepat-cepat muncul di depanmu!"
Demikianlah, Biauw Eng masih hidup, tidak membunuh diri. Akan tetapi dia seperti membunuh diri
sekerat demi sekerat, menyiksa tubuhnya sendiri yang menjadi makin kurus dan pucat.
Kadang-kadang termenung seperti orang linglung yang membuat dia masih tetap hidup hanyalah
harapannya yang tak kunjung padam, seperti ujung hio (dupa) menyala, berkelap-kelip kecil namun tak
pernah padam. Dia terus menanti, terus menanti dengan hati penuh rindu. Setiap malam Biauw Eng
bersembahyang, bahkan kini ia benar-benar berkabung, berkabung untuk Keng Hong yang dia
anggapnya tentu telah mati, akan tetapi karena belum terbukti ia masih selalu menanti kemunculannya.
Melihat keadaan puterinya ini, Lam-hai Sin-ni menjadi marah dan juga malu. Ia mengajak puterinya
kembali ke pantai selatan dan bersembunyi di pantai yang sunyi dan indah, dimana ia mempunyai sebuah
.
gedung yang mungil, hidup sebagai seorang nenek yang diam-diam menderita batinnya menyaksikan
keadaan puterinya. Pernah ia berusaha membujuk puterinya untuk menikah, bahkan memberi
kesempatan bagi puterinya untuk memilih pria mana yang disukainya.
"Pergilah ke kota raja, pilihlah pangeran, atau bangsawan lain, hartawan atau sastrawan yang muda dan
tampan. Ataukah engkau lebih suka seorang pemuda ahli silat yang pandai dan gagah perkasa? Pilihlah di
dunia kang-ouw kalau ada yang kau setujui aku yang menanggung bahwa dia akan suka menjadi
suamimu. Biar dia seorang pangeran sekalipun, kalau menolak, istananya akan kuhancurleburkan!"
Demikian nenek yang menjadi tokoh pertama dari Bu-tek Su-kwi itu membujuk puterinya. Akan tetapi
Biauw Eng menggeleng kepalanya dan menjawab lirih, "Tidak tahukah Ibu bahwa aku tidak
membutuhkan suami? Aku hanya membutuhkan Keng Hong yang kucinta, membutuhkan kehadirannya.
Sudah lima tahun, namun belum ada berita tentang Keng Hong, entah hidup entah mati...."
Lam-hai Sin-ni tak dapat menahan hatinya ketika melihat wajah puterinya ketika mengucapkan
kata-kata terakhir itu. Ah, sama saja seperti engkau, bisik hatinya, engkau pun dalam keadaan hidup
tidak matipun tidak. Anakku...!
Demikianlah, di tempat sunyi jauh dari dunia ramai, di pantai laut selatan itu, seorang nenek sakti hidup
merana dan sengsara hatinya menyaksikan keadaan keadaan puterinya yang patah hati dan gagal dalam
asmara itu. Biauw Eng sudah berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun dan gadis ini tetap tidak mau
menikah dengan orang lain, tetap setia menanti munculnya Cia Keng Hong yang mungkin sekali sudah
mati dalam dugaan Lam-hai Sin-ni. Andaikata masih hidup sekalipun, bagaimana kalau Keng Hong tidak
suka membalas cinta kasih Biauw Eng? Bagaimana kalau pemuda itu kelak bahkan menikah dengan lain
wanita? Ketika di Kun-lun-san pun pemuda itu sama sekali tidak memperdulikan sikap mencinta
puterinya, bahkan sebaliknya, pemuda itu menjatuhkan fitnah yang bukan-bukan! Aku akan
memaksanya! Demikian Lam-hai Sin-ni mengambil keputusan di hatinya. Kalau benar bocah setan itu
masih hidup, kelak aku akan menyeretnya ke sini dan akan memaksanya menjadi suami Biauw Eng!
Biarpun hatinya selalu berduka memikirkan Keng Hong, namun Biauw Eng yang semenjak kecil
digembleng dengan ilmu-ilmu silat tinggi itu tidak pernah melalaikan latihannya. Selama bersunyi diri
bersama ibunya di pantai selatan setiap hari gadis ini melatih ilmu silatnya dan kepahitan hidup membuat
ilmunya menjadi lebih matang lagi, pandangannya terhadap ilmu yang dimilikinya lebih mendalam sehingga
ia dapat menyempurnakan gerakan-gerakannya dan memperkuat sinkangnya.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Lam-hai Sin-ni sudah pergi meninggalkan Biauw Eng seperti biasa
untuk berjalan-jalan sepanjang pantai. Nenek ini sudah amat tua dan kepahitan hidup akibat
kekecewaannya melihat puterinya membuat ia seperti pikun dan kadang-kadang tidak perduli,
berjalan-jalan setengah hari di sepanjang pantai, membiarkan ombak laut membasahi pakaiannya, atau
kemudian ia duduk bersila di atas batu karang yang jauh dari tempat itu, seolah-olah tubuhnya telah
berubah menjadi batu karang sendiri.
Biauw Eng melatih ilmu silatnya di tepi pantai, dibawah sinar matahari yang baru saja muncul dari
permukaan laut sebelah timur. Tubuh gadis yang berusia dua puluh tiga tahun ini masih kurus, akan tetapi
mukanya tidak pucat lagi, karena latihan-latihan setiap hari membuat ia sebetulnya amat sehat badannya.
Mukanya kelihatan segar, akan tetapi sinar matanya sayu dan muram seolah-olah dalam hidupnya tidak
ada kegembiraan lagi.
Asyik sekali Biauw Eng berlatih silat dengan senjatanya yang istimewa, yaitu sabuk sutera putih,
gerakannya kelihatan lambat namun sabuk sutera itu seolah-olah berubah menjadi seekor naga putih yang
berain-main dengan ombak. Amat indah tampaknya, seolah-olah gadis itu seorang dewi lautan yang
sedang menari-nari. Namun sesungguhnya di dalam keindahan "tarian" ini tersembunyi tenaga sinkang
.
yang menyambar-nyambar dahsyat, dan sabuk sutera itu sendiri merupakan jangkauan tangan-tangan
maut yang mengerikan. Saking tekun dan asyiknya, Biauw Eng yang biasanya amat waspada itu kini tidak
tahu bahwa ada dua pasang mata semenjak tadi memandangnya. Dua pasang dari dua orang yang
menghampiri tempat itu dan bersembunyi di balik batu karang. Dua orang itu bukan lain adalah Ang-kiam
Bu-tek Bhe Cui Im dan Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek!
Setelah memesan kepada Siauw Lek yang memandang bengong penuh kekaguman kepada gadis yang
menari-nari indah itu agar laki-laki ini tetap bersembunyi, Cui Im lalu meloncat keluar dari belakang batu
karang, menjauhi batu karang itu, kemudian memanggil dengan suara yang penuh kerinduan, penuh
keramahan dan amat manis.
"Sumoi..!!"
Dengan sikap tenang Biauw Eng menghentikan silatnya dan menengok. Sebelum menengok ia sudah
mengenal suara sucinya, maka begitu melihat sucinya berdiri tak jauh dari situ.
Pertama-tama yang membuatnya terheran-heran adalah kenyataan bahwa dia sama sekali tidak tahu dan
tidak mendengar akan kedatangan sucinya sampai begitu dekat! Sudah sedemikian jauhkah kemajuan
sucinya ataukah dia yang kehilangan kewaspadaannya?
"Suci... kemana saja engkau selama bertahun-tahun ini..?" Ia menegur, suaranya juga mengandung
kegembiraan karena betapapun juga, Cui Im selain menjadi sucinya, juga menjadi teman bermain
semenjak kecil sehingga di antara mereka ada perasaan kasih sayang seperti kakak dan adik.
"Sumoi...., ah, betapa rinduku kepadamu, Sumoi...!" Cui Im lari menghampiri adik seperguruan ini dan
Biauw Eng melihat bahwa ketika berlari, gerakan Cui Im sama seperti dulu, tidak keliatan ada kemajuan.
Hal ini memang karena kecerdikan Cui Im yang pada saat itu ingin membunyikan kepandaiannya dari
sumoinya. Mereka berangkulan sejenak, dan sesungguhnyalah bahwa pada detik itu, tidak hanya di hati
Biauw Eng, juga di hati Cui Im terdapat keharuan dan kegirangan yang sejujurnya. Namun hanya
beberapa detik saja bagi Cui Im karena ia segera dikuasai kembali oleh nafsu-nafsunya dan apa yang ia
lakukan kembali menjadi palsu ketika ia melepaskan rangkulan dan berkata, "Sumoi, bertahun-tahun kita
tidak saling berjumpa. Di manakah subo? Aku tidak melihat beliau..."
"Ibu setiap hari berjalan-jalan mencari angin di sepanjang pantai. Suci, selama ini engkau kemana
sajakah? Dan kini tiba-tiba engkau muncul disini, apakah ada keperluan penting?" Cui Im tersenyum dan
memandang wajah sumoinya yang kurus. Di dalam lubuk hatinya ia tertawa, mentertawakan sumoinya itu
karena ia dapat menduga mengapa sumoinya begini kurus. Akan tetapi senyum yang membayang
dibibirnya adalah senyum ramah dan manis. "Sumoi, aku datang karena amat rindu kepada subo, dan
terutama sekali kepadamu. Ku lihat engkau makin hebat saja ilmu silatmu, aku melihat engkau berlatih
dari jauh tadi. Sumoi, tentu engkau sudah mewarisi ilmu simpanan subo, bukan?"
***
"Ilmu simpanan yang manakah, Suci? Semua ilmu dari ibu telah diturunkan kepada kita berdua, ilmu
simpanan apalagi yang belum kita pelajari, Suci? Soalnya hanya bakat dan ketekunan masing-masing
yang menentukan kemajuan seseorang."
"Ah, adikku yang manis, adikku yang budiman, terhadap sucimu yang amat sayang kepadamu, tegakah
engkau membohong? Yang kumaksudkan adalah ilmu rahasia subo, Thi-khi-I-beng. Tentu engkau sudah
mewarisinya, bukan?"
.
Wajah Biauw Eng kehilangan kegembiraannya yang tadi timbul melihat munculnya Cui Im. "Ah ...
Itukah? Suci, engkau tentu masih ingat dan mengerti betapa ibu tidak suka kita bicara tentang ilmu itu.
Ilmu itu adalah satu-satunya ilmu yang membuat ibu tidak puas karena ibu hanya dapat menguasai
kulitnya saja. Karena merasa bahwa ilu itu sama sekali belum sempurna, maka ibu tidak mengajarkannya
kepada kita. Mengapa sekarang engkau menyangka yang bukan-bukan, Suci ? Ibu tidak pernah
mengajarkan ilmu itu kepadaku!"
"Hi-hi-hik, Sumoi, aku tidak tahu apakah engkau membohong atau tidak. Akan tetapi aku dapat
membuktikan bohong tidaknya omonganu ini."
Mendengar perubahan pada nada suara sucinya, Biauw Eng melangkah mundur, memandang tajam dan
berkat dengan suara dingin, "Suci, apa yang kau maksudkan?"
Biasanya kalau dia sudah mengeluarkan suara dingin seperti itu, sucinya selalu mmenjadi takut dan
tunduk. Akan tetapi alangkah heran hati Biauw Eng ketika melihat sucinya itu tertawa mengejek dan
berkata,
"Aku akan menyerangmu sehingga engkau terpaksa mengeluarkan Thi-khi-I-beng untuk menyelamatkan
dirimu, Sumoi!"
Biauw Eng mengerutkan keningnya. "Hemmm, jangan berbuat yang tidak-tidak ,Suci. Aku tidak
mempelajari ilmu itu, dan andaikan aku memilikinya pun untuk mengalahkanmu kiranya tidak perlu aku
menggunakannya."
"Hi-hi-hik, begitukah pendapatmu, Sumoi? Alangkah lucunya! Kau kira aku masih berjuluk Ang-kiam
Tok-sian-li seperti dulu? Mungkin engkau dapat mengalahkan Ang-kiam Tok-sian-li, akan tetapi mana
bisa engkau menang melawan Ang-kiam Bu-tek? Hi-I-hik, Bu-tek Su-kwi sekalipun takkan menang
melawanku, apalagi engkau. Lihat seranganku!" Tiba-tiba tubuh Cui Im bergerak dan ia sudah mengirim
pukulan yang dahsyat sekali ke dada sumoinya.
Melihat gerakan ini, Biauw Eng terkejut. Sekelebat saja ia mengerti betapa sucinya telah memperoleh
kemajuan yang amat luar biasa. Cepat ia mengelak dengan sebuah loncatan ke belakang. Semenjak
dahulu ia dapat mengatasi ginkang sucinya dan mengandalkan ginkang ini saja ia dapat membuat sucinya
tak berdaya. Akan tetapi betapa kagetnya ketika tahu-tahu tubuh sucinya sudah berkelebat cepat sekali
dan tahu-tahu ia telah diserang lagi sebelum ia sempat menurunkan kedua kakinya, dibarengi dengan
suara ketawa mengejek dari mulut Cui Im.
"Aihhh..!" Biauw Eng terpaksa mengangkat tangan, mengerahkan sinkangnya untuk menangkis. Dahulu,
selain menang dalam hal ginkang, juga sinkang jauh lebih kuat, maka sekali menangkis, ia mengerahkan
sinkang untuk membuat tubuh sucinya terlempar ke belakang.
"Dukkk!" Dua lengan yang berkulit halus bertemu dan akibatnya bukan tubuh Cui Im yang terlempar,
melainkan tubuh Biauw Eng yang terguling roboh didahului teriakan kagetnya! Biauw Eng yang merasa
betapa tubuhnya terdorong tenaga ujijat dan lengannya seperti lumpuh, bergulingan dan terus meloncat
bangun, memandang sucinya yang berdiri tertawa-tawa memandangnya.
"Hi-hi-hik, Sumoi, apakah engkau tidak cepat-cepat mengeluarkan ilmu Thi-khi-I-beng untuk
mengalahkan aku?"
Hampir Biauw Eng tak dapat percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Sucinya ternyata lihai bukan
main, tidak saja ginkangnya menjadi luar biasa cepatnya, juga ilmu silatnya aneh dan tenaga sinkangnya
.
amat kuat! Mengertilah ia bahkan selama lima tahun tidak muncul ini, sucinya yang telah mempelajari
ilmu-ilmu lain yang amat hebat. Dengan kemarahan Biauw Eng lalu melolos sabuk suteranya, sabuk
sutera putih yang dahulu amat ditakuti Cui Im karena gadis itu tak pernah dapat mengatasi sabuk
sumoinya ini dalam latihan-latihan mereka. Akan tetapi kini Cui Im sama sekali tidak gentar melihat sabuk
itu, malah tertawa mengejek.
"Sabuk suteramu itu hanya patut untuk dipakai menari, Sumoi, tiada gunanya kau pakai melawan aku.
Kalau Thi-khi-I-beng, barulah mungkin dapat kau pergunakan untuk melawanku."
"Suci, engkau jahat sekali. Percayalah, aku tidak memiliki ilmu itu dan buang jauh-jauh pikiranmu yang
bukan-bukan itu sebelum aku atau ibuku turun tangan menghajarmu."
"Hi-hi-hik, engkau hendak menghajarku? Lucu sekali! Sedangkan ibumu sekalipun tak mungkin dapat
mengganggu selembar rambutku!"
"Durhaka!" Biauw Eng membentak dan sabuk suteranya sudah berkelebatan dan menyambar, menotok
ke arah leher Cui Im. Namun gadis ini dengan mudahnya menyampok ujung sabuk itu dengan lengannya.
Ketika Biauw Eng menggetarkan ujung sabuk untuk menangkap pergelangan tangan sucinya denngan
belitan,ia terkejut sekali karena tiba-tiba ujung sabuknya itu terpental begitu bertemu dengan lengan Cui
Im. Ia maklum bahwa sekali ini ia tidak boleh main-main, apalagi ketika Cui Im membalas dengan
pukulan maut pada lambungnya! Sucinya tidak main-main dan agaknya benar-benar hendak
memaksanya memberi tahu tentang Thi-khi-I-beng yang sama sekali tidak dimengertinya! Tahulah ia
bahwa kini ia harus melawan mati-matian dan bahwa yang bertanding dengan dia bukanlah sucinya lagi,
melainkan seorang musuh yang ganas dan amat lihai! Biauw Eng lalu mainkan sabuknya dengan cepat,
mengeluarkan serangan-serangan yang paling dahsyat.
Pertandingan mati-matian bagi Biauw Eng yang makin lama menjadi makin kaget dan terheran-heran.
Tidaklah mengherankan melihat sucinya itu memperoleh kemajuan, akan tetapi kemajuan yang disaksikan
ini benar-benar sangat mustahil dan tak masuk akal. Kepandaian sucinya tidak saja jauh melampauinya,
bahkan Biauw Eng merasa ragu-ragu apakah ibunya sendiri akan mampu menandingi kepandaian Cui Im!
Dia sudah mengerahkan seluruh kecepatan dan tenaganya, sudah mainkan semua jurus-jurus paling hebat
dari ilmu sabuknya, namun tetap saja ia tidak mampu mengenai tubuh Cui Im yang bersilat sambil
tertawa-tawa mengejek, seolah-olah memamerkan kepandaiannya dan menggodanya.
"Lebih baik serang aku dengan ilmu Thi-khi-I-beng, mungkin saja berhasil!" Cui Im mengejek. Memang
itulah maksud kedatangannya, selain untuk menundukkan dan mengalahkan bekas gurunya, Lam-hai
Sin-ni orang pertama dari Bu-tek Su-kwi, juga ia ingin sekali mendapatkan ilmu Thi-khi-I-beng itu.
Segala ilmu silat di dunia ini tidak ia takuti setelah ia mewarisi ilmu-ilmu mujijat dari pusaka penuinggalan
Sin-jiu Kiam-ong, akan tetapi karena di dalam kitab-kitab itu ia tidak menemukan ilmu Thi-khi-I-beng,
dan melihat betapa dahsyatnya ilmu yang dimiliki Keng Hong dan juga oleh Lam-hai Sin-ni, ia merasa
gentar sebelum dapat memiliki ilmu dahsyat itu.
Andaikata Biauw eng memiliki ilmu itu, tanpa diminta sekalipun tentu ia akan mempergunakannya
terhadap lawan yang amat tangguh itu. Akan tetapi ia sesungguhnya tidak pernah mempelajari ilmu ini,
maka kini sambil menggigit bibir saking penasaran, Biauw Eng menyerang terus dengan sabuk suteranya,
mengambil keputusan untuk mengadu nyawa nekat.
Di lain pihak, Cui Im menjadi gemas karena bekas adik seperguruannya ini tetap tidak mengeluarkan
ilmu sedot yang ia inginkan, maka ia lalu berteriak keras dan mulailah tubuhnya bergerak-gerak aneh
ketika membalas dengan serangan-serangan hebat, dengan totokan-totokan jari tangannya, dengan
.
cengkeraman-cengkeraman. Biauw Eng menjadi makin kaget menyaksikan betapa hebatnya gerakan
bekas sucinya itu. Ia memutar sabuk suteranya melindungi diri dan karena memang ilmu silat pasaran
melainkan ilmu yang amat hebat, tidaklah begitu mudah bagi Cui Im untuk dapat meerobohkannya dalam
waktu singkat. Biauw Eng terdesak hebat terutama sekali karena sucinya telah mengenal inti daripada
semua ilmu silatnya, sebaliknya ia sama sekali tidak mengenal gerakan-gerakan Cui Im yang makin lama
makin aneh itu.
Tiba-tiba ketika untuk ke sekian kalinya Biauw Eng menggerakkan pergelangan tangannya, membuat
sabuk suteranya meluncur seperti seekor naga mematuk ke depan, ke arah leher Cui Im, bekas sucinya
ini mengeluarkan pekik melengking dan tiba-tiba saja rambut yang panjang hitam di kepala Cui Im
meluncur pula ke depan dan menangkis sabuk sutera-sutera! Kiranya, setelah mempelajari banyak
ilmu-ilmu aneh dari kitab-kitab pusaka, Cui Im telah pula mempelajari penggunaan rambut kepalanya
dengan dasar tenaga Iweekang dan kini rambutnya telah menangkis dan selanjutnya melihat sabuk sutera
itu. Biauw Eng terkejut dan berusaha melepaskan sabuknya dari libatan rambut, namun sia-sia.
"Pergunakanlah Thi-khi-I-beng atau kau mampus!" Cui Im berkata dan tangannya kini bergerak dengan
jari-jari tangan lurus menusuk leher Biauw Eng dengan kecepatan yang amat luar biasa sehingga takkan
mungkin dapat ditangkis atau dielakkan lagi! Dan memang, andai kata Biauw Eng memiliki ilmu sedot itu,
tidak ada lain jalan untuk menyelamatkan nyawanya kecuali menerima tusukan ini dengan mengandalkan
ilmu sedotnya. Akan tetapi, karena memang Biauw Eng tidak memiliki ilmu itu, gadis ini yang maklum
bahwa nyawanya terancam bahaya, cepat melepaskan sabuknya dan membuang diri ke samping untuk
menghindarkan diri. Namun gerakannya kalah cepat dan biarpun ia dapat menyelamatkan lehernya, ia
tidak mungkin lagi menyelamatkan pundaknya yang kena dihajar sehingga terdengar suara "krekkk!" dan
tulang pundaknya yang kiri patah, tubuhnya terlempar dan roboh!
"Hemmm, menyebalkan! Kiranya kau benar-benar tidak mempelajari Thi-khi-I-beng!" kata Cui Im
sambil melangkah maju mendekati sumoinya yang rebah miring dan menggigit bibir menahan sakit itu.
"Ataukah engkau agaknya sengaja menyembunyikannya karena melihat bahwa engkau tidak mampu
mengalahkan aku, biarpun dengan Thi-khi-I-beng sekali pun?
Hemmm, kalau begitu, engkau tetap keras kepala, Sumoi?" Sambil menahan rasa nyeri pada pundaknya,
Biauw Eng bangkit duduk dan menggunakan jari tangan kanan untuk menotok pundak dan iga kirinya
sendiri agat dapat mengurangi rasa nyeri, kemudian memandang sucinya penuh rasa kagum ketika bicara,
"Engkau hebat sekali, Suci! Benar-benar aku merasa kagum bukan main. Kepandaianmu luar biasa dan
aku benar-benar mengaku kalah sekarang! Ibu sendiri tentu akan menjadi kagum sekali, Suci, siapakah
gurumu yang tentu luar biasa sekali ilmu kepandaiannya? Dan sekarang setelah memiliki ilmu kepandaian
tinggi, mengapa Suci datang hendak memusuhi ibu dan aku!
Wajah Cui Im kini menjadi bengis sekali. "Biauw Eng, bukalah telinga dan matamu baik-baik. Kenalilah
ini Bhe Cui Im yang berjuluk Ang-kia Bu-tek! Baru tangan kosongku saja mampu mengalahkan sabuk
suteramu, apalagi pedang merahku! Hemmm, kau mau tahu mengapa aku memusuhi ibumu? Bukan lain
karena aku harus mengalahkan Bu-tek Su-kwi dan mereka tidak berhak lagi memakai julukan Bu-tek
(Tanpa Tanding) karena akulah satu-satunya Bu-tek di dunia ini!"
"Suci, tidak ingatkah engkau bahwa ibu adalah gurumu yang mendidikmu sejak kecil? Ibu sudah tua,
kalau kita beri tahu tentu tanpa bertanding pun dia akan sudi mengalah kepadamu dan memberikan
julukan kosong itu kepadamu."
"Huh, kalau dia mengalah berarti julukan itu benar kosong! Tidak, dia harus bertanding melawan aku,
ingin aku merasai Thi-khi-I-beng yang tersohor itu! Kecuali kalau dia mau memberikan ilmu itu
.
kepadaku, hemmm.... akan kupikir-pikir untuk mengampuni nyawa anjingnya!"
"Cui Im....!!" Biauw Eng berseru keras, membentak dengan marah. Pada saat itu, pandang mata Biauw
Eng beralih pada seorang pria yang tiba-tiba muncul dan dengan loncatan ringan sekali menghampiri
tempat itu sambil tersenyum-senyum.
"Eh, inikah sumoinya itu, adik Cui Im? Hemmm, manis sekali, hampir semanis engkau sayang agak
kurus."
"Hi-hi-hik, dia patah hati, Twako.Eh, Biauw Eng, tahukah engkau siapa priaa yang ganteng ini?" Cui Im
merangkul pundak Siauw Lek dengan sikap manja dan mesra sekali, bahkan lalu mencium pipi laki-laki
itu setelah ia berdiri di atas ujung kakinya karena tingginya hanya sampai ke pundak Siauw Lek.
Wajah Biauw Eng menjadi merah saking merasa malu dan jengah. "Hemmm, sejak dulu masih belum
sembuh engkau dari watakmu yang gila laki-laki, Cui Im. Siapa lagi dia ini kalau bukan pacarmu yang
berganti sampai ratusan kali?"
"Hi-hi-hi, benar sekali, entah ke berapa ratus kalinya. Hemmm, sedap dan nikmat berganti-ganti pacar,
sekali hidup pun sudah puas. Tidak seperti engkau sekali mempunyai pacar saja gagal!"
"Cui Im....!" Biauw Eng menegur dengan hati terasa perih. Kini kedua orang wanita ini tidak lagi
menyebut sumoi dan suci, melainkan menyebut nama masing-masing karena mereka sama-sama maklum
bahwa kini tak mungkin lagi saling mengakui sebagai saudara seperguruan.
"Wah, Moi-moi, biarpun kurus, dia masih segar. Kalau kau berikan kepadaku untuk selingan dan
penyegar, aku pun tidak menolak!" Siauw Lek berkata sambil tertawa.
Cui Im juga tertawa genit. "Bagaimana, Biauw Eng. Dia tampan dan gagah juga, bukan? Biarpun tidak
setampan Keng Hong, kurasa dia tidak kalah pandai dalam hal merayu...."
"Cui Im, tutup mulutmu yang kotor!" Biauw Eng membentak marah, menahan keinginan hatinya untuk
bertanya apakah bekas sucinya ini tahu dimana adanya Keng Hong dan yang terpenting apakah Keng
Hong masih hidup. Akan tetapi mendengar Cui Im dan Siauw Lek bercakap-cakap seperti itu, ia
menahan keinginan hatinya dan membuang muka.
"Hi-hi-hik, Biauw Eng, apakah engkau masih alim seperti dahulu? Apakah engkau masih perawan
seperti dahulu? Kalau begitu kebetulan, kau lihat ini baik-baik. Dia adalah murid Go-bi Chit-kwi..."
"Ohhhh...?? Jadi engkau... Engkau malah bersekutu dengan musuh besar gurumu sendiri? Cui Im,
engkau manusia rendah, murid durhaka!"
"Dia inilah yang bernama Siauw Lek, berjuluk Kim-lian Jai-hwa-ong! Dia malang melintang di dunia
kang-ouw, dalam hal kekejaman dan kepandaian tidak usah malu dan kalah kalau dibandingkan dengan
Bu-tek Su-kwi, namun dia adalah pembantuku!"
"Bagus sekali! Kiranya engkau sudah bersekutu dengan murid musuh-musuhku, Cui Im? Hemmm,
sungguh memalukan dan baiknya engkau datang mengantar kematian!" Suara ini keluar dari mulut
Lam-hai Sin-ni dan diam-diam Cui Im harus mengakui bahwa biarpun sudah tua bekas gurunya ini
memiliki ginkang yang luar biasa sehingga kedatangannya tidak ia ketahui.
Ia cepat membalikkan tubuhnya dan menekan perasaan hatinya yang berguncang. Biarpun ia telah
.
merasa yakin akan kepandaiannya, namun menghadapi nenek bekas gurunya yang menjadi tokoh nomor
satu dari Bu-tek Su-kwi, hati Cui Im gentar juga. Akan tetapi selain merasa yakin akan kemampuannya
sendiri, hatinya juga besar karena disitu ada Siauw Lek yang tentu akan membantunya, maka ia berkata
dengan nada suara dingin.
"Lam-hai Sin-ni, aku datang bukan sebagai muridmu lagi, melainkan sebagai penantangmu! Aku adalah
Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im, satu-satunya jago wanita tanpa tanding yang akan menjadi ratu di antara
golongan hitam!"
"Phuahhh....!" Cui Im, apakah engkau sudah menjadi gila?"
"Ibu, jangan lawan dia! Kalau dia mengkehendaki julukan kosong sebagai Bu-tek, serahkanlah saja!"
Lam-hai Sin-ni mengerutkan alisnya yang sudah putih lalu memandang puterinya. Sekali pandang saja
maklumlah nenek ini bahwa puterinya terluka pundaknya, maka ia berkata, "Hemmm, engkau kalah oleh
dia dan murid Go-bi Chit-kwi itu, Eng-ji? Kalah karena dikeroyok tidak mengherankan."
"Tidak, Ibu. Dia...Cui Im, sekarang lihai bukan main..."
Wajah nenek itu tampak tercengang. Dia merasa heran mendengar ini. Benarkah puterinya dikalahkan
oleh Cui Im? Hampir ia tidak dapat percaya karena dahulu tingkat kepandaian Cui Im jauh dibawah
tingkat Biauw Eng. Dan selama ini puterinya itu setiap hari berlatih sehingga tingkatnya telah mencapai
kemajuan pesat sekali. Mungkinkah Cui Im sudah sedemikan lihainya sehingga mampu mengalahkan
puterinya? Benarkah tidak dibantu oleh murid Go-bi Chit-kwi itu? Kini ia memandang bekas muridnya itu
tajam-tajam lalu berkata,
"Cui Im, terus terang saja. Apa maksud kedatanganmu ini?"
"Lam-hai Sin-ni, sudah kukatakan bahwa aku hendak menjagoi dunia kang-ouw dan aku datang untuk
menantangmu mengadu kepandaian. Hanya ada akibat dari pertandingan antara kita, yaitu engkau tewas
di tanganku atau engkau dapat kuperingan dan tidak akan kubunuh akan tetapi engkau harus memenuhi
permintaanku."
Biarpun ia sudah tua dan sudah pandai menguasai perasaanya, namun mendengar ucapan bekas
muridnya ini, Lam-hai Sin-ni merasa betapa dadanya seperti akan meledak saking marahnya. Dengan
kekuatan batinnya saja ia masih mampu mengendalikan dirinya dan suaranya amat dingin ketika bertanya,
"Hemmm, Bhe Cui Im, permintaan apakah itu?"
Sambil mempermainkan mata dan bibirnya dengan sikap mengejek sekali Cui I menjawab, "La-hai
Sin-ni, aku tidak takut menghadapi iluu Thi-khi-I-beng, akan tetapi aku tertarik sekali akan ilmu itu dan
ingin aku mengetahui rahasianya. Kalau engkau mengajarkan ilmu itu aku akan mengingat hubungan lama
di antara kita dan aku tidak akan membunuhmu, melainkan hanya mengalahkanmu tanpa membunuh!"
"Bhe Cui Im, bocah keparat!" Lam-hai Sin-ni tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Engkau sungguh
tekebur sekali! Belum juga mengalahkan aku sudah mengajukan syarat! Heh, Cui Im si sombong, jangan
kira bahwa aku yang sudah tua ini akan mudah saja kaukalahkan. Kalau engkau mampu mengalahkan
aku, jangankan baru Thi-khi-I-beng, bahkan nyawaku pun akan kuberikan kepadamu!" Baru saja habis
ucapan nenek itu, tubuhnya sudah menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa sekali, bagaikan
halilintar menyambar, dan dua buah pukulan beruntun menyambar ke arah ulu hati dan kepala Cui Im.
.
Biarpun Cui Im sudah yakin akan kepandaiannya, namun sikapnya tadi memang untuk memancing
kemarahan dan untuk menyesuaikan sikap seorang "ratu" di dunia hitam, padahal dia sesungguhnya tidak
berani memandang rendah bekas gurunya yang ia tahu lihai luar biasa itu.
Kini, melihat berkelebatnya tubuh gurunya, cepat ia sudah bergerak pula, miringkan tubuh mengurangi
lowongan dan kedua tangannya bergerak menangkis.
"Plak-plak!"
Bagaikan disambar halilintar, tubuh dua orang wanita itu terpelanting ke belakang, namun dengan amat
cepatnya keduanya sudah meloncat lagi saling terjang dan dalam detik selanjutnya terdengar lagi suara
"plak-plak" bertemunya kedua lengan. Sampai lima kali mereka saling terjang dan beradu lengan, dan
lima kali tubuh mereka terbanting ke belakang.
***
Lam-hai Sin-ni meloncat bangun, wajahnya merah sekali. Ia terheran-heran dan penasaran. Dalam
mengadu tenaga sinkang melaui kedua tangan tadi, bekas muridnya ini membuktikan bahwa tenaga Cui
Im tidak kalah kuat olehnya! Kalau nenek itu berdiri dengan muka merah dan tercengang, sebaliknya Cui
Im berdiri dengan sikap tenang dan mulut tersenyum mengejek, hatinya gembira karena ia dapat
membuktikan bahwa seperti yang diduganya, kini ia dapat mengimbangi tenaga sinkang bekas gurunya.
Dia tidak takut pada gurunya menggunakan Thi-khi-I-beng, karena selain ia tahu bahwa kepandaian
gurunya dalam ilmu itu belum sempurna dan tidak sekuat tenaga sedot Keng Hong, juga ia sudah
bersiap-siap dan tahu bagaimana caranya menghadapi ilmu yang belum kuat itu. Ia mengandalkan
rambutnya yang akan dapat ia pergunakan untuk menotok bagian tubuh gurunya yang menyedot
sinkangnya.
"Bagaimana, Lam-hai Sin-ni, apakah sedemikian saja kepandaiamu?"
Sepasang mata yang sudah tua itu seperti mengeluarkan api. Biauw Eng yang menyaksikan pertandingan
itu, sudah bangkit berdiri menahan rasa nyeri di pundaknya, dan berkata, "Ibu, sudahlah, hendaknya ibu
mengalah dan memberikan Thi-khi-I-beng kepadanya. Ibu sudah tua, perlu apa memperebutkan ilmu itu?
Berikan saja dan kita pergi dari sini, Ibu."
Ucapan puterinya ini menambah kemarahan hati Lam-hai Sin-ni. "Pengecut! Apakah engkau sudah
menjadi pengecut karena cinta? Lebih baik aku mati sekarang daripada tunduk terhadap setan cilik ini!"
Ia lalu menghadapi bekas muridnya itu lagi sambil menggerakkan tangan dan tahu-tahu sebatang pedang
tipis berada di tangannya. "Bhe Cui Im, kenalkah engkau akan pedang ini? Ataukah matamu telah buta
sehingga tidak lagi mengenal pedang ini?"
Cui Im menjebikan bibirnya mengejek. "Pedang Liong-jiauw-kiam (Pedang Cakar Naga)?" Hemmm,
pedang itu tidak menakutkan hatiku, Lam-hai Sin-ni!" kata Cui Im.
Dan tangannya bergerak lebih cepat lagi daripada gerakan nenek itu dan tampak sinar merah berkelebat.
Pedang merahnya telah berada di tangannya.
"Bhe Cui Im, engkau tahu bahwa pedang ini tidak pernah kugunakan, karena memang pedang ini
kusimpan untuk ku pakai menghadapi Go-bi Chit-kwi. Akan tetapi tujuh setan itu telah mampus dan kini
muncul murid mereka yang menjadi sahabatmu. Nah, pedang ini sekarang akan membasmi engkau
bersama murid Go-bi Chit-kwi!"
.
"Hi-hi-hik, engkau dengar nenek ini mengoceh, Twako. Katanya hendak menggunakan pedang itu untuk
membunuh kita, hi-hi-hik!"
"Ha-ha-ha, sudah biasa itu, Moi-moi. Burung tua mau mampus ocehannya paling merdu dan
nenek-nenek tua mau mati suaranya paling lantang, ha-ha-ha!" Tangan Siauw Lek bergerak pula dan
sinar hitam berkelebat.
Melihat ini, Lam-hai Sin-ni memekik panjang dan tubuhnya berkelebat, di dahului gulungan sinar
pedangnya yang putih. Sinar pedang yang bergulung-gulung itu membentuk lingkaran-lingkaran lebar dan
melayang ke arah dua orang lawannya yang sudah siap. Siauw Lek dan Cui Im tertawa dan tampaklah
gulungan sinar pedang hitam dan merah yang amat lebar dan panjang yang segera membuat gerakan
menggunting dan menjepit sinar pedang putih dari Lam-hai Sin-ni.
Biarpun pundak kirinya terluka dan patah tulangnya, namun begitu melihat ibunya dikeroyok oleh dua
orang itu yang gerakan pedangnya hebat sekali, Biauw Eng menjadi khawatir dan ia cepat menggerakkan
sabuk suteranya dengan tangan kanan dan menerjang maju untuk membantu ibunya. Ia disambut oleh
sinar pedang hitam di tangan Siauw Lek yang tertawa mengejek.
"Nona muda, engkau cantik jelita sekali. Sayang engkau kurus merana dan dingin. Marilah dekat Siauw
Lek, aku akan membuat engkau hangat panas dan membuatmu gembira, ha-ha-ha!"
Biauw Eng maklum bahwa laki-laki murid Go-bi Chit-kwi itu lihai sekali dan tahu pula bahwa ucapannya
itu adalah pancingan agar dia marah, maka dia menekan perasaannya dan tanpa menjawab tangan
kanannya bergerak. Sinar-sinar putih berkerepan menyambar ke depan ketika sembilan buah senjata
rahasia bola-bola putih berduri menyerang sembilan jalan darah di tubuh Siauw Lek dengan kecepatan
luar ciasa. Jai-hwa-ong terkejut sekali, namun dia adalah seorang yang berilmu tinggi dan juga dia sendiri
adalah seorang yang ahli dalam penggunaan senjata rahasia, maka tentu saja dia tidak menjadi gugup.
Karena tadi di tempat persembunyiaannya ia sudah menyaksikan cara gadis itu bertanding menggunakan
sabuk sutera melawan Cui Im dan maklum bahwa biarpun tulang pundak kirinya patah namun gadis ini
masih merupakan seorang lawan yang tak boleh dipandang ringan, maka dia tidak mau mengelak untuk
membiarkan dia terdesak dan memberi kesempatan kepada lawan untuk menyerangnya, dengan susulan
senjata rahasi atau senjata sabuk sutera. Cepat Siauw Lek memutar pedang hitamnya dan terdengar
suara nyaring berkali-kali ketika semua senjata rahasia itu runtuh ke atas tanah. Kemudian melihat Biauw
Eng sudah menggerakkan sabuk suteranya, dia tertawa dan mengangkat pedang menyambut.Terjadilah
pertandingan hebat antara kedua orang ini dan diam-diam Siauw Lek merasa kagum melihat gadis yang
sudah patah tulang pundaknya itu ternyata masih dapat menyerang hebat dan sama sekali tidak boleh
dipandang ringan.
Sebaliknya, di dalam hatinya Biauw Eng amat mengkhawatirkan ibunya karena ia sudah tahu betapa
lihainya Cui Im sekarang. Akan tetapi, selain ia sendiri sudah terluka sehingga gerakannya tidak leluasa,
juga ia mendapat kenyataan betapa murid Go-bi Chit-kwi ini juga lihai sekali ilmu pedangnya. Kalau saja
ia tidak terluka, agaknya ia akan dapat menandingi Siauw Lek dan biarpun ia merasa ragu-ragu apakah
ia akan dapat mengalahkan pria ini, namun ia yakin bahwa untuk merobohkan dia pun bukan merupakan
hal mudah bagi lawannya.
Tulang pundaknya yang patah itu membuat gerakannya kaku dan tidak leluasa sekali dan
gerakan-gerakannya membuat pundaknya terasa makin nyeri. Untung bagi Biauw Eng bahwa agaknya
dalam pertandingan itu Siauw lek tidak berniat membunuhnya, karena kalau demikian halnya, agaknya
Biauw Eng takkan dapat bertahan lama dan pedang hitam itu tentu dapat merobohkannya dalam waktu
singkat. Memang demikianlah, Siauw Lek yang berwatak mata keranjang itu ingin sekali mendapatkan
Biauw Eng sebagai korbannya, pertama karena memang Biauw Eng amat cantik jelita, lebih cantik
.
menarik daripada Cui Im sendiri, juga jauh lebih muda di samping kenyataan bahwa gadis ini adalah
seorang perawan. Juga belum pernah selama dalam petualangannya Siauw Lek mendapatkan korban
seorang gadis yang demikian tinggi ilmu silatnya, juga putri dari Lam-hai Sin-ni. Sekarang dia tidak akan
gagal mendapatkan puterinya!
Kalau pertandingan antara Siauw Lek dan Biauw Eng seperti kucing mempermainkan tikus dan tidaklah
sungguh-sungguh di fihak Siauw Lek biarpun Biauw Eng melawan mati-matian karena pria itu hendak
menangkap Biauw Eng tanpa melukainya, lain lagi sifat pertempuran yang terjadi antara Lam-hai Sin-ni
dan Cui Im. Dua orang wanita bekas guru dan murid itu bertanding mati-matian dan makin lama Lam-hai
Sin-ni menjadi makin terkejut dan heran menyaksikan gerakan -gerakan bekas muridnya ini yang luar
biasa sekali. Ilmu pedang yang dimainkan Cui Im dengan pedang merah itu amat dahsyat dan aneh,
mengingatkan ia akan ilmu pedang Sin-jiu Kiam-ong!
Adapun ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan sinkang gadis ini pun meperoleh kemajuan yang
mentakjubkan, bahkan sukar dapat dipercaya. Diam-diam ia menjadi curiga dan ketika mereka berdua
mengadu pedang sehingga terdengar suara berdencing nyaring dan tubuh mereka mencelat mundur
beberapa meter jauhnya.
Lam-hai Sin-ni tidak dapat lagi menahan keinginan tahunya dan ia bertnya, "Perempuan iblis! Engkau
berhasil menemukan pusaka-pusaka Sin-jiu Kiam-ong?" Cui Im tertawa mengejek. "Pusaka-pusaka
berharga menjadi ahli nomor satu di dunia. Lam-hai Sin-ni, aku memang telah mewarisi pusaka itu dan
karenanya aku yang akan menjadi tokoh nomor satu!"
Biauw Eng yang sedang didesak oleh cengkeraman-cengkeraman tangan kiri Siauw lek sedangkan
sabuk suteranya selalu ditahan oleh pedang hitam. Dengan mata bersinar-sinar ia meloncat mundur
menjauhi Siauw Lek dan membalikkan tubuh menghadapi Cui Im sambil bertanya,
"Cui Im! Kalau begitu engkau bertemu dengan Keng Hong! Dimana dia??"
"Hi-hi-hik, engkau mau bertemu dengan Keng Hong? Harus kau cari di dasar neraka….!"
"Cui Im! Dia... Dia....?" Wajah Biauw Eng menjadi pucat sekali dan kata-kata "mati" yang hendak ia
tanyakan hanya terbisikkan di dalam hatinya saja.
"Cui Im, engkau harus mampus!" Lam-hai Sin-ni membentak marah karena keterangan Cui Im tentang
Keng Hong itu tentu akan menimbulkan malapetaka bagi puterinya. Ia menyerang dengan hebat sambil
meloncat ke depan, pedangnya berubah menjadi sinar putih yang panjang.
"Trang-trang-cring...!" Bunga api berpijar dan kembali sinar putih dan merah dari pedang kedua orang
wanita itu sudah saling serang lagi dengan seru dan mati-matian sungguhpun kini La-hai Sin-ni tidak lagi
merasa heran menyaksikan kehebatan ilmu kepandaian Cui Im, bahkan mulai merasa ragu-ragu apkah ia
akan mampu mengalahkan bekas muridnya yang telah mewarisi pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong,
kekasihnya juga ayah kandung Biauw Eng itu. Adapun yang mendengar ucapan Cui Im tadi, seperti
linglung dan berdiri bengong memandang bekas sucinya yang telah bertanding hebat melawan ibunya itu.
***
Kalau mau mencari Keng Hong ke dasar neraka? Apakah artinya itu? Apakah Keng Hong telah mati?
Siauw Lek yang melihat betapa Siauw Lek menjadi seperti kehilangan semangat, seperti telah berubah
menjadi arca, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan dia segera menyimpan pedangnya dan
.
menubruk ke arah Biauw Eng dari sebelah kiri gadis itu. Sebagai seorang gadis yang semenjak kecil di
gembleng ilmu silat tinggi dan telah memiliki gerakan otomatis melindungi tubuhnya dari setiap serangan
yang datang mengancam, biarpun dia sedang terlena dalam lamunan duka, Biauw Eng merasai serangan
ini dan otomatis lengan kirinya bergerak memukul ke arah bayangan yang menubruknya dari kiri! Akan
tetapi keluhan lirih terdengar dari mulut gadis ini ketika pundaknya terasa nyeri sekali oleh gerakannya
sendiri. Dia lupa akan tulang pundak kirinya yang patah, maka cepat ia memutar tubuh hendak
mmenghadapi terjangan lawan dengan tangan kanan. Namun terlambat karena Siauw Lek dan
meringkusnya, dan dua kali menotok jalan darah di pungung dan pundaknya membuat Biauw Eng
terguling roboh dengan tubuh lemas.
"Keparat jahanam! Jangan menganggu puteriku!" Lam-hai Sin-ni melengking nyaring dan saking
marahnya melihat puterinya dirobohkan, gerakan pedangnya menjadi ganas sekali. Tidaklah percuma
nenek ini menjagoi di antara datuk-datuk hitam karena memang kepandaiannya hebat sekali. Selain
pedangnya bergerak cepat dan sinarnya saja sudah cukup merobohkan lawan, juga setiap dorongan dan
pukulan tangan kirinya merupakan sambaran maut yang mematikan Cui Im yang telah mewarisi ilmu-ilmu
rahasia yang mujijat merasa kewalahan juga ketika Lam-hai Sin-ni mengamuk dengan nekat. Gadis ini
tadinya mengharapkan bekas gurunya untuk mengeluarkan Thi-khi-I-beng, akan tetapi ternyata Lam-hai
Sin-ni tidak pernah mempergunakan ilmu itu sehingga ia menjadi habis sabar dan tidak mau
memancing-mancing lagi.
Kini melihat Lam-hai Sin-ni mengamuk, melihat betapa Biauw Eng telah roboh, ia berseru, "Twako,
bantulah aku merobohkan monyet tua ini!"
Siauw Lek yang sedang memandang tubuh Biauw Eng dengan hati puas, tertawa dan cepat mencabut
pedang hitamnya lalu menerjang maju pembantu Cui Im, mungkin ilmu pedang Siauw Lek tidak sehebat
gadis itu, akan tetapi karena diapun sudah mewarisi ilmu kepandaian Go-bi Chit-kwi dan pengalamannya
sudah banyak, tentu saja ia merupakan tenaga bantuan yang hebat pula. Hal ini terasa terdesak hebat
setelah murid musuh besarnya itu maju membantu bekas muridnya.
Lam-hai Sin-ni sudah tua dan akhir-akhir ini ia menderita tekanan batin karena keadaan puterinya. Hal
ini membuat tubuhnya menjadi lemah dan sering kali ia merasa jemu akan penghidupannya dan
bertahun-tahun ia tidak pernah berlatih ilmu silat lagi. Kini ia harus menghadapi penggeroyokan dua orang
muda yang memiliki kepandaian hebat. Tentu saja ia menjadi repot sekali dan biarpun ia telah
mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu pedangnya, namun tetap saja ia makin
terdesak dan terhimpit, napasnya mulai memburu dan tubuhnya basah oleh keringat.
"Hi-hi-hik, Lam-hai Sin-ni, belum juga kau keluarkan Thi-khi-I-beng?" Cui Im mengejek dan pedangnya
meluncur seperti kilat menusuk ke arah leher bekas gurunya.
"Cringgggg...!" Lam-hai Sin-ni berhasil menangkis akan tetapi ia terhuyung ke belakang dan tangan yang
memegang pedang gemetar.
"Nenek tua, mampuslah!" Siauw Lek membacokkan pedang hitamnya dari samping mengarah lambung.
"Trangggggg....!" Kembali Lam-hai Sin-ni yang terhuyung-huyung itu berhasil menangkis, akan tetapi
karena keadaan tubuhnya sedang terhuyung, tangkisan ini hampir membuat ia roboh terguling kalau saja
ia tidak cepat meloncat dan berjungkir balik.
Ia maklum apa yang ia mengeluarkan Thi-khi-I-beng. Akan tetapi ia tidak sudi memperlihatkan ilmu itu,
apalagi karena ia tahu bahwa ilu itu tidak akan ada gunanya kalau ia pergunakan terhadap dua orang
muda lihai yang tentu saja sudah mengadakan persiapan lebih dulu ini. Biar sampai mati, dia tidak akan
.
memberikan ilmu Thi-khi-I-beng, kalau hal ini yang diinginkan Cui Im!
Ia melawan terus, akan tetapi napasnya makin memburu dan pandang matanya mulai berkunang,
kepalanya terasa pening. Adapun dua orang muda itu yang melihat keadaan lawan makin lemah, terus
mendesaknya. Cui Im mengenal akan kekerasan hati Lam-hai Sin-ni, maka ia tidak dapat mengharapkan
akan berhasil membujuk bekas gurunya, akan berhasil membujuk bekas gurunya, dan pedangnya makin
ganas saja menyambar-nyambar.
"Cui Im, biar aku mengadu nyawa denganmu!" Tiba-tiba Lam-hai Sin-ni yang sudah pening dan sudah
gelap pandang atanya itu mengeluarkan suara melengking keras dan tubuhnya melayang naik terus
meluncur seperti burung garuda menyambar ke arah Cui Im dengan pedang di depan. Pedang ini
menusuk ke arah tubuh bekas muridnya. Inilah jurusnya yang terakhir, jurus terlihai akan tetapi juga
merupakan jurus bunuh diri atau mengajak lawan mati bersama. Julukan ini bernama Hui-seng-coan-in
(Bintang Terbang Menembus Awan). Serangan yang dilakukan dengan tubuh melayang dengan luncuran
kilat ini takkan dapt ditangkis atau dielakkan lagi oleh lawan, karena tangkisan lawan tentu akan dibarengi
dengan pukulan tangan kiri, sedangkan elakan tak mungkin dilakukan karena pedang dapat digerakkan
mengejar tubuh lawan. Kalau lawan berkepandaian tinggi, jalan satu-satunya bagi lawan hanya
membarengi dengan serangan balasan terhadap tubuh melayang yang tidak memperdulikan akan
penjagaan diri melainkan sepenuhnya dicurahkan untuk menyerang itu.
Karena sifat jurus ini maka selama hidupnya Lam-hai Sin-ni tidak pernah mempergunakannya, maka kini
ia benar-benar mengkehendaki mati bersama dengan bekas muridnya yang amat dibencinya itu.
Cui Im terkejut bukan main. Ia mengenal jurus ini dan tahu pula akan kehebatannya, maka cepat ia
berkata kepada Siauw Lek, "Twako, tangkis pedangnya!"
Siauw Lek tidak mengenal jurus nenek itu, akan tetapi dia tahu bahwa tentu serangan ini hebat sekali,
maka dia cepat mentaati perintah Cui Im dan menggerakkan Hek-liong-kiam menangkis sambil
mengerahkan tenaganya. Adapun Cui Im yang percaya penuh akan kesetiaan dan bantuan Siauw Lek,
cepat menyusup ke bawah dan menggerakkan pedangnya yang berubah menjadi sinar merah menyambar
ke arah kedua kaki bekas gurunya.
"Tranggg....!" Dess...! Crokkkk!!"
Amat cepat dan hebatnya benturan antara tiga orang itu, disusul teriakan kaget dan sakit dari mulut
Siauw Lek yang roboh bergulingan dan rintihan perlahan Lam-hai Sin-ni yang roboh terlentang dengan
kedua kaki buntung kena disambar pedang merah Cui Im! Siauw Lek bergulingan dan cepat duduk
bersila sambil memejamkan atanya untuk mengatur pernapasan agar luka di dalam tubuhnya tidak terlalu
hebat akibat pukulan tangan Lam-hai Sin-ni yang mengenai dadanya itu. Ketika ia tadi menangkis pedang
Lam-hai Sin-ni , tangan kiri nenek itu otomatis menghantam dan mengenai dadanya membuat ia terpekik
dan roboh bergulingan. Adapun Cui Im yang cerdik sudah menyerang kedua kaki Lam-hai Sin-ni tepat
pada saat nenek itu memukul Siauw Lek sehingga ia berhasil membabat kedua kaki bekas gurunya itu
sampai buntung sebatas lutut!
"Twako, kau tidak apa-apa...?" Cui Im menghampiri Siauw Lek, meraba punggung sahabatnya itu dan
membantu Siauw Lek dengan pengerahan sinkang melalui telapak tangannya. Tak lama kemudian Siauw
Lek membuka matanya dan mukanya yang tadi amat pucat menjadi merah kembali, tanda bahwa bahaya
telah lewat dan dia tidak terluka hebat.
Mereka lalu bangkit berdiri menghampiri Lam-hai Sin-ni yang masih rebah terlentang dengan mata
mendelik dan tangan kanan tetap memegang pedang. Darah mengucur keluar seperi pancuran dari kedua
.
kakinya yang buntung.
"Lam-hai Sin-ni, aku telah merobohkan engkau. Sekarang berikan Thi-khi-I-beng kepadaku dan aku
akan mengingat akan hubungan antara kita dan tidak akan membunuhmu," Cui Im berkata dengan suara
dingin.
Dengan mata mendelik nenek itu memandang Cui Im. "Cui Im murid durhaka, manusia berhati iblis! Biar
kau bunuh aku, jangan harap engkau akan dapat mempelajari Thi-khi-I-beng dari ku!"
"Hemmm, nenek keras kepala!" Cui Im berkata gemas.
"Moi-moi, mengapa bingung? Biar dia melihat aku permainkan puterinya, apakah dia masih akan keras
kepala atau tidak!" Sambil berkata demikian Siauw Lek menghampiri Biauw Eng yang masih rebah tak
bergerak, lemas karena ditotok jalan oleh Siauw Lek.
Lam-hai Sin-ni memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak ke arah puterinya. Ia maklum apa
yang akan dilakukan murid Go-bi Chitkwi itu. Hampir saja ia menyerah, akan tetapi hatinya sendiri yang
penuh kekejaman dan kelicikan segera membuat ia berpikir dan berpendapat lain. Kalau dia membuka
rahasia Thi-khi-I-beng, apakah murid Go-bi Chit-kwi itu akan melepaskan Biauw Eng? Tak mungkin!
Masa dia begitu bodoh. Dan apakah Cui Im benar-benar akan mengampuni nyawanya? Hal ini pun
meragukan sekali. Lebih baik dia mati dan biarkan Biauw Eng dihina dan dicemarkan. Hal itu akan baik
sekali malah bagi Biauw Eng! Akan mengguncang batin puterinya itu sehingga hatinya dipenuhi dendam,
akan menimbulkan kembali semangatnya yang membeku karena cintanya kepada Keng Hong yang
terputus. Biarlah! Kelak tentu Biauw Eng akan dapat membalaskan kematiannya.
"Cui Im perempuan rendah dan engkau murid Go-bi Chit-kwi yang hina! Lakukanlah apa yang kalian
kehendaki akan tetapi jangan harap aku akan menyerahkan ilmu Thi-khi-I-beng kepada kalian!"
Cui Im menjadi marah sekali."Begitukah? Lam-hai Sin-ni, engkau tahu cara apa yang paling baik untuk
menyiksa puterimu? Hi-hi-hik, ingatkah engkau betapa engkau sendiri yang mengajarkanku untuk
menyiksa orang?"
"Perempuan keparat, apa pun yang kau lakukan, tidak akan menakutkan hatiku, tak usah banyak
cerewet lagi!"
Cui Im menghampiri bekas gurunya itu dan Lam-hai Sin-ni yang kelihatannya sudah lelah sekali itu
menggerakkan tangannya dan .... pedang di tangannya meluncur seperti anak panah ke arah dada Cui Im
yang berdiri dala jarak amat dekat.
"Iiiiihhhhh..!" Cui Im menjerit dan cepat membuang diri ke belakang. Ia dapat menyelamatkan nyawanya,
akan tetapi pedang itu tetap saja menyerempet pinggul kirinya ketika ia bergerak mengelak tadi sehingga
bajunya robek dan juga kulit pinggulnya robek berdarah.
"Heh-heh-heh, apa bedanya hidup dan mati? Selisihnya sedikit sekali....!" Lam-hai Sin-ni tertawa
mengejek sambil memandang wajah Cui Im yang pucat sekali. Memang harus diakui bahwa nyaris ia
tewas di tangan bekas gurunya ia menerjang ke depan, pedangnya mengeluarkan sinar merah dan kedua
lengan Lam-hai Sin-ni terlempar, buntung sebatas siku dan darah mengucur keluar. Lam-hai sin-ni sudah
buntung kedua kakinya itu secara mengagumkan sekali telah